By @gurlindah93

 

Setelah bertengkar dengan Eric kemarin (lebih tepat aku yang meneriakinya) dia tidak menghubungiku, mungkin dia marah denganku karena sudah berteriak padanya.

Sebenarnya aku merasa sedikit menyesal karena sudah bereaksi berlebihan, tetapi tidak mungkin aku yang menghubunginya dulu. Biarkan saja dia mengerti kalau aku tidak suka urusan pribadiku dicampuri, toh aku sangat menantikan perjalanan dinas ini.

Aku mengirimkan pesan pada ShinAe ‘Yaaa kamu tidak ingin menemuiku? Besok aku berangkat selama 3 hari ke Jeju’ lalu melanjutkan packing barang yang akan kubawa besok.

5 menit kemudian ShinAe membalas pesanku ‘Umur berapa kamu? Sudah packing saja, tidak usah mengganggu orang lain. Selamat jalan-jalan Park MinAh ;p’ kulempar smartphoneku ke tempat tidur “Lee ShinAe, tidak tahukah kamu kalau sahabatmu ini sedang kesepian?” tanyaku pada smartphoneku yang tidak bersalah.

Ting tong.

Sepertinya ShinAe berubah pikiran. Aku berlari untuk membuka pintu tanpa mengecek interkom.

“Annyeong. Bolehkah aku masuk?” tanya Eric yang berdiri di depan pintu apartmentku.

Aku menatapnya dengan kesal lalu masuk ke dalam, dia mengikutiku.

“Ada apa?” tanyaku dengan nada tidak bersahabat.

“Besok jadi berangkat?” dia tidak menghiraukan sikapku.

“Jadi dong, apa kamu pikir hanya karena perkataanmu aku membatalkan perjalanan dinas ini? Haha! Lagipula aku akan pergi dengan managerku yang sangat tampan dan kucintai, tidak mungkin aku membatalkannya. Mumpung dia belum menikah aku akan menikmatinya dulu, Tuan muda Mun JungHyuk” kataku dengan sarkastik dan sedikit berlebihan. Ya jika sedang marah atau kesal kata-kataku memang cenderung sarkastik.

Dia memandangku dengan tatapan yang tidak bisa kupahami. Kecewa, marah, terkejut, tapi anehnya ada kelembutan di sana.

“Aku tidak menyangka kamu akan berkata seperti itu MinAh. Kamu terdengar seperti wanita gampangan” kata-katanya cukup tenang tapi jelas ada kekecewaan di sana.

Gampangan????? Aku sungguh tidak menyangka dia akan menyebutku gampangan.

“Apa yang kamu katakan?! Kamu menyebutku gampangan?!” aku tidak bisa mengontrol emosiku. Aku sangat marah pada pria di depanku ini.

“Iya gampangan. Kupikir kamu wanita tangguh dan mandiri yang tidak bisa dipengaruhi oleh pria manapun termasuk pria yang kamu cintai. Ternyata kamu rela melakukan apa saja agar bisa dekat dengannya walaupun kamu tahu pria itu tidak mungkin membalas perasaanmu dan hal itu jelas-jelas akan menyakitimu. Aku ke sini sebenarnya untuk meminta maaf sudah terlalu mencampuri urusanmu karena aku terlalu mengkhawatirkanmu dan memberikan ini. Tapi nampaknya aku tidak perlu minta maaf karena ternyata kamu bahagia dengan keadaanmu yang menyedihkan ini” Eric menyerahkan bungkusan padaku dan langsung pergi.

Aku terdiam memikirkan kata-katanya.

Setelah cukup tenang aku kembali ke kamar dan menyelesaikan packing yang tertunda, lalu membuka bungkusan dari Eric.

Ternyata buku yang kucari Men are from Mars, Women are from Venus.

Rasa sesal tiba-tiba menghinggapiku, kuakui tidak seharusnya aku berkata sekasar itu pada Eric. Dia hanya mengkhawatirkanku.

Tidak sadar aku jatuh tertidur sambil memeluk buku itu.

***

Di airport SeungRi sudah datang “Yooo MinAh, aku kira kamu bakal terlambat” katanya membantu menurunkan koperku dari taksi.

“Aku tidak sabar dengan liburan ini, jadi tidak bisa tidur hahahaa”

Kuputuskan untuk melupakan pertengkaranku dengan Eric dan menikmati perjalanan ini.

“Hey, ayo kita berangkat. Park MinAh kenapa matamu itu, seperti kurang tidur” Lee KyuMin bertanya setelah melihatku melepas kacamata hitam.

“Dia tidak bisa tidur manager Lee” jawab SeungRi mewakiliku. Aku hanya tersenyum.

Di dalam pesawat aku membaca buku yang diberi oleh Eric.

“Sedang baca buku apa?” tanya Lee KyuMin penasaran.

“Aaaahh ini” aku menunjukkan covernya.

“Ini buku lama kan? Apa kamu baru membacanya?”

“Ne. Saya baru memilikinya”

Baru membaca 3 bab pesawat yang kutumpangi sudah mendarat di pulau Jeju.

