Annyeong yeorobun! Hehehe long time no see ya. Thanks banget ya buat semua comment-comment yang ditinggalkan di tiap postingan ff di website ini. Maaf banget kalau misalnya ga bisa balas satu per satu. Tapi, kita baca semua commentnya kok dan seneng banget nrima kritik dan saran dari chingudeul. And yeah, I’m back with new fanfiction. Hope you like it ya hehe.

 

Cast: Shim Johee, Choi Siwon, Lee Donghae, Kang Hamun

 

*****

Banyak orang yang bilang pada gadis ini kalau cinta itu datangnya tiba-tiba. Tanpa tanda atau peringatan, sampai-sampai banyak yang tak sadar kalau ia telah merasakannya. Sebelumnya, ia tak pernah percaya apa yang orang-orang itu katakan, hingga akhirnya dua bulan yang lalu ia pindah ke sekolah ini. Prosesnya terasa sangat cepat, ia pun tak mengerti mengapa harus pria itu. Akan tetapi, ia akhirnya sadar itu cinta saat matanya terus mencari keberadaannya, saat senyumnya mengembang bila pria itu bahagia, saat suaranya saja bisa membuat jantung gadis ini berdebar. Seakan cinta yang memilih pria itu untuk ia cintai, walapun tidak semua kisah berjalan sesuai harapan.

*****

“Hamun ah, menurutmu apa yang harus aku lakukan?” tanya gadis ini pada teman sebangkunya yang masih rajin menyalin tulisan di papan tulis.

“Apanya?” tanya Hamun tak mengerti tanpa mengalihkan perhatiannya.

“Aku suka Siwon. Aku harus bagaimana? Aku ingin dia tahu perasaanku,” ujarnya jujur pada perasaannya sendiri.

Hamun menghentikan tangannya. Ia menatap gadis itu lembut dan tersenyum padanya. “Johee, kau sepupuku yang paling baik, hebat, dan bijak. Aku yakin sebenarnya kau sudah memikirkan apa yang harus kau lakukan. Aku mendukung semua keputusanmu. Ingat itu saat kau mulai ragu,” kata Hamun.

Johee tersenyum bahagia mendengar hal itu. Ia memeluk Hamun erat tanpa peduli jika gurunya melihat mereka atau tidak. “Tolong aku ya, Hamun. Kalian berdua bersahabat, kan?” bisik Johee. Hamun membalas pelukan itu dan mengangguk sebagai jawaban. “Akan kubantu semampuku, ya,” balas Hamun.

*****

“Kau yakin ingin menyatakan perasaanmu padanya secara langsung?” tanya Hamun tak percaya dengan keputusan Johee. Johee menjawab dengan anggukan pasti. “Yakin. Aku bahkan sudah mengajaknya bertemu sekarang. Dia menunggu di halaman belakang sekolah, Hamun,” katanya.

Langkah Hamun terhenti. “Kalau begitu, aku pulang duluan saja, ya,” ujarnya tapi Johee segera menahannya. “Kau tahu? Sebenarnya aku ini pengecut. Kalau kau tidak menemaniku, aku tidak yakin dapat mengatakannya dengan jelas pada Siwon nanti,” katanya yang akhirnya membuat Hamun menyerah.

“Itu dia,” ujar Johee saat melihat sosok pria itu sudah ada di tempat yang mereka sepakati. Ia tidak sendirian, melainkan bersama sahabatnya. Tapi yang menjadi masalah saat ini bukan itu, melainkan jantung Johee. “Aish, i thinks i’m going crazy,” Jantungnya sudah berdetak dengan abnormal. Ia menatap Hamun seakan mengharapkan dorongan dari sepupunya itu. Hamun tersenyum lalu menepuk punggung Johee untuk mendukungnya.

“Ha-hai, Siwon ssi,” sapa Johee.

“Hai, Johee,” sapa pria itu dengan lembut.

Johee menelan ludahnya lalu tanpa basa-basi terlebih dahulu, ia langsung mengeluarkan kalimat itu. “Saranghamnida, Siwon ssi. Apa kau mau menjadi pacarku?”

*****

“Saranghamnida, Siwon ssi. Apa kau mau menjadi pacarku?” tanya gadis itu pada Siwon. Pria yang sejak tadi berdiri di belakang Siwon terdiam melihat keberanian Johee itu. Akan tetapi, ia hanya bisa merasa iba pada gadis itu. Ia melihat Hamun yang berdiri di belakang gadis ini. Ia sudah dapat memprediksi apa jawaban yang akan Siwon lontarkan.

Ia melihat Hamun yang berdiri di belakang gadis ini. Matanya memandang manik mata Siwon. “Ah, kasihan sekali gadis ini. Cintanya ditolak karena Siwon mencintai…”

“Boleh saja,” jawab Siwon, bahkan sebelum sahabatnya menyelesaikan kalimat yang ia ucapakan dalam hati.

Johee tampak sangat bahagia. “Jeongmal? Jeongmal? Jeongmal?” tanyanya tak percaya pada Siwon. Pria itu menjawab dengan anggukan dan senyuman, walaupun sahabatnya tahu senyuman itu bukan senyum yang tulus. Johee segera memeluk Hamun dengan erat. Saat itulah, sahabat Siwon ini dapat melihat kesedihan di mata Hamun yang menatap lekat Siwon.

“Gamsahamnida, Siwon ssi. Maafkan aku, tapi aku mau merayakan hari bahagia ini dengan Hamun. Bolehkah?” tanya Johee. Siwon tertawa kecil dan berkata, “Tentu saja, Hamun sepupumu, kan?”

“Kenapa kau jahat sekali pada Johee? Apa kau tak lihat gadis itu benar-benar menyukaimu?” tanya sahabatnya itu setelah Johee dan Hamun pergi. “Apa yang kulakukan memangnya, Donghae?” tanya Siwon dingin.

“Kau tidak mencintainya. Kau mencintai Hamun, Siwon. Apa kau tak bisa membayangkan perasaan Johee apabila ia tahu hal ini?” tanya Donghae. Ia tak mengerti dengan keputusan yang Siwon ambil.

“Hamun yang minta. Aku lakukan ini agar Hamun bahagia,” balas Siwon.

Donghae menggaruk kepalanya frustrasi. “Yaa, kalian hanya meyakiti diri kalian sendiri. Kalau Johee tahu hal ini, ia akan jadi pihak yang paling tersakiti karena perbuatan kalian berdua ini!” serunya kesal.

“Kalau begitu, jangan sampai ia tahu,” ujar Siwon lalu meninggalkan Donghae yang masih berusaha mencerna semua kenyataan. Ia menarik nafas panjang dan memutuskan untuk tidak ikut campur masalah percintaan ketiga orang itu. “Semoga gadis itu tidak mengetahui hal ini,” harapnya, walaupun ia sendiri tahu bahwa kebohongan ini tak akan bertahan lama.

*****

“Donghae shi,” panggil seseorang dengan setengah suara. Butuh beberapa detik untuk Donghae menemukan sosok yang memanggilnya. Gadis itu bersembunyi di balik rak lemari sepatu dan mengisyaratkan Donghae untuk menghampirinya.

