Annyeonghaseyo yorobeun, Hope you enjoy this fanfiction and leave your comments ya ^^ Makasih banget buat semua yang sudah baca.

This fanfiction is sequel of :

Cast: Lee Donghae, Shim Johee, Cho Kyuhyun, Song Hyejin, Kang Hamun, Choi Siwon

*****

What is love? Love is the 7th sense of human that destroys all the six sense and make the person non-sense. So, when you find someone that you can’t understand the way they think, everything they do are crazy for you, or every words that cames out from their mouth sounds nonsense, it means something. They’re in love, but the problem isn’t solved yet. The next question: is that love, for you?

******

Donghae terdiam di tempat duduknya sambil termangu menatap salah satu pigura yang ada di meja kerjanya. Wajah gadis yang ada di meja itu tak sekalipun pernah ia lupakan. Jangankan melupakan, ia bahkan terus berusaha mencari gadis itu.

Selama enam tahun meniti karir di salah satu perusahaan ternama di Korea Selatan, akhirnya saat ini Donghae telah menjadi orang kepercayaan direkturnya dan memiliki posisi yang mencengangkan untuk pria muda seusianya. Ia sudah menggunakan jabatannya dan semua koneksinya untuk mencari gadis dari masa lalunya itu, namun sampai saat ini ia belum mendapatkan kabar bahagia. Sebenarnya untuk apa ia bersusah payah mencari gadis yang tak pernah mau ditemukan? Ia pun tak tahu. Bahkan, ia tak pernah tahu ekspresi apa yang harus ia tunjukan pada gadis itu jika suatu saat mereka akan bertemu.

“Sajangnim, nona Hera memaksa ingin bertemu anda,” kata sekretaris Donghae ketika ia membuka pintu ruangan kerjanya.

Donghae memijat pelipisnya dengan tampang suram dan menghela nafas panjang begitu mendengarnya. “Aku tak ingin mendengar penjelasan apapun darinya, tolong bilang itu padanya. Ah, siapkan aku mobil untuk ke bandara lima menit lagi. Aku ada urusan di Amerika dan aku minta, tolong tetap cari gadis itu. Sejak dulu, ia memang bukan orang sembarangan, saat ini pun pasti juga demikian. Ia pasti menggunakan segala cara untuk menyembunyikan dirinya,” kata Donghae tegas yang segera dikerjakan oleh sekretarisnya itu.

Donghae kembali termenung di tempat duduknya. Ia membuka laci meja kerjanya dan melihat dua undangan pernikahan yang sama. Undangan pernikahan Choi Siwon dan Kang Hamun. Satu undangan miliknya dan satu lagi adalah milik gadis itu. Saat mereka menitipkan undangan ini pada Donghae, yang terlintas dalam benaknya adalah ‘they’re crazy’. Hubungan persahabatan Siwon-Hamun-Donghae tak lagi sebaik sebelum semuanya terjadi tapi, ya, mereka tetap berteman.

“Mobilnya sudah siap di bawah, sajangnim,” ujar sekretaris Donghae menyadarkan pria itu.

“I’ll be there in a minute,” jawabnya. Ia segera memasukan undangan itu ke dalam tasnya. Ia tak tahu apakah ia akan bertemu dengan Johee nanti tapi ia selalu percaya if they are mean to meet, they will be.

*****

Segerombolan pekerja lengkap dengan jas dan blazer mereka yang menawan berjalan di belakang seorang wanita muda. Wanita itu tampak sangat elegan dan intelek dengan setelan pakaian kerjanya. Ia berjalan cepat tanpa mengurangi keanggunannya menuju ruangan yang akan jadi penentu keberhasilannya untuk membangun departement store di Korea Selatan.

“Aku tak mengerti mengapa ia menolak tawaran kita yang sangat menarik itu. Apa pelayanan kita selama seminggu ia disini kurang memuaskan? Itu tak mungkin. Aku sendiri yang menyiapkan semuanya. Harusnya semua berjalan sempurna dan aku tak perlu turun tangan secara langsung seperti ini,” ujar gadis itu pada dirinya sendiri, ya, walaupun semua bawahannya bisa mendengarnya.

“Maafkan saya nona Johee,” kata pria setengah baya yang ada di samping gadis itu, asisten kepercayaannya. “Saya sudah berusaha tapi ia tak bisa mentolerir dan ingin bertemu dengan nona,” lanjutnya. Nona Johee menghentikan langkahnya dan memberikan senyuman terbaiknya pada pria itu. “Kau sudah melakukan yang terbaik, Paman Kang. Kau sudah seperti pamanku sendiri jadi tenang saja. Akan kuselesaikan sisa pekerjaanmu,” balasnya.

Johee menghela nafas panjang begitu ia tiba di depan pintu ruangan itu. “Bagaimana orangnya?” tanya Johee pada asistennya. “Tinggi, tampan, fashionable, pintar, dan baik. Sangat cocok jika ingin kau pacari,” jawabnya yang Johee balas dengan tatapan malas. “Anda sudah harus memikirkan hal itu, nona,” balas pria itu tanpa rasa bersalah. “Kita bahas itu nanti,” balas Johee lalu ia masuk ke ruangan itu.

“Annyeonghaseyo, sajangnim,” kata Johee langsung membungkukan tubuhnya tanpa sempat melihat pria itu terlebih dulu.

“Bagaimana kabar an..” suara Johee terputus saat ia sudah menegakkan tubuhnya dan melihat dengan jelas pria yang berdiri beberapa meter di depannya.

Tadinya, pria itu sedang berdiri di sekitar dinding yang sebagian besar terbuat dari kaca, sehingga ia bisa melihat pemandangan kota New York dari ruangan itu dengan jelas. Akan tetapi, bayangan wanita yang muncul di kaca itu membuat jantungnya berhenti sesaat. Ia memutar tubuhnya dan memastikan sekali lagi penglihatannya. Ia tahu jika ia tak salah saat gadis itu juga tampak kaget saat melihatnya.

“Shim Johee?” panggil pria itu.

Johee yang masih sangat kaget hanya bisa tersenyum paksa. “H-hey,” sapanya dengan nada yang dipaksakan riang. Kakinya sudah bersiap untuk kabur dari tempat itu tapi belum sempat ia melangkah jauh pria itu sudah menahan tangannya dan mendorongnya cukup keras ke dinding di ruangan itu.

“Apa yang kau lakukan pada nona kami?!” seru asisten Johee dan beberapa bawahannya sudah akan bergerak untuk menjauhkan pria itu dari Johee. “It’s okay,” ujar Johee menahan mereka.

Kini ia menatap mata pria itu dan mendapati matanya sudah berair. Johee bisa melihat pria itu marah padanya. Apakah ia masih marah tentang masa lalu atau.. apa alasan ia marah pada Johee?

