“Hari ini kita mengadakan pesta sambutan untukmu dan teman-temanmu, Hyejin.” Aku mendengar suara Ryeowook kepada seorang pegawai baru di perusahaan kami. Akibat hubungan yang terlalu erat antara otakku dengan sebuah nama, kepalaku segera terangkat dan melihat siapa pemilik nama yang sudah tertanam bertahun-tahun di pikiranku. Song Hyejin.

Entah bagaimana mendeskripsikan perasaanku begitu melihat wajahnya. Wajah yang aku rindukan. Wajah yang sangat ingin aku lihat. Wajah yang selalu terbayang di pikiranku 6 tahun belakangan ini. Ia terlihat lebih tua dari ingatanku tapi ia tetap yang paling cantik, menurutku.

Aku tidak bisa melepaskan mataku darinya. Meskipun ia tersembunyi di dalam keramaian, aku tetap dapat menemukannya. Ia berdiri 5 meter di depanku, arah jam 2 dari tempatku berdiri. Ia sedang tertawa sambil menari bersama teman-temannya dan pegawai-pegawai lain. Ia terlihat sangat ceria dan bahagia. Bahagia.

Bahagia. Sebuah kata yang merasuk perasaanku. “Apa kau bahagia, Song Hyejin-ssi?” Gumamku tanpa berpaling darinya meski hanya sedetik.

Ia menarik dirinya dari keramaian sambil memijit-mijit pelan kepalanya. Wajahnya tampak sedikit lesu dan jalannya sedikit tidak seimbang. Ia bahkan hampir jatuh saat berjalan menuruni tangga. Untung, aku sempat menangkapnya. “Haish, siapa yang mengajarimu mabuk-mabukan seperti ini?” Aku mencium bau alkohol dari mulutnya. Meskipun begitu, ia tetap sempurna di mataku.

Hyejin menatapku. Matanya membelalak. Aku nyaris tidak bisa merasakan ia bernafas. Ia pasti kaget melihatku. “Kyuhyun Oppa?” Ia masih mengingatku.

Aku tersenyum. “Sudah lama sekali kita tidak bertemu,” sapaku sehangat mungkin, seolah kami adalah teman dekat yang tidak pernah ada masalah. Teman dekat yang selalu berhubungan baik, yang tidak pernah menyakiti satu sama lain.

Hyejin masih menatapku dengan tatapan kaget sekaligus tidak percaya. “Kyuhyun Oppa,” ucapnya sekali lagi memanggil namaku.

Aku tidak tahan untuk tidak memeluknya. Aku terlalu merindukan wanita ini. Dari bermilyar-milyar wanita di dunia ini, Hyejin berada di peringkat pertama yang ingin aku temui selama 6 tahun belakangan ini.

“Annyeong, Hyejin-ssi… Bogoshipo,” bisikku.

Hyejin berdiam di pelukanku. Tidak ada reaksi apapun kecuali air matanya yang terasa membasahi kemejaku. Tidak banyak tapi cukup membuatku memeluknya lebih erat dan berusaha keras tidak ikut menangis. Aku sadar, aku terlalu merindukannya. Aku mencintainya.

—-

Masih teringat jelas di memoriku bagaimana Hyejin melepaskan dirinya dari pelukanku. Begitu lembut seolah tidak ingin menyakitiku. Ia tersenyum manis sekali meskipun matanya terlihat habis meneteskan air mata. “Oppa, aku harus kembali dengan teman-temanku. Senang bertemu Oppa lagi. Annyeong,” katanya sebelum pergi meninggalkanku. Ia berjalan dengan sangat cantik, menyedot seluruh fokusku kepadanya. Aku ingin menyusulnya tapi aku tidak mampu melakukannya. Aku hanya terpaku di tempatku, menatapnya bergabung dengan teman-temannya. Aku melihat seorang laki-laki merangkul mesra bahunya dan Hyejin tersenyum lembut kepada laki-laki itu.

“Jagi, kenapa kau bengong seperti itu?” Tanya Victoria tiba-tiba, mengacaukan pikiranku yang sedang melayang-layang tentang Hyejin. Victoria memelukku dari belakang dan memberikan kecupan di pipiku. “Apa ada yang mengganggumu?”

Aku tertawa kecil sambil menggelengkan kepalaku. “Ani. Jangan khawatir. Aku hanya terlalu lelah menyiapkan proyek-proyek di kantor. Tenang saja ya,” ucapku membelai lembut tangannya di dadaku. Kekhawatiran di wajahnya segera menghilang.

Victoria tersenyum kepadaku. “Sebentar lagi Appa akan datang. Aku harus bersiap-siap. Tunggu sebentar ya,” katanya. Ia masuk ke dalam kamarnya sedangkan aku duduk di ruang keluarganya yang sangat nyaman ini.

Mataku menyusuri ruangan yang sudah ratusan ribu mungkin jutaan kali aku masuki sejak aku lahir. Aku melihat banyak foto tergantung di dindingnya. Foto Victoria dengan keluarganya. Fotoku dengan keluarganya. Fotoku dengan fotonya. Foto keluargaku dengan keluarganya. Foto ayahku dengan ayahnya. Foto yang menceritakan dengan jelas hubunganku dengan Victoria.

Victoria, cinta pertamaku, wanita yang aku cintai sejak pertama kali aku mengenalnya saat Appa mengajakku ke rumahnya. Appa ada urusan dengan ayah Victoria dan aku disuruh bermain dengan Victoria.

“Ayo kita bermain. Aku punya video games baru.” Victoria menerimaku dengan hangat, seolah aku teman yang sudah lama kenal dengannya. Ia membuatku senang bermain dengannya. Dia tidak malu-malu bertingkah di depanku sebagaimana ia bertingkah di depan orang tuanya. Aku terpesona kepada kecantikannya dan kelincahannya.

Cintaku kepadanya bertambah dalam ketika Appa menjejaliku hanya dengan nama wanita itu. “Victoria akan ulang tahun, kita kasih kado apa? …. Kau akan satu sekolah dengan Victoria…. Ayah Victoria mengajak kita ke Cina, apa kau mau ikut? Victoria minta kau ikut…. Appa mohon, jangan pernah sakiti Victoria. Kalau bukan karena ayahnya, hidup kita tidak akan sebaik ini. Mereka telah banyak menolong kita… Victoria… Victoria…” Seumur hidupku aku hanya tahu Victoria.

Selain itu juga tuan Song, ayah Victoria, khusus datang kepadaku untuk menjaga anaknya. “Kyuhyun-ssi, aku mau bicara padamu sebentar,” kata tuan Song pada suatu hari di minggu pertama SMA-ku.

“Ada apa, Ahjussi?” Tanyaku saat itu.

Tuan Song menatapku tapi tatapannya terlihat sangat sedih. Tatapannya bahkan mampu membuat hatiku sedikit tersayat-sayat karenanya. “Aku mau minta tolong kepadamu. Tolong jaga Victoria. Jangan sakiti dia. Jangan biarkan dia menangis. Jangan biarkan orang lain menyentuhnya sedikitpun. Aku percayakan dia kepadamu.”

Ucapan itu membuatku melayang, saking bahagianya mendapat restu untuk menjaga Victoria sampai aku tahu 3 tahun kemudian bahwa sebenarnya ayah Victoria hanya ingin anaknya hidup bahagia sebelum penyakit mematikan yang menggerogotinya selesai menyelesaikan tugasnya.

Aku tertawa sendiri bagaimana aku mengetahui penyakit Victoria dari pengidapnya sendiri. Aku bukan tertawa karena Victoria ternyata memiliki penyakit. Aku menertawakan diriku sendiri karena sanggup meninggalkan Hyejin dengan sakit hatinya dan menemui Victoria hanya karena putus dengan pacarnya.

“Kau putus lagi?” Tanyaku begitu sampai di rumahnya. Victoria hanya menganggukkan kepalanya.

Wajah Victoria tampak cukup sedih sehingga mampu membuatku segera memeluknya dan memberikan belaian-belaian lembut untuk menenangkannya. Dulu, aku tidak pernah sanggup melihat air mata keluar dari mata wanita ini.

“Kau darimana?” Tanya Victoria yang masih memelukku dengan erat.

“Pergi dengan Hyejin,” jawabku. Aku tidak pernah bisa berbohong pada Victoria.

“Kau menyukainya?” Tanya Victoria lagi.

Aku terdiam. Aku membayangkan wajah gadis yang baru saja aku tinggalkan, gadis yang berteriak akan menungguku sampai aku datang lagi. Hatiku rasanya seperti dipukul-pukul, nyeri.

“Entah,” jawabku sejujurnya. Aku memang tidak tahu apa aku menyukai gadis itu atau tidak. Aku tidak menyukainya tapi hatiku ini rasanya begitu sakit setiap membayangkan wajahnya. Aku menyukainya tapi aku justru meninggalkannya sendirian di hari ulang tahunnya, di kencan pertama kami setelah aku memutuskan untuk benar-benar pacaran dengannya.

Ekspresi Victoria tampak sekali tidak suka mendengar jawabanku. Biasanya, jika aku berkata jujur kepada Victoria dan dia tidak menyukainya maka aku akan minta maaf dan berjanji tidak akan melakukannya.  Tapi untuk kali ini aku tidak ingin minta maaf padanya. Aku justru ingin meminta maaf pada Hyejin karena telah meninggalkannya.

“Lain kali kau tidak boleh menemuinya lagi. Kau juga tidak boleh menyukainya!” Betul kataku. Victoria tidak suka menerima jawabanku dan ia menunjukkan betapa berkuasanya dia atas diriku. Saat itulah aku tahu apa sebenarnya yang terjadi kepada gadis ini. “Aku tahu aku mengidap kanker rahim tapi bukan berarti aku harus merelakan dirimu kan? Justru karena aku punya penyakit ini, kau harus selalu bersamaku, Cho Kyuhyun-ssi,” kata Victoria lagi.

“Jangan lupa bahwa keluargaku yang membuat hidup keluargamu sebaik sekarang. Ayahku tidak minta kalian membayarnya. Ia hanya ingin kau menjagaku. Ingat?”

Aku tersenyum kepadanya kemudian mencium Victoria. “Aku hanya mencintaimu.” Mungkin ini untuk pertama kalinya aku berbohong kepada Victoria. Aku mengucapkan cinta padanya tapi dalam hati aku menyadari aku mencintai wanita lain. Hyejin mungkin telah berhasil mencuri hatiku sekeping demi sekeping.

Hanya saja, demi asas hutang jasa, aku memilih untuk mengubur perasaanku kepada Hyejin dan membiarkan segala sesuatu tentang Victoria kembali merasuk ke dalam diriku sampai aku memutuskan untuk kuliah ke Amerika.

Victoria menangis memintaku untuk tetap tinggal di Korea tapi untuk pertama kalinya aku mampu menentang keinginan Victoria. Aku memutuskan untuk meninggalkan Victoria dan memiliki kehidupanku sendiri.

Seminggu pertama aku di Amerika, Victoria selalu menggangguku dengan telepon atau pesan-pesannya yang mengatakan dia merindukanku. Sebulan kemudian, dia datang mengunjungiku. Semester pertama lewat dan aku tidak pernah mendapat telepon lagi dari Victoria. Ia sudah mempunyai pacar dan aku lega luar biasa. Setahun kemudian, ia menghubungiku lagi dan aku tahu ia pasti sudah putus dengan pacarnya. Ia akan selalu mencariku jika sedang tidak ada pria di sampingnya.