“Kenapa sembunyi-sembunyi?” tanya Donghae begitu tiba di hadapan gadis itu.

“Aku perlu bantuanmu, Donghae shi. Lagipula, kalau Siwon tahu nanti dia berpikir yang tidak-tidak tentang kita,” ujarnya.

Donghae menatap malas gadis ini. Ia tak pernah suka gadis polos macam Johee yang membuatnya mudah sekali ditipu oleh laki-laki, contohnya saja Choi Siwon. “Siwon juga tidak akan peduli meski kau sama laki-laki lain,” gumamnya.

“Kau bilang apa, Donghae shi?” tanya Johee tanpa menghapus senyum di wajahnya. Untung saja, Donghae hanya bergumam dan gadis itu tidak mendengarnya. Donghae menggelengkan kepala sebagai jawaban ‘tidak, aku tidak bilang apa-apa’.

“Lalu, kau butuh bantuan apa dariku?” tanyanya.

Johee mengacak isi tasnya mencari sesuatu. “Tada,” pamernya pada Donghae setelah ia menemukannya. Donghae menatap Johee bingung. Ditangannya hanyalah sebuah notes kecil. “Aku tak mengerti maksudmu,” ujar Donghae.

Johee membacakan tulisan yang ada di cover notes itu, “90 days to knows Siwon better,” ejanya.

“Lalu?” tanya Donghae tak pernah mengerti jalan pikiran gadis itu.

“Kau sahabat Siwon sejak SD, kan? Aku butuh bantuanmu agar aku lebih mengenal Siwon. Aku baru mengenalnya selama sebulan dan tidak bisa dibandingkan denganmu atau Hamun yang sudah lama mengenalnya. Aku tak bisa minta tolong Hamun karena aku sudah terlalu banyak merepotkannya. Harapanku tinggal dirimu. Jebal,” ujar gadis itu memohon sambil mengatup tangannya di depan wajahnya.

“Untungnya buat aku?” tanya Donghae yang berusaha mencari alasan buat menolak tawaran Johee. Dari lubuk hatinya yang terdalam, ia malas membantu gadis ini. Ia sangat tahu, seberapa besar usaha yang gadis ini lakukan, hal itu tak akan mengubah perasaan Siwon pada Hamun.

“Kau boleh minta apa saja dariku. Uang tabunganku kurasa cukup untuk membelikanmu jam tangan atau smartphone, atau laptop. Bagaimana?” tawar Johee.

Donghae tampak berpikir serius. Ia benar-benar malas, tapi melihat wajah Johee yang menyedihkan dan membayangkan kisah cintanya juga akan berakhir tragis, akhirnya ia berubah pikiran. “Baiklah, akan kubantu. Hanya 3 bulan,” ujarnya.

“Hore!” seru Johee sambil memeluk Donghae. “Jeongmal gomayo, Donghae shi. Kau pria yang sangat baik!” ujarnya lalu melepas pelukannya. “Bagaimana kalau kita mulai ‘project’ kita hari ini? Aku tunggu sepulang sekolah, ya!” ujar Johee lalu pergi begitu saja meninggalkan Donghae. Donghae bahkan belum sempat mengutarakan pendapatnya.

Donghae terdiam di tempatnya sambil menghela nafas panjang. “Semoga keputusanku benar,”

*****

“Jadi, apa yang mau kau ketahui?” tanya Donghae saat ia sudah bertemu dengan Johee di depan gerbang sekolahnya.

“Sekolahnya saat SD dan SMP!” jawab Johee penuh antusias.

“Siwon sekolah di Haegang Elementary School dan Cheonsa Junior High School,” jawab Donghae singkat.

Johee menggelengkan kepalanya. “Bukan itu. Aku ingin tahu apa kebiasaannya saat di kelas, siapa guru kesukaannya, siapa sahabat terdekatnya, siapa teman sebangkunya, apa olahraga kesukaannya, dan lain-lain,” jawab Johee.

Donghae menghela nafas panjang. “Jadi?”

“Take me there!”

“Where?”

“His elementary school and junior high school,” ujar Johee penuh semangat sambil memulai langkahnya lebih dulu. “Ppali juseyo, Donghae shi,” seru gadis itu yang membuat Donghae menggerutu kesal. “Tuhan, why me?!” serunya tapi ia tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti kemauan Johee.

*****

“Jadi, guru kesukaannya adalah Park Jungso seonsaengnim, sahabatnya adalah Lee Donghae dan Park Hamun, teman sebangkunya adalah Park Hamun, dan olahraga kesukaannya adalah sepak bola dan baseball. Ah~, jadi Hamun sangat dekat dengan Siwon rupanya. Arraseo, arraseo. Kalau klub bola dan baseball kesukaannya?” tanya Johee setelah ia mencatat semua info yang ia dapatkan. Mereka sudah selesai melakukan riset di sekolah Siwon yang dulu, kini Johee dan Donghae dalam perjalanan menuju halte terdekat.

“Manchester dan Tigers,” jawab Donghae. Tak lupa Johee kembali mencatat info yang baru ia dapatkan. “Ah, itu Siwon,” ujar Donghae saat melihat sosok Siwon tak jauh dari mereka. Donghae hendak menghampiri Siwon tapi Johee menahannya. “Waeyo?” tanya Donghae kesal.

“Ah, mianhe tapi aku belum bilang padanya kalau aku pergi denganmu. Aku hanya ingin menjaga perasaannya. Pasti ia sedih kalau tahu pacarnya pergi dengan orang lain tanpa memberitahukannya. A-aku juga tak mau sebenarnya seperti ini, tapi ini rahasia,” ujar Johee dengan tampang bersalah pada Donghae.

Donghae menghela nafas panjang. ‘Hei, apa kau tak sadar kalau ia tak akan pernah berusaha menjaga perasaanmu sampai seperti ini?’ itulah yang ada dihatinya saat ini. Ia sangat ingin menyampaikan hal itu tapi ia sadar bahwa ia tak ada sangkut-pautnya dalam hubungan percintaan mereka.

“Baiklah,” hanya itulah kata yang akhirnya keluar dari mulut Donghae. Johee tersenyum pada gadis itu lalu kembali pada catatatnnya. “Jadi, Choi Siwon tinggal di apartemen itu?” tanya Johee saat melihat Siwon masuk ke salah satu Apartemen di Gangnam.

Donghae mengangguk. “Ne, Lantai 20 kamar nomor 7,” ujarnya.

“Jeongmal gomawoyo, Lee Donghae,” ujar Johee setelah ia menyimpan catatan krusial itu ke dalam tasnya. “Kau pasti mau mampir ke tempat Siwon, ya? Kalau gitu, aku pulang duluan ya. Tenang saja, aku bisa sendiri,” ujarnya lalu pergi begitu saja. Donghae bahkan tidak sempat menjawab pertanyaannya tadi. Ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukan waktu pukul 9 malam. ‘Apa ia akan baik-baik saja?’ tanyanya dalam hati.

