Pagi hari aku membangunkan ShinAe yang tidur di kamar tamuku “Hey pemalas, bangun. Sekarang sudah jam 11 siang. Sebentar lagi JiYoung akan datang”

“Biarkan saja. Aku masih ingin tidur” ShinAe tidak bergeming walaupun aku berusaha dengan sangat keras untuk membuatnya bangun.

“Ya sudah, biar JiYoung yang membangunkannya” pikirku. Aku meninggalkan kamar untuk membereskan apartmentku.

Ting tong.

Aku melihat dari interkom JiYoung sudah di depan pintu apartmentku sambil membawa pizza.

“Annyeong MinAh, maaf merepotkan” kata JiYoung setelah kubukakan pintu.

“Gwenchana JiYoung, ShinAe masih tidur di kamar tamu. Bangunkan dia, aku akan ke bawah sebentar untuk membeli cola dan susu” kataku. Setelah mengambil dompet dan HP aku segera ke supermarket yang ada di lantai 1.

Ketika memasuki lift aku terkejut melihat pria tadi malam sudah berada di dalam lift, dia melihatku dan tersenyum padaku. Aku membalas senyumnya. “Ternyata dia tetanggaku” pikirku setelah melihatnya di sini 2 hari berturut-turut.

Entah kenapa banyak sekali orang yang keluar masuk lift sampai tanpa kusadari tiba-tiba saja aku sudah berdiri di sebelah pria itu. Aku menebak pria itu akan berolahraga di gym gedung ini karena memakai kaos, celana training, dan membawa tas olahraga.

Bau tubuhnya wangi dan sangat maskulin membuatku menyadari bahwa aku belum mandi dan rasanya masih bau muntahan ShinAe semalam. Sayangnya aku tidak bisa menjauh darinya karena terjepit orang-orang di dalam lift.

“Aaaaahhh Eric, apa kabar? Sudah kembali dari Amerika?” kata seorang nenek yang baru saja masuk ke dalam lift .

“Annyeonghaseyo haelmoni. Ne haelmoni, saya baru kemarin tiba di Korea” ternyata nenek itu menyapa pria di sebelahku.

“Berapa lama kamu tinggal di Amerika? Bagaimana bisnismu?” nampaknya nenek itu sudah mengenal pria di sebelahku dengan cukup baik.

“3 tahun haelmoni. Setelah pekerjaan di Amerika selesai saya langsung pulang karena aboji memutuskan pensiun” jawab pria itu.

“Wow Eric sajangnim. Chukkae.. Lalu apakah kamu kembali ke Korea dengan membawa kekasih?” nenek itu kembali bertanya sambil tersenyum dan melirikku.

Aku membalas senyumnya. Hari Minggu ini banyak sekali orang yang tersenyum padaku, mungkin karena saat ini cuacanya sedang cerah.

“Aniyo haelmoni saya belum memilikinya” jawabnya. Aku cukup kaget mendengar pria ini bisa terdengar sangat sopan menjawab pertanyaan pribadi yang diajukan nenek itu, berbanding terbalik dengan gaya CEO muda tetapi tidak bisa serius yang terpancar darinya.

Nenek itu menatapku dengan tatapan ‘aku tidak percaya padanya, jawablah dengan jujur’ seolah-olah menuntut jawaban dariku.

Aku baru sadar nampaknya nenek itu sudah salah paham mengira kami sepasang kekasih karena aku berdiri menempel dengan pria di sebelahku ini.

“Mworago? Saya? Aniyo haelmoni. Saya penghuni gedung ini. Haha” jawabku mencoba meluruskan kesalahpahamannya.

“Jadi kalian sudah tinggal bersama? Aigoo mentang-mentang kalian baru kembali dari Amerika” entah kenapa tetapi nenek itu terdengar jahil dan nampaknya sedang mengerjai kami.

“Aniyo haelmoni. Kami bukan kekasih, tempat tinggal kami berbeda” ujarku mencoba menjelaskan lagi.

“Ne” pria itu menguatkan jawabanku.

