Annyeonghaseyo, i’m back with another ff (buat ren) hehehe hope you enjoy this fanfiction. Makasi banget buat semua yang bersedia membaca hehehe. This fanfiction is sequel of :

Fated To Found You

Cast: Lee Hyukjae, Lee Yeonhee

*****

Some love stories aren’t epic novels. Some are short stories but that doesn’t make them any less filled with love.

*****

Aku keluar dari ruangan ujianku dan langsung menatap langit biru yang cerah. Sayang sekali, langit siang ini tidak sesuai dengan perasaanku. “Hai, Eunhyuk! Bagaimana ujianmu tadi? Kau tampak sangat lesu,” tanya Yesung, teman sekelasku. Ia merangkul pundakku karena kita berteman tapi bukan bersahabat. Aku mengangkat bahuku lemas sambil menyunggingkan senyum tidak ikhlas. Aku memang sedang tidak bisa tersenyum ceria saat ini mengingat baru saja aku gagal menyelesaikan beberapa soal ujianku. “Not really bad, tapi aku menyesal tidak belajar lebih keras kemarin,” kataku.

Kawanku itu menepuk punggungku. “Oh, c’mon man! Just forget about it! Selagi kita masih muda, kita nikmati saja kehidupan kita di kampus ini! Nilai jelek juga tidak apa, kan?” ujarnya.

Aku tersenyum tulus saat ini. Aku tahu, Yesung hanya ingin menyemangatiku tapi aku yang sekarang memiliki standar yang berbeda dengannya. “Ani, aku tidak bisa seperti itu lagi sekarang. Hidupku bukan hanya untuk diriku saat ini, tapi juga untuk masa depanku dan keluargaku kelak,” jawabku yang tampaknya membuat Yesung geram.

Yesung melepaskan rangkulannya. Aku bisa merasakan ia sedang menatapku dengan tampang tidak suka. “Wow, wow, gadis perpustakaan itu memberikan pengaruh yang buruk padamu,” ujar Yesung. Aku sangat tahu apa maksudnya. “Kenapa kau masih bertahan dengan gadis itu? Ia membuat hidupmu tidak sebebas dan semenyenangkan saat kita SMA, you know? Ia membuatmu dijauhi oleh banyak teman-temanmu! She ruined your life since you dating her 3 years ago!” lanjutnya.

Aku terdiam sesaat, menunggu sampai emosi Yesung mereda. “You don’t like her?” tanyaku.

“No, i don’t,” jawabnya dengan jujur. Sayang sekali, menurutku.

“Maybe, it’s because you don’t know about her,” balasku.

“What?” tanyanya tak mengerti.

Aku kembali menatap langit biru itu. Kini aku tersenyum padanya menyadari bahwa hanya dengan membicarakan gadis ini semua perasaan negatifku seperti terangkat. “She is amazing. I love how she makes me feel, like anything is possible, or like life is worth it,” kataku dari dalam lubuk hatiku.

“Bu-but, she is a geek, nerdie, old-fashioned, she is not perfect for you!” balas Yesung belum menyerah untuk meyakinkanku bahwa ia benar dan aku salah.

Kini giliranku yang menepuk pundak Yesung. “Aku juga bukan pria yang perfect untuknya. Kalau dia mau, dia bisa mencari pria yang sama pintarnya dengan dia dan sudah memiliki masa depan cerah. Tapi, ya, dia memilihku. And i think, the perfection of love is that it’s not perfect,” kataku.

Yesung terdiam mendengar semua perkataan yang sudah kukatakan padanya. Aku mengecek jam tanganku dan segera berpamitan pada Yesung. “Aku ke perpustakaan dulu ya, ada buku yang harus kukembalikan,” kataku sambil berjalan meninggalkannya lebih dulu.

“Bilang saja kau rindu pada gadis itu,” teriak Yesung. Aku melihatnya sekarang dan mendapatinya tersenyum padaku. Aku juga hanya bisa membalas pernyataannya dengan senyuman karena apa yang ia katakan memang benar.