“You..” pria itu mulai bersuara setelah ia bisa mengatur emosinya. “You completly ass, Shim Johee. You show up here after years, and you say ‘hey’?”

Johee tersenyum padanya. “Should i say something else?” tanya Johee tapi pria itu tak menjawab. Pria itu masih menatapnya dengan amarah. “I would say, I really miss you, Lee Donghae. But, you’re not feel the same, right?” tanya Johee sedih walau senyumnya tak hilang.

Pertanyaan itu membuat Donghae tak bisa menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Johee melihat air mata Donghae akhirnya mengalir. Ia langsung memeluk Johee dengan erat setelahnya. Kata-kata yang keluar dari mulut pria itu membuat hati Johee sangat bahagia, he said: “I do miss you, friend,”

Johee membalas pelukan itu dan memberikan isyarat pada anak buah dan asistennya untuk segera meninggalkan ruangan itu. “You’re not gonna go anywhere again, right?” tanya Donghae ditengah isakannya yang belum mereda. “Akan kupastikan kau akan tahu alamatku jika aku ingin pergi lagi. Hey, stop crying. This is my first time to see you like this, and that is because of me. It’s a honor for me,” balas Johee yang disambut tawa oleh mereka semua. “Kau akan kubalas. You will see,” balas Donghae.

*****

“So, apa yang perlu kutahu selama enam tahun ini?” tanya Donghae pada Johee. Mereka memutuskan untuk mereschedule rapat mereka dan memilih untuk menghabiskan sisa hari itu berdua saja di salah satu taman dekat perusahaan Johee. Setelah berjalan sekian lama mereka memutuskan untuk duduk disalah satu bench di taman itu.

Johee menyesap kopinya dan mulai menceritakan apa yang Donghae perlu tahu. “Aku melanjutkan kuliahku dan berhasil lulus dengan predikat Magna Cumlaude, meneruskan perusahaan ayahku dan menaikan omsetnya sekitar 30% sekarang,”

Donghae menatap Johee penuh curiga setelah mendengar cerita Johee. “Are you lying? When we were highschool, you’re not look that smart,”

Johee tertawa mendengar hal itu lalu memukul pelan Donghae. “Don’t judge the book from its cover. You know that?” balas Johee.

“Yeah, sorry,” jawab Donghae asal. “Aku juga melanjutkan kuliahku di University of Seoul. Lulus dengan nilai yang memuaskan dan meniti karir di salah satu perusahaan di Korea Selatan. Aku punya jabatan yang prestise untuk pria seusiaku,” ceritanya.

Kini giliran Johee yang menatapnya curiga. “Why?” tanya Donghae. “I just think, dulu kamu juga tak terlihat sepintar itu,” balas Johee yang membuat keduanya tertawa.

“How about love story?” tanya Donghae.

Johee tersenyum mendengar topik itu. “I don’t have any boyfriend after that. I spend my day to study, work, and no time for such thing,” balas Johee. “How about you?”

“Enam kali pacaran. Paling lama 2 tahun. Tragisnya, semuanya berakhir dengan mereka yang memutuskanku,” jawab Donghae yang membuat Johee tercengang. “How come?” tanya Johee tak percaya.

“Ya, ada yang beralasan aku terlalu mementingkan pekerjaan, ada yang selingkuh di belakangku, dan ada yang..” ucapan Donghae terhenti bersamaan dengan kembalinya salah satu memori.

‘You’re in love with this girl,’

‘No, Johee is my friend and it will always be like that. I love you,’

‘No, you never know what you feel. I know for sure it’s love. How you look in her picture or every single things you left to remind you about her, the way you talk about her. You definitely in love with her,’

“Donghae?” panggil Johee menyadarkannya. “Kau baik-baik saja?” tanya Johee khawatir. “Saat aku ke Korea nanti, kau harus beritahu aku alamat mereka dan akan kubalas mereka satu per satu,”

Donghae tertawa ringan mendengar ancamana Johee. “Calm down, i’m okay now. You know, sudah terbiasa,” jawabnya. “Ah, i’ve got something for you,” ujarnya sambil membuka tasnya dan memberikan sebuah undangan pada Johee. Johee terdiam sesaat saat melihat nama calon mempelai di undangan itu. Johee menerimanya dan melihat dengan seksama foto Siwon dan Hamun di dalamnya.

“Mereka berharap kau bisa datang. Crazy, are they? Mereka mengundangmu padahal mereka sudah sangat menyakitimu. Tapi, kupikir kau pasti sudah melupakan Siwon, kan? Karena itulah aku memberikan undangan ini padamu,” ujar Donghae.

“Ye-yeah, they are totally crazy,” balas Johee dengan suara yang bergetar. Donghae bisa mendengarnya dan ia melihat Johee berusaha menyembunyikan air matanya dari Donghae. Donghae terdiam sesaat. Apa maksud semua ini? Apa arti air mata Johee yang mengalir saat ini?

“Kau belum bisa melupakannya, Johee?” tanya Donghae.

Johee tak bisa menahan air matanya lagi. “I’ve already forgot about him, really. But, when i see their smile in this picture i feel so angry with them. I don’t want to be a bad person, Donghae. I want to wish them happy but it’s so difficult for me,” jawab Johee.

Donghae tersenyum mendengar alasan Johee. Selama apapun ia tak bersama gadis ini, ternyata tetap tak ada yang berubah darinya. Selalu baik dan memikirkan orang lain. Donghae menarik Johee dalam pelukannya. “You’re totally a fool, Johee,” kata Donghae sambil mengelus rambut Johee sampai ia tenang.

“Hey, bagaimana kalau aku membantumu mencari pacar dan kau juga membantuku?” ujar Johee begitu ide itu muncul di kepalanya. Ia seakan lupa dengan kesedihan yang ia rasakan barusan. “Jika pria itu tidak sesuai dengan standarmu, aku tidak akan memacarinya. Begitu juga denganku. Jika wanita itu tidak baik menurutku, maka kau tak bisa memacarinya. Bagaimana?” tanya Johee dengan penuh antusias.

Donghae menatap Johee dengan takjub. “You always have nonsense idea. And on my record, your last nonsense idea is awful and sad ending. You know what i mean, right? 99 days to know Siwon better’s project,”

Johee memukul Donghae agak keras sekarang dengan tampang marah. Perlahan-lahan berubah menjadi riang kembali. “Kali ini tak akan seperti itu lagi. This idea is really brilliant!”

*****

Donghae sudah menunggu Johee di depan gerbang Disneyland sejak 10 menit yang lalu tapi gadis itu tak kunjung muncul. Sebelum ia sempat mengomel lebih panjang, sebuah mobil VW tua berhenti sekitar dua meter di depan Donghae. Donghae mematung di tempatnya, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, mata Donghae tak bisa lepas dari wanita yang baru saja turun dari mobil itu dan berjalan menghampirinya dengan ekspresi marah.

