“Shinhye!”

“Ya! Woobin-ah! Kau tidak lihat ini jam berapa?” teriak Shinhye di ujung telepon sana. Woobin melihat jam tangannya, setengah dua belas malam.

“Mian. Aku ada hal penting yang mau ditanyakan, hahaha,” seru Woobin sambil memperhatikan cermin di kamarnya. “Menurutmu rambutku lebih bagus seperti Youngdo di awal-awal The Heirs atau saat episode-episode terakhir?”

“Kau ini kurang kerjaan atau apa sih?” suara Shinhye terdengar putus asa.

“Kau sebagai yeoja mungkin bisa melihat daya tarikku lebih keluar dengan model rambut yang mana.”

“Woobin-ah, kalau kau tidak ada hal yang penting aku matikan teleponnya ya. Bye!”

Klik. Terdengar nada putus dari handphone Woobin. Ia menghela napas.

“Bahkan Shinhye saja tidak membantu. Apa aku tanya Krys saja yah?”

‘Pabo! Krystal kemungkinan besar tau besok syuting MV Super Girls. Dia pasti curiga kenapa tengah malam begini menelpon hanya karena gaya rambut,’ pikir Woobin.

“Apa sebaiknya aku mengikuti perkataan Jihyo?”

Seketika nama itu muncul di pikirannya, seketika pula pipinya bersemu merah.

“Haha, kau ini kenapa Woobin? Nama itu efeknya masih besar sekali untukmu setelah bertahun-tahun,” keluh Woobin.

‘Lebih baik kau tidur saja. Kau pasti tidak mau wajahmu pucat karena kurang tidur saat syuting nanti,’ pikir Woobin.

Woobin mengangguk. “Selamat tidur my devil,” ucap Woobin pada foto yang tersisip di sisi atas cerminnya.

+++

“Woobin oppa, kau terlihat lesu,” ujar Hyejin saat break syuting.

“Aku tidak apa-apa, hanya kurang tidur,” jawab Woobin cepat. Salah dia sendiri juga, ia hanya berguling-guling di tempat tidurnya hingga pagi.

“Baiklah kalau begitu. Kau melihat Jihyo? Daritadi aku cari anak itu tapi tidak ada,” keluh Hyejin.

Woobin menggeleng.

“Hah dasar anak itu! Di saat syuting masih saja kabur. Eh, Jihyo! Kau darimana?” ujar Hyejin melihat dongsaengnya sibuk membawa beberapa cup kopi.

“Tadi aku habis dari kedai kopi sebelah unnie, hihihi. Aku mengantuk. Unnie mau kopi?”

“Boleh,” jawab Hyejin mengambil satu cup kopi dari tangan Hyejin. “Kau sebaiknya bersiap-siap, kita akan mulai take lagi.”

“Ne, unnie,” jawab Jihyo.

Jihyo memperhatikan Hyejin yang berjalan menjauhi dirinya dan Woobin. “Ini, kopi,” tawar Jihyo ke Woobin.

“Kau tidak kelihatan mengantuk,” ujar Woobin memperhatikan wajah Jihyo. Daritadi sepertinya dia yang paling terlihat bertenaga.

“Memangnya aku harus keliatan mengantuk kalau aku merasa mengantuk? Ini minum!”

“Gomapta, Jihyonnie~,” jawab Woobin sambil mengambil cup kopi dari tangan Jihyo.

“Ya! Jangan sok imut,” teriak Jihyo.

“Bukannya aku memang imut?” goda Woobin.

“NO!” tegas Jihyo.

Woobin tertawa geli, rasanya dia mau mencubit pipi yeoja di depannya.

“Kau kenapa sih galak denganku? Dari awal kau seperti tidak suka denganku.”

“Aku tidak galak,” elak Jihyo.

“Lalu?”

“Habis kau menyeramkan,” aku Jihyo polos.

Woobin mengerenyitkan dahi. “Aku, menyeramkan?”

“Iya, tiba-tiba saja kau ada dibelakangku saat aku berjalan menuju café. Tiba-tiba saja kau duduk di ruangan Director Choi. Tiba-tiba saja kau berniat mengerjaiku. Apa-apa aku yang diminta tolong,” cerocos Jihyo.

“Ya! Mobilku mogok makanya aku berjalan kaki ke café. Kebetulan saja waktu itu kau ada didepanku. Lagipula kau memang dari awal terlihat tidak ramah denganku, makanya aku selalu meminta tolong ini itu kepadamu supaya kau mau berbicara denganku. Aku tidak merasa nyaman kalau lawan mainku jutek dan menyeramkan,” ujar Woobin menyeruput kopinya.

“Aku tidak menyeramkan. Kau yang menyeramkan, seperti Youngdo!”

“Mwo? Ya! Choi Jihyo! Umurmu berapa sih? Kau tidak bisa membedakan mana drama mana yang asli?”

“Kau tetap menyeramkan, week!” Jihyo memanyunkan bibirnya.

“Ih anak ini,” Woobin menginjak kaki Jihyo.

“AAW! Woobin oppa!” teriak Jihyo. “Sakit!”

“Nah kau tau itu sakit! Hatiku juga sesakit itu saat kau selalu menghindar dariku!”

Jihyo menghela napas panjang, “Ini, kopi untukmu lagi. Aku tidak suka kopi.” Jihyo menaruh kopi di meja sebelah Woobin lalu melengos pergi begitu saja.

“Ya! Choi Jihyo! Mengapa kau selalu pergi meninggalkanku begitu saja?” teriak Woobin putus asa.

“Woobin hyung, kenapa kau berteriak seperti itu?” tanya Minhyuk yang tiba-tiba ada di depannya.

