Key memandang aneh ruang tamu kediaman Choi. Ia melihat Siwon hyung dan para member Super Girls bergelimpangan tertidur di sofa. Wajah mereka tampak lelah. Namun masih sempat-sempatnya Siwon hyung tidur memeluk Hamun.

“Aku foto ah,” bisik Key. Ia terkikik saat membayangkan reaksi Jihyo nanti. Eh, ngomong-ngomong soal Jihyo, kok dia tidak ada di sini yah?

Key mengarahkan pandangannya ke lantai 2, kamar Jihyo. Ia melihat pintu kamar Jihyo terbuka.

‘Masa dia sudah bangun jam segini?’ Key melihat jam tangannya, baru pukul 7 pagi. Nona evil itu kan paling susah untuk bangun pagi.

Key berjingkat menaiki tangga menuju kamar Jihyo, takut membangunkan yang lain. Namun betapa terkejutnya dia saat melihat seseorang namja terlelap dalam posisi duduk di samping tempat tidur Jihyo.

“Jihyo-ah!” Teriak Key sambil melompat ke tempat tidur Jihyo. “Kau apa-apaan tidur dengan namja!”

Jihyo mengerang, matanya masih susah di buka. “Kibum-ah,” Jihyo malah memeluk Key. “Aku masih ngantuk. 5 menit lagi.”

Woobin yang ikut terbangun karena teriakan Key. Ia langsung menatap ngeri adegan di depan matanya. “Jihyo, tidur yang benar!” Bentak Woobin sambil menarik Jihyo.

“Kau Woobin-ssi kan?” Tanya Key. “Kenalkan, aku Shinee Key, sahabat terbaik yang Jihyo punya sekaligus cinta pertamanya.”

Jihyo kini sudah benar-benar bangun, “kau mulai meracau tidak jelas.” Serunya mencubit Key.

Key nyengir, ia bisa melihat wajah Woobin merah padam hanya karena tau dirinya mantan kekasih Jihyo. Akhirnya Key tau mengapa Jihyo suka menjahili orang, ternyata menyenangkan!

“Kau kenapa masih ada di kamarku!” Jihyo membentak Woobin, kekesalannya tadi malam kembali menjalar di tubuh dan pikirannya.

“Kau sendiri yang sejak malam terus menggenggam tanganku, kau bahkan menggenggam sangat erat seperti mau meremukkan tanganku!” Ujar Woobin tak kalah kesal.

“Baiklah, aku seperti menyaksikan pertengkaran suami istri. Jadi kalian sudah resmi jadi sepasang kekasih?” Tanya Key.

“Tidak!” Seru Jihyo dan Woobin bersamaan.

‘Sudahlah, Key. Aku lapar, ayo ke bawah!” Jihyo berusaha bangkit dari tempat tidurnya, namun Key menahannya.

“Jelaskan dulu kepadaku apa yang terjadi sehingga Woobin-ssi ada di kamarmu!” Perintah Key.

“Ya begitulah, aku mengurung diri di kamar seharian gara-gara namja menyebalkan ini. Dia mabuk berat lalu mendorongku hingga hampir jatuh, hampir memukul Sungmin oppa, dan dia ditemani oleh MinAh!” Teriak Jihyo frustasi.

“Kau salah paham, Jihyo,” Woobin hampir putus asa menjelaskan bahwa dirinya dan MinAh tak ada hubungan apa-apa.

“Tunggu? MinAh siapa?” Selidik Key. “Bang MinAh?”

“Aaaaak, jangan sebut nama itu di depanku!” Jihyo melemparkan bantal ke arah Key.

Key tertawa keras sekali hingga matanya berair. “Chukkae, Kim Woobin-ssi. Kau berhasil melepaskan monster dari tubuh Jihyo. Kurasa aku mulai berpihak padamu!” Seru Key sambil menyodorkan tangannya mengajak Woobin ber-high five.

Woobin hanya bisa kebingungan sambil melayani ajakan Key untuk high five. “Ada apa sih sebenarnya dengan MinAh?”

Dan Jihyo dengan sigap meninju lengan Woobin.

“Jihyo-ah!” Woobin mengerang kesakitan, akhir-akhir ini dirinya seperti samsak untuk Jihyo.

“Kau sebut namanya sekali lagi saja, aku bisa meninjumu lebih keras daripada itu!”