“Hahahaaa arra arra.. Tetapi kalian sungguh cocok. Ingat, terkadang orang yang paling kamu cari ternyata orang yang sangat dekat denganmu. Semoga berhasil” kata nenek itu sambil menatap kami. Bersamaan dengan kata-kata nenek itu pintu lift terbuka di lantai 1.

“Sampai jumpa haelmoni”

“Sampai jumpa Eric”

Aku hanya bisa melongo mendengar kata-kata nenek itu lalu kulirik pria di sebelahku, dia tersenyum pada nenek itu lalu menatapku “Tidak keluar?”.

Tanpa menjawabnya aku keluar dari lift meninggalkannya dan berjalan dengan cepat ke arah supermarket.

“Jeogiyo…” ternyata pria itu sudah berada di sebelahku, mungkin karena kakinya sepanjang tiang listrik.

“Ne?” aku berhenti berjalan dan menatapnya. Salah, mendongak untuk menatapnya. Entah aku yang pendek atau pria ini yang terlalu tinggi.

Dilihat dari dekat wajah pria ini tidak setampan Won Bin tetapi sungguh menarik.

Dia memiliki hidung mancung dengan bibir yang bisa membuat gadis kecil ingin menjadi wanita dewasa secepatnya.

Tatapan matanya jenaka sekaligus dewasa dan bertanggung jawab.

Bahunya sangat bidang dan tegap menunjukkan bahwa dia rajin berolahraga.

Kulitnya kecokelatan yang membuatku bertanya apakah ini akibat terpapar matahari Amerika atau dia sudah memilikinya sejak di kandungan ibunya.

Initinya pria ini memang menarik.

Pipiku memanas dan aku yakin warnanya sudah berubah menjadi merah.

“Park MinAh!!!!!!!!!” rasanya aku ingin menjambak diriku sendiri karena pikiran-pikiran nakalku muncul.

“Joesonghamnida. Nenek tadi adalah teman dari nenekku yang sepertinya ke sini untuk menjenguk anaknya. Dia memang suka bercanda jadi tolong perkataannya jangan dimasukkan ke dalam hati. Jeongmal joesonghaeyo” katanya lalu membungkuk.

“Mungkin haelmoni merasa bahwa kita cocok” lanjutnya kali ini sambil menyeringai.

Aku sedikit kehilangan keseimbangan karena lututku tiba-tiba lemas.

“Ah.. Gwenchana. Tidak usah dipikirkan. Permisi” ujarku dengan gaya paling cool yang bisa kutunjukkan lalu meninggalkannya secepat mungkin dan masuk ke dalam supermarket.

Dari dalam supermarket aku bisa melihat pria itu masuk ke dalam gym yang berada tepat di samping supermarket.

“Fokus MinAh, mereka semua hanya bercanda. Jangan dipikirkan” kataku dalam hati.

Sambil memilih-milih barang mataku menyisir gym dan menemukan pria itu. Pria itu sedang mengobrol dengan pria yang dari bentuknya dapat dipastikan adalah trainer di gym itu, mereka mengobrol cukup lama sambil tertawa-tawa sampai sang trainer pergi meninggalkan pria itu. Pria itu langsung menuju alat untuk angkat beban dan mulai berolahraga.

Setelah mendapatkan barang-barang yang kubutuhkan aku membayar di kasir dan kembali ke apartment karena merasa sangat lapar. Aneh, yang tadi malam muntah kan ShinAe tetapi kenapa aku yang lapar ya?

Sampai di apartment ternyata ShinAe sudah bangun dan sedang menonton TV sambil makan pizza yang dibawa JiYoung “Lama sekali kau Park MinAh” kata ShinAe tanpa melepaskan pandangannya dari TV.

“Lift dan gym” balasku spontan setengah berbisik.

Tanpa kusadari pikiranku melayang ke kejadian tadi.

“Mwo?” tanya ShinAe sambil menatapku dengan heran. JiYoung ikut-ikut menatapku dengan pandangan ‘apa kau baik-baik saja?’

Aku tak menjawab malah sibuk mengeluarkan barang belanjaan, tetapi nampaknya pikiranku benar-benar masih tertinggal di lantai 1. Salah satu kekuranganku adalah tidak mudah melupakan kejadian yang mengganggu pikiranku.