*****

“Hai, aku tadi melihatmu masuk ke apartemen jadi aku sekalian mampir,” kata Donghae setelah Siwon membukakan pintu untuknya. Donghae langsung masuk begitu saja lalu menempati sofa di ruangan tamu itu.

“Kau sedang apa di daerah sini? Seingatku kau belum pindah rumah ke daerah sini,” kata Siwon setengah bercanda. Ia masih sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malamnya.

Donghae terdiam sesaat, memikirkan alasan yang sekiranya rasional untuk diterima Siwon. Ia tak mungkin bilang kalau dirinya baru saja menemani Johee untuk melakukan projectnya. Dia sudah lebih dulu berjanji pada Johee untuk merahasiakan semuanya ini. “Aku hanya bosan di rumah lalu tadi jalan-jalan ke mall sekitar sini. Kau sendiri darimana?” tanyanya balik. “Ah, aku pinjam smartphonemu ya, untuk main,” lanjut Donghae saat melihat smartphone milik Siwon yang tergeletak di meja tamu.

Siwon terdiam sesaat. “Tak ada urusan khusus,” jawabnya.

Donghae hanya mengangguk-angguk mendengar jawaban itu. Saat ia mengeksplore smartphone milik Siwon, tanpa sengaja ia membuka Inbox Messages Siwon.

“Siwon, hari ini kita pulang bersama gimana?” – Johee

“Aku tidak bisa, maaf,” –Siwon

“Gwencana, Siwon. Kalau besok? Atau lusa? ^^” –Johee

“Mianhe, aku tidak bisa. Aku sangat sibuk minggu ini,” –Siwon

“Ah, mianhe Siwon shi. Apa jangan-jangan aku menganggumu saat ini? Jeongmal mianhe. Hwaiting!” –Johee

Donghae terdiam. Otaknya berpikir setelah membaca hal itu. ‘Jadi, ia mengajakku pergi hari ini karena Siwon tak bisa pulang bersamanya? Tapi, bukannya Siwon tak sesibuk itu ya? Apa yang ia lakukan?’ Rasa penasaran membuatnya membukan thread messages yang berasal dari Hamun. Entah kenapa Donghae merasa semua keganjilan ini terjadi karena gadis itu.

“Kau sudah sampai apartemen? Terima kasih kau sudah mengantarku tadi,”-Hamun

“Aku sudah sampai. Terima kasih kau sudah mengijinkan aku untuk mengantarmu. Aku sangat senang hari ini. Aku kira, setelah aku berpacaran dengan Johee kau akan menjauhiku. Kita masih bisa seperti dulu, kan? Aku mohon. I’m still in love with you and this feeling will never gonna change. Aku sudah cukup menderita dengan menerima Johee sebagai pacarku. Jangan sakiti aku lebih dari ini,” –Siwon

“Mianhe, gara-gara permintaanku kau jadi seperti ini. Jeongmal mianhe. Aku tak akan membuatmu menderita lebih dari ini. Apa yang bisa kulakukan untuk mengurangi rasa sakitmu?” –Hamun

“Besok, lusa, dan seterusnya, kita pulang bersama lagi. Bagaimana?”-Siwon

“Arraseo,”-Hamun

“Kau pergi dengan Hamun tadi?” tanya Donghae.

“Ya,” katanya. Siwon yang sedang makan menjawab hal itu dengan santai. Seakan ia tak peduli kebohongannya terbongkar oleh sahabatnya itu.

“Dan kau mengatakan pada Johee kalau kau sibuk?” tanya Donghae setengah emosi.

“Ya,” jawabnya lagi.

Donghae menghampiri Siwon dan duduk di depan pria itu. “Why you do something like this? Johee is deeply in love with you. She is love you like she can give you everthing she had, she can do all the things for you, she is…”

“Just shut up if you don’t know anything,” balas Siwon.

“Then, tell me,”

Siwon terdiam sesaat lalu cerita itu mengalir begitu saja. “Ayah Johee ingin anaknya bahagia. Ia meminta keluarga Hamun menjaga Johee setelah ia meninggal. Mereka memiliki perjanjian bahwa setelah Johee berumur 19 tahun, kekayaannya akan turun ke Johee dan keluarga Hamun akan mendapat 35%nya. Hamun merasa perjanjian itu membuatnya dan orang tuanya terlihat sangat jahat. Tapi, keluarganya tidak seberuntung Johee dan mereka memerlukan uang itu untuk masa depan Hamun. Sampai saat itu tiba, Hamun ingin membuat Johee bahagia. Karena itulah ia memintaku untuk menjadi pacar Johee selama setahun nanti,”

“Jadi, semua ini hanya karena uang?” tanya Donghae sekali lagi menyimpulkan cerita Siwon.

“Ya. Tapi aku melakukan ini karena aku mencintai Hamun dan gadis itu tulus menyayangi Johee sebagai saudaranya,” ujar Siwon.

*****

“Hai, Donghae shi. Ini buatmu,” ujar Johee pada Donghae yang baru saja masuk ke gerbang sekolah. “Ini aku buatkan sarapan, tanda terima kasih untuk kemarin,” lanjutnya setelah melihat tampang kebingungan Donghae.

“Terima kasih,” balas Donghae. Mereka berjalan masuk bersama dalam keheningan. Entahlah, setelah mendengar semua cerita Siwon, Donghae makin kasihan pada gadis itu. Ia bahkan menyesal sempat membencinya karena ia terlalu polos.

“Apa kau sudah mengajak Siwon kencan?” tanya Donghae asal. Johee mengangguk sambil tersenyum sedih. “Tapi dia sibuk, jadinya tidak bisa,” jawab Johee.

Donghae merasa iba melihatnya. Ia punya ide tapi hal ini akan menyakiti Johee. ‘Asal Siwon dan Hamun dapat berakting dengan baik, aku rasa Johee tak akan tahu’ katanya dalam hati. “Coba saja ajak Hamun juga, mungkin Siwon tak akan enak menolak karena ada sahabatnya,” ujar

“Ah, ide bagus! Kau juga ikut ya, Donghae shi! Aku bilang dulu pada Hamun. Sepertinya ia sudah di kelas. Bye, Donghae shi,” kata Johee yang secepat kilat sudah menghilang dari pandangan Donghae.

“Semoga ini membantunya,” gumam Donghae.

*****

“Siwon shi, ini lucu. Ada yang edisi couple,” seru Johee saat melihat sebuah strap handphone yang manis. “Kau suka?” tanya Johee.

“Ya, ini lucu,” jawab Siwon seadanya lalu meninggalkan Johee untuk berkeliling. Donghae melihat Siwon berjalan mendekati Hamun. ‘Geez, pria itu. Apa dia tidak takut Johee menyadari kalau dia mencintai Hamun?’ gumamnya kesal.

“Johee shi,” panggil Donghae. Ia tak ingin Johee melihat kedua sahabatnya itu. “Donghae shi, gomawoyo, ide darimu berhasil,” bisik Johee dengan wajah gembira. “Aku belikan kau strap handphone sebagai gantinya. Kau mau yang mana?” tanya Johee sambil sibuk memilihkan model yang menurutnya pas untuk Donghae.

