“Ah Reum ssi.”
Gadis itu memutar kepalanya lalu melemparkan senyuman cerianya kepada seorang laki-laki yang tidak aku kenal.
“Jonghyun-ssi. Long time no see,” ujar Ah Reum sambil memeluk laki-laki itu dengan erat. “Kau makin tampan. Sedang apa disini?”
Laki-laki itu tertawa. “I’m your partner, silly. Kita akan jadi brand ambassador perusahaan ini. You’re the girl, I’m the man.”
Ah Reum menyahut dengan tawa ceria. “Kau pria? Aku berani bertaruh, bangun saja pasti masih harus dibangunkan eomma-mu.”
“Yaaaa Ah Reum ssi…. Kau menyakiti hatiku.”
Ah Reum tertawa, begitu juga dengan Jonghyun. Mereka terlibat percakapan seru yang membuatku seolah tenggelam tertelan bumi.
“Ah Reum ah…” Dia tidak mendengarku. “Ah Reum ah…” Tampaknya, dia masih tuli. “Park Ah Reum!”
Dia menengok kepadaku, senyumnya langsung hilang tak berbekas. “Ne?”
“Aku pulang dulu,” kataku berharap ia akan menahanku paling tidak 5 menit lagi tapi tampaknya Ah Reum tidak menginginkan keberadaanku di sini. “Ne,” jawabnya.
Tanpa berkata apapun lagi, aku keluar dari ruangan itu.
“Ah Reum ssi, siapa pria itu? Manajermu?”
“Bukan. Dia temanku.”
“Pacarmu?”
“Bukan. Sudahlah.”
Aku sempat mendengar pembicaraan mereka setelah aku keluar. Marah dan kesal bercampur di hatiku walaupun sebenarnya aku tidak berhak merasakannya.
“….ah!” Aku merasa seseorang memanggil namaku. Bukan Ah Reum. Suara ini jauh lebih familiar.
“Eomma….”
Dengan berbinar, wanita yang secara hukum, agama dan biologis adalah eomma-ku langsung memelukku dan mencium kedua pipiku. Refleks, aku menarik diri.
“Eomma, aku hampir 18 tahun dan akan segera menjadi dokter. Bagaimana aku bisa punya pacar kalau melihatku diperlakukan seperti anak bayi,” protesku. “Kalau eomma mau, cium appa atau si magnae saja. Jangan aku.”
“Eomma tidak peduli. Biarpun kau sudah berumur 65 tahun dan aku masih hidup, aku akan tetap menciummu seperti itu karena aku menyayangimu, anakku.” Eomma tersenyum lalu mencium pipiku untuk kedua kalinya. Aku pasrah.
“Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau berubah pikiran untuk melanjutkan perusahaan ini?” Tanyanya.
Dengan tegas, aku menggelengkan kepalaku. “Ah, untung aku masih punya dua adikmu,” komentar Eomma. “Lalu?”
“Aku mengantarkan model eomma dengan selamat sampai ruang rapat besar.”
“Aigoo… Kau baik sekali. Apa eomma telah menjadi wanita nomor dua dalam kehidupanmu? Humm?”
“Ani. Eomma tetap nomor satu.”
“Kotjimal. Aku tahu aku telah tergeser.” Dia tersenyum hangat kepadaku lalu menggandeng tanganku. “Apa dia sudah memberi jawaban?”
Aku menggelengkan kepalaku dan eomma menertawakanku. “Eomma memang paling daebak. Bagaimana bisa eomma tega menertawakan anaknya sendiri?”
“Siapa suruh kau menjauhinya saat aku pertama kali mengenalkannya padamu?”
“Eomma…” Aku memohon untuk tidak mengungkit kesalahan terbodohku itu.
“Baiklah. Eomma mau ke ruang rapat sekarang. Mau ikut?”
Aku menggelengkan kepalaku sekali lagi. “Aku tidak bisa melihatnya dengan laki-laki lain. Kenapa sih eomma harus menyertakan laki-laki dalam pemotretan itu? Aku yakin pasti ada pose-pose mesra nanti.”
“Kau persis seperti appa-mu. Jadi kau ingin tidak ada laki-laki di pemotretan itu?” Aku mengangguk. “Sayang sekali, aku tidak bisa meluluskan permohonanmu yang satu itu. Perusahaanku membutuhkan pria yang representatif dan Jonghyun sangat cocok. Maafkan aku, sayang.”
“Eomma menyebalkan. Ya sudah, aku mau kuliah dulu. Bye, eomma.”
“Bye, baby. See you.”
Eomma meninggalkanku setelah memberikan pelukan, aku menolak ciumannya. I’m 18 already!!!

