Dengan wajah tanpa make up, mata lesu dan baju seadanya, Hyejin, Jihyo dan Hamun duduk di ruang tunggu Super Girls Ah, menunggu HyunAh dan MinAh selesai dimake up untuk debut stage duo mereka.

“Ya kalian bertiga kenapa tidak bersemangat seperti itu?” Tegur MinAh.

“Kalian tidak suka dengan debut stage kami ya?” Tanya HyunAh dengan sedih.

Jihyo menguap, Hyejin mengucek-ucek mata dan Hamun menepuk-nepuk pipinya agar tidak mengantuk lagi.

“Bukan begitu. Kami senang sekali kalian debut sebagai duo,” kata Hyejin yang disetujui oleh kedua dongsaengnya. “Tapi semalam aku wrap-up party musicalku sampai jam 6 pagi. Mian, MinAh-ya, HyunAh-ya.”

“Gwencana. Aku mengerti,” kata HyunAh.

“Lalu kau Hamun-ah? Kau tidak tidur semalaman sampai matamu membengkak sebesar itu,” kata MinAh menunjuk mata Hamun yang berukuran lebih besar dari biasanya.

“Aku mengerjakan tugas kuliah semalaman. Kau tahu eonni rasanya kembali ke kelas, mendapat tugas-tugas, terjaga sampai pagi demi beberapa lembar essay? Rasanya kepalaku ingin meledak,” keluh Hamun disambut tawa MinAh.

“Karena itu aku tidak mau kuliah lagi. Cukup sekali,” kata MinAh.

MinAh dan HyunAh kemudian memandang Jihyo. “Kau kemana? Kau jelas sekali pengangguran, tidak ada skedul dan bukan mahasiswi. Kau ngapain saja semalaman sampai bolak-balik menguap seperti itu? Bertemu Woobin? Atau Sungmin Oppa?” Tuduh MinAh dengan galak.

Jihyo menggelengkan kepalanya. “Aku maraton drama It’s Okay It’s Love. D.O menggemaskan sekali di situ,” jawab Jihyo.

MinAh menyelidiki lebih lanjut namun HyunAh mencegahnya. “Jihyo berkata apa adanya. Aku bisa melihatnya,” kata HyunAh pelan.

Smartphone Jihyo kemudian berdering keras. Buru-buru Jihyo menjawabnya, “Yaaa Key! Darimana saja dirimu? Bolak-balik aku telepon. Iya… Tolong kirimkan uang ke e-cash ku. Aku lupa bawa dompet. Aku hanya membawa handphone… Berhenti mengatai aku bodoh, bodoh. Ugh! Aku sedang di gedung Mnet menunggu debut stage SGAh. Jangan lupa kirim uangnya. Sekarang! Annyeong…”

Keempat member Super Girls hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala setiap evil magnae mereka menyiksa pria-pria di dekatnya. Mereka sebenarnya tidak tega tapi pria-pria itu mau saja jadi ya biarkan saja. Begitu pikir Hyejin.

“Kapan kalian muncul?” Tanya Hyejin kepada MinAh dan HyunAh.

“Aku rasa pertengahan. Segmen keempat,” jawab HyunAh.

“Aku yakin kalian akan tampil sempurna. Hwaiting!” Dukung Hyejin dengan sepenuh hati.

“Aku sependapat dengan Hyejin eonni. Eonnideul pasti akan membabat habis sub unit girlband lain dengan keseksian kalian,” ujar Hamun.

“Gomawo, yeojadeul!!! Doakan kami ya… Berpelukaaan…” MinAh dan HyunAh memeluk Hyejin, Jihyo dan Hamun sehingga mereka menjadi sebuah lingkaran kecil dengan saling berpelukan.

“Apa Eric Oppa akan datang untuk mendukungmu, eonni?” Tanya Hamun setelah pelukan mereka terlepas.

MinAh menggelengkan kepalanya dengan penuh senyuman bahagia. “Tapi dia sudah mengirimkan rangkaian bunga besar untukku. Kalian tidak melihatnya tadi di lobby?”

