“Hyonnie,” Siwon membelai kepala adik satu-satunya. “Ayo bangun, kau nanti terlambat.”

“Mmmmh,” Jihyo bergulung dalam selimutnya. “5 menit lagi, oppa.”

“Ayo, tadi Hamun sudah menelponku. Katanya kau ditelpon tidak menjawab,” Siwon meraih handphone Jihyo yang berada di meja kecil samping tempat tidurnya.

“Ya ampun Hyonnie, 30 misscall!” seru Siwon yang membuat Jihyo langsung bangun dari tidurnya.

“Yang benar?” Jihyo merebut handphone dari tangan oppanya.

“Omo! Jam 7! OPPA, MENGAPA TIDAK BANGUNKAN AKU DARITADI SIH!” teriak Jihyo berlari ke kamar mandi.

“Aku sudah bangunkan kau daritadi,” balas Siwon. “Tadi kata Hamun kau akan dijemput oleh Kim Woobin.”

“Hah?” JIyo menjulurkan kepalanya dari pintu kamar mandi. “Apa-apaan? Mereka tidak bisa menjemputku? Atau suruh supir saja, atau oppa saja yang mengantarku!”

“Hamun bilang ia berangkat dengan Hyejin lebih dulu. HyunAh diantar Yonghwa, dan MinAh, aku tidak tau tadi Hamun tidak jelas. Ah, lagipula aku harus pemotretan teaser Mamacita.”

Jihyo membanting pintu kamar mandinya.

“Eh, Kim Woobin itu si pemeran utama dalam MV terbaru kalian kan? Kau dekat dengannya?”

“DEKAT, DEKAT SEKALI!” teriak Jihyo.

“Ooooh, kau tidak pacaran dengannya kan? YA! JIHYO! KAU TIDAK PACARAN DENGANNYA KAN?”

++++

Ting tong!

“Sepertinya itu Woobin oppa, aku berangkat dulu ya, oppa,” ujar Jihyo mengecup pipi Siwon.

“Aku harus keluar,” seru Siwon begitu mendengar Woobin sudah sampai di depan pintu rumahnya.

“Iiiih, mau apa? Tidak, tidak. Kami sudah telat. Oppa, kami harus flight ke Jeju. Kau mau aku telat dan dimarahi seluruh kru?” Jihyo menahan Siwon. Ia tau Siwon mau mengintrogasi Woobin.

“Tapi-“

“Duduk, dan habiskan sarapanmu, okay? Bye oppa!”

Jihyo menggeret kopernya keluar. Ia membuka pintu dan mendapati namja di hadapannya tersenyum sangat riang. “Annyeong, Jihyonnie!”

“Kau bersikap sok imut lagi,” ujar Jjihyo tidak menggubris Woobin. “Kita berangkat sekarang?”

“Kau bersikap dingin sekali. Itu melukai hatiku,” Woobin memegang dadanya berpra-pura sakit.

“Aku suka melukai hatimu~” gumam Jihyo sambil mendorong Woobin ke mobil. Namun ia berhenti begitu ada mobil lain yang berhenti di depan pintu rumahnya.

“Sungmin oppa?”

Woobin berpaling ke Jihyo. “Apa?”

Sungmin keluar dari mobilnya. Ia terlihat terkejut mendapati Jihyo dan Woobin pagi-pagi begini sudah ada di teras rumah.

“Hyonnie?”

“Oppa! Kau mengganti warna rambutmu? Wah, kau juga mengganti gayanya!” seru Jihyo meninggalkan wWoobin menuju Sungmin.

“Kau suka dengan penampilan baruku?” tanya Sungmin.

Jihyo memberikan dua jempol,” Daebak!”

“Hahaha, kau ini selalu berlebihan,” Sungmin mengacak-acak rambut Jihyo. Matanya tidak lepas dari sosok namja tinggi di belakang Jihyo yang menunjukkan rasa ketidaksukaannya.

“Kau mau kemana pagi-pagi begini?”

“Melarikan diri~” Jihyo tersenyum.

“Kami ada syuting di Jeju,” Woobin melangkah mendekati kedua orang tersebut.

“Ah. Aku Lee Sungmin,” Sungmin cepat-cepat memperkenalkan diri, suasana di sini mulai tidak enak.