Aku melangkahkan kakiku dengan pasti seakan kakiku sudah sangat hafal harus membawaku kemana. Seakan mataku sudah tak sabar ingin melihat senyumnya, seakan tubuhku sudah tak sabar ingin memeluknya. She has slipped under my skin, invaded my blood and seized my heart.

*****

“Aku ingin mengembalikan buku ini,” kataku pada librarian perpustakaan kampusku. Aku menyodorkan buku karya Jay Asher yang sudah kubaca. Gadis itu dengan sigap mengambil buku itu dan segera melakukan tugasnya. Ia bahkan tidak mencoba untuk bertatapan mata denganku.

“Eng, Lee Hyukjae shi, anda telat lima hari mengembalikan buku ini. Jadi, anda akan dikenakan denda sebesar 500 won, ya,” ujar gadis itu dengan ramah.

“Kau tidak seramah ini pada semua mahasiswa, kan?” tanyaku pada gadis itu. Akhirnya, untuk pertama kali dalam sekian menit yang telah terlewati, ia melihatku. In her eyes, i see something more beautiful than the moon.

Gadis itu kini tersenyum lembut padaku. I feel like my heartbeat stop for a second because in her smile i see something prettier than the stars. “You’ve known me, Eunhyuk. Mahasiswa tingkat satu dan dua justru menyebutku Angry-Librarian,” katanya tanpa ada rasa kesal sedikit pun. Ia justru tertawa karena menganggap semua yang menjulukinya dengan panggilan menyebalkan itu sangat lucu.

“Jadi, mana uangnya?” tanyanya sambil menengadahkan tangannya menuntutku untuk membayar kewajibanku.

“Can i pay it with my love, Lee Yeonhee shi?” ujarku menggodanya. Ia tersenyum padaku sambil tersipu malu. Ah, aku sangat menyukai ekspresinya ini tapi gadis ini tidak mudah untuk dikalahkan.

“Wait,” ujarnya. “Aku akan memeriksa buku ini dan jika ada bagian yang terlipat atau robek aku akan menambahkan jumlah dendamu,” ujarnya dengan bahagia. Ia memeriksa buku itu dengan seksama seakan tak membiarkanku lolos dengan mudah. Hey, aku pacarmu, Lee Yeonhee.

Gadis itu tak menemukan apa yang ia cari tapi ia mendapati apa yang harusnya menjadi rahasiaku. “Apa ini?” tanyanya saat ia menemukan selembar kertas di sela-sela buku itu. Aku yang sangat tahu apa itu, berusaha merebut kertas itu dari tangannya tapi Yeonhee justru mengelak.

“Jangan dibaca,” kataku.

Ia tersenyum padaku. “Aku jadi semakin ingin membacanya,” balasnya dengan tampang puas. Ia membuka kertas itu dan terdiam selama beberapa saat.

If my love were an ocean, there would be no more land.
If my love were a desert, you would see only sand.
If my love were a star-late at night, only light.
And if my love could grow wings, I’d be soaring in flight.

“Siapa yang kau bayangkan saat menulis ini?” tanyanya. Pertanyaan yang retoris menurutku.

“Kau,” jawabku jujur.

“Tapi ini tidak akan membuatmu bebas dari tanggung jawabmu untuk membayar denda, Lee Hyukjae shi. 500 won,” kata Yeonhee.

“Arraseo,” balasku. Aku senang ia tidak mengejekku atas apa yang kutulis namun sesungguhnya aku berharap ia memberikan sedikit tanggapan. Ayolah, ia pun tahu aku menulisnya setulus hati sambil memikirkan dirinya. “Ini,” ujarku sambil menyerahkan uangku padanya.

“Gamsahamnida,” balasnya. Ia terdiam sesaat lalu berkata, “Apa yang kau tulis tadi, sangat indah. Kau punya bakat, menurutku,” katanya jujur.

