Annyeong! Esther here Hehehe karena onniedul pada bikin ff jadi pingin ff juga deh (mumpung belum banyak tugas). Hope you enjoy this fanfiction hehehehe. This fanfiction was inspired by a poem that i ever found. I’m sorry i cant make a credit because the poem had already published in many website so, i don’t know who is the original author. Anyway, hope you like it ya and as always feel free to give comment or anything. Thank you^^

*****

Gadis ini tidak percaya adanya cinta di dunia ini. Mungkin kalimat yang lebih tepat adalah gadis ini tidak percaya kalau laki-laki bisa mencintai seorang wanita dengan tulus. Jangan menghakiminya atas keyakinannya ini. Selama 25 tahun ia hidup di dunia ini, kebanyakan pria yang ada di sekelilingnya mengecewakannya. Ayahnya, kakaknya, sahabat kecilnya, mantan pacarnya, kawan sekerjanya, semuanya. Ia berpegang pada pendiriannya itu sampai pada suatu hari ia melihat kenyataan yang menangkis keyakinannya itu. Ternyata, di dunia ini masih ada orang bodoh yang mencintai tanpa mengingini.

*****

“Jadi, kapan rencana pernikahanmu akan dilaksanakan, Choi Siwon?” tanya seorang wanita cantik yang duduk di teritorial kekuasaannya. Ia bertanya sembari tetap fokus pada berkas yang harus ia tanda tangani.

“Sebulan lagi, nona Hamun. Aku akan sangat senang jika nona menyempatkan hadir di pernikahan saya,” kata pria itu ramah dan penuh sopan santun.

Wanita itu, Hamun, menutup dokumen yang baru ia tanda tangani dan mengembalikannya pada Siwon, sekretarisnya. Di wajah wanita itu tak ada senyum, tatapannya dingin seperti biasanya, dan aura ‘jangan dekati aku’ terpancar dari tubuhnya. “Atur jadwalku pada hari itu, kosongkan saat pemberkatan pernikahanmu,” kalimat itu terucap olehnya.

Siwon tersenyum pada wanita yang merupakan atasannya itu. “Baiklah, nona. Gamsahamnida,” ujarnya. Pria itu melangkah keluar dari ruangan itu, tapi di ambang pintu kakinya terhenti akibat pertanyaan yang dilontarkan Hamun, “Kau menyayanginya dengan tulus, kan?”

Siwon terdiam sesaat. Ia tak tersinggung dengan pertanyaan itu karena ia sangat mengerti bosnya itu. “Ne, nona,” jawabnya. “Aku yakin suatu saat nona akan menemukan pria yang mencintai nona dengan tulus,” lanjutnya. Matanya memandang Hamun lekat namun gadis itu hanya menatap langit sendu sore itu. Kata Hamun, “Berharaplah demikian, karena aku sudah berhenti berharap. Sudah sejak lama,”

Siwon menatap wanita itu lirih. Lima tahun yang ia habiskan dengan menjabat sebagai sekretaris pribadi nona Hamun, membuatnya mengerti tentang gadis itu.Ia tahu setiap kebaikan yang wanita itu lakukan dibalik topeng antagonisnya. Ia tahu masa lalu seperti apa yang membentuknya seperti sekarang ini. Ia tak bisa berkata apa-apa, apa yang ia alami terlalu pahit untuk diingat.

*****

Hamun baru saja selesai melakukan survey lapangan ditemani dengan sekretaris andalannya, siapa lagi kalau bukan Choi Siwon. Perut yang lapar membuatnya terhenti di salah satu restaurant langganan keluarganya. “Anggap saja ini traktiranku sebelum kau menikah. Makan yang banyak,” kata Hamun pada Siwon.

“Gamsahamnida, Nona Hamun,” jawab Siwon yang langsung menyantap makanan di hadapannya. Sambil makan, dengan kesadaran penuh Hamun melakukan observasi pada ruangan, pelayan, dan pengunjung restaurant itu. Matanya terhenti saat melihat gadis yang ia kenal ada disana. Akan tetapi, semuanya terasa janggal. Gadis yang Hamun kenal itu sedang menangis, tampak tertekan dan tak bahagia padahal kurang dari seminggu ia akan menikah. Kejanggalan yang lain, saat ini ia sedang bersama pria yang seharusnya tidak memegang tangannya dengan mesra dan mengecup gadis itu. Dugaan yang muncul di hatinya seakan terbukti saat gadis itu juga menatap Hamun. Gadis itu mengalihkan pandangannya dari Hamun dan segera mengajak pria yang bersamanya pergi dari tempat itu.

“Siwon shi, aku ke kamar mandi dulu. Kau disini saja,” kata Hamun lalu bangkit dan segera mengikuti gadis itu. Tuhan seakan berpihak dengan Hamun sehingga gadis itu dapat ia cegat sebelum langkahnya menjauh.