“Kim Woobin,” Woobin menjabat tangan Sungmin cepat.

“Jihyo, kau segera berangkat, nanti kau ketinggalan pesawat,” Sungmin memeluk cepat yeoja di sampingnya. “Senang bertemu denganmu, Woobin-ssi,” ujar Sungmin masuk ke rumah keluarga Choi.

“Masuk ke mobil, Choi Jihyo!” Woobin berusaha menyembunyikan kekesalannya, tapi ia tidak bisa. Ia membanting pintu mobilnya keras-keras dan melajukan kendaraannya dalam kecepatan penuh.

“Oppa, jangan ngebut-ngebut!” Jihyo segera memasang safety beltnya.

“Kau membuat kita terlambat!” teriak Woobin. “Pakai bermanis-manisan segala dengan namja itu pula,” gumam Woobin.

“Apa?”

“Apanya yang apa?” Woobin mulai menurunkan kecepatan mobilnya.

“Kau bilang tadi aku bermanis-manisan dengan Sungmin oppa?”

“Ne. Aku bingung kau ini sudah putus dengannya tapi masih saja bermanis-manisan seperti itu. Dia memelukmu!” suara Woobin histeris.

“Kurasa tidak ada yang salah jika kami berteman!” teriak Jihyo tidak mau kalah.

“Itu bukan berteman, itu flirting.”

“Kau dengan mantan pacarmu yang model itu juga pasti sering seperti itu?”

“Seperti itu yang bagaimana? Eh, kau tau mantan pacarmu model?” Woobin menengok ke JIhyo penuh kekagetan, dan sedikit kegembiraan.

“Apa?! Kau kira aku tidak tau kalau mantan pacarmu model? Bangga sekali sih punya mantan pacar model! Berita kalian putus ada dimana-mana,” gerutu Jihyo.

“Siapa yang membangga-banggakan? Sepertinya daritadi aku tidak berbiacara mengenai mantanku. Ah, kau pasti cemburu ya?” goda Woobin, ia tertawa geli.

“Siapa yang cemburu! Kau yang mulai duluan!”

Jihyo mengetuk-ngetukkan sepatu bootsnya, suaranya mengisi kesenyapan di dalam mobil. “Aku bosan,” Jihyo memencet audio player di mobil Woobin. Betapa terkejutnya ia mendengar lagu Super Girls terputar.

“Omo! Ini lagu pertama kami saat debut dulu,” seru Jihyo kegirangan. Ia sibuk meyentuh tombol next di layar, semua playlist di mobil Woobin lagu girlbandnnya. “Wooah, oppa! Kau suka Super Girls?”

Woobin mengangguk.

“Kau fans kami?”

Woobin mengangguk sekali lagi.

“Woaaah, daebak! Oppa, daebak!” Jihyo memberikan dua jempol untuk Woobin.

“Apa kau selalu memberikan dua jempol dan kata-kata daebak untuk semua namja, huh?” Woobin melirik ke JIhyo yang sibuk bernyanyi.

“Ngomong-ngomong, siapa biasmu? Kau tidak boleh berkata ‘Kalian semua’. Pilih salah satu!”

Woobin terlihat berpikir, “Menurutmu siapa?”

“Hyejin unnie!”

“Kenapa? Bukan Hyejin bukan biasku.”

Jihyo menengok ke Woobin. “Serius, bukan? Padahal aku kira diantara kami berlima kau paling dekat dengan Hyejin unnie. Kau sering mengobrol dengannya.”

“Kau masih punya dua tebakan lagi.”

Jihyo mengerenyitkan dahinya, “Jadi kita sedang tebak-tebakan? Oke! Game is on!”

“Kuberi tiga clue. Pertama, dia cantik dan menawan.”

“Ya! Kami berlima cantik dan menawan!” Jihyo memukul pundak Woobin.

“Ara, hahaha. Clue kedua, dia punya kakak di dunia entertainment juga.”

“Mmhh, itu berarti MinAh unnie, HyunAh unnie, dan aku. Clue terakhir!”

“Clue terakhir, aku menyukainya 98 persen!” jawab Woobin mantap.