“Ya, ya, ya, aku tak pakai strap handphone. That’s too girly. Aku mau yang lain,” ujar Donghae sambil menarik Johee menjauhi Hamun dan Siwon. ‘Semoga dia tidak sadar,’ katanya dalam hati.

Langit sudah gelap setelah mereka keluar dari mall. “Aku antar kamu ya,” ujar Siwon pada Hamun. Donghae melihat wajah Johee yang sekilas menjadi sedih. Gadis itu baru saja hendak mengajak Siwon pulang bersamanya. Mulutnya sudah terbuka tapi suaranya masih tertahan dikerongkongannya.

“Kenapa kau tak pulang dengan Johee saja?” tanya Donghae sedikit kesal dengan tingkah Siwon. “Aku saja yang mengantar Hamun,” lanjutnya.

“Tapi rumahmu berlawanan arah dengan Hamun, kan? Kau antar Johee saja. Tidak apa kan, Johee shi?” tanya Siwon.

“Tapi,” suara Siwon terhenti bertepatan dengan tangan Johee yang menahannya. “Arraseo, tak masalah kok. Jaga sepupuku baik-baik ya. Bye, Hamun. Bye, Siwon ah! Kalian pergi lebih dulu saja biar aku tenang,” ujar Johee dengan suaranya yang riang. Donghae terdiam di tempatnya sambil terus menatap lekat gadis itu. Ia melambaikan tangannya dengan semangat pada Siwon dan Hamun.

“Kajja, kita pulang,” ujar Johee. “Kau yakin tak masalah?” tanya Donghae.

“Mereka? Tentu saja tidak. Mereka sangat menyayangiku jadi mereka tidak mungkin melakukan hal yang tidak-tidak dibelakangku,” kata Johee penuh keyakinan.

Donghae menatap lekat gadis itu. Hatinya sakit membayangkan bagaimana perasaan Johee jika ia tahu hal yang sesungguhnya. Ia tak bisa menggambarkan sesakit apa perasaan Johee nantinya. ‘They’re not even think about your heart,’ kata Donghae dalam hati.

“Donghae shi, waeyo?” tanya Johee menyadarkan Donghae yang tampak melamun. “Aniya. Kajja,” dalihnya. Sepanjang jalan hanya diisi dengan keheningan. Donghae mencuri pandang gadis itu dan mendapati wajahnya yang sedih. Baru kali ini ia melihat Johee seperti itu. Ia tahu, pasti sebenarnya gadis itu khawatir. Pikirannya pasti sedang memikirkan hal yang tidak-tidak namun hatinya memaksanya untuk tetap percaya pada mereka.

Donghae mencoba untuk menghiburnya tapi tiba-tiba gadis itu berkata. “Sepertinya, akan turun hujan. Kau bawa payung?” tanya Johee. Belum sempat Donghae menjawab, hujan langsung turun dengan lebat.

“Kajja, rumahku sudah tidak jauh lagi,” ujar Donghae sambil menggandeng tangan Johee menuju rumah Donghae.

*****

“Johee, bagaimana? Apa baju tidurku cukup?” tanya gadis yang lebih tua darinya begitu Johee keluar dari salah satu kamar di rumah itu.

“Sedikit kebesaran tapi sangat nyaman, onnie. Jeongmal gamsahamnida,” jawab Johee sambil membungkukkan badannya.

“Aigu, baik sekali kamu. Jangan terlalu formal, santai saja. Ayo, duduk disini Johee,” ujar seorang ibu paruh baya sambil menuntun Johee untuk duduk disalah satu kursi di ruang makan itu.

“Gamsahamnida, ajjuma,” jawab Johee penuh rasa terima kasih.

“Makan yang banyak ya, Johee,” ujar pria paruh baya di depan Johee. Ia bahkan sudah mengambilkan nasi di mangkuk Johee.

“Appa, Johee sudah makan tadi,” jawab Donghae yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan baju rumahnya.

Johee menatap Donghae galak, seakan Donghae baru saja mengatakan hal yang salah. “Ah, tak apa-apa, ajjushi. Perutku masih sanggup buat menampung semua ini. Gamsahamnida,” jawab Johee. “Onnie, duduklah. Makan dulu saja onnie, nanti biar aku bantu onnie membereskan semua ini,” katanya.

Donghae duduk di sebelah Johee dan memperhatikan keluarganya yang berkumpul di meja makan itu. Ia tahu kalau sedari dulu keluarganya sangat hangat, tapi kali ini mereka tampak bahagia dengan kedatangan Johee. “Donghae shi, coba ini. Nomu mashita,” ujar Johee sambil meletakkan sayuran di mangkuk Donghae.

Donghae tertawa kecil. “Yaa, sudah sejak kecil aku makan sayuran ini. Tentu saja rasanya enak, Johee shi. Noonaku yang memasaknya,” jawab Donghae yang disambut tawa oleh semua anggota keluarganya.

*****

“Aku kekenyangan,” ujar Johee setelah ia duduk di ruang televisi bersama Donghae.

“Kau terlalu memaksakan diri,” balas Donghae.

Johee tersenyum. “Mereka akan merasa bahagia kalau aku makan, karena itulah aku kesal saat kau bilang aku sudah makan sebelumnya,” balas Johee.

“Ah, mianhe, gara-gara orang tuaku dan noonaku kau jadi tidak kembali ke apartemenmu,” ujar Donghae. Saat Johee mau pulang tadi, keluarga Donghae menahannya dan bersikeras menyuruh Johee untuk menginap di rumah itu.

“Aniya, aku justru sangat senang. Aku sudah lama tidak merasakan suasana seperti ini,” balas Johee. Donghae memandang gadis yang duduk di sebelahnya itu. Ia menyadari bahwa gadis ini sangat malang. “Hey, apa ada pertandingan bola malam ini? Kita tonton itu saja dan jelaskan padaku semua peraturan permainannya. Remember? Siwon’s project, 90 days to knows Siwon better,” kata Johee.

“Arraseo, kau harus dengar baik-baik dan jangan suruh aku untuk mengulang penjelasanku,” jawab Donghae setengah bercanda.

Donghae menjelaskan dengan detail segala sesuatu yang Johee perlu tahu tentang bola. Ia berharap dengan ini Johee bisa menjadi lebih dekat dengan Siwon. Tetapi, kalimatnya terhenti saat ia merasakan ada sesuatu yang menyentuh pundaknya. Donghae mendapati kepala gadis itu sudah tersandar di bahunya. ‘Geez, sejak kapan dia tidur?’ gumam Donghae. Anehnya ia tak merasa kesal sama sekali. Senyumnya mengembang melihat gadis itu tertidur nyenyak di pundaknya.

Donghae mengecilkan suara televisi itu dan melanjutkan aktivitasnya. Ia tak ingin membangunkan Johee dari tidurnya sampai akhirnya ia pun tertidur di ruang televisi itu.