Dulu, aku akan merasa sakit hati dan menangis sendirian jika Victoria membuangku. Kemudian aku akan menjadi orang pertama yang berada di sampingnya jika ia merasa sedih. Dulu, aku cukup senang berada tetap di sisinya meskipun ia memperlakukanku seperti ban cadangan. Bertahun-tahun berlalu dan aku tidak merasakan apapun dengan kelakuannya yang unik itu. Aku sudah tidak sakit hati. Aku hanya berlaku sebagaimana harusnya orang yang memiliki hutang.

Semua itu aku tahu karena aku jatuh cinta pada Hyejin. Aku mencintai Hyejin tapi membiarkan perasaan itu mengendap di dasar hatiku.

Bunyi denting notifikasi di smartphoneku membuatku sadar aku telah duduk cukup lama di ruangan ini tapi tidak ada tanda-tanda kemunculan ayah Victoria ataupun Victoria sendiri. Aku membuka aplikasi messenger grup yang sudah terdapat berderet pesan-pesan yang ditulis oleh pegawai-pegawai yang termasuk sebagai membernya.

Park Heejin
Hyejin jatuh dari tangga! Kakinya patah. Ia pingsan.

Park Heejin
Ia di ruang gawat darurat sekarang!

Kim Ryeowook
Rumah Sakit mana?

Jong In Woo
Rumah sakit mana?

Oh Rye Na
Aku akan segera kesana.

Kris Wu
Tenang saja, teman-teman. Aku sudah mengurus semuanya. Hyejin baik baik saja. Ia sudah sadar.

Kris Wu
Lihatlah

Kris mengupload sebuah video Hyejin yang sedang berbaring sambil tersenyum lemah. “Gwencana. Sampai jumpa besok,” katanya. Jelas sekali ia tidak baik-baik saja. Aku bisa melihat wajah kesakitannya dan bodohnya ia ingin masuk kantor besok.

Seluruh saraf di tubuhku mendesakku untuk berdiri. Aku meninggalkan rumah Victoria setelah meninggalkan pesan singkat di Line-nya. “Aku akan kembali nanti. Ada urusan mendadak di kantor. Sampai jumpa.”

Aku melajukan mobilku secepat yang aku bisa menuju Rumah Sakit Seoul, aku melihat logonya dari selimut yang dipakai Hyejin. Begitu sampai, aku segera berlari menuju UGD. Dengan mudah, aku menemukan Hyejin yang berbaring di salah satu tempat tidurnya. Kris duduk di sampingnya sambil menyuapi Hyejin. Aku hanya menatapnya, membayangkan untuk menggantikan posisi Kris. Bukan. Andai aku bisa menggantikan posisi Hyejin. Biar diriku yang merasakan sakit yang Hyejin rasakan sekarang. Wanita itu sudah terlalu banyak merasakan sakit dan ia terlalu baik untuk merasakan hal-hal yang menyakitkan.

—-

Hyejin telah dipindahkan ke ruang rawat inap dan aku menyelinap masuk setelah Kris dan teman-temannya pergi meninggalkan rumah sakit. Hyejin berbaring dengan nyenyak dengan kakinya yang terbebat erat dengan perban-perban. Dengan wajah pucatnya, Hyejin tetap terlihat cantik untukku.

Aku duduk di samping tempat tidurnya, menatap dan mengelus perban di kakinya itu dan hatiku terasa sangat sakit. “Kalau saja aku bisa menggantikanmu,” gumamku.

Aku ingat, keadaan sama seperti ini sewaktu aku SMA. Hyejin berbaring dengan kaki patah. Sewaktu tanding basket dengan Victoria di pekan olahraga sekolah, Victoria sengaja mengadu tubuhnya dengan tubuh Hyejin sewaktu Hyejin akan melakukan lay-up. Keduanya jatuh di tanah. Aku segera menghampiri Victoria dan menggendongnya ke ruang kesehatan untuk diperiksa. Untung, dia baik-baik saja.

Sewaktu aku menolong Victoria, aku melihat dengan sudut mataku Hyejin menatapku. Matanya mengikuti kemana aku berjalan dan aku melihat wajah kecewanya begitu aku membawa Victoria, mengabaikannya begitu saja meskipun ia korban yang lebih parah. Hyejin mengalami patah tulang dan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit yang tidak seharipun aku datang melihatnya.

Aku harus menutup mataku untuk mengetahui apa yang terjadi dengan Hyejin. Aku harus menjauhinya, sebelum aku menyakitinya lebih hebat lagi. Setiap aku berada di dekatnya, aku pasti akan menyakitinya karena pada akhirnya aku akan berakhir di tangan Victoria. Meskipun aku mencintainya, aku tidak bisa memilihnya.

“Kyuhyun Oppa,” ucap Hyejin lemah. Ia terbangun.

“Maaf telah membangunkanmu,” kataku sambil menarik tanganku dari kaki Hyejin dengan gugup. Terlebih lagi, aku merasa ada air mata yang menggenang di mataku. Dengan cepat, aku mengusapnya.

Diiringi senyumnya, ia memandangku. “Gwencana, Oppa. Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku hanya ingin melihatmu,” jawabku. Aku memegang kembali kakinya yang patah. “Apa sangat sakit?”

Sambil tersenyum, Hyejin menganggukkan kepalanya. “Aku buru-buru sampai tidak sadar aku sedang menuruni 3 anak tangga sekaligus. Maklumkan aku kalau agak lambat bekerja ya.”

Aku tertawa. Bagaimana bisa wanita ini memohon maklumku untuk tetap bekerja walaupun dengan lebih lambat. “Aku akan memberikan cuti beberapa hari. Kau harus istirahat, Hyejin-ssi,” kataku.

“Aigoo, Oppa… Pekerjaanku masih banyak. Aku bisa kena marah Heechul Oppa kalau tidak bisa menyelesaikannya tepat waktu.”

“Aku akan mengatakannya kepada Heechul hyung. Tenang saja.”

“Tapi kalau aku tidak mengerjakannya, siapa yang akan mengerjakannya?”

“Aku akan mencari penggantimu. Kau harus istirahat.”

“Oppa, kalau aku tidak ….”

Aku menutup mulut Hyejin dengan tanganku. “Kau harus istirahat. Titik,” paksaku dengan galak, membuat Hyejin diam kembali di kasurnya. “Aku akan mengurus semuanya. Kau tenang saja ya. Arra?”

“Ternyata kau galak ya, Oppa,” katanya tanpa mengurangi senyum di wajahnya membuatku salah tingkah.

“Mian.”

Hyejin tertawa melihatku. “Oppa, pulanglah. Sudah malam. Kau besok masih harus masuk kantor.”

Sebenarnya, aku tidak ingin meninggalkannya. Kalau bisa aku ingin menemaninya malam ini. Tapi tampaknya Hyejin berpikiran lain dan aku belajar menghargainya. “Sampai jumpa, Hyejin-ssi. Semoga cepat sembuh,” ucapku lalu meninggalkannya dengan tidak rela.

“Sampai jumpa, Oppa. Gomawo.” Hyejin melambaikan tangannya dengan wajah pucatnya yang sumringah. Melihatnya aku sedikit lebih rela. Paling tidak aku meninggalkannya dengan keadaan lebih baik.

—-

Aku menyelesaikan rapatku dengan Heechul hyung selaku CEO tanpa cela. Ia memujiku habis-habisan dan mendukung proyekku. “Besok kita rapat dengan pemegang saham. Siapkan lebih sempurna dari yang kau presentasikan kepadaku.”

“Tentu saja. Aku tidak akan membuatmu kecewa, hyung,” kataku dengan kesan terburu-buru.

“Kau mau pergi?” Tanya Heechul.

Aku menganggukkan kepala. Aku tidak mengatakan bahwa aku akan ke rumah sakit untuk menjenguk Hyejin. Heechul hyung pasti akan banyak bertanya kalau aku mengatakannya. “Aku izin sebentar ya, hyung. Permisi.”

Aku meninggalkan ruangan Heechul hyung untuk segera ke rumah sakit. Entah untung atau buntung, Victoria telah duduk menungguku dengan manis di depan ruanganku.

“Kau lama sekali. Bolak-balik aku telepon, tidak diangkat. Aku sms, tidak dibalas,” katanya dengan manja sambil merapikan dasiku. “Appa datang mengajak makan siang bersama. Ayo pergi.”

Victoria menggandengku dan tanpa daya aku mengikutinya. Aku makan siang bersama dengan tuan Song dan Victoria. Kami bercanda sambil tertawa-tawa sampai sebuah pertanyaan tuan Song seperti mencekikku.

“Kapan kau akan menikah dengan Victoria?” Tanya tuan Song serius. “Kalian sudah lama kenal. Kalian berdua juga sudah sama-sama dewasa. Apa lagi yang kalian tunggu? Sampai kapan kalian hanya pacaran?”

Aku menatap tuan Song dan Victoria bergantian, dan melihat dua ekspresi yang berbeda. Tuan Song menatapku dengan serius namun berharap jawaban yang menyenangkan sedangkan Victoria menatapku dengan cerah dan berharap cemas. Seketika, kepalaku seperti mau pecah.

Tuan Song mengira aku pacaran dengan anaknya. Itu kisah bertahun-tahun lalu yang sudah mencapai endingnya ketika aku memutuskan ke Amerika. Aku sudah melakukan segalanya untuk keluarga ini sampai mengorbankan kehidupanku, cintaku dan aku tidak bahagia. Aku tidak mau melakukan kesalahan yang sama.

Aku jelas seorang pria dan normal. Aku ingin menikah dan memiliki keluarga, dengan wanita yang kucintai. Aku bermimpi memiliki istri yang akan tersenyum setiap pagi aku membuka mata, memberikanku ciuman ketika aku marah dan anak-anak yang akan berlari melompat ke pelukanku ketika aku pulang ke rumah. Wajah Hyejin dengan seragamnya yang selalu ada dalam mimpiku. Bukan Victoria.

Aku mencintai Victoria tapi itu bertahun-tahun lalu ketika aku tidak mengerti apa itu cinta. Ketika aku tidak tahu apa beda cinta dan pengabdian. Aku akan menikah tapi bukan dengan Victoria.

Aku tertawa seolah gugup namun aku segera berubah menjadi serius. “Aku belum memikirkan pernikahan. Aku belum siap, ahjussi.” Tuan Song terlihat geram dengan jawabanku, begitu juga dengan Victoria yang seketika pucat mendengarnya. Aku sudah siap jika tuan Song memarahiku.

“Aku akan memberikanmu kesempatan kedua. Mohon pikirkan lagi dengan baik sebelum aku bicara dengan ayahmu,” kata tuan Song menahan geramnya lalu bangkit dari kursinya. “Victoria, kita pergi sekarang.”

“Tapi, Pa… Aku masih ingin berdua dengan Kyuhyun.”

“Song Qian.” Ayah Victoria sudah menyebut nama asli Victoria yang artinya tidak bisa dibantah lagi oleh anakanya. Dengan terpaksa, Victoria mengikuti ayahnya keluar dari restoran. Aku baru saja mengajak perang seorang panglima yang tahu betul dimana letak kelemahanku.

—–

Sebelum pulang, aku menyempatkan diri untuk menjenguk Hyejin ke rumah sakit tapi ia sudah tidak ada. Kata suster, ia sudah pulang ke rumahnya. Aku mencoba menelepon Hyejin tapi tidak diangkat. Aku meninggalkan pesan untuknya.

Kau sudah pulang ke rumah?

