Jihyo masih berusaha mengatur napasnya begitu sampai ke dorm Super Junior. Ia membuka pintu dorm yang tidak dikunci dan mendapati Sungmin berdiri tak berdaya di depan kamarnya.

“Oppa, mana mereka?” Tanya Jihyo.

Sungmin mengunjuk ke dalam kamar yang ia tempati bersama Kyuhyun. Jihyo hanya bisa menganga saat melihat kamar itu dalam keadaan berantakan seperti kapal pecah. Kyuhyun terduduk di kasurnya, sementara Hyejin memandang keluar jendela sambil duduk di ujung kasur Sungmin.

“Omo! Oppa! Unnie! Kalian apa-apaan sih?”

“Jihyo-ah! Kau tau Changmin dan HyunAh putus?” Teriak Kyuhyun.

Jihyo mengangguk. Sungmin menutup wajahnya karena Jihyo salah menjawab.

“Kenapa kau tidak bilang kepada kami, Jihyooooo!” Hyejin berteriak tak kalah keras.

Jihyo memandang Sungmin meminta penjelasan. “HyunAh dan Changmin akan segera datang. Aku lebih baik menunggu diluar, aku sudah tidak tahan dengan tingkah mereka berdua. Kau hati-hati,” ujar Sungmin berjalan keluar dorm.

“Ada apa sih? Bukannya kalian sudah baikan?”

“Oppa kesayanganmu ini ngotot kalau bukan salah Changmin yang memutuskan HyunAh di saat kita comeback. Aaarrrgggh!” Hyejin melemparkan bantal ke Kyuhyun dengan keras.

“Unniemu ini bilang kalau aku salah membela Changmin. Aku bilang tidak apa-apa kalau mereka putus. Lagipula aku juga baru tau sekarang kalau mereka berdua putus!” Bela Kyuhyun.

“Kau bohong!”

“Aku tidak bohong!”

“Kalian berdua berhenti bertengkar bisa tidak sih? Changmin oppa dan HyunAh unnie sudah putus seminggu yang lalu,” seru Jihyo.

“Mwo!” Teriak Kyuhyun dan Hyejin bersamaan. “Dan mereka tidak bilang kepada kami?!”

Jihyo mendengus kesal. “Kurasa karena Changmin oppa dan HyunAh unnie takut dengan reaksi berlebihan kalian berdua.”

“Aku tidak berlebihan! Aku hanya membela memberku, gara-gara sahabatnya oppa mu ini, HyunAh kelihatan tidak fokus!”

“Kau bilang ya sama leadermu, Jihyo. Aku hanya tidak suka Changmin disalahkan hanya karena HyunAh tidak fokus!”

“Duuuuh kalian berdua. Terserahlah, HyunAh unnie itu member SG dan aku juga menyayangi Changmin oppa karena aku juga bagian dari Kyu-line. Jadi kalau kalian meminta aku berada di kubu siapa, aku netral,” ujar Jihyo melangkah keluar dari kamar.

“Ya! Jihyo!” Teriak sepasang sejoli itu. Jihyo tetap saja melangkah keluar, ia tidak mau terjebak di dalam perang menyeramkan. Di depan pintu dorm Super Junior, ia berpapasan dengan HyunAh dan Changmin.

“Mereka berdua ada di dalam. Duh kalian urus saja deh. Aku pusing mereka kekanakan,” seru Jihyo

+++

“Akhirnya kau tidak tahan,” ledek Sungmin saat mendapati Jihyo bergabung dengannya di ujung lorong apartemen dorm Super Junior.

“Menurutmu? Kalau sifat leader mereka sudah keluar, mereka tidak ada yang mau mengalah,” ujar Jihyo.

“Kupikir alasan Changmin dan HyunAh tidak bilang ke mereka kalau mereka putus sama seperti alasan kita dulu,” tawa Sungmin.

Jihyo mengangguk.

“Dan kau disuruh memilih mendukung siapa?”

“Iya, itu konyol,” seru Jihyo mengacak-acak rambutnya sendiri karena kesal.

“Kau darimana tadi?” Tanya Sungmin mengakhiri topik KyuJin dan memulai topik yang amat sangat ditakuti Jihyo.

“Main arcade games.”

“Pantas mukamu masih bisa berseri-seri.”

“Oiya?” Jawab Jihyo aneh. Masa iya wajahnya berseri-seri.

“Tadinya kukira kau habis bertemu Woobin,” Sungmin memeluk Jihyo. “Aku mau minum wine.”

