By @gurlindah93

“Yaaa Lee ShinAe!!! Kenapa kamu harus mengeluarkan isi perutmu di sini lagi sih?? Kamu seharusnya sebisa mungkin menahan sampai….” sebelum menyelesaikan kalimatku tetangga sekaligus sahabatku yang sedang muntah di taman depan gedung apartment kami ini memotongnya.

“Park.. Min… Ah………. Aku merasa…… Huek huek” sebelum menyelesaikan kalimatnya dia kembali memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya.

“Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang Kau berikan padaku” aku menepuk-nepuk punggungnya dengan tujuan membantunya agar bisa mengeluarkan semuanya, tapi nampaknya terlalu keras.

“Aaaawww!!! Huek huek” ShinAe menjerit.

Aku mengehentikan tepukanku “Hehee.. Mianhae ShinAe-aahh” kataku meminta maaf.

Sekarang jam 2 pagi yang artinya tidak banyak orang lalu lalang di gedung apartmentku, hanya ada security yang tersenyum melihat kami berdua karena sudah sangat terbiasa dengan kejadian seperti ini. Aku membalas senyumnya dengan malu.

Aku dan Lee ShinAe adalah teman satu kantor dan tetangga yang sayangnya membuat kami menjadi sahabat dan tidak bisa dipisahkan sejak 3 tahun yang lalu.

Terkadang orang-orang memanggil kami kembar dan sering sekali kutertawakan mereka karena kami pribadi yang berbeda, aku adalah orang yang meledak-ledak dan kadang-kadang berlebihan sedangkan ShinAe adalah seorang yang penuh perhitungan. Yah kecuali saat dia mabuk seperti ini.

Aku pernah berkata padanya “ShinAe-yaa jangan-jangan di kehidupan sebelumnya kamu itu putri pembuat soju. Pantas saja kamu tidak bisa hidup tanpa soju” karena heran dengan kekuatannya untuk minum berbotol-botol, sedangkan aku minum 1 gelas saja sudah mabuk.

“Hahahaa sepertinya tidak. Aku menebak jangan-jangan akulah yang menciptakan soju” jawabnya yang membuatku terbahak-bahak.

Malam ini kami pergi ke club di daerah Gangnam sebenarnya untuk mengobati patah hatiku karena lelaki yang sedang kusukai dan kebetulan adalah managerku akan menikah bulan depan, tetapi seperti biasa ShinAelah yang pulang dalam keadaan mabuk berat.

“JiYoung.. Jagi… JiYoung.. huek huek..” ShinAe kembali memuntahkan makanannya sebelum berhasil menelepon kekasihnya. Aku mengambil smartphonenya danmemasukkan kembali ke tasnya.

Aku tau percuma saja menelepon JiYoung karena JiYoung hanya akan menyuruh ShinAe meminum jeruk lemon untuk menetralisir mabuknya.

“ShinAe apa kamu masih mual?” tanyaku setelah ShinAe terlihat lebih baik.

“Ani ani.. Nan gwenchana. Ayo ke atas” ShinAe mencoba berdiri walaupun masih limbung.

“Sudah keluar semua isi perutmu?” aku bertanya sekali lagi untuk memastikan dia tidak muntah di lobby atau di lift. ShinAe tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya.

Sambil berjalan ke dalam gedung dia menggerutu “Tidak kusangka tagihan kartu kreditku sebesar itu. Aku harus berhenti belanja Park MinAh. Eh tidak, tidak berhenti. Mengurangi saja”.

Well itu sudah cukup menjadi bukti bahwa ShinAe baik-baik saja, akupun menyusulnya ke dalam setelah mengambil sepatunya yang tergeletak di tanah “Aiiiissshh gadis ini merepotkan saja”.

Aku menggandengnya sampai masuk ke dalam lift “Kamu tahu Park MinAh? Lelaki di dunia ini sangat banyak, jadi kamu tidak perlu menangisi manager Lee KyuMin yang katamu super tampan itu” tiba-tiba ShinAe mulai meracau. Aku menutup mulutnya agar tidak ada orang yang mendengar kata-katanya.

Di dalam lift hanya ada kami dan seorang pria, dilihat dari pakaiannya sepertinya dia baru pulang dari pesta juga.

Untungnya pria itu sedang memainkan smartphonenya sehingga kecil kemungkinan dia mendengarkan pembicaraan kami. Untuk apa juga dia mendengarkan pembicaran tidak jelas dari 2 gadis mabuk.

“Ssssssstttt ShinAe jangan membahasnya di sini” aku berbisik pada ShinAe dengan harapan dia menghentikan pembicaraan yang sedang tidak ingin kubahas, terutama di dalam lift ketika aku sudah mulai bisa melupakan managerku yang super tampan itu.

Tapi harapan hanya tinggal harapan “Ayolah Park MinAh, kamu harus move on. Bulan depan Lee KyuMin-ssi akan menjadi milik Cho JungAh-ssi yang super cantik itu. Kamu juga harus mulai mencari Mars milikmu sendiri, Venus….” ShinAe masih meracau.

Kulirik pria di sebelah kami dan dia masih saja memainkan smartphonenya, kutebak dia sedang update status ‘Berada di dalam lift bersama 2 gadis mabuk yang sedang meracau’.

“Apa yang kamu katakan ShinAe? Mars? Venus? Memangnya aku planet?” tanyaku tidak mengerti apa yang dia bicarakan.

“You know that bullshit thing, Men are from Mars, Women are from Venus? Kamu akan menemukannya, pria yang bisa melengkapi hidupmu. Percayalah padaku” ShinAe menatapku dengan penuh keprihatinan kemudian memelukku dan terisak.

Aku lupa menyebutkan bahwa dalam keadaan mabuk selain berbicara tanpa henti sahabatku ini juga menjadi sangat dramatis.

Aku melirik pria di dalam lift yang masih sibuk dengan smartphonenya tetapi kini dia tersenyum penuh arti, aku tidak tahu apakah dia menertawakan smartphonenya atau menertawakan kami.

Tring! Lift berhenti di lantai 29.

“Hei hei ShinAe ayo kita keluar, kamu tidur di tempatku saja” ajakku pada ShinAe sambil memapahnya keluar dari lift menuju apartmentku.

Ketika aku melewati pria di dalam lift itu aku merasa dia melirikku dengan pandangan simpati. Entahlah, mungkin dia mengasihaniku sebagai wanita malang yang sedang patah hati.

***

Annyeonghaseyo yorobeun.. Author is back with new FF.. please kindly share your critic and comment

Prolognya memang dikit bgt soalnya author masih beradaptasi setelah hibernasi (kaya beruang)

Happy reading FF di blog ini ^^

ps: maaf ya kmrn yg dipost kosong, ngepostnya sambil merem hehee