Hamun sejak pagi tadi duduk disamping Woobin, mulai dari di restoran, helicopter, hingga kini di pesawat menuju Seoul. Unniedeulnya tidak ada yang mau berurusan dengan Woobin yang sedang bermuka masam. Dari malam kemarin Woobin tiba-tiba menghilang, begitu pula dengan Jihyo. Saat pagi, mereka berdua saling berjauhan, biasanya mereka akan bertengkar setiap bertemu, sekarang seolah tidak pernah kenal.

“Maaf ya, Hamun,” ujar Woobin. Suaranya semakin berat, Hamun tebak pasti ini akibat tidak tidur semalaman.

“Hehe, gwenchana oppa. Tapi, kau benar tidak bertengkar dengan Jihyo unnie kan?” tanya Hamun hati-hati.

“Tidak kok, magnae. Kami hanya sedang berselisih pendapat,” Woobin berusaha memejamkan matanya.

Hamun menghela napas panjang. Perjalanan pulang akan sangat amat panjang.

+++

“Unnie,aku tidak ikut pulang dengan kalian ya,” ujar Jjihyo berjalan cepat begitu sampai di bandara. Ia sama sekali tidak melirik ke empat membernya dan Woobin yang berjalan di samping Hamun.

“Jihyo, kau pulang dengan siapa?”tanya MinAh cemas. Ia sangat tau kelakuan Jihyo kalau sedang bad mood, dia bisa saja berbuat aneh-aneh.

Pertanyaan MinAh terjawab begitu mereka melihat Audi warna biru berhenti di depan mereka.

“Aku nanti akan mengantarkan Jihyo pulang,” ujar namja di belakang kemudi setir tersebut. Jihyo langsung masuk ke dalam mobil tersebut.

“Kyuhyun sudah menunggu kita di restoran,” ujar Sungmmin memacu Audinya dengan cepat.

“Menunggu kau maksudnya, oppa? Aku tidak yakin kau mengatakan aku bersamamu.”

Sungmin tersenyum, “Anggap saja ini kejutan untuknya.”

“Kejutan mengerikan,” Jiyo tertawa miris.

“Dia sudah menyatakan cinta kepadamu?” tanya Sungmin.

“Tidak,” jawab Jihyo cepat.

“Lalu mengapa mukamu begitu? Seperti mau memakan orang.”

“Dia bilang kenapa aku selalu bersikap baik dan manis ke semua mantanku namun tidak kepada namja yang menyukaiku,” Jihyo mendengus kesal. Rasanya dia mau menonjok apapun yang ada didekatnya. Namun bisa-bisa dia diturunkan Sungmin ditengah jalan.

“Itu pernyataan cinta namanya,” jawab Sungmin santai.

“Ya! Kenapa sih semua orang mengatakan kalau dia menyukaiku? Mencintaiku? Aku saja tidak suka dia!”

Sungmin membelokkan setirnya, “Kau suka padanya.”

“Ihhhhh, semua orang juga bilang begitu. Aku ini tidak menyukainya!”

“Baiklah, anggap saja kau tidak menyukainya. Namun kenapa kalian berdua bermuka masam tadi?”

“Karena dia tiba-tiba saja muncul ketika aku menelpon Key dan dia tau kalau Key adalah mantan pacarku dan tiba-tiba saja dia bilang seperti itu kepadaku.”

Sungmin menginjak pedal remnya secara mendadak, Jihyo terbanting ke depan. “Kibum mantan pacarmu?”

Wajah Jihyo menunjukkan kehororannya, “Ne. Aku sudah pernah bilang ke oppa, iya kan?” elak Jihyo.

Sungmin melajukan kembali mobilnya, “Tidak, tidak pernah.”

Jihyo bisa melihat kekecewaan tergambar di wajah aegyo king nya, “Saat aku masih di California oppa, itu sudah lama sekali, sebelum Super Girls terbentuk. Aku dengan Key saat ini benar-benar hanya sahabat baik kok.”

Sungmin menepuk tangan Jihyo, “Gwenchana Jihyonnie, Hanya saja kau harusnya jujur dari awal. Pantas saja Woobin murka.”

“Kembali ke topic itu lagi,” Jihyo tertunduk. “Kau ini ada di pihakku atau di pihaknya sih, oppa?”

“Aku tidak di pihak siapa-siapa. Aku di pihakku sendiri,” ujar Sungmin mantap.

+++

Kyyuhyun memandangi dua orang di hadapannya dengan serius. Ia berdeham sejenak mencari suaranya yang tiba-tiba saja hilang begitu melihat mereka.

“Apa kabar, Jihyo?”

Jihyo menekuk wajahnya, “Kau baru sekarang menanyakan kabarku?”

“Kurasa artinya kau baik-baik saja,” Kyuhyun menenggak ocha hangat di depannya.