*****

“Kapan-kapan main kesini lagi, ya, Johee shi,” ujar Ibunya Donghae. “Aku akan mengajarimu memasak,” sahut noonanya Donghae. “Tolong awasi Donghae kalau ia di sekolah. Oke?” ujar ayahya Donghae.

“Siap, ajjuma, ajjushi, onnie. Aku pasti sering main kesini,” jawab Johee sambil berpamitan pada mereka semua. Donghae dan Johee berjalan bersama menuju sekolah mereka. Noona Donghae semalaman sudah mencuci dan mengeringkan baju seragam Johee.

“Apa keluargamu selalu begitu?” tanya Johee dalam perjalanan mereka.

Donghae menggeleng. “Tidak selalu. Mereka menyukaimu,” jawab Donghae.

“Jeongmal?” tanya Johee tak percaya. Donghae tersenyum sekilas dan mengangguk sebagai jawaban.

“Ah, senangnya. Apa kau juga menyukaiku?” tanya Johee yang membuat langkah Donghae terhenti. “A-aniya, maksudku sebagai teman,” lanjut Johee setelah mendapati wajah Donghae yang tampak kaget.

“Ne,” balasnya singkat yang membuat Johee senang setengah mati. “Kenapa kau senang?” tanya Donghae bingung.

“Karena sejak awal kau tampak tak bersahabat dan sepertinya kau membenciku karena alasan tertentu,” jawab Johee yang membuat Donghae kaget. “Bagaimana kau tahu?” tanya Donghae.

“Feelingku cukup kuat,” jawab Johee sedikit pamer.

“Kau tak penasaran kenapa aku membencimu dulu?” tanya Donghae.

“Ani. Yang penting sekarang kau menerimaku sebagai temanmu,” balas Johee yang disambut dengan senyuman oleh keduanya.

*****

“Siwon shi,” panggil Johee yang melihat Siwon di depan gerbang sekolah. Ia berlari menghampiri pria itu. “Bagaimana kalian bisa berangkat bersama?” tanya Siwon yang melihat Donghae berjalan menyusul Johee.

“Aku menginap di rumah Donghae kemarin. Apa kau tahu? Keluarga Donghae sangat baik,” cerita Johee.

“Keluargaku yang memaksa, bukan kemauan Johee. Tenang saja,” jelas Donghae begitu tiba di samping Johee.

Siwon tersenyum mendengar perkataan Donghae. “Tentu saja, aku tak akan khawatir jika Johee bersamamu. Kau sahabatku,” balas Siwon.

“Kalau kau benar-benar mencintai Johee, setidaknya kau pasti khawatir jika semalam Johee bersamaku,” sindir Donghae. Siwon dapat merasakan amarah Donghae dari tatapannya. Donghae sendiri tak paham dengan dirinya. Kalimat itu keluar begitu saja mengingat kalau Siwon sudah melukai hati Johee.

“What’s your ploblem, Donghae ah?” tanya Siwon kesal. Donghae nyaris mengacaukan semuanya.

“Kalau kau tidak seperti itu, kau tak perlu tersinggung, kan?” balas Donghae seadanya. “Aku ke kelas duluan,” ujarnya. “Aku juga,” sahut Siwon meninggalkan Johee begitu saja.

Johee terdiam di tempatnya. Merenungkan apa yang Donghae katakan tadi. Semuanya terasa benar, tapi ia tak mau percaya. Yang ingin ia yakini adalah Siwon mencintainya. Tak sengaja ia melihat tas milik Siwon. Ia melihat gantungan strap handphone couple yang Johee suka tergantung di resleting tas Siwon. ‘Dia membelikan itu untukku? Ah, mungkin dia akan memberikan padaku nanti,’ katanya dalam hati. Hal ini membuat kegundahan Johee hilang dan merasa sangat bahagia.

*****

“Hamun ah, aku boleh minta isi pensil? Tempat pensilku ketinggalan,” ujar Johee pada Hamun. Hamun mengangguk. “Boleh, ambil saja di tasku. Aku ke kamar mandi dulu,” balas Hamun. Saat itu memang jam pelajaran belum dimulai.

Johee mencari isi pensil itu diseluruh bagian tas Hamun. Tanpa sengaja, disalah satu kantung ia menemukan sesuatu yang tidak ia harapkan. Strap handphone couple yang disukai Johee dan telah dimiliki Siwon. Akan tetapi, kenapa pasangannya ada di Hamun?

Jantung Johee berdetak kencang. Pikiran-pikiran buruknya muncul kembali di memorinya. Ketakutan yang ia tahan seakan menjadi kenyataan. ‘Jadi, Siwon dan Hamun saling menyukai? Lalu mengapa ia menerimakku? Mengapa Hamun mendukungku?’ tanyanya dalam hati. Sayangnya tak seorangpun dapat menjawab dan tak ada yang bisa mendeskripsikan rasa sakit yang Johee rasakan saat ini.

*****

Sebulan lebih telah berlalu. Johee masih tampak semangat untuk melakukan project itu tapi Siwon makin tidak mempedulikan gadis ini. Saat Johee mengajaknya pulang bersama, ia tak pernah mau. Ia hanya pergi dengan Johee apabila Hamun dan Donghae ikut. Saat Johee mengajaknya bicara, ia hanya menjawab dengan seadanya bahkan tidak meresponnya. Semua hal itu Donghae perhatikan dan ia sudah tak tahan melihat Johee diperlakukan seperti itu.

Hari ini festival bazar di sekolah mereka diadakan. Semuanya terlihat sangat menikmati suasana itu, termasuk Johee dan Donghae. “Donghae ah, menurutmu ini akan terlihat bagus di Siwon? Ini warna kesukaannya,” tanya Johee sambil menunjuk sebuah topi di salah satu stand. Ia mencoba topi itu dan bertingkah dengan hiphop style. “Bagaimana? Apa aku keren?” tanya Johee lagi.

Donghae tertawa kecil melihat tingkah gadis itu. Ia melepas topi itu dari kepala Johee. “Dia akan menyukainya,” jawab Donghae. “Assa, kita beli ini! Kau mau yang mana, Donghae ah?” tanya Johee pada Donghae.

Donghae menatap Johee kesal. “Yaa, kau terlalu sering membelikan sesuatu untuk orang lain. Kalau kau seperti ini terus, kau akan dimanfaatkan orang lain!” omel Donghae. “Lalu aku harus bagaimana? Kau sudah terlalu banyak membantuku,” balas Johee.

“Tidak semuanya dapat diganti dengan uang. Aku sudah senang dengan menjadi temanmu,” balas Donghae. Johee tersenyum tulus pada pria itu. “Gomawo, kau pria yang sangat baik,” puji Johee. “Kajja, kita jalan ke tempat lain,” ajak Donghae.

Mereka menghabiskan waktu berdua sedari tadi karena Johee sama sekali tak melihat Siwon atau Hamun. Ia sudah menghubungi keduanya namun tidak ada yang membalas. Yang Johee tahu, mereka memiliki tugas yang cukup berat sebagai salah satu panitia penyelenggara festival ini. Johee dan Donghae melakukan banyak hal sebagai tanda pertemanan mereka. Salah satunya photo box.