Hamun, Hyejin dan Jihyo serempak menggeleng.

“Ah, kalian payah,” ujar MinAh.

HyunAh tertawa. “Mereka kesini itu dengan mata setengah tertutup. Jalan saja susah dilihat apalagi rangkaian bunga dengan huruf-huruf penuh love begitu. Bisa pingsan di tengah-tengah lobby mereka,” kata HyunAh.

Hamun, Hyejin dan Jihyo serempak menganggukkan kepala mereka.

“Aku tidak mau tahu nanti kalian harus melihatnya. Kalau perlu foto bersama dengan bunga itu. Tidak ada tawar menawar!” Ujar MinAh.

“Baiklah. Nanti kami akan foto bahkan menguploadnya ke twitter,” kata Hyejin.

“Dan instagram. Deal?” Tambah Jihyo.

Wajah MinAh kembali berseri. “Deaaaal!!! Aaah, kalian memang teman-teman terbaikku. Peluk lagi…” MinAh memeluk Jihyo dan Hyejin dengan erat bahkan memberikan kecupan hangat di kedua pipi mereka.

Pintu ruang tunggu SGAh tiba-tiba terbuka dan muncul Kyuhyun dan Sungmin yang sudah rapi dengan kostum dan make up kalian. “Yaa! Bagaimana kalian bisa diam di sini padahal ada sunbae kalian yang masih comeback stage? Heoh?” Protes Kyuhyun.

MinAh menepuk keningnya. “Aku pikir comeback stage kalian sudah selesai,” kata MinAh dengan sinis.

HyunAh membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. “Maaf, kami pikir Super Junior sudah selesai. Kami akan segera ke sana sebelum tampil. Kami baru selesai make up,” kata HyunAh.

Kyuhyun tertawa keras-keras. Tentu saja ia hanya bercanda. Ia tidak peduli apa yang dilakukan hoobae-nya yang akan debut, dia hanya peduli pada gadis yang sedang menghilangkan bekas lipstik MinAh di pipinya.

“Annyeong,” bisik Kyuhyun mengagetkan Hyejin. Hyejin nyaris terjatuh saking kagetnya.

“Kau mengagetkanku tahu. Menyebalkan!” Ujar Hyejin dengan kesal. Ia kembali membetulkan posisi berdirinya. Dengan santai, Kyuhyun memeluk Hyejin dan memberikan sebuah kecupan di kening gadis itu.

“Nanti malam aku akan pulang. Tunggu aku di rumah,” kata Kyuhyun.

“Asal kau tidak tiba-tiba muncul dan mengagetkanku seperti tadi. Aku bisa mati mendadak kalau kau terus seperti itu,” protes Hyejin.

Kyuhyun tertawa tanpa rasa bersalah sedikitpun. “Kau tahu, salah satu hobiku itu mengganggumu.”

“Terserah apa katamu,” balas Hyejin sambil memanyunkan bibirnya karena kesal.

Pintu tiba-tiba terbuka. Refleks, Kyuhyun melepaskan pelukannya dari Hyejin. Woobin serta beberapa kamera masuk ke ruang tunggu SGAh.

“Super Girls Ah!! Artis debut kita hari ini…” Woobin tidak langsung melanjutkan kalimatnya saat ia melihat keberadaan Jihyo dan Sungmin di ruangan itu.

Woobin menatap Jihyo tajam. Sungmin menatap Woobin tidak kalah tajam. Jihyo menatap Sungmin dan Woobin dengan bingung. “Ottoke?” Tanya Jihyo kepada dirinya sendiri.

Hamun berdiri menarik Jihyo dan Sungmin keluar dari ruang tunggu. “Aku lapar belum makan siang. Ayo temani aku,” kata Hamun. Semua tahu itu hanya alasan karena Hamun baru saja memakan 2 box nasi pemberian Goddess.

Mata Woobin mengikuti kemana Jihyo pergi tapi kakinya tidak bisa beranjak kemana-mana karena ia harus menjalankan pekerjaannya sebagai MC sekarang.