“Mengapa harus disini?” gerutu Johee menyadarkan Donghae dari lamunannya. “Mengapa kau menyuruhku memakai dress selutut berwarna peach dan high-heels jika tempat kencannya disini?!” seru Johee lagi, masih kesal dengan Donghae.

“Yang akan kau kencani adalah calon pewaris tunggal dari perusahaan Hyundai. Dia mau datang kesini karena aku yang memintanya dan dia sudah melihat fotomu. Mungkin dia sedikit tertarik denganmu,” jelas Donghae.

“Tapi ini bukan tempat yang nyaman untuk menggunakan high-heels atau dress seperti ini, you know?” balas Johee berusaha membela diri.

“I know, tapi aku sedang ingin ke tempat ini. Kajja,” ujar Donghae sambil menawarkan tangannya untuk Johee pegang. “Anggap saja aku sedang membantumu berjalan dengan high-heelsmu itu,” lanjutnya. Johee tersenyum mendengar hal itu dan menerima tawaran Donghae.

“By the way, kau punya sangat banyak uang untuk bisa membeli lima Lamborghini tapi kenapa kau masih pakai mobil VW itu?” tanya Donghae.

“Aku suka,” balas Johee bangga.

“You have a great taste. Aku harus mencobanya,” balas Donghae sambil mengacak rambut Johee.

“You’re the only one yang bilang seperti itu. Lainnya sudah menganjurkan aku untuk membuang mobil itu,” jawab Johee senang.

“Yeah, selera mereka yang payah,” balas Donghae yang membuat keduanya terhibur

*****

“Hai, maaf aku telat,” ujar Johee menyapa pria muda yang tak kalah tampan dari Donghae. Pria itu menoleh pada sumber suara dan mendapati seorang wanita yang menurutnya sangat menarik.

“No problem, Nona Johee. Lee Donghae sudah memberi tahuku namamu,” balasnya. “Aku Cho Kyuhyun,” ujarnya memperkenalkan diri.

“Senang berkenalan denganmu,” ujar Johee.

Mereka berdua memulai kencan mereka dengan mengunjungi beberapa wahana yang menarik menurut Johee ataupun Kyuhyun. Sedangkan, Donghae terus mengikuti mereka kemana pun mereka pergi.

Donghae bisa melihat mereka berdua dengan jelas dari tempatnya berdiri saat ini. Ia menyadari wajah Johee yang kesakitan. Mungkin karena sepatunya, pikir Donghae. Ia berharap Kyuhyun segera mengajaknya ke suatu tempat untuk duduk tapi satu jam berlalu dan Kyuhyun tetap tidak menyadarinya. Donghae melihat Kyuhyun mengajak Johee pergi ke tempat lain lagi. Pria itu bahkan hendak menggenggam tangan Johee dan entah mengapa Donghae merasa kesal melihatnya. Ia bahkan tak sadar kalau kakinya sudah melangkah mendekati pasangan itu.

“Johee shi, bagaimana kalau kita kesana?” tanya Kyuhyun sambil menunjuk ke salah satu wahana. Kyuhyun berusaha menggenggam tangan Johee tapi dengan segera Johee menepisnya. Hal itu tentu saja membuat Kyuhyun kaget dan membuat Johee merasa sangat bersalah. “Mianhe,” jawab Johee.

“Annyeonghaseyo, Kyuhyun shi. Apa aku sudah boleh membawa Johee pulang? Aku lupa memberi tahu kalau ada proyek yang harus aku dan nona Johee kerjakan,” ujar Donghae yang tiba-tiba muncul diantara mereka berdua. Kyuhyun dengan tampang yang masih bingung langsung mempersilahkan Donghae. Sedangkan, Johee yang bingung dengan kemunculannya yang tak sesuai skenario hanya diam saja. Donghae sampai harus menarik dan menggenggam tangan Johee untuk membawa gadis itu pergi.

Kyuhyun terheran melihat mereka berdua berjalan menjauh darinya sambil berpegangan tangan. Gadis itu baru saja menepis tangannya seakan apa yang ia lakukan itu sangat agresif sedangkan ia bisa dengan santai menggandeng tangan Donghae. Bukankah mereka hanya sahabat? Tanya Kyuhyun dalam hati.

“Johee, kakimu sakit, kan? Lepaskan saja sepatumu,” seru Donghae yang masih terdengar oleh Kyuhyun.

“Tapi, kalau aku lepas sepatuku kau bisa malu berjalan denganku,” balas Johee.

Donghae tak menjawab apapun dan langsung berlutut untuk melepas sepatunya. “Jika aku berjalan tanpa sepatu seperti ini, apa kau malu berjalan dengan sahabatmu ini?” tanya Donghae.

“No,” jawab Johee. “So do I,” balas Donghae.

Kyuhyun melihat mereka berdua seperti pasangan yang aneh. Mereka tanpa malu berjalan dengan telanjang kaki di hadapan banyak orang. Kyuhyun hanya bisa tertawa melihat tingkah dua orang itu. Ia tak tahu akan menjadi apa perasaannya ini nantinya, tapi untuk saat ini ia ingin tahu seperti apa gadis itu. Ia pasti bukan gadis sembarangan jika bisa menjadi sahabat yang begitu berharga untuk seorang Lee Donghae yang setahu Kyuhyun bukan orang yang terlalu gampang bergaul.

*****

“Hei, lihat jendelamu,” ujar Johee melalui saluran telepon pada Donghae.

Donghae menuruti Johee dan membukai tirai jendela apartemennya.  Begitu ia membukanya, ia bisa melihat Johee ada tepat di ruang apartemen seberangnya. “Hai,” sapa Johee melalu telepon sambil melambaikan tangannya pada Donghae.

“Kau mengikuti sampai sini?” tanya Donghae usil.

Apartemen tempat mereka tinggal saat ini di desain dengan sebagian dinding yang terbuat dari kaca. Untuk di apartemen Donghae, dinding kaca tersebut ada di ruang tamu sedangkan untuk Johee dinding kaca itu ada di kamarnya.

“Aniya, dari dulu aku sudah tinggal di sini dan ruangan yang kau tempati itu milik perusahaan kami dan selalu jadi tempat menginap tamu-tamu kami,” balas Johee. “And, nice body,” ujar Johee asal yang menyadarkan Donghae kalau ia saat ini masih shirtless.

“Yaa, Shim Johee!” seru Donghae pura-pura marah.