Aku senang setengah mati dalam hati tapi aku hanya mengekspresikannya dengan satu kalimat pendek, “Hadiah untukku?”

“Kau mau kutraktir apa?” tanyanya.

Aku menggelengkan kepalaku. “Aku tak mau ditraktir,” kataku. Aku mendekatkan wajahku padanya lalu mengecup pipinya. “Aku sudah mengambil apa yang kumau,” kataku dan aku senang bisa membuatnya speechless. “Aku menunggumu di bawah, ya,” pamitku padanya.

Aku pun tak bisa menahan diriku untuk tidak tersenyum saat mengingat wajahnya tadi. Meski sudah bersamanya selama tiga tahun dan tentu sudah banyak hal yang kita lalui bersama, setiap kali ia di sampingku, rasanya masih sama seperti saat aku mengenggam tangannya untuk pertama kali di halte dulu.

*****

“Hai, Lee Hyukjae oppa, sedang apa oppa sendirian di kantin?” tanya seorang gadis yang tiba-tiba muncul di hadapanku dan duduk di seberangku sebelum kuijinkan. Gadis itu Park Hyunjin, mahasiswa semester 4 yang berusaha mendekatiku sejak tiga bulan yang lalu.

Aku tersenyum padanya setulus yang aku bisa. “Aku menunggu Yeonhee,” kataku sambil tetap menyesap kopi yang sudah kupesan.

“Apa? Yeonhee, Angry-librarian itu? Apa oppa tidak mau putus aja dengannya?” tanyanya dengan nada yang seakan meremehkan Yeonhee. Untungnya aku masih bisa mengendalikan emosiku. “Ya, Yeonhee si librarian yang kau juluki itu dan asal kau tahu, aku tidak akan pernah putus dengannya,” kataku tanpa mengubah intonasi suaraku.

Hyunjin menatapku geram. “Kau sudah dibodohi olehnya! Ia tak mencintaimu sebesar kau mencintainya. Lihat saja, saat kau dikelilingi gadis-gadis cantik dan lebih sexy darinya ia tak pernah marah padamu. Saat aku merangkul tanganmu, ia hanya diam saja. Kalau ia mencintaimu, ia pasti cemburu!” serunya lalu pergi meninggalkanku.

Sepeninggalan gadis itu, kata-katanya masih terngiang dipikiranku. Sebagian dari diriku berusaha percaya pada perasaan Yeonhee akan tetapi bagian dari diriku yang lain mengatakan bahwa Hyunjin ada benarnya.

“Eunhyuk, kau menunggu lama?” ujar sebuah suara yang menyadarkanku. Aku hanya menggeleng dan kembali sibuk dengan pemikiranku.

“Kau kenapa?” tanya gadis itu padaku. Ia kini sudah duduk di depanku. “Kau tidak seceria tadi,” katanya.

Aku terdiam sesaat dan bertekad menanyakan apa yang menjadi permasalahan dihatiku saat ini. “Tadi Hyunjin disini,” ujarku. Ia menatapku lurus sekarang tapi aku tak tahu apa arti tatapannya itu.

“Lalu?” tanyanya. Sebuah pertanyaan yang diluar ekspektasiku.

“Kau tak cemburu?” tanyaku sedikit kesal padanya. Ia pasti tahu, intonasiku sudah berubah sekarang. Aku menunjukkan padanya kalau aku kesal dengan ekpresiku juga.

“Untuk apa aku cemburu, Eunhyuk?” tanyanya balik.

Jantung berdetak kencang sekarang tapi bukan karena Yeonhee melainkan karena amarahku. Bukan, bukan, bukan itu jawaban yang aku inginkan Lee Yeonhee. Apa ia tak bisa mengerti perasaanku? Aku mengambil tasku dan berdiri dari tempatku. “Aku pulang duluan,” kataku begitu saja. Aku bahkan tidak menoleh ke belakang saat ia memanggil namaku.