“Sial!” Rutuk Woobin dalam hati.

—–

Debut stage MinAh dan HyunAh berlangsung sukses. Mereka berada di peringkat pertama dalam pencarian di situs Naver. Sebagai ucapan terima kasih, MinAh mengupload fotonya bersama member SG lain dengan latar belakang hadiah-hadiah serta makanan dari para Goddess.

Terima kasih atas dukungan kalian. Kami menyukai makanan dan hadiah-hadiah kalian. Sekali lagi terima kasih. Sebagai balasan, kami mengupload foto kami tanpa make up. Goddess, SARANGHAE!!

MinAh menuliskan caption untuk foto yang ia upload ke twitter dan instagram miliknya. Dalam sedetik, notification MinAh diserbu oleh puluhan bahkan ratusan komentar yang masuk. MinAh memutuskan untuk membacanya besok setelah agak sepi dari notifikasi.

Keempat member Super Girls kembali makan sampai kenyang sambil tentu saja bergosip, hal yang tidak bisa dihindari jika para gadis sudah berkumpul.

“Aku tidak pernah menyangka Donghae Oppa dan Johee pernah melakukannya. Dengan tampang se-innocent itu? Aaaah…” Ujar HyunAh memulai gosip.

“Aku juga tidak menyangka,” sahut MinAh. “Tadinya aku yakin Hyejin pernah melakukannya tapi ternyata tidak.”

“Haissssh… Kami tidak pernah melakukannya tahu! Kenapa semua berpikir aku pernah melakukannya sih? Aku terlalu lama berhubungan dengan Kyuhyun tampaknya. Haisssh!!!” Seru Hyejin gusar.

Hyejin menyuapkan sepotong sushi ke dalam mulutnya. Sambil mengunyah ia bertanya pada Hamun, “Jihyo kemana?”

Hamun menggeleng tidak tahu. “Bertemu dengan Woobin Oppa mungkin? Aku melihatnya terakhir tadi di gedung Mnet. Dia sedang ngobrol dengan Woobin Oppa,” jawab Hamun.

“Ooh…”

“Hyejin-ah, kemarin aku dengar kau akan main drama dengan Choi Jin Hyuk. Aku mencuri dengar. Sepertinya akan banyak adegan kiss,” kata HyunAh.

“Jinjja? Jinjja?” Tanya Hyejin dengan antusias. Choi Jin Hyuk adalah salah satu aktor favoritnya. Dengan dada bidangnya, suara rendahnya, bibir tipisnya. “Rasanya pasti akan sangat menyenangkan,” ujar Hyejin tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.

“Apa yang menyenangkan?” Kyuhyun tiba-tiba muncul dengan sekantong kecil kemeja.

Kyuhyun menyerahkan kantong yang ia bawa kepada Hamun. “Kemeja Siwon hyung yang aku janjikan. Semoga bisa bertahan selama ia pergi ke Taiwan,” kata Kyuhyun kepada Hamun.

“Gomawo, Oppa,” ucap Hamun senang. Ia segera membongkar isi kantong itu dan mendapatkan dua buah kemeja Siwon untuk dia bawa tidur nanti malam. “Gomawooo Oppa… Ini sangat menyenangkan!!!”

Kyuhyun tersenyum kepada Hamun dan berubah 180 derajat ketika berhadapan dengan Hyejin. “Apa yang tadi menyenangkan untukmu?” Kyuhyun bertanya dengan penuh curiga.

Seketika keempat member Super Girls terdiam. “Apa yang menyenangkan?” Ulang Kyuhyun tapi tidak ada yang menjawabnya.

Kyuhyun menatap Hyejin dengan tajam. “Kau lupa kalau malam ini aku tidur di rumah. Aku pulang dan tidak menemukanmu. Kau malah berada di sini, tertawa-tawa atas suatu hal yang tidak aku ketahui apa itu,” kata Kyuhyun dingin.

