“Aku putus dengan Sungmin oppa sudah 6 bulan yang lalu,” ujar Jihyo membuka pembicaraan. Ia menenggak air mineral didepannya.

Jihyo terdiam sejenak, menunggu reaksi para member SG, namun wajah mereka datar, mungkin cenderung ke marah.

“Aku sengaja tidak memberitahu kalian karena aku takut kalian panik.”

“Kau tidak tau bagaimana kami sekarang Choi Jihyo?” Hyejin mengamuk.

Untungnya saat ini mereka berlima sudah berada di dorm, sehingga suara Hyejin bebas mengisi seluruh sudut ruangan tanpa harus ada satpam yang tiba-tiba menarik Hyejin keluar ruangan karena mengganggu ketenangan umum.

“Choi Jihyo! Kau malah membuat kami semakin cemas! Kau tiba-tiba tidak mau kami jemput, kau tiba-tiba tidak membicarakan Sungmin oppa, kau tiba-tiba menjadi sangat pendiam. Kami kira kau kenapa,” keluh HyunAh.

“Hehe, mian unniedeul,” Jihyo memasang tampang super menyesal yang sayangnya tidak membantu sedikitpun.

“Kau ini masih bisa tertawa!” Seru Hyejin.

“Unnie, aku tau kalian marah padaku. Tapi aku ada alasan kuat mengapa mengakhiri hubunganku dengan Sungmin oppa,” ujar Jihyo.

“Apa? Setauku diantara kita berlima, kau dan Sungmin oppa yang paling tidak ada masalah,” tanya MinAh.

Jihyo menghela napas sejenak. “Itulah sebabnya. Sungmin oppa selalu menganggap masalah apapun bukan masalah yang besar, dia selalu berusaha menuruti kemauanku. Dia juga selalu berusaha tidak menyusahkanku. Seolah-olah apapun masalah dan ketakutannya aku tidak boleh tau.”

“Aku ingin dibutuhkan oleh Sungmin oppa, sayangnya dia tidak pernah menunjukkan kalau dia membutuhkanku. Dia selalu mementingkanku dibanding dirinya sendiri,” beber Jihyo.

Jihyo bisa melihat keempat member Super Girls bingung. Ia melanjutkan ceritanya.

“Tak lama saat aku di U.S, aku berbicara padanya kalau aku ingin hubunganku dengannya go public. Ia bilang ia tidak bisa berbicara sekarang karena ia sibuk.”

“Hyonnie,” sela MinAh.

“Aku menunggunya. Namun ia tidak pernah menyinggung soal topik itu. Aku bilang padanya bagaimana kalau kami berdua meminta pendapat para member Super Girls dan Super Junior akan hal ini. Namun ia tetap diam,” Jihyo mulai merasa luka di hatinya yang mengering mulai terkoyak lagi.

“Aku memutuskan menyerah, mungkin aku saja yang banyak merengek. Namun saat aku tau kabar bahwa Yoona unnie dan Seunggi oppa berpacaran, aku mulai merengek lagi kepada Sungmin oppa. Namun dia malah membentakku karena tidak mungkin satu agensi mengaku berpacaran selama hampir 3 tahun.”

Hamun memberikan tissue ke Jihyo, tanpa ia sadari matanya sudah sembab. “Sudah unnie, lebih baik kita istirahat. Besok kan kita akan bertemu Woobin-ssi untuk membicarakan project.”

Jihyo menggeleng, “Kurasa semenjak saat itu Sungmin oppa semakin merasa bersalah kepadaku. Dia tiba-tiba saja menjauh, apalagi muncul kabar go public hubungan Sooyoung unnie, Fanny unnie, hingga Taeyeon unnie. Saat aku tau mengenai hubungan Taeyeon unnie, aku menghubungi Minnie oppa. Aku bilang Taeyeon dan Baek bisa go public, mengapa kita tidak?”

“Sungmin oppa malah memarahiku, dia bilang itu karena mereka sudah terlanju ketauan. Namun aku dan Minnie oppa belum. Puncak kesabaranku sudah habis, aku akhirnya memutuskannya. Kurasa sejak dulu aku memang selalu menjadi orang yang selalu dituruti permintaannya oleh Sungmin oppa, namun kini tidak. Yah, mungkin juga ini karena jalan pikirku berubah semenjak aku di U.S sana,” Jihyo tidak dapat membendung airmatanya.

“Jihyo-ah,” Hyejin memeluk si evil member, “Mian, aku tidak tau kalau seperti itu. Aku hanya takut kau disakiti, dan ternyata benar.”

