Jihyo memijit kakinya perlahan, rasa sakit di pergelangan kakinya tak sebanding dengan rasa cemas di hatinya saat meninggalkan Woobin dan Sungmin tadi.

“Kau tidak makan?” Tanya Kyuhyun cemas.

Jihyo menggeleng, “Makan duluan saja oppa.”

“Aku jadi tidak nafsu makan kalau begini,” Eunhyuk mengembalikan kembali sushi yang sudah dia ambil. “Makan Jihyo!”

Jihyo mengerti suasana hatinya membuat tidak enak Kyuhyun, Eunhyuk, dan HyunAh. Akhirnya ia memaksakan diri untuk memasukkan makanan ke mulutnya.

Tak lama berselang, pintu ruangan restoran bernuansa Jepang itu terbuka, Jihyo langsung menoleh, Woobin dan Sungmin masuk tanpa ada luka lebam sedikitpun.

“Gwenchana, oppa?” Tanya Jihyo. Ia tidak tau menujukan pertanyaannya ke Woobin atau Sungmin.

“Gwenchana dongsaengi,” Sungmin mengambil tempat bersebrangan dengan Jihyo. Woobin masih berdiri, ia terlihat canggung.

“Duduklah di samping Jihyo,” ujar Sungmin. Woobin akhirnya duduk.

“Gwenchana?” Bisik Jihyo. Woobin mengangguk.

Makan malam pun kembali dilanjutkan, kali ini tidak ada satupun yang berani membuka suara. Jihyo memandangi Sungmin, wajahnya terlihat murung dan pucat. Sungmin pun hanya mengaduk-aduk nasinya.

“Miso soup, Sungmin oppa?” Tawar Jihyo. Sungmin hanya tersenyum menggeleng.

“Untukmu saja,” ujar Sungmin bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan ruangan.

Jihyo tau ada yang tidak beres dengan Sungmin. Ia melirik ke sampingnya, Woobin pun daritadi hanya memandangi udon di depannya. Akhirnya Jihyo bangkit dan bergegas keluar menyusul Sungmin.

Ia menemukan Sungmin sedang berdiri di samping kolam ikan di restoran itu. Ia menepuk pundak namja itu.

“Kau tadi berbicara apa dengan Woobin oppa?”

Sungmin tersenyum, “Aku hanya bilang aku melepaskanmu untuknya.”

Jihyo terdiam memandangi ikan koi yang berenang-renang di kolam.

“Dia bilang aku namja brengsek. Dan aku tidak pantas memilikimu.”

Jihyo terbelalak, “Dia berbicara seperti itu?” Jihyo tak percaya, namun yang berbicara adalah Lee Sungmin. Bagaimana mungkin ia tidak percaya?

“Dia bilang seharusnya dia bersama MinAh, namun karena MinAh terlalu sibuk dan kau amat mudah didapatkan, dia akhirnya mengejarmu terlebih dahulu,” Sungmin menatap Jihyo cemas.

“Aku sudah berjanji kepadamu bahwa aku akan melepaskanmu, namun ternyata ia adalah namja seperti itu. Kumohon Hyonnie, jaga dirimu. Aku sudah tidak bisa lagi menjagamu seperti dulu.”

Sungmin merengkuh tubuh Jihyo, memeluknya, dan berusaha menciumnya. Jihyo masih berusaha menolak semua ucapan Sungmin. Woobin yang ia kenal tidak pernah seperti itu. Atau mungkin ia tidak mengenal Woobin?

Saat bibir Sungmin menempel di bibirnya, Jihyo kembali ke kesadarannya, ia refleks menahan Sungmin, namun Sungmin tak melepaskannya.

Jantung Jihyo berdegup kencang, tapi kali ini bukan karena rasa suka dicium Sungmin, ia ketakutan. Disaat pikirannya kalut, lengannya ditarik oleh seseorang dengan cepat, Woobin.

“Kau bilang kau akan merelakannya!” Woobin menonjok Sungmin begitu ia melihat Sungmin mencium Jihyo.

Sungmin sedikit oleng, “Memang.”