“Shit! Aku lupa beli keju” tiba-tiba kata-kata aneh bin ajaib muncul dari mulutku, secara berlebihan. Aku sendiri kaget mendengarnya. Keju? Sejak kapan aku kebingungan karena kehabisan keju yang kumakan hanya ketika gerhana bulan sedang terjadi saja.

Aku tahu itu hanyalah alasan agar bisa kembali ke lantai 1. Ke tempat pria itu berada sekarang.

Dengan secepat kilat agar mereka tidak mengajukan pertanyaan macam-macam aku berjalan keluar apartment diiringi pandangan penuh keheranan dari ShinAe dan JiYoung. “Aku ke bawah ya, kejuku habis” kataku tanpa menatap salah satu dari mereka.

Sebelum menutup pintu aku sempat mendengar ShinAe berkata pada JiYoung “Ada apa dengannya? Dia tidak pernah kebingungan kalau kehabisan keju, toh dia sangat jarang memakannya” lalu dijawab oleh JiYoung “Molla, mungkin dia berencana bikin kue”.

ShinAe yang sangat mengenalku langsung tertawa terbahak-bahak.

Sampai di lantai 1 tidak langsung ke supermarket aku memilih duduk di lobby yang berada di seberang supermarket dan gym. Aku merasa masih penasaran dengan pria itu jadi kuputuskan untuk memperhatikannya agar pria itu dan kejadian dengan nenek kenalannya tidak menghantuiku.

“Annyeong MinAh-ssi, ada yang bisa dibantu?” tanya resepsionis apartment yang sering mengobrol denganku.

Aku merasa senang ada yang bisa kuajak berbincang untuk mengalihkan perhatianku “Hey SoHee-ssi, aniyo. Nan gwenchana, hanya ingin duduk-duduk sebentar. SoHee-ssi bertugas sekarang?”

“Ne MinAh-ssi, nanti jam 1 aku bertugas. Mmmm.. masih 10 menit lagi” jawabnya kemudian duduk di sebelahku.

“Ooohhh lalu bagaimana anakmu?” aku menanyakan anaknya yang berusia kurang lebih 1 tahun untuk mencari bahan pembicaraan.

“EunHae baik-baik saja. Dia sangat menyukai mainan yang MinAh-ssi berikan waktu itu” jawab SoHee. Aku tersenyum senang.

Lalu mataku tertuju pada gym di mana pria itu berada, kali ini lift guy (aku memberinya julukan itu) sedang berlari di treadmill dan basah oleh keringat.

Mataku tidak bisa lepas darinya.

“Nugu? Ah Eric-ssi” tiba-tiba SoHee menyeletuk sepertinya sadar bahwa aku sedang memperhatikan lift guy.

“Mwo?” tanyaku sedikit salah tingkah.

“Pria itu, Eric Mun. Dia sudah 5 tahun tinggal di sini sejak awal aku bekerja di sini. Dia dan keluarganya sangat baik” SoHee memberi penjelasan sambil memandang lift guy.

“5 tahun? Sejak apartment ini dibuka.. Sepertinya aku tidak pernah bertemu dengannya, ya walaupun aku juga belum bertemu seluruh penghuni gedung ini sih. Tetapi pria seperti dia…..”

“Tentu saja akan sangat mudah untuk dikenali. Itu kan yang MinAh-ssi ingin katakan? Tinggi, tampan, muda, dan kaya” SoHee seperti membaca pikiranku, aku jadi curiga jangan-jangan dia adalah peramal.

“Ehem. Ya kurang lebih seperti itu” kataku jujur.

SoHee tersenyum “Wajar bila kita, para wanita, penasaran dan akhirnya mengamati pria seperti dia. Aku saja ketika pertama bertemu dengannya hanya bisa melongo dan terkesima padahal aku sudah berpacaran dengan EunHae appa hahaha” dia mengenang kejadian 5 tahun yang lalu.