Hyejin tersenyum penuh rasa bersalah. “Mianhe. Aku lupa. Lalu bagaimana kau bisa mengetahui aku disini?” Tanya Hyejin.

“Dengan melacak keberadaan handphone-mu,” jawab Kyuhyun. “Jadi, apa yang menyenangkan bagimu tadi?”

Hyejin menghela nafas panjang. Hamun, MinAh dan HyunAh bersiap jika Kyuhyun meledak. “Ini belum dikonfirmasi tapi sepertinya manajemen mengajukan aku untuk bermain drama dengan Jin Hyuk Oppa dan banyak adegan mesranya,” ujar Hyejin takut-takut. Ia menatap Kyuhyun yang sudah mulai melipat kedua tangannya di depan dada.

“Syuting setiap hari. Kau akan meninggalkanku dan bersama laki-laki lain. Bercumbu dengannya dan membiarkan aku mendapatkan kehangatan dari selimut. Sial! Aku benar-benar tidak menyukainya. Tidak bisakah kau minta main drama lain? Drama anak-anak atau apapun yang tidak perlu melibatkan tubuhmu untuk disentuh pria lain?” umpat Kyuhyun.

Hyejin tersenyum lemah. “Mian,” ucap Hyejin.

“Sial,” umpat Kyuhyun lagi.

“Tapi itu belum pasti kok,” ujar MinAh sambil tersenyum berusaha mencairkan suasana.

Kyuhyun tidak percaya. Kalau nama Hyejin sudah muncul untuk jadi pemeran dalam suatu drama maka hal itu bisa dipastikan 100 persen terjadi. Dengan kesal, Kyuhyun melangkahkan kaki pergi diikuti oleh Hyejin. “Kau mau kemana? Aku ikut… Malam ini kita pulang ke rumah kan? Kyuhyun-ah, tunggu aku!!” Hyejin mengejar Kyuhyun yang tidak menoleh sedikitpun kepada Hyejin. Ia bahkan tidak bicara sepatah kata pun dalam perjalanan meskipun Hyejin sudah melakukan berbagai cara untuk merayunya.

—–

Diam-diam, Henry dan HyunAh bertemu di kafe milik Kyuhyun. Satu ruangan khusus tertutup disediakan untuk mereka berdua. “Baby Hyuuuuuuun….” Seru Henry yang langsung duduk di sebelah HyunAh, mengamit lengan gadis itu dan mengulaikan kepalanya di bahu HyunAh.

HyunAh tertawa kecil, menepuk-nepuk kepala Henry. “Bagaimana lagu barumu? Apa sudah jadi?” Tanya HyunAh.

“Belum. Aku masih sibuk dengan Fantastic jadi aku belum sempat mengolah lagu baruku. Masih benar-benar mentah,” jawab Henry.

Henry menyisipkan jemarinya di antara jemari HyunAh. “Kau sendiri? Kau pasti lelah dengan kegiatan promosi SGAh ya? Besok kau akan ke Jepang kan? Aaaaah, aku akan merindukanmu baby Hyun…”

HyunAh mengelus tangan Henry yang sedang mengamit tangannya. “Aku hanya pergi seminggu. Tidak akan terasa. Kita kan telepon-teleponan tiap hari,” ujar HyunAh.

“Tentu saja. Tanganku pasti gatal-gatal kalau tidak memencet nomormu sejam sekali,” kata Henry sambil tertawa.

Henry melepaskan tautan jari-jarinya dari jari-jari HyunAh. “Aku punya sesuatu yang harus kau bawa selama tidak bersamaku,” kata Henry sambil menyerahkan sebuah CD.

“Apa ini?” Tanya HyunAh.

“Dengarkan saja nanti. Aku yakin rindumu padaku akan terobati,” kata Henry percaya diri.

HyunAh tertawa. “Memangnya aku akan merindukanmu? Kalau kau pergi ke China atau Taiwan selama 2 minggu, siapa yang lebih sering menelepon? Kau atau aku?”

“Aku,” sahut Henry.

“Kalau begitu, siapa yang lebih merindukan?”