Semenit berlalu dan belum ada balasan dari Hyejin. Dua menit, tiga menit. Sejam. Aku termenung di tempat tidurku sambil menatap syal kumal yang sangat berarti untukku. Syal itu sudah pudar warnanya dan benang yang mencuat-cuat merusak kerapiannya tapi aku tetap memakainya di setiap musim dingin datang.

“Semoga tanganmu bisa merajut lebih bagus. Aku membutuhkan syal baru yang lebih bagus,” kataku sambil tersenyum sendiri. Aku kemudian mengambil surat yang tidak kalah kumal dari si syal ini.

Aku sudah ribuan kali membaca surat itu sampai aku hafal apa isinya luar kepala. “Somewhere there’s someone who dreams of your smile and finds in your presence that life is worth while, so when you are lonely in there, remember it’s true : somebody, somewhere, is thinking of you. Your Moon.”

“Apa kau masih memikirkanku, Song Hyejin-ssi?” Gumamku dalam lamunanku.

Eomma memanggilku untuk makan malam bersama dan Hyejin belum juga membalas pesanku. Aku pun menuruti panggilannya dan duduk bersama keluargaku untuk makan malam bersama. Appa memanggilku dan menyuruhku duduk di sampingnya. Aku berani bertaruh dia akan membicarakan sesuatu yang penting denganku. Ayahku punya kebiasaan untuk membicarakan masalah sambil makan dengan orang yang dia suruh duduk di dekatnya.

“Tadi aku mendapat telepon dari tuan Song, ayah Victoria. Dia hanya menanyakan kabar tapi Appa tidak yakin. Tidak biasanya dia menelepon Appa lebih dulu. Apa yang terjadi?” Tanya Appa dengan suara seraknya yang mulai menua.

Selain dengan Victoria, aku tidak bisa berbohong pada ayahku. Entah bagaimana, Appa pasti akan mendeteksi kebohonganku. Kalau menurutnya krusial, ia akan memarahiku dan aku tidak ingin kena marah dia. “Tuan Song menanyakan kapan aku akan menikah dengan Victoria.”

“Lalu?” Tanya ayah.

“Aku menjawab aku belum siap menikah.”

Ayah meletakkan sendok dan garpunya kemudian menatapku. “Appa ingatkan kau sekali lagi betapa berjasanya ayah Victoria itu terhadap keluarga kita. Kalau tanpa…”

“Aku tidak bisa menikah dengan wanita yang tidak aku cintai,” selaku, berusaha menahan kekesalanku.

“Coba untuk mencintainya. Kau pernah mencintai Victoria. Coba untuk jatuh cinta padaya lagi.”

“Aku mencintai gadis lain.”

“Kau. Tidak Bisa. Mencintai. Gadis Lain. Paham, Kyuhyun-ssi?” Geram Appa menekankan suaranya di setiap kata yang dia ucapkan.

Pembicaraan Appa denganku tidak lagi jadi perbincangan yang enak. Appa terlihat sangat marah mendengar pengakuanku tapi aku tidak akan berbohong pada Appa untuk menyenangkan hatinya. Aku sudah berkorban hampir seumur hidupku, lebih dari seperempat abad.

“Aku akan berusaha menjadi anak yang baik, menuruti semua perkataan Appa dan Eomma tapi tidak untuk yang satu ini. Aku tidak bisa. Maafkan aku,” ucapku lalu meninggalkan meja makan.

Dari dalam kamarku aku bisa mendengar Appa berteriak-teriak memanggil namaku. Aku cukup keras kepala untuk tidak menggubrisnya. Aku memilih mandi dan kemudian tidur.

Aku baru saja memejamkan mata ketika smartphone-ku bergetar. Aku mengambilnya. Ada sebuah pesan dari Hyejin. Aku buru-buru membacanya.

Kyuhyun Oppa… Annyeong! Iya, aku istirahat di rumah sekarang. Rumah sakit terasa tidak enak. Oppa tahu dari siapa?

Aku membalas pesannya tidak lebih dari 10 detik sejak pesannya datang.

Suster yang bilang. Kau pulang dengan siapa?

Tidak lama, Hyejin membalas pesanku lagi.

Oppa datang lagi ke rumah sakit? Eoh? Gomawo, Oppa. Tadi siang, Eomma menjemputku ke rumah sakit lalu Kris mengantarkan kami pulang ke rumah.

Rumahmu dimana?

Masih sama seperti yang dulu. Waeyo, Oppa?

Aku akan datang menjengukmu sebentar lagi. Jangan tidur dulu ya. Sampai jumpa.

Mwoooo?!!! Memang Oppa tahu rumahku?

Cerewet. Tunggu saja sana.

Secepat kilat, aku mengganti bajuku kemudian menyambar kunci mobil dari samping lemariku. Aku membuka pintu kamarku dan melihat sosok eomma di hadapanku.

“Waeyo, eomma?” Tanyaku tidak sabaran. Aku ingin segera melihat Hyejin. Setiap detik saat ini sangat berharga untukku.

“Kau mau kemana malam-malam begini, Kyuhyun-ah?” Tanya eomma menatapku dari atas sampai bawah. “Kau terlalu rapi untuk tidur dengan pakaian seperti ini.”

Aku melihat pakaianku. Kaus, celana jeans dan sepatu kets. Tidak terlalu rapi tapi cukup tidak cocok jika untuk tidur. Aku hanya tertawa sumringah kemudian mengecup pipi eomma. “Aku ada urusan sebentar. Tenang saja. Aku akan segera kembali,” jawabku.

Aku segera berlari ke tempat parkir mobilku dan melajukannya menuju rumah Hyejin. Seluruh saraf dalam tubuhku sudah berteriak untuk bertemu dengan Hyejin. Tidak peduli meski aku hanya duduk di sampingnya, memandangnya yang hanya tersenyum lembut. Itu sudah cukup bagiku.

—-

Sejujurnya aku tidak tahu dimana rumah Hyejin tapi tidak sulit menemukannya jika aku punya sahabat paling akurat di departemen kepegawaian. Dengan mudah, aku mendapatkan alamatnya dan GPS mobilku akan menuntunku menuju tempat itu.

“Kyuhyun Oppa. Hai,” sapanya sambil tersenyum, sesuai dengan perkiraanku. Dia menunjuk kursi di sebelah tempat tidurnya. “Silahkan duduk. Maaf aku tetap harus tidur. Kakiku belum memungkinkan untuk duduk.”

“Gwencana, Hyejin-ssi. Tidak masalah,” sahutku lalu mengelus perban yang membalut kaki Hyejin. Aku tahu perban itu baru saja diganti. “Apa kakimu masih terasa sakit?”

“Sudah baikan tapi aku masih belum bisa berjalan. Menyebalkan sekali.”

Aku tersenyum kecil. Jantungku berdebar sangat kencang membuatku malu. Bagaimana bisa aku deg-degan hanya karena memegang sebuah kaki. “Kau harus istirahat total biar cepat sembuh.”

“Ne, Team Leader,” sahutnya membuatku tertawa.

“Jangan bawa-bawa urusan kantor ke rumah. Aku ini Oppa-mu. Oppa. Arraseo?”

“Neeee. Arraseo. Oppa mau makan atau minum apa? Biar aku minta tolong eomma buatkan.”

Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak perlu. Aku akan pulang sekarang. Istirahatlah. Maaf sudah mengganggu,” ucapku sambil mengelus puncak kepalanya. “Selamat malam. Sampai jumpa.”

“Gomawo, Oppa. Maaf tidak bisa mengantarkan ke pintu,” ucapnya melepas kepulanganku sambil melambaikan tangannya. “Aku berjanji akan segera masuk kantor, Oppa. Sampai jumpaaa!!!”

Aku pulang ke rumah dengan hati yang sangat bahagia. Segala beban dalam hidupku rasanya hilang begitu saja setelah beberapa menit bertemu dengan Hyejin. Aku bahkan hampir lupa bahwa aku akan segera bertemu dengan Appa yang pasti sedang meledak-ledak.

—-

Hyejin’s POV

Kakiku masih belum sembuh tapi aku merasakan hal yang lebih menyakitkan, hatiku. Luka hatiku yang susah payah aku sembuhkan selama bertahun-tahun, dengan mudahnya kembali ia buka hanya dengan melihat wajahnya lagi. “Selamat malam. Sampai jumpa,” ucapnya dan yang aku bisa lakukan hanya pura-pura tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya. Sebetulnya aku ingin sekali berteriak kepadanya, “Pergi. Jangan muncul lagi di hadapanku! Tidak tahu kah kau betapa sakitnya melihatmu lagi?” Tapi pada kenyataannya dia akan selalu muncul di hadapanku. Apalagi kami sekantor. Ya Tuhan, tidak bisakah kau membiarkan aku hidup bahagia?

“Hei,” sapa Kris yang datang menjengukku dengan sekantong besar makanan kesukaanku.

Aku tersenyum cerah. “Apa kau bawa coklat putih pesananku?” Tanyaku penuh harap. Aku sangat menginginkan makan coklat putih.

“Tentu saja. Mana mungkin aku melupakannya. Bisa habis kau menghajarku kalau aku lupa. Iya kan?” Sahut Kris sambil menyerahkan coklat putih untukku.

Aku mengambil coklat putih itu dan segera memakannya sedangkan Kris makan coklat hitam pahit sambil mengambil tempat duduk di samping tempat tidurku.

“Tadi aku melihat mobil Kyuhyun hyung di pintu depan rumahmu. Apa dia baru datang menjengukmu?” Tanyanya.

Aku hanya menganggukkan kepala, tidak tertarik untuk membahasnya. Setiap detik yang aku habiskan dengan mendengar nama Kyuhyun, berakibat satu hantaman keras di hatiku. “Aku tidak ingin membahasnya. Kau tahu itu kan?”

Kris, sahabatku sejak aku memutuskan untuk pergi ke China. Aku mengenalnya di hari pertama kuliahku di sana dan entah bagaimana saat itu juga aku langsung mempercayainya seperti aku mempercayai Yeonhee, sahabatku sewaktu SMA. Sewaktu kuliah, dimana ada aku pasti ada Kris dan sebaliknya dimana ada Kris disitu ada aku. Kami sering disebut pasangan yang serasi walaupun pada kenyataannya kami lebih sering berteriak satu sama lain, menendang satu sama lain yang akan berakhir dengan makan es kacang merah bersama di dekat kampus.

Kris satu-satunya orang yang tahu bagaimana susahnya aku berjuang untuk melupakan Kyuhyun. Tidak jarang ia mendapatiku tiba-tiba menangis karena Kyuhyun dan kewajibannya menenangkanku. “Hei, kau tahu betapa jeleknya wajahmu itu kalau sedang menangis? Apa sih yang sudah laki-laki itu perbuat sampai terus-terusan menangisinya?”

Aku memukul Kris sampai ia meringis kesakitan. “Traktir aku makan. Dasar tidak pengertian!” Omelku dan aku mendapatkan sepiring besar nasi goreng untuk melawan air mataku. “Xie Xie Ni, Kris.”

“Aku penasaran seperti apa orang yang bernama Kyuhyun itu.” Kris tidak pernah tahu siapa Kyuhyun sampai pesta penyambutan pegawai baru dari kantor kami seminggu lalu.

Aku terdiam sepanjang perjalanan sedangkan Kris bolak balik melihatku, bertanya apa yang sebenarnya terjadi. “Kau sakit?” Tanyanya. Aku menggelengkan kepala. “Lalu kenapa diam saja?”

Aku menghela nafas dan kemudian menjawab pertanyaannya, “Aku baru saja bertemu dengan cinta pertamaku.”

“Kyuhyun? Kau bertemu dengannya? Dimana?” Tanyanya.