“Aku tidur dulu, bye. Terima kasih mengenalkanku dengan Cho Kyuhyun dan sudah menolongku tadi. Besok giliranmu,” ujar Johee lalu menutup saluran teleponnya. Ia langsung menggeletakkan tubuhnya di tempat tidur tanpa menutup tirainya lebih dulu sehingga Donghae masih dapat melihatnya dengan sangat jelas.

Ponsel Johee kembali berbunyi dan Johee mengangkatnya dengan malas. “Waeyo?” tanya Johee sedikit kesal.

“Buka matamu,” ujar Donghae. Dengan setengah hati Johee membuka matanya dan mendapati Lee Donghae sudah tidur di atas sova yang ia geser mendekati jendela itu.

“Kau sudah kusediakan tempat tidur queen-size tapi memilih tidur di sova itu?” sindir Johee dengan senyumnya.

“Aku bisa melihatmu dengan jelas dari sini. Jadi, kalau kau drooling, aku akan tahu,” balas Donghae yang disambut tawa oleh keduanya.

*****

Keesokan harinya Donghae akan bertemu dengan perempuan yang Johee rekomendasikan, Song Hyejin, anak dari rekan kerja Johee. Sayangnya, Johee tak bisa menjadi stalkernya seharian ini karena ia ada urusan pekerjaannya.

“Eng, Lee Donghae sajangnim, kau tampak tidak bersemangat apa masakannya tidak enak?” tanya Hyejin pada Donghae. Saat ini mereka sedang dinner di apartemen Donghae.

Donghae menggeleng sebagai jawaban. Menurutnya makanan ini sangat enak. Ia hanya tidak bersemangat karena seharian ini ia tidak bertemu dengan Johee. Sejak ia bertemu Johee di Amerika ini, rasanya tidak ada hari tanpa Johee di kehidupannya.

“Apa kita bisa mengganti makanan ini?” tanya Hyejin pada salah satu koki yang ada di ruangan itu bersama mereka.

Koki itu membungkuk untuk meminta maaf. “Kami tidak bisa mengantinya, nona, karena semua yang terhidang disini adalah masakan nona Shim Johee khusus untuk tuan Lee Donghae dan nona Song Hyejin,” jawabnya.

“Semuanya?” tanya Donghae tak percaya yang dijawab dengan anggukan oleh koki itu.

Hyejin memperhatikan Donghae dengan seksama. Ia bisa melihat ekspresi Donghae yang tiba-tiba berubah menjadi riang. “She’s unbelievable,” gumam Donghae sambil mencoba setiap makanan yang terhidangkan di meja makan.

“Donghae shi dan Johee shi bersahabat sejak lama?” tanya Hyejin memulai pembicaraan mereka lagi.

“Not really. Kita menjadi sahabat dalam waktu yang sangat singkat tapi dia memberikan impact yang sangat baik untukku,” jelasnya.

“And, you’re not love her?” tanya Hyejin yang membuat Donghae tersedak.

“Ani, perasaanku hanya sebatas sahabat,” balas Donghae walaupun ia merasa ada yang janggal di dalam hatinya. Entahlah itu apa.

“Tapi, saat kau bercerita tentangnya, atau saat kau memikirkannya, kau jadi sangat bersemangat dan matamu berbinar,” ujar Hyejin lagi.

“Tentu saja, karena dia sahabatku,” balas Donghae. Ia bisa melihat Hyejin tidak puas dengan jawabannya. “She will do everything for someone she love, dan dia tidak seperti itu padaku. Jadi, dia tak mencintaiku dan aku tak akan menumbuhkan perasaan itu padanya. Aku sangat menyukai hubungan kami sebagai sahabat sekarang dan aku tak mau salah satu dari kami merusaknya,” jelas Donghae dengan tegas.

*****

“Apa masakanku enak?” tanya Johee melalui saluran teleponnya. Mendengar suara gadis itu, Donghae langsung menghampiri sudut apartemen yang akhir-akhir ini menjadi spot favoritnya. Begitu ia duduk di sova yang sekaligus menjadi tempat tidurnya itu, ia dapat melihat Johee dengan jelas di kamar apartemennya.

“Enak sekali. Kau banyak belajar rupanya dari noonaku,” ujar Donghae. “Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanya Donghae balik.

Johee hendak menceritakan semuanya tapi suaranya tertahan saat ia mendengar sebuah suara wanita di apartemen Donghae. Aneh sekali, menurut Johee. Baru saja ia merasa semua kebahagiaannya hilang dalam sekejap dan tiba-tiba hatinya terasa sakit. Seakan ada yang menusuknya.

“Ah itu milik Johee, kapan itu ia lupa mengembalikannya,” jawab Donghae pada gadis itu.

“Apa itu?” tanya Johee yang tak begitu mengerti pembicaraan Donghae dengan gadis itu.

“Bukumu, tertinggal di rumahku enam tahun yang lalu,” balas Donghae yang membuat Johee takjub.

“Kau berbicara dengan siapa?” tanya wanita yang Johee dengar suaranya tadi. Kini ia dapat dengan jelas melihat wanita itu dari kamarnya.

“Johee,” jawab Donghae riang. Lagi-lagi Johee merasakan perasaan aneh itu. Ia mengesampingkan perasaannya dan langsung menyapa gadis itu dengan lambaian tangannya.

“Bagaimana gadis itu?” tanya Johee setelah Donghae mengantar Hyejin keluar dari apartemennya.

“She is extremely beautiful. Dia juga feminim, smart, dan enak diajak bicara. Dia..”

“Totally different from me. Kau mau bilang itu, kan?” sela Johee yang hanya ditertawakan oleh Donghae. “But, you’re still the best. Aku pikir, aku tak bisa menemukan sahabat lain yang sebaik dan seseru kau, Shim Johee,” jawab Donghae.

“Aku mau tidur,” balas Johee lalu menutup teleponnya. Donghae menatap teleponnya heran karena ia menyadari bahwa nada bicara Johee tiba-tiba menjadi dingin. Gadis itu bahkan menutup tirai jendelanya.

Sedangkan, Johee sedang bingung dengan dirinya sendiri. Saat Lee Donghae mengatakan mereka bersahabat, entah mengapa hatinya terasa sangat sakit. Rasa yang sama seperti saat ia mengetahui hubungan Siwon dan Hamun dulu. Apa yang terjadi pada dirinya? Ia tak mau menyimpulkan semuanya dengan mudah. Ia tak mau merasakan sakit yang dulu pernah ia rasakan.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Ringtone khusus untuk orang yang sangat Johee kenal. “Waeyo, Lee Donghae sajangnim? Aku bilang aku mau tidur,” ujar Johee bahkan sebelum Donghae sempat menyapanya.