“Apa? Menyukainya 98 persen? Ya! Katanya kau ini fans kami, kau harus menyukai biasmu 100 persen!”

“2 persen itu kesadaranku yang sengaja belum aku berikan kepadanya karena dia sangat jauh denganku. Mungkin kalau dia berada di dekatku, aku benar-benar bisa menyukainya 100 persen. Bagaimana, ka sudah punya jawabannya?”

“Mmmh, kalau begitu bukan aku ya? Kan aku sekarang ada di sampingmu, hahaha. HyunAh unnie! Eh, apa MinAh unnie ya? Clue lain, opppa!”

Woobin tertawa mengenaskan, “Nanti kau akan tau jawabannya.”

++++

Pulau Jeju selalu menyenangkan untuk semua orang, suasananya yang romantis, alamnya yang masih asri, dan tentunya pantai dan bukit-bukit yang membuat mata tidak ingin lepas memandangnya.

“Kita akan naik helicopter menuju lokasi syuting,” seru sutradara memberi aba-aba para kru untuk bersiap-siap. Jihyo melirik wajah Woobin yang tiba-tiba pucat.

“Waeyo, oppa?” goda Jihyo. Woobin menggeleng. Ini sebenarnya ide Jihyo yang meminta pada sutradara untuk bisa pergi ke lokasi dengan helikopter. Jihyo tau Woobin takut naik helicopter.

“Jihyo-ssi, helicopter ini hanya bisa mengangkut 2 orang saja. Kau ingin pergi bersama member yang lain?,” seru salah satu kru.

“Yasudah, aku bersama Woobin oppa saja,” ujar Jihyo. Ia merasa tidak enak begitu melihat Woobin yang mulai gelisah.

“Oke. Jihyo-ssi, Woobin-ssi, itu helicopter kalian,” lanjut kru tersebut.

Jihyo menggangguk dan segera menaiki helicopter. Di dalam hatinya ia berdoa supaya ia tidak terkena karma sudah mengerjai Woobin seperti ini.

“Ini pertama kalinya aku naik helicopter,” teriak Jihyo ke Woobin yang baru saja duduk.

“Ini sudah kesekian kalinya untukku,” balas Woobin.

Jihyo merentangkan tangannya kea rah Woobin. “Oppa, ini kalau kau butuh menggenggam tanganku,” goda Jihyo.

“Bukankah harusnya aku yang berkata seperti itu,” Woobin menyambut tangan Jihyo. Jihyo ingin tertawa karena kini tangannya basah karena keringat Woobin.

Heicopter pun mulai mengudara, Woobin semakin mempererat genggamannya.

“Sebenarnya aku takut naik helicopter,” Woobin memejamkan matanya.

“Aku tau. Ya! Jangan tutup matamu, pemandangannya bagus oppa!”

“Masa bodoh, aku mau segera mendarat,” Woobin menundukkan kepalanya, ia bergumam tidak jelas.

“Kau mau muntah?”

“Tidak,” gumam Woobin. “Waktu itu aku tidak setakut ini karena aku lebih takut melihat wajahku yang ketakutan nanti bisa ditonton di seluruh Korea.”

“Apa?”

“Saat Runningman,” Woobin sekuat tenaga menggenggam tangan Jihyo. Jihyo hampir saja mengaduh kesakitan.

“Aku tau dari Jaesuk oppa kau takut naik helicopter,” Jihyo mencoba menarik tangannya, namun tidak bisa.

“Aku mau pingsan,” keluh Woobin.

JIhyo tertawa, namun ia disambut dengan tatapan memelas Woobin. Biasanya namja itu akan membalas tawanya dengan tatapan membunuh, namun kini dihadapannya hanya seorang anak laki-laki yang ketakutan.

“Mian,” Jihyo benar-benar merasa bersalah akibat ulah jahilnya sendiri. Ia tersentak saat pundaknya terasa berat oleh kepala Woobin.

“Aku pusing.”

Helicopter mulai mendekati daratan. Jihyo menepuk-nepuk tangan Woobin. “Sebentar lagi sampai.”

Begitu helicopter mencapai daratan dan pintu terbuka, Jihyo menuntun Woobin keluar dari helicopter. “Kau baik-baik saja?”