Key memasang tampang diva nya, “Kalian berdua itu sebenarnya saling suka~”

“Tidak! Aku tidak akan suka dengan pria seperti dia!” Jihyo bergegas keluar dari kamarnya dan meninggalkan Key serta Woobin.

Key tertawa, sudah lama ia tidak melihat Jihyo gelagapan begitu. “Saranku, jangan sebut-sebut nama Bang MinAh lagi di depannya jika didepan Jihyo.”

“Ada apa memangnya?”

“Yah, jangan saja. Juga lebih baik jangan sebut nama itu di depan para member SG yang lain. Eh, tunggu!” Tiba-tiba Key ingat alasannya datang sepagi ini ke kediaman Choi.

“Jihyo bilang, dia baru ingat pernah mengenalmu sebelum syuting MV Super Girls,” ujar Key.

Kemarin siang Jihyo heboh mengirimkan pesan ke Key bahwa ia pernah mengenal Woobin sebelum Woobin menjadi pemeran utama di MV Super Girls. Jihyo bilang ia akan menelpon Key untuk bercerita, namun hingga malem tak ada telpon dari Jihyo dan membuat Key hampir mati penasaran.

“Ne, kami bertemu 5 tahun lalu di tempat arcade games, namun ia tidak mengingat pernah bertemu denganku di tempat itu hingga kemarin,” jawab Woobin.

Key kembali tertawa hingga perutnya sakit. Pagi ini dia seolah-olah sedang olahraga mulut saking seringnya ia berolahraga. “Kenapa kau kasihan sekali sih, Woobin-ssi? Jihyo paling tidak bisa berkonsentrasi saat bermain game!”

“Maksudmu?”

“Aku dan Kyuhyun hyung suka bilang konsentrasinya saat bermain game adalah 90 persen. Sisanya 10 persen lagi untuk hal-hal terjadi di sekitarnya,” Key berhenti tertawa karena tidak kuat.

“Dulu, saat kami masih di California, Jihyo pernah berkenalan dan akrab dengan seorang namja blasteran Amerika-Korea di tempat arcade games. Pokoknya Jihyo dan namja itu selalu bermain games yang sama, bahkan hingga berminggu-minggu. Lalu, suatu hari saat kami di sekolah, namja itu menghampiri dan mengutarakan rasa sukanya ke Jihyo. Namun kau tau apa yang Jihyo katakan?”

“Apa?” Tanya Woobin penasaran.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Jawab Jihyo kesal karena Key menceritakan aibnya ke Woobin. “Kau puas Key menceritakan hal konyol itu?”

Key memeluk Jihyo, “PUAS!”

Woobin pun tak bisa menahan tawanya saat mendengar cerita tersebut. Padahal, ia sedang mengalami nasib serupa dengan si namja blasteran Amerika-Korea.

“Aku hanya mengingatmu sebagai oppa tinggi menjulang yang selalu menemaniku main game! Makanya aku tidak sadar saat bertemu denganmu di cafe waktu itu. Kau puas, Kim Woobin? Berhenti tertawa!” Jihyo kesal dipermalukan seperti ini.

“Key, turun! Aku sudah siapkan sarapan untukmu! Para member Super Girls dan Siwon oppa juga sudah bangun. Mereka ada di ruang makan,” perintah Jihyo.

“Aku?” Tanya Woobin. Ia baru sadar sejak terbangun dari hang-overnya kemarin sore, ia belum makan apapun.

“Kau, pulang sekarang juga!”

Key menyelinap pergi, “Baiklah Woobin-ssi, kurasa ini waktunya kau untuk bertindak. Berhubung kau sama naasnya dengan namja itu, kau kurestui dengan Jihyo. Selamat berjuang!”

“Iiih, Key! Kebiasaan berbicara aneh-aneh!” Jihyo terlempar ke tempat tidurnya kembali saat Woobin memeluknya sambil menjatuhkan dirinya ke kasur.

“Kau ini, apa-apaan?”

“Aku masih mengantuk. Setidaknya biarkan aku tidur sebentar di kasur. Semalaman aku tidur terduduk di lantai!” Woobin semakin mengeratkan pelukannya sambil tersenyum jahil.

“Iiih! Wonnie oppa! Tolong aku, Woobin oppa berbuat macam-macam denganku! Oppa! Heeem! Heeem!” Teriakan Jihyo langsung dibekap oleh tangan Woobin.

“Kau tau tidak sih oppamu ini mengerikan sekali? Dia kemarin hampir mau menonjokku juga! Aish, kalian kakak-adik sepertinya ada kecendrungan untuk menjadikanku samsak! Baiklah baiklah, aku akan melepaskanmu!”