Woobin tidak tahan untuk menghujani Sungmin dengan pukulan. Mereka berdua bergerumul dan memaksa Jihyo berteriak.

“Berhenti! Kalian berdua berhenti!” Jihyo berusaha memisahkan kedua namja itu. Woobin terus memukul Sungmin, namun Sungmin hanya diam tak membalas. Padahal sebagai seseorang yang ahli martial arts, Sungmin bisa menghentikan Woobin dengan mudah.

“Hentikan, Kim Woobin!” Jihyo berteriak dan menarik Woobin. “Kau sudah gila apa?”

Jihyo segera menghampiri Sungmin. Lebam terlihat di wajah namja itu. Jihyo lekas memapah Sungmin berdiri. Di saat yang sama Kyuhyun, Eunhyuk, dan HyunAh keluar dari ruangan karena teriakan Jihyo.

“Kau keterlaluan,” Kyuhyun memegang kerah Woobin, ia hampir saja menonjok Woobin namun dicegah Eunhyuk.

“Berhenti, Kyu!” Ancam Eunhyuk. Ia tau ini tentang Jihyo, dan Kyuhyun maupun Sungmin bisa bertindak gila. “Kita pulang!”

Jihyo dan HyunAh memapah Sungmin kembali ke mobil. Jihyo sempat menoleh ke belakang, melihat Woobin sendirian, ia tau Woobin kesal, ia juga tau Woobin mau menahannya, karena entah mengapa ia merasa seharusnya ia ada di samping Woobin, bukan memapah Sungmin ke mobil.

+++

“Kau tidak apa-apa?” Jihyo bertanya sekali lagi Sungmin. Sungmin hanya terduduk di ruang tamu dorm Super Junior. Ia meraih tangan Jihyo dan menepuknya. “Pulanglah. Hyukkie bisa tolong antarkan Jihyo dan HyunAh?”

Eunhyuk menggangguk, Eunhyuk dan HyunAh keluar dari dorm Super Junior terlebih dahulu. Namun Jihyo masih memandangi Sungmin.

“Kau kenapa? Dia tidak berkata seperti itu kan?” Tanya Jihyo.

“Hyonnie, dia memukuli Sungmin,” ujar Kyuhyun. “Sudah sana pulanglah.”

“Dia tidak berkata seperti itu kan, oppa? Kau bohong kan?” Desak Jihyo.

“Aku tidak berbohong,” Sungmin memandang Jihyo dengan lembut. “Aku tidak akan berbohong kepadamu.”

Jihyo merasa tak puas, namun Kyuhyun sudah memberikan tatapan menyuruh dirinya pulang. Jihyo akhirnya memutuskan untuk pulang dari dorm Super Junior saat handphonennya menunjukkan HyunAh unnie nya menelpon.

“Kau gila,” Kyuhyun menutup pintu dorm setelah Jihyo pulang. “Kau tidak menyangka dia akan memukulimu seperti itu kan hyung?”

Sungmin tersenyum, “Aku malah berharap Woobin memukulku habis-habisan.”

“Kau babak belur begini. Rencanamu ajaib,” Kyuhyun melempar obat luka ke Sungmin. “Dan rencanamu mengerikan.”

Sungmin sadar luka-lukanya ini tidak akan sembuh dalam semalam. Ia juga sadar bahwa Leeteuk hyung nya akan marah-marah melihat wajahnya yang lebam.

“Aku mau tidur,” ujar Sungmin.

“Hyuuuung, setidaknya beritahu aku apa rencanamu,” seru Kyuhyun.

“Loh bukannya kau sudah tau?”

Kyuhyun mencegat Sungmin masuk ke kamar. “Aku hanya tau kau berbohong ke Jihyo dan membuat Woobin emosi. Aku tidak tau apa maksudmu membuat mereka seperti itu!”

Sungmin menggeser Kyuhyun agar tidak menghalangi jalannya, “Nanti, kau akan tau sendiri.”