“Omo! Minhyuk! Kau kenapa tiba-tiba ada di depanku?” Woobin hampir saja menumpahkan kopi di genggamannya.

“Aku sudah ada di sini daritadi. Kau sedang meneriaki Jihyo?” tanya Minhyuk sambil mengambil kopi di atas meja. “Eh ini kopimu? Aku minta ya, hyung.”

“Ambil saja, tadi tidak jadi diminum olehnya,” Woobin memasang tampang lesu. “Eh, kenapa kau tiba-tiba ada di sini?”

“Sedang memberikan semangat untuk lima gadis-gadis itu,” jawab Minhyuk cepat.

Woobin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“HyunAh noona kan kembarannya Yonghwa hyung. Kami suka saling berkunjung kalau ada yang sedang membuat MV,” jelas Minhyuk.

“Oooo,” Woobin baru sadar kalau HyunAh adalah saudara kembar Yonghwa, habis mereka tidak mirip.

“Hyung, lebih baik jaga profesionalitasmu,” seru Minhyuk tiba-tiba.

“Eh?”

“Kelima gadis itu punya karisma tersendiri, dan Jihyo menurutku punya karisma paling jahat untuk kaum kita ini, para namja,” jelas Minhyuk.

“Haha, kau ini apaan sih,” ujar Woobin pura-pura tidak tau.

“Ya kau tau kan, dia yang paling muda akrab dengan para namja. Dia cantik, kekanakan, namun juga gamer, ahli judo, suka film horror dan action. Kupikir hampir semua namja suka mengobrol dengannya. Apabila beruntung mungkin kau akan memutuskan untuk menjadi kakak yang baik untuknya, kupikir itu tidak beruntung juga karena kau lihat saja Siwon hyung dan Kyuhyun hyung suka bertengkar karena Jihyo,” jelas Minhyuk berpanjang lebar.

“Yang paling parah adalah kau jatuh cinta kepadanya. Biasanya Jihyo hanya menganggap para namja yang suka padanya hanya sebagai teman, malah dia suka iseng menjodohkan dengan yeoja lain.”

Woobin mengerenyitkan dahi, “Jangan-jangan kau salah satunya?”

Minhyuk cepat-cepat meminum kopinya, “Tidak. Aku sudah kenal Jihyo sejak pertama kali Super Girls terbentuk. Ya, bisa dibilang aku salah satu namja yang tidak terkena racun evilnya. Tapi aku juga saksi dari beberapa korbannya, hahaha. Apalagi kau kan salah satu fans SG, kurasa kau sangat potensial terkena racunnya. Eh, aku lupa siapa biasmu, hyung?”

Woobin menenggak habis kopinya. ‘Kau telat memperingatkanku, Minhyuk. Aku sudah lama terkena racun.’

“Choi Jihyo.”

++++

“Kau mengubah model rambutmu?” tanya Jihyo mengelus rambut Woobin.

“Kau baru sadar sekarang?” ujar Woobin tersenyum.

“Kukira kau tidak akan mengubah gaya rambutmu,” Jihyo tertawa geli.

“Menurutmu bagaimana?” Woobin meraih tangan Jihyo dari kepalanya dan menciumnya.

“Bagus, aku suka. Ini semacam kau kembali lagi jadi anak muda.”

“Cut!” seru sutradara. “Kerja yang bagus Woobin, Jihyo. Pertahankan! Baiklah, mari kita ambil take scene Hamun dan MinAh!”

“Ya! Kau Kira aku ini umur berapa?” Woobin menjitak kepala Jihyo.

“Awww! Kau ini kan sudah tua!” seru Jihyo. “Oppa, pembicaraan kita tadi tidak terekam kan?”

“Terekam!” jawab Woobin kesal.

“Tadi sutradara bilang kan kita disuruh pura-pura berbicara, berbicara apa saja. Sutradara bilang-“

“Kau ini sudah berapa MV yang kau buat sih?”

“Banyaaaaak,” seru Jihyo merentangkan tangannya hingga memukul perut Woobin.

“Lalu mengapa hal seperti itu masih saja ditanyakan sih? Tidak terekam anak kecil, tidak terekaaam. Mereka menghilangkan suaranya dan mengganti dengan lagumu!”

Jihyo menggembungkan pipinya, “Tadi kau bilang aku jutek dan menyeramkan. Sekarang begitu aku becanda kau malah memarahiku.”

“Itu karena kau baru sadar kalau aku mengikuti saranmu untuk mengubah gaya rambutku,” Woobin berjalan menjauh dari Jihyo.

“Kau suka ramen?” teriak Jihyo.

Woobin berbalik. Seketika memori itu kembali memukul kepalanya.

“Kau suka ramen oppa?”

“Aku kira kita masih punya waktu 30 menit. Tadi aku lihat di seberang ada kedai ramen. Ayo temani aku makan, oppa,” Jihyo menarik tangan Woobin.

“Aku harus kembali ke dorm 30 menit lagi. Aku akan temani kau makan, oppa.”

Kepala Woobin langsung terasa sakit. Tangannya merasa sangat hangat sama seperti waktu itu. Ia bisa menahan sakit kepalanya, berarti ia juga harus bisa menahan kehangatan yang ia dapatkan di tangannya aga tidak hilang.

“Jangan lepaskan tanganku sebelum aku suruh, Choi Jihyo.”

+++

Halo semuanya! Semoga suka dengan part 3 ini. Mari kita doakan juga kesembuhan untuk Woobin oppa yang kecelakaan saat syuting. Get well soon, Woobin oppa!