*****

Tiga hari telah berlalu sejak pertengkaran kami. Ah, bukan kami, tapi aku. Aku yang menjauh darinya. Aku tidak mengangkat teleponnya, tidak membalas chatnya, tidak mengunjunginya di perpustakaan, dan tidak mengantarnya pulang. Bahkan saat di kampus ia menyapaku, aku berpura-pura tidak melihatnya. Aku rasa, semua itu berhak aku lakukan agar Yeonhee sadar kalau ia salah.

Aku mengunjungi cafe langgananku dan Donghae. Aku bertemu dengan sahabatku itu dan menceritakan semua permasalahanku dengan Yeonhee. Begitu aku selesai bercerita, ia berkata, “Kau gila, Eunhyuk!” seru Donghae sambil memukulku kepalaku dengan tangan kosong. Rasanya sangat sakit, asal dia tahu.

“Yaa! Kenapa memukulku?!” tanyaku kesal sambil mengusap bagian kepalaku yang sakit.

“Apa kau tak sadar tindakanmu sangat childish? Kalau ia tak mencintaimu, sudah dari dulu ia meninggalkanmu. Masih banyak pria lain yang mau dengannya. Aku misalnya,”

“Yaa!” seruku begitu mendengar jawaban Donghae. Pikiranku langsung membayangkan yang tidak-tidak antara Yeonhee dan Donghae. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanku jika itu semua terjadi di dunia nyata ini.

“Tapi nyatanya, gadis itu tetap bertahan padamu, kan? Jika aku memiliki pacar urakan sepertimu, aku pasti akan sangat susah untuk bisa percaya padamu. Namun, hanya gadis bodoh seperti Yeonhee yang mau mencintaimu dan memberikan semua kepercayaannya padamu. Coba kau ingat-ingat lagi, apa pernah sekali saja Yeonhee menyangsikan perasaanmu padanya?” tanya Donghae. Sebuah pertanyaan yang cukup menusuk hatiku. Rasanya aku seperti tertampar dengan pertanyaan itu.

Aku menggeleng lemah. Aku baru diingatkan kalau Yeonhee selalu percaya padaku walaupun aku sering mengecewakannya. “Lagipula, dengan menjauh dari Yeonhee, hal itu tak akan menyelesaikan masalahmu. Yeonhee tak akan tahu apa salahnya jika kau tak menjelaskannya,” kata Donghae. “Aku harap setelah kau pergi dari tempat ini, masalahmu dan Yeonhee bisa selesai,” lanjutnya.

“Hai, Eunhyuk oppa,” sapa sebuah suara memotong pembicaraanku dengan Donghae. Aku menoleh pada sumber suara dan ternyata Hyunjin. Lagi-lagi gadis itu. Ia segera berlari menghampiriku dan seenaknya merangkul tanganku dan bergelanyutan manja padaku.

“Siapa dia?” tanya Donghae padaku. Baru saja aku hendak menjawab, gadis itu sudah menyela. Ia mengulurkan tangannya pada Donghae tapi Donghae tak membalas uluran tangan itu. “Aku Park Hyunjin, calon pacar Eunhyuk oppa. Soon, setelah ia memutuskan Lee Yeonhee sunbae. Kurasa tak lama lagi mereka akan putus, ya kan, oppa?” ujarnya yang membuat Donghae menatapnya malas.

“Bagaimana kau tahu aku disini?” tanyaku pada Hyunjin.

“Dari Yesung sunbae,” jawab Hyunjin. “Ia sangat mendukungku untuk mejadi pacar oppa. Katanya, aku seribu kali lebih baik dari pada Lee Yeonhee sunbae,” lanjutnya. Rasanya aku ingin membawa gadis ini keluar dan menjauhkannya dari kehidupanku dan Yeonhee. Ia seenaknya saja mengatai gadis yang nyatanya beribu-ribu kali lebih baik darinya.

