Annyeong yeorobun!
Aku punya ff baru semoga pada suka dan mau kasih komen.
Jeongmal gomawoyo chingudeul. Saranghaeyo..

Xoxo

Aku melihat jam tanganku telah menunjukkan pukul 4 lebih 13 menit pagi hari dan rapatku baru akan berakhir mungkin 30 – 45 menit lagi. Aku menoleh kepada smartphone-ku dan tidak ada tanda-tanda kehidupan dari benda itu. Terakhir kali ia berteriak nyaring kira-kira 3 jam yang lalu saat istriku memberi tahu bahwa ia merasa mual. Seketika aku panik, ingin pulang, tapi rapat proyek ini harus tetap berjalan kalau tidak mau perusahaanku bangkrut. Aku harus menyelesaikannya secepat mungkin untuk kemudian pulang lebih cepat.

Aku pulang nyaris saat matahari mau terbit dan mendapati istriku di dalam kamar yang masih tidur nyenyak sambil memeluk guling di atas perut buncitnya. Dia masih yang paling cantik bagiku meskipun ukuran bajunya telah naik 2 tingkat dari M menjadi XL. Dia masih yang paling aku rindukan meskipun aku sudah tidak kuat lagi menggendongnya. Aku mengecup keningnya kemudian mengecup perutnya. Aku mencoba berkomunikasi dengannya. “Aegi-ya, kau baik-baik saja di dalam? Maaf, Appa sangat sibuk hari ini sampai tidak sempat bermain denganmu.” Aku merasakan sebuah gerakan halus dari dalam perut istriku. “Kau mendengar Appa, sayang? Tumbuh jadi anak yang baik ya. Jangan nakal di dalam. Kasihan eomma yang membawamu kemana-mana. Ya, sayang?” Sebuah gerakan yang lebih kencang. Anakku memberikan respon dan rasa lelahku setelah seharian lebih meeting seketika raib.

Sebuah tangan membelai lembut kepalaku. Tanpa harus memastikan, aku tahu itu tangan istriku. “Kau terbangun ya? Maafkan aku,” kataku. Ia tersenyum lemah kepadaku. Wajahnya masih terlihat ngantuk, matanya juga masih berat untuk terbuka sepenuhnya.

“Baru pulang?” Tanyanya parau karena ia memang baru bangun tidur.

Aku tersenyum. Dalam remang-remang cahaya di kamar tidur kami, aku dapat melihat dengan jelas kesempurnaan wanita ini, jawaban dari pertanyaanku. Aku tidak terlalu taat beribadah, aku juga bukan umat yang terlalu baik, tapi Tuhan masih memberikan umur kepadaku. Wanita ini jawabannya. Tuhan tidak mau wanita ini menderita, hidup sendirian, jika Ia mengambil aku, suaminya. Tuhan memberkati wanita ini.

“Iya. Tidurmu nyenyak?”

Ia menggelengkan kepala lemah. “Semalaman aku mual dan muntah. Aku baru bisa tidur lagi jam 4,” katanya membuatku merasa sangat sangat bersalah.

Ia jelas sekali sedang menanggung akibat dari perbuatan-perbuatan liarku setiap melihatnya berbaring di sebelahku dan aku tidak bisa menemaninya di saat-saat terberatnya. “Kenapa kau tidak meneleponku? Aku bisa pulang kalau kau mau,” ujarku.

“Tidak perlu. Perusahaan lebih membutuhkanmu. Aku bisa diurus oleh eomma, eommonim dan pegawai-pegawai di rumah ini. Tidak usah khawatir,” katanya.

“Hey, bagaimanapun aku ini suamimu. Aku harus bertanggung jawab padamu,” ujarku yang mungkin diabaikan olehnya.

Dia menepuk-nepuk bagian kosong tempat tidur di sebelahnya, tempatku biasa tidur sambil memeluknya kalau aku sedang tidak di kantor, di luar kota atau di luar negeri. “Aku ingin dipeluk. Kemarilah,” katanya.