—–

Laki-laki ini terlalu banyak bicara sampai aku rasanya ingin sekali membuatnya pingsan. Kalau bukan karena ia teman baikku, aku pasti sudah meninggalkannya. “Will, kecilkan suaramu. Profesor pasti akan mendengar suaramu kalau bicaramu sekencang itu,” tegurku saat ia tertawa lebih kencang dari seharusnya. Untung si Profesor sedang sibuk dengan mahasiswa lain sehingga kami terbebas dari lemparan stetoskopnya.
“Sorry,” ucapnya tapi detik berikutnya ia sudah kembali tertawa-tawa dengan kekasihnya, Chaerin.
Aku menghela nafas kesal kepada mereka berdua. “Kalian mengganggu konsentrasiku. Menyebalkan! Sekali lagi kalian bersuara, aku akan menendang kalian keluar dari kelas ini.”
Will dan Chaerin tertawa geli memandangku. “Kenapa kau jadi galak sekali? Apa Ah Reum tidak memberikan serum penenangnya padamu?” Tanya Chaerin menggodaku.
“Cih!” Aku akui hari ini aku lebih sensitif dan aku tahu penyebabnya adalah Ah Reum. Semenjak aku meninggalkannya tiga jam yang lalu, dia belum menghubungiku sekali pun. Dia juga tidak membalas SMS ku. Dia pasti lagi asyik dengan laki-laki bernama Jonghyun itu
“Apa yang terjadi? Dia mengabaikanmu?” Tanya Will.
“Dia bertemu dengan pria lain,” jawabku.
“Dia selingkuh? Ah Reum? Aku tidak percaya,” sahut Chaerin dengan ekspresi kagetnya.
“Bukan!”
“Tentu saja. Ah Reum belum resmi menjadi pacarnya. Bagaimana bisa dia dibilang selingkuh?” Ujar Will lalu tertawa.
“Kalian berdua benar-benar pasangan yang menyebalkan. Bagaimana mungkin aku bisa tahan berteman dengan kalian?”
“Itu takdirmu, kawan.”
Chaerin memukul Will yang masih tertawa agar diam. “Jadi kenapa?”
“Dia jadi brand ambassador perusahaan eomma dengan laki-laki bernama Jonghyun. Mereka berdua sangat akrab. Laki-laki itu sangaaaaat tampan. Kata eomma, dia representatif sekali untuk perusahaannya. Aku merasa marah dan kesal.”
“Kau pasti cemburu. Aku tahu itu,” kata Chaerin. “Tapi ini bukan pertama kalinya kau cemburu dan pada akhirnya dia kembali padamu kan?”
“Tapi dia belum memberikan jawabannya. Menurutmu?” Sahutku nyaris putus asa.
“Cari wanita lain,” sahut Will yang langsung mendapatkan pukulan keras dari Chaerin di lengannya.
“Kau harus lebih berusaha. Kau ingat siapa yang membuatnya jadi seperti itu kan?”
Aku menghela nafas panjang. Aku tahu jawabannya adalah aku. Aku penyebab segala penantian panjangku sendirian.

