Simple

Annyeong yeorobun!!!!
Gilaaa udh lama bgt yaa aku gak post ff.. Abis lg sibuk bgt dan gak ada ide. Tapi ini aku ada selipan ff pendeeeeek. Semoga suka ya…

Selamat menikmati.

Love you all, chingudeul!

 

*****

 

Dia baik. Dia tampan. Dia pintar. Dia kaya namun sederhana. Dia bisa melakukan segalanya yang jadi spesialisasinya. Menurutku, dia SEMPURNA! Aku yakin para suster dan intern juga setuju dengan pendapatku. Aku dan mereka memperhatikan dia dengan seksama, dia terlihat super keren dengan pisau bedahnya.
Aku tertawa. “Jangan tertawa. Seharusnya aku membiusmu total,” tegurnya. Aku seketika diam tapi tidak berhenti tertawa dalam hati. Aku tertawa kepada diriku sendiri. Aku pasti sudah gila. Dia sedang sibuk mengobok-obok perutku dan aku bukannya cemas dengan keselamatanku tapi malah sibuk memperhatikan kesempurnaannya. Aku jelas sudah gila.
“Operasimu sudah selesai. Aku akan membiusmu agar kau bisa istirahat,” katanya sambil menyuntikkan cairan ke dalam tubuhku. Tidak lama, aku sudah terlelap.

+++++

Aku terbangun dan laki-laki paling sempurna itu berdiri tepat di depanku lengkap dengan jas putih dan stetoskop yang membuat ia terlihat 100x lebih keren dibanding dia yang berkeringat sambil memegang pisau bedah di ruang operasi.
Dia tersenyum kepadaku. “Tampaknya aku terlalu lama membiusmu,” katanya.
“Heoh?” Aku tampaknya belum sepenuhnya mendapatkan kesadaranku. Dia tertawa melihat tingkahku.
Dia berjalan mendekat ke arahku, memeriksa semua peralatan kedokteran yang tersambung ke tubuhku. “Semuanya aman. Aku rasa lusa kau sudah bisa pulang,” katanya.
“Heoh?” Lagi-lagi aku hanya bisa mengucapkan kata itu. Entah aku masih terpengaruh obat bius atau aku sedang terbius dengan kesempurnaan laki-laki ini.
Dia tertawa. Dia duduk di pinggir tempat tidurku. Tangannya mengambil makanan yang terletak di samping tempat tidurku. “Kau harus makan. Setelah itu, minum obat,” katanya lalu menyuapiku satu sendok demi satu sendok sampai makanan itu habis.
Dia kembali tersenyum. “Wanita pintar,” pujinya membuatku tersipu malu.
Dia lalu mengambil obat dan segelas air putih. “Sekarang minum obatmu,” katanya dan aku tolak mentah-mentah. Aku membenci obat lebih dari lemak-lemak di tubuhku. Aku memalingkan wajahku dan menutup mulutku rapat-rapat.
Dia tertawa. “Kau selalu seperti ini kalau berhadapan dengan obat. Tapi jangan sebut aku dokter kalau aku tidak bisa membuat pasiennya minum obat,” katanya.
Dia memaksa wajahku berpaling kepadanya dan memasukkan obat yang sudah dalam kuluman bibirnya ke dalam mulutku. Dengan terpaksa, aku menelan obat itu. Dia tersenyum. “Manis kan?” Tanyanya.
Aku tak mampu menjawab karena obat itu terasa begitu pahit begitu sampai tenggorokkanku. Aku berharap air putih bisa membasmi rasa pahit itu. Aku tahu, yang manis itu bukan obatnya tapi ciumannya.
“Sekarang kau boleh tidur lagi,” katanya sambil membetulkan tempat tidurku.
Obat ini tampaknya telah mengembalikan kesadaranku. Aku sadar seharusnya aku menanyakan penyebab aku berada di sini sekarang bukan terhipnotis dengan seluruh perkataannya.
“Dimana anakku?” Tanyaku.
Dia tersenyum. “Anak kita, sayang. Kau harus mengoreksinya,” katanya dengan lembut yang membuatku kembali menuruti semua kata-katanya.
“Dimana anak kita?” Tanyaku ulang.
“Dia di ruang bayi. Sehat dan tampan sepertiku. Kau mau melihatnya?” Aku mengangguk. Dia menyiapkan kursi roda dan memposisikan ku dengan nyaman. Setelah itu dia membawaku ke depan ruang bayi.
Aku melihatnya tidur dengan nyaman dalam balutan selimut di box tidurnya. Dia sehat dan terlihat sangat tampan seperti ayahnya. “Siapa namanya?” Tanyaku. Aku belum sempat memberinya nama sampai ia keluar dari perutku tadi siang.
Dokter sekaligus suamiku ini tersenyum kepadaku. “Samakan saja dengan namaku. Bukankah lucu nanti kalau kau sedang kesal, kau memanggil nama kami berdua dan kami sama-sama menengok?” Katanya sambil tertawa.
Aku tersenyum. “Aku mau menamakannya Jin Hyuk. Cho Jinhyuk. Bagus kan?”
Dia mengangguk setuju lalu mengecup puncak kepalaku. “Cho Kihyun. Cho Jihyun. Cho Jinhyuk. Apa kau mau Cho junior keempat?” Godanya membuatku kesal.
“Yaaaa!!!”
Dia tertawa kemudian mengecup lagi kepalaku. “Aku rasa 3 sudah cukup. Gomawo, sayang. Aku rasa aku tidak punya alasan lagi untuk tidak mencintaimu. Saranghae.”
“Nado saranghae,” ucapku.
Laki-laki sempurna ini memelukku. Matanya menatap searah dengan mataku ke bayi laki-laki berumur sekian jam yang belum tahu betapa sempurnanya ayahnya, betapa besar cinta ibunya, dan betapa tidak sabar kedua kakaknya menantinya tumbuh besar agar bisa diajak bermain bersama. Cepatlah besar, Cho Jinhyuk.

-end-

xoxo
@gyumontic

xoxo @gyumontic