Jihyo mengangguk. Ini sudah seperti kebiasaan yang harus dituruti, semacam Kyuhyun yang minta ditemani kalau ingin duel game.

“Tapi sebelum kita pergi kita harus mengecek keadaan dorm oppa,” seru Jihyo sambil menarik Sungmin kembali ke dorm. Namun tak jauh mereka berjalan, mereka melihat HyunAh dan Changmin berjalan kikuk bersama.

“Unnie? Oppa?” Sapa Jihyo.

“Mereka berdua memang tidak tau diri! Begitu kami berdua datang dan menjelaskan keadaannya, mereka langsung bermesraan seolah tidak terjadi pertengkaran hebat,” keluh Changmin.

“Aku tidak mengerti mereka itu kenapa bisa bertengkar lalu bermesraan dalam waktu dekat. Mereka membuatku merinding!” Lanjut HyunAh.

Jihyo tertawa, ia mengerti bagaimana rasanya kalau jadi HyunAh dan Changmin yang baru saja putus lalu melihat KyuJin couple bermesraan. Rasanya mau menjorokkan mereka berdua ke dalam laut saking hebohnya KyuJin kalau sedang bermesraan.

“Oke. Changmin oppa, antarkan HyunAh unnie yah! Kalau tidak akan aku adukan ke Kyuhyun oppa, Yunho oppa, lalu ke Yong oppa melalui Jonghyun oppa!” Ancam Jihyo.

Changmin dan HyunAh sedikit kebingungan. Namun Sungmin melanjutkan suruhan Jihyo. “Pulanglah, kalian berdua mau terjebak melihat kedua anak itu bermesraan? Kami juga mau pergi.”

“Baiklah, ayo aku antar pulang. Bagaimanapun juga ini sudah gelap,” seru Changmin kepada HyunAh.

Sungmin dan Jihyo terkikik saat melihat Changmin dan HyunAh berjalan kikuk menjauhi mereka berdua. Changmin berusaha untuk tidak menggandeng HyunAh, namun HyunAh tetap berjalan sedekat mungkin dengan Changmin.

“Kau tau alasan mereka putus?” Tanya Sungmin.

Jihyo mengangguk. “Kredibilitasku sebagai member Super Girls dan Kyu-Line dipertaruhkan jika aku tidak update kabar sebesar itu.”

Sungmin menggandeng tangan Jihyo, “Yasudah, biar hanya kau yang tau kalau begitu. Ayo kita berangkat!”

+++

Sungmin suka minum wine di salah satu cafe di hotel bintang lima di sana. Tempatnya yang berada di lantai teratas hotel membuat para pengunjung yang datang bisa minum sambil memandangi latar kota di malam hari.

Cafe itu juga bukan club tempat orang-orang bisa party. Mereka hanya mengizinkan orang-orang hanya duduk-duduk bersama, mengobrol, hingga mabuk. Tidak ada dentuman musik keras dan lampu disko kelap-kelip. Jihyo rasa itulah yang membuat Sungmin suka ke sana.

“Kau mau wine? Bir?” Tanya Sungmin.

Jihyo menggeleng.

“Ternyata lama di Amerika tidak membuatmu berubah pikiran untuk minum bir. Orange juice 1,” ujar Sungmin ke bartender.

Jihyo meninggalkan Sungmin yang masih berada di bar. Ia berjalan menuju spot duduk kesukaannya bersama Sungmin, tempat dimana ia bisa melihat kelap-kelip lampu kota dengan sangat jelas.

“Kenapa, Hyonnie? Kau berdiri saja, katanya mau duduk,” Sungmin melihat ke arah yang dilihat Jihyo. Spot kesukaan mereka berdua telah ditempati oleh seseorang yang mabuk berat.

Jihyo setengah berlari mencapai orang tersebut dan menamparnya. “Kau gila apa? Mabuk hingga seperti ini Woobin oppa?”

Woobin tidak memperdulikan Jihyo, ia mendorong Jihyo hingga si nona evil ini hampir jatuh, untung Sungmin segera menangkap Jihyo.

“Kim Woobin, sebaiknya kau pulang,” ujar Sungmin.

“Kau siapa menyuruhku seenaknya?” Teriak Woobin. Ia berdiri dan dengan sempoyongan hampir memukul Sungmin. Namun sesosok yeoja menahannya.

“Woobin oppa, kau kenapa?” Seru yeoja itu yang amat sangat Jihyo kenal.

“Urus oppa mu ini, MinAh. Dia mabuk, mengambil spot kami, dan hampir saja memukul Sungmin sunbae,” Jihyo menahan amarahnya.