Aku menuruti kemauannya. Aku berbaring di sebelahnya, menyelipkan satu lenganku di bawah kepalanya dan tangan lain di atas perutnya. Dia menyenderkan kepalanya di bahuku sehingga kepalanya tepat berada di bawah kepalaku. Reaktif, aku mengecupnya berulang kali tanpa bosan.

“Aku belum keramas,” katanya sambil tertawa pelan.

“Aku belum mandi,” ujarku yang memang belum mandi saking sibuknya dengan pekerjaanku.

Ia tertawa pelan tapi terdengar sangat enak di telingaku. “Aku tetap menyukai baumu,” katanya. Ia berusaha membalikkan tubuhnya agar bisa memelukku tapi ia tidak berhasil. Perut buncitnya menjadi penghalang. “Semua ini gara-gara kau,” katanya kesal membuatku tertawa geli.

Aku membalikkan badan sehingga memeluk penuh tubuhnya, mencium keningnya tanpa sedetikpun melepasnya, menghirup aroma tubuhnya yang sangat menggoda. Sayangnya, ia sedang hamil. “Aku sangat senang jika kau sedang hamil,” kataku sambil mengelus perutnya.

“Wae? Aku kan jadi super manja dan merepotkan,” katanya.

Aku setuju dengannya. “Merepotkanmu lebih manis kalau sedang hamil.” Dia memang sangat merepotkan saat sedang hamil tapi jauh lebih merepotkan kalau sedang tidak hamil.

Saat hamil, jika istriku menginginkan sesuatu ia akan meminta dengan cara yang sangat manis dan jika tidak dikabulkan dia akan merengek kepadaku yang pada akhirnya menyerah jika tidak diberikan juga. Sedangkan jika tidak hamil, dia akan bilang padaku akan membeli barang-barang yang dia inginkan, tidak peduli aku suka atau tidak. Ujungnya, kami akan bertengkar dan aku harus mengalah demi keamanan rumah tangga kami. Dia benar-benar wanita mandiri kalau tidak punya tanggungan.

“Memang kalau aku sedang tidak hamil, aku tidak manis?” Tanyanya dengan manja, membuatku semakin suka jika ia hamil terus-terusan.

“Kau manis juga kalau tidak sedang hamil tapi keras kepala dan egoismu sering buat aku kesal. Kalau kau hamil, aku merasa lebih dibutuhkan. Kau meneleponku, memintaku memelukmu, merajuk, merengek manja. Aku senang merasakan betapa bergantungnya kau padaku, betapa berharganya aku buat dirimu. Kalau tidak hamil, kau pasti sudah jual mahal. Tidur bersama pun belum tentu mau,” kataku terus terang. Ia mendongak menatapku. Dari matanya aku tahu ia kesal tapi bagiku terlihat sangat menggemaskan.

“Kau yang sering jual mahal padaku. Setiap aku mau menciummu di depan teman-temanmu atau orang-orang di kantormu, kau selalu menghindar, tidak pernah mau.” Istriku mulai merajuk tapi tidak melepaskan dirinya dariku. Kalau sedang tidak hamil, ia pasti sudah menendangku keluar dari tempat tidur ini.

“Aku malu. Lagian kita sudah hampir 10 tahun berumah tangga dan mau punya anak ketiga. Semua orang di kantor itu juga sudah tahu betapa aku tergila-gila pada wanita satu ini,” ujarku kemudian menggigit ujung hidungnya pelan. Aku terlalu gemas melihatnya.

“Kau juga pernah menolak bercinta denganku padahal aku sudah menggodamu mati-matian. Lingerie tembus pandang, senyuman nakal, ciuman maut bahkan aku menari striptease di hadapanmu dan kau malah menyuruhku tidur. Parahnya besok paginya kau meninggalkanku 3 hari ke Hongkong tanpa komunikasi. Untung cuman 3 hari, kalau lebih dari itu aku pasti sudah memilih bunuh diri karena mengira kau sudah tidak menginginkan aku.”