“Kenapa kau tiba-tiba marah? Buka tiraimu, aku tak bisa melihatmu. Kau membuatku kesepian di negeri orang. Kalau kau seperti itu, aku akan kembali ke Korea besok,” ujar Donghae.

Johee yang mendengar ancaman itu, perlahan-lahan membuka tirainya. Sedikit demi sedikit sampai ia bisa melihat Donghae sudah tertidur di sova kesayangannya itu sambil tersenyum padanya. “Hai, Johee,” sapa Donghae.

Johee tersenyum pada pria itu. Sebagian hatinya menyesal sudah marah pada pria itu padahal ia tak salah apa-apa padanya. “Mianhe, mungkin aku hanya lelah,” kata Johee.

Donghae menatap Johee hangat. “Tidurlah, aku akan menyanyi untukmu,”

Johee mendengarkan lantunan lagu yang Donghae nyanyikan. Sangat manis, menurut Johee. Ia bahkan tak sadar kapan dirinya mulai tertidur tapi ia tahu pasti kalau malam itu adalah malam terindah selama enam tahun belakangan ini.

*****

Berkat hubungan persahabatan Donghae dan Johee, akhirnya perusahaan Johee berhasil bekerja sama dengan perusahaan Donghae. Untuk mengurus proyek itulah, keberadaan Donghae di Amerika diperpanjang sampai sekitar dua bulan. Hari ini, sebulan sudah berlalu sejak pertemuan pertama mereka. Mereka masih sangat bahagia menjalani hubungan persahabatan mereka. Belum ada yang berubah atau tepatnya, mereka yang belum sadar akan perubahan itu.

“Hai, Donghae ah,” sapa Kyuhyun pada pria yang sedang berdiam diri di depan Baskin Robin. “Sedang apa kau disini?” tanya Kyuhyun lagi. Saat ini mereka sedang berada di salah satu pusat mall yang ada di dekat apartemen Johee.

“Jalan-jalan. Kau sendiri?” tanya Donghae tak begitu bersemangat.

“Aku sedang..” suara Kyuhyun terputus saat ada gadis yang menghampirinya sambil asik memakan es krimnya. “..menemani Johee,” lanjutnya.

“Donghae ah!” seru Johee girang melihat pria itu ada di depannya. Donghae pun demikian. Wajahnya yang tadi muram kini berubah cerah. “Kau bersama Hyejin?” tanya Johee.

“Iya,” balas Donghae dan tak lama kemudian gadis itu muncul.

“Bagaimana kalau kita pergi bersama-sama?” usul Donghae yang sangat disetujui oleh Johee walaupun dari tampang Hyejin dan Kyuhyun, mereka tidak menyukai ide tersebut. Tapi, mau bagaimana lagi? Melihat wajah Donghae dan Johee yang gembira membuat Hyejin dan Kyuhyun mau tak mau mengikuti keinginan mereka.

Selama mereka bersama, Kyuhyun memperhatikan Donghae dan Johee secara seksama. Ia ingin membuktikan prasangka yang ada di dalam hatinya selama ini. “Johee,” panggil Kyuhyun di tengah dinner kedua pasangan itu.

“Waeyo?” tanya Johee. Perhatian Donghae dan Hyejin pun tertuju pada Johee dan Kyuhyun. “Itu, ‘disini’ ada bekas saos,” ujar Kyuhyun sambil menunjuk bibirnya sendiri. Johee mengusap bibirnya seperti yang Kyuhyun beritahu namun bekas itu masih ada.

Donghae tertawa melihatnya. “Yaa, Shim Johee, di sebelah kiri bibirmu bukan sebelah kanan,” ujarnya. Ia hendak mengulurkan tangannya untuk menghapus noda itu tapi ia kalah cepat dari Kyuhyun yang duduk di depan Johee. “Kau lucu sekali,” ujar Kyuhyun setelahnya.

Melihat perbuatan Kyuhyun dan mendengar ucapan pria itu pada Johee, entah mengapa tiba-tiba Donghae merasa semua kegembiraannya lenyap. Moodnya jadi negatif dan ia merasa kesal tiap melihat Johee tertawa bersama pria itu, bukan dirinya.

“Eng, Donghae shi, apa kau mau mencoba ini? Ini sangat enak,” ujar Hyejin sambil hendak menyuap Donghae. Melihat itu, tiba-tiba saja Johee menahan tangan Hyejin. “Jangan,” ujarnya. Kyuhyun, Donghae, dan Hyejin sekarang menatap Johee. “Donghae alergi seafood,” ujar Johee.

Donghae yang hatinya masih merasa kesal, sama sekali tidak mempedulikan Johee. “Dia tak tahu apa-apa tentang diriku,” balas Donghae. Ia justru menuntun tangan Hyejin untuk menyuapkan makanan itu.

Mendengar perkataan Donghae dan melihat sikapnya itu membuat Johee merasa kesal sekaligus sedih. Ia berdiri dari tempat duduknya lalu melemparkan sebuah kotak kecil yang sudah Johee bungkus dengan rapi pada Donghae. “What’s wrong with you?” hanya kalimat itu yang Johee ucapkan sambil mengusap air matanya yang mulai mengalir. Ia segera meninggalkan tempat itu diikuti dengan Kyuhyun.

Donghae terdiam di tempatnya sambil membuka kotak yang Johee lemparkan. Di dalamnya terdapat sebuah jam yang Donghae pernah ceritakan pada Johee dan sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun yang Johee design sendiri. Donghae tertawa kecil melihat itu semua. Menertawakan kebodohan gadis itu dan dirinya sendiri. “What’s wrong with me?” tanyanya pada dirinya sendiri.

“Itu karena kau menyayanginya. Lebih dari seorang sahabat,” ujar Hyejin. “Kau bersemangat saat membicarakan Johee. Kau bahagia saat bersamanya. Kau bisa menjadi dirimu sendiri saat bersama gadis itu. Kau rela melakukan apapun untuknya dan kau merasa cemburu saat ada pria lain yang menyentuhnya. Kau masih mau bilang kau tidak mencintainya? Semua orang bisa melihatnya, ya, mungkin kecuali kau dan Johee sendiri,”

*****

“Gwencana?” tanya Kyuhyun sambil menawarkan saputangannya untuk Johee.

Johee mengambil saputangan itu dan mengusap air matanya. “Gwencana, nanti setelah kucuci akan kukembalikan padamu,” balas Johee ditengah isakannya.

Kyuhyun tertawa melihat gadis itu dan bertekad mengatakan apa yang ada dihatinya. Menurutnya saat ini adalah moment yang pas. “Johee shi, aku mulai tertarik padamu,” ujarnya yang membuat Johee heran.

“Waeyo?” tanya Johee.