“Aku takut memberitahu kalian karena pasti kalian akan langsung memarahi Sungmin oppa. Namun sebenarnya ini salahku juga. Sungmin oppa hanya tidak mau mengambil resiko aku dan dia tersakiti jika kami go public, yah begitulah,” Jihyo membuang ingusnya keras-keras.

“Ya! Hyonnie! Kau ini jorok!” Teriak HyunAh.

“Hihihi, aku sengaja unnie. Sudah sudah ah sedih-sedihnya. Aku mengantuuuuk,” keluh Jihyo.

“Yasudah sana tidur. Kau ini kebiasaan tidak pernah serius,” Hyejin memukul pundak Jihyo.

“Hehe, iya iya unnie mian. Eh, sebentar. Jika nanti aku punya namjachingu lagi dan kami meminta restu kalian agar hubungan kami go public bagaimana?”

Keempat member SG terdiam. Beberapa saat kemudian, Hamun membuka suara pertama kali.

“Aku rasa tidak kenapa-kenapa. Itu hak unnie,” ujar Hamun.

“Betul itu memang hak-mu Jihyo,” lanjut HyunAh. “Namun sejujurnya aku sedikit takut bagaimana reaksi para Goddess. Namun apabila mereka benar-benar penggemar kita sesungguhnya, kurasa mereka bisa mengerti dan mendukungmu.”

“Kami akan mendukungmu adik kecil. Kurasa apabila itu terjadi kepada salah satu diantara kami, kau adalah orang pertama yang mendukung untuk go public,” ujar MinAh.

Jihyo melirik ke arah Hyejin yang sejak tadi terlihat berpikir keras.

“Yah, apa mau dikata. Kau kan evil kami. Bagaimanapun dilarang juga tidak bisa,” ujar Hyejin tertawa.

“Aaaaaa, gomawooo unniedeul, magnae! Kalian memang paling mengertiku! Sini aku peluk semuanya!” Seru Jihyo meloncat-loncat kegirangan.

+++

Jihyo memandangi cermin di kamarnya, sepertinya ia harus melakukan sesuatu dengan rambutnya.

“Hamun-ah, jam berapa kita bertemu dengan Woobin?”

“Jam 5 sore unnie, ada apa?” Tanya Hamun yang baru saja bangun tidur.

Jihyo melirik ke arah jam dinding, baru jam 7 pagi. Ini cukup untuk mengganti warna rambutnya.

“Bilang ke unniedeul aku pergi ke suatu tempat. Aku akan langsung ke kantor, oke?” Seru Jihyo sambil meraih handuk dan segera bersiap-siap.

+++

“Perlukah kita menunggu Jihyo?” Tanya Hyejin kepada Woobin. Sudah lewat 10 menit dan Jihyo tidak muncul-muncul di ruangan SG. Hyejin mengetuk-ngetukkan kakinya tak sabar.

“Super Girls, annyeeeooong!” Seru Key membuka pintu ruangan sambil menggeret Jihyo ke dalam ruangan. “Mianhe aku terlambat mengembalikan Jihyo. Ini aku kembalikan!” Key mendorong Jihyo ke arah Super Girls dan Woobin.

Hyejin menatap Key dengan tatapan ‘Kau akan kulaporkan ke Onew karena menculik memberku’. Jihyo hanya bisa meringis melihatnya.

“Unnie, kau mengganti warna rambutmu lagi?” Hamun menyadari perubahan drastis warna rambut Jihyo. Kini rambut panjangnya tak lagi berwarna lilac, melainkan chocolate.

Jihyo tak mau melihat reaksi Woobin, namun ia tau pasti saat ini Woobin sedang tersenyum mengerikan melihat rambutnya.

“Kerjaan Key,” ujar Jihyo sambil menduduki sofa yang kosong, dan pasti sengaja dikosongkan oleh para member SG yang lain, karena tepat disebelah Woobin.

“Yasudah, mari kita mulai saja. Di depan kalian semua adalah konsep MV kita, dan juga scriptnya. Kuharap kalian semua bisa memahaminya. berhubung hari ini sutradara MV kita tidak bisa datang, besok kita akan bertemu lagi dan membicarakannya bersama-sama,” jelas Hyejin.

“Kalau boleh tau, kapan kita akan mulai syuting?” Tanya Woobin.

“Kemungkinan 2 hari setelah bertemu sutradara besok. Aku belum tau apakah kita akan membuat MV satu persatu atau langsung 2 sekaligus. Tapi kuharap di waktu yang sempit ini Woobin-ssi dan Jihyo bisa mendapatkan chemistry yang baik,” lanjut Hyejin.

