Aku mendengar eomma dan appa sedang tertawa cekikikan. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan tapi yang pasti mereka sedang dalam mood yang bagus. Mood yang kuperlukan sekarang. Aku mengetuk pintu kamar mereka.

 

“Nuguseyo?” Suara appa terdengar dari dalam.

 

“Na-ya,” jawabku.

 

Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan aku melihat appa berdiri di hadapanku. “Aigoo, apa yang buat my princess malam-malam datang kemari? Apa kau tidak bisa tidur? Humm?” Tanyanya yang tanpa susah payah menggendongku. Ia membawaku ke tempat tidur dimana eomma yang sedang tersenyum lembut menatap kami berdua.

 

Appa duduk di tempat tidur bagian kanan dengan aku di pangkuannya. Untuk ukuran anak perempuan umur 6 tahun aku cukup besar tapi Appa tidak pernah merasa keberatan jika harus menggendongku atau memangkuku atau mengangkatku. Aku tidak tahu apa itu karena ia terlalu sayang padaku.

 

Appa memelukku dan meletakkan kepalanya di bahuku, memberi tahu bahwa aku akan aman bersamanya. Sedangkan eomma berbaring miring di sebelah kami. Tangan kanannya digunakan untuk menopang kepalanya sedangkan tangan kirinya mengelus lembut pipiku. “Kenapa kau belum tidur, sayang? Apa ada yang mengganggumu?” Tanyanya.

 

Aku selalu bertanya-tanya mengapa setiap kali aku mempunyai masalah, eomma adalah orang pertama yang merasakannya tanpa perlu aku menceritakannya. Ia akan selalu bertanya lebih dulu padaku hanya dengan melihatku.

 

Aku menganggukkan kepala. Aku tahu ini bukan masalah besar untuk eomma dan appa tapi bagiku ini cukup penting. Aku tidak bisa tidur gara-gara hal ini dan itu sangat mengganggu.

 

“Apa yang mengganggumu? Coba ceritakan pada eomma,” kata eomma dengan lembut menghilangkan keraguanku untuk menceritakan segalanya.

 

“Besok aku ujian musik. Not balok. Eomma tahu betapa bodohnya aku soal musik kan? Membedakan doremi saja aku tidak bisa.” Aku mulai menceritakan kegelisahanku.

 

“Kau sudah belajar?” Tanyanya lagi dengan tenang.

 

“Sudah. Aku belajar sebisaku. Aku bahkan telah berlatih dengan Oppa tapi hasilnya sangat parah. Oppa saja menyerah mengajariku,” aduku.

 

Eomma tersenyum lembut kepadaku. Ia membelai kepalaku dengan penuh kasih sayang. Aku bisa merasakan betapa besar cinta kasih eomma untukku. “Kira-kira untuk ujian besok, kau bisa dapat nilai berapa?” Tanyanya. Eomma terlihat sangat santai.

 

“40. 30 mungkin,” jawabku berharap bahwa aku bisa mendapat nilai di atas 0.

 

“Jakkaman,” kata eomma lalu pergi mengambil sesuatu di lemarinya. Ia mengambil rapor tengah semesterku. Dengan seksama ia melihat hasil-hasil sekolahku sampai dengan pertengahan semester ini. “Tidak jelek. Hanya kelas musikmu saja yang parah.”

 

Aku menatap eomma dengan heran. Bagaimana dia bisa tetap tenang padahal anaknya nyaris mendapat nilai 0 untuk kelas tersebut. “Iya tapi aku takut. Aku takut besok tidak bisa menjawab dan satu kelas akan mengejekku bodoh. Aku tidak mau diejek bodoh, eomma,” ujarku.

 

Eomma tertawa sambil mencubit pipiku. Aku tahu ia gemas tapi rasanya tetap sakit. Untung Appa cepat tanggap untuk segera mengelusnya. “Coba tanya Appa, apa tidak bisa musik itu artinya kau bodoh?” Kata eomma.

 

Aku menengok pada Appa untuk mendapatkan jawaban. Appa menggelengkan kepalanya lalu mencium pipiku. “Tidak semua orang memiliki keahlian yang sama, sayang. Kau mungkin tidak bisa musik tapi kau sudah diakui dunia memiliki bakat di dunia modelling dan fashion. Kau lupa piala-piala yang berjejer di kamarmu? Apa teman-temanmu ada yang memiliki piala sebanyak itu?” Tanya Appa.

 

“Apa ada teman-temanmu yang pernah mendapatkan tepuk tangan dari orang-orang terkenal di New York?” Timpal eomma.

 

Aku mengingat piala-piala di kamarku yang mungkin jumlahnya ada ratusan. Aku mendapatkannya dari lomba-lomba modelling di seluruh dunia. Aku bahkan dipuji sebagai model cilik paling berbakat saat berada di Paris dengan eomma. Sebuah rumah fashion ingin mengontrakku untuk menjadi modelnya tapi karena aku masih terlalu kecil, eomma tidak setuju kecuali mereka mau melakukannya di Korea.

 

“Coba kau pikirkan lagi. Teman-temanmu yang bisa membedakan doremifasol itu apa pernah bertemu istri Presiden?” Tanya Appa.

 

Aku menggelengkan kepalaku.

 

Eomma tersenyum. “Kau tidak bisa musik bukan berarti kau bodoh, sayang. Kau bisa hal lain yang belum tentu orang lain bisa lakukan. Tidak semua hal harus bisa kita lakukan karena Tuhan menciptakan kita seperti itu,” kata eomma.