“Karena kau lucu,” balas Kyuhyun dengan tulus. Melihat ketulusan itu, Johee hanya bisa diam saja. Ia sangat nyaman berada bersama Kyuhyun tapi itu semua tak lebih dari sekedar teman.

“Aku tahu perasaanmu. Kau hanya menganggapku teman dan kau sudah punya orang lain di hatimu,” ujar pria itu setelah melihat tampang bersalah Johee.

“Eng, itu benar, tapi aku belum menyukai siapa-siapa,” balas Johee.

Kyuhyun tersenyum pada Johee. “Kau belum sadar kalau dirimu menyukai, ani, menyayangi Lee Donghae? Dan itu lebih dari sekedar sahabat,” jelas Kyuhyun. “Kau bahagia saat bersamanya, kau merasakan sakit saat ia bersama wanita lain atau bersikap tak peduli padamu. Kau tak bisa menggandeng tanganku tapi kau menggenggam tangannya dengan sangat erat. Kau bisa menjadi dirimu sendiri saat kau bersamanya. Kau rela melakukan apapun untuknya. Kau menyayanginya, Johee. Kau mau berdalih kau tidak menyayanginya? Bahkan siapapun bisa melihatnya, ya, kecuali kau dan Donghae,”

*****

Johee tak bisa diam di apartemennya. Hatinya merasa tak tenang sebelum ia minta maaf pada Donghae dan memastikan perasaannya pada pria itu. Ia sudah mengambil barangnya dan hendak keluar dari apartemennya. Begitu ia membuka pintu, ia mendapati Donghae sudah berdiri di depannya dan hendak menekan bel apartemen Johee.

“Hai,” sapa Donghae lembut.

“Hai,” balas Johee masih dengan tampang heran.

“Kau mau kemana?” tanya Donghae.

“Ke tempatmu, untuk minta maaf,” jawab Johee. Donghae tertawa mendengar hal itu. “Aku kesini untuk melakukan hal yang sama,” balas Donghae.

“Bagus, kita berdamai sekarang,” balas Johee yang disambut senyum akward oleh keduanya. Suasana hening sesaat, mereka hanya saling pandang dan semuanya terasa sangat canggung. Tidak seperti mereka yang biasanya.

“Boleh aku memelukmu?” tanya Johee yang membuat Donghae sangat kaget. “I want to know something,” ujar Johee saat melihat reaksi Donghae.

Aneh, sangat aneh. Mereka sudah sering memeluk satu sama lain sebelumnya. Akan tetapi, mengapa saat ini semuanya terasa berbeda. Jantung Donghae sudah berdetak sangat kencang sejak Johee melontarkan pertanyaan itu. Apalagi setelah Johee memeluknya dengan lembut. Ia merasakan kenyamanan, kedamaian, dan jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tak tahu mengapa tubuhnya bereaksi seperti ini. Ia juga tak tahu kalau Johee sedang mengalami hal yang sama seperti dirinya.

Johee bisa merasakan darahnya berdesir saat ia memeluk Donghae dan pria itu membalas pelukannya. Hatinya bahagia karena menurutnya ia jatuh cinta pada orang yang sangat pantas dicintai. Ia bahkan sempat memaki dirinya karena butuh waktu yang lama untuk menyadari perasaannya ini dan ia tak mau menunggu lama untuk jujur pada perasaannya.

“Lee Donghae, saranghae,” ujar Johee tulus dari dasar hatinya. Ia tak tahu perasaan Donghae, tapi ia berharap pria itu memiliki rasa yang sama.

Donghae terkesiap mendengar pernyataan Johee itu. Ia tak bisa mengambil kesimpulan apa yang sedang hatinya putuskan. Ia seperti terhipnotis oleh mata yang menatapnya lembut saat ini. Ia sadar, ia telah memulai sesuatu yang akan mengubah hubungan mereka selama ini. Ia mengecup Johee dengan lembut. Sangat lembut. Sampai akhirnya bayangan masa lalu Johee yang sangat mencintai Siwon muncul di benak Donghae.

Ia melepaskan bibirnya dan menjauhkan Johee darinya. “Kau tak tahu apa yang kau bicarakan Johee. Kau hanya menyayangiku sebagai sahabat. Kau mungkin terbawa oleh suasana dan kebersamaan kita selama sebulan ini. Kau tak mencintaiku seperti kau dulu mencintai Siwon,” ujar Donghae dengan emosi yang tertahan di lubuk hatinya.

Donghae merasakan sakit di relung hatinya. Ia menyayangi gadis itu, tapi ia masih meyangsikan perasaan Johee padanya. Ia sudah melihat bagaimana dulu Johee berjuang untuk Siwon. Akan tetapi, ia belum melihat Johee yang dulu dihadapannya. Ia merasa kesal dan cemburu. Ia merasa hatinya dipermainkan oleh gadis itu walaupun mungkin Johee belum tahu perasaan Donghae yang sesungguhnya.

“Aku menyayangimu, Lee Donghae. Dengan tulus, seperti dulu aku pernah mencintai Siwon. Kau tak bisa merasakannya?” tanya Johee menuntut kepercayaan dari Donghae.

“Mengapa kau harus mengatakan semua ini Johee?” tanya Donghae. Ia mendorong Johee di dinding koridor lantai apartemen Johee. Perasaan membuncah dihatinya membuat air matanya mengalir. “Apa kau tak sadar, kita tak bisa kembali seperti dulu setelah ini?” tanya Donghae.

Johee menghapus air mata Donghae walaupun kini ia juga menangis. Pernyataan yang Donghae ucapkan membuat hatinya tersakiti. Ia tak tahu harus bagaimana apabila ia tak bersama Donghae lagi bahkan sebagai seorang sahabat. Dulu, butuh waktu tiga tahun bagi Johee untuk melupakan semua masa lalunya di Korea. Berapa tahun lagi harus ia habiskan untuk melupakan pria ini kelak?

“Jangan berkata seperti itu. Aku mohon. Apa kau tak bisa percaya pada perasaanku?” tanya Johee sekali lagi.

“Aku bahkan tak bisa menganggapmu sebagai sahabat lagi, Shim Johee,” jawab Donghae dengan dingin lalu pergi meninggalkan gadis itu. Berulang kali Johee meneriakan nama Donghae dalam tangisnya tapi pria itu bahkan tidak menoleh ke belakang.

Johee segera masuk ke dalam kamarnya dan menuliskan besar-besar sebuah tulisan I Love You. Ia ingin Donghae percaya. Ia menunggu Donghae di kamarnya, tempat mereka biasa saling menatap melalui batas kaca itu. Begitu Donghae masuk apartemennya, ia melihat apa yang Johee tuliskan namun ia bersikap seolah-olah tak peduli. Ia bahkan menutup tirai itu dan mengacuhkan setiap telepon dan sms dari Johee.