Aku tertawa. “Mana mungkin aku tidak menginginkanmu. Kau tahu apa yang aku pikirkan jika sudah melihatmu dengan gaun tidurmu yang lemah itu?”

“Apa?” Tanyanya.

Aku berbisik pelan di telinganya, “menghamilimu.” Kemudian, aku mencium telinganya sampai ia merasa kegelian.

“Dasar mesum,” omelnya tanpa berusaha menghentikan perbuatanku sedikitpun.

“Lagipula baru sekali itu aku menolakmu. Itupun karena aku begitu lelah. Tidak lucu kan jika aku tiba-tiba tertidur di saat kau berteriak-teriak? Tapi kau memaafkanku kan?”

“Untung waktu itu kau tiba-tiba pulang, menemuiku, menarikku ke dalam mobil seperti singa kelaparan, menyerangku bertubi-tubi. Di parkiran basement mall. Dasar gila.”

Aku tertawa. “Rasanya sudah seribu kali lebih aku bilang bahwa aku memang tergila-gila padamu,” kataku jujur. Aku agak kehilangan akal sehatku kalau sudah berurusan dengan istriku ini.

“Tapi aku senang ternyata kau masih membutuhkanku. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada pernyataan cintamu,” katanya. Ia kembali mendongakkan kepalanya, berusaha meraih bibirku. Aku menundukkan sedikit kepalaku sampai ia bisa menciumku. “Aku mencintaimu.”

“Aku lebih mencintaimu,” sahutku.

Kalau sedang hamil, entah kenapa wanita ini jadi lebih menggemaskan, apapun yang dikatakannya, apapun yang dilakukannya, aku menyukainya. “Kata orang, jika anak lebih mirip ayahnya berarti ibunya yang lebih mencintai ayahnya. Kau lihat anak-anakmu, mereka mirip siapa?”

“Aku,” jawabku santai.

“Jadi?” Tanyanya.

“Jadi, tentu saja aku lebih mencintaimu,” kataku sambil tertawa lebar.

Ia ikut tertawa meskipun setelah merajuk kepadaku. “Menyebalkan,” katanya.

Ia menarik tubuhku karena ia tidak bisa menggeser tubuhny agar aku bisa lebih dekat memeluknya. “Aku rasa anak ini juga akan mirip dirimu,” katanya sambil membelai tanganku yang tidak pernah berhenti mengelus perutnya.

“Darimana kau tahu? Memang di USG bisa kelihatan?”

Ia menggeleng. “Aku bisa merasakannya. Bayimu ini suka jika kau berkomunikasi dengannya, responnya sangat positif. Ia tidak bisa diam kalau ia tahu kau ada di dekatnya. Satu lagi, ia akan bertingkah jika aku mengabaikannya. Sama seperti dirimu kan?” Katanya kemudian tertawa kepadaku.

Ia benar. Jika bayi di kandungannya sekarang seperti itu, berarti ia mirip denganku. Aku akan bertingkah macam-macam jika istriku sudah mengabaikan aku, sampai ia memperhatikanku kembali. Aku tidak suka tidak ada diriku dalam pikirannya meskipun hanya sedetik. Harus kuakui, aku ini posesif dan egois kalau soal mencintainya.

“Aku tidak suka kau membagi-bagi hatimu dengan apapun. Hatimu hanya boleh dipenuhi olehku,” ujarku.

Ia tertawa geli dan tawa itu membuat hidupku terasa lebih ringan. Aku bahkan tidak merasa terbebani dengan rapat besar pengusaha Korea tengah hari nanti padahal proyekku yang jadi bahan presentasi. “Sayangnya hatiku sudah terbagi-bagi. Kau, anak-anakku, eomma-appa, teman-teman, pekerjaan. Kau bukan satu-satunya di hatiku,” katanya.