“Jini ssi,” panggil Hamun.

“No, nona Hamun. Apa kabar, nona?” tanyanya berusaha mengendalikan arah pembicaraan nona Hamun. Ada kegugupan dari caranya berbicara dan Hamun tahu itu.

Hamun menatap Jini dengan mata yang penuh amarah. “Kau akan menikah dengan Choi Siwon minggu depan, kau tak sepantasnya pergi makan dengan pria lain bahkan ia sampai memegang tanganmu dan menciummu. Choi Siwon terlalu baik untuk kau khianati seperti ini,” ujar Hamun.

Air mata Jini kembali menggenang. Ia terjatuh di tempatnya dan mulai terisak. “Aku tahu itu, aku tahu. Ia sangat baik dan tak ada kekurangannya tapi aku tak mencintainya. Aku mencoba namun segala usahaku gagal,”

Hamun berkata, “Jangan katakan hal seperti itu pada Choi Siwon karena ia mencintaimu sangat tulus. Bertahanlah dan tetaplah berusaha untuk mencintainya,”

Kini giliran gadis itu yang menatap Hamun dengan benci. “Kau tahu apa soal cinta? Hidupmu terlalu enak, semua yang kau inginkan bisa kau dapatkan! Tentu saja pria juga bukan masalah bagimu, kan?! Kau bisa langsung saja mendapatkan pria yang kau cintai karena mereka juga pasti mencintaimu, kekayaanmu, dan semua yang kau miliki! Kau tak akan tahu perasaanku yang harus menikah dengan orang yang tak aku cintai hanya karena orang tuaku dan orang tua Choi Siwon sama-sama perlu uang untuk perusahaan kami!” serunya nyaris berteriak. Ia menyelesaikan ucapannya dengan nafas yang tersenggal-senggal.

Hamun tak bergeming. Ia menatap Jini dengan tatapan yang tak dapat dimengerti. “Kau butuh uang berapa?” tanya Hamun. Gadis itu menatap Hamun kaget. “Ne?” tanyanya tak mengerti.

Hamun menghela nafas panjang lalu mengeluarkan cek dan pulpen yang selalu ia bawa saat kerja. Ia menuliskan angka dan menambahkan banyak angka nol di belakangnya lalu ia memberikan cek itu pada Jini. “Kau menikah karena butuh uang, kan? Aku akan menambahkan jumlah uang yang akan kau dapat jika kau menjadi istri Choi Siwon. Jadi, jangan khianati dia,” ujarnya lalu beranjak pergi dari tempat itu.

Langkah Hamun tak berlanjut saat ia mendapati Siwon berdiri beberapa meter di depannya. Hamun mendapati pria itu sedang menatap calon istrinya dengan tatapan lirih namun Jini tak berani menatap Siwon. Jini yakin Siwon mendengar semua yang ia katakan tadi. Entah mengapa, insting Siwon merasakan ada sesuatu yang tidak beres dan nona Hamun harus dilindungi. Karena itulah ia mengikuti nona Hamun dan mengetahui semua yang terjadi antara Hamun dan Jini.

Hamun kembali melangkah dan saat tepat di samping Siwon ia mengatakan, “Selesaikan masalahmu dengannya, aku pulang sendiri saja,” ujarnya lalu pergi meninggalkan Siwon yang menatap kepergian Hamun dengan sendu.

*****

Hari yang tenang. Tidak banyak pekerjaan dan ia dapat bersantai-santai. Tapi tiba-tiba saja pintu kantornya terbuka. Disana berdiri seorang wanita yang Hamun kenal sebagai calon istri Choi Siwon. Mata gadis itu membengkak, bahkan setelah matanya bertemu dengan mata Hamun tangisannya langsung merebak. Gadis itu langsung bersimpuh di tempatnya berdiri tadi. Hamun segera menghampiri Jini dan mengangkatnya tapi gadis itu tak bergeming. “Aku mohon, Nona Hamun. Aku mohon, tolong Choi Siwon,” ujarnya sambil terisak.

Hamun terdiam, menanti kelanjutan pembicaraan gadis itu. “Ia mengorbankan segalanya demi aku. Ia membatalkan pernikahan kami demi aku tapi ia berkata bahwa ia yang bersalah. Ia yang kurang ajar karena ia mencintai gadis lain. Ia melakukan semua itu demi aku, agar aku tak dibenci orang tuaku dan keluargaku. Ia menanggung semua caci-maki demi aku. Aku yang mengkhianatinya, nona!”

Tangisan gadis itu tak berhenti. Ia bahkan sudah memeluk kaki Hamun. “Tolong lakukan sesuatu yang kau bisa lakukan,”

*****

“Kau anak kurang ajar! Kau berselingkuh dengan wanita lain padahal kau akan menikah kurang dari seminggu!” ujar pria paruh baya itu. Ayahnya menampar Siwon dengan sangat keras. Wajah ayahnya terlihat sangat murka sedangkan ibunya menangis melihat anaknya itu.