Woobin mengangguk, ia tertawa lemah. “Harusnya ini jadi pengalaman pertamamu yang menyenangkan naik helicopter.”

Jihyo memukul lengan Woobin. “Gomawoyo, Woobin oppa.”

“Untuk apa?”

“Untuk menunjukkan kelemahanmu dan membagi ketakutanmu denganmu,” Jihyo mengaduk-aduk isi tasnya mengambil sesuatu. “Ini, minumlah. Kurasa ini bisa mengurangi pusingmu.”

“Jihyo-ah, kemari!” teriak HyunAh. Jihyo memeluk Woobin dengan cepat sambil mengucapkan cepat sembuh dan berlari kecil menuju para member SG.

‘Kau benar-benar evil, Choi Jihyo. Kau baru saja membuat rasa sukaku menjadi 100 persen,’ pikir Woobin.

++++

“Aku mewakili Super Girls ingin mengucapkan terima kasih untuk sutradara, para kru, Woobin oppa, dan semua yang telah membantu selama 2 hari di Jeju dan selama pengerjaan MV terbaru Super Girls. Terima kasih untuk kerja keras kalian semua, dan selamat bersenang-senang!” Hyejin menutup pidatonya. Semua orang bersorak. Malam ini akan jadi malam yang panjang untuk bersenang-senang setelah kerja keras semua orang hampir selama 2 minggu.

Pesta dipinggir kolam renang itu begitu semarak. HyunAh dan MinAh sibuk mengambil cake berhubung hari ini hari bebas diet yang ditetapkan oleh si leader, Hyejin. Hamun memilih duduk di pojok sambil mengerjakan tugas kuliahnya. Hyejin terlihat sedang bercengkarama dengan sutradara.

Jihyo memandangi keempat membernya sambil sesekali mengaduk cup ramen di meja. “Aku mau daging barbeque~” ujar JIhyo menelan ludah.

“Ini,” Woobin datang dengan sepiring daging yang telah dibakar. “Mana ramenku?”

Jihyo menyodorkan cup ramen yang daritadi ia aduk-aduk. Selama 2 hari ini ia masih merasa bersalah gara-gara helicopter. Jihyo memutuskan untuk bersikap baik ke Woobin.

“Kau tidak makan ramen?” Woobin menyeruput ramennya. Jihyo menggeleng.

“Aku tadi sudah makan 2 porsi ramen, hehe,” Jihyo nyengir begitu melihat ekspresi Woobin yang terkejut.

“Kau makan ramen sebanyak itu?”

Jihyo mengangguk. “Aku mau ambil minuman. Kau mau apa, oppa?”

“Orange juice.”

Jihyo mengangguk dan berjalan menuju stand minuman. Namun kantong celananya bergetar, ia merogoh handhonenya dan berjalan berbalik arah mencari tempat sepi.

“Yoboseyo?”

“Hyonnie! Kau baru mengangkat telponku sekarang!” seru Key di ujung telpon sana.

“Mian my baby! Ada apa?”

“Tidak, aku hanya disuruh mengecek kabarmu oleh hyung oppa mu.”

JIhyo bisa mendengar Key mendengus kesal.

“Loh kenapa hyung oppa tidak menelponku langsung?” Jihyo baru sadar setelah Kyuhyun datang marah-mraha ke ruangan SG, dia tidak pernah bertemu ataupun menelpon Jihyo.

“Dia bilang dia masih kesal denganmu karena tidak jujur kepadanya.”

“Apa? Hanya karena masalah itu saja dia tidak mau menghubungiku? Bilang padanya aku juga tidak butuh dia hubungi!”

“Hey hey, aku tidak mau jadi merpati pos kalian berdua yah. Kau bicara saja sendiri ke Kyuhyun hyung.”

“Tapi dia itu kenapa menyuruhmu yang menghubungiku sih? Dia kan bisa minta laporan dari Hyejin unnie.”

“Nah, masalahnya mereka berdua sedang perang.”

“Apa? Perang? Gara-gara apa?”

“Gara-gara kau.”

“Ih kok gara-gara aku?”

“Itu karena Hyejin noona dan para member SG yang lain berusaha mencomblangimu dengan Woobin-ssi.”

