“Mianhe,” ucapku kepada laki-laki yang sedang pura-pura tidur membelakangiku ini. Ia sedang ngambek kepadaku karena aku lupa memberitahunya aku pulang lebih malam darinya.

 

Aku sudah hafal wataknya. Meskipun sudah berumur lebih dari 30 tahun, sifatnya masih kekanak-kanakan kalau sudah berurusan denganku. Ia selalu ingin aku memperlakukannya seperti remaja usia 17-an yang masih pacaran. Dia ingin aku selalu menuruti permintaannya. Aku tidak pernah keberatan karena aku memang mencintainya. Aku akan melakukan apapun asal ia tetap bersamaku. Kalau aku melakukan kesalahan, aku rela berlutut meminta maafnya.

 

Aku membalik tubuhnya lalu menimpanya dengan tubuhku. “Maafkan aku karena lupa mengabarimu. Gladi resik tadi benar-benar menyita waktuku. Aku kan harus memastikannya berjalan sesuai rencana. Maafkan aku ya… Yeobo… Oppa, mianhe.” Dia tidak bergeming.

 

“Aku tahu kau belum tidur. Maafkan aku ya? Sayang?” Ia tetap bertahan dengan aksi diamnya. Itu artinya aku harus mengeluarkan jurus-jurus untuk merayunya.

 

Aku tersenyum geli. Kalau sudah ngambek, ia bisa mengalahkan ngambek anak-anaknya. “Baiklah. Mumpung kau masih tidur, aku bisa melakukan apapun,” ujarku lalu mengabsen setiap inci wajah suamiku dengan jariku.

 

“Ya Tuhan, bagaimana bisa kau menciptakan laki-laki sempurna seperti ini. Alisnya yang tebal, matanya, hidungnya, bibirnya, wajahnya. Semuanya sempurna,” bisikku sengaja untuk menggodanya tapi ia masih tidak bereaksi.

 

Aku melancarkan aksiku yang berikutnya. Aku menempelkan bibirku di lehernya sambil meraba dadanya yang masih terhalang piyama tidurnya. “Aku masih tidak mengerti mengapa dadanya ini selalu bisa memberiku kehangatan. Aku beruntung sekali setiap hari bisa merasakan kehangatannya.”

 

Aku merasakan kakinya bergerak merapat. Ia mengunciku di atas tubuhnya. Ia terpancing. “Tampaknya kau benar-benar sudah tidur. Jaljayo, yeobo. Mianhe,” ucapku lalu bangkit dari atas tubuhnya dengan susah payah. Aku harus mandi.

 

Sebelum aku masuk ke dalam kamar mandi aku sempat mendengarnya menghembuskan nafas dengan kasar. Ia termakan rayuanku tapi masih gengsi. Dia memang seperti itu makanya aku menjulukinya raja ngambek bergengsi tinggi. Ia sudah tidak marah tapi ia tidak mau mengalah sampai aku datang lagi untuk merayunya.

 

Aku bergabung bersamanya di tempat tidur beberapa menit kemudian. Ia sudah merubah posisi tidurnya dari membelakangiku menjadi menghadapku. Aku mengelus pipinya lalu mencium bibirnya dengan lembut. “Selamat malam. Aku mencintaimu,” bisikku lalu menarik selimut untuk kami berdua.

 

“Aku juga mencintaimu,” balasnya tanpa membuka matanya tapi tangannya menarik tubuhku mendekat ke tubuhnya. Ia mengunciku dalam dekapannya.

 

Aku tertawa geli melihatnya. “Kau masih marah padaku?” Tanyaku.

 

Ia menganggukkan kepalanya. “Sebaiknya kau segera minta maaf,” katanya.

 

“Aku kan sudah minta maaf tadi. Kau tidak dengar ya?” ujarku.

 

Ia menarikku lebih dekat lagi sampai tidak ada jarak lagi di antara kami dan mendekapku sampai aku nyaris tidak bisa bernafas. “Permintaan maafmu kutolak tahu. Tambah lagi kau menggodaku. Hukumanmu bertambah dua kali lipat.”

 

“Oh ya? Memangnya kau berani menghukumku uh?” Tanyaku. Aku menyelipkan lenganku di bawah lengannya untuk memeluknya, mengantisipasi seolah aku bisa kehilangan dia kapan saja.

 

“Kau tahu aku tidak punya rasa kasihan,” ujarnya. Aku bisa merasakan setiap hembusan nafasnya di atas kepalaku.

 

“Aku memahami dirimu lebih dari siapapun. Kau tidak akan tega menyiksa wanita lemah seperti aku,” kataku.

 

Ia mendengus membuat ubun-ubun kepalaku agak dingin kena hembusannya. “Siapa bilang? Aku tidak akan menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk membuat kau bertekuk lutut.”

 

“Dasar kejam. Aku kan hanya lupa bilang pulang malam, masa kau mau menghukumku?” Ujarku dengan manja. Aku mendongakkan kepalaku dan melihat ia masih memejamkan matanya.

