By @gurlindah93

 

Pulang kantor aku mengajak ShinAe mampir ke toko buku di dekat apartment untuk membeli buku Men are from Mars, Women are from Venus. Aku sungguh penasaran dengan isi buku itu.

“Joegiyo, saya mencari buku yang judulnya Men are from Mars, Women are from Venus” tanyaku pada pegawai lelaki yang sedang menata buku di rak.

“Ne?” nampaknya dia tidak mengerti apa yang kubicarakan.

“Buku Men are from Venus, Women are from Mars. Pengarangnya John Gray” tanyaku sekali lagi dengan perlahan. Memang agak susah mencari buku dengan judul bahasa Inggris di Korea, aku tidak tahu apakah buku ini ada terjemahan dalam bahasa Korea.

Pegawai itu menatapku dengan wajah kebingungan. Untuk mempermudahnya aku menunjukkan cover buku yang kumaksud dengan smartphoneku.

“Boleh saya pinjam?” dia meminjam smartphoneku mungkin untuk mencari di database, kuserahkan smartphoneku.

Setelah beberapa menit pegawai yang melayaniku kembali dengan senyum kecut “Joesonghamnida agasshi, buku itu sudah terjual habis sejak beberapa tahun yang lalu”

“Yang terjemahan?” tanyaku belum menyerah.

“Habis juga agasshi. Ada yang lain agasshi?” pegawai itu menawarkan bantuan lain yang mungkin kubutuhkan.

“Eobseo.. Gamsahamnida” kataku.

“Cari buku apa sih?” tanya ShinAe yang tangannya sudah membawa majalah import.

“Nih” jawabku menunjukkan cover buku yang kucari.

“Kok tiba-tiba?” ShinAe heran dengan pilihan bukuku.

Kujawab “Kan gara-gara kamu aku jadi penasaran. Mars.. Venus..” sambil mencari buku lain yang kira-kira menarik.

“Hehee mian MinAh-yaa.. Sebenarnya aku asal loh ngomong begitu. Eh tapi apa kamu belum pernah dengar istilah itu?” ShinAe bertanya dengan heran.

“Never. Thanks to you now i’m curious”

“Mian. Heheee”

ShinAe meninggalkanku menuju buku resep.

Tidak lama kemudian dia kembali ke tempatku yang masih mencari novel “MinAh tadi aku bertemu Eric-ssi” katanya.

“Nugu?” aku tidak paham dengan perkataannya karena terlalu asyik mencari novel baru.

“Eric-ssi, tetangga tampan yang meminjamkan kita uang”

“Oooohh arra. Lalu di mana dia sekarang?” aku melihat sekitar tapi tidak menemukan pria itu.

“Sudah pulang. Sepertinya dia buru-buru, tapi aku sempat mendapatkan nomer telponnya” kata ShinAe senang.

“Mwo? Bukannya kamu malu ya bertemu dia?” aku heran dengan perubahannya.

“Ani. Sudah tidak lagi. Ternyata dia sangat ramah jadi aku berencana mengundangnya makan di apartmentku sebagai salam perkenalan dan ucapan terima kasih. Yang penting kamu sudah membayarnya kan?” ShinAe berjalan menuju kasir.

Aku segera mengejarnya setelah mengambil novel yang ingin kubeli “ Jakkaman ShinAe-yaa.. Nanti dia mengira kamu naksir dia”.

“Hahahaa apa kamu kira kita masih anak SMA yang mengundang lawan jenis ke rumah karena kita naksir dia? Aku sudah memberitahunya kalau kita akan makan berempat” ShinAe membayar buku resep yang jumlahnya sama seperti series Harry Potter.

“Untuk apa kamu beli buku sebanyak itu?” tanyaku heran dengan keranjingannya mengumpulkan buku resep.

“Dibacalah, kalau ada waktu dipraktekkan” jawab ShinAe yang tidak bisa kupercaya karena dari puluhan buku resep yang dia punya, hanya separuh yang sudah dia baca dan hanya 10% yang sudah dia praktekkan.

Sampai di apartment aku langsung mandi dan memakan burger yang kubeli di kafetaria kantor.

Smartphoneku berbunyi saat aku mencuci piring, kulihat ShinAe mengirim pesan tapi aku tidak menghiraukannya karena aku berencana tidur lebih cepat.

Sayangnya aku memimpikan Lee Kyumin yang membuatku terlambat bangun.