“Dia sungguh pria yang baik, selalu menyapa semua pegawai di sini. Lalu 3 tahun yang lalu tiba-tiba dia pergi ke Amerika karena kudengar dia ditugaskan untuk membangun perusahaan keluarganya di sana, tetapi apartmentnya masih selalu dibersihkan oleh ahjumma yang bekerja dengannya. Dan beberapa hari yang lalu ketika aku bertugas tiba-tiba dia kembali dengan pembawaan yang lebih dewasa dan menarik hehehe” SoHee melanjutkan ceritanya tentang lift guy..

Aku terdiam mematung mengamati lift guy yang semakin semangat berlari.

“Oke MinAh-ssi nampaknya sudah cukup banyak info yang kuberikan padamu, sisanya silahkan tanyakan sendiri pada yang bersangkutan. Aku harus mulai bertugas” SoHee mengedipkan mata dan meninggalkanku yang masih mematung.

Entah untuk berapa lama aku mengamati lift guy.

“Park MinAh.. Yaaa Park MinAh” panggil seseorang.

Aku menoleh “ShinAe, apa yang sedang kamu lakukan di sini?” ternyata ShinAe menyusulku.

“Kamu sudah setengah jam pergi lalu JiYoung menyuruhku mengecekmu” ShinAe duduk di sampingku.

“Sudah setengah jam?” aku tidak percaya sudah mengamati lift guy selama itu. Pantas saja rasa penasaranku sudah mulai hilang.

“Iya. Dan akhir-akhir ini banyak berita gadis yang bunuh diri loncat dari gedung karena patah hati. Aku takut kamu melakukan itu” ShinAe terlalu banyak membaca berita sepertinya.

“Hahahahaa Lee ShinAe, apa kamu pikir aku akan melompat dari gedung hanya karena lelaki yang kusukai akan menikah? Kamu sudah mengenalku bertahun-tahun, sebelum ini aku berhasil melewati patah hati dengan baik-baik saja bukan?” aku menertawakan imajinasinya yang tidak mungkin kulakukan hanya karena pria.

“Tapi aku melihatmu duduk di sini, mematung dengan pandangan kosong. Wajar kan kalau aku punya pikiran seperti itu. Aku mengkhawatirkanmu. Sedikit…” kata ShinAe dengan nada yang tidak menunjukkan kekhawatiran.

Aku memelototinya “Tapi aku duduk di sini bukan karena patah hati. Aku…….. ah sudahlah, ayo kita ke supermarket” ajakku lalu aku bangkit dari kursiku. Tidak mungkin aku menjelaskan kalau aku sedang mengamati pria yang tidak kukenal karena rasa penasaran yang cukup besar.

Sebelum memasuki supermarket aku sempat melirik ke dalam gym tetapi lift guy sudah tidak nampak di treadmill.

Setelah aku mengambil keju yang sebenarnya tidak kubutuhkan aku langsung ke kasir.

Ternyata lift guy juga sedang mengantri di belakangku.

Lift guy masih memakai baju yang dia gunakan untuk berolahraga dengan keringat yang membanjiri tubuhnya. Dia nampak sangat fit. Dan menarik.

“Sepertinya otakku sedang agak korslet” kataku dalam hati menyadari pikiran tak waras yang seharian ini muncul gara-gara lift guy.

“MinAh kamu bawa uang? Aku mau membeli ini tapi lupa bawa dompet” ShinAe menghampiriku sambil membawa botol shampoo.

“Omona! Aku juga lupa bawa dompet ShinAe. Ottokkae??” aku sadar kalau tidak bawa dompet karena terburu-buru keluar dari apartment.

“MinAh-yaaa bagaimana mungkin kamu ingin beli keju tapi tidak bawa uang” ShinAe cemberut dan nampak malu.

“ShinAe, kita kembali ke apartment dulu ya nanti kita kembali ke sini” bisikku pada ShinAe. Jika ShinAe merasa malu, aku merasa sangat bodoh.

“Jeogiyo”

Seorang pria menyapa kami.

Lift guy mendekati kami.

“Ne?” ShinAe menjawab dengan heran.