Woobin melepaskan pelukannya dan mencium Jihyo dengan cepat.

“Ya! Kim Woobin!”

“Sudah berapa persen jadi?” Woobin mengelus rambut Jihyo yang acak-acakan. “Ngomong-ngomong, aku lebih suka penampilanmu saat bangun tidur.”

“Iiih, mesum!” Jihyo segera bangkit dan melemparkan guling ke Woobin. “Cepat sana turun dan makan! Kalau tidak, tidak akan kuberikan 40 persenku untukmu!”

Woobin memasang tampang aegyonya yang membuat Jihyo hampir saja menaikkan rasa sukanya ke namja itu menjadi 50 persen, “Gomapta, uri Jihyo-ah~” ujar Woobin sambil berjalan dengan riang.

+++

Woobin dan Jihyo bergabung ke ruang makan bersama Siwon, Key, dan para member Super Girls. Siwon tetap memberikan tatapan ‘aku tidak suka kau menempel dengan dongsaengku’ kepada Woobin. Namun Woobin sengaja mengambil tempat duduk di tempat Jihyo.

“Aku meminta maaf karena sudah membuat Jihyo seperti ini,” ujar Woobin berbicara ditujukan untuk semua orang di meja makan.

“Kemarin malam kau menyebut nama MinAh?” Suara Hyejin tiba-tiba berubah jadi horor di telinga Woobin. Dirinya teringat dengan perkataan Key barusan, jangan sebut nama itu di depan member SG.

“Ne,” suara Woobin menciut.

“Aku akan cabut izin kau bisa mendekati Jihyo kalau begitu,” ujar Hyejin dingin.

“Andwae, Hyejin-ah!” Teriak Woobin frustasi. Biasanya Hyejin yang paling mendukungnya untuk mendekati Jihyo, sekarang tiba-tiba saja Hyejin berubah pikiran.

“Kau akan kami jauhkan dari Jihyo,” MinAh menusukkan garpunya dengan keras ke daging di piringnya. “Jangan macam-macam!”

“Kau tau kan apa yang akan kukatakan? Jadi segera habiskan makananmu dan pulang,” HyunAh berusaha setenang mungkin menatap Woobin, tapi Woobin tau HyunAh benar-benar ingin mengusir Woobin.

Woobin melirik meminta pertolongan ke arah Hamun, namun percuma, Hamun juga sudah di-death glare-kan oleh unniedeulnya. Hamun menghela napas, “aku sebenarnya juga tidak suka sih kalau kau berbuat ke Jihyo unnie sampai segitunya. Kali ini aku tidak akan mendukungmu.”

“Yes!” Jihyo berteriak kegirangan, ia menjulurkan lidahnya mengejek Woobin sambil mengacak-acak rambut Woobin. “Kau kalah, hihihi!”

Siwon memandangi adegan di depannya dengan serius. Ia sekarang benar-benar sadar kalau adik satu-satunya benar-benar sedang jatuh cinta. Jihyo tidak pernah bertindak sekekanakan seperti itu kalau dia sedang marah. Apalagi dengan dukungan para member SG yang juga ikut memarahi Woobin. Dalam keadaan normal, Jihyo pasti sudah menghajar Woobin habis-habisan.

“Aku izinkan kau mendekati dongsaengku,” ujar Siwon membuka suara. Key terkikik sementara kelima yeoja Super Girls protes.

“Oppa, apa yang kau lakukan! Dia menyebut-nyebut nama yeoja itu!”

“Oppa, itu tidak adil!”

“Ya! Kau menyebalkan oppa!”

“Oppa, kumohon bela Jihyo unnie.”

“Siwon oppa, kau akan kulaporkan ke Teuki oppa!”

“Kau kuizinkan mendekati Jihyo, namun jika Jihyo menolakmu, kau harus berhenti mendekatinya,” ujar Siwon.

Woobin mengangguk senang, “Kamsa hamnida, Siwon sunbae.”

“Aku menolak, aku menolak!” Protes Jihyo.

“Kau yakin kau menolak? Yah, bisa saja 2 bulan kemudian kau akan melihat Woobin-ssi bersama yeoja itu,” ledek Key.

“Andwae!” Jihyo menggebrak meja makan, membuat suasana tiba-tiba hening.

“Kuhitung itu jadi 50 persen,” ujar Woobin sambil menyantap sarapannya.