***

‘MinAh-yaa aku berangkat duluan yaa.. Ada rapat dengan direksi. Hati-hati menyetirnya ;-*’ aku menemukan pesan dari ShinAe yang diletakkan di bawah pintuku.

“Aiiiissshhh kenapa dia tidak membangunkanku sih” gerutuku lalu melihat smartphone milikku yang berisi 26 panggilan tak terjawab semua dari ShinAe.

“Hehehe” aku menertawakan diriku sendiri.

Setelah mengambil susu kotak dan green tea hangat dengan secepat kilat aku berjalan menuju lift yang beruntungnya sedang terbuka.

“Omo.. Annyeonghaseyo..” sapaku terkejut.

Seakan deja vu aku bertemu lagi dengan Eric di lift. Dia memakai kemeja lengan panjang berwarna putih dengan lengan digulung sampai siku. Memakai baju seperti itu dia tidak bisa menyembunyikan dadanya yang bidang dan berotot. Aku salah tingkah.

“Annyeonghaseyo MinAh-ssi.. Ah rasanya kita belum berkenalan dengan layak. Jeoneun Eric Mun-imnida” dia mengulurkan tangan.

Aku kebingungan membalasnya karena dua tanganku sedang membawa minuman.

Tiba-tiba Eric mengambil green tea dari tangan kananku.

“Gamsahamnida.. Jeoneun Park MinAh-imnida.. Bangapseumnida..” balasku menyambut uluran tangannya.

Dia tersenyum lalu mengembalikan green teaku.

“Terlambat?” tanyanya melihat tampangku yang cukup acak-acakan karena belum sempat memakai make up dan rambut masih basah. Well, memakai make up di mobil adalah salah satu keahlianku karena terlalu sering bangun terlambat.

“Ah.. Ne.. Ada tugas kantor yang harus dikerjakan semalam. Hehee..” semoga Tuhan mengampuni dosaku.

“Ohya makan malam hari Sabtu besok jadi kan?” tanyanya.

Aku bengong tidak mengerti maksudnya.

“Makan malam di rumah ShinAe-ssi” dia ikut bingung.

“Oh.. Ne ne.. Jadi Eric-ssi” untung saja aku ingat ajakan ShinAe pada Eric kemarin, dan yang dimaksud berempat ternyata ShinAe-JiYoung-aku-Eric.

“Dasar ShinAe, kenapa dia tidak mengkonfirmasi dulu sih” omelku dalam hati.

“Kemarin aku lupa menanyakan nomer apartment ShinAe-ssi”

“Dia tinggal di 2011” aku memberitahu apartment ShinAe.

“Oke Sabtu besok tepat jam 7 malam aku akan ke apartment ShinAe-ssi” dia memberi konfirmasi akan datang.

“Ne..” kataku.

Begitu pintu lift terbuka di basement aku langsung keluar “Aku duluan Eric-ssi” teriakku sambil setengah berlari menuju mobilku yang ternyata sangat jauh.

“Hati-hati MinAh-ssi. Go MinAh-ssi!!” katanya berteriak.

Aku menertawakan tingkahnya yang seperti anak kecil.

Syukurlah aku tidak terlambat sampai kantor.

“MinAh, ini undangan dari manager Lee untukmu” SeungRi menyerahkan undangan berwarna abu-abu dengan aksen gold.

Aku hanya menatapnya.

“Ayolah MinAh.. Kamu sudah dewasa, lagipula sebelum dia mengumumkan pernikahannya kamu pernah bilang kalau sudah mulai sedikit melupakannya” SeungRi berbisik-bisik agar tidak ada yang mendengar.

“Yes.. Tapi tetap saja sudah hampir setahun aku mengagumi dan akhirnya menyukainya, bahkan sebelum JungAh-ssi hadir. Jadi maaf kalau aku masih agak sulit menerima pernikahan ini” nada suaraku sedikit bergetar.

“Percayalah padaku, kamu akan mendapatkan gantinya” SeungRi berusaha menghiburku.

“Pria dengan kesamaan sebanyak itu denganku?” aku menghela nafas.

“Yaaa kamu tidak perlu mencari pria yang mirip denganmu, carilah yang paling nyaman denganmu dan tentunya kamu cintai” kata SeungRi lalu meletakkan undangan di mejaku dan meninggalkanku yang termenung.

Aku hanya menatap undangan itu tanpa kubuka. Wajah Lee Kyumin terbayang dan membuatku merasa sedikit sedih.