—–

Flashback

Eomma berjalan masuk ke dalam ruang khusus restoran langganan kami dengan aku yang terikat erat dalam gandengan tangannya. Seorang pelayan mempersilahkan kami masuk dan Eomma membalasnya ramah diiringi sebuh senyuman. “Terima kasih, Seung Woo ssi. Sediakan makanan yang enak-enak ya untuk tamu pentingku.”
Pelayan yang bernama Seung Woo itu tentu saja dengan senang hati akan mengabulkan permintaan eomma. Dia pelanggan nomor satu di restoran ini.
“Sayang, sebentar lagi eomma akan kedatangan tamu special. Kau pasti mengenalnya tapi eomma tidak yakin kau sudah kenal dengan anak perempuannya. Aku harap kalian akan berteman baik,” kata eomma. Aku hanya mengganggukkan kepalaku. Aku tahu apa maksud eomma. Perjodohan. Hal yang paling aku benci dalam hidupku meskipun aku tidak bisa menghindarinya.
Pintu ruangan kami terbuka dan seorang pria sebaya appa masuk dengan anak perempuannya. Benar kata eomma, aku kenal dengan tamu penting eomma ini. Dia yang menyelamatkan hidupku tapi aku tidak pernah tahu ia punya anak perempuan.
Eomma dengan gembira menyambut mereka. “Oppa!! Ah Reum ssi! Lama tidak berjumpa! Ahh, aku merindukan kalian. Apa kabar?” Eomma bergantian memeluk pria itu dan anak perempuannya. Eomma menyambut mereka dengan hangat.
“Ah Reum ssi. Kau cantik sekali… Kau harus mau menjadi modelku. Aku akan memberikan koleksi-koleksi terbaikku untukmu,” kata eomma lagi.
Eomma terlibat pembicaraan seru dengan kedua tamu pentingnya ini dan membiarkanku sibuk dengan urusanku sendiri yang membuatku lebih lega. Setidaknya aku tidak perlu berbasa-basi dengan mereka tapi tampaknya eomma tidak melupakan misinya mengajakku kesini.
“Sayang, antarkan Ah Reum pulang ke rumah ya. Besok pagi dia harus sekolah. Ahjussi masih mau menunggu Appa datang. Dia sudah lama tidak bertemu Appa. Eomma minta tolong ya, sayang?” Kata eomma tanpa aku bantah sedikitpun. Aku mengantarkan Ah Reum pulang ke rumahnya.
“Ah Reum ssi,” kataku sebelum ia keluar dari mobilku.
“Ne, Oppa?” Tanyanya.
Aku akui gadis ini tidak bercela. Dia cantik, mempesona dan cukup cerdas. Hanya saja, itu tidak cukup bagiku untuk menyetujui ide eomma begitu saja. “Aku tahu maksud eomma mengenalkanku padamu,” kataku to the point.
Ah Reum tertawa ringan. Dia menyentuh lenganku dan menepuknya dengan ringan. “Aku tahu. Aku sudah melalui lebih dari seratus pertemuan seperti ini. Oppa bukan yang pertama mengatakan seperti itu padaku. Tenang saja, aku tidak merasakan atau berharap apapun pada Oppa. Aku takkan pernah mengganggumu.”
Ia tersenyum lalu keluar dari mobilku. “Terima kasih sudah mengantarkanku pulang. Senang berkenalan dengan Oppa. Sampai jumpa,” ucapnya.
She smiled and stopped my world for few seconds. Dia mengacaukan ritme detak jantungku.

Flashback end.

—-

Aku memilih pulang ke rumah daripada ikut pasangan menyebalkan itu ke kafe dekat kampus. Aku paling hanya akan menjadi kambing congek melihat kemesraan mereka. Lagipula kepalaku terasa sedikit sakit, itu tandanya aku butuh istirahat. Apalagi melihat Ah Reum tidak kunjung menghubungiku jadi memang lebih baik aku tidur.
“Minjung ssi. Aku mau tidur dulu ya. Nanti kalau ada yang mencariku, bilang saja tidak ada,” kataku kepada pengasuhku sejak kecil.
“Termasuk Ah Reum ssi?” Tanyanya sambil tersenyum menggodaku.
“Iya, termasuk dia,” kataku.
Minjung terkekeh lalu mengantarkanku ke kamar. “Kalian berdua kenapa? Apa sedang bertengkar?”
“Dia sudah 6 jam tidak menghubungiku. Aku kesal.”
“Aigoo anakku, mungkin dia masih sibuk. Eomma-mu juga belum menghubungiku sejak pagi. Mereka sedang pemotretan kan?”
Aku mengangguk. “Sudahlah. Aku mau istirahat. Kalau eomma telepon, bilang aku tidur ya Minjung ssi. Bangunkan aku kalau aku sudah lewat 2 jam.”
“Arraseo. Selamat tidur.”
“Oh ya Minjung ssi, adik-adikku sudah pulang?”
“Belum. Mereka masih di sekolah. Jungmin akan menjemput mereka sejam lagi.”
“Baiklah. Aku tidur dulu.”
“Sekali lagi, selamat tidur.”
Aku menjatuhkan diriku ke tempat tidur dan tidak butuh waktu lama untuk menarikku masuk ke alam mimpi.

