Hal yang bisa didengar Jihyo adalah pukulan yang keras, amat keras. Ia menatap Woobin yang tersungkur. Sungmin menghujaninya dengan pukulan. Jihyo refleks menarik Sungmin, berteriak untuk berhenti.

Member-member Super Girls yang ada di dalam ruangan pun keluar, mereka segera menarik Woobin masuk ke dalam sebelum Sungmin memukulnya lagi. Jihyo memeluk Sungmin, itu hal pertama yang terlintas di pikirannya untuk menenangkan Sungmin. Jihyo berkata jangan cari masalah, kembali ke member Super Junior lainnya, kau masih harus tampil. Jihyo melepaskan pelukannya begitu Sungmin tenang dan berlalu untuk kembali ke backstage.

Jihyo melangkahkan kakinya dengan cepat masuk ke ruangan, ia melihat Woobin sedang dikelilingi para member SG. Hamun memberikan handuk dingin ke Woobin untuk mengelap darah di ujung bibirnya. Jihyo segera menyambar handuk itu dan menekan dengan keras ke luka Woobin, tak peduli Woobin sudah berteriak kesakitan. Tangan kirinya yang masih kosong menekan perut Woobin yang sudah dihajar oleh Sungmin.

“Sekarang kurasa sudah naik jadi 5 persen,” ujar Woobin mengerang.

Jihyo semakin menekankan handuk ke ujung bibir Woobin. Matanya memanas, dan tak lama ia tidak bisa menahan airmatanya.

“Kalian berdua menyebalkan,” ujar Jihyo sambil mengganti handuk yang menempel di ujung bibir Woobin dengan obat luka yang siap ia taruh di luka tersebut.

Woobin mengelus kepala Jihyo, “6 persen.”

Hyejin, MinAh, HyunAh, dan Hamun tidak mengerti secara pasti apa yang terjadi barusan, namun mereka sadar dengan jelas Jihyo sedang diperebutkan oleh kedua namja itu.

“Berhentilah,” Jihyo semakin tidak bisa membendung airmatanya. “Kalian berdua menyebalkan. Kyuhyun oppa menyebalkan. Key menyebalkan. Semua member Super Girls menyebalkan.”

“Aku tidak akan berhenti,” Woobin menarik Jihyo kedalam pelukannya. “Aku tidak mau mengikuti perkataanmu. Aku juga punya hak untuk memperjuangkanmu.”

Jihyo benar-benar lepas kontrol, ia menangis sekencang mungkin di pelukan Woobin. Ini hal yang hanya bisa dia lakukan kepada tiga namja di hidupnya, appa nya, Siwon oppa nya, dan Kyuhyun oppa nya. Bahkan Key dan Sungmin pun tak pernah mendapatkan kesialan mendengarkan tangisan histeris Jihyo yang seperti anak kecil menangis tidak dibelikan permen.

Jihyo merangsek keluar dari pelukan Woobin, ia menunjukkan wajahnya ke para member SG. “Make up ku luntur ya?”

Para member tidak bisa menahan tawanya. Bisa-bisanya anak ini bertanya soal make up disaat ia sedang menangis.

“Bisa diperbaiki, Jihyo,” ujar MinAh mengelus kepala dongsaengnya. “Jangan menangis lagi yah. Kau membuat kami merasa bersaah karena turut andil mendekatkanku dengan Woobin oppa.”

“Memang itu tujuanku,” isak Jihyo sambil memanyunkan bibirnya.

“Anak ini disaat seperti ini otak evilnya masih saja keluar,” keluh Hyejin.

Woobin memeluk Jihyo dari belakang, “Ayo menangis lagi. Kau membuat lukaku jadi tidak terasa sakit.”

Jihyo menghantam perut Woobin dengan sikutnya hingga ia mendengar erangan dari namja tersebut. “Itu 7 persen dariku!”

+++

Membawa yeoja satu ini untuk pergi tidak mudah. Woobin harus memohon kepada Hyejin, MinAh, HyunAh, dan Hamun untuk membawa Jihyo pergi dan berjanji akan memulangkannya ke dorm sebelum jam 12 malam. Ia pun juga harus memastikan keempat member SG tidak mengadu ke member Super Junior bahwa ia membawa nona evil pergi. Hal yang paling sulit adalah menarik Jihyo untuk pergi bersamanya.