“I don’t think so,” bisik Jihyo.

Woobin kembali mengembangkan senyumnya. “Jadi hingga kita syuting MV nanti apakah boleh aku meminjam Jihyo? Kupikir baik apabila kami berlatih akting bersama. Dan kuharap sekali lagi kalian tidak perlu nambahkan -ssi di belakang namaku, kasual saja, panggil oppa juga tidak masalah.”

“Kupikir itu ide yang baik,” ujar Jihyo menyela. Ia hampir saja tak bisa menahan tawanya karena semua orang di ruangan itu, termasuk Woobin terpaku dan terkejut akan ucapannya.

‘Kalian pasti pikir aku akan menolak. Ya! Kim Woobin! Kau ingin bermain? Baiklah aku ladeni!’ Pikir Jihyo.

“Ehem,” HyunAh berdeham memecah keterkejutan. “Sepertinya sudah diputuskan semuanya kan, Hyejin?”

Hyejin mengangguk. “Apa kau mau makan malam bersama kami, Woobin oppa?”

Jihyo memasang tampang tidak setuju. Tadi unnie bilang kita mau makan ke restoran favorit SG, tempat makan yang biasanya mereka membawa para kekasih mereka. Itu semacam tempat sakral. Woobin tidak boleh ke sana.

“Boleh, dimana?”

“Di dekat sungai Han, Woobin oppa,” jawab Hamun ragu-ragu melihat ekspresi Jihyo yang sepertinya ingin menselotip mulut Hamun.

“Kajja!” Woobin langsung bangkit dari sofa.

“Eh tunggu, aku tidak tau tempat pastinya. Kau tau Jihyo?” Tanya Woobin.

“Ne, oppa~ kau mau aku ikut di mobilmu saja?” Tanya Jihyo semanis mungkin. Dia sudah tau kemana arah pertanyaan Woobin.

“Baiklah jika kau memaksa.”

“Hah? Siapa yang-,”

“Sudah sudah Jihyo. Kau bersama Woobin, tunjukkan tempatnya,” sela Hyejin. Entah mengapa ia merasa dua orang di depannya ini klik dalam cara yang aneh.

“Hem, ayo pergi,” ujar Jihyo.

“Ne~” ujar Woobin tertawa.

HyunAh dan MinAh tertawa geli. Ini semacam pertama kali mereka melihat Jihyo bersikap seperti itu di depan pria asing. Biasanya Jihyo bersikap konyol seperti itu hanya di depan empat namja, Siwon, Kyuhyun, Sungmin, dan Key.

Hamun menyuruh ketiga unnienya segera ke mobil. “Unniedeul, ayo aku lapar!”

“Ah, mobilku ada di parkiran basement. Kalian duluan saja,” ujar Woobin menggandeng Jihyo. “Kajja!” Seru Woobin senang.

Jihyo hanya bisa bersungut-sungut ditarik Woobin seenaknya ke parkiran.

“Kenapa kau menarikku seenaknya sih?” Tanya Jihyo setelah keempat member sudah tak terlihat lagi.

“Kau sendiri waktu itu seenaknya menarikku,” jawab Woobin santai.

“Hish.”

Jihyo bisa melihat dengan sangat jelas senyuman tergambar di wajah Woobin. ‘Kenapa daritadi ia terus senyum sih?’

Jihyo menghentikan langkahnya, menahan Woobin.

“Ada apa?”

Jihyo mendekatkan dirinya ke Woobin.

“Choi Jihyo?”

Jihyo berjinjit dan merentangkan tangannya menggapai rambut Woobin.

“Kenapa kau suka sekali dengan gaya rambut seperti ini sih? Rambut berdiri seperti ini macam eksekutif muda? Kau lebih cocok seperti ini,” Jihyo mengacak-acak rambut Woobin.

“Kau lupa aku ini The Heir?” Bisik Woobin. Ia menahan napas. Jihyo bisa melihat pipi Woobin mulai memerah.

“Kau lebih cocok dengen poni lempar seperti ini,” Jihyo mengelus kepala Woobin sebelum melepaskan tangannya dari kepala namja tinggi itu. “Nah, kau sekarang lebih terlihat tampan,” seru Jihyo sambil setengah berlari meninggalkan Woobin yang terpaku.

‘Nah, satu sama, Woobin oppa. Itu balasan karena sudah menyuruhku mengganti warna rambutku.’

++++

Selesai juga part 2! Apakah readers setuju part 3 diceritakan dari sudut pandang Woobin? Hihi.