“Eeeeeeh?” Jihyo teriak tak percaya. Namun setelah dipikir-pikir, betul juga sih, dari mengusulkan dirinya menjadi pemeran utama di MV, menyuruh Jihyo bersama Woobin pergi ke restoran, menyuruh Woobin menjemputnya, mengatur tempat duduk agar Jihyo dan Woobin selalu berhadapan atau bersebelahan.

“Lalu apa hubungannya dengan perang antara hyung oppa dan Hyejin unnie?”

“Hyung oppamu itu tidak setuju, tau! Dia bilang itu terlalu berbahaya untukmu!”

“Bahaya apa?”

Key mengambil napas sejenak,”Hyejin unnie dan yang lainnya menganggap mungkin dengan mencombalngimu dengan Woobin-ssi bisa membuatmu sejenak melupakan Sungmin hyung. Namun Kyuhyun hyung beranggapan lain, dia bilang kau malah bisa sakit hati kalau ternyata Woobin-ssi tidak menyukaimu.”

“Tidak masalah, lagipula aku tidak menyukainya,”Jihyo menggigit-gigit kukunya, kebiasannya jika ia berbohong. Namun ia yakin kali ini ia tidak berbohong.

“Kau menyukainya, hanya saja kau tidak sadar karena kau belum berpengalaman.”

“Maksudmu aku belum berpengalaman berpacaran? Key kau amnesia?”

“Kau belum berpengalaman jatuh cinta kepada pria yang bukan tipemu!”

“Memang tipeku yang seperti apa?” Jihyo menantang balik Key. Bisa-bisanya sahabatnya sok mengetahui dirinya lebih baik ketimbang Jihyo sendiri.

“Ya, sepertiku, seperti Sungmin hyung, dan bukannya dulu kau sempat naksir GD hyung? Yah, lucu-lucu penuh ke-cute-an, namja flower boy, dan ingat, tidak tinggi menjulang namun aegyo kami bisa meluluhkan hati para yeoja.”

“Kau narsis!” teriak Jihyo.

“Choi Jihyo, aku berbicara berdasarkan pengalaman. Lagipula aku tau kalau kau sedang menyukai orang lain. Kau akan terus membicarakannya siang malam. Kau tidak sadar selama ini selalu membicarakan Woobin-ssi sampai aku muak?”

“Aku hanya bilang kepadamu semua rencanaku untuk membalas permainan dia serta semua kejahilanku kepadanya, hanya itu!”

“Nah, kau sendiri yang melanggar peraturanmu. Seingatku kau tidak pernah menjahili orang lain kecuali kau benar-benar merasa dekat dengannya atau menyukai personalnya. Kau pun tidak pernah membalas kejahatan orang lain atau apalah namanya yang kau sebut permainan orang lain kepadamu hingga berkali-kali. Kyuhyun hyung takut kau lebih terluka apabila ditolak oleh pria yang bukan tipemu, kau tidak bisa mengadapinya. Aku juga punya perasaan takut seperti itu.”

“Key, kau ini sok tau! Bukan berarti karena kau mantanku jadi kau tau segalanya. Bilang kepada hyung oppa-“

Jihyo menghentikan kalimatnya. Ia meihat Woobin berdiri menatapnya tanpa ekspresi.

“Jadi Key itu mantan kekasihmu juga?” ucap Woobin datar.

“Ih Jihyo, bukan begitu, itu karena aku ini sahabatmu jadi aku memperingatkanmu. Jihyo, kau dengar aku tidak sih? Choi Jihyo!”

Jihyo tak menjawab Key maupun Woobin. Tiba-tiba saja matanya memanas.

“Jadi apa kau selalu begitu ke semua mantanmu? Bersikap baik dan manis? Namun tidak kepada namja yang menyukaimu?”

Jiyo tidak bisa membuka mulutnya. Terlambat, Woobin sudah berjalan jauh darinya kali ini.

++++

Author pun tak mengerti apa yang terjadi dengan Jihyo dan Woobin *guling-guling di aspal*. Terima kasih banyak untuk comment-commentnya. Comment dari kalian semua membuat semangat menyelesaikan series ini. Ditunggu kelanjutannya yaaah *bow*