“Jadi, apa yang tadi kalian bicarakan?” tanya Hyunjin lagi pada Donghae dan Eunhyuk. Eunhyuk bisa merasakan tatapan risih dari Donghae dan pengunjung cafe lainnya yang notabene adalah teman-teman Donghae, Eunhyuk, dan Yeonhee.

“Kami tadi sedang membicarakan gadis yang seribu kali dari dirimu,” balas Donghae yang membuat Hyunjin tampak kesal.

“Memangnya ada? Siapa dia?” tanya Hyunjin penuh kepercayaan diri.

“Itu,” kata Donghae sambil menunjuk ke arah pintu masuk cafe ini. Mataku mengikuti arah telunjuk Donghae dan betapa kagetnya aku saat mendapati ada Yeonhee berdiri disana. Ia tetap tenang seperti biasanya dan tetap cantik meskipun ada kantung di bawah matanya. Aku tahu, gadis itu pasti baru saja menangis dan itu semua karena aku. Aku menyesal Yeonhee, aku menyesal.

“Hai, Hyunjin. Sudah puas menggandeng Eunhyuk? Sekarang kau bisa melepaskan tanganmu,” ujar Yeonhee dengan suara yang lembut walaupun tersirat emosinya.

Hyunjin yang masih merangkul tanganku menarikku berjalan mendekati Yeonhee. “Kau bilang gadis ini seribu kali lebih baik dariku?” tanyanya pada Donghae yang masih duduk di tempatnya. Hyunjin menatap Yeonhee dengan pandangan mengintimidasi. Ia menatap Yeonhee dari atas ke bawah lalu ke atas lagi. Setelah itu, ia mendengus meremehkan Yeonhee. “Kau pintar memang, tapi kau tidak cantik dan tidak seksi. Gaya berdandanmu tidak menarik dan stylemu jelek. Tentu saja, jika ada gadis sepertiku mendekati kekasihmu, ia pasti akan memilihku. Sebentar lagi ia juga akan memutuskanmu, iya kan, oppa?” tanya Hyunjin padaku.

Kini semua orang yang ada di cafe ini terdiam menatapku, begitu pula Yeonhee. Aku tahu kalau Yeonhee sangat mencintaiku dari caranya menatapku. She looked at me the way all men want to be looked at by a woman. Aku melepaskan tangan Hyunjin yang dari tadi bertengger di tubuhku.

Setelah itu, aku tahu kemana aku harus pergi. Aku berjalan mendekati Yeonhee dan mencium pipinya. “I love her. You can not take it,” ujarku.

“Kau.. kau pasti sudah menggodanya kan, sampai Eunhyuk oppa tergila-gila padamu?!” seru gadis itu kesal.

Eunhyuk tak bisa menahan emosinya lagi. Ia hendak memberikan pelajaran pada gadis itu tapi Yeonhee menahannya. “Katakan saja semua yang mau kau katakan. Coba saja untuk membuat kami berpisah karena hal itu tidak akan terjadi,” kata Yeonhee. Kini tangannya menggenggam erat tanganku. “I don’t care how hard being together is, nothing is worse than being apart,” lanjut Yeonhee.

“Asal kau tahu, selama ini aku tak pernah marah padamu bila kau bermesraan dengan Eunhyuk karena aku kasihan padamu. Aku tahu Eunhyuk hanya mencintaiku jadi aku hanya ingin memberikanmu kesempatan,” kata Yeonhee yang membuat gadis itu kalah telak. Hyunjin menatap Yeonhee dengan benci lalu pergi meninggalkan cafe itu.

Aku langsung memeluk Yeonhee sepeninggalan Hyunjin. Aku sangat senang dengan semua perkataannya tadi. Teman-temanku di cafe ini bertepuk tangan atas keberanian Yeonhee tadi. Akan tetapi, aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Aku melepas pelukanku dan menundukan kepalaku untuk melihat wajahnya dengan jelas. Aku sangat kaget saat melihatnya menangis. Kugenggam tangan Yeonhee dan aku membawanya keluar dari tempat itu.