 

Ia mengangguk. “Gara-gara kau, pulang cepatku jadi sia-sia. Padahal aku sudah merindukanmu setengah mati. Tahu?”

 

Aku tersenyum menatap wajah tampannya yang jelas sekali kelelahan tapi masih mau menyediakan waktunya untukku dibandingkan istirahat. “Aku mencintaimu,” ucapku pelan, sungguh-sungguh lalu mencium bibirnya dengan lembut.

 

Ia membalas ciumanku pelan tapi menuntut. Tangannya yang di bawah kepalaku menahan kepalaku agar tidak kemana-mana. “Seharian ini aku hanya memikirkanmu tapi tampaknya kau tidak memikirkanku sama sekali. Menyebalkan!” Omelnya di sela-sela ciuman kami yang makin lama makin panas.

 

Ia membalikkan tubuhku sehingga aku berada di bawahnya. Ia tersenyum nakal memandangku. “Sebenarnya aku ingin sekali menyerangmu malam ini tapi aku capek sekali. Sayang sekali ya.”

 

Aku melingkarkan tanganku di lehernya, menatap matanya yang menunjukkan dia memang sangat kelelahan tapi aku tidak bisa tidak menggodanya. “Kau yakin? Humm?” Bisikku di telinganya kemudian mencium pipinya, dagunya, hidungnya, bibirnya. Sekali, dua kali, tiga kali, entah berapa kali lagi.

 

Ia tersenyum kepadaku. “Dasar wanita nakal. Terima kasih atas godaanmu, aku benar-benar terangsang tapi sayang kau tidak bisa mengalahkan rasa lelahku. Bagaimana kalau besok pagi kau ikut ke kantor? Aku punya ruangan pribadi,” katanya.

 

“Aku seperti wanita panggilan.”

 

“Indeed. You are my bitch.”

 

“Sialan. Kau berani bayar berapa?”

 

“1 bayi lagi?”

 

Aku memukul dadanya pelan kemudian beralih membelainya. “Jangan harap. Mulai besok kalau kau tidak memakai pengaman aku tidak mau melakukannya. Kau pikir mengurus 3 orang anak dan 1 suami hal yang mudah?”

 

Ia tersenyum lagi dan benar-benar membuat diriku bertekuk lutut padanya. “Tapi asal kau tidak meninggalkanku, aku bisa mempertimbangkan apapun yang kau inginkan,” kataku. Aku memang sangat takut kehilangan makhluk satu ini.

 

“Tenang saja. Aku tidak pernah memiliki ide gila seperti itu. Aku bahkan berencana mengikatmu kemanapun aku pergi,” katanya.

 

“Ide bagus tapi kau jadi tidak bisa bebas karena ada aku.”

 

Ia memandangku dengan intens kemudian berkata sesuatu yang membuatku semakin jatuh cinta padanya. “Aku justru senang. Bersamamu, aku bisa berbagi pikiran denganmu. Kalau teman-temanku makan , aku bisa makan bersamaku. Kalau kami pergi ke karaoke atau klub, aku tidak akan diganggu lagi oleh wanita-wanita tidak jelas. Kau bisa menjagaku. Bagaimana?”

 

“Terserah kau saja. I’m yours, Sir,” kataku lalu menciumnya lagi. Entah sudah berapa kali aku menciumnya malam ini. Dia balas menciumku. Kali ini tampaknya aku berhasil mengalahkan rasa lelahnya. Ia sudah berhasil melepaskan piyamaku saat suara tangis bayi menghentikannya.

 

Aku tersenyum kepadanya yang sudah berubah kesal karena diganggu. “Anakmu butuh aku. Sepertinya kau harus bersabar sampai besok pagi. Mianhe,” ucapku kemudian menciumnya.

 

Dengan malas, ia berguling melepasku. “Aku berdoa semoga anak itu cepat besar sehingga bisa mengurus dirinya sendiri,” gerutunya saat aku memakai piyamaku lagi. Aku tersenyum geli melihatnya.

 

“Kau sudah besar begini juga masih belum bisa mengurus diri sendiri. Anakmu itu meniru ayahnya 100 persen,” godaku yang dibalas dengan cibiran bibirnya. “Kau tidur saja duluan ya. Selamat tidur. Aku mencintaimu.”

 

“Aku juga mencintaimu.”

 

Tiga kata itu cukup bagiku untuk terus berada di sisinya sampai pada waktunya Tuhan yang memisahkanku dengan dia. Pria satu-satunya yang aku cintai dan tidak pernah akan aku lepaskan meskipun aku harus berperang melawan seisi dunia. Aku mencintainya melebihi diriku sendiri, melebihi apapun di dunia ini kecuali anak-anakku. Aku tidak akan bisa hidup tanpanya karena ia satu-satunya alasan aku hidup. Aku mencintainya, sangat mencintainya. I do really love him. So much. Terima kasih Tuhan telah menciptakannya untukku.

Xoxo