“Aku,” kata Henry lagi.

HyunAh tertawa semakin keras. “Kau lucu sekaliiiii sih, baby Hen… Aku semakin mencintaimu,” kata HyunAh.

“Aku lebih mencintaimu. Baby HyunAh-ku tercinta…” Balas Henry. “Pulang dari Jepang, kita liburan ke Bali ya. Aku sudah lama tidak ketemu pantai. Aku juga ingin surfing.”

“Aku boleh pakai bikini?”

“Yaa!!! Tidak boleh!!! Kau tidak boleh pakai bikini!” Larang Henry dengan galak. “Awas kalau kau pakai bikini. Pakai kaus baju renang one piece saja. Arra?”

“Arra. Arra,” keluh HyunAh kesal. Ia selalu ingin memakai bikini jika pergi ke pantai apalagi Bali tapi Henry tidak pernah mengizinkannya. Sekalinya ia pakai bikini, sewaktu pergi dengan member SG yang lain, Henry memarahinya habis-habisan.

“Good baby,” ucap Henry lalu mencium HyunAh. “Sudah malam. Aku akan mengantarkanmu pulang. Aku turun duluan ya. Aku parkir di basement Lotte Young. Susul aku 10 menit setelah aku SMS dirimu ya…”

“Ne.”

Henry mencium HyunAh sekali lagi sebelum ia keluar dan mengakhiri kencannya dengan HyunAh. Henry keluar lebih dulu agar jika ada orang yang melihatnya, mereka tidak akan curiga.

—-

MinAh duduk dengan gelisah di jok belakang mobilnya, menunggu kedatangan Eric yang janji muncul jam 11 malam tapi sampai tengah malam belum muncul juga.

“Hey, apa yang kau lakukan di dalam mobil?” Tanya HyunAh yang baru pulang dan tidak sengaja melihat MinAh di dalam mobilnya.

“Aku menunggu Eric Oppa,” jawab MinAh. “Kau baru pulang berkencan dengan Henry?”

HyunAh menganggukkan kepala. “Ada siapa di dorm?” Tanya HyunAh yang sudah bergabung dengan MinAh di jok belakang mobil.

“Tidak ada siapa-siapa. Hamun sedang belajar kelompok di rumah temannya. Mereka besok ujian semester. Jihyo tidak tidur di dorm selama tidak ada kegiatan Super Girls jadi dia memiliki banyak kemungkinan tapi kurasa ia sedang dimonopoli oleh ibunya sendiri,” kata MinAh kemudian tertawa diikuti oleh HyunAh.

Kedua gadis itu membayangkan Jihyo dan ibunya dalam ruangan yang sama, berdekatan. Pasti sedikit gesekan saja akan menimbulkan ledakan yang luar biasa di antara mereka.

“Lalu Hyejin?” Tanya HyunAh.

“Dia tidur di rumahnya dengan Kyuhyun. Aku tidak tahu mengapa mereka belum menikah juga. Padahal Kyuhyun sudah menyiapkan semuanya,” ujar MinAh.

HyunAh tertawa keras, menertawakan kebodohan MinAh. “Menikah itu tidak ada dalam kamus Hyejin sampai paling tidak 3 tahun ke depan. Ia masih ingin fokus dengan karirnya. Masa kau tidak tahu?”

Pintu mobil MinAh terbuka dan laki-laki berkepala yang lebih besar daripada lehernya dengan topi dan kacamata yang bertengger pas di kepalanya. “Annyeong, ladies,” sapa Eric yang langsung mendapat pelukan erat dari MinAh.

“Oppaaa… Aku merindukanmu!” Seru MinAh. Eric masuk ke dalam mobil menggantikan HyunAh yang memutuskan kembali ke dorm meskipun ia sendirian.

“Annyeong, Oppa… Titip temanku ya… MinAh-ya, have a good night!” Ujar HyunAh lalu meninggalkan MinAh dan Eric berduaan di dalam mobil.