“Aku tidak sengaja mendengar permasalahan kalian, bagaimana kalau aku membayar belanjaan kalian dulu. Anggap saja ini permintaan maaf karena nenek kenalanku sudah salah paham” ujar lift guy berbisik sambil menatapku.

ShinAe memandang kami berdua dengan bingung.

“Mwo? Tidak usah repot-repot dan tidak perlu meminta maaf. Gwenchana..” kataku menolak sesopan mungkin dan bersiap-siap mengembalikan belanjaan kami.

“Semuanya 27.500 Won” tiba-tiba kasir menagihku. Rupanya dia sudah menghitung belanjaan kami.

Aku membeku.

“Ini” lift guy menyerahkan uang pada kasir.

“Gamsahamnida, ini barangnya” kasir menyerahkan barang yang sudah dibayar lift guy dan langsung disambar ShinAe.

“Gamsahamnida. MinAh, aku duluan” dalam sekejap mata ShinAe pergi meninggalkanku sendirian di dalam supermarket.

Lift guy tersenyum melihat tingkah kami.

“Ah eh.. Mmm gamsahamnida tetangga, nanti aku kembalikan uangnya. Permisi” kataku dengan senyum yang kupaksakan lalu ngacir.

Memanggilnya tetangga? Mengembalikan uangnya? Benar-benar memalukan.

Ternyata ShinAe menungguku di luar supermarket “Apa kamu mengenalnya?” tanyanya.

“Oh hanya bertemu dengannya dua kali, di lift. Tadi malam ketika kamu meracau di lift dia ada di dalam lift juga” jawabku.

Lalu aku menceritakan kejadian tadi malam secara singkat “Ya Tuhan aku malu sekali, tadi malam aku sudah meracau tidak jelas di depannya dan hari ini dia membayari shampooku” ShinAe terdengar malu.

“Mungkin kamu harus mengurangi kebiasaan minummu” komentarku yang dijawab dengan tatapan sinis oleh ShinAe.

“Lalu kapan kamu bertemu dia untuk yang kedua kalinya?” ShinAe rupanya penasaran dengan pertemuanku dan lift guy.

“Tadi waktu beli susu” aku menceritakan pertemuan keduaku dengan lift guy lengkap dengan perkataan-perkataan nenek itu.

“Ooooohh… Pantas seharian ini kamu salah tingkah” gumam ShinAe.

Aku memilih tidak memberi komentar dan diam selama kami perjalanan kembali ke apartmentku.

Sampai di apartment “MinAh-yaa, lalu bagaimana kita membayarnya?” ShinAe memberi pertanyaan yang belum kutemukan jawabannya.

“Bayar apa?” JiYoung yang tidak tahu kisah kami bertanya dengan rasa ingin tahu.

“MinAh pinjam uang entah sama siapa” jawab ShinAe.

Aku melotot padanya “Yaaaaaa kamu juga beli shampoo kan? Kamu ikut andil pinjam uangnya juga”.

“Tapi kan seharusnya kalau beli keju harus bawa dompet Park MinAh.. Atau tujuanmu sebenarnya bukan untuk beli keju?” tebak ShinAe tepat sasaran. Dia benar-benar sangat memahamiku.

Aku merasa mataku hampir keluar karena memelototinya “Lee ShinAe! Ngawur ah kamu” elakku.

“Ladies, siapa yang kalian bicarakan?” kasihan JiYoung harus mendengarkan pembicaraan kami.

“Tetangga” jawabku dan ShinAe berbarengan.

JiYoung langsung terdiam dan melanjutkan kegiatannya menonton DVD.

“Pokoknya kamu yang harus mencari jalan keluarnya” ShinAe ngeloyor lalu duduk di sebelah JiYoung lalu memeluk JiYoung.

“Aiiiissssshhhh” aku hanya bisa mengumpat.

***

Malamnya aku memikirkan bagaimana cara mengembalikan uang lift guy.

Tiba-tiba satu nama terlintas di benakku, SoHee.

Dengan terburu-buru aku segera menuju resepsionis untuk menemui SoHee.

“SoHee-ssi” panggilku. Nampaknya SoHee sudah bersiap-siap pulang.