Aku tidak kesal apalagi marah. Aku juga tahu hal itu. Mana mungkin ia hanya memikirkanku dan menelantarkan anak-anakku. Aku bahkan berani bertaruh, wanita ini akan menyelamatkan anak-anakku dulu baru aku jika kami terperangkap bersama. Aku juga berani bertaruh ia akan memilih menemani eomma dan appanya makan bulgogi dibandingkan menemaniku rapat. Maksudku, aku ingin hanya aku yang menjadi fokus di hatinya. Aku ingin, ia begitu mencintaiku sampai rasanya dia mau mati jika tidak ada aku. Seperti yang aku rasakan.

Aku tahu seperti apa istriku. Ia bukan wanita manja, yang selalu bergantung pada suaminya akan setiap hal. Ia wanita mandiri, yang bisa melakukan segalanya sendiri bahkan memimpin rapat pemegang saham pun bisa ia lakukan dengan baik dan benar tanpa aku arahkan. Kepalanya selalu dingin, kecuali jika sudah bersamaku di atas tempat tidur kami berdua.

“Yeobo,” panggilnya.

“Umm,” sahutku. Salah satu keuntungan bagiku kalau ia sedang hamil. Ia akan memanggilku ‘yeobo’ bukan nama atau ‘yaak’ atau panggilan lain yang tidak ada mesra-mesranya.

“Aku boleh ikut ke kantor? Aku bosan di rumah terus. Lagipula aku rindu suasana perusahaan itu. Sebentar saja. Boleh ya? Kalau tidak boleh, kau saja yang diam di rumah, tidak boleh kemana-mana,” Pintanya dengan manja.

“Aku pilih di rumah saja bersamamu,” sahutku ringan.

“Tapi kan kau ada rapat lagi hari ini. Jadi bagaimana kalau aku ikut ke kantor saja? Banyak yang ingin aku temui. Boleh ya?” Wajahnya yang dibuat imut itu sanggup mengalahkanku dalam waktu singkat tanpa perlawanan.

“Baiklah. Kau boleh ikut ke kantor tapi kau tidak boleh dandan, kau harus pakai baju yang longgar, sandal jepit, pokoknya kau harus sejelek mungkin,” kataku.

Ia menatapku heran. “Sejelek mungkin? Aku bisa terima tidak dandan tapi pakai baju longgar? Sandal jepit? Kau sebenarnya tidak ingin aku ikut ke kantor kan? Bilang saja langsung, tidak usah mempersulit dengan syarat-syarat itu. Aku akan pakai sepatu flat dan mini dress khusus ibu hamil.”

“Mini dress? Andwe!” Aku jelas menolak baju itu. Aku tahu bagaimana pria-pria di kantorku melihat istriku. Ia mungkin bukan wanita tercantik dan terseksi tapi istriku adalah yang paling menarik. Aku melihat sendiri bagaimana pria-pria itu menatap istriku, mengajaknya bercanda, menggodanya. Sifat rendah hati dan mudah berkawannya itu sering buat aku sakit kepala. “Aku tidak bisa melihat kau dikerubungi pria-pria itu. Tidak bisa.”

Ia tertawa. “Terserah kau saja lah. Yang penting aku ikut ke kantor. Mau bagaimanapun aku ini tetap sangat menarik. Mau bergaya sejelek apapun, mereka pasti akan tetap melirikku. Kau tahu itu. Harus kau akui, istrimu ini punya banyak fans. Aku tidak boleh menyakiti fans-ku kan?”

Sebenarnya, tidak ada gunanya berdebat lebih panjang karena apapun yang dia pakai, aku tetap memperbolehkan ia ikut. Aku hanya ingin menggodanya. Salah satu kesukaanku. “Baiklah. Baiklah. Kau memang seorang selebritis dan selebritis tidak boleh menyakiti fans-nya. Baiklah. Berarti kau tidak boleh menyakitiku. Aku fans nomor satu-mu. Bukan begitu?”

Ia tiba-tiba bangkit dari tidurnya dan duduk sambil memegangi perutnya. Wajahnya meringis kesakitan. “Kau kenapa? Sakit? Apa yang kau rasakan?” Tanyaku panik. Aku menengok ke bawah wajahnya untuk melihat keadaannya. “Sakitnya dimana? Apa anak kita menendang terlalu keras? Kau kenapa, sayang? Bilang padaku.”