“Kalian berdua kekanakan,” sela Sungmin. Ia sudah tidak tahan kalau kedua dongsaengnya ini sedang bertengkar.

“Dia yang mulai duluan, oppa!”

“Apa? Kau yang tidak jujur kepadaku!”

“Lalu hanya aku saja yang kau marahi? Kau mendiamkan aku begitu saja? Kenapa Sungmin oppa tidak?”

“Dia sudah memarahiku habis-habisan dan mengusirku dari kamar kami. Aku seminggu harus mengungsi ke kamar Eunyuk dan Donghae,” jawab Sungmin setengah kesal.

Jiihyo menggangguk, “Baiklah, itu cukup parah. Tapi seharusnya dia menghubungiku bukan menyuruh Key jadi perantara!”

“Kau ini! Masih baik aku minta tolong Key untuk menannyakan kabarmu. Dasar kau-“

“Kau yang evil!”

“Kau juga!”

“Ya!” teriak Sungmin. “Jika kalian berdua bertengkar terus seperti ini aku akan lapor Director Choi!”

Kyuhyun dan Jihyo langsung skakmat dibuatnya. Mereka berdua menutup mulutnya rapat-rapat.

“Baiklah. Kyu, kurasa kau harus tau ini. Mengenai rencana Hyejin dan member SG yang lain, kurasa itu berhasil.”

“MWO?!” Kyuhyun memandangi Jihyo dengan tatapan yang belum pernah Jihyo lihat sebelumnya. “Choi Jihyo, Woobin menyukaimu?”

Jihyo memukul meja di hadapannya. “Ada apa sih semua orang menanyakan apakah Woobin oppa menyukaiku atau tidak! Tanyakan saja kepada Woobin sendiri!”

“Dan kurasa Jihyo juga menyukainya,” lanjut Sungmin.

“Aku tidak menyukainya!”

“Hyung, kurasa Jihyo benar-benar menyukainya,” timpal Kyuhyun.

Jihyo menganga tidak percaya mendengar kedua orang ini, sepertinya mereka tidak bisa mendengar suara Jihyo barusan.

“Kalau kasusnya seperti itu sih sebenarnya tidak masalah. Namun aku harus menyelidiki dulu asal usul Kim Woobin, apaka dia namja yang baik untukmu,” jelas Kyuhyun. “Eh, tapi aku dipihakmu, hyung,” ralat Kyuhyun.

“Kukira Jihyo akan lama bisa membuka hatinya ke namja lain, ternyata aku salah,” Sungmin mengambil salmon roll di depannnya dan segera melahapnya. “Apa boleh buat, aku harus bertanding melawan Woobin untuk mendapatkan kembali Jihyo.”

“Mwo? Kalian berdua ini gila apa? Mminnie oppa, kau bercanda kan?”

“Sungmin hyung tidak bercanda. Kau tidak lihat itu di matanya ada api berkobar-kobar?” jawab Kyuhyun.

Jihyo sudah mengangkat sumpitnya dan hampir melemparkannya ke Kyuhyun.

“Aku tidak bercanda,” Sungmin kini menatap Jihyo. “Kurasa aku salah waktu itu melepaskanmu. Aku tidak memperjuangkanmu ketika kau meminta putus dariku. Aku akan mendapatkanmu kembali.”

“Kau tidak lihat ini dia kehilangan berat badannya setelah Sungmin hyuung putus denganmu?” Kyuhyun memasang tampang tengilnya.

“Terserah kalian berdua!” Jihyo sudah tidak bisa berkata apa-apa. Ia mencari nama Hyejin di handphonenya dan menekan tombol call.

“Yoboseyo. Unnie, kau dimana ini? Sudah sampai dorm? Sungmin oppa jahat tidak mau mengantarku dan malah menyuruh Kyuhyun oppa mengantarku. Ne, aku sekarang sedang bersama mereka. Mereka mengerjaiku. Ne, ne, arra unnie, kumohon jemput aku. Kyuhyun oppa daritadi memarahiku. Aku ada di restoren jepang tempat biasa aku dan Sungmin oppa makan. Ne, unnie, cepat datang!” Jihyo menutup pembicaraannya di telpon.

“Ups, aku lupa kalian sedang bertengkar ya, hyung oppa?” jawab Jihyo santai begitu melihat ekspresi Kyuhyun yang pucat. “Hyejin unnie akan segera datang dan menghabisi kalian berdua!”

Kyuhyun meletakkan sumpitnya di meja. “Choi Jihyo, kau lupa siapa king of evil? Aku sudah berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Hyejin datang dan melampiaskan kekesalannya.”

Kyuhyun membuka tasnya dan mengambil beberapa barang. Sunglasses dan harmonika.

Jihyo dan Sungmin menatap dengan bingung.

Kyuhyun memakai sunglassesnya. “Isnt she lovely? Isnt she wonderful~”

Jihyo dan Sungmin rasanya mau melempar semua piring di hadapannya.