***

Ketika jam istirahat aku langsung menemui ShinAe di ruang administrasi untuk meminta penjelasan.

Dia sedang makan bekal yang dia masak sendiri di mejanya “Lee ShinAe, coba jelaskan rencanamu sabtu besok”.

“Sabtu? Ooohh makan malam dengan Eric-ssi. Iya kan aku sudah memberitahumu tadi malam. Kamu belum buka pesanmu?” katanya terus melanjutkan makannya.

“Belum” ternyata pesan yang tadi malam berisi pemberitahuan. Aku mengecek smartphoneku ‘MinAh hari Sabtu kamu harus ikut makan malam dengan Eric-ssi di apartmentku. Jam 7 tepat’ pesan yang ditulis ShinAe.

“Ada? Salah sendiri tidak mengeceknya” ShinAe mencibir.

“Aku terlalu lelah, ingin tidur cepat. Eh malah mimpi aneh. Ada Lee KyuMin” aku mencomot udang goreng buatan ShinAe yang enak sekali.

“Hei tanganmu. Eh tunggu kalau kamu belum baca pesanku lalu tahu dari mana kalau ada rencana makan malam? Eric-ssi?” dia menatapku dengan curiga.

Aku mengambil udang gorengnya lagi sebelum dia memukul tanganku “Yes. Aku tidak sengaja bertemu dengannya tadi pagi. Dia bertanya apa rencana makan malamnya jadi, untung aku cerdas jadi langsung menyadari maksudnya” kataku dengan bangga.

“Dasar. Eh tapi dia orang yang menyenangkan, jadi aku memberinya nomer teleponmu agar kita semua bisa berteman” kata ShinAe tanpa rasa bersalah.

“Yaaaaaa Tidak sopan. Bagaimana bisa kamu memberitahu nomer telepon sahabatmu pada orang asing? Bagaimana kalau dia ternyata psychopath? Kamu kan biasanya yang paling gampang khawatir dengan orang asing” kataku kesal.

ShinAe meneruskan makannya tanpa kata-kata.

“Lee ShinAe!” aku mengambil tempat makannya.

Dia memelototiku, kalau saja aku tidak sedang kesal aku sudah menertawakan mata kecilnya yang melotot seperti itu “Park MinAh! Apa mungkin orang dengan latar belakang keluarga dan pendidikan seperti dia seorang psychopath?” tempat makannya sudah berpindah tangan ke pemiliknya lagi.

“Bisa saja” jawabku tidak mau kalah.

“Ya memang. Tapi seorang Eric Mun? Hahaha tidak mungkin dia psychopath. Coba saja mengobrol dengannya, kamu akan tahu” aku kesal dengannya lalu meninggalkannya.

***

Hari Sabtu aku sudah di apartment ShinAe sejak sore hari walaupun sebenarnya tidak ada yang bisa aku bantu karena semua sudah beres.

Jadi aku memutuskan untuk menata meja makan.

Ting tong.

ShinAe membuka pintu “Eric-ssi, silahkan masuk”

Eric masuk dengan membawa sebotol wine yang kutebak cukup mahal.

“Annyeonghaseyo Eric-ssi” sapaku.

“Annyeonghaseyo MinAh-ssi” balasnya. Dia menyerahkan botol wine ke ShinAe dan diterima dengan mata berbinar-binar oleh ShinAe.

Eric menghampiriku “Ada yang bisa kubantu?”.

“Gwenchana, semua sudah beres. Duduklah dulu Eric-ssi, sebentar lagi JiYoung akan datang” kata ShinAe.

Eric duduk di kursi depanku, karena sudah tidak ada yang bisa kukerjakan aku ikut duduk.

“Apa kabar MinAh-ssi?” tanyanya.

Dengan kemeja biru dan jeans dia nampak menakjubkan.

“Baik Eric-ssi.. Bagaimana dengan haelmoni kenalanmu itu? Apa kamu sudah bertemu dengannya lagi? Sampaikan salamku padanya hehee” kataku dengan nada bercanda.

Kami berdua tertawa lalu mengobrol dengan santai. Ternyata dia orang yang enak untuk diajak bicara, konyol tetapi cerdas. Benar kata ShinAe pria ini tidak mungkin seorang psychopath.

Selesai makan aku mengajak Eric ke balkon karena ShinAe dan JiYoung sedang berbicara serius.