“Kau mempermalukan keluargamu sendiri Choi Siwon! Apa yang harus kukatakan pada kedua orang tua Jini, ha?! Kau anak durhaka! Aku tak sudi mengakuimu sebagai anakku,” teriaknya.

Mendengar kalimat itu, Siwon langsung bersimpuh dan memeluk kaki ayahnya. Memohon maaf sedalam-dalamnya. “Appa, maafkan aku,” katanya berulang kali. Ia sendiri tidak sadar kalau air matanya mulai mengalir. Ia tahu bahwa apa yang ia lakukan saat ini adalah keputusannya tapi tetap saja hatinya terasa sakit saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut ayahnya.

“Maafkan dia, ajjushi,” ujar seorang gadis muncul begitu saja di tengah-tengah keluarga itu. “Aku yang salah karena aku jatuh cinta padanya,” katanya. Siwon menatap gadis itu dengan heran. Ia makin tak percaya saat nona itu berlutut di depan ayahnya, bersamanya, memohon maaf. “Izinkan aku menikah dengannya,” ujarnya.

Ayah Siwon yang juga tahu tentang gadis itu berkata, “Kau mengecewakan aku, nona Hamun. Aku tak menyangka kau tega merusak hubungan anakku,” ujarnya.

“Maafkan aku, ajjushi, ajjuma,” kata Hamun sekali lagi. Ayah dan ibu Siwon hanya bisa terdiam. Mereka sama seperti Siwon, sangat menghormati nona besar itu. Mereka tak tahu apa yang harus mereka lakukan jika gadis itu yang berkata demikian.

*****

Hamun berjalan sendiri menuju altar. Tak ada ayah yang menemaninya. Hanya sendirian dan mengharapkan kekuatan dari pria yang lebih dulu ada di altar. Ia menatap pria yang akan menjadi calon suaminya itu. Ia tersenyum seakan ia adalah pria paling bahagia di dunia hari ini tapi Hamun sangat tahu kalau itu semua hanya ilusi.

“Apa kau, Choi Siwon, menerima Kang Hamun sebagai istrimu dan berjanji akan tetap setia dalam suka dan duka?” tanya bapak pendeta.

Siwon berkata, “Aku bersedia,”

“Dan, Kang Hamun. Apa kau menerima Choi Siwon sebagai suamimu dan berjanji akan tetap setia dalam suka dan duka?”

Hamun tak menyangka ia akan mengalami moment ini dalam hidupnya. Akhirnya ia pun berkata, “Aku bersedia,”

*****

Hamun terbangun keesokan harinya. Pagi yang cerah seperti biasanya, kamar yang seperti biasanya, dan suasana yang seperti biasanya. Tampaknya tak ada yang berubah dari kehidupannya. Ia segera keluar dari kamarnya untuk menyiapkan sarapannya.

“Selamat pagi, Nona Hamun,” sapa seorang pria yang membuat Hamun ingat kalau hidupnya sudah berubah. Hamun menghela nafas panjang dan mengacak rambutnya karena kesal. Bagaimana bisa ia lupa kalau kemarin ia sudah menikah dengan Choi Siwon? “Pagi,” balasnya singkat.

“Aku sudah membuatkan sarapan untukmu,” ujar Siwon. Hamun terdiam sesaat di tempatnya berdiri. Rasa kesalnya sirna. Wajahnya menatap Siwon penuh heran sedangkan pria itu membalasnya dengan senyum. “Aku tahu kau sangat suka ayam jadi aku membuatkanmu chicken grullet, semoga kau suka,” lanjutnya.

Hamun mendekati Siwon dan duduk di bangku yang Siwon sediakan untuknya. “Mengapa kau melakukan ini?” tanya Hamun heran. Untuk pertama kali dalam hidupnya ada seseorang yang membuatkannya sarapan.

“Karena aku suamimu, Nona Hamun, ” katanya. Hamun terdiam mendengar kata yang keluar dari mulut Siwon. Hatinya terenyuh entah mengapa. “Apakah ada yang salah?” tanya Siwon

“Ani, hanya saja aku tak biasa diperlakukan lembut seperti ini. Apalagi kenyataannya kau tak mencintaiku dan sangat mencintai gadis lain,” jawabnya jujur. Siwon tersenyum lembut pada gadis itu. “Aku hanya berusaha untuk menjadi suami yang baik untukmu. Meskipun aku masih mencintai Jini, Nona tetap istriku,” katanya.

Lagi-lagi hati Hamun tersulut oleh emosi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Rasanya seperti kau bahagia namun hatimu juga sakit. “Makanlah yang banyak, nona Hamun,” katanya.