+++

Hamun mengucek matanya yang sejak tadi mengerjakan tugas kuliahnya di laptop. Otaknya sudah hampir meledak mengerjakan tugas dari dosennya yang menumpuk. Ia akhirnya membuka situs entertainment. Di berita terbaru ada headline “Kim Woobin Kembali Ke M! Countdown.”

“Unnie!” Teriak Hamun. Hyejin yang sedang memasak makan malam di dapur hanya membalas teriakan Hamun “Kenapa magnae?”

“Kita weekend ini tampil dimana?”

“M! Countdown. Kenapa sih?” Hyejin menghampiri magnaenya.

Hamun menunjukkan artikel yang baru saja dibacanya.

“Aku tau kalau Sungmin oppa berbohong!” seru Jihyo memasuki dorm Super Girls. HyunAh mengejar si evil second magnae pun ikut berteriak, “Kau tau darimana sih?”

“Pokoknya aku tau!” Jihyo membanting pintu kamarnya dan mengunci dirinya lagi.

“Ada apa sih kalian berdua pulag pulang malah berteriak seperti itu? Bagaimana syuting Runningman?” tanya Hyejin.

“Tadi tiba-tiba Woobin ada di tempat syuting, lalu kami semua bersama Woobin makan malam bersama, dan aku tidak tau kenapa malah terjadi baku hantam antara Sungmin oppa dan Woobin,” HyunAh melirik ke arah layar laptop Hamun.

“Apa? Woobin kembali jadi MC di M! Countdown? Weekend ini kita kan tampil di sana!”

Tiba-tiba pintu kamar Jihyo terbuka, secepat kilat kini laptop yang ada di tangan Hamun pindah ke tangan Jihyo. “Haduh, Super Junior juga tampil di sana!”

“Aku akan beritahu Kyuhyun oppa kalau begitu. Haduh ini apa-apaan sih. Choi Jihyo! Bereskan urusanmu dengan Woobin oppa sebelum kita tampil di M! Countdown!” perintah Hyejin.

“Unnie! Aku saja tidak tau apa masalah yang terjadi antara Sungmin oppa dan Woobin oppa! Aku menolak membereskan urusan entah apa itu!”

“Apa harus aku yang turun tangan?” bentak Hyejin. Jihyo tau juga Hyejin turun tangan maka kecil kemungkinan ia bisa bertemu lagi dengan Woobin, bahkan dengan Sungmin.

“Baiklah, baiklah,” Jihyo merogoh handphone di kantung jaketnya. “Tapi aku tidak janji permasalahan ini selesai di weekend nanti!”

+++

Jihyo bergegas mencari ruangan MC M! Countdown daritadi, namun ia tidak menemukannya. “Angkat teleponku, oppa!” Sudah tiga hari setelah kejadian baku hantam, lebih tepatnya pemukulan yang dilakukan Woobin dan Sungmin lewat, dan sejak itu pula ia telah ratusan kali menolak telepon dari Sungmin dan ratusan kali pula Woobin tidak mengankat teleponnya.

“Kau tidak bersiap-siap?” tanya namja di hadapannya. Jihyo yang daritadi fokus ke handphonenya akhirnya teralihkan.

“Nanti,” Jihyo langsung berbalik begitu melihat Sungmin di depannya. Ia sedang tidak mau berbicara dengan Sungmin. Ia tau kalau Sungmin berbohong dengannya, anggap saja itu insting setelah ia sudah berpacaran dengan Sungmin selama hampir tiga tahun. Dan saat malam Woobin memukuli Sungmin, saat itu pula insting Jihyo mengatakan bahwa Sungmin berbohong, walaupun ia juga masih ragu dengan dirinya.

“Kau menghindariku,” ujar Sungmin terus mengikuti Jihyo.

“Kau mengganti warna rambutmu lagi,” jawab Jihyo basa-basi.

“Waktu itu aku pakai wig.”

“Mwo?” Jihyo langsung berbalik. “Serius kau pakai wig oppa? Itu rambut silvermu itu wig?”

Sungmin tersenyum sambil mencubit pipi Jihyo, “Kau ini selalu saja mudah terdistraksi.”

Jihyo cemberut. “Kau ini berbohong padaku ya! Kau kan tau aku paling tidak suka dibohongi! Ah sudahlah oppa, aku mau make up dulu!”