“Dia team leader kita. Kyuhyun. Cho Kyuhyun,” jawabku. Tanpa sadar aku mulai menangis lagi setelah terakhir kali aku menangis karena seorang Kyuhyun 3 tahun lalu. “Dia menemukanku, memelukku, mengatakan betapa dia merindukanku. Kau tahu bagaimana perasaanku, Kris?”

“I was finally getting over you and actually believing i didn’t need you. I was finally accepting you didn’t love me. Then you smilled at me and ruined it all,” ujarku kepada Kris sama persis yang ada di hatiku saat Kyuhyun tadi memelukku di tempat pesta. “He ruined it all, Kris. He ruined it all.”

Aku menangis dan Kris tidak mampu melakukan apapun seperti biasa yang pernah ia lakukan. Kali ini, sakitku tidak bisa diobati dengan apapun. Pria itu benar-benar mengacaukan segalanya.

—–

Kyuhyun’s POV

Sudah lebih dari satu jam aku memperhatikan Hyejin tapi tidak satu detik pun disadari gadis itu. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang sudah ia tinggal lebih dari 3 hari. Aku melihat kakinya sudah jauh lebih baik meskipun ia masih tidak bisa berdiri dengan baik. Aku sudah bilang padanya untuk istirahat lagi di rumah tapi dia keras kepala untuk tetap masuk kantor. Kalau boleh, sebenarnya aku ingin sekali menguncinya di kamarku dan merawat kakinya sampai sembuh. Pasti akan terasa sangat menyenangkan bisa melihat wajahnya setiap detik dan mendengarkan semua ceritanya. Aku rela menukarnya dengan beberapa masalah di kantor.

Hyejin berdiri dari kursinya dan ia nyaris terjatuh. Untung saja, Kris sempat menangkapnya. Untung. Meskipun dalam hati sebenarnya aku kesal. Aku kesal melihat Kris merangkul Hyejin dan mengomel penuh kasih sayang. “Sudah kubilang kalau mau sesuatu, kau bisa bilang padaku. Jangan coba-coba untuk melakukannya sendiri. Aku tidak bisa tidur semalaman memikirkanmu kalau sampai terjadi apa-apa denganmu.”

Hyejin menyengir lucu. Aku mendengarnya mengucapkan maaf lalu meminta tolong kepada Kris untuk melakukan sejumlah hal. “Gomawooo,” ucapnya ceria sambil tersenyum kepada Kris yang telah selesai menyelesaikan permohonan Hyejin.

“Yaaaa.. Haish! Gadis ini. Kau tidak boleh mengobral senyummu kepada semua lelaki. Hei!” omelku pelan dari mejaku.

“Yaa! Sampai kapan kau mau melihatnya saja, pabo!” Tegur Heechul hyung tiba-tiba dari belakang dan tidak lupa menambahkan sebuah jitakan di kepalaku.

Aku meringis nyeri sambil memijit-mijit kepala, letak bekas jitakan Heechul hyung mendarat. “Hyung, sakit,” keluhku kepadanya.

Heechul hyung mencibirkan bibirnya kepadaku. “Pabo. Kalau kau menyukainya kenapa tidak mendekatinya?” Tanya Heechul hyung yang sekarang ikut-ikutan memperhatikan Hyejin. “Dia cukup cantik, menurutku. Kalau kau tidak cepat bergerak, aku yakin laki-laki lain mendapatkannya. Terutama Kris. Aku rasa Kris sedang mendekati Hyejin.”

Untuk pertama kalinya setelah satu jam, mataku bisa berpaling dari gadis pujaanku itu. “Yaaa Hyuuuung!” Erangku kesal mendengar ucapan Heechul hyung.

“Yaah itu sih menurut penglihatanku. Hyejin itu cukup menarik, tidak heran kalau ada laki-laki yang mendekatinya. Daaan kau, kalau hanya melihat, kau tidak akan pernah memilikinya,” ujar Heechul hyung lalu meninggalkanku. Ia berpindah ke meja Hyejin, mengajak gadis itu berbicara sebentar dan mengelus kepala Hyejin sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan itu.

Tiba-tiba smartphone-ku berdering nyaring membuat aku buru-buru mengangkatnya. “Ne, hyung?” Jawabku dengan malas saat mengetahui bahwa yang meneleponnya adalah Heechul hyung.

“Kau melihatnya?” Tanya Heechul hyung.

Aku menjawab dengan malas. “Melihat apa?” Tanyaku balik, pura-pura tidak mengerti. Aku tahu ia pasti mau pamer padaku kalau ia bisa menyentuh Hyejin sesuka hatinya. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana Hyejin tertawa di bawah elusan tangan Heechul hyung dan itu cukup membuatku kesal setengah mati meskipun aku tahu tidak ada apa-apa antara mereka. Aku hanya tidak suka melihat Hyejin disentuh pria lain.

Heechul hyung mendecak kesal, tidak sabaran. “Pabo kuadrat! Bagaimana rasanya melihat gadis yang kau sukai tertawa dengan pria lain? Menyenangkan? Tidak kan? Terus kau hanya ingin terus melihatnya? Tidak mau tertawa bersamanya? Eoh?”

“Iya, aku tahu. Sudah ya, hyung. Bye,” kataku lalu memutus teleponnya.

Aku kembali mengarahkan pandangannya ke meja Hyejin namun betapa kagetnya aku sampai nyaris melompat dari kursiku, bahwa Hyejin sudah berada tepat di hadapanku. Tepat di depan mataku dan ia mampu membuat organ-organ tubuhku bergerak abnormal, 2 kali lebih cepat dari biasanya. Aku gugup.

“Oppa,” sapa Hyejin dengan sopan, hangat tapi terkesan menjaga jarak.

“Aah, Hyejin-ssi. W…wae?” Tanyaku tergagap saking kagetnya melihat kemunculan Hyejin yang tiba-tiba.

“Kami mau makan siang. Ikut?” Ujar Hyejin masih dengan nada yang sama. Aku agak sedikit terganggu dengan nada agak formal seperti itu.

“Oooh… Ahhh… Heum… Aku ikut,” jawabku seperti orang linglung.

“Kajja. Teman-teman sudah menunggu,” kata Hyejin yang kemudian bergabung dengan rekan-rekan satu tim-nya yang sudah menunggu.

Hyejin berjalan beriringan sambil bergurau dan tertawa-tawa dengan Kris, yang tidak segan-segan merangkulnya. Mungkin maksud Kris membantu Hyejin berjalan karena kakinya yang belum sembuh total tapi aku tidak suka melihatnya. Sedangkan aku hanya bisa melihatnya dari belakang, menikmati tawa gadis itu dari jauh. Berharap suatu hari tawa itu hanya akan menjadi milikku.

“Kau masih menyukainya?” Tegur Ryeowook yang berjalan di sebelahku, dengan pelan agar orang lain tidak bisa mendengar suaranya.

Aku menganggukkan kepalaku. “Setelah 6 tahun berlalu? Jinjja?” Bisik Ryeowook.

Aku menganggukkan kepala kemudian menggidikkan bahu dan kemudian menghela nafas. “Setelah 6 tahun berlalu ternyata aku masih mencintainya.”

“Lalu bagaimana dengan Victoria?”

“Hyung, kau kan tahu apa yang terjadi. Aku dan Victoria sudah berakhir bertahun-tahun lalu. Aku hanya tidak bisa lepas darinya karena keluargaku berhutang jasa pada ayahnya.”

“Terus kau mau bagaimana? Mencintai Hyejin tapi bersama Victoria? Atau kau akan meninggalkan Victoria?”

Aku menggeleng tidak tahu. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku bisa saja meninggalkan Victoria tapi aku takut sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Kalau aku tetap bersama Victoria, artinya aku tidak akan mungkin bersama Hyejin. Aku akan patah hati. Aku membunuh diriku sendiri dan mungkin aku menyakiti Hyejin. Kalau ia masih mencintaiku. Kalau.

“Ryeo hyung, kau kan tahu apa yang terjadi antara aku dan dia 6 tahun lalu. Menurutmu, Hyejin masih mencintaiku?”

“Kalau ia masih mencintaimu?”

Aku tertawa sinis. “Tidak mungkin, hyung. Aku sudah terlalu banyak menyakitinya. 6 tahun tanpaku mungkin hari-hari yang paling menyenangkan untuknya. Tidak ada yang menyakitinya, tidak ada yang membuatnya menangis, tidak ada yang membuat semua pengorbanannya sia-sia.”

“Meskipun kemungkinannya kecil, bagaimana kalau ia masih mencintaimu? Apa yang akan kau lakukan? Meninggalkannya lagi?” Tanya Ryeowook sekali lagi.

“Aku pasti laki-laki paling beruntung di dunia ini. Tuhan pasti sudah gila kalau begitu,” jawabku setengah hati meskipun ia sangat berharap Tuhan benar-benar jadi gila. “Aku berharap ia masih cinta padaku tapi lebih baik dia tidak memiliki perasaan apapun padaku kalau itu menyakitinya. Dia pantas bahagia, hyung.”

Ryeowook hyung menepuk punggungku pelan. Aku tersenyum lemah. Aku berjalan di belakang, memperhatikan setiap gerak Hyejin, tidak membiarkan mataku melewati satu pun gerakan Hyejin. Aku melihat Hyejin menengok ke belakang, matanya bertemu dengan mataku. Dia memberikan senyum kemudian berpaling lagi ke depan. Hal itu hanya berlangsung 3 detik dan itu merupakan salah satu waktu yang paling berharga untukku.

—-

Makananku baru datang ketika Victoria tiba-tiba meneleponku. “Kau dimana?” Tanyanya.

“Makan siang dengan anggota tim-ku. Waeyo?” Jawabku.

Victoria terdengar sangat galak. Ia seperti sedang marah. “Apa ada Hyejin di sana?”

Bagaimana dia bisa tahu? “Tidak ada,” jawabku dengan tenang.

“Jangan bohong. Aku tahu ia ada di sana. Kalian satu tim. Iya kan? Aku minta kau pulang sekarang, Cho Kyuhyun.”

“Aku tidak bisa, Victoria. Aku bahkan belum memakan makananku.”

“Pulang sekarang! Atau aku akan menemuimu sekarang juga!” Serunya sampai menyakitkan telingaku kemudian menutup teleponnya.

Dahiku berkerut bingung. “Bagaimana dia bisa tahu?” Gumamku dalam hati. Aku mulai menyantap makan siangku sambil memperhatikan Hyejin dengan sudut mataku.

Hyejin menerima sesumpit kimchi dari Jinki sebagai pelengkap makan siangnya. “Kau harus banyak makan biar cepat sembuh,” ujar Jinki.

“Gomawo, Oppa,” ucap Hyejin diiringi senyuman manis yang mampu membuat laki-laki bertekuk lutut.

“Aaaah, sudah lama aku tidak melihat senyuman seorang gadis. Aaah, menyenangkan sekali,” ujar Jinki sambil tersipu-sipu malu membuat yang lain tertawa.

“Hyung, kau jadi laki-laki tidak ada keren-kerennya. Menggoda seorang gadis tidak seperti itu caranya,” ujar Kris.

Aku memperhatikan Hyejin dengan orang-orang di sekitarnya. Tampak sangat menyenangkan. Aku ingin bergabung tapi aku menahan diri. Pasti ada yang memberitahu keberadaan Hyejin di sini.

“Yaa, hoobae. Aku tidak menggodanya. Aku hanya merasa senang ada seorang gadis di tim kita. Kau tahu betapa hambarnya tim ini tanpa seorang wanita?”