“Ya, ya, ya, lihat ini. Kenapa tak ada senyum di wajahmu?” protes Johee sembari melihat hasil foto tadi. Langkahnya tertinggal di belakang Donghae karena Johee masih sangat antusias melihat cetakan foto itu. “Kau saja yang terlalu ekspresif,” balas Donghae.

“Tapi, ini lucu juga. Apa aku boleh menyimpan foto yang…” suara Johee terputus bertepatan dengan ia menabrak punggung Donghae. Donghae tiba-tiba saja berhenti di tempatnya. “Waeyo?” tanya Johee penasaran.

Donghae segera memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan Johee. “Tidak ada apa-apa. Kita lewat jalan lain saja,” jawab Donghae.

“Waeyo? Apa ada sesuatu? Kau tiba-tiba jadi aneh Donghae ah. Aku mau lihat,” paksa Johee sambil berusaha menerobos pertahanan Donghae. Ia berhasil, tapi apa yang ia lihat membuat sekujur tubuhnya mati suri. Siwon mencium Hamun.

Kakinya tiba-tiba hilang kekuatan. Ia terjatuh terduduk dan air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan. “Johee, gwencana? Sudah kubilang jangan lihat,” ujar Donghae lirih sambil menghapus air mata yang terus mengalir. “Why, Donghae ah? Why they do something like that?” tanya Johee pada Donghae tapi matanya tetap tertuju pada pasangan itu.

“Because they’re in love,” jawab Donghae yang membuat tangisan Johee menderas. Donghae menggendong Johee menjauh dari tempat itu. Ia membiarkan Johee menangis di dadanya. Hati Donghae seakan ikut tersakiti mendengar suara tangisan Johee. Ia tak menyangka bahwa kebohongan ini akan terbongkar dengan cara yang menyakitkan seperti ini.

“A-a-a-apa dari awal kau tahu te-tentang mereka?” tanya Johee ditengah isakannya. Donghae terdiam saat mendapati Johee menatap manik matanya. Saat itu juga rasa sesal muncul di dalam hatinya. Ia menyesal mengapa tidak dari awal ia mengatakan hal yang sebenarnya pada Johee. Tapi semuanya sudah terlambat dan Donghae hanya bisa menjawab dengan anggukan.

Johee menarik seragam Donghae. “Kau tahu? Tapi kenapa kau tak memberi tahuku? Kau tahu, tapi kenapa masih mau membantuku?” tanya Johee setengah histeris. Air matanya terus mengalir akibat rasa sakit yang ia rasakan. Ia memukul-mukul Donghae dengan tenaganya yang tersisa. “Kau jahat, Donghae ah. Kau jahat. Kau bilang kita teman,” ujar Johee.

Donghae menahan tangan Johee dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. “Mianhe, mianhe, mianhe, Johee. Mianhe,” hanya kata itu yang dapat ia ucapkan berulang kali.

*****

“Mianhe,” ujar Johee pada Donghae yang sedang menonton televisi di ruang keluarganya. Donghae memutuskan membawa Johee pulang ke rumahnya. Ia pikir, keluarganya akan menyembuhkan kesedihannya, walaupun sedikit.

“Untuk apa? Kau tidak melakukan apapun. Kau tidak tidur?” tanya Donghae. “Aku tidak mengantuk,” jawabnya. Johee duduk di sebelah Donghae.

Johee menghela nafas panjang. “Aku sudah tahu,” ujar Johee. Donghae menatap Johee bingung. “Aku tahu mereka punya hubungan lain di belakangku. Tapi, aku berusaha menyangkalnya. Aku pikir, sepupuku dan pacarku tak akan tega berbuat seperti itu padaku,” kata Johee.

Donghae tampak sangat terkejut mendengar hal itu, tapi ia berusaha tenang. “Apa yang kau lihat hari ini cukup untuk membuatmu percaya?” tanya Donghae yang Johee jawab dengan anggukan. “Lalu apa yang akan engkau lakukan setelah ini?”

“Aku ingin membuat Siwon mencintaiku,” jawab Johee.

“Kau gila,” balas Donghae tak menyangka jawaban Johee itu.

“Aku masih mencintainya, Donghae. Apa yang bisa kulakukan selain itu?” tanya Johee. Air matanya mulai mengalir lagi. Hatinya sakit namun ia tak bisa membohongi dirinya yang masih mencintai Siwon.

“Putuskan dia, buat dia menyesal. Sakiti dia. Balas dia. Kau punya banyak cara lain Johee! Kenapa kau memilih itu?” Donghae terlihat sangat kesal dengan keputusan Johee itu. Johee makin sedih melihat satu-satunya orang yang bisa ia percaya tidak mendukungnya. “Aku mohon, Donghae. Jangan persulit aku. Aku butuh dukunganmu,” ujar Johee lirih.

Wajah Johee yang menyedihkan membuat Donghae tak bisa berbuat apa-apa selain mendukungnya. Ia menarik Johee ke dalam pelukannya dan membiarkan ia menangis lagi. “Don’t blame me. You’re the one who make this so complicated,” balas Donghae setengah kesal. “That’s so me,” timpal Johee.

*****

Waktu berjalan begitu saja, tapi terasa lambat bagi Johee. Sampai saat ini ia masih terus berusaha agar Siwon mencintainya, akan tetapi apa yang ia dapatkan justru rasa sakit. Siwon tak pernah menganggapnya ada. Setelah semua pengorbanan yang Johee lakukan, Hamun tetap menjadi yang paling penting di kehidupan pria itu.

“Aku harus bagaimana lagi, Donghae ah?” tanya Johee ditengah isakannya.

“Menyerahlah,” jawab Donghae.

Johee menggeleng. “Aku tak bisa. Aku tak bisa melakukan hal itu,” balas Johee.

“Kalau kau sangat keras kepala, kenapa kau masih bertanya padaku?!” seru Donghae pada Johee. Donghae sudah mencapai puncak kesabarannya. Ia tak bisa melihat Johee tersakiti lebih dari ini. Donghae benci hal itu karena entah sejak kapan hatinya ikut tersakiti setiap melihat air mata Johee.

Johee terdiam di tempatnya. Air matanya menderas tapi isakannya tak keluar. Ia tak menyangka Donghae akan berkata sekeras itu padanya. “Donghae, why?” tanya Johee lirih tak mengerti mengapa Donghae tiba-tiba marah.

“After all this time, what are you expecting from me? Support you? I won’t. If you still want him, go on. Go. From this time, i don’t want to hear about him from you,” seru Donghae lalu meninggalkan Johee begitu saja. Johee terdiam di tempatnya. Ia menangis sampai ia rasa tenaganya sudah habis karena air matanya yang keluar terus-menerus. Hatinya sakit, sangat sakit. Terutama setelah Donghae meninggalkannya.