+++

Woobin terus mengulum senyumnya sepanjang hari, ia bergegas bersiap-siap menuju tempat syutingnya. Hari ini seperti mimpi di dalam hidupnya. Pagi ini baru saja ia didukung oleh calon kakak iparnya.

Ia memencet layar handphonenya, mengirimkan pesan untuk Jihyo.

Jagi, aku mau berangkat ke tempat syuting❤

Woobin terkikik geli saat mengirimkan pesannya, tak sampai semenit sudah balasan dari Jihyo.

Kau akan kulaporkan ke Siwon oppa karena menggangguku! Jangan kirimkan pesan aneh kepadaku!

“Jihyo cantikku, jaga dirimu baik-baik. Aku akan pergi syuting selama seminggu. Jangan terlalu dekat dengan Key, walaupun sepertinya dia baik sih. Namun paling penting, jaga jarak dengan Sungmin sunbae!” Woobin mengetikkan pesannya dengan sebal. Ia selalu sebal apabila mengingat nama Sungmin.

Kalau kau nanti jadi namjachinguku (walaupun sepertinya tidak mungkin) baru kau bisa melarangku.

Nb : jaga kesehatanmu. Jangan lupa minum vitamin.

“Siap nona Choi!” Seru Woobin semakin kesenangan.

+++

Jihyo sesekali memperhatikan layar handphonenya. Kemana sih dia, bahkan sudah hampir seminggu tidak menghubungi.

“Kau menunggu Woobin-ssi menghubungimu?” Tanya Sungmin yang duduk di sebelah Jihyo. Mereka berdua juga HyunAh, Kyuhyun, dan Eunhyuk sedang menunggu untuk syuting Runningman.

“Tidak oppa,” Jihyo tersenyum ke Sungmin. Ia tidak bisa berbicara jujur ke Sungmin, kalau sekarang dia juga sudah mulai menunggu Woobin, walaupun di sisi lain Jihyo yakin ia masih mencintai Sungmin.

“Tidak apa, Hyonnie,” Sungmin mengelus kepala Jihyo. “Aku rasa aku kalah ya?” Sungmin tertawa.

Jihyo memandangi namja di depannya dengan iba. Ia sangat tau Sungmin tipe pengalah, itu pula yang membuat Jihyo amat sangat mudah putus dengan Sungmin, karena Sungmin mengalah dengan membiarkan Jihyo memutuskannya.

“Jangan seperti itu,” keluh Jihyo.

“Aku terus berusaha supaya kau bisa mencintaiku seperti dulu. Namun aku tidak mau kau sekarang terpaksa tidak memilih siapapun hanya karena kau tidak mau aku terluka. Aku berjanji, aku akan merebutmu kembali saat kau bersama Woobin,” ujar Sungmin.

Jihyo tau itu hanya basa-basi dari Sungmin. Sungmin bukan tipe perusak hubungan orang. Sungmin akan menunggu yeoja yang ia sukai benar-benar bebas dan siap memilihnya. Jihyo merasa jadi amat sangat jahat.

“Kurasa, kau memang harus memilih,” Kyuhyun mendatangi Jihyo dan Sungmin. “Aku tau kau menyukai Woobin walaupun kau terus berkata tidak. Aku juga tau di hatimu masih ada cinta untuk Sungmin hyung. Namun kali ini aku berbicara sebagai oppamu. Tolong pilihlah, jangan biarkan kau sakit karena kau memutuskan untuk tidak memilih siapa-siapa.”

Jihyo rasanya ingin memeluk kedua namja kesayangannya ini jika tidak sedang di ruang umum. Jihyo baru sadar, bahwa tindakannya untuk tidak memilih Sungmin maupun Woobin malah semakin menyakiti mereka bertiga, termasuk Jihyo.

“Nah, sekarang izinkan aku sekali saja melindungimu di Runningman. Jangan bersikap jagoan hari ini. Ne, Hyonnie?” Tanya Sungmin.

Jihyo mengangguk.

+++

Jihyo melingkarkan tangannya ke pundak Sungmin. “Oppa, pelan-pelan kakiku sakit!”

“Kau tau Hyejin akan membunuhku karena aku tidak menjagamu baik-baik,” keluh Kyuhyun.

Jihyo dan HyunAh cepat membalas, “Tidak oppa! Kami akan membelamu!” Kedua member Super Girls itu sudah tau jika Hyejin dan Kyuhyun bertengkar, dan pasti ujung-ujungnya mereka akan bermesraan sepanjang hari di depan para member Super Girls.