“Yaa!!! Jadi kau anggap aku apa? Aku kan wanita juga!” Protes Hyemi yang duduk di sebelah Jinki.

“Yaa… Kau kan sudah menikah, punya anak, sedang hamil lagi. Kau sudah kami coret dari daftar sejak bertahun-tahun lalu, Hyemi-ssi. Terimalah kenyataan,” sahut Jinki.

Hyemi mencibirkan bibirnya dengan kesal kepada Jinki, membuat semua tertawa. Termasuk aku. Aku kembali fokus pada Hyejin.

“Oh ya Hyejin-ssi, kau dulu kuliah dimana?” Tanya Jinki mungkin ingin tahu hal-hal dasar tentang Hyejin sebagai anggota baru tim.

“China,” jawab Hyejin yang langsung disambar Kris. “Kami ini teman satu angkatan, hyung. Cuman aku lulus lebih dulu karena dia terlalu detil mengurus tugas akhirnya jadi selesai lebih lama. Tapi memang nilai dia lebih bagus sih.”

“Jinjja? Jadi kau sudah lama kenal bocah satu ini? Apa dia selalu absurd seperti ini?” Tanya Jinki sambil menunjuk Kris dengan sumpitnya.

Hyejin menganggukkan kepalanya. “Kami sudah terlalu lama berteman dan Kris memang selalu absurd seperti ini. Dia punya style-nya sendiri,” jawab Hyejin sambil tertawa.

“Aku tidak habis pikir bagaimana kau bisa tahan dengan makhluk absurd ini. Kau pasti sering sakit kepala dibuatnya kan?”

Hyejin tertawa lagi. “Buatku, Kris sangat menyenangkan. Dengan segala keanehannya, dia bisa membuatku nyaman berteman dengannya.”

Kris berdeham penuh wibawa. “See, hyung? Aku itu menyenangkan,” ujar Kris dengan bangga, tentu dengan style-nya sendiri.

“Terserah apa katamu deh,” sahut Jinki tidak mempedulikan Kris. Ia lebih ingin mengetahui hal-hal lain tentang Hyejin dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. “Lalu waktu SMA di China juga?”

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Aku dari lahir tinggal di Korea baru kuliah saja ke China,” jawab Hyejin.

Ryeowook yang sudah menyelesaikan makan siangnya tiba-tiba menyahut, “Hyejin itu adik kelasku waktu SMA.”

“Jinjja? Berarti kau adik kelas si Kyuhyun juga?” Sahut Jinki.

Hyejin tertawa lagi sambil menganggukkan kepalanya. “Ryeowook sunbae dan Kyuhyun sunbae 2 tahun di atasku. Mereka idola gadis-gadis di sekolah kami,” kata Hyejin pada Jinki.

Jinki tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Hyejin. “Aku tidak percaya. Selama aku bekerja dengan mereka, aku tidak pernah melihat gadis-gadis mengerubungi mereka. Yang ada malah menghindari mereka,” kata Jinki dengan terbuka.

“Tapi aku tidak bohong, Jinki Oppa. Waktu SMA, Ryeowook Oppa banyak dikelilingi gadis-gadis yang meminta bantuannya sebagai mak comblang. Sedangkan Kyuhyun Oppa….” Hyejin melihatku sejenak namun aku segera memalingkan kepalaku. Aku tidak berani melihatnya. Kisah kami waktu SMA sangat tidak menyenangkan untuk diingat.

“Kalau Kyuhyun bagaimana? Apa ia benar-benar idola para gadis?” Tanya Jinki.

Aku melihat Hyejin mengangguk dengan mantap diiringi tawa manisnya. Seketika hatiku mencelos. Segerombolan rasa penyesalan seketika menyergapku, membuatku sesak.

“Kyuhyun Oppa tipe pria yang sangat setia pada wanitanya. Karena itu banyak gadis mengejarnya,” jawab Hyejin. Rasa sesak itu semakin rapat menyergapku. Aku tidak bisa lagi merasakan paru-paruku bekerja normal. Aku ingin menangis.

Jinki menepuk-nepuk punggungku dengan pelan, menatapku dengan kagum. “Tidak aku sangka kau ternyata begitu setia pada satu wanita. Karena itu kau tidak pernah mau aku ajak kencan buta atau kumpul-kumpul dengan gadis-gadis kenalanku. Luar biasa!”

Aku hanya tersenyum. Aku tidak bisa lebih lama lagi berada di sini. Sedetik saja aku lalui di sini, semua orang bisa melihat air mataku dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Aku buru-buru bangkit berdiri dan berpamitan. “Jam istirahat sudah habis. Aku harus kembali ke kantor sekarang karena Heechul hyung sebentar lagi mencariku. Selamat melanjutkan makan siang. Permisi,” kataku.

Aku membelakangi Hyejin, tidak berani melihat wajahnya. Aku takut melihatnya tersenyum saat menceritakan diriku. Aku takut melihat ia ternyata sudah merelakanku.

—-

Hanya aku yang tahu bahwa alasan aku kembali ke kantor lebih dulu bukan karena Heechul hyung akan mencariku tapi untuk lari dari perasaan menyesalku pada Hyejin. Mendengar ucapan Hyejin, semua perbuatannya terhadapku seakan muncul dan ramai-ramai menghantamku sampai terasa sangat sakit. Kesalahanku padanya terlalu banyak.

Ucapan Hyejin tidak salah. Aku memang setia pada satu gadis sampai tidak menyadari ada gadis yang lebih mencintaiku dan  menyia-nyiakannya. Setia buta.

“Kau tidak ikut makan siang dengan anak-anak?” Sapa Heechul hyung yang baru memasuki ruangan dengan setumpuk map di tangannya.

“Aku pulang duluan. Ada yang mau kukerjakan,” jawabku  asal dengan alasan yang pertama kali muncul di kepalaku.

Heechul hyung mengerutkan keningnya. “Seingatku proyekmu sudah selesai. Apa kau ada proyek lain yang belum kau beritahukan padaku?” Tanya Heechul hyung. “Kyuhyun-ssi, sebagai manager, aku harus tahu apa yang sedang dikerjakan oleh team leader-ku biar aku bisa memperhitungkan kinerja tim kita setiap bulannya dan…”

“Hyung, kau istirahat saja dulu. Aku akan mempelajari proyekmu. Sini,” potongku sambil mengambil alih map yang ada di tangan Heechul hyung. “Aku akan mempresentasikannya padamu jam 5 sore nanti. Sekarang hyung lebih baik istirahat.”

Heechul hyung memandangku dengan bingung. “Kyuhyun-ssi, kau memang team leader-ku yang dapat diandalkan tapi kau bukan tipe orang yang mau mengambil alih pekerjaan orang lain tanpa diperintah. Kau akan melakukannya kalau ada disposisi tertulis dariku, bukan sukarela seperti ini. I know you.”

Kau baik-baik saja, Kyu?” Tanya Heechul hyung kemudian karena melihatku diam saja.

Aku menatapnya tanpa ekspresi. “Aku baik-baik saja, hyung. Kau istirahat saja, tidak usah khawatir. Aku lihat jadwalmu sangat padat. Jam 2 nanti kau ada rapat dengan CEO kan? Aku akan mempelajari proyek ini. Okay?” sahutku dan menenggelamkan diri dalam pekerjaan.

Heechul hyung menepuk-nepuk kepalaku dengan penuh kasih sayang. “Kalau ada apa-apa, aku siap membantumu. Tidak usah segan-segan,” ucap Heechul hyung.

“Ne, hyung,” sahutku tanpa mengangkat kepalanya dari atas map-map ini. Aku tahu tidak ada yang bisa yang menyelesaikan masalahku. Hanya Tuhan yang bisa melakukannya.

—–

“Hyejin-ah! Kau tidak pulang?” Seru Kris tepat ketika jam pulang kantor menunjukkan pukul 5 sore. Aku bisa mendengarnya dengan jelas dari mejaku. Sejak Hyejin datang ke tempat ini, sedikitnya 2 dari 5 panca indera ku tertuju padanya. Mata dan Telinga.

Hyejin yang berada beberapa langkah dari Kris menggelengkan kepalanya. “Aku ada tugas dari Heechul Oppa. Kau duluan saja,” sahut Hyejin.

“Ok. Kalau begitu, aku duluan ya. Aku mau treadmill dulu di gym. Nanti kalau sudah mau pulang, telepon aku. Aku akan menjemputmu nanti,” ujar Kris lalu meninggalkan kantor lebih dulu.

Hubungan mereka mungkin sekedar sahabat karena mereka sudah lama saling mengenal tapi hal itu tidak mengurangi keingintahuanku apa yang pernah terjadi antara mereka. Apa Hyejin pernah menangis di depan Kris? Apa Hyejin pernah memeluknya? Apa Kris selalu ada untuk Hyejin setiap saat? Aku tidak pernah memiliki rasa ingin tahu sebesar rasa ingin tahuku sekarang.

Hyejin baru saja selesai merapikan dokumen-dokumen yang baru ia fotokopi tapi Heechul hyung sudah berteriak memanggil namanya. “Hyejin-aaaah! Ppali!!!”

Dengan terburu-buru, Hyejin membawa dokumen-dokumennya beserta laptop ke ruangan Heechul hyung. Hyejin juga langsung menyiapkan semuanya untuk rapat proyek baru. “Semua sudah siap, Oppa,” kata Hyejin.

Heechul hyung mengucapkan terima kasih dan langsung memulai rapatnya. “Kyu, silahkan dimulai. Hye, tulis semuanya dengan detil ya. Kau notulen rapat ini,” perintah Heechul hyung.

“Ne, Oppa,” sahut Hyejin dengan patuh. Dia sudah siap dengan notebook-nya.

Aku melihat kaki Hyejin sejenak sebelum memulai presentasiku. “Kakimu sudah sembuh?” Tanyaku.

Hyejin tersenyum ceria. “Aku bahkan sudah bisa jogging,” jawabnya membuatku lega. Menyenangkan sekali rasanya mendengar ia sudah sembuh. Paling tidak, rasa sakit yang ia alami berkurang satu.

“Kalau begitu kau sudah bisa mencatat detil proyekku dengan cepat. Betul?”

Hyejin tertawa. “Oppa, aku mencatat dengan tangan bukan dengan kaki. Meskipun kakiku belum sembuh, aku tetap bisa mencatat dengan cepat. Ppali.”

Aku memulai presentasiku atas proyek baru yang didapat dari Heechul hyung tadi. Heechul hyung mengkoreksi sedikit-sedikit dan Hyejin mencatat semuanya dengan rapi dan detil di notebook-nya. Aku melihatnya sesekali dan menyadari betapa cantiknya ia dengan rambut terurai.

“Okay, segera dirapikan. Besok pagi akan kita rapatkan dengan CEO. Sekarang aku mau menghadap dia lagi untuk kesekian kalinya hari ini. Aku curiga, jangan-jangan dia jatuh cinta padaku,” ujar Heechul hyung dengan gaya metroseksualnya yang menurutku lucu.

“Tidak mungkin. CEO kita cukup waras untuk menemukan wanita pujaannya, bukan laki-laki,” sahutku.

“Ya ya ya. Selesaikan dulu proyek ini baru bicara. Aku tunggu revisi-nya selesai besok pagi,” kata Heechul hyung tanpa bisa dibantah. “Hyejin, kau bantu Kyuhyun menyelesaikan proyek ini ya. Aku pergi dulu. Sampai jumpa besok pagi.”