“Aaaaaaahhh jota” kataku saat berada di mobil menuju perusahaan pertama yang akan kami datangi. Senang sekali rasanya bisa menghirup angin laut.

SeungRi yang duduk di depan bahkan sudah mengeluarkan kepalanya.

“Kamu suka pantai?” tanya Lee KyuMin yang duduk di sebelahku.

“Ne. Terakhir kali liburan ke pantai bersama ShinAe kulit saya terbakar karena setiap hari jalan-jalan di pantai” jawabku mengenang liburan musim panas tahun lalu yang sangat berkesan bagiku.

Perjalanan ke perusahaan pertama membutuhkan waktu hanya 20 menit tetapi aku jatuh tertidur.

“MinAh… Bangun.. Kita sudah sampai” Lee KyuMin menggoyang-goyangkan tubuhku untuk membangunkanku.

“Ah joesonghamnida manager Lee” kataku. KyuMin tersenyum melihatku sedang merapikan baju kusutku.

Kami bertiga berada di perusahaan itu sampai jam 3 sore lalu menuju hotel untuk check in dan istirahat. Setelah membersihkan diri aku memutuskan untuk duduk-duduk di taman belakang hotel yang dekat dengan pantai dan membawa buku dari Eric.

Sambil melanjutkan membaca aku bertanya-tanya apakah Eric masih marah padaku karena dia tidak menghubungiku sama sekali.

Dia memang pantas marah karena kata-kataku yang menyinggungnya. Apa seharusnya aku menghubunginya dan meminta maaf dulu ya? Tapi gengsiku setinggi Namsan tower sehingga aku menepis keinginan untuk menghubunginya lebih dulu.

“Ada apa MinAh? Kamu membawa buku tapi matamu tidak bisa lepas dari smartphone. Menunggu telepon dari seseorang?” Lee KyuMin tiba-tiba sudah duduk di sebelahku.

“Ah? Aniyo manager Lee. Hehee” aku memasukkan smartphoneku ke celanaku.

”Apa kamu senang dengan pemandangan di hotel ini?” tanyanya.

“Ne. Pemandangannya benar-benar menakjubkan. Pantainya bersih dan air lautnya benar-benar mengagumkan” mataku tidak bisa lepas dari pemandangan yang ada di depanku. Kapan lagi aku bisa bekerja sekaligus liburan seperti ini.

“Bagus kalau begitu, aku menebak kamu suka dengan pemandangan seperti ini oleh sebab itu aku meminta sekretaris Park untuk memesan hotel ini” ternyata managerku ini memikirkan rekan kerjanya.

Aku menatapnya “Hehehee gamsahamnida manager Lee” dan disambut senyuman olehnya.

Aku senang melihat senyumannya.

Kring kring..

Lee KyuMin mengangkat teleponnya “Yoboseyo? JungAh? Ada apa? Aaaahh aku sedang tidak melakukan apa-apa. Aku juga merindukanmu jagi…” dia beranjak pergi meninggalkanku sendirian.

Perkataan Eric terngiang-ngiang di telingaku “Kupikir kamu wanita tangguh dan mandiri yang tidak bisa dipengaruhi oleh pria manapun termasuk pria yang kamu cintai. Ternyata kamu rela melakukan apa saja agar bisa dekat dengannya walaupun kamu tahu pria itu tidak mungkin membalas perasaanmu dan hal itu jelas-jelas akan menyakitimu

Malam sebelum tidur aku berkata pada buku yang Eric beri “Yaaa nampaknya kamu benar. Aku memang gampangan. Puas? Aku salah, mianhae” lalu langsung tertidur. Sejak saat itu aku memutuskan untuk benar-benar melupakan Lee KyuMin dan melanjutkan hidup.

***

Hari kedua ternyata tidak membutuhkan waktu banyak untuk bekerja jadi kami memutuskan berjalan-jalan di sekitar hotel.

“Hey hati-hati MinAh” kata Lee KyuMin lalu menggandeng tanganku saat kami akan menyeberang jalan.

Untuk pertama kalinya aku merasa jantungku tidak berdetak dengan cepat ketika berada dekat dengan Lee KyuMin. Aku senang menyadari perasaanku saat ini.

Kami bertiga berbelanja di pasar tradisional untuk membeli oleh-oleh. Aku membelikan ShinAe summer dress yang sangat lucu, kaos yang mirip dengan summer dress milik ShinAe untuk JiYoung, dan kaos bertuliskan ‘Hey yo, welcome to Jeju’ untuk Eric.

“Jadi ada apa dengan tangan kalian?” SeungRi menghampiriku yang sedang duduk sambil makan es krim.

“Mwo?” tanyaku tidak mengerti apa yang dia bicarakan.

“Aku melihatnya Park MinAh. Aku melihat tangan Lee KyuMin menggandeng tanganmu tadi. Lalu kalian berbelanja bersama-sama sambil tertawa seperti pengantin baru yang sedang bulan madu” ternyata SeungRi memperhatikