Hahahahhaha…
2 fanfictions in 1 day.

Simple. But still hope you will like it..

Happy reading!

—-

2036 by Cho Jinhyuk

Annyeooooong yeorobuuuunn!!! Cho Jinhyuk imnida. 10 years old dan sekarang aku mendapat tugas untuk bercerita tentang FAMILY. Aaaaaaaargh!! Apa yang harus kuceritakan tentang keluargaku? Aku menatap kertas kosong di hadapanku yang tampaknya sudah kesal karena tak kunjung kucoret-coret. Eommaaaa, ottokeee?!?!

“Jinhyuuk-a! Ayo sarapan! Nanti kau terlambat ke sekolah!!” Teriak eomma membuatku langsung lari menyongsong suaranya. Aku melihat appa, eomma, hyung dan nuna sudah duduk di kursi mereka masing-masing.

“Good morning,” sapaku sambil duduk di kursiku.

“Good morning, sayang,” sahut eomma setelah mengecup pipiku.

Eomma. The greatest lady in the world. Dia melahirkanku 10 tahun lalu tanpa ada masalah. Bahkan katanya, dia tidak ingat telah melahirkanku karena appa begitu pintar mengalihkan perhatiannya. Eomma, berada di urutan pertama dalam urutan orang-orang yang aku cintai. Eomma tidak pernah absen di saat aku membutuhkannya dan eomma selalu ada bahkan saat aku tidak membutuhkannya.

“Jinhyuk, makan sayurnya sampai habis ya,” kata eomma tak terbantahkan.

Masih tentang eomma yang tahu segalanya tentang kami. Eomma tahu aku, hyung dan appa lebih suka daging daripada sayur tapi ia selalu berhasil memaksa kami makan sayur masakannya. Ia tidak bisa dibantah. Ingatannya sangat kuat meskipun dia sudah berumur 45 tahun. Dia ingat aku pernah marah kepadanya karena tidak membelikanku es krim saat aku batuk dan entah kenapa gara-gara itu eomma jatuh sakit. Aku sangat menyesal ketika mengingatnya dan itu jadi senjatanya kalau aku sudah menunjukkan gelagat akan marah padanya. “Eomma melakukannya demi kebaikanmu, Jinhyuk-a sayang. Jinhyuk mau lihat eomma sakit lagi?” Kata-kata mujarabnya yang selalu menghilangkan amarahku.

Secara fisik, eomma sangat cantik. Badannya juga masih bagus meskipun ia tidak muda lagi. Sifatnya pun tidak jelek. Eomma punya sifat yang simpel, jangan ganggu dia dan keluarganya maka dia tidak akan mengganggumu. Aku pernah melihat eomma marah besar ketika melihat nuna pulang dengan segaris cakaran di wajahnya. Saat itu juga, eomma langsung pergi menghampiri pelaku yang mencakar pipi nuna. Besoknya, si pelaku yang ternyata saingan nuna di sekolah datang ke rumah mohon-mohon maaf sampai berlutut tapi eomma tidak menggubris. “Gara-gara segaris itu, Jihyun batal jadi bintang iklan. Kalau Jihyun gagal, dia juga harus gagal,” kata eomma. Kelemahannya, tentu saja appa tapi aku lihat akhir-akhir ini eomma lebih banyak mendegar apa kata Kihyun hyung.

“Eomma, nanti aku ada syuting. Jangan lupa,” kata Jihyun nuna mengingatkan eomma.

Jihyun nuna. The cutest girl in the world. Perempuan paling cantik yang pernah aku lihat. Jujur, ia lebih cantik daripada eomma. Ia seorang artis pemula yang sedang merintis karirnya. Dia sempurna kalau saja tidak keras kepala. Dia adalah sumber terbesar penyebab eomma sering sakit kepala. Tapi mengingat eomma yang menjerumuskan nuna ke dalam dunia entertainment, eomma tidak pernah menyalahkannya. Eomma akan membereskan semua masalah nuna.

“Jinhyuk-a. Kau mau ikut?” Tanya nuna. “Nuna akan mentraktirmu eskrim kalau kau ikut.”

“Call,” jawabku menyetujui tawarannya.

Nuna tidak pernah tertarik pada laki-laki. Ia lebih tertarik pada sepatu, tas, baju, make up dan jalan-jalan ke luar negeri. Karena itu dia lebih tertarik dengan kontrak-kontrak iklan atau film yang dapat mendatangkan banyak uang untuk memenuhi keinginannya. Setahuku, cinta pertamanya selama 15 tahun hidup adalah appa. Daddy is always daughter’s first love. Tapi kadang appa suka terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu untuk melayani nuna. Setelah itu ia selalu berlindung dalam ketiak Kihyun hyung, musuh bebuyutan sekaligus bodyguard-nya. No one can touch nuna except him. Katanya dulu waktu nuna masih kecil, ia sering dibuat nangis oleh hyung tapi begitu ada orang yang menangisi nuna selain dirinya, hyung akan langsung mendatangi orang itu dan menghajarnya tanpa ampun. Sekarang, karena hyung sudah terlalu sibuk dengan urusannya, nuna berlari kepadaku. Akibatnya, aku mempunyai banyak mainan hasil kerjaku sebagai temannya jalan kemana-mana.

Aku begitu bangga pada nuna. Di usianya yang muda, ia sudah mampu mendapatkan hal yang ia inginkan dan melewati kesulitan-kesulitan yang mendatanginya. Dia terlalu kuat kalau sudah berurusan dengan passionnya. Dia akan menerjang segalanya. Aku sering memamerkannya di sekolah kalau dia datang ke menjemputku ke kelas. Aku tahu dia juga bangga kepadaku. Aku pernah mendengarnya memujiku di depan teman-temannya. “Jinhyuk terlalu pintar. Bagaimana bisa dia tetap rangking 1 dengan segala kesibukannya, les musik, les bahasa, les ini itu, main kesana kesini, ikut aku syuting, dan entah apalagi kegiatannya. Aku yakin dia bisa jadi menteri nanti.” Dan aku tahu nuna sangat sayang padaku meskipun ia tidak pernah menunjukkannya. Aku tahu dari caranya yang tidak pernah bisa lepas dariku. Setiap hari, disela-sela kesibukannya ia tidak pernah absen mengangguku dengan telepon atau pesan-pesan singkatnya.

“Appa, nanti aku akan jaga malam di rumah sakit. Maaf, tidak bisa ikut makan malam bersama,” kata Kihyun hyung.

Kihyun hyung. 10 tahun lebih tua dariku. Wajahnya tidak jauh berbeda dariku. Kata orang, aku, hyung dan appa memiliki wajah yang sama hanya berbeda di mata, hidung dan bibir. Kihyun hyung mewarisi semua atribut appa kecuali hidung dan bibir yang diwarisinya dari eomma. Sedangkan aku mewarisi mata dan hidung eomma. Karena bibirnya yang mirip eomma, aku dengar appa suka mencium hyung sampai ia berumur 3 atau 4 tahun. Aku suka geli membayangkannya.

Kihyun hyung, seorang dokter muda yang baru saja memilih spesialisasinya menjadi dokter spesialis kandungan. Soal tampang, dia yang paling tampan. Soal otak, dia yang paling pintar. Tidak heran banyak gadis mengejar-ngejarnya. Kelemahannya hanya satu, yaitu eomma. Apa kata eomma, itu yang akan dilakukannya. Kalau eomma bilang iya, maka hyung akan melakukannya. Kalau eomma bilang tidak, maka ia tidak akan melakukannya. Jadi kenapa selama 20 tahun hidup, hyung baru satu kali pacaran? Karena baru satu gadis ini yang lolos seleksi eomma. Tidak jarang aku ikut mereka kencan kalau tidak ada orang di rumah dan tempat kencan mereka tidak jauh-jauh dari rumah sakit. Haissssh!

“Jinhyuk-ah,” panggil Kihyun hyung.
“Ne,” sahutku terpaksa menelan makananku cepat-cepat.
“Hyung akan sibuk sekitar seminggu ini. Kau mau menjaga Soohyun kan?” Tanyanya yang mau tidak mau aku jawab dengan anggukkan.

Soohyun adalah anjing chihuahua kesayangan kami. Hyung membelikannya ketika aku umur 5 tahun. Waktu itu aku sedang dirawat di rumah sakit karena demam tinggi. Aku menangis sepanjang hari saking kesalnya. Aku ingin bermain tapi tidak bisa. Aku hanya berbaring di tempat tidur sepanjang hari. Diam-diam, hyung membawa Soohyun kepadaku. “Lucu kan? Aku membelinya karena ia mirip denganmu kalau sedang menangis. Bagaimana kalau kita namakan Soohyun?” Katanya saat pertama kali mempertemukanku dengan Soohyun. Setelah 5 tahun, aku mengerti kenapa hyung membelikanku anjing kecil itu. Bukan karena anjing itu mirip denganku tapi karena hyung ingin aku belajar bertanggung jawab terhadap sesuatu. Sebagai magnae, tentu aku tidak punya tanggungan. Tidak seperti appa yang harus bertanggung jawab terhadap kami semua atau hyung yang harus menggantikan appa jika appa tidak ada atau eomma yang harus bertanggung jawab mengurus aku, nuna dan hyung serta appa atau nuna yang harus bertanggung jawab dengan karirnya. Hyung hanya ingin mengajarkanku bertanggung jawab.

“Appa hari ini akan ke Shanghai sampai lusa. Kihyun, jaga eomma, Jihyun dan Jinhyuk selama appa tidak ada ya. Beri kabar ke eomma kalau tidak pulang. Jihyun dan Jinhyuk jangan bikin eomma repot. Turuti semua kata-katanya. Hyejin-ah, jangan semua hal kau masukkan ke dalam pikiranmu nanti kau stress sendiri,” kata appa memberi pesan kepada kami semua.
“Ne, yeobo,” sahut eomma mengerti. Aku tahu, dia akan menjadi yang paling sedih jika appa pergi dan aku akan jadi korban untuk menemaninya.

Appa. Pahlawanku. A father is a son’s first hero. Kenapa ia aku sebut pahlawan? Karena ia mampu menjaga kami semua tetap sehat, berada dan baik-baik saja sampai detik ini. Di mataku, appa yang paling hebat. Dia laki-laki paling sempurna yang pernah aku temui. Dia tidak pernah marah tapi sangat bijaksana. Meskipun sempurna, namanya manusia pasti punya cela. Dan dalam diri appa, cela yang aku temukan adalah wanita. Dia tidak pernah tahan dengan godaan wanita bernama Song Hyejin alias eomma. Pernah kejadian, kami sekeluarga sedang membahas liburan natal. Aku, nuna, hyung dan eomma sudah excited untuk pergi ke Maldives tapi appa dengan santai bilang ia tidak bisa ikut karena sibuk. Rasanya kami ramai-ramai mau menghajarnya tapi eomma cukup mengelus tangan appa dan besoknya entah bagaimana ia memutuskan akan ikut ke Maldives. Ajaib tapi nyata.

“Jinhyuk-a, cepat habiskan makananmu. Biar appa antar sekalian ke sekolah,” kata appa menyadarkanku bahwa sarapanku belum habis-habis juga. Dengan segera, aku mempercepat makanku.

Hanya dengan makan saja, appa terlihat sangat keren. Kata temanku, dengan melihat appa melambaikan tangan dari dalam mobil saat mengantarku, eomma-nya seperti tersihir. Aku menyadarinya. Kalau aku wanita, mungkin aku akan jatuh cinta pada appa. Tapi aku paling suka melihat appa dengan jas putih dan stetoskopnya atau sarung tangan dan lumuran darah. Ia terlihat sangat keren saat sedang menangani pasien. Aku sering melihatnya bercengkrama dengan pasien, suster atau dokter-dokter lainnya dan aku tahu semua mata fokus kepadanya. Kalau sudah besar, aku ingin seperti appa. Aku pasti akan terlihat jauh lebih keren. Aku juga ingin mempunyai istri yang cantik seperti eomma, meskipun bawel tapi kebaikannya tidak tertandingi.

“Jinhyuk-a, kajja!” Kata appa tepat di suapan terakhirku. Tampaknya ia menunggu-nunggu aku selesai makan. Aku bangkit dari tempat dudukku, menerima pelukan dan ciuman dari eomma lalu menyusul appa ke dalam mobil yang akan mengantarkanku ke sekolah. Aku rasa aku sudah punya cerita untuk tugas sekolahku.

Annyeong!!!

xoxo @gyumontic