Hamun mencicipi makanan yang Siwon buat. Rasanya jauh lebih enak dari masakan di hotel bintang lima. Mengapa bisa seperti ini? Apa karena ia memang jago masak atau karena keberadaannya yang mengubah semuanya? Hamun tak henti-hentinya bertanya pada dirinya sendiri sampai akhirnya ia membuka suaranya. “Mengapa kau melepaskan Jini padahal kau sangat mencintainya? Mengapa kau berkorban untuknya padahal dia mengkhianatimu?” tanya Hamun. Kini matanya menatap Siwon lurus.

“Kata mereka, dalam hidup ini kau harus bertemu dengan orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu. Seperti aku dan Jini. Darinya aku belajar bahwa tidak semua hal itu benar. Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirku. Tidak semua hal, sepayah apapun aku mencoba, dapat kuraih. Jini tidak mencintaiku, bukan berarti ada sesuatu yang salah padaku. Sederhana saja, degup jantung yang aku rasa untuknya, tidak berdegup sama dalam hatinya. Jini mencintai orang lain. Degup jantung yang aku rasa untuknya, berdetak saat ada di samping orang lain. Bukan aku. Darinya aku belajar mengenal rasa sakit yang abstrak. Tidak terlihat tapi terasa. Tidak teraba tapi mencekat tajam entah dimana,” jelasnya pada Hamun. Sekali lagi Hamun terdiam dibuatnya. Entah mengapa, ia merasa apa yang dikatakan Siwon  sangat menyedihkan namun terasa sangat benar.

“Nona sendiri, mengapa berkorban untukku sampai sejauh ini? Kau tak mencintaiku, bahkan kau tak percaya cinta,” tanya Siwon. Kini gilirannya menatap Hamun dalam. Hamun terdiam sesaat, mata bertemu mata. Ia yakin dirinya tidak salah mempersepsikan perasaannya, jantungnya berdetak lebih cepat dibanding biasanya. Ini kedua kalinya ia merasakan hal itu dan ia belum terbiasa. Dadanya terasa sesak.

“Saat melihatmu berlutut pada ayahmu memohon maaf atas kesalahan gadis itu.. Kau membuatku, untuk pertama kalinya, percaya kalau ternyata masih ada cinta di dunia ini,” jawabnya. Ya, itulah pertama kalinya Hamun merasakan jantungnya berdetak sangat kencang untuk seorang pria. Rasa menyesakkan itu yang membuatnya memutuskan untuk berkorban demi pria itu. “Aku ingin mencoba untuk kembali percaya pada cinta dan aku rasa kau bisa menolongku,” lanjutnya.

Siwon tersenyum pada gadis itu. “Aku harap kau bisa kembali merasakannya karena perasaan itu sangat menyenangkan,” katanya sambil mengelus kepala nona itu.

*****

Hamun terdiam di tempat tidurnya. Ia kembali menyentuh kepalanya yang pernah di elus oleh Siwon dua hari yang lalu. Aneh. Aneh sekali. Ia merasa tingkahnya ini konyol tapi hatinya merasa bahagia. Tak pernah ia merasakan ini sebelumnya. Cuti tiga hari yang diberikan oleh perusahaannya sendiri membuatnya mati kutu. Ia merasa sangat bosan tapi tak tahu harus melakukan apa. Ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan menemukan Siwon tertidur di sova ruang tamunya.

Hamun mendekat padanya dan meringkuk untuk melihat wajah pria itu. Ia tersenyum kecil, ia merasa damai saat meliht wajah tidur pria itu. Hamun segera mematikan televisi di ruangan itu dan menyelimuti Siwon. Kini ia duduk di lantai tepat di depan wajah Siwon. Rasanya seperti deja vu. Ia ingat bagaimana ommanya dulu selalu menyanyi untuknya dan memberikan ketenangan sampai ia tertidur. Tanpa ia sadari, ia mulai melakukan hal yang sama pada Siwon.

“Gom se mariga hanjibe isso, Appagom, ommagom, egigom.  Appagomen ttungttunghe, ommagomen nalssinhe. Ogigomen nomu gwiyosyo. Esseg Esseg jalhanda,” Hamun menyanyikan lagu itu berulang kali sambil mengelus kepala Siwon dengan lembut.

“Itu bukan lagu lullaby, nona Hamun,” ujar Siwon yang membuat Hamun terperanjat dan salah tingkah. “Mianhe,” katanya. Ia berdiri dan hendak pergi dari situ namun tangannya tertahan. “Kalau aku yang memintanya, apa kau mau menyanyi lagi untukku?” tanya Siwon.

“Tapi aku hanya bisa lagu itu,” ujar Hamun.

“Tak masalah,”

“Suaraku jelek,”

“Aku juga tak masalah dengan itu,”

“Aku..” Hamun mencoba mencari alasan lain namun ia tak mendapatkannya.