“Waahh aku belum pernah melihat pemandangan dari arah sini” Eric menikmati pemandangan yang indah karena dari sini kami bisa melihat bukit.

“Dari balkonmu tidak ada pemandangan seperti ini kan? Sama seperti balkon di apartmentku” keluhku. Pemandangan dari balkonku hanya ada gedung bertingkat dan mobil berlalu lalang.

“MinAh-ssi tinggal di apartment nomer berapa?” tanyanya.

“2005 apartment kita ada di sisi yang sama” kataku.

Kami terdiam menikmati wine yang dia bawa. Satu gelas sudah cukup bagiku.

“Mmmm.. Lee KyuMin-ssi adalah manager di kantorku. Aku mengaguminya dan bisa dibilang menyukainya. Tapi sayang sekali dia akan menikah dalam waktu dekat ini hehee” aku menjelaskan siapa Lee KyuMin karena ketika makan Lee KyuMin meneleponku dan langsung kutinggalkan meja makan untuk menerima teleponnya.

Eric hanya terdiam dan menuang wine ke dalam gelasnya.

“Aku sudah mulai melupakannya tapi sepertinya masih ada sedikit rasa suka yang tersisa. Mungkin itu sebabnya aku selalu senang jika mendengar suaranya walau hanya untuk urusan pekerjaan. Ketika dia memberitahu kalau kami akan bersama-sama mengikuti perjalanan dinas ke pulau Jeju aku merasa sangat senang bisa menghabiskan waktu dengannya. Aneh ya… Hahaha” aku tertawa dengan pahit dan menghela nafas panjang.

Eric kembali menuang wine, ini gelas ketiganya.

“Mianhae Eric-ssi kamu harus mendengarkan ocehanku. Hehe” kataku merasa bersalah karena harus mendengarkan ceritaku.

“Gwenchana. Kamu bisa bercerita apa saja padaku, aku akan menutup mulutku rapat-rapat” ujarnya seolah-olah mengunci mulutnya.

Aku tertawa. Sudah lama aku tidak tertawa selepas ini setelah patah hati.

Ketika pulang Eric mengantarkanku sampai apartmentku.

“Gomawo Eric-ssi. Senang mengobrol denganmu”

“Sama-sama MinAh-ssi. Senang mengobrol denganmu juga” lalu dia pergi.

Sebelum tidur ada pesan masuk dari nomer yang tidak kukenal ‘Good night MinAh-ssi’ aku bisa menebak pengirimnya.

‘Good night Eric-ssi^^’ balasku dan menyimpan nomernya dengan nama lift guy.

Sejak saat itu kami sering berkirim pesan sekedar menanyakan kabar dan kesibukan masing-masing.

***

Hari ini eommaku menginap di Seoul karena ada pertemuan dengan teman-teman SMAnya. Orang tuaku pindah ke Busan 3 tahun yang lalu saat appa membuka bisnis distributor makanan sehat di sana setelah pensiun, mereka memilih Busan karena ingin mendapat suasana yang lebih tenang daripada di Seoul oleh sebab itu mereka membelikanku apartment dan menjual rumah kami.

Aku seharusnya menjemput eomma di stasiun 20 menit yang lalu, tetapi karena kesiangan aku baru sampai.

“Yoboseyo eomma.. Eomma di mana?” tanyaku karena tidak bisa menemukan eomma di manapun.

“Eomma sedang di mall di seberang stasiun. Kemarilah banyak barang diskon di sini” lalu eomma menutup teleponnya.

“Selalu diskon yang dipikirkan eomma” gumamku mengingat kebiasaan eomma yang tidak bisa tenang jika ada diskon.

Setelah memarkir mobil aku masuk ke dalam mall dan menelepon eomma “Yoboseyo eomma di mana?”

“Di toko baju sebelah starbucks” jawab eomma.

“Ne aku akan ke sana” kataku.

Aku menemukan eomma dengan beberapa buah baju di tangannya. Koper dan tas yang dibawa dari Busan digeletakkan begitu saja di lantai.

Aku mengambil koper agar tidak mengganggu orang yang lalu-lalang “Eomma sudah beli apa saja?”.

“MinAh-yaa ini eomma beli kaos untukmu juga” 2 kaos yang dipegang ditempelkan di tubuhku “Jota” komentarnya tanpa menanyakan pendapatku. Untung kami memiliki selera yang lumayan sama.

Setelah selesai membayar kami pulang ke apartment.

