Jihyo mengamati gedung di depannya, sudah 1,5 tahun dia tidak menginjakkan kakinya di sana. Pada akhirnya, mau tidak mau dia harus kembali ke gedung dingin ini.

“Get ready, Choi Jihyo,” ujarnya pada dirinya sendiri.

Ia melangkahkan kakinya masuk ke gedung SM Entertainment, ia mengamati security di depan lobby sudah berganti, begitupula dengan resepsionis. Namun tetap saja orang-orang itu mengenalinya dan membiarkan dia masuk. Baiklah, rambut lilac ini tidak membantu.

Jihyo dengan mantap melangkahkan kaki ke ruangan dimana dulu Super Girls selalu berkumpul, hingga kini juga. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum ia membuka pintu. Ia tidak mau pertemuan pertamanya dengan para member berantakan karena para unnie dan dongsaengnya sadar kalau ada yang tidak beres dengannya.

“Annyeoooong!” Seru Jihyo berlari memeluk Hamun yang paling dekat dari pintu. “Hamun-ah, kau tidak kangen dengan unniemu ini?”

“Unnie!” Seru Hamun memeluk Jihyo. “Rambutmu jadi ungu begini?”

“Ya! Kau ini tidak punya tata krama langsung menyapa yang lebih muda!” Ujar Hyejin murka. Jihyo menyeringai, ia tau leadernya masih kesal karena Jihyo melarang siapapun menjemputnya di airport.

“Unnie~,” ujar Jihyo manja. “Mian, jangan marah-marah nanti kau cepat tua hihi,” seru Jihyo memeluk Hyejin.

Hyejin paling tidak bisa melihat si evil second magnaenya mulai bertingkah. “Sana kau ke unnie-unniemu yang lain.”

Jihyo langsung berlari secepat kilat ke arah MinAh dan HyunAh yang sedang di make up.

“Omo! Hyonnie, kenapa rambutmu ungu seperti itu?” Tanya HyunAh.

“Lilac unnie! Lagipula warna rambutku tidak seheboh reaksi kalian saat melihat rambutku!” Erang Jihyo.

“Kau ini dasar! Sana make up dulu. Mukamu terlihat tidak terawat selama di U.S,” seru MinAh.

Jihyo dengan manis duduk di kursi dan membiarkan dirinya diurus oleh para stylishnya. Ia tau semua member merasa ada yang aneh pada dirinya. Percuma juga ternyata menyembunyikannya.

“Jadi, hari ini kita akan membicarakan MV terbaru kita?” Tanya Jihyo.

“Kau ini bisa-bisanya setenang itu membicarakan pekerjaan. Kau tidak cerita mengapa kau tidak mau dijemput oleh kami?” Seru Hyejin, ia sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Jihyo. Bahkan Hyung Oppa kesayangannya saja tidak ia perbolehkan menjemputnya.

“Unnie, aku hanya tidak ingin menyusahkan kalian,” Jihyo menggigit bibirnya. “Waktu aku pulang ke Korea untuk rekaman aku juga tidak dijemput oleh kalian kan?”

“Choi Jihyo, itu kan berbeda. Waktu itu memang Director Choi menyuruh kami untuk langsung datang ke studio dan supir SM yang langsung menjemputmu,” ujar Hyunah.

“Sama saja unnie. Jangan marahi aku terus siiih,” Jihyo menggembungkan pipinya. “Sebulan lagi kita akan mengeluarkan album full kedua kita, yeaaay!”

Hyejin menghela napas. Lebih baik ia serahkan Jihyo ke Kyuhyun.

+++

Kelima gadis itu bergegas memasuki ruangan Director Choi. Hyejin masuk paling awal, diikuti MinAh dan HyunAh. Jihyo menyuruh magnae masuk duluan, ia malas mendengar ocehan ayahnya yang sudah seminggu sejak kedatangannya ke Korea untuk mengganti warna rambutnya.

“Directo Choi,” ujar Hyejin memberi salam dan membungkukkan badannya.

“Super Girls, silahkan duduk,” ujar Direktur Choi.

Jihyo menutup pintu ruangan, ia berjalan paling terakhir menuju sofa. Namun ia hampir kehilangan keseimbangan saat melihat sesosok namja yang duduk di samping ayahnya. Si pemilik bayangan panjang!

“Super Girls, kurasa kalian semua sudah kenal dengan Kim Woobin. Harus kuakui ia adalah anak muda yang hebat dalam meniti karirnya sebagai aktor,” puji Director Choi.

Woobin tersenyum, “Tidak Director, saya lah yang seharusnya memuji kebesaran SM Entertainment dan totalitas Super Girls dalam bermusik. Saya salah satu fans mereka.”

‘Ini ayah dan namja itu seperti appa dan calon menantu sih. Daritadi puji-puji membuat muntah.’ Pikir Jihyo.

“Choi Jihyo,” panggil Director Choi membuyarkan lamunan Jihyo.

“Ne, Director,” jawab Jihyo yang akhirnya harus menatap ayahnya.

“Kudengar para member memberikan saran agar kau menjadi pemeran utama perempuan di MV terbaru.”

“Jeongmal? Pemeran utama?,” Jihyo memandangi keempat member lainnya, meminta penjelasan dan pertolongan. Ia tidak mau jadi lawan main Woobin.

“Maaf bila saya menginterupsi, Director Choi. Namun saya rasa Jihyo-ssi merupakan pilihan yang tepat untuk menjadi lawan main Kim Woobin-ssi. Apalagi sudah 1,5 tahun para Goddess tidak melihat Jihyo,” ujar Hyejin.