“Sudah, lebih baik kita pulang, Jihyo,” Sungmin menarik tangan Jihyo dan menyeretnya ke parkiran.

Sungmin tau bagaimana keadaan Jihyo saat ini. Ini reaksi terparah jika yeoja itu kesal dan tidak bisa mengeluarkan amarahnya.

“Kau cemburu,” ujar Sungmin membukakan pintu mobilnya untuk Jihyo.

“Aku tidak cemburu dan aku tidak akan berbicara lagi dengannya,” napas Jihyo tidak beraturan dan tangannya mengepal dengan keras.

Sungmin memasang seatbeltnya. “Tatap aku, Choi Jihyo. Katakan sekali lagi.”

Jihyo hanya diam, dia berusaha tidak meneteskan airmatanya.

+++

Woobin memandang layar mesin game dengan kesal. Ini sudah keempat kalinya dia kalah. Dia benar-benar payah bermain game.

“Kau salah jurus,” seru yeoja di belakangnya. Ia memandang yeoja yang sepertinya lebih muda darinya menatap serius layar mesin game.

“Sini, aku ajari,” ujar yeoja itu langsung duduk di samping Woobin padahal Woobin belum mengucapkan sepatah kata pun.

“Harusnya begini,” yeoja itu terlihat serius bermain game fighting tersebut. Woobin menatap tidak percaya ada seorang yeoja yang begitu serius bermain game seperti sedang memandangi namja tampan di depannya.

“Lalu tekan tombol merah, loncat 2 kali, lalu tendang! K.O!” Seru yeoja itu bersemangat. “Kau lihat tidak sih, oppa?”

Woobin mengangguk. “Baiklah, tanding denganku!”

Woobin dan yeoja itu bertanding amat seru. Woobin hampir saja mengalahkannya, namun sepertinya yeoja itu lebih ahli dari Woobin, ia mengeluarkan jurus rahasia.

“Yeaaah! Aku menang! Eh, aku terlambat latihan. Aku pamit duluan oppa!” Seru yeoja itu berlari meninggalkan Woobin yang masih terbingung-bingung.

+++

Sudah  tujuh hari berturut-turut Woobin datang ke tempat arcade games itu dan selalu menemukan yeoja itu bermain. Pada akhirnya, selalu ada magnet yang membuat Woobin duduk di sebelahnya dan ikut bermain dengannya.

“Oppa, kau ini model yah?” Tanya yeoja itu sambil tetap fokus ke layar permainan.

“Kok kau tau?” Tanya Woobin.

“Karena kau tinggi menjulang dan pakaianmu keren,” jawab yeoja itu cepat.

Woobin tersenyum, “Kau sendiri, selalu bilang kau terlambat latihan. Kau sedang ikut apa?”

“Aku sedang persiapan untuk debut,” seru yeoja itu. “K.O!”

“Kau akan jadi member girlband?” tanya Woobin tidak percaya.

“Iya, kenapa?” kini yeoja itu memutar arah duduknya menghadap Woobin.

“Karen kau tidak terlihat girly. Kau sangat tomboy dengan segala kecintaanmu terhadap game.”

Yeoja itu terkikik geli, “Kalau kau sudah melihatku debut nanti, kau akan jatuh cinta denganku!”

Kruk~ terdengar suara perut Woobin yang minta diisi.

“Hahaha, kau lapar ya oppa?”

Woobin mengangguk.

“Kau suka ramen oppa?” tanya yeoja itu. “Di dekat sini ada kedai ramen yang enak tiada duanya!” serunya berpromosi.

“Baiklah, tapi aku tidak mau makan sendirian,” ujar Woobin. Sejujurnya, dia bahkan tidak tau nama yeoja di hadapannya ini dan paling tidak sedikit info mengenai hobi atau umurnya. Woobin harap ia bisa mengetahui lebih banyak nanti.

“Mmh, Aku harus kembali ke dorm 30 menit lagi. Aku akan temani kau makan, oppa” ujarnya melangkah riang.

+++

“Bagaimana?” tanya yeoja itu serius mengamati Woobin makan.

Woobin memberikan jempolnya saking mulutnya penuh dengan ramen.

Yeoja itu tertawa senang, yang entah mengapa membuat Woobin sangat menyukainya.

“Eh tunggu,” yeoja itu mengeluarkan kamera polaroid dari tas nya. “Kita harus foto berdua, oppa! Siapa tau suatu saat kau akan jadi model super terkenal dan aku tentu saja akan terkenal dengan girlbandku.”