“Ne MinAh-ssi ada apa?” dia keheranan melihatku malam-malam menemuinya.

Aku bimbang.

“MinAh-ssi?”

“Mmmmm tentang Eric-ssi.. Dia tinggal di mana?” tanyaku sambil menatap lantai.

“Oooohh di 3002” jawabnya. Aku tahu dia penasaran dengan pertanyaanku tetapi memutuskan untuk tidak bertanya.

“Oh oke.. Mmmmmm gomawo SoHee-ssi. Salam untuk EunHae” aku langsung meninggalkan SoHee menuju lift.

Sampai di lift aku memencet angka 30. Ternyata salah seorang pemilik penthouse adalah lift guy.

Seharusnya aku menyadari bahwa dia tinggal di lantai teratas karena tadi malam dia masih di dalam lift ketika aku keluar di lantai 29.

Sampai di 3002 aku sempat ragu tetapi akhirnya tetap memencet bel.

Ting tong.

Tidak lama setelah aku memencet bel dia keluar, nampaknya dia sudah bersiap tidur.

“Annyeonghaseyo tetangga. Joesonghamnida sudah mengganggu malam-malam. Aku ingin mengembalikan uang yang tadi kupinjam” kataku menyerahkan uang 27.500 won tanpa basa-basi.

Dia terkejut lalu tersenyum dan menerima uang yang kuberikan padanya.

“Aku harus menerimanya bukan? Baiklah kuanggap ini perkenalan kita sebagai tetangga. Gamsahamnida” katanya.

“Mmmmm.. Baiklah aku pamit dulu. Permisi” aku cepat-cepat meninggalkannya.

Sampai di apartment aku mengirimkan pesan kepada ShinAe ‘Aku sudah membayar uang yang kita pinjam

Dibalas ‘Bagaimana???’ yang kujawab ‘Aku ke apartmentnya’ dan dibalas dengan puluhan emoticon terkejut.

Aku tidak menghiraukannya dan memilih tidur.

***

Besoknya di kantor ketika istirahat aku mencari info tentang Mars dan Venus, aku penasaran mengapa ada istilah Men are from Mars, Women are from Venus yang belum pernah kudengar.

Ternyata Men are from Mars, Women are from Venus adalah buku yang ditulis oleh John Gray, Ph.D. pada tahun 90an. Buku ini menjelaskan tentang bagaimana pria dan wanita pada dasarnya memiliki perilaku, pemikiran, dan cara menyelesaikan masalah yang sangat berbeda bagaikan berasal dari 2 planet yang berbeda.

Karena isi buku ini ditujukan untuk membantu masing-masing gender dalam memahami diri mereka dan pasangannya, buku ini akhirnya menjadi semacam guidance book untuk menciptakan hubungan yang sehat dan langgeng. Dan istilahnya juga akhirnya digunakan untuk menggambarkan bagaimana pria dan wanita diciptakan untuk saling melengkapi.

“Bagaimana mungkin aku tidak mengetahui buku ini. Pantas pacar pertamaku selingkuh dariku” aku bergumam mengenang memori menyakitkan dari mantan kekasihku ketika kuliah yang selingkuh dengan adik kelasku.

Beberapa tahun lalu saat perayaan 6 bulan masa pacaran kami diam-diam aku ke rumah mantan kekasihku untuk memberinya kejutan tetapi malah aku yang terkejut melihat adik kelasku sedang berada di tempat tidur bersamanya, tanpa busana.

Saat kutanyakan kenapa dia berselingkuh dariku, mantan kekasihku menjawab “Karena kita berdua terlalu berbeda, seolah-olah datang dari dunia yang berbeda”.

Sejak saat itu aku selalu tertarik dan menjalin hubungan dengan pria yang memiliki persamaan denganku karena kuanggap pria yang punya banyak persamaan denganku lebih mudah untuk kutangani.

“Hey MinAh, kita dipanggil ke kantor manager Lee” kata SeungRi teman satu divisiku.

Aku sering menggodanya karena memiliki nama yang menurutku lucu, mungkin orang tuanya ingin memiliki anak yang selalu menjadi pemenang.