Heechul hyung meninggalkan ruang rapat dengan aku dan Hyejin yang harus menyelesaikan sebuah proyek dalam waktu semalam. “Kau jadi harus lembur malam ini,” kataku memecah suasana kaku antara aku dan Hyejin yang tinggal berdua di ruangan ini.

“Gwencana. Lagipula Oppa sudah memberiku cuti seminggu lebih. Aku harus melakukannya dengan baik,” katanya penuh dengan semangatt. Ia membuka presentasiku dan memasukkan revisi-revisi Heechul hyung ke dalamnya. Aku memperhatikannya dari samping.

“Oppa,” panggil Hyejin membuatku sedikit terperanjat karena gadis itu sudah berpindah duduk tepat di sampingku. Aku sangat menginginkan berada di dekat Hyejin tapi tampaknya diriku belum terbiasa terlalu dekat dengan Hyejin apalagi hanya berdua. Aku merasa panas dingin dan jantungku berdebar tidak karuan.

“Waeyo, Hyejin-ssi?” Tanyaku sambil berusaha menenangkan jantungku.

“Ini revisian yang diberikan Heechul Oppa sudah aku masukkan semua. Apa ada tambahan lagi?” Tanya Hyejin sambil tersenyum lembut, memberi kehangatan yang sudah tidak lama aku rasakan.

Aku menggeser notebook-nya ke hadapanku dan melihat presentasiku yang sudah direvisi olehnya sesuai arahan Heechul hyung. “Aku rasa sudah cukup. Aku akan menambahkan sendiri beberapa poin lagi nanti. Pindahkan ke notebook-ku ya,” ujarku.

“Ne, akan segera aku pindahkan,” sahut Hyejin yang segera mengcopy presentasiku ke notebook-ku sedangkan aku berkutat dengan kertas coret-coretanku.

“Oppa, apa Amerika menyenangkan?” Tanya Hyejin membuatku mengalihkan konsentrasiku. “Aku penasaran bagaimana rasanya tinggal di negara lain.”

“Kau kan pernah tinggal di China. Aku rasa sama saja,” jawabku.

“Iiih mana sama. Aku kan tinggal di negara yang serumpun dengan negara kita. Kalau Amerika kan beda jauh. Aku mohon berceritalah. Please,” ujar Hyejin memohon dengan ceria, membuatku tidak bisa mengelak.

Aku tersenyum. Hatiku merasakan Hyejin yang baik hati, hangat, ceria dan terasa sangat dekat. “Aku hidup selayaknya mahasiswa. Belajar, main, belajar, main. Tapi aku lebih banyak belajarnya kok. Aku salah satu lulusan terbaik loh,” ujarku.

Hyejin tertawa. “Arra. Arra. Tanpa belajar pun Oppa pasti lulus dengan nilai memuaskan. Otak Oppa itu terlalu encer. You know?” kata Hyejin.

Aku ikut-ikutan tertawa. “Itu waktu SMA. Meskipun kerjaku hanya main-main, aku tetap bisa dapat nilai bagus. Kuliah ternyata jauh lebih berat. Aku pernah tidak tidur 3 hari karena mengerjakan tugas.”

Hyejin menatap penuh curiga, tidak yakin dengan perkataanku. “Tidak tidur mengerjakan tugas? Bukan karena main game?”

“Aku serius. Aku mengerjakan tugas,” kataku mencoba meyakinkan Hyejin.

“Aku percaya. Aku percaya,” kata Hyejin sambil tertawa. “Lalu apa kabar dengan Victoria eonni? Apa Oppa masih bersamanya?”

Seketika atmosfer sekeliling kami terasa beku dan dingin, meskipun Hyejin bertanya dengan ceria. “Aku sudah putus dengannya. Sudah lama sekali,” jawabku.

“Tapi Oppa masih tidak bisa lepas darinya kan?” Pertanyaan paling mematikan yang tidak bisa aku jawab. Aku terdiam.

Hyejin menatapku, terlihat merasa sangat bersalah. “Mianhe,” ucap Hyejin penuh penyesalan.

Aku tersenyum. “Seharusnya aku yang minta maaf padamu.”

“Minta maaf untuk apa?”

“Semuanya. Semua yang telah aku lakukan padamu. Maaf sudah terlalu sering menyakitimu.”

Hyejin tersenyum padaku, senyuman yang seharusnya menenangkanku tapi justru semakin menjerumuskanku ke dalam perasaan bersalah. “Aku sudah melupakannya. Tidak usah dipikirkan. Lagipula itu masa lalu.”

“Sungguh?”

“Sungguh.”

Hyejin benar-benar sudah melupakannya. Seharusnya aku lega tapi yang aku inginkan justru sebaliknya. Aku ingin Hyejin mengingatnya, menuntut permintaan maaf dariku bahkan aku akan bersujud di kakinya untuk mendapatkan maafnya. Aku ingin mendapatkan ganjaran yang sepadan dengan perbuatanku, tidak semudah ini.

“Kau sendiri bagaimana? Bagaimana hidupmu selama 6 tahun ini?” Aku bertanya kepada Hyejin.

“Aku baik-baik saja. Semua berjalan dengan aman dan lancar. Aku punya banyak teman di China, termasuk Kris. Kris banyak membantuku selama aku di sana. Aku melakukan banyak hal. Pokoknya, menyenangkan,” jawab Hyejin. Ekspresinya terlihat sangat bersemangat.

Hatiku lega mendengarnya tapi ada sedikit perasaan ingin tahu apa dia memikirkanku selama itu. Aku tidak bisa menanyakannya.

“Kau pasti tidak rajin belajar ya?”

“Aku lebih banyak bekerja sambilan. Apalagi kalau jadi model. Enak. Lumayan bisa untuk tambahan belanjaku.”

Aku tertawa. “Dasar perempuan. Ngomong-ngomong, siapa pacarmu sekarang? Tidak mungkin gadis secantik dirimu tidak ada yang mau?” Godaku dengan nada bercanda meskipun sesungguhnya ia ingin tahu.

Hyejin tertawa. “Tidak ada.” Aku menatapnya penuh curiga tapi ia hanya tertawa. “Sungguh, Oppa. Aku tidak punya pacar. ”

“Baiklah. Aku percaya,” kataku.

Obrolan kami terasa lebih ringan. Hyejin banyak tertawa dan menanggapi pertanyaan-pertanyaanku dengan santai tapi ada satu saat dimana Hyejin berbicara denganku dengan sangat serius.

“Oppa, boleh aku jujur padamu?” Tanya Hyejin yang kusahut dengan anggukkan kepala. Aku tidak berani menjawabnya.

“Waktu pertama kali aku masuk kantor ini dan bertemu denganmu, aku kaget sekali. Apalagi waktu kau bilang merindukanku lalu memelukku, aku menangis.”

Aku tersenyum lesu. “Aku tahu.”

“Begitu melihatmu, semua kenanganku 6 tahun lalu mengalir begitu saja dan terasa menusuk-nusukku lagi. Aku ingat betapa aku mencintaimu, melakukan segalanya untukmu tapi kau tetap memilih Victoria dan meninggalkanku. Saat itu juga aku ingin resign tapi Kris melarangku.”

“Selama enam tahun aku berjuang melupakanmu dan hanya dalam semenit kau berhasil mengacaukan semuanya. Kau tahu betapa kuatnya cintaku padamu sampai aku harus pergi ke China untuk lari dari bayang-bayangmu?” Lanjut Hyejin lagi.

Aku diam seribu bahasa.

Hyejin menundukkan kepalanya lalu mengusap matanya. Aku tahu ia ingin menangis tapi ia tidak ingin aku melihat air matanya. “Mian. Bukan aku ingin mengenang masa lalu tapi aku hanya ingin Oppa tahu rasa sakit yang kutanggung selama ini. Mianhe, Oppa.” Suaranya makin lama makin mengecil dan bergetar. Ia sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi.

Aku menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. “Mianhe, Hye. Mian. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku akan melakukan apapun yang kau minta agar kau memaafkanku,” ucapku dengan seluruh penyesalan yang membuncah dalam diriku. Aku ingin sekali bisa membuat Hyejin mengerti bahwa aku mengerti rasa sakit yang pernah aku buat dan aku sanggup melakukan apa saja untuk menebusnya.

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Dengan bicara seperti ini aku sedikit lebih lega. Gomawo, Oppa,” katanya.

Aku menatap Hyejin dengan serius. Mataku tidak berkedip sedetikpun menatap matanya. “Aku mohon mintalah sesuatu dariku.”

“Hiduplah bahagia, Oppa,” ujarnya.

Aku menghela nafasku dan kemudian mencium kening Hyejin. “Bagaimana aku bisa hidup bahagia jika kau tidak di sampingku?”

“Maksudnya?” Tanya Hyejin tidak mengerti.

“Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Song Hyejin. Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Percayalah. Aku mohon”

Hyejin menatapku dengan tatapan tidak percaya. “Terakhir kali aku mempercayakan hatiku, Oppa mencabik-cabiknya sampai tidak berbentuk, sampai aku tidak percaya bahwa cinta itu ada,” ujar Hyejin membuatku seperti tertinju tepat di jantungnya. Sakit sekali. Dia menyerangku tepat sasaran.

“Aku telah pernah sekali melakukan kesalahan dan aku tidak mau dibilang bodoh karena melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Permisi.” Tanpa ragu, ia melepaskan pelukanku dan pergi meninggalkanku.

Hyejin berhasil memberikan pukulan telak. Hatiku rasanya sudah remuk redam, tidak bisa merasakan apapun kecuali sakit. Sangat sakit. Otakku tidak dapat berpikir. Aku seperti ingin mati saja saat ini.

—-

Author’s POV

Kyuhyun naik ke lantai paling atas, atap terbuka, tidak untuk menemui siapa-siapa. Dia hanya ingin menyendiri, menumpahkan kesesakkannya, membiarkan air matanya mengalir.

Kyuhyun berdiri menyender pada tower air. Matanya menatap kosong ke arah taman yang berada di bawah gedung kantornya ini. Pikirannya tidak sanggup memikirkan apapun. Ia hanya mampu menangis dan menangis.

Heechul yang melihat Kyuhyun dan mengikutinya sampai ke atap, mendekati Kyuhyun dan merangkulnya dengan erat. “Sudah kubilang kalau ada apa-apa, kau bisa cerita padaku. Tidak usah sungkan,” ucap Heechul penuh empati.

Kyuhyun seperti orang putus asa yang tidak bisa menanggung semuanya sendirian. Ia memeluk Heechul dan menumpahkan kesedihannya di pelukan laki-laki yang sudah ia anggap sebagai saudara kandungnya sendiri. “Tuhan ternyata maha adil. Aku bukan laki-laki paling beruntung di dunia ini. Hyejin tidak mencintaiku. Ottoke, hyung? Ottoke?” Raung Kyuhyun disertai isak tangis yang sangat menyakitkan.

Seumur hidupnya, belum pernah Kyuhyun merasa terpuruk seperti ini. Ini pertama kalinya ia menangis histeris tanpa peduli bahwa ia sedang menangis di pelukan seseorang, meskipun itu sahabatnya sendiri.

Heechul memeluk Kyuhyun dengan erat, mengelus punggung dongsaeng-nya itu untuk memberikan sedikit ketenangan. “Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku tahu rasa sakitmu tapi aku tidak bisa menghiburmu karena kata-kataku nanti akan terdengar klise. Lebih baik kau menangis saja sepuasmu, Kyu. Menangislah untuk ketenanganmu.” Heechul membiarkan Kyuhyun menangis sampai ia merasa jauh lebih baik dan tenang.