—–

“Oppa.” Ah Reum melambaikan tangannya kepadaku, menyuruhku menyusulnya.
“Wae?” Sahutku saat telah sejajar dengannya.
Ia menggandeng tanganku memasuki rumah kemudian menguncinya. Kemudian ia mendorongku hingga aku terjepit di antara dia dan pintu. “Aku mencintaimu,” bisiknya lalu mencium bibirku dengan lembut. Aku mendekap Ah Reum lebih dekat dan memaksa bibirnya tidak terlepas dari bibirku. Kami berdua nyaris kehabisan nafas tapi tidak sedetikpun kami berniat untuk lepas. Aku bisa merasakan Ah Reum merasuki tubuhku.
Puk! Punggungku terasa dipukul. “Sejak kapan aku tidak boleh mengganggu tidur anakku sendiri? Eo? Berani-beraninya kau.” Eomma tiba-tiba muncul dan mengganggu mimpi indahku.
“Eomma, biarkan aku tidur sebentar lagi,” ucapku setengah sadar sambil mengumpulkan nyawaku yang masih melayang-layang. Aku kembali memeluk gulingku.
“Oppa.” Aku mendengar suara Ah Reum dan tersenyum sambil memeluk gulingku lebih erat. Gadis itu hebat sekali bisa masuk ke dalam mimpiku dengan cepat.
“Oppa! Oppa! Oppa!” Suara itu semakin jelas dan menyadarkanku. Ini kenyataan. Aku melompat dari tidurku dan melihat Ah Reum berdiri di sebelah eomma.
“Ah Reum ssi,” ucapku gelagapan begitu sadar bahwa Ah Reum sedang melihatku dengan rambut berantakan, kaus belel dan celana pendek.
Ah Reum tertawa melihatku. “Kata Minjung ahjumma Oppa sedang sakit. Aku bawakan bubur buat Oppa. Oppa belum makan kan?” Dia menyediakan makanan di depanku. “Habis makan, langsung minum obatnya ya.”
Sakit? Obat? Aku hanya mau tidur sebentar. Dengan bingung aku meminta penjelasan dari Minjung tapi ia hanya mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum penuh makna. Aku mengikuti alur permainannya saja.
Ah Reum duduk di samping tempat tidurku, menungguku menyelesaikan makananku sedangkan eomma menyelinap masuk ke dalam selimut di sebelahku. “Minjung ssi, suamiku akan makan malam di rumah. Tolong siapkan makanan yang enak. Aku akan di sini, menjaga mereka berdua,” kata eomma.
“Eomma, aku tidak akan melakukan apapun.” Aku memprotesnya karena ia lagi-lagi memperlakukanku seperti anak kecil.
“Aku tidak percaya. Aku tidak akan membiarkan kalian berduaan,” ujar eomma keras kepala. Ia memang berada untuk mengawasi aku dan Ah Reum tapi ia lebih banyak menonton televisi dibandingkan kami berdua. Ia memberikanku kebebasan paling tidak untuk menggenggam tangan model kesayangannya ini.
Aku telah menyelesaikan makanku dan Ah Reum bahkan sudah membersihkan sisa-sisa makananku dari hadapanku. Sekarang aku memainkan tangannya yang berada dalam genggamanku.
“Gomawo,” ucapku sambil tersenyum senang. Aku senang ia kembali padaku. Rasa marah dan kesal tadi pagi telah lenyap begitu saja saat melihatnya datang.
Ah Reum menatapku sambil tersenyum. “Mianhe,” ucapnya membuatku bingung.
“Mianhe? Buat apa?” Tanyaku.
“Tadi pagi. Sepertinya aku mengabaikanmu. Aku terlalu asyik dengan Jonghyun. Aku juga tidak sempat menghubungimu, jadwalku padat sekali. Mian.”
“Gwencana. Aku sudah tidak marah kok.”
Ah Reum menyisir rambutku dengan jari-jari tangannya. Aku merasakan kehangatannya mengalir ke dalam tubuhku. Untuk mungkin keseribu kalinya, aku terpesona kepadanya. Ia membuat mataku hanya terpaku padanya. Aku mencintaimu,” ucapku sambil membelai pipinya yang halus.
Ah Reum tersenyum manis sekali padaku, tangannya menangkup pipiku. “Kau kurus sekali. Kau harus makan lebih banyak.”
“Kau harus lebih sering membawakanku makanan.”
Ah Reum tertawa. “Baiklah,” katanya.
Aku tersihir kelembutan Ah Reum. Dengan keberanianku, aku mendekatkan wajahku ke arahnya. Ah Reum diam di tempatnya. Aku tersenyum, dia tersenyum. 5 senti, 2 senti, setengah senti, aku semakin dekat dengannya.
“Yaaa! Jangan lupa eomma masih ada di sini, Cho Kihyun-ssi!” Refleks, aku dan Ah Reum saling menjauh. Ah Reum menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah malu di pipinya. Aku menatap eomma dengan kesal.
“Eomma….” Protesku.
Eomma pura-pura tidak mendengar. Ia memfokuskan matanya ke televisi. Ah Reum tertawa geli melihatku. Saat ini, tangannya yang berada dalam genggamanku sudah cukup bagiku.

—-

Kkeut…

Xoxo
@gyumontic

xoxo @gyumontic