“Demi aku?” tanya Siwon sekali lagi yang entah bagaimana dapat membuat Hamun mengalah dengan mudah. Ia kembali duduk di tempatnya tadi. Ia belum bernyanyi karena Siwon masih menatapnya intens. “Aku akan belajar mencintaimu dan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku,” kata Siwon. Ia menarik tangan Hamun yang masih digenggamnya dan meletakkan tangan itu di dadanya. Hamun bisa merasakan detak jantung Siwon yang terasa sangat cepat seperti jantungnya saat ini.

“Kau merasakannya?” tanya Siwon. “Untuk pertama kalinya sejak Jini meninggalkanku, aku merasakan debaran ini lagi. Aku yakin debaran ini bukan untuknya karena hanya ada nona di depanku saat ini,” ujarnya. Kalimat yang terucap itu membuat dada Hamun terasa sesak akibat rasa senang yang membuncah. “Jaljayo,” kata pria itu lalu kembali menutup matanya tanpa melepaskan genggamannya.

*****

Hari berlalu dan Hamun kembali menjalankan rutinitasnya seperti biasanya. Ia kembali menjadi bos salah satu perusahaan ternama di Seoul itu. “Boleh aku masuk?” tanya seorang pria yang sudah menjadi seuaminya sejak dua minggu yang lalu.

“Kau tak perlu meminta izin untuk masuk ruangan istrimu sendiri, Choi Siwon ssi,” jawab Hamun tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.

“Dan kau tak perlu menggunakan imbuhan ssi pada suamimu sendiri nona Hamun,” balasnya sambil tersenyum.

“Asal kau berhenti memanggilku nona,” kata Hamun. Siwon menghampiri Hamun dan bersandar di meja kerja Hamun. Ia merapikan rambut Hamun yang menutupi wajahnya dan meletakkan di belakang kuping gadis itu.

“Aku bisa apa? Saat kau di tempat kerja, kau menjadi sangat dingin dan workaholic. Aku sampai merasa kesepian. Contohnya seperti sekarang. Kau sama sekali tidak mempedulikanku,” katanya dengan intonasi menyedihkan.

Tangan Hamun berhenti mengetik, ia menghela nafas panjang dan melepaskan kacamatanya. “Mianhe,” ujar Hamun yang sadar dirinya salah. “Sebagai permintaan maafku, akan kutraktir kau makan. Kau belum makan siang, kan?” tanya Hamun.

Siwon mengelus kepala Hamun lalu mengecup keningnya. “Pria macam apa aku yang membiarkan istriku membayar makananku?” canda Siwon lalu beranjak dari tempatnya.

Hamun tersenyum-senyum sendiri saat memegang keningnya, namun senyum itu hilang ketika mengingat kalau waktu dua minggu yang mereka jalani tak akan semudah itu mengubah perasaan Siwon pada Jini. “Jangan terlalu memaksakan dirimu, Siwon,” ujarnya lirih.

Siwon kembali menatap Hamun. Ia tahu maksud Hamun apa. Ia tersenyum tulus pada gadis itu. “Aku tak pernah merasa terpaksa. Semua yang aku lakukan untukmu itu tulus karena aku ingin belajar mencintaimu,” ujarnya.

“Kenapa kau bersikeras seperti itu, hm?” tanyanya setengah kesal. Pria itu cukup keras kepala.

“Karena kau sangat berharga, layak untuk dicintai dan merasakan cinta,” katanya. “Aku menunggumu di luar, nona Hamun,” lanjutnya sembari meninggalkan Hamun yang masih terdiam di tempatnya.

Ia menyentuh dadanya yang terasa sesak. Ia bisa merasakan jantungnya berdetak sangat kencang. Ia mengusap air matanya yang mengalir akibat kebahagiaannya. “Gomawo,” gumamnya pada pria itu.

Untuk pertama kalinya, ada seorang pria yang mengatakan hal itu. Kalimat yang paling ingin ia dengar. Kalimat yang menghancurkan semua pertahanannya. Saat itu, Hamun mengubah keyakinannya. Ia akan mencoba untuk percaya pada pria itu dan belajar mencintainya.

*****

Siwon terbangun dari tidurnya akibat suara berisik yang berasal dari dapur. Ia melihat jam dindingnya dan ternyata masih pukul lima pagi. Ia segera keluar dari kamarnya dan coba memeriksa apa yang terjadi. “Omo, omo, omo,” ujar gadis Itu sambil berlarian kesana-kemari di dapur yang kecil. Ia segera mematikan kompornya setelah melihat air yang mendidih dan kembali memotong-motong sayuran sesuai dengan video yang ia lihat di smartphonenya.

Siwon tersenyum mendapati gadis itu begitu serius sampai tidak menyadari keberadaannya. “Aw!” seru Hamun. Siwon yang panik hendak menghampiri Hamun namun tiba-tiba saja gadis itu mengomel sendiri pada smartphonenya. “Yaak! Apa tidak ada cara yang lebih mudah untuk membuat makanan ini? Lihat jariku, kena pisau!”