*****

Aku membawanya ke halte bus yang tak jauh dari cafe itu. Halte yang memberikan banyak kenangan untukku dan Yeonhee. “Yeonhee waeyo?” tanyaku padanya. Air matanya tak kunjung berhenti.

“Aku tak bisa membayangkan jika apa yang gadis itu katakan menjadi kenyataan. Yang bagian, kau.. akan meninggalkanku,” ujar Yeonhee ditengah isakannya.

“Itu tak mungkin Yeonhee. Kau tahu sendiri kalau aku tak bisa mencintai gadis lain selain dirimu,” ujarku sembari mengusap bekas air mata di pipi Yeonhee. “I never loved you any more than I do, right this second. And I’ll never love you any less than I do, right this second,” kataku pada Yeonhee.

“Lalu mengapa kau tiba-tiba marah padaku dan menghindariku selama tiga hari ini?” tanya Yeonhee kesal menuntut jawabanku.

Aku terdiam sesaat. Semua yang Donghae katakan padaku tadi sangat benar. Aku sangat childish dan aku sudah menyesalinya. Akan tetapi, untuk jujur pada Yeonhee setelah aku menyadari kesalahanku membuatku merasa malu. Ia pasti akan mengatakan hal yang sama seperti Donghae. “Kenapa kau melakukannya?” tanya Yeonhee lagi.

Aku menghela nafasku. Yeonhee berhak tahu yang sesungguhnya. “Aku pikir kau tak mencintaiku lagi karena kau tak pernah cemburu pada gadis-gadis disekelilingku,” kataku.

Aku sudah siap untuk ditertawakan tetapi tenyata reaksi Yeonhee berbanding 180o, Yeonhee justru terdiam. “Kau bodoh jika berpikir aku tidak mencintaimu. Aku sangat mencintaimu dan tentu saja aku cemburu, bahkan saat Hyunjin hanya merangkul tanganmu. Selama ini aku selalu merasa cemburu, merasa inferior, merasa takut suatu saat kau akan berpikir mereka jauh lebih baik daripadaku,” ujarnya yang membuat aku senang, terkejut, tak percaya.

“Aku mencintaimu dan selalu ingin kau bersamaku. Aku tak ingin kau menganggapku menyebalkan dengan melarangmu bermain dengan teman-teman perempuan yang ada di sekelilingmu. Aku tak mau kau meninggalkanku,” ujar Yeonhee.

Aku sangat senang mendengar semua kejujurannya saat ini. Aku langsung memeluk gadis itu dan berjanji dalam hatiku bahwa aku tidak akan menyangsikan perasaannya lagi dan tidak akan membuatnya khawatir lagi. “Mianhe Yeonhee, aku sudah tidak percaya padamu dan membuatmu sedih seperti ini,” ujarku dengan tulus.

Yeonhee membalas pelukanku. Ia berkata, sebuah kalimat yang sangat manis menurutku dan aku tak akan pernah melupakannya. “No matter what has happened. No matter what you’ve done. No matter what you will do. I will always love you. I swear it.”

Dan kini, aku mengatakan apa yang hatiku rasakan. “I wanted to tell you that wherever I am, whatever happens, I’ll always think of you, and the time we spent together, as my happiest time. I’d do it all over again, if I had the choice. No regrets,”

“Aku pegang perkataanmu,” kata Yeonhee sambil memberikan senyuman terindahnya padaku.

Hari itu, detik itu, aku sadar, perjalananku dan Yeonhee masih sangat panjang. Masih banyak yang akan kualami bersamanya dan semakin hari permasalahan itu pasti semakin berat. Namun, aku yakin pada diriku dan Yeonhee. No matter what happen, no matter where I went, I always knew my way back to her. She is my compass star.”

END