“Ada apa?” tanyaku. Karena asyik mencari info tentang Mars dan Venus aku sampai lupa makan dan tanpa sadar sekarang sudah melewati jam istirahat siang.

“Molla” jawab SeungRi meninggalkanku duluan menuju kantor manajer HRD kami.

Aku mengikutinya ke kantor Lee KyuMin, pria yang akhir-akhir ini membuatku patah hati.

Di dalam kantor ternyata ada tunangannya yang sedang memijat bahunya. Mereka mengobrol sambil tertawa bahagia.

Tiba-tiba aku tertarik dengan karpet di ruangan ini.

“Ah mereka sudah datang. Baiklah aku pulang dulu ya jagi, sampai bertemu nanti malam” Cho JungAh yang kecantikannya bisa menyamai kecantikan miss Korea mencium pipi Lee KyuMin dan meninggalkan ruangan manager setelah tersenyum padaku dan SeungRi.

Aku membalas senyumnya.

“Baiklah aku memanggil kalian karena ada project baru dalam waktu dekat ini” kata manajer kami tanpa basa-basi.

Lee KyuMin, sangat tampan, 36 tahun, anak ke-3 dari 3 bersaudara, lulusan Princeton University dengan 2 major yaitu psikologi dan management, dan berasal dari keluarga terpandang.

Tapi bukan itu yang membuatku menyukainya, kami memiliki selera musik yang sama, pecinta film, penyuka makanan pedas, tidak suka minum, dan beberapa persamaan lainnya. Kami bisa mengobrol berjam-jam dengan topik yang sama seolah-olah kami memiliki isi pikiran yang sama.

Sayangnya isi hati kami berbeda.

Aku menghela nafas panjang

“Park MinAh.. Park MinAh..”

“Eh? Huh? Ne?” aku terkejut.

“Kami kira kamu ketiduran” kata Lee KyuMin sambil tersenyum.

Aku salah tingkah “Aniyo. Hanya….”

“Melamun” sela SeungRi sambil tersenyum penuh arti.

Kupelototi SeungRi “Ehem.. Joesonghamnida. Bisa kita lanjutkan?”.

Di divisiku SeungRi adalah orang yang paling dekat denganku karena dia yang paling mengerti aku, termasuk perasaanku pada Lee KyuMin.

“Jadi seperti yang sudah kalian dengar rencananya kita akan membuka kantor cabang di pulau Jeju tahun depan, untuk mengetahui potensi karyawan di sana kita harus melakukan beberapa research. Nah research pertama dikerjakan oleh kalian berdua beberapa minggu lagi selama 3 hari, kita bertiga akan ke sana dan membuat laporan tentang timeline kerja pegawai dari beberapa perusahaan yang sudah bersedia bekerja sama dengan perusahaan kita lalu hasilnya akan kupresentasikan di rapat dewan direksi 1 minggu setelahnya. Ada pertanyaan?” Lee KyuMin menjelaskan dengan padat dan jelas seperti biasanya.

“Kapan kita berangkat?” tanyaku.

“Jadwal dan SOP kita selama di sana akan dikirim melalui email setelah sekretaris Park menyelesaikannya. Ada pertanyaan lain?”

Aku dan SeungRi sama-sama terdiam.

“Ada yang tidak bisa ikut perjalanan dinas ini? Atau minta digantikan temannya?” tanya Lee KyuMin sekali lagi.

Tidak ada jawaban.

Tentu saja aku tidak akan menolak.

“Oke, silahkan kembali bekerja” Lee KyuMin menutup pertemuan kali ini.

Kami kembali ke ruangan kami “Hello vacation not so vacation” kata SeungRi kocak.

Aku tertawa mendengarnya, yang jelas aku sangat bahagia bisa pergi bersama dengan Lee KyuMin walaupun hanya untuk perjalanan dinas. Langsung kukirimkan pesan pada ShinAe mengabarkan berita gembira ini.

Sayangnya aku tidak mengetahui apa yang akan terjadi di pulau Jeju.

***

Here we go part 1..

enjoy….