Di lobby aku bertemu Eric yang nampaknya akan pergi “Annyeong MinAh-ssi”.

“Annyeong Eric-ssi. Kenalkan ini eommaku” kataku memperkenalkan eomma pada Eric.

“Annyeonghaseyo eommoni, jeoneun Eric Mun-imnida. Bangapseumnida” Eric mengulurkan tangan dan disambut oleh eomma.

“Ne. Bangapseumnida Eric-ssi. Apa kalian bertetangga?” tanya eomma.

“Ne eomma, Eric-ssi tinggal di lantai 30” jawabku.

Eric tersenyum mengiyakan.

“Apa kamu ada acara nanti malam? Eomma mau memasak, bagaimana kalau kita makan bersama. Sekalian MinAh ajak ShinAe dan JiYoung” ajak eomma.

“Saya tidak ada acara eommoni. Baiklah nanti saya akan datang” Eric menyanggupi permintaan eomma.

“Oke, jam 7 ya. Sampai nanti malam Eric-ssi” kata eomma.

“Ne gamsahamnida atas undangannya eommoni”

“Sampai nanti malam Eric-ssi” kataku disambut anggukan kepala oleh Eric.

Malamnya eomma memasak makanan kesukaanku yang bahannnya dibawa dari Busan.

Ting tong.

Tepat jam 7 malam Eric datang.

“Silahkan masuk Eric-ssi” kataku mempersilahkannya masuk. Ini pertama kalinya Eric masuk ke apartmentku.

ShinAe dan JiyOung tidak bisa datang sehingga hanya kami bertiga yang akan makan bersama.

“Gomawo MinAh-ssi” rupanya Eric datang membawa buah-buahan.

“Silahkan masuk Eric-ssi. Apa ini? Kenapa repot-repot?” eomma menerima pemberian Eric dengan senang.

“Saya tahu dari MinAh-ssi kalau eommoni suka makanan sehat” rupanya Eric mengingat ceritaku tentang eomma yang sangat peduli dengan makanan sehat.

Eomma tertawa senang “Hahahaa benar. Sayangnya anak ini tidak mengikuti jejakku” eomma memandangku dengan sinis.

“Eomma, aku sudah makan makanan sehat. Tapi tidak setiap saat sih” ujarku membela diri yang ditertawakan Eric.

“Ya sudah ayo makan nanti keburu dingin” ajak eomma langsung menuju meja makan.

“Jadi emmoni dalam rangka apa ke Seoul? Apa perlu saya antar?” Eric menawarkan untuk mengantarkan eomma saat makan.

“Sungguh? Wah eomma punya supir pribadi hahahaa.. Ani Eric-ssi, tidak perlu. Eomma ada acara reuni dengan teman-teman SMA besok tapi teman eomma yang akan menjemput eomma. Tidak usah repot-repot” eomma nampak sekali senang ada yang bersedia mengantarnya ke mana-mana.

“Kalau butuh supir hubungi saya saja eommoni, kebetulan saya tidak ada rencana pergi ke mana-mana besok” sepertinya Eric belum tahu kegemaran jalan-jalan eommaku ini.

“Oke Eric-ssi, aku akan menghubungimu. Kalau MinAh lebih memilih tidur daripada mengantarkan eomma jalan-jalan” sindir eomma.

Aku cemberut “Karena eomma minta diantar ke tempat yang tidak bisa aku nikmati, ke rumah teman-teman eomma”.

Eric dan eomma tertawa melihat tingkahku.

***

Hari Senin pagi sebelum pulang ke Busan eomma memasak kimchi.

“Tumben eomma masak pagi-pagi. Aku kan tidak pernah sarapan” kataku.

“GR. Eomma masak kimchi 3 porsi, untukmu, ShinAe, dan Eric. Nanti pulang kantor berikan ke mereka, sekarang eomma masukkan kulkas. Kimchi ini bisa tahan 5 hari kalau masuk kulkas. Sudah ayo berangkat nanti eomma ketinggalan kereta” kata eomma sambil membawa kopernya keluar apartmentku.

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.

Di kantor aku menemui ShinAe dan bilang kalau eomma membuatkan kimchi. Kusuruh dia mengambilnya di apartmentku setelah pulang kantor.

Ting tong.

Baru saja meletakkan tas bel apartmentku berbunyi.

ShinAe rupanya “Hei aku mau ambil kimchi” katanya langsung ngeloyor ke kulkas.