Johee tak berhenti menangis di kamarnya. Malam itu adalah malam terburuk selama enam tahun ini. Ia hanya berharap, keesokan paginya ia terbangun, semuanya kembali seperti semula. Tak apa jika Donghae tak mencintainya, ia hanya ingin bisa selalu berada dekat dengan pria itu walaupun hanya sebagai sahabat.

*****

“Apa anda perlu melakukan hal ini?” tanya asisten kepercayaan Johee, Paman Kang.

“Ya, aku harus. Agar Johee sadar kalau perasaannya padaku bukan cinta. Mungkin hanya karena kita terlalu lama bersama,” jawab Donghae sambil membereskan barang-barangnya.

“Anda bukan melakukan ini karena kepentingan anda, kan, tuan? Mungkin anda merasa takut? Takut jika anda mengalami hal yang sama seperti yang pernah nona Johee alami dulu?” tanya Paman itu dengan segala kebijaksanaannya.

Tubuh Donghae bergeming sesaat. Apa yang Paman itu ucapkan seakan menusuk sanubari Donghae. Seakan hal itu benar namun Donghae tak mau mengakuinya.

“Tak apa. Kurasa ini ide yang bagus jika kalian memisahkan diri untuk sejenak. You will realize something important later, misalnya seperti selama ini tuan salah menilai nona Johee dan menyesali keputusan anda,” ujar Paman itu lagi.

Donghae menghela nafas panjang setelah mendengar setiap nasehat dari Paman Kang. “Paman, mobil untukku sudah siap?” tanya Donghae. Ia segera turun dari apartemen itu dengan di kawal oleh beberapa bawahan Johee.

*****

Johee terbangun dari tidurnya bersamaan dengan sinar matahari yang masuk melalui kamarnya. Begitu matanya menyesuaikan diri, ia melihat tirai apartemen di seberang Johee terbuka lebar namun ia sangat terkejut saat melihat sova itu sudah tak ada. Perasaan Johee tidak enak, ia bahkan tidak menganti piyamanya dan langsung pergi ke apartemen Donghae. Dugaannya benar, pria itu sudah meninggalkannya.

Dengan air mata yang bercucuran, Johee segera menelpon sopirnya untuk membawanya segera ke bandara. Johee yakin Donghae akan kembali ke Korea. Begitu ia tiba di bandara, ia segera berlari menuju terminal keberangkatan beberapa pesawat yang menuju ke Korea pada pagi hari itu. Ia tak tahu Donghae naik pesawat yang mana, tapi Tuhan seakan berpihak padanya. Tepat sebelum Donghae melangkah memasuki ruang tunggu penumpang, ia melihat pria itu.

“Lee Donghae!” teriak Johee. “Kajima,” teriaknya lagi. Lee Donghae terdiam di tempatnya mendengar namanya dipanggil.

“Kajima, Donghae ah,” ujar gadis itu lagi. Ia tak peduli jika semua orang memandangnya sekarang. Orang pasti menganggapnya gila. “Mianhe, Mianhe, aku yang salah. Tak apa jika kau tak percaya padaku. Tak apa jika kau tak mencintaiku dan mencintai orang lain. Aku tak akan marah padamu. Aku hanya ingin selalu bersamamu, walaupun hanya bisa sebagai teman. Jangan pergi, aku mohon,” ujar Johee.

Air mata Donghae terkumpul di pelupuknya mendengar setiap perkataan yang diucapkan gadis itu. Ia bisa membayangkan bagaimana tampang kacau Johee sekarang. Ia bisa mendengar isakan tangis gadis itu.

Johee sangat berharap pria itu menoleh dan melihatnya. Ia sangat berharap pria itu kembali padanya dan memeluknya. Akan tetapi, pria itu justru berjalan menjauh darinya tanpa menoleh untuk melihat gadis itu.

Hati Johee sangat sakit melihat sikap Donghae itu. Johee meneriakan nama Donghae berulang kali dan berusaha menembuh batas pengantar yang ada di bandara itu. Beberapa petugas sudah memegang Johee tapi Johee terus berusaha memberontak dan meneriakan nama Donghae berulang kali. Ia berteriak histeris memanggil nama itu. Orang-orang yang melihat kejadian itu sedari tadi ikut meneteskan air mata. Mereka tak bisa membayangkan rasa sakit yang Johee alami dalam hatinya.

*****

Dua bulan telah berlalu sejak kembalinya Donghae ke Korea. Selama dua bulan itu, ia merasakan hatinya sangat kosong dan hidupnya tak bahagia. Ia merasakan dirinya kehilangan sesuatu yang ia sendiri tahu apa: Shim Johee. Selama dua bulan ini, gadis itu tak pernah absen dari pemikirannya. Saat ia bangun tidur, saat ia makan, saat ia bekerja, saat ia mau tidur, gadis itu selalu muncul. Ia menyesal sudah membohongi dirinya sendiri. Ia sadar kalau ia juga sangat mencintai gadis itu. Tapi, jujur disaat seperti ini tidak ada gunanya. Ia sudah menyakiti Johee, sama seperti Siwon dulu menyakitinya.

“Anakku, apa kabar?” tanya ibunya Donghae begitu melihat bahwa tamu yang datang ke rumahnya adalah anak laki-lakinya.

“Aku baik, Bu,” balas Donghae. Hari ini, entah mengapa, ia ingin sekali bertemu dengan ibu dan ayahnya. Ia merasa bisa mendapat suatu jawaban disini walaupun ia tak tahu apa yang ia cari.

“Donghae ah, ayo sini, kita makan malam sekalian,” ujar ayah Donghae dari bagian dalam rumah.

Donghae duduk di tempat yang biasa menjadi tempat duduknya. Ia sedikit tercengang dengan masakan-masakan yang ada di meja makan mereka. “Banyak sekali ibu memasaknya? Aku tak bilang aku akan datang, kan?” tanya Donghae.

“Kebetulan saja,” jawab ibu Donghae dengan senyum yang dipaksakan. Donghae melihat itu, tapi ia tak tahu alasannya mengapa kedua orang tuanya saat ini tampak tak bahagia.

“Aku makan ya,” ujar Donghae. Saat ia menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya, ia merasakan air matanya terdorong keluar dari tempatnya. Ia sangat mengenal rasa masakan yang khas ini. Ia meletakan sumpitnya dan berbicara, “Apa tadi Johee kesini, ayah ibu?” tanyanya.

Pertanyaan sederhana itu membuat ibu Donghae tak bisa menahan dirinya lagi. Ia menangis tersedu-sedu. “Aku tak mengerti mengapa ada gadis sebaik dirinya dan aku tak tahu mengapa harus kau lagi yang menyakitinya,” ujar ibu Donghae di tengah isakannya. Ia sedih sekaligus marah pada anaknya.