MinAh duduk di pangkuan Eric dengan lengannya yang memeluk leher Eric dengan erat sedangkan Eric melingkarkan tangannya ke pinggang MinAh. “Oppa, lama sekali. Aku pikir kau tidak akan datang,” ujar MinAh sambil memanyunkan bibirnya.

Eric mencium bibir MinAh dengan lembut, dalam waktu yang lama, meluapkan seluruh kerinduannya. “Mana mungkin aku tidak datang. Aku merindukanmu tahu. Tadi syutingku agak terlambat selesainya. Maafkan aku ya…”

“Gwencana. Aku juga tidak terlalu lama menunggu. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk menemuiku. Gomawo, Oppa.” MinAh mengecup bibir Eric dan tidak bisa melepaskannya karena Eric menahannya.

“Oppa, aku tidak bisa bernafas,” kata MinAh setelah berhasil mendorong Eric hingga terlepas darinya. “Kau bersemangat sekali…”

Eric memeluk MinAh lebih erat. “Kau akan pergi ke Jepang. Aku pasti akan merindukanmu, jagi…”

“Aku hanya pergi seminggu. Nanti aku bawakan banyak oleh-oleh untuk Oppa,” ujar MinAh.

“Aku tidak mau oleh-oleh. Aku mau bersamamu saja.”

“Aigoo… Manja sekali sih. Aku gemas,” kata MinAh sambil mencubit kedua pipi Eric. “Kalau Oppa ada waktu, Oppa boleh datang ke Jepang. Kurasa kita bisa jalan-jalan sebentar.”

“Jeongmal?”

MinAh menganggukkan kepalanya dengan yakin. “Baiklah. Semoga saja aku tidak ada syuting,” kata Eric lalu mencium MinAh lagi.

Dua sejoli itu hampir menghabiskan 3 jam kebersamaan mereka dengan bertukar cerita, berpelukan dan mengakhiri kencan sembunyi-sembunyi mereka dengan ciuman mesra yang nyaris membuat MinAh pingsan kepanasan.

“Omo! Omo! Bagaimana bisa Tuhan menciptakan laki-laki sekeren itu?” Gumam MinAh sambil mengipas-ngipas wajahnya yang keringatan meskipun berada di dalam mobil ber-AC saat melihat punggung Eric yang semakin lama semakin menjauhinya.

—-

Hamun berpuluh-puluh kali memencet bel apartemen tempat tinggal Kyuhyun dan Hyejin tapi tidak ada yang kunjung muncul membukakan pintu.

Eonni!! Aku di depan. Bukakan pintu untukku.

Eonni!!!

HYEJIN EONNI!!!

Hamun berusaha menghubungi Hyejin melalui telepon dan pesan singkat tapi tidak ada satu pun yang dibalas oleh Hyejin.

Hamun kembali memencet bel. Kali ini lebih lama dan lebih kasar.

“Nuguseyo?” Akhirnya intercom apartemen itu berbunyi. Suara parau Kyuhyun terdengar dari speaker intercom itu.

“Oppa….” Hamun memanggil Kyuhyun dengan nada antara lega, putus asa sekaligus kesal.

Tidak lama kemudian, pintu apartemen itu terbuka dan Kyuhyun mempersilahkan Hamun masuk. “Eonni-mu masih tidur. Tunggu saja sebentar,” kata Kyuhyun lalu masuk ke dalam kamar.

Hamun duduk di ruang santai yang super berantakan. Piring-piring, gelas-gelas, berbotol-botol soju, botol wine tergeletak begitu saja di atas meja. Keadaan di dapur jauh lebih parah. Peralatan masak tergeletak di sana-sini, bumbu-bumbu yang berceceran dan tumpukan benda lain yang seharusnya segera dicuci namun belum dicuci.

Pintu kamar Hyejin terbuka dan ia muncul dengan rambut berantakan, pakaian Kyuhyun yang kebesaran dan wajah yang kelelahan.

“EONNI!” Teriak Hamun melihat keadaan Hyejin yang cukup tidak layak untuk dilihat.

—-

To be continued