Siwon tertawa sendiri dan memutuskan untuk membantu gadis itu. “Sudah, jangan marah-marah sendiri. Sini, aku bantu,” kata Siwon. Hamun terkejut dengan kehadiran Siwon dan dengan segera ia menutup hasil masakannya dengan tubuhnya agar Siwon tidak melihat. “Kau mau buat apa sih?” tanya Siwon penasaran.

“Ani. Aku tidak membuat apapun. Kembali tidur sana,” ucap Hamun. Siwon memaksa Hamun untuk menyingkir dan dia berhasil. Siwon hanya bisa tersenyum saat melihat apa yang Hamun buat. “Kau bersusah payah seperti ini demi aku, Nona?” tanya Siwon tanpa bisa menyembunyikannya rasa senangnya. “Padahal kukira kau bahkan tidak ingat kalau hari ini ulang tahunku,” lanjutnya.

Hamun menolak untuk membalas tatapan mata Siwon. “Tentu saja aku ingat,” jawab Hamun menyembunyikan kekesalannya. Ia merasa surprise yang ia rencanakan gagal telak. Siwon yang mengerti perasaan Hamun segera menggandeng tangannya dan membawa gadis itu ke sova ruang tamu. Siwon beranjak sebentar untuk mengambil alat P3K dan segera kembali untuk mengobati tangan Hamun.

“Hanya luka biasa, tidak perlu diobati,” kata Hamun.

“Tapi aku ingin mengobatinya,” ujar pria itu sambil tersenyum pada Hamun. Hamun tak bisa membalas senyuman itu dan akhirnya membiarkan pria itu melakukan apa yang ia mau.

“Aku sangat bahagia saat tahu kau bersusah payah demi aku,” ujar Siwon sambil berkonsentrasi membalut jari Hamun dengar perban.

“Tapi semuanya gagal dan tak berjalan sesuai rencanaku,” ujar Hamun kecewa.

“Aku tak pernah mengharapkan apapun darimu, nona Hamun. Namun, aku tak bisa menyembunyikan kebahagiaanku saat tahu ternyata kau juga memikirkanku, walaupun sedikit,” ucap Siwon.

“Bodoh. Kenyataannya, kau sering membuatku memikirkanmu,” balas Hamun. Siwon menatap Hamun saat ini. Tatapan itu seakan bertanya ‘Jinja?’ pada Hamun. Hamun tak berani melihat mata Siwon karena ia begitu malu.

Siwon menangkup wajah Hamun sehingga mau tak mau gadis itu harus menatap wajah Siwon. “Apa aku boleh menciummu?” tanya Siwon hati-hati.

Pertanyaan itu membuat jantung Hamun berdetak kencang. Untung saja logikanya masih bekerja dengan baik. “Kau tak mencium orang yang tak kau cintai,” kata Hamun.

“Aku tak mungkin melakukannya jika aku tak mencintaimu,” balas Siwon. “Dan kalau kau tak mencintaiku, kau boleh pergi sekarang atau mendorongku,” lanjutnya.

Hamun tak bergeming di tempatnya bahkan saat pria itu mendekat padanya. “Aku tak akan kemana-mana,” ujar Hamun yang terdengar di telinga Siwon sebagai ucapan ‘I love you too’. Siwon sangat bahagia mendengar hal itu, ia tak jadi mencium Hamun justru memeluknya dengan erat. “Gomawo, sudah mencintaiku,” ujar Siwon lalu mengecup bibir Hamun kilat.

*****

Kebersamaan Hamun dan Siwon berlalu begitu cepat. Tak terasa sudah dua bulan ini mereka tidur di kamar yang sama. Ya, sejak hari dimana mereka mengakui perasaan masing-masing, mereka memutuskan untuk mempertahankan pernikahan mereka. Pernikahan yang terjadi bukan karena cinta namun membawa perubahan yang sangat ajaib dalam kehidupan mereka terutama Hamun.

“Pagi,” sapa Siwon saat melihat mata istrinya mengerjap. “Bangunlah, aku kesepian,” kata Siwon sambil mencubit hidung Hamun.

“Lima menit lagi, kumohon,” kata Hamun tanpa membuka matanya. Siwon hendak mengomel tapi tak jadi melakukan hal itu karena Hamun tiba-tiba memeluknya. “Kau tidurlah juga,” ujar Hamun. Siwon tersenyum melihat gadis itu. Ia membalas pelukan Hamun dan mencium keningnya. “Saranghae,” kata Siwon.

Hamun kira kebahagiaannya bersama Siwon tidak akan terganggu. Namun semua itu berubah saat pagi itu ayah Siwon datang ke rumah mereka.