“Yang mana punyaku” tanyanya setelah melihat beberapa tupperware berisi kimchi.

“Yang mana saja sama. Ambil saja satu” jawabku dari dalam kamar.

“Yang lain untuk siapa? Eric-ssi?” tiba-tiba ShinAe sudah ada di dalam kamarku.

“Ya Tuhan ShinAe kamu mengagetkanku. Iya untuk Eric-ssi” ShinAe tahu eomma mengundang Eric makan.

“Lalu…… bagaimana perasaanmu padanya?” entah setan mana yang lewat sampai ShinAe menanyakan hal itu.

“Mwo? Perasaan apa? Pada siapa?” aku bertanya sambil menyiapkan handuk dan baju yang akan kupakai.

“Perasaanmu.. Perasaan suka mungkin… Pada Eric-ssi…” kata ShinAe menjelaskan maksudnya yang sebenarnya sudah kupahami.

“Lee ShinAe, aku baru mengenalnya.. Mana mungkin aku memiliki perasaan padanya” aku menjelaskan dengan sejujurnya.

“Tapi…… Kamu tertarik padanya kan? Sejak pertama bertemu kamu sudah penasaran dengannya” tebak ShinAe.

Aku menjatuhkan bajuku “Yaaa.. Kalau tertarik…… Mmmmm… Ya seperti itulah… Kamu sendiri juga mengakui kalau dia pria yang sangat menarik, oleh sebab itu pertama melihatnya aku sangat penasaran. Tapi tertarik kan beda dengan suka apalagi cinta” kataku sambil mengambil baju yang kujatuhkan.

ShinAe hanya menatapku “He-em” gumamnya.

“Lagipula ShinAe, kamu tidak merasa kalau kami berdua sangat berbeda?” tanyaku.

“Park MinAh kamu harus mulai menyadari kalau cinta datang bukan dari persamaan ataupun perbedaan” jawabnya dengan serius.

“Ne… Akan kuingat…” tapi sedikit kusangsikan kata-kataku mengingat kenyamanan biasanya datang karena adanya persamaan. Aku dan Eric? Completely different.

“Jadi jangan ditahan kalau ketertarikan itu berubah menjadi suka apalagi cinta. Dengan siapapun itu” nasihatnya.

“Yes ma’am. I promise” balasku mengacungkan 2 jari.

Selesai mandi aku mengantarkan kimchi buatan eomma ke apartment Eric.

Ting tong.

Aku menunggu agak lama sampai Eric membukakan pintu.

“MinAh-ssi. Masuklah..” katanya.

Aku menurutinya. Apartmentnya sangat nyaman dan lapang, ini pertama kalinya aku melihat isi penthouse di gedung ini.

Di pojok ruang tamu aku melihat ada anjing sedang bermain dengan boneka.

“Sebentar ya, aku ke dapur sebentar” aku bisa mencium dia sedang memasak sesuatu.

“Ah ini ada kimchi buatan eomma” kuserahkan kimchi titipan eomma.

“Gomawo. Eommoni sungguh baik sekali. Tunggu sebentar ya” dia menerimanya lalu pergi ke dapur.

Aku menghampiri anjingnya yang sedang bermain.

Guk guk!

Anjing itu mengagetkanku, dia berputar-putar di kakiku tapi karena agak takut anjing aku hanya membelainya.

Lalu aku melihat-lihat apartmentnya. Ada foto-foto keluarga, foto dengan teman-temannya. Aku bisa mengenali kakak perempuannya yang sekarang menjadi fashion designer terkemuka di LA.

Kumpulan CDnya sangat banyak, kebanyakan aliran rap dan hip hop. Aku tidak terlalu mengenali artis-artisnya karena memang tidak terlalu menyukai aliran itu. Hanya beberapa penyanyi Amerika yang kutahu. Itupun yang lagu-lagunya masuk top chart.

“MinAh-ssi sudah makan?” Eric muncul dengan mengenakan apron.

Guk guk!

Anjingnya kini memutari kaki Eric seolah minta digendong karena aku tidak berani menggendongnya.

“Yaaaa gomdori aku sedang memasak, nanti tanganku kotor kalau menggendongmu” katanya seakan memarahi anaknya.

Aku tertawa melihatnya.

“Mianhae MinAh-ssi gomdori memang manja”

“Hahahaa gwenchana, aku agak takut dengan anjing jadi tidak berani menggendongnya. Mungkin karena itu dia minta digendong oleh Eric-ssi” aku menatap gomdori dengan penuh penyesalan.