Hati Jihyo mencelos saat mendengar Hyejin unnienya berkata seperti itu. Ia melirik ke Woobin yang sepersekian detik mengeluarkan senyuman devilnya. Itu senyuman yang sering Jihyo lihat di drama-drama Woobin. Tidaaaak!

“Baiklah, sudah diputuskan Jihyo akan berpasangan dengan Woobin untuk dua MV terbaru Super Girls,” ujar Director Choi.

“DUA?”

“Kau keberatan, Choi Jihyo?” Director Choi menatap tajam anaknya.

Jihyo menggeleng terpaksa.

“Baiklah, kurasa sebaiknya kalian berenam melanjutkan pembicaraan ini di ruangan Super Girls. Saya menunggu hasil kerja kalian. Dan Choi Jihyo, ganti warna rambutmu.”

Super Girls dan Woobin memberi salam kepada Director Choi dan melangkah keluar ruangan. Jihyo mempercepat langkahnya menyamai Hyejin.

“Unnie, kau mau balas dendam ya?” Bisik Jihyo. Ia masih merasa tatapan Woobin selalu mengikutinya.

“Mian dongsaengku. Kami hanya sedikit kesal dan akhirnya menumbalkanmu. Sekarang kami sudah senang lagi,” terdengar suara kemenangan dari mulut Hyejin.

Jihyo menghentakkan kakinya kesal, ia semakin mempercepat langkahnya menuju ruangan Super Girls. Ia tidak mau duduk di samping Woobin.

“Nah, Woobin-ssi. Apakah sudah tau bagaimana konsep MV nya?” Tanya Hyejin membuka pembicaraan.

Woobin membenarkan posisi duduknya,”Pertama kalian bisa berbicara kasual saja kepadaku. Agak aneh rasanya,” ujar Woobin sambil menatap Jihyo. “Dan sebenarnya tadi aku sempat diberitahu oleh Director Choi bahwa ada 2 MV yang saling berhubungan, tentang putus cinta dan jatuh cinta.”

“Romantiiis,” seru MinAh, HyunAh, dan Hamun bersamaan. Jihyo menutup wajahnya melihat tingkah para member.

Brak! Pintu ruangan tiba-tiba dibanting. Kyuhyun dengan wajah merah padam berteriak memasuki ruangan diikuti Sungmin yang setengah berlari.

“Ya! Choi Jihyo! Mengapa kau tidak bilang kepadaku kalau kau putus dengan Sungmin hyung?” Kyuhyun setengah membentak adik perempuannya.

“Kyuhyun-ah, kau mengapa tiba-tiba marah? Jihyo putus dengan Sungmin oppa? APA? JIHYO DAN SUNGMIN OPPA PUTUS?” Seru Hyejin tak kalah keras.

“Itu benar? Apa-apaan ini Hyonnie?” Tanya MinAh.

“Choi Jihyo, Sungmin oppa! Jelaskan kepada kami,” HyunAh ikut terpancing dengan suasana yang tiba-tiba panas.

Semua orang di ruangan berteriak. “Oppa, unnie, di sini masih ada Woobin-ssi,” ujar Hamun. Namun suara magnae tak terdengar oleh semua orang.

Jihyo segera bangkit dari sofa dan menarik tangan Woobin, menyeretnya keluar dari ruangan. Ia bisa mendengar dengan jelas teriakan unnie dan oppanya. Jihyo tidak peduli.

Sebenarnya, menyeret Woobin dari ruangan SG di lantai 3 menuju lantai LG itu terasa amat sangat lama. Jihyo juga tidak tau mengapa ia tidak melepaskan tangan namja menyeramkan ini walaupun di lift.

“Kau tidak mau melepaskan tanganku?” Tanya Woobin.

Jihyo bergeming.

“Ah, sepertinya kau takut kehilanganku ya?” Goda Woobin.

Jihyo hanya melirik kesal ke Woobin.

“Baiklah kalau tidak mau bicara, tapi jangan lepaskan tanganku sebelum aku suruh,” bisik Woobin.

Pintu lift terbuka, Jihyo menarik Woobin menuju lobby. Begitu sampai di depan pintu keluar gedung, Jihyo melepaskan genggamannya.

“Woobin-ssi, maafkan akan ketidaknyamanan hari ini. Sebaiknya pembicaraan untuk MV kita tunda dulu,” ujar Jihyo meminta maaf.

“Ya! Aku bilang kan jangan lepaskan tanganku sebelum aku suruh!” Bentak Woobin. Jihyo merasakan wajahnya memanas. Baru kali ini ia tidak berniat menonjok lelaki asing yang membentaknya.

“Aku akan mengatur ulang jadwal pertemuan. Nanti mungkin pihak SM akan menghubungi agensimu dan memberitahu jadwal lengkapnya,” Jihyo membungkukkan badannya berpamitan, lalu melangkah meninggalkan Woobin.

“Apa kau selalu meninggalkan orang seperti itu?” Tanya Woobin.

Jihyo berbalik, “Apa?”

“Kurasa Director Choi benar, kau sebaiknya mengganti warna rambutmu,” Woobin menghampiri Jihyo.

“Apa?”

“Kurasa warna chocolate cocok untukmu. Kau harus mengganti warna rambutmu jadi chocolate,” bisik Woobin.

“Maksudmu?”

“Iya chocolate. Hangat, manis, dan membuat mood menjadi bahagia. Sama sepertimu,” Woobin mendaratkan tangannya di kepala Jihyo, mengacak-acak dengan lembut rambut lilacnya. Dan sekali lagi, tangan itu membuat seluruh tubuh Jihyo memanas.

+++