 

“Tapi Oppa bisa melakukan semuanya. Ia bisa matematika, bahasa Inggris, menyanyi, olahraga. Oppa bisa semuanya. Apa yang Oppa tidak bisa?” Tanyaku mengingat Oppa yang bisa melakukan segalanya sampai-sampai ia menjadi murid kesayangan di sekolah.

 

“Oppa tidak bisa bertemu dengan orang banyak. Dia tidak suka keramaian. Dia tidak bisa jadi pusat perhatian. Kalau kau sudah pasti ratunya kalau soal perhatian. Kau senang bertemu orang baru kan? Oppamu tidak,” jawab eomma. Ia tampaknya sangat mengenali aku dan Oppa.

 

“Nah sekarang coba kau bayangkan kalau semua orang di dunia ini bisa segala hal? Dunia pasti tidak akan seindah ini,” kata Appa. “Contohnya saja dirimu. Kalau kau bisa matematika, menggambar, bahasa, komputer, buat apa sekolah? Kan sudah bisa, jadi tidak ada yang perlu mengajari. Tapi kau tidak punya teman. Nanti jadi di rumah saja. Apa tidak bosan?”

 

“Pasti membosankan,” sahutku. Aku membayangkan setiap orang bisa melakukan apa saja seorang diri, pasti tidak enak. Sibuk sendiri, tertawa sendiri, susah sendiri. Sama sekali tidak menyenangkan.

 

“Nah dunia itu memang seperti itu. Setiap orang punya kekurangan dan kelemahannya masing-masing yang harus disyukuri. Tidak akan ada yang menyalahkanmu kalau besok nilai musikmu dapat 0 karena memang bukan disitu keahlianmu. Eomma tahu kau sudah berusaha tapi tetap tidak bisa. Eomma tidak akan marah. Eomma sudah tahu kau tidak berbakat musik dari bayi jadi eomma santai-santai saja. Kau kan bisa mengembangkan bakatmu yang lain. Tidak usah khawatir,” kata eomma membuatku lega.

 

“Kalau besok ada yang mengatai kau bodoh karena tidak bisa membaca not balok, diamkan saja. Kau tahu tidak, Presiden kita itu juga tidak mengerti doremifasollasido? Dia tidak bisa membedakan 1 ketuk , 2 ketuk, setengah ketuk dan berbagai jenis istilah musik lainnya. Tapi dia bisa membuat negara kita maju pesat dan dikenal seluruh dunia dengan kebijakan kemajuan teknologi. Hebat kan?” Kata Appa menambah ketenangan diriku untuk menghadapi ujian kelas musik besok.

 

“Jadi aku boleh dapat nilai jelek besok?” Tanyaku memastikan. Aku sudah tidak khawatir jika besok aku dikatai bodoh karena aku adalah yang paling pintar di bidangku, modelling. Tapi aku masih takut kalau eomma dan appa melihat nilai 0 di rapotku.

 

“Kau ini masih berumur 6 tahun tapi berpikirnya sudah seribet ini. Hiiih,” kata Appa sambil menggigit pelan hidungku. Mungkin ia gemas denganku. “Iya, kau boleh dapat nilai jelek. Khusus kelas musik.”

 

“Dan eomma tidak terima alasan malas atau ngantuk atau tidak bisa kalau kau mau mengembangkan bakat modellingmu. Deal?” Tambah eomma. Ia menjulurkan tangannya ke hadapanku. Tampangnya sangat serius saat ini.

 

Aku menyalam tangannya dengan tangan kecilku ini. “Arraseo,” jawabku dan eomma langsung menyerbuku dengan ciuman-ciumannya.

 

“Anak gadisku yang pintaaaaaar. Eomma sayang padamuuuu!!!” Serunya.

 

Appa tertawa melihatku mengusap seluruh wajahku yang habis dicium eomma. Tapi bukannya membantuku, Appa malah menambahinya.

 

“Appaaaa!!!” Protesku karena ia tidak berhenti menciumiku.

 

Appa tertawa. Ia mengangkatku dari pangkuannya dan menidurkanku di antara dirinya dan eomma. “Ayo kita tidur sekarang. Besok kita harus bangun pagi untuk sekolah. Selamat malam, my princess. Selamat tidur,” ucap Appa kemudian mengecup keningku.

 

Appa tidur di belakangku sambil memelukku yang lebih memeluk guling karena lebih empuk dan lebih kecil daripada badan Appa. Eomma tidur menghadapku, membelai rambutku sebagai salah satu ritual yang bisa membuatku tidur lebih cepat dan lebih nyenyak.

 

Aku tidak tahu ini benar atau tidak. Ini hanya pemikiranku. Aku rasa sewaktu Tuhan menciptakan aku, memutuskan menurunkan aku ke dunia, Ia melihat eomma dan appa. Tuhan mungkin berpikir hanya mereka berdualah yang paling pas untuk merawatku dan aku sangat bersyukur dengan keputusan itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku berada di antara eomma dan appa yang akan memarahiku jika mendapat nilai 0 untuk musik atau yang akan melarangku untuk berlenggak lenggok di atas catwalk dengan baju-baju bagus kesukaanku. Aku bersyukur memiliki appa dan eomma sebaik dua manusia yang sedang tidur mengapitku. Aku bersyukur sewaktu Tuhan menciptakanku, Ia memikirkan kebahagiaanku. Terima kasih, Tuhan.