“Lagi kau kan sudah kubilang jangan pecicilan, Jihyonnie. Kau malah ikut-ikutan Eunhyuk,” ujar Sungmin.

“Loh, kenapa jadi aku yang disalahkan sih?” Eunhyuk membela diri. “Kan yang penting tim kita menang! Ayo kita pergi makan makanan mahal!”

Sungmin berhenti dan merundukkan tubuhnya. “Sudah sini naik ke punggungku, biar kugendong.”

Jihyo nyengir dengan penuh ketengilan, “Tuh kan benar kalau aku terus mengeluh cepat atau lambat kau akan menggendongku, hihi.”

“Hyung, lebih baik suruh dia jalan saja sih. Nanti pasti kalau kau capek, aku ujung-ujungnya yang harus menggendong dia,” Kyuhyun tidak terima.

Jihyo memberikan tatapan ‘Kau akan menyesal’ ke Kyuhyun. Ia naik ke pundak Sungmin dan mengalungkan lengannya di leher Sungmin. “Kau memang yang terbaik oppa, tidak seperti magnaemu,” ujar Jihyo mengecup pipi Sungmin.

Sungmin sudah menggendong Jihyo di belakangnya, namun ia tidak berjalan.

“Kenapa oppa? Ayo jalan aku lapar,” rengek Jihyo.

Kyuhyun akhirnya bersuara “Itu Kim Woobin-ssi kan?”

Jihyo memandang ke depan, Woobin berdiri terdiam memandangi mereka berlima. “Kau tau darimana kami di sini?” Jihyo berusaha berteriak agar Woobin mendengar.

Woobin mendekati mereka perlahan, “Hamun tadi memberitahuku,” Woobin membungkuk menyapa mereka. “Annyeonghaseyo, Kyuhyun sunbae, Eunhyuk sunbae, Sungmin sunbae, HyunAh, MinAh.”

“Oh, ini yang namanya Woobin,” Kyuhyun menyodorkan tangannya, Woobin menyambut jabat tangan Kyuhyun.

“Ne, sunbae. Kim Woobin imnida.”

Kyuhyun menyuruh Jihyo turun dari punggung Sungmin, “Sini dongsaeng, aku gendong. Sungmin hyung, bukankah harusnya kau berbicara dengan Woobin-ssi? Kami duluan saja ke restoran,” ujar Kyuhyun menyuruh yang lainnya lekas masuk ke mobil.

“Kalian berdua, jaga sikap kalian. Kami menunggu kalian berdua di restoran nanti,” ancam Kyuhyun.

+++

“Aku kira kau kalau kita berdua sama-sama menyayangi Jihyo,” Sungmin membuka pembicaraan. Ia harus segera menyelesaikan pembicaraan ini sebelum banyak orang yang melihat.

“Ne, sunbae. Namun aku tidak ingin melepaskan Jihyo. Aku kira aku tidak hanya sekedar menyukainya, aku mencintainya,” ujar Woobin tanpa basa-basi.

Sungmin tersenyum, “Aku akan mencarimu jika kau menyakiti Jihyo.” Sungmin terdiam beberapa saat, “Aku juga akan terus berusaha agar Jihyo mencintaiku seperti dulu, saat dia belum mengenalmu.”

Woobin mengepalkan tangannya, “Aku juga akan berusaha agar dia bisa mencintaiku 100 persen, seperti aku mencintainya.”

Sungmin menepuk pundak Woobin, “Aku percayakan Hyonnie-ku kepadamu,” Sungmin berjalan menjauhi Woobin.

Woobin tak bisa berkata apa-apa, ‘Maksudnya dia merelakan Jihyo untukku? Semudah itu’ pikir Woobin.

“Ayo cepat. Kyuhyun bilang kita berdua harus pergi menyusul mereka. Aku tidak mau Kyuhyun bertanya macam-macam apa yang terjadi jika aku tidak membawamu. Cepat, aku lapar!” Teriak Sungmin.

Woobin hanya bisa mengikuti perintah Sungmin. Ia masih tidak berpikir jelas. Ia kira pembicaraan ini akan panjang dan penuh darah, ia sudah siap untuk itu. Namun yang terjadi mengapa sebaliknya?

+++

Ini kependekan gak sih part 8 nya? *author bingung ngetik di handphone* Btw, udah pada bisa nebak gak selanjutnya apa yang akan terjadi dengan Sungmin dan Woobin? :p