“Mworago? Menceraikan Hamun? Appa, aku tak mungkin melakukannya!” seru Siwon kesal. Appanya melemparkan koran hari itu ke depan Siwon. Headline hari itu berjudul, Kang Hamun merupakan anak hubungan gelap dari Kang Hyundo. Namanya akan dicoret dari pewaris Kang Cooperation. Siwon terdiam setelah membaca berita itu. Hatinya hancur seakan dirinya adalah Hamun.

“Ceraikan dia sekarang atau kita akan ikut hancur bersamanya!” seru Ayahnya.

“Aku tak akan pernah melakukannya!” bantah Siwon.

“Lakukan atau kau tak akan ku anggap sebagai anakku!” balas Ayahnya. Ia sangat murka sekarang.

“Aku tak akan meninggalkannya! Aku tak menikahinya karena harta! Aku mencintainya!”

“Anak kurang ajar! Aku mengizinkan kau menikah dengannya karena hartanya!” seru ayahnya. Siwon tak bergeming di tempatnya. Matanya seakan meyakinkan ayahnya kalau keputusannya tidak akan berubah.

“Aboeji?” panggil Hamun yang baru saja keluar dari kamarnya dengan tampak masih sangat mengantuk. “Yaa Siwon ah, mengapa kau tak bilang aboeji datang?” ujar Hamun sambil menghampiri mereka berdua. “Apa kabar, aboeji?” tanya Hamun sopan sambil membungkukkan tubuhnya.

“Jangan bicara padaku, anak hasil hubungan gelap,” ujar pria paruh baya itu. Hamun tak bergeming dari tempatnya. Siwon dapat melihat tatapan Hamun menjadi kosong sekarang. “Jangan datang kepadaku apabila kau jatuh miskin karena gadis ini,” lanjut pria itu lalu pergi dari rumah itu.

Siwon segera menangkup wajah Hamun dan menatap mata gadis itu. Hamun menatapnya, tapi itu hanya tatapan kosong. “Hamun ah, kau baik-baik saja? Maafkan ayahku. Tenang saja, aku akan tetap bersamamu,” ujar Siwon meyakinkan gadis itu. Hamun tak membalas Siwon, ia justru menepis tangan pria itu.

“Kau dengar sendiri yang ayahmu katakan, kan? Kalau sudah cukup jelas, pergilah sebelum kau menyesal,” ujar Hamun lalu beranjak meninggalkan pria itu.

“Aku tak akan meninggalkanmu, Hamun. Aku mencintaimu,” ujar Siwon memohon kepercayaan Hamun.

Hamun tertawa lelah. “Aku hanya seorang anak hasil hubungan gelap. Yang dilahirkan bukan karena cinta, melainkan hanya nafsu semata. Aku tak berhak untuk dicintai oleh orang sebaik dirimu,” katanya lalu mengurung dirinya di kamarnya.

*****

Hamun tak keluar dari kamar itu sampai malam harinya. Hatinya sangat pedih melihat pintu yang menghalanginya untuk melihat wajah istrinya itu. “Hamun, kau baik-baik saja?” tanya Siwon namun Hamun tak menjawabnya.

“Mengapa kau begitu mudah melepaskanku, Hamun?” tanya pria itu. “Kau bilang, kau mencintaiku, Hamun. Apa itu hanya kebohonganmu karena kau kasihan padaku?” tanyanya lagi. “Tiap detik yang kita lewati bersama, apa hanya aku yang merasa berdebar dan bahagia? Hamun, kalau itu semua tidak benar, kalau kau sungguh-sungguh mencintaiku, jawablah,” pinta Siwon lirih dengan putus asa. Siwon menghela nafas panjang saat tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar itu. Ia terduduk di tempatnya tadi berdiri. Bersandar pada pintu yang memisahkannya dengan Hamun.

“Apa kau ingat aku pernah berkata tentang orang yang kau cintai namun tidak mencintaimu?” tanya Siwon. Ia melanjutkan monolognya karena ia tahu Hamun tak akan berbicara dengannya.

“Orang kedua yang harus kau temui di dunia ini adalah orang yang mencintaimu namun kau tak mencintainya, seperti aku yang mencintaimu namun kau tidak demikian,” katanya. “Dariku, aku ingin kau belajar kalau kau punya sesuatu yang indah yang dapat dilihat orang. Aku ingin kau belajar untuk menghargai dirimu sendiri dan kau pantas untuk mendapatkan sesuatu yang juga indah, karena aku mengagumi keindahanmu. Dariku yang sangat mencintaimu, aku ingin kau belajar mencintai dengan caramu yang benar untuk seseorang yang degup jantungnya seirama dengan degupmu. Saranghae, Kang Hamun,”

*****

Hamun membuka pintu kamarnya setelah sekian lama berpikir dan menemukan jawaban. Ia sangat mencintai pria itu dan ia tak yakin bisa bertahan jika pria itu tidak bersamanya. Hatinya sangat hancur saat melihat pria itu tertidur di depan kamarnya dengan bekas air mata di pipinya. Hamun menghapus noda di pipi pria itu namun Siwon menggenggam tangan Hamun dan menarik gadis itu dalam pelukannya. “Kalau kau tak mencintaiku, kau tahu yang harus kau lakukan,” kata Siwon.