Ayah Donghae beranjak sesaat lalu kembali ke meja makan itu dengan sebuah kotak kecil. “Johee kesini, untuk meninggalkan ini,” jelas ayah Donghae.

Donghae segera mengambil kotak itu dan membukanya. Ia melihat ada sepasang cincin yang sangat indah disana. Bersamaan dengan itu, Johee juga meninggalkan sebuah surat untuk Donghae.

“Johee meminta kami untuk memberikanmu kotak ini setelah engkau memiliki seorang gadis yang benar-benar kau cintai. Tapi, kami tidak tega pada gadis itu,” ujar ayah Donghae.

Donghae membuka surat itu. Ia bisa melihat ada beberapa bagian tulisan yang kabur dan terdapat bekas air. Ia bisa menduga bahwa itu adalah air mata Johee.

“Hai, Donghae ah. Apa kabar? Sudah lama kita tidak pernah bertemu, ya. Saat kau membaca surat ini, aku yakin kau sudah menemukan wanita yang baik untuk kau cintai. Aku harap kau bahagia bersamanya, ya! Ini hadiahku untuk pernikahan kalian. Aku turut bahagia untuk kalian berdua. ­― Your bestfriend, The one who always love you, Shim Johee.

Air mata Donghae mengalir setelah ia membaca surat itu. Hatinya sedih melihat pengorbanan Johee yang begitu besar ini untuknya. Ia menyesal tidak mempercayai Johee dari awal dan malah menyakiti hatinya sampai seperti ini. Apa yang Johee lakukan untuk Donghae ini sudah menjadi bukti atas perasaan Johee padanya. Ia merasa tak pantas dicintai oleh gadis seperti Johee tapi ia tahu, jika ia berhenti sekarang, ia sama saja seperti Siwon.

*****

Dua bulan sudah berlalu sejak hari kepergian Donghae dari kehidupannya. Akan tetapi, tak sehari pun pria itu absen dari kehidupannya. Tiap malam, tiap ia mengingat pria itu, air matanya selalu mengalir. Kantung matanya sudah semakin hitam dan tubuhnya sudah semakin kurus. Apalagi ia masih harus tetap mengurus perusahaannya. Ia semakin worka-holic untuk mengalihkan pemikirannya dari pria itu.

Bel apartemennya berbunyi. Ia segera bangun dari tidurnya dan menatap wajahnya di cermin. Menyeramkan, menurutnya. Terutama matanya yang sudah seperti panda. Ia berjalan menuju pintu apartemennya dan membukanya.

“Ada apa Paman Kang?” tanya Johee sambil menggaruk malas kepalasnya.

“Ada tamu yang ingin bertemu anda, nona,” ujar asistennya itu.

“Bukankah paman sudah tahu aku tak ingin bertemu dengan tamu di apartemen..” Suara Johee tenggelam saat ia melihat sosok yang Paman Kang persilahkan masuk.

“Hai,” sapa pria itu.

Air mata Johee mengalir begitu saja tapi ia segera menghapusnya. “You..” Johee melepas sandal rumahnya lalu melemparkan salah satunya pada pria itu. “You completly ass, Lee Donghae! You show up here after months, and you say ‘hey’?” seru Johee sambil melemparkan sandalnya yang lain.

“Paman Kang, aku pinjam ponselmu. Aku mau telepon polisi,” kata Johee.

“Aku tidak membawa ponselku nona,” dalih Paman Kang.

Johee yang emosinya belum terkontrol menarik pria itu menuju kamarnya. “Kau berdiri disini,” ujar Johee yang seperti perintah.

Johee segera membuka lemarinya dan melempari Donghae dengan baju-bajunya. “Kau brengsek, Lee Donghae!” Johee melempar salah satunya pada Donghae. “Kau mempermainkan perasaanku! Untuk apa kau datang disaat aku sudah memutuskan untuk melupakanmu?!” serunya sambil tetap melemparkan bajunya. Donghae hanya diam saja dan menerima semuanya.

“Teruskan saja, Johee. Teruskan. Aku pantas menerimanya,” ujar Donghae yang membuat Johee terus melempar bajunya. Air mata Johee kembali mengalir dengan deras.

“Aku kesini karena aku mau bilang, aku sudah percaya pada perasaanmu,” ujar Donghae.

“Butuh waktu yang sangat lama, ha?!” ujar Johee tak berhenti melempari Donghae.

“Dan aku juga mau bilang, aku mencintaimu,”

“Nonsense!”

“I tell you the truth. I love you, Shim Johee,” tangan Johee yang hendak melemparkan sepatunya pada Donghae, terhenti setelah kalimat terakhir Donghae.

Tangis Johee menderas bahkan tubuhnya tidak sanggup menopangnya lagi. Donghae segera menghampiri Johee dan memeluknya. “Kau jahat, Donghae. Kau jahat,” ujar Johee ditengah isakannya.

“Mianhe, mianhe, Johee. Mianhe,” balas Donghae sambil memeluk Johee dengan erat. “I love you, i love you. Really, love you,” ujar Donghae. Air mata pria itu ikut mengalir saat Johee membalas pelukannya.

*****

“Ayo, tidur sini,” ujar Donghae sambil menepuk-nepuk tempat tidur Johee.

“Aku tak mau tidur denganmu. Kita bahkan belum menikah dan aku belum benar-benar memaafkanmu. You know?” ujar Johee pura-pura marah. “Baiklah,” ujar Donghae sembari turun dari tempat tidur Johee.

Ia medorong sova di kamar itu dan mendekatkannya pada tempat tidur Johee. “Aku disini, dan kau di tempat tidur,” ujar Donghae lalu mengambil posisi tidur di sovanya.

“Ide bagus,” ujar Johee yang disambut tawa oleh keduanya.

Mereka sudah dalam posisi tidur namun tak ada satu pun dari mereka yang rela untuk tidur. Rasanya berjam-jam yang mereka habiskan seharian ini belum bisa membayar rasa rindu mereka selama dua bulan ini. “Aku masih kesal padamu tapi aku juga sangat rindu padamu,” ujar Johee.

Donghae tersenyum mendengar kejujuran Johee dan mengelus kepala Johee lembut. “Apalagi aku,” ujarnya. “You’re beautiful,” ujar Donghae.

Johee tertawa. “Nonsense. Kau sendiri yang bilang Hyejin jauh lebih cantik dariku. Apalagi sekarang mataku sedang seperti panda,” ujarnya.

“You know, this love destroys my sixsense,”

“And make you nonsense,” sela Johee yang membuat keduanya tertawa.

Donghae mendekatkan wajahnya dan mencium Johee dengan lembut. “But this is the truth, i love you, Shim Johee,”