*****

Sebulan berlalu. Selama itulah Johee tidak pernah bertemu dengan Donghae dan selama itulah Johee terus berusaha. Hari ini malam natal dan ia ingin menghabiskan waktunya dengan Siwon.  “Siwon ah, apa yang akan kau lakukan selama liburan nanti?” tanya Johee disela-sela makan malam mereka.

“Nothing to do. Belajar, mungkin?” balas Siwon.

“Kau tak mau travelling? Atau yang lain mungkin?” tanya Johee lagi berusaha menjaga agar percakapan mereka terus berjalan.

“Tidak,” jawab Siwon singkat.

“Ah, bagaimana kalau kita piknik?” usul Johee.

Siwon menatap Johee malas. “Apa kita bisa bicarakan ini nanti? Kau membuat nafsu makanku hilang, Johee shi,” ujar Siwon dingin.

Hati Johee terasa sakit saat melihat mata Siwon menatapnya dingin. Hatinya sakit mendengar cara pria itu berbicara pada dirinya. Ia tak melihat ada cinta untuknya dari cara pria itu melihatnya atau berbicara padanya padahal ia sangat mencintai pria itu. Johee sedih karena ia tak melihat pria itu bahagia saat bersamanya. Ia tak bisa membahagiakan Siwon. “Apa yang harus aku lakukan agar kau bahagia?” tanya Johee lirih.

Siwon terdiam sesaat mendengar pertanyaan itu. Ia meletakkan sendok-garpunya dan menatap Johee tepat di manik mata gadis itu. Ia mendapati Johee menatapnya sambil tersenyum, senyum yang dipaksakan. Ia melihat air mata Johee sudah menggenang di kelopak matanya. “Tak ada,” jawab Siwon jujur. Ia tahu, bahwa tidak ada gunanya membohongi gadis ini. Gadis itu begitu mencintainya dan mengenalnya.

Air mata Johee mengalir begitu mendengar jawaban itu. Ia segera menghapus air matanya dan mencari sesuatu dari dalam tasnya. Ia mendapat apa yang ia cari tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia berharap ada orang lain yang akan menghentikan tindakan bodohnya ini. Ia menguatkan hati dan tekadnya. Ia meletakan benda itu di depan Siwon. “Mianhe, aku tidak membuatmu bahagia saat bersamaku,” kata Johee ditengah isakannya. Ia tak bisa lagi menahan air matanya. “Setidaknya, aku akan membuatmu bahagia, sekali saja,” lanjutnya.

Ia bangkit dari tempat duduknya dan mencium pipi Siwon. “Tunggu sebentar disini. Aku harus pergi duluan,” kata Johee lalu meninggalkan Siwon yang masih terdiam di tempatnya.

Johee keluar dari restaurant itu begitu saja. Tak peduli jika hujan yang turun sudah membasahi tubuhnya. Ia sengaja karena ia tak dapat menahan air matanya. Ia tak mau ada orang lain yang melihat tangisannya.

*****

Siwon membuka kotak yang Johee berikan tadi. Di dalamnya ada dua cincin yang jelas terukir nama Siwon dan Hamun. Selain itu, ada sebuah note kecil yang di depannya bertuliskan ‘90 days to knows Siwon better’. Ia membuka buku note itu dan mendapati bahwa Johee hanya menulisnya sampai hari ketiga dan yang ia tuliskan adalah ‘Siwon sayang pada Hamun lebih dari seorang sahabat’. Siwon segera menutup buku itu dan beralih pada selembar kertas putih yang Johee tinggalkan di dalamnya.

‘Hai, Siwon ah. Apa kau sudah merasa bahagia setelah membuka kotak ini? Semoga kau menemukan kebahagiaanmu dengan Hamun ya. Aku menyayangimu’ – Johee.

Siwon tak tahan lagi. Perasaan bersalah di hatinya membuncah dan mendorong air matanya untuk mengalir. Ia bahkan tak merespon saat Hamun datang dan berulang kali memanggil namanya. Hamun memeluk Siwon dan membiarkan Siwon menangis dalam dekapannya. “Aku jahat, Hamun. Aku jahat sekali. Ia tahu sejak awal tentang semua kebohonganku tapi ia mengorbankan semuanya untukku. Aku jahat, Hamun,” ujar Siwon.

Hamun hanya bisa menahan kesedihannya. “Aku yang jahat. Aku yang membuatmu seperti ini. Mianhe, Mianhe,”

Siwon menyesali semua perbuatannya. Ia menyesal membohongi Johee. Ia menyesal melukai hati gadis itu. Ia menyesal ia pernah membenci gadis itu. Ia menyesal tak pernah mencoba mengenalnya. Ia menyesal karena ia tak pernah menyangka bahwa Johee rela mengganti kebahagiannya demi pria macam dirinya.

*****

“Hai,” sapa Johee saat Donghae membuka pintu rumahnya. Donghae terkejut dengan kondisi orang yang ia lihat di hadapannya. Ia tahu kalau dirinya masih marah pada gadis ini tapi ia tak tega bila ia membiarkan gadis itu kedinginan di luar.

“Kau salah alamat. Ini bukan rumahmu,” kata Donghae.

“Aku tahu. Aku memang sengaja datang kesini,” balas Johee.

“Apa kau hobby main hujan?” tanya Donghae kesal.

“Apa kau selalu setega ini? Membiarkan seorang gadis yang baru saja kehujanan, kedinginan, dan kelaparan berdiri di depan rumahmu begitu saja? Tengah malam begini?” tanya Johee balik.

Donghae menghela nafas panjang. “Masuklah,” katanya dengan terpaksa.

“Mengapa kau kesini?” tanya Donghae setelah ia menutup pintu rumahnya. Johee terdiam sesaat. Pertanyaan Donghae membuatnya yakin bahwa Donghae masih marah padanya. Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Donghae dan langsung pergi ke kamar mandi. “Aku pinjam bajumu ya Donghae ah, tolong taruh depan pintu kamar mandi,” kata Johee. Begitu ia tiba kamar mandi, air matanya akhirnya mengalir. Ia sedih karena Donghae masih marah padanya tapi Johee sadar bahwa ia telah menyakiti hati sahabatnya itu.

Donghae yang sejak tadi berdiri di depan pintu kamar mandi mendengar isakan Johee. Sekeras apapun Johee menyembunyikan, Donghae tetap tahu. Hatinya sedih mendengar tangisan Johee tapi ia belum bisa memaafkan Johee sebelum Johee mendengar perkataannya dan berhenti menyakiti dirinya sendiri.

*****

Pagi harinya, Donghae berjalan ke ruang makan dan mendapati keluarganya sudah siap di meja makan. “Waw, waw, ada apa pagi-pagi seperti ini sudah ada banyak makanan enak di meja kita?” tanya Donghae penasaran.

“Merry Christmas,” ujar seorang gadis yang suaranya sangat Donghae kenal. Gadis itu berjalan membawa semangkuk sup dari dapur ke meja makan.

“Aigu, Joheeie, terima kasih sudah memasakkan semua ini untuk kami semua,” ujar omma Donghae sambil mengelus kepala Donghae. “Semoga kelak kamu jadi menantuku,” lanjutnya.