“Tidak usah dipikirkan. MinAh-ssi sudah makan?” tanyanya sekali lagi.

“Belum, aku akan beli ramen di bawah setelah dari sini” jawabku.

“Aaahh ayo kita makan bersama. Kebetulan aku sedang masak bulgogi” Eric meninggalkanku menuju dapur sebelum aku menjawab tawarannya.

Terpaksa aku mengikutinya ke dapur.

Eric menyiapkan makanan untuk ditata di meja makan. Nampaknya dia akan tersinggung kalau aku menolaknya.

Kubantu dia menyiapkan mangkok dan sumpit. Dalam waktu singkat meja makan sudah terisi masakan Eric dan kimchi buatan eomma. Setelah berdoa tanpa banyak kata kami langsung melahap sampai habis tidak tersisa.

“Ini sungguh enak Eric-ssi. Kamu pintar memasak rupanya” masakannya memang enak, tidak kalah dengan masakan restoran.

“Hahahaa gomawo MinAh-ssi. Ini karena aku terlalu lama tinggal sendiri, terpaksa harus bisa survive dan beginilah hasilnya” katanya sambil memberikan segelas wine padaku.

“Gomawo. Aku sudah 3 tahun hidup sendiri tapi masih belum bisa masak. Sepertinya aku dan dapur memang tidak berjodoh” gurauku disambut tawa kecil dari Eric.

Saat dia akan menuangkan wine lagi aku menolaknya “Mianhae Eric-ssi, aku tidak terlalu suka minum karena gampang mabuk”

“Oh pantas. Kalau ShinAe-ssi dan JiYoung-ssi sama-sama peminum sepertinya” tebak Eric yang sudah pernah melihat kapasitas minuman yang bisa ditenggak pasangan kekasih itu.

“Aku menyebut mereka drunken couple hehehee” aku tertawa mengingat bagaimana mereka berdua sama-sama mabuk.

Lalu kami mengobrol sampai lupa waktu.

“Ya ampun sekarang sudah malam. Sini kucuci piringnya sebelum pulang” kuambil piring-piring kotor di meja sebelum Eric mencegahnya.

Sambil mencuci piring kuceritakan kalau 2 hari aku akan berangkat ke pulau Jeju dengan Lee KyuMin dan Seungri untuk urusan pekerjaan.

“Hmmmmm.. Apa kamu tidak bisa menolaknya MinAh-ssi? Menyuruh orang lain menggantikanmu” tanyanya tiba-tiba.

Aku menatapnya dengan heran menghentikan kegiatanku mencuci piring “Menolak? Untuk apa menolaknya?”

“Karena kamu akan pergi bersama managermu” rupanya gara-gara Lee KyuMin.

“Eric-ssi ini kan perjalanan bisnis, lagipula aku sudah cukup dewasa untuk bisa membedakan urusan pekerjaan dan urusan pribadi. Dan kami tidak pergi berdua saja” aku mencoba menjelaskan.

“Kamu akan bepergian dengan pria yang kamu cintai, itu akan menyakitimu” aku bisa melihat dia mengatakannya dengan tulus, tapi aku tetap kesal dengannya.

“Yang pernah kucintai. Dan ini bukan travelling atau bersenang-senang Eric-ssi. Ini urusan kantor. Hanya urusan kantor. Tapi memang sih aku merasa senang bisa bepergian dengannya” kataku kali ini dengan nada sinis. Siapa dia bisa melarangku.

“Pernah atau masih tetap saja itu akan menyakitimu MinAh. Setiap kamu melihatnya kamu akan teringat perasaanmu padanya. Batalkan saja” Eric berkata seolah memberi perintah.

Apa? Dia memanggilku MinAh?? Kurang ajar sekali dia. Dia pikir dia siapa? Beraninya memerintahku.

“Yaaaaa Mun JungHyuk! Kamu ini siapaku? Enak sekali mengaturku. Aku tetap akan pergi walaupun kamu melarangnya. Eeeeerrrgghhh aku membencimu!” kali ini aku berteriak padanya dengan penuh emosi dan pergi dari apartmentnya setelah membanting pintunya. Aku tidak peduli apakah tetangga mendengarnya, aku benar-benar marah dengannya karena mencampuri urusanku.

***

Enjoy… Anggap aja lagi nonton Kdrama hehehe ^^