Yeoja itu mengarahkan kamera polaroid ke arah mereka berdua dan memencet tombol shutter. Tak berapa lama, foto dari kamera polaroid langsung menampilkan wajah mereka berdua yang tersenyum.

“Ini untukmu. Kita ambil foto satu lagi ya, oppa!” seru yeoja itu. Namun belum sempat yeoja itu memencet tombol shutter kembali, handphonenya berbunyi sangat kencang.

“Yoboseyo? Ah, unnie! Mian, jeongmal mianhae. Aku akan segera pulang!” seru yeoja itu dengan panik sambil bergegas pergi meninggalkan Woobin.

“Hei, aku belum tau siapa namamu!” teriak Woobin, namun percuma, yeoja itu telah berlalu meninggalkannya. “Kenapa kau selalu meninggalkanku seperti itu sih?”

+++

Woobin terbangun dari mimpinya, kepalanya terasa berat. Ia memeriksa jam tangannya, sudah pukul 16.00, ia hampir tak sadarkan diri seharian. Ia berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin malam. Ia ingat saat ia menghubungi MinAh. Selanjutnya ia merasa samar-samar, sepertinya ada seseorang yang menamparnya, terasa sakit karena terasa sangat jelas, seperti ia melihat Jihyo.

“Mengapa dalam mimpiku kau juga terus datang, anak bandel?” seru Woobin memandangi foto yang terselip di pinggir kaca di kamarnya. Kejadian itu sudah terjadi sekitar 5 tahun yang lalu, namun semuanya terasa jelas hingga saat ini.

Woobin ingat bagaimana saat itu saat ia sedang menunggu sesi foto, ia melihat televisi dan mendapati yeoja itu sedang berdiri bersama emat orang yeoja lainnya. Girlband mereka bernama Super Girls. Yeoja yang selalu ia dapati bergaya tomboy dan maniak game berubah menjadi yeoja manis yang pintar menyanyi dan menari, namun terlihat jelas ketengilannya yang tidak hilang. Nama yeoja itu Choi Jihyo.

Woobin memandangi layar handphonenya yang menyala, ia melihat nama Hamun di id penelponnya.

“Yoboseyo, Hamun. Kau menghubungiku daritadi?” tanya Woobin.

“Oppa, seharusnya aku tidak mengatakan ini, tapi Jihyo unnie sejak kemarin malam tidak mau keluar dari kamarnya. Tadi Siwon sunbae memberitahu kami. Kami sudah berusaha memanggilnya keluar kamar, namun tidak berhasil.”

SIsanya terdengar samar-samar di telinga Woobin. Kepalanya masih sakit dan tubuhnya masih belum mau beraktifitas dengan normal. Namun rasa khawatirnya membuatnya harus bergerak menuju kediaman Choi.

+++

“Jihyo, keluar!” teriak Siwon putus asa. Ia menyadari ini pasti ada hubungannya dengan kejadian kemarin malam. Sungmin hyung nya tidak mau memberitahu mengapa Jihyo langsung saja masuk ke dalam kamarnya bahkan tanpa melihat Siwon. Gara-gara Jihyo mengunci diri di kamar, dia harus berbohong kepada para member Super Junior yang lain bahwa dia sedang sakit dan tidak bisa ikut syuting hari ini.

“Kau tidak memberitahu Kyuhyun oppa dan Sungmin oppa, Siwon oppa?” tanya Hyejin cemas. Mungkin jika Jihyo tidak mau membukakan pintunya untuk Siwon dan para member Super Girls, Jihyo seharusnya mau mendengarkan Kyuhyun dan Sungmin.

“Jangan, mereka sedang syuting. Konsentrasi mereka akan terganggu kalau tau Jihyo seperti ini,” keluh Siwon.

“Jihyo, kalau kau tidak mau keluar, aku akan dobrak pintu kamarmu!” Siwon benar-benar akan mendobrak pintu kamar Jihyo jika Hamun tak melarangnya.

“Oppa, jangan!” seru Hamun. Ia membawa seseorang yang membuat Siwon terkejut.

“Kau bukannya, Kim Woobin-ssi?” tanya Siwon.

“Ne, sunbae. Jihyo mengurung diri di kamar?” suara Woobin menyiratkan kecemasan.

Siwon mengangguk. DIa tidak keluar sejak tadi malam setelah pulang bersama Sungmin hyung.”

Woobin mengetuk pintu, “Jihyo? Kau baik-baik saja?”