Tangisan Hamun merebak. Ia justru membalas pelukan Siwon. “Aku tak akan kemana-mana,” katanya.

Siwon mengeratkan pelukannya. Dalam hatinya, ia berjanji akan selalu mencintai gadis ini dan melindunginya. Ia rela menanggung semua rasa sakit yang Hamun rasakan asal wanita itu selalu bahagia di sampingnya.

“Mianhe, aku tak pernah mengatakan yang sebenarnya padamu,” ujar Hamun. Siwon mengelus kepala gadis itu. “Mainhe, aku tak pernah melindungimu dari rasa sakit yang selama ini kau rasakan,”

“Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa,” balas Hamun. “Lalu, setelah aku jatuh miskin apa kau masih tetap akan bersamaku?” tanya Hamun. Siwon tertawa mendengar pertanyaan itu. “Bodoh, aku tak akan ada disini jika aku memikirkan hal itu,” balasnya. “Tabunganku cukup banyak untuk jadi modal usaha kita. Kita bisa memulai semuanya dari nol lagi,” lanjut Siwon.

Hamun tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada pria itu. “Mianhe karena kau mencintaiku dan aku mencintaimu, kau jadi repot seperti ini,” kata Hamun.

Siwon menangkup wajah Hamun dan menatap gadis itu. “To love need courage. To be loved needs readiness. Aku sudah siap menerima semua risiko saat memutuskan untuk jatuh cinta padamu,”

Hamun tersenyum dan menatap pria itu penuh kehangatan. Tatapan yang Siwon rindukan. Tiba-tiba saja, Hamun mencium pria itu. Tidak biasanya Hamun yang bertindak duluan. “What’s that for?” tanya Siwon dengan niat menggoda Hamun.

“I never thought i’d fall in love with you. But, because of you, my life has changed. So, thank you for the love and the joy you bring. Saranghae, Siwon ah,”

END

This is the original poem:

Kata mereka, dalam hidup, kita harus bertemu dengan 2 orang.
Pertama, orang yang kau cinta namun tidak mencintaimu.
Darinya kau akan belajar bahwa tidak semua hal itu benar.
Tidak semua hal yang indah dan membuat jantung berdegup kencang berarti takdirmu.
Tidak semua hal, sepayah apapun kau mencoba, dapat kau raih.
Orang itu tidak mencintaimu, bukan berarti ada sesuatu yang salah padamu.
Sederhana saja, degup jantung yang kau rasa untuknya, tidak berdegup sama dalam hatinya.
Orang itu mencintai orang lain.
Degup jantung yang kau rasa untuknya, berdetak saat ada di samping orang lain. Bukan kamu.
Darinya kau akan belajar mengenal rasa sakit yang abstrak. Tidak terlihat tapi terasa. Tidak teraba tapi mencekat tajam entah dimana.
Patah hati. Sesuatu patah yang entah dimana. Lalu kau belajar merelakan dan hidup kembali.

Kedua, orang yang mencintaimu, namun kau tidak mencintainya.
Darinya kau akan belajar bahwa kau punya sesuatu yang indah yang dapat dilihat orang.
Kau akan belajar menghargai diri sendiri, dan bahwa kau pantas mendapatkan sesuatu yang juga indah, karena orang tersebut mengagumi keindahanmu.
Darinya kau akan belajar bahwa orang pertama yang kau temui dulu, tidaklah jahat ataupun kejam dengan tidak mencintaimu.
Sederhana saja, degup itu tidak ada.
Dari orang kedua ini kau akan belajar bahwa, dicintai sebanyak itu adalah anugerah.
Dan bahwa merasa bahagia itu sederhana saja; merasa dihargai.
Darinya kau akan belajar memahami bahwa cinta bukanlah barang pasaran yang bisa kau dapatkan hanya karena kasihan.
Tidak, kau tidak bisa memilih orang ini karena kasihan.
Karena darinya kau tau bahwa, orang ini pantas mendapatkan cinta dengan kadar yang sama yang dia berikan.
Darinya yang mencintaimu dengan menggebu seperti melemparimu dengan batu, kau akan belajar cara mencintai dengan caramu yang akan benar untuk seseorang yang degup jantungnya berirama sama dengan degupmu.

Menjadi bahagia itu sederhana.
Sesederhana merelakan kalung kesayanganmu hilang ditelan lautan saat kau bermain dengan ombak.
Tidak ada suatu pertaruhan tanpa risiko.
Dan untuk jatuh cinta adalah sebuah pertaruhan yang paling agung.
“To love needs courage. To be loved needs readiness”

Thank you for reading ^^ much love❤