Wanita ini memandangku dengan sedikit meringis sakit. “Sedikit gangguan dari bayimu. Dia pasti kesal karena kau tidak mau mengalah kepadaku. Tapi sekarang tidak apa-apa. Dia sudah diam.”

Aku memperhatikan istriku dengan teliti, menyakinkan dia dan diriku sendiri bahwa ia sudah tidak apa-apa. Aku tidak bisa tenang jika ada sesuatu yang terjadi pada istriku. “Kau yakin?” Tanyaku. Ia mengangguk lalu tertawa.

“Aku baik-baik saja. Tenanglah. Tendangan-tendangannya sudah biasa tapi cukup mengagetkan kalau datang tiba-tiba. Persis seperti dirimu kan? Suka muncul tiba-tiba mengejutkanku. Tapi aku suka kejutan,” katanya sambil mengelus pipiku dengan lembut. Aku tidak bisa menahan senyumanku. Aku memang selalu berhasil mengejutkan istriku dan ia memberikan berbagai macam reaksi. Menangis, tertawa, marah, diam, semua pernah aku rasakan tapi semua itu akan berujung di tempat tidur jika aku berhasil merayunya.

Aku mendekatkan wajahku hendak menciumnya tapi ia mendorongku sejauh tangannya. “Kau belum mandi. Tiba-tiba aku mual,” katanya.

Aku ingat sejak sampai rumah tadi sampai sekarang nyaris tengah hari aku memang belum mandi. Terakhir mandi mungkin lebih dari 20 jam yang lalu sebelum mengecek gedung baru di Cheongdamdong yang penuh debu dan panas. “Aku akan mandi setelah menciummu,” pintaku.

Ia menggelengkan kepalanya. “Kau harus mandi dulu. Aku tidak kuat lagi,” katanya. Ia mendorongku dengan paksa sampai aku masuk ke dalam kamar mandi.

“Kau tidak mau mandi bersamaku?” Tanyaku dari dalam kamar mandi. Aku hanya ingin menggodanya. Kalau ia mau, itu keberuntungan untukku.

“Tidak. Aku akan mandi sendiri,” jawabnya. “Setelah mandi, kita sarapan ya. Jangan pakai parfum, pakai deodoran natural-mu. Yeobo, pakai kemeja yang aku taruh di tempat tidur, celananya terserah tapi kemeja ini harus kau pakai.”

Aku membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengintip dari celahnya. “Putih lagi?” Sudah hampir sebulan aku terus memakai kemeja putih ke kantor padahal aku punya kemeja berbagai warna di lemariku.

Ia menyengir kepadaku. “Tidak apa-apa kan? Aku suka kau pakai warna putih. Kau terlihat jauh lebih tampan dan seksi. Kau akan memakainya kan?” katanya.

“Tentu saja,” sahutku. Mana mungkin aku menolak apa yang sudah disiapkan istriku. Kalau ia memberikan aku kemeja yang sama setiap hari, aku akan tetap memakainya. Ini adalah kemeja yang berbeda hanya warnanya saja yang sama.

Ia berjalan pelan mendekatiku, mencium pipi kemudian bibirku dengan lembut. “Aku suka bau-mu,” katanya membuatku tertawa geli. Semenit yang lalu dia bilang tidak suka bau-ku yang belum mandi. Aku baru masuk kamar mandi dan melepas bajuku, ia bilang suka bau-ku. Hormon wanita hamil memang paling sulit dipahami tapi aku sangat menyukainya. Meskipun dia bilang ini terakhir kalinya dia ingin hamil tapi aku akan tetap menyukainya. Mencintainya. Apapun yang terjadi. Aku akan tetap mencintainya sampai maut memisahkan kami bahkan sampai di kehidupan selanjutnya aku akan tetap jatuh cinta padanya.

Xoxo
@gyumontic