Pintu kamar langsung terbuka, semua orang memandangi Jihyo yang terlihat berantakan dan sepertinya tidak tidur semalaman. Jihyo langsung menendang perut Woobin yang berada di hadapannya.

“Jangan coba-coba menemuiku lagi. Kau akan mendapatkan pukulan lebih sakit daripada itu!” Jihyo terlihat marah besar dan menutup pintunya kembali. Namun Woobin menahannya.

“Kau ini kenapa?” tanya Woobin menahan sakitnya.

“Kau masih bertanya kenapa setelah kau mabuk berat lalu mendorongku hingga aku hampir jatuh, lalu hampir saja memukul Sungmin oppa, lalu pulang bersama MinAh?”

“Sebaiknya kau tidak perlu menemui adikku lagi,” Siwon melepaskan tangan Woobin dari pintu kamar Jihyo. “Kuharap kau mengerti, Woobin-ssi.”

Woobin menatap Siwon yang telah memberikan tatapan ‘pergi atau kau akan ku usir’. Namun Woobin tetap berdiri di sana. “Sunbae, kumohon kali ini izinkan aku untuk menunggu Jihyo hingga ia benar-benar mau berbicara denganku. Aku janji setelah ini aku tidak akan menemuinya kembali.”

“Siwon oppa, biarkan Woobin dan Jihyo menyelesaikan masalahnya,” ujar Hyejin. “Jika ini semakin berlarut-larut, aku khawatir juga berdampak buruk pada mereka berdua.”

+++

Woobin masih berusaha tetap terjaga walaupun sudah pukul 21.00. Ia masih merasa pusing, rasanya ia ingin melanjutkan tidur sejak tadi sore, namun ia tidak bisa menyerah begitu saja dan membiarkan Jihyo mengunci diri.

“Kau masih belum mau berbicara denganku? Setidaknya makan, Jihyo. Kau bisa sakit.”

“Aku sudah ingat siapa dirimu!’ teriak Jihyo lemah dari dalam kamar. “Kau oppa di tempat games arcade waktu itu.”

Woobin menyenderkan diri ke pintu kamar JIhyo, “Akhirnya kau ingat juga. Kukira kau tidak akan pernah mengingat diriku setelah kau meninggalkanku begitu saja.”

Woobin bisa mendengar suara isakan Jihyo. “Kumohon, bukalah pintunya, Jihyo.”

“Aku bahkan waktu itu tidak menanyakan siapa namamu,” ujar Jihyo. “Setelah hari itu aku tidak boleh keluar bermain, aku harus latihan hingga hari debut. Aku bahkan memikirkanmu apakah kau akan selalu di tempat games arcade. Aku pun berharap kau akan melihatku debut nanti.”

“Aku melihatmu debut di televisi.”

“Setelah debut aku sering bermain di sana dan tidak menemukanmu.”

“Maafkan aku.”

“Aku bahkan saat ini bingung kenapa aku begitu marah kepadamu, padahal aku tidak menyukaimu.”

“Kau salah paham Jihyo, MinAh cuma-”

“Aku tidak mencintaimu, jadi kau tak perlu menjelaskan apa-apa.”

Woobin merasa hatinya sakit saat Jihyo berbicara seperti itu. “Kau tidak mencintaiku? Kau lebih memilih Sungmin sunbae?”

Jihyo tidak menjawab, hanya keheningan yang mengisi.

“Jihyo? Jihyo?” panggil Woobin. Namun Jihyo tidak menjawab. Woobin merasa ia harus mendobrak pintu kamar Jihyo.

Dengan sekuat tenaga Woobin menendang pintu kamar Jihyo hingga terbuka. Ia menemukan yeoja itu tergeletak di lantai.

“Jihyo! Jihyo! Bangun!” teriak Woobin. Suara Woobin mendobrak pintu kamar membuat Siwon dan para member Super Girls yang berada di lantai bawah bergegas naik ke atas.

“Jihyo!” teriak Siwon menghampiri tubuh Jihyo yang dipangku oleh Woobin. “Jihyo kenapa? Kita harus bawa ke rumah sakit!”

“Enngggg, oppa,” ujar Jihyo lemah. “Kau berisik,” Jihyo membuka matanya perlahan. “Aku mengantuk.”

Siwon memukul lengan adiknya, “Ya! Kau tidak pingsan?”

“Aku lapar~” bisik Jihyo.

Woobin memeluk Jihyo, tak ia sadari ia menangis. “Nona evil, mengapa kau lakukan itu kepadaku. Kau menakutiku!”

+++

Edisi author lagi hobi upload malem-malem hahaha. Siap untuk part 8? :p