Sungmin tertawa saat Jihyo akhirnya benar-benar meninggalkannya. “Aku tau kau daritadi di sana,” ujar Sungmin.

Sesosok namja keluar dari pintu di belakang Sungmin. “Maafkan aku akan sikapku waktu itu,” ujar Woobin sambil membungkukkan badannya.

Sungmin bisa melihat lingkaran hitam di mata Woobin walaupun ia telah memakai make up. “Tidak semudah itu kau mendapatkan Jihyo.”

“Namun kau bermain kotor,” jawab Woobin. “Aku tidak pernah berbohong kepada Jihyo, tapi kau iya.”

Sungmin mengangkat pundaknya, “Aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Termasuk nanti di stage. Aku akan bilang ke seluruh Korea kalau aku pacarnya.”

“Kalian sudah putus!” suara Woobin meninggi. Ia menahan amarahnya untuk tidak mengkonfrontasi Sungmin.

“Kau yakin? Karena kurasa Jihyo juga masih mencintaiku,”

+++

Hamun sejak tadi memegang handphone Jihyo karena unnienya sejak di make up dan tak boleh membuka matanya. “Ada pesan, Hamun?” tanya Jihyo.

Hamun menggeleng, “Tidak unnie.” Beginilah nasib magnae jika Jihyo sedang dalam masalah. Hanya dia yang masih mau membantunya di saat para unniedeul yang lain sudah menyerah.

“Beritahu aku yah kalau ada pesan,” ujar Jihyo.

“Kau kenapa cemberut begitu sih, anak manis? Membuatku ingin menciummu saja siiih,” cubit Siwon. Hamun hampir saja meloncat dari sofanya karena tak mendengar kekasihnya masuk ke ruangan Super Girls.

“Ya! Aku dengar suaramu, oppa! Jangan ganggu Hamun! Dia sedang menjalankan tugas khusus!” teriak Jihyo.

“Tugas khusus apa?” tanya Siwon mengambil tempat duduk di samping Hamun.

“Ini oppa, memberi tahu jika Woobin oppa menghubungi Jihyo unnie,” keluh Hamun.

“Ya! Magnae! Jangan beritahu Wonnie oppa!”

“Masih soal Woobin? Aish Jihyo-ah, kau ini sudah gila apa! Setelah ia memukuli Sungmin hyung lalu kau masih menunggunya untuk menghubungimu?” Siwon reflex berdiri setelah mendengar nama Woobin.

“Bukan urusanmu, oppa!”

“Ini urusanku! Aku oppa mu, mengerti!”

“Aku sudah dewasa!”

Hamun menarik tangan Siwon untuk duduk kembali “Gwenchana, jagi. Jangan marah-marah ke Jihyo unnie, yaaah.” Hamun memasang tampang aegyonya sebelum Chpi bersaudara bertengkar.

“Ne, jagi ~ kau memang selalu menggemaskan membuatku lupa kalau Jihyo itu menyebalkan sekali untuk menjadi adik seorang adik Choi Siwon,” Siwon hampir saja mau mencium kekasihnya namun keburu ditarik Jihyo yang sudah tidak tahan duduk di kursi make up.

“Pergi sana, pergi oppa! Kau juga terlalu narsis untuk menjadi kakak seorang Choi Jihyo! Harusnya kakakku itu Cho Kyuhyun! Aku mau ganti marga!” Jihyo menutup pintu dan segera mengunci pintunya.

“Ya! Choi Jihyo! Lihat saja kalau kau mengubah margamu! Kau tidak boleh jadi adiknya Kyuhyun! Jihyo! Buka pintunya, buka! Ini pasti kau dipengaruhi Kyuhyun!”

Hamun hanya bisa tertawa mendengar teriakan Siwon di luar. Siwonnya memang kakak paling posesif sedunia jika Jihyo sudah membanding-bandingkannya dengan Kyuhyun.

“Eh, unnie! Ada pesan dari Woobin oppa!” seru Hamun.

“Mana?” Jihyo langsung megambil handphonenya dari tangan Hamun.