“She won’t,” jawab Donghae yang membuat semua mata menatapnya saat ini. “She won’t be your daughter in law omma, appa, or your sister in law noona. She love another man. She love that man like a fool. She love him too much so she doesn’t care if that man doesn’t love her back or maybe if that man has another girl. She’s totally a fool who hurt herself for a man that doesn’t even love her,” kata Donghae sambil menatap Johee dingin.

Donghae sadar perkataannya terlalu jahat dan ia juga bisa melihat air mata Johee sudah menumpuk di pelupuknya. Ia tak bisa menahan dirinya, ia terlalu kesal dengan sikap gadis ini. Seenaknya membuat hatinya luka dan seenaknya kembali untuk minta maaf. “Kau kira aku akan memaafkanmu dengan semua yang kau lakukan ini? Tidak. Aku juga tidak nafsu makan,” ujarnya lalu pergi begitu saja keluar dari rumah itu.

“Yaa, Lee Donghae! Jaga ucapanmu terhadap seorang gadis!” seru appa Donghae.

“Ah, gwencana ajushi. Semua yang dikatakan Donghae benar,” balas Johee. Ia melepas celemek dan sarung tangannya dan mengambil semua barangnya. Ia berpamitan pada keluarga itu dan pergi mengejar Donghae yang untungnya belum begitu jauh.

“Apalagi?” tanya Donghae dingin setelah melihat Johee berdiri di depannya.

Hati Johee sakit mendengar bagaimana Donghae berbicara padanya, seakan pria itu tidak mengharapkan kehadirannya. Air matanya yang mengalir segera ia hapus. Kini ia hanya memasang senyumnya untuk sahabatnya itu. “Aku tak akan minta maaf karena aku tak akan menyesal dengan keputusanku,” kata Johee tegas tanpa kehilangan senyumnya.

“Tapi, aku ingin engkau tahu kalau aku sangat bersyukur karena ada seorang Lee Donghae yang mau menjadi sahabat Shim Johee yang sangat bodoh ini. You’re already become a part of my life and i will never forget you,” kata Johee. Ia menjinjit dan memeluk Donghae. “Pulanglah, hari ini natal. Spend your time with your family, supaya suatu saat kau tak akan menyesal,” katanya.

Johee melepaskan pelukannya dan mengembangkan senyumnya untuk Donghae. “Annyeong, Donghae ah. Aku pergi dulu,” pamit Johee.

“Johee,” panggil Donghae, sayangnya Johee sudah terlalu jauh. Donghae ingin mengejar Johee sebelum punggung itu benar-benar hilang. Ia merasa ada sesuatu yang janggal dan perasaannya tidak enak. Seakan ia tak akan pernah bertemu dengan gadis itu lagi. Akan tetapi, ia tak melakukannya. Harga dirinya sebagai seorang pria ia pertahankan. Ia tak mengejar Johee dan menghapus semua pemikiran negatifnya. “Setelah ia menyerah pada Siwon, aku akan memaafkannya,” gumam Donghae.

*****

Dua bulan kemudian kemudia setelah libur berakhir, Donghae kembali bersekolah seperti dulu. Bertemu dengan Siwon, Hamun, dan Johee. Dua bulan ini ia tidak bertemu Johee sama sekali. Ia menghela nafas panjang, “Semoga Johee sudah mengubah pikirannya,” katanya pada dirinya sendiri. Jujur saja, ia tak suka lama-lama jauh dari gadis itu. Ia berharap bisa segera berdamai dengan Johee.

Saat ia sibuk dengan pemikirannya sendiri, tanpa sengaja ia melihat Siwon dan Hamun memasuki gerbang sekolah. Donghae tak percaya dengan apa yang ia lihat. “They  are totally mad. Mereka ke sekolah berdua, bergandeng tangan, like a couple? Apa mereka tak takut jika Johee tahu?” gumam Donghae. Ia segera menghampiri kedua pasangan itu dan menuntut penjelasan dari mereka.

“Apa kalian tidak memikirkan perasaan Johee jika ia melihat apa yang kalian lakukan sekarang?” tanya Donghae dengan emosi yang mulai memanas.

“Johee sudah tahu, Donghae ah,” jawab Hamun.

“Of course. She saw you when you had kissed with Siwon,” balas Donghae.

“Johee sudah memutuskan aku. Ia bahkan memintaku untuk bahagia dengan Hamun,” jawab Siwon.

“She did that? Really?” tanya Donghae. Kali ini emosinya berubah menjadi gembira. Akhirnya Johee melepaskan pria itu. Donghae segera berlari ke lokernya untuk mengambil buku-buku yang ia perlukan di kelas nanti. Ia tak sabar untuk segera menghampiri Johee dan mengatakan pada gadis itu kalau ia memaafkannya.

Saat Donghae membuka lokernya, ia menemukan sebuah kertas yang ditempelkan di bagian dalam pintu lokernya. ‘The time when you find this paper, i’ve already go to somewhere else. Sorry to say good bye like this. Annyeong^^’ – Johee.

Donghae tercekat dengan apa yang ia baca. Tubuhnya terasa kaku dan jantungnya berdebar sangat kencang. Ia melihat ada surat yang Johee tinggalkan di dalam lokernya. Ia mengambil surat itu dan pergi jauh dari orang lain. Ia pikir, mungkin dirinya akan dipenuhi rasa penyesalan setelah membaca surat itu. Ia mungkin akan menangis nanti dan ia tak mau ada orang lain yang melihatnya.

*****

“Hai, Donghae ah, mianhe aku mengecewakanmu lagi. Kau pasti mengira ini surat cinta dari penggemarmu ya? Hahaha, aniya. Ini dari Shim Johee.

Apa kau sudah tahu? Siwon dan Hamun sudah bersatu. Aku sudah menyerah. Kau sudah tidak marah lagi, kan, padaku? Kini giliran kau yang cari pasangan. Kau harus dapat the good one ya!

 Sebenarnya, aku sudah melepaskan Siwon di malam natal itu. Aku ke rumahmu setelah menangis di tengah hujan. Mianhe, aku tak cerita padamu saat itu juga. Aku terlalu sedih dan sebenarnya aku masih belum bisa menerima kenyataan itu.

But, well, so far, aku sudah bisa melupakannya sedikit demi sedikit. Life must go on, kan? You too. Jangan terlalu sedih ya karena aku tinggal (of course you won’t). Tenang saja, i will never forget you.

Thank you for everthing – Shim Johee

Donghae meremas surat itu setelah ia membacanya. Air matanya tetap mengalir walaupun sudah sekuat tenaga ia tahan. Ia hendak melempar jauh surat itu sehingga ia tak akan pernah menemukannya lagi. Tapi, berulang kali ia coba, berulang kali ia gagal. Ia tersadar, sampai kapan pun ia tak akan bisa melupakan gadis itu. Bagaimana gadis itu begitu mencintai Siwon, atau bagaimana gadis itu menyayanginya sebagai seorang sahabat. Everthing about her will be remain.

*****

END