“Hyonnie, kau mau pulang tidak?” tanya Sungmin.

“Ne oppa, antar aku. Biar hyung oppa dan Hyejin unnie saja nanti yang bertemu,” ujar Jihyo geli.

++++

Sudah 2 minggu semenjak terakhir kali Jihyo bertemu Woobin di bandara. Ia terus-menerus mengecek handphonenya.

‘Hari ini Super Girls comeback saja kau tidak mengirimkan pesan apapun,’ pikir Jihyo.

“Super Girls, 5 menit lagi!” ujar kru memanggil SG untuk segara bersiap-siap ke backstage.

Mereka berlima segera bergegas ke backstage. Tak lama, mereka muncul dan kembal ke atas panggung setelah 2 tahun hiatus. Jihyo bisa melihat para Super Junior oppadeulnya yang juga baru saja comeback seminggu yang lalu berteriak heboh mendukung mereka. Menyenangkan sekali bisa kembali!

Setelah selesai, para member SG kembali menuju ruangannya dengan langkah ringan. “Kau dengar tadi fanchantnya?” seru MinAh.

“Itu fanchant terbaik yang pernah aku dengar selama SG ada,” balas Hamuun.

“Menyenangkan kembali lagi sebagai SG setelah sekian lama,” seru Jihyo.

“Eh, Woobin oppa!” ujar Hamun begitu melihat dari jauh sosok namja tinggi sedang menunggu di depan pintu ruangannya.

“Annyeong Super Girls. Chukkae,” ujar Woobin menyerahkan sebuket bunga ke Hyejin. “Leader, tolong terima pemberianku. Nanti setelah lagu kalian jadi nomer 1 di semua chart, aku traktir ramen.”

Semua member tertawa, namun Jihyo tidak. Hyejin menyadarinya. “Oppa, kurasa kami harus masuk. Kau mau ke dalam?”

Woobin menggeleng. “Aku ada perlu dengan Jihyo.”

Hyejin mengangguk dan memberikan kode ke MinAh, HyunAh, dan Hamun untuk masuk.

“Ada apa?” Jihyo sama sekali tidak mau menatap Woobin. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak dengan cepat. Ih jantung, jangan seperti itu! Jangan gugup!

“Kau tau mengapa teman-temanku memanggilku Devil?”

Jihyo terdiam bingung, beberapa saat kemudian ia membuka suara, “Kalau kau tidak ada lagi yang mau dikatakan, aku masuk.” Jihyo menyentuh kenop pintu.

“Karena aku selalu merencanakan sesuatu hal dan acara sesukaku lalu aku akan selalu memaksa teman-temanku untuk ikut denganku,” ujar Woobin. “Selama ini aku sudah menahan diriku dan sudah saatnya aku benar-benar harus jadi devil untuk mendapatkanmu, nona evil.”

Jihyo melepaskan tangannya dari kenop pintu, dan akhirnya menatap Woobin.

“Jadi biasmu, aku?”

Woobin tersenyum, “Kau sudah membuatku 100 persen menyukaimu. Kau bukan lagi biasku. Kau yeoja yang aku sukai dan aku tidak akan melepaskanmu begitu saja.”

“Dan kau yakin aku menyukaimu?” tantang Jihyo.

“Kalau kau hanya menyukaiku 1 persen saja, itu sudah cukup untukku,” Woobin melihat dari kejauhan sesosok namja yang amat dikenalnya membawa boneka koala berjalan mendekat, Lee Sungmin.

Jihyo akhirnya menggenggam dengan mantap kenop pintu dan meembukanya. Namun Woobin menutupnya kembali.

“Ya! Kim Woobin!”

“Jadi berapa persen?” tanya Woobin.

“Kau ini benar-benar-“

Woobin mengecup bibir Jihyo dan segera melepaskannya. “Berapa persen, nona manis?”

Wajah Jihyo memerah, bisa-bisanya Woobin mengecupnya di tempat seperti ini!

“3 persen,” bisik Jihyo.

Sungmin menghentikan langkahnya begitu meihat Woobin dan Jihyo di depan pintu. Matanya bertatapan dengan Woobin, namun Jihyo memunggunginya. Woobin memberikan tatapan menantang kepadanya.

“Itu cukup untukku,” Woobin memegang pipi Jihyo. “Kalau begitu, akan kubuat rasa sukamu menjadi 4 persen.”

Dan saat itu pula Jihyo kembali merasakan bibir Woobin bersentuhan dengan bibirnya, dan kali ini lebih lama dari yang pertama, dan membuat seluruh badannya menjadi hangat.

++++

Maafkan author ya semuanya part 5 ini lebih pendek dari part-part sebelumnya *evil laugh* Selamat kembali, Lee Sungmin! :D  *puter Mamacita*