Aku sedang di atap gedung. Temui aku sekarang, ada yang harus aku bicarakan.

+++

Kumohon temui aku terakhir kali ini, aku sekarang ada di atap gedung. Aku tidak akan mengganggumu lagi setelah ini.

Woobin segera berlari begitu melihat pesan di layar handphonenya. Apa-apaan ini? Mengapa pesan yang ia terima dari nomer Jihyo begitu menyeramkan. Ia memang sejak tiga hari lalu tidak mengangkat telepon maupun membalas pesan dari Jihyo. Ia marah karena saat itu Jihyo tidak membelanya. Ia juga marah karena Jihyo percaya begitu saja dengan Sungmin. Ia juga marah karena tau JIhyo hanya menyukainya sebanyak 50 persen, tidak sepertinya yang menyukai yeoja itu 100 persen.

Ia secepat mungkin menaiki anak tangga, sudah dua lantai dia tempuh, tinggal 1 lantai lagi. Woobin pun tidak mengerti mengapa ia tidak memutuskan untuk menaiki lift saja. Otaknya sudah kalut, ia tidak mau terjadi apa-apa kepada Jihyo.

“Jihyo-ah!” teriak Woobin terengah-engah saat melihat Jihyo berdiri di pinggir atap gedung. Ia segera memeluk Jihyo dan menariknya menjauh dari sana.

“Kau sudah gila apa mau bunuh diri?”

Jihyo memukul kepala Woobin, “Kau kebanyakan acting apa hingga berpikir aku mau bunuh diri!” Ia melihat wajah Woobin yang pucat pasi, JIhyo segera melepaskan pelukan Woobin.

“Kau kenapa, oppa?”

“Aku yang harusnya bertanya kenapa! Kau mengirimkanku pesan yang aneh dan berdiri di sana! Kukira kau mau bunuh diri!” teriak Woobin frustasi.

“Ih, kau yang menyuruhku datang ke sini. Begitu aku sampai kau tidak ada di sini makanya aku lihat-lihat pemandangan saja.”

“Jangan lakukan itu lagi atau aku akan mengejarmu seumur hidupku!” ancam Woobin.

“Aku senang jika kau mengejarku seumur hidupku,” aku Jihyo malu-malu, ia bisa merasakan wajahnya memerah.

“Kau serius?”

“Tentu saja tidak! Kau harus membuatku menyukaimu 100 persen!” Jihyo berusaha mempertahankan harga dirinya. Woobin mulai meringis kesal.

“Dan kau malah membela Sungmin kesayanganmu itu!”

“Loh, kau kok ungkit-ungkit itu lagi sih?”

“Memang! Karena kau tidak mempercayaiku dan malah membelanya,” Woobin menahan dirinya untuk tidak berteriak lagi, ia harus menyimpan suaranya untuk comeback sebagai MC lagi.

“Itu karena kau tiba-tiba saja memukulinya.”

“Bagaimana aku tidak memukulinya saat aku melihatmu dan dia berciuman! Jangan-jangan kau malah suka berciuman dengannya.”

“Tidak,” jawab Jihyo tegas.

“Apa?”

“Aku baru sadar sekarang, aku tidak menyukai berciuman dengan Sungmin oppa.” Jihyo mendekatkan dirinya ke Woobin “Aku ternyata lebih menyukai jika kau menciumku.”

Wajah Woobin yang tadinya sepucat mayat kini berubah secara cepat menjadi kemerahan, Jihyo mendekatkan dirinya ke Woobin dan mencium namja di hadapannya. Woobin melingkarkan tangannya memeluk Jihyo.

Dan flash kamera berhasil mengagetkan kedua orang tersebut. Mereka tiba-tiba sadar jika di siapapun pemegang kamera itu telah berhasil mengambil gambar Jihyo dan Woobin berciuman.

++++

Maafkan author ya semuanya baru dipublish part 9 nya. Terima kasih sudah setia membaca Two Sides of Devils hingga part 9 ini. Mohon bersabar karena part terakhirnya masih dalam penulisan! Annyeeeong!