“Akhirnya, kita sampai!” seru Woobin duduk di pinggir sungai Han, tempat favoritnya.

Jihyo ikut duduk di samping Woobin, matanya masih sembab karena menangis. Namun untuk Woobin, dengan make upnya yang luntur karena basah dengan airmata tetap membuat Jihyo cantik.

“Dulu aku pernah bertemu dengan seorang yeoja, dia lebih muda dariku,” Woobin melirik ke arah Jihyo yang terdiam memandangi air sungai di hadapannya. “Aku baru mengenalnya sebentar, namun aku sangat menyukainya. Namun sayang dia meninggalkanku sebelum aku menyatakan kesukaanku padanya.”

“Kau mau membuatku cemburu?” Jihyo mulai menggigil kedinginan.

“Tidak,” Woobin melepas jaket yang ia kenakan dan memberikannya ke Jihyo. “Aku hanya ingin bilang bahwa kali ini aku tidak akan bertindak seperti itu.”

“Aku bilang ke semua orang aku tidak menyukaimu,” giliran Jihyo membuka suara. “Namun semua orang malah berbalik mengatakan bahwa aku sebenarnya sudah suka padamu hanya saja aku tidak menyadarinya.”

Jihyo menatap kedua mata Woobin, baru kali ini dia dengan kesadaran penuh mau menatap kedua mata itu. Jihyo selalu menganggap mata Woobin menyeramkan, namun malam ini ia merasa kedua mata itu yang memberikan ketenangan untuknya. “Menurutmu memang aku yang tidak menyadarinya atau orang-orang yang salah?”

“8 persen,” Woobin menyenderkan kepalanya ke pundak Jihyo. Kedua tangannya mengapit tubuhnya sendiri yang kedinginan.

“Kau kedinginan? Oppa, ini jaketmu.”

“Tidak usah, pakai saja.”‘

“Tapi nanti kau sakit,” suara Jihyo jelas menyiratkan kecemasannya. Woobin tertawa.

“Aku suka kalau kau mencemaskanku.”

“Ya! Kim Woobin!” Jihyo memukul lengan Woobin dengan keras.

“Jihyo-ah, kau mau menambah lukaku lagi?” Woobin meringis kesakitan. Ia baru sadar sepenuhnya kalau Jihyo bisa bela diri, dan pukulannya tak kalah menyakitkan dari pukulan yang Woobin terima dari Sungmin.

“Memang aku mau menambah lukamu lagi!” teriak Jihyo kesal.

“Coba saja! Kau mau memukulku lagi?”

Jihyo mendekatkan wajahnya ke Woobin hingga namja itu hampir saja terjungkal. “Aku sudah berpikir apa yang harus aku lakukan untuk menambah lukamu lagi.” Jihyo mendaratkan ciuman ke bibir Woobin. Beberapa detik Woobin kehilangan kesadaran, ia tak tau mengapa badannya tidak bisa digerakkan. Namun tangannya akhirnya bisa memberontak dan memeluk tubuh Jihyo.

Lagi-lagi, ia kalah cepat dengan si atlet judo ini. Jihyo menahan kedua tangan Woobin dan melepaskan ciumannya. “9 persen,” bisik Jihyo. “Kuharap kau bisa mendapatkan 100 persen dariku sebelum aku benar-benar kembali ke Sungmin oppa.”

+++

“Mengapa kau memukulnya?” JIhyo memaiinkan jari-jari Sungmin. Setelah tiga hari sejak kejadian itu, baru kali ini Jihyo menemui Sungmin kembali.

“Karena dia menciummu,” jawab Sungmin dengan cepat, namun Jihyo sama sekali tidak melihat ekspresi apapun di wajah namja itu, entah ekspresi marah, sedih, cemas, atau cemburu.

“Aku tidak suka kau seperti itu, oppa. Untung saja Woobin tak berbalik memukulmu. Bahkan kau waktu itu belum tampil. Bagaimana kalau kau terluka dan tidak bisa tampil?,” keluh Jihyo.

“Bukankah bagus?”

“Kau ini. Itu bisa berakibat buruk untukmu!”

Sungmin menatap Jihyo dengan tatapan penuh arti, “Kau ingat perkataanku yang selalu aku ucapkan setiap kita bertengkar?”