“Sudah merasa lebih baik?” Tanya Heechul ketika Kyuhyun sudah berhenti menangis.

“Ne. Gomawo, hyung,” jawab Kyuhyun malu-malu karena ia menangis dengan begitu kencangnya di depan Heechul.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Heechul sambil menawarkan sebotol the dingin kepada Kyuhyun.

Kyuhyun terpaku di tempatnya. Matanya dengan mudah menangkap sosok Hyejin yang sedang masuk ke dalam pelukan Kris. Kyuhyun bahkan dapat menangkap bahwa Hyejin sedang menangis di pelukan Kris. Melihat itu, tidak ada lagi kata-kata yang dapat menggambarkan perasaan Kyuhyun saat ini. Dia merasa begitu terpuruk.

“Kau tidak mau cerita padaku? Siapa tahu kau bisa lebih tenang,” ujar Heechul lagi.

Kyuhyun meneguk langsung sebotol the dingin di tangannya. “Tidak ada yang bisa menyelesaikan masalahku dengan Hyejin.”

“Tapi mungkin dengan berbagi denganku bisa meringankan sedikit bebanmu.”

“Aku bilang pada Hyejin bahwa aku mencintainya dan kau tahu apa yang dia katakan, hyung? Dia tidak bisa mempercayakan lagi hatinya padaku. Itu artinya, dia tidak akan mungkin mencintaiku lagi. Tidak akan mungkin.”

Kyuhyun mengumpulkan seluruh tenaga dari setiap sel-sel tubuhnya untuk mengatakan hal sependek itu. Setelah itu, ia seperti tidak memiliki tenaga sama sekali. Kyuhyun bahkan tidak kuat untuk berdiri. Ia menjatuhkan dirinya ke lantai dan membiarkan kepalanya terkulai di antara kedua kakinya.

Heechul berjongkok di samping Kyuhyun dan kembali memeluk Kyuhyun. “Kyu, kau mau kuberitahu satu hal? Menurutku, jodoh itu sebenarnya ada di tangan kita sendiri. Kalau kita memutuskan ingin bersama seseorang maka kita akan bersama dia. Asal kita berusaha. Begitu juga dengan cinta. Banyak wanita yang berlabuh pada pria yang awalnya tidak mereka cintai. Tapi karena si pria begitu gigih berjuang mendapatkan si wanita maka wanita itu luluh juga. Sudah sifat wanita senang diperjuangkan, senang dicintai. Jadi, tidak ada salahnya kalau kau mencoba membuat Hyejin jatuh cinta lagi padamu kan? Kalau ia bisa melihat betapa kau mencintainya.”

“Masalahnya tidak semudah itu, hyung. Selama ada Victoria di sampingku, Hyejin tidak akan percaya padaku mau sekeras apapun aku berusaha. Dia tidak akan mau memberikan hatinya lagi untukku.”

—-

Hyejin’s POV

Aku langsung menghambur ke dalam pelukan Kris begitu ia datang menjemputku. Air mata yang menggenang sedikit mengaburkan penglihatanku. “Kau kenapa?” Tanya Kris kepadaku. Aku menangkap nada kecemasan di suaranya tapi aku belum bisa bercerita padanya. Aku hanya mampu menangis. Hatiku begitu kacau begitu juga pikiranku. Aku kehilangan kontrol atas diriku. Aku seperti zombie.

“Kau kenapa?” Tanya Kris sekali lagi tapi aku tetap tidak menjawabnya. Aku memeluk Kris dan membiarkan diriku menangis sepuasnya di sana.

“Antarkan aku pulang,” kataku selesai menangis.

Tubuhku terasa sangat lemah. Kris membantuku masuk ke dalam mobilnya. Begitu juga begitu sampai di rumahku, ia memapahku masuk ke dalam kamar, membaringkanku di tempat tidurku dan kemudian menyelimutiku. “Selamat malam,” ucapnya sebelum meninggalkanku.

Aku menarik tangannya agar ia tetap tinggal di sampingku. “Jangan pergi. Aku takut, Kris. Aku takut.”

Kris mengusap keningku. Dengan tenang ia bertanya, “Apa yang kau takutkan? Tenang saja. Ada aku di sini.”

Aku menghela nafas panjang kemudian menceritakan apa yang terjadi antara aku dan Kyuhyun yang memberikan efek sampai separah ini untukku. “Kyuhyun bilang dia mencintaiku. Selama enam tahun ini dia mencintaiku. Dia. Mencintaiku. Aku takut, Kris. Aku takut.”

“Apa yang kau takutkan? Aku sudah berjanji padamu untuk selalu menolongmu kan? Tidak usah takut. Tenanglah.”

“Aku takut jatuh cinta pada Kyuhyun. Aku takut…aku takut masih mencintainya, Kris. Aku takut.”

Aku menatap kosong ke arah jendela kamarku. Aku membayangkan Kyuhyun berdiri memelukku, mengatakan betapa ia mencintaiku dan aku tersenyum bahagia mendengarnya. Sedetik kemudian, aku membayangkan Victoria datang menarik Kyuhyun dan Kyuhyun meninggalkanku tersungkur sendirian berteriak-teriak padanya, memohon kepadanya untuk kembali. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Aku tidak mau.

“Kris, aku mohon jangan biarkan aku sakit hati lagi. Aku mohon. Berjanjilah padaku. Kau tahu aku tidak bisa melewati masa-masa itu dua kali. Aku sudah kehabisan tenaga untuk itu. Aku tidak boleh jatuh lagi, Kris. Iya kan?”

“Tentu saja. Aku tidak akan membiarkanmu. Aku akan menjagamu.” Aku merasa pelukan hangat Kris ke sekujur tubuhku. Pelukan yang selalu dapat menenangkanku. Air mataku seperti mendesak ingin keluar tapi tidak ada lagi air mata lagi yang bisa keluar. Kyuhyun sudah menghabiskannya hanya dalam waktu sejam.

——-

Kyuhyun’s POV

Dengan sisa tenaga yang aku miliki, aku kembali ke rumah dengan harapan aku bisa istirahat dengan tenang. Tapi pada kenyataannya, orang pertama yang aku lihat begitu masuk rumah semakin membuat kepalaku sakit. “Hai,” sapa Victoria dengan senyum lebarnya. Aku menatapnya kosong. Aku berpikir aku harus membalas senyumnya walau hanya pura-pura tapi aku tidak bisa. Aku terlalu kacau untuk melakukan sesuatu. Aku hanya diam.

Victoria menggandengku masuk dan aku hanya mengikutinya tanpa bisa melawan. Dia mengajakku ke ruang makan dimana appa, eomma dan tuan Song sedang duduk bersama sambil tertawa-tawa. “Ah, ini dia si Kyuhyun. Kau sudah makan malam Kyuhyun-ssi?” Sapa tuan Song begitu melihatku.

Aku membungkukkan badan dengan sopan. “Aku sudah makan di kantor tadi. Silahkan melanjutkan obrolannya. Aku mau mandi dulu,” kataku tapi Victoria menahanku.

“Ada hal penting yang harus kita bicarakan,” kata Victoria sambil memaksaku duduk.

Ya Tuhan, tidak bisakah orang ini menunggu sebentar? Aku hanya ingin mandi 5 menit untuk sedikit menyegarkan otakku, meluruskan paling tidak sepersepuluh benang kusut di kepalaku.

Dengan terpaksa, aku duduk. “Apa yang ingin dibicarakan?” Tanyaku lemah.

Tuan Song memandang Appa, menyuruh Appa untuk bicara. “Kami baru saja bicara tentang rencana pernikahan kalian,” kata Appa.

Aku tertawa kecil. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tanpa berpikir panjang aku menyahut, “Aku bilang sekali lagi, aku belum siap menikah tapi terserah kalian kalau memaksaku. Permisi.” Aku segera meninggalkan ruang makan itu. Appa pasti sangat marah padaku dengan ketidaksopananku. Tapi biarlah, toh meskipun aku sopan, mereka akan tetap memaksaku menikah dengan Victoria.

Victoria mengejarku, membuatku bertambah kesal. “Aku mau mandi,” kataku. Aku bisa merasakan aku baru saja membentaknya. Aku tidak bisa lagi mengontrol diriku.

“Kita harus bicara,” katanya.

“Apa lagi yang kau inginkan? Aku akan menikah denganmu walau terpaksa!”

Plak! Victoria mendaratkan sebuah tamparan keras di pipiku. “Kau! Benar-benar! Kau bilang kau mencintaiku! Kau bilang kau akan terus bersamaku!”

“Belasan tahun yang lalu ketika aku tidak mengerti apa itu cinta, Victoria-ssi. Kau selalu saja bersamaku, membuatku jatuh cinta kepadamu. Tapi ternyata kau menganggapku hanya cadangan. Ketika kau butuh aku, kau datang padaku. Ketika kau tidak butuh, kau membuangku. Cinta tidak seperti itu.”

“Diam!” Teriak Victoria dengan histeris tapi aku tidak peduli. Aku mengeluarkan seluruh isi hatiku yang selama ini sangat menggangguku.

“Cinta itu lebih rumit dari yang kau bayangkan, Victoria-ssi. Cinta itu tidak mengenal butuh atau tidak butuh. Cinta itu selalu ingin berada di sampingnya apapun yang terjadi. Seperti yang dulu selalu aku lakukan padamu. Seperti….seperti apa yang Hyejin lakukan padaku. Meskipun itu menyakitkan, ia akan terus ingin berada di sampingmu. Aku ingin terus berada di samping Hyejin, Victoria-ssi. Aku mencintainya. Aku mencintai Hyejin.”

“Diaaaaam! Jangan pernah sebut nama itu di depanku!” Teriak Victoria lagi. Air mata sudah mengalir deras di pipinya. Bertubi-tubi pukulan mendarat di dadaku. Aku diam di tempatku, tidak mengalah tapi tidak juga melawan. Aku terlalu lelah untuk itu. Bahkan ketika Victoria jatuh tersungkur di depanku, aku tidak bisa mengangkatnya untuk kembali berdiri. Ia bersujud di kakiku, memohon untuk menikah dengannya. “Aku akan mati tanpamu, Kyuhyun-ssi. Aku mohon, tolong aku.”

Aku ingin sekali membalas tapi aku menahannya. Aku memilih masuk ke dalam kamarku dan istirahat. “Aku akan mati tanpa Hyejin. Siapa yang akan menolongku?” Gumamku dalam hati. Aku melihat syal dan surat kumal teronggok di samping tempat tidurku, wajah Hyejin kembali muncul, ketidakpercayaannya kepadaku menggerogotiku perlahan. Tanpa bisa kulawan, air mata kembali mengalir deras di wajahku. Aku tidak pernah seterpuruk ini. Seumur hidup, ini adalah yang terburuk.

—–

Selama rapat, Hyejin mengambil tempat duduk yang paling jauh dariku. Ia tidak sedikitpun menengok ke arahku. Bahkan ketika ia terpaksa melihatku, ia akan mengarahkan matanya ke tempat lain. Ia tidak mau melihatku. Ia menghindariku dan selalu lari pada Kris.

“Hei,” sapaku saat jam makan siang. Hyejin masih duduk di mejanya karena harus mengerjakan proyek dari Heechul hyung yang harus selesai malam ini juga. Ia melihatku kemudian menghindar dengan menyusuri ruangan seperti mencari sesuatu. “Kau mencari siapa?” Tanyaku.

“Tidak ada,” jawabnya kemudian sibuk dengan komputernya. Tangannya sibuk mengetik di papan keyboard, matanya bolak-balik melihat komputer dan dokumen-dokumen pekerjaannya.