Jihyo menggangguk. “Kau tidak akan menyerahkanku kepada namja yang tidak lebih baik darimu.” Jihyo tersenyum ke Sungmin dan menggenggam tangan Sungmin. “Namun kau tidak mengatakan itu saat kita putus, bahkan kau tidak mengatakan apapun saat itu.”

“Kau tau tindakannya menciummu itu membahayakan dirimu dan dirinya? Kalau kalian ketahuan oleh media bagaimana?”

Jihyo menatap Sungmin dengan penuh penyesalan. “Maafkan aku.”

“Aku yang seharusnya minta maaf,” Sungmin memeluk Jihyo dengan erat. “Aku akan berusaha sebaik mungkin.”

“Untuk apa, oppa? Supaya aku menjadi kekasihmu kembali?”

“Lebih dari itu.”

Jihyo memandang Sungmin dengan serius. “Aku tidak becanda, oppa. Kumohon berhentilah. Kau menyakiti dirimu sendiri.”

“Karena kau menyukainya?”

“Aku tidak menyukainya, oppa. Aku berusaha tidak menyukai siapapun. Kau tau aku masih mencintaimu. Tidak mudah dalam waktu 6 bulan aku melupakanmu yang sudah selama 3 tahun bersamaku.”

Jihyo terdiam sesaat. “Namun aku tidak mungkin bersama Woobin karena aku takut ini hanya pelarianku supaya melupakanmu. Aku tidak sanggup menyakiti kalian berdua. Jadi kumohon berhentilah.”

Sungmin mengecup dahi Jihyo, “Aku akan berhenti jika dia lebih baik dariku.”

++++

“Ada apa, oppa?” tanya Jihyo.

“Aku merindukanmu,” jawab Woobin di ujung sambungan telpon.

“Kalau tidak ada yang penting akan aku matikan,” Jihyo menahan kekesalannya.

“Ini penting, Choi Jihyo. Berita aku merindukanmu bisa menjadi berita nomer 1 yang dicari oleh seluruh masyarakat.”

“Kau menyebalkan.”

“Dan kau sangat menyenangkan,” seru Woobin. “Oiya, kau sudah liat berita belum?”

“Belum.”

“Kalau lihat comment-comment para goddess dan netizen di MV terbaru SG?”

“Belum juga. Ada apa sih oppa?”

“Kau payah. Padahal ada pairing baru yang sedang heboh dibicarakan.”

“Hah apa? Siapa?”

“WooJi couple,” ujar Woobin bangga.

“Hah?”

“Eh, tapi aku lebih suka ini, Devils couple.”

Jihyo tidak mengerti maksud omongan Woobin. Apa sih pairing-pairing ini? Maksudnya para fans menganggap aku dan Woobin benar-benar jadian begitu?

“Kurasa aku sudah mendapatkan restu dari para goddess dan netizen. Ternyata semudah itu, haha.”

“Oppa, aku tidak mengerti omonganmu. Aku matikan ya.”

“Ya! Jihyo-ah!” seru Woobin, namun terlambat, Jihyo sudah mematikan sambungan telponnya.

Namun Woobin tak hilang akal, ia segera mengetikkan pesan untuk Jihyo.

Hai nona evil,

Kau dimana sekarang?

Tak lama handphone Woobin bergetar.

Tuan devil, aku sedang tidak mau diganggu

“Mengapa kau malah membalas smsku kalau kau tidak mau diganggu?” seru Woobin sambil mengetikkan pesannya.

Selang semenit, handphonenya kembali menunjukkan adanya pesan masuk.

Karena kau pasti akan menerorku kalau aku tidak membalas pesanmu.

Woobin tersenyum penuh kemenangan. “Hore, 10 persen! Berjuang Kim Woobin, kau pasti bisa!”

Kau dimana sekarang? Aku ingin bertemu denganmu.

5 menit kemudian, Woobin hampir gila tak ada balasan dari Jihyo.

“Kau kemana sih memangnya?” keluh Woobin. Ia segera menyalakan mesin mobilnya dan memacunya ke suatu tempat.

+++

Jihyo memukul mesin arcade games di depannya. “Ahjussi, mesinnya tidak berfungsi! Masa aku tiba-tiba mati di tengah permainan?” teriak Jihyo frustasi.

“Itu memang karena kau saja yang tidak bisa memainkannya,” ujar suara namja di belakang Jihyo. Jihyo kenal sekali dengan suara itu.

“Woobin oppa?” Jihyo berbalik dan menemukan Woobin nyengir di belakangnya. “Kau tau dari siapa aku di sini? Hyejin unnie? HyunAh unnie? MinAh unnie? Hamun?”

“Rahasia,” seru Woobin dengan penuh ketengilan. Ia duduk disamping Jihyo. “Aku sudah lama.tidak main. Kau mau bertanding?”

Jihyo memandang sinis, “Kau yakin mau bertanding denganku? Aku ini tidak mudah dikalahkan.”

Woobin menaruh tangannya di tombol mesin arcade. “Bersiap nona cantik.”

Begitu layar mesin permainan mereka menampilkan kata start, Jihyo sama sekali tidak memberikan kesempatan Woobin untuk menyerang. Namun sayangnya beberapa kali pemain Woobin menyerang Jihyo dan hampir membuatnya K.O.

Namun percuma saja sejak kecil ia sudah bermain game, apalagi game fighting seperti ini. Jihyo langsung mengeluarkan jurusnya dan membuat Woobin kalah.

“Kau kalah,” cibir Jihyo.

“Seperti biasa, aku kalah kalau melawanmu,” ujar Woobin mengacak-acak rambut Jihyo.

“Aku lapar,” keluh Woobin.

“Kau suka ramen, oppa?” kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Jihyo dan membuat Woobin, serta anehnya Jihyo merasa terkejut.

“Ramen?” tanya Woobin hati-hati.

“Eh iya, ramen,” Jihyo tidak mengerti mengapa tiba-tiba jantungnya berdetak cepat.

“Aku sangat suka ramen. Kau mau menemaniku makan ramen? Di dekat sini ada kedai ramen yang enak,” Woobin memperhatikan setiap ekspresi Jihyo saat ia bertanya, namun yang terlihat hanyalah kebingungan.

“Ne,” seru Jihyo cepat. Namun ia merasa seharusnya bukan jawaban itu yang dia katakan tadi.

Jihyo dan Woobin berjalan keluar dari tempat arcade games, namun begitu ia membuka pintu mobil Woobin, tiba-tiba saja kalimat itu terlintas di kepalanya.

Aku harus kembali ke dorm 30 menit lagi. Aku Akan temani kau makan, oppa.’

+++

“Aku sudah lama tidak ke sini,” ujar Woobin sambil menenggak cold ocha. “Di sini kau bisa merasakan ramen yang sesungguhnya.”

“Dan hidupmu terus berkutat soal ramen,” Jihyo mengaduk ramennya. Dirinya terus memikirkan sesuatu hal. Ada yang aneh hari ini, tapi dia tidak tau apa.

“Aku pernah datang ke tempat ini bersama yeoja itu,” ujar Woobin.

“Oh.”

“Di sini pula dia meninggalkanku,” Woobin menyeruput ramennya. “Dan sejak itu lupa aku selalu memakan ramen untuk mengobati kerinduanku kepadanya.”

“Kau terdengar putus asa.”

Woobin tertawa, “Memang kenyataannya seperti itu.”

Mereka berdua sibuk menghabiskan ramen masing-masing saat layar handphone Jihyo menunjukkan nama Lee Sungmin yang sedang berusaha mengontak dirinya.

“Jangan dijawab,” ujar Woobin. Jihyo bisa merasakan nada negatif diucapan Woobin tadi.

Namun Jihyo tak bisa menurutinya, toh Woobin bukan siapa-siapa dirinya. “Yoboseyo?” Jihyo bisa melihat tatapan marah dari namja didepannya.

“Apa? Duh kalian dimana sekarang oppa? Ne. Aku segera ke sana,” Jihyo langsung berdiri dan tergesa-gesa keluar meninggalkan Woobin.

Namun pikirannya menyuruh Jihyo berhenti dan berbalik. Jihyo menatap Woobin yang terlihat cemas dan putus asa melihatnya seenaknya saja pergi tanpa pamit.

“Ini terakhir kalinya aku meninggalkanmu begitu saja, oppa. Kali ini aku pasti akan kembali,” kalimat itu terlepas begitu saja dari mulut Jihyo.

“Seperti dulu, kau tidak akan kembali lagi,” balas Woobin lirih.

+++

Semuanya, maafkan author ya updatenya malem-malem gini. Terima kasih juga yang udah comment. Selamat bergalau ria bersama Woobin dan Jihyo *evil laugh*