Aku tahu ia mencari-cari Kris tapi aku hanya tersenyum. “Ini kekurangan data yang diminta Heechul hyung tadi. Aku sudah menyiapkannya, tinggal kau masukkan saja ke aspek-aspek yang ada ya,” kataku sambil meletakkan sebuah flashdisk di mejanya.

Hyejin menjawab, “Ne. Gomawo.” Aku bisa merasakan bahwa ia menarik diri jauh dari jangkauanku. Ia benar-benar menghindar dariku dan aku tidak bisa menariknya kembali.

Aku berdiri di depan Hyejin, menyusuri setiap inci dirinya dengan mataku. Bagiku, dia terlalu sempurna. Mungkin ada 5 menit aku berdiri dalam diam di hadapannya tapi tidak sedetik pun Hyejin mengalihkan matanya padaku. Ia memilih menatap komputer, mengotak-atik pekerjaannya dan mungkin menganggapku tidak ada.

Aku menyerah ketika Kris tiba-tiba muncul. “Hyung, apa yang kau lakukan?” Tanyanya kepadaku dan Hyejin menjerit senang, “Kriiiis!!! Akhirnya kau datang juga. Mana makananku? Kau lama sekali sih.”

Kris menyerahkan sekantong makanan untuk Hyejin dan Hyejin menerimanya dengan ceria. “Gomawoooo,” ucap Hyejin dengan senyuman manis favoritku. Hyejin terlihat sangat senang begitu melihat Kris dan aku tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menarik diri.

Aku baru duduk di tempatku ketika Heechul hyung tiba-tiba meneleponku dan menyuruhku masuk ke ruangannya. “Waeyo, hyuuung?” Tanyaku dengan malas karena sebetulnya aku ingin sendirian saja.

“Yaa! Kenapa kau seperti orang tidak punya semangatt hidup seperti itu?” Tanya Heechul hyung begitu melihatku. Ia mungkin bisa melihat diriku yang seperti sudah kehilangan roh. Hanya ragaku yang masih tinggal.

“Hyung, boleh ya aku istirahat sebentar. Aku lelah sekali,” kataku lalu berbaring di sofanya. “Aku lelah sekali sampai rasanya ingin mati.”

Heechul hyung memberikanku segelas wine yang langsung aku minum dalam sekali teguk. “Hyejin menghindariku dan memilih tertawa-tawa dengan Kris. Aku dipaksa menikah dengan Victoria kalau tidak wanita itu akan mati. Proyekku ditunda manajemen padahal aku janji pada klien akan selesai minggu ini. Menurutmu aku harus berbuat apa, hyung?” Aku jelas sekali frustasi.

Heechul hyung menyesap wine-nya perlahan. Dia menatapku dengan kasihan tapi juga penuh kasih sayang. “Kau boleh melakukan apapun asal jangan mati. Hidupmu terlalu berharga untuk masalah-masalah seperti itu.”

“Tapi hidupku tidak ada artinya tanpa Hyejin, hyung.”

“Mengenai hal itu…” Heechul hyung menatapku dengan ragu-ragu.

“Aku tahu aku tidak mungkin memiliki Hyejin. Iya kan, hyung?”

Heechul hyung melempar bantal sofanya ke wajahku. “Bukan itu maksudku. Mengenai Hyejin, kau harus sabar. Dekati dia lagi pelan-pelan.”

“Dengan rencana pernikahan yang selalu mengintaiku?” Aku menghela nafas panjang lalu menutup mataku sebentar. Aku mencoba mengosongkan pikiranku dan istirahat. Entah bagaimana, Hyejin berhasil masuk ke dalam mimpiku.

—–

Kepalaku sudah hampir meledak memikirkan semua ini. Manajemen telah menggantung proyekku lebih dari 3 hari dan klien-ku sudah menelepon 3 kali sehari untuk menanyakan keputusannya.   “Berikan waktu 3 hari lagi. Aku akan memberikan yang terbaik. Tentu saja… Jangan khawatir,” kataku kepada klien untuk mengulur waktu. Aku menghembuskan nafasku dengan kasar sambil mengumpat manajemen dalam hatiku.

“Heechul hyung, tidak bisakah kau membujuk CEO untuk segera menyetujui proyekku? Aku hampir muntah mendapat telepon tiap jam, lebih parah dari minum obat,” keluhku kepada Heechul hyung.

Heechul hyung menunjukkan wajah malasnya. “Aku akan mencoba tapi lebih baik kau siapkan dulu acara ini,” ujar Heechul hyung sambil menunjukkan email yang tampaknya baru saja sampai ke smartphone-nya.

Aku membaca email itu berulang kali dan memutuskan aku butuh asupan energi yang lebih besar. “Rapat triwulanan. Giliran tim kita yang menyiapkannya. Haiiish. Andai badanku bisa dibagi dua,” keluhku.

Belum selesai satu masalah, muncul masalah baru. Rapat triwulanan adalah rapat dengan seluruh karyawan kantor dan akan dihadiri oleh top management. Sebenarnya acaranya hanya rapat membahas kinerja dan rencana ke depan tapi entah sejak kapan acara ini jadi ajang antar unit untuk menunjukkan kemampuan dalam mengelola acara. Selama ini aku memang menikmatinya tapi aku tidak sanggup melewati semua keribetan persiapan yang akan memakan waktu paling tidak sebulan.

Heechul hyung juga tampaknya tidak suka mendapat tugas ini. Jujur saja, jika kami sibuk mengurus acara rapat maka pekerjaan kami akan sedikit berantakan dan itu artinya kami akan kehilangan pencapaian-pencapaian target kami. “Suruh saja anak-anak baru itu. Kita tahu beres saja pokoknya,” katanya.

Aku menengok sekelompok anak baru di ruangan. Aku merasakan jantungku sedikit sakit saat melihat Hyejin tapi aku berusaha untuk menyingkirkannya sebentar. Aku harus membedakan masalah pribadi dengan masalah kantor. Aku pun beranjak berdiri untuk menemui Hyejin dan teman-temannya. “Kita rapat 5 menit lagi. Siapkan ide-ide cemerlang kalian,” kataku kepada 10 pegawai baru yang dengan segera menuruti perintahku. Aku mencuri pandang kepada Hyejin dan ia masih tidak mau melihatku. Aku beralih pada Hyemi. “Hyemi-ssi, ikut aku.”

Aku masuk ke ruang rapat. Hyemi dan sepuluh pengawai baru sudah siap dengan alat-alat tulis mereka. “Kita akan menjadi panitia untuk acara rapat triwulanan bulan depan. Aku minta ide-ide cemerlang kalian paling lama jam 5 sore nanti. Hyemi akan membantu menjelaskan kepada kalian apa itu rapat triwulanan dan betapa pentingnya acara itu untuk unit bisnis kita.”

Pegawai-pegawai baru itu menatapku dengan bingung, kecuali Hyejin, meminta penjelasan lebih rinci atas apa yang aku suruh kepada mereka tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku terlalu sibuk untuk menjelaskan bagaimana rapat triwulanan itu. Heechul hyung sudah meneriakiku melalui LINE messengernya.

CEO ingin bertemu membicarakan proyekmu! Cepat!! 1 menit!

Aku segera berlari mengambil dokumenku di meja dan melesat menuju ruang rapat CEO di lantai 3. Aku memasuki ruangan itu dan melihat Heechul hyung sudah berbasa-basi dengan CEO dan klien kami. “Maaf, aku terlambat,” ujarku.

CEO itu menepuk-nepuk punggungku dengan santai. “Gwencana. Gwencana. Aah Kyuhyun-ssi, kenapa kau tidak bilang calon klien kita ini tuan Song? Aku jadi tidak enak padanya.” Kata CEO-ku sedikit membuatku tersedak.

“Tuan Song?” Gumamku dalam hati. Aku mempertajam penglihatananku dan betapa terkejutnya aku bahwa pemegang saham terbesar klien-ku itu tuan Song, ayah Victoria. “Annyeonghaseyo, Tuan Song. Apa kabar?” Sapaku dengan tenang meskipun dalam pikiranku sudah muncul hal-hal mengerikan untuk proyek ini.

Tuan Song tersenyum. “Hai, Kyuhyun-ssi. Apa kabar? Lama tidak bertemu.” Sahutnya.

“Kau kenal dengan tuan Song, Kyuhyun-ssi? Haiish, kenapa tidak bilang dari dulu,” kata CEO-ku lalu memuji tuan Song habis-habisan agar terbujuk dengan rayuannya. Sedangkan aku dan Heechul hyung menyiapkan rapat proyek ini.

“Kenapa kau tidak bilang klien kita itu tuan Song, hyung?” Ujarku setengah kesal setengah marah.

“Memangnya kenapa dengan tuan Song? Kau sendiri tidak bilang kau kenal tuan Song. Tahu begitu kita bisa mendekatinya lebih cepat, Kyuhyun-ssi.”

“Hyung…” Aku mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya. “Tuan Song itu ayah Victoria.”

“Mwooo?!” Heechul hyung menjerit kaget sampai-sampai tuan Song dan CEO yang sedang mengobrol, menoleh kepada kami.

“Apa sudah siap?” Tanya CEO.

Tuan Song tersenyum. “Santai saja. Aku yakin kalian bisa melakukan yang terbaik untuk proyekku ini. Aku datang hanya ingin menjaga hubungan baik saja. Tidak usah terburu-buru, tuan Kim,” ujar tuan Song kepada CEO kami. Mereka berdua kembali tertawa. Aku dan Heechul hyung menatap satu sama lain.

“Tidak buru-buru? Santai saja? Yaaaaa! Pegawaimu itu menelepon hampir tiap jam sehari dan kau bilang tidak buru-buru? Santai saja?” Umpat Heechul hyung dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri dan orang yang berdempetan dengannya, untung hanya aku.

Tuan Song telah selesai bicara dengan CEO Kim. Ia berpamitan pulang tapi sempat-sempatnya ia meninggalkan jejak di bahuku. Ia meremas bahuku dengan keras sampai aku ingin menjerit kesakitan tapi wajahnya tertawa dan menunjukkan basa-basi yang biasa ditampilkan manajemen-manajemen. “Aku yakin tuan Cho bisa menolongku. Iya kan, tuan Cho?” Ujarnya kemudian tertawa lagi. “Aku tidak tahu harus berbuat apa kalau proyekku ini gagal. Tolong bantu aku ya, CEO Kim, tuan Kim dan tuan Cho.”

Aku meremas pinggiran celanaku untuk menyalurkan rasa sakitku. Rasa sakit di bahuku dan di kepalaku. Tuan Song telah memojokkanku, ia menyerangku tanpa memiliki perlawanan.

“Aku minta proyek tuan Song sudah selesai paling lambat lusa,” kata CEO Kim sambil menandatangani lembar persetujuan usulanku.

Bukannya semakin jauh, aku malah semakin dekat dengan keluarganya. Aku tidak bisa menarik mundur diriku. Kalau aku mundur, otomatis proyek ini gagal dan tuan Song akan angkat kaki dari perusahaan kami. Itu artinya perusahaan kami akan masuk daftar hitam di kalangan konglomerat-konglomerat se Asia Timur dan aku akan masuk daftar hitam sebagai pegawai yang tidak akan dipakai di perusahaan manapun. Tapi jika tuan Song berhasil menginvasiku sampai ke pekerjaanku itu artinya aku semakin tidak bisa melepaskan diriku dari Victoria. Beritahukan padaku hal apa yang lebih sial daripada terikat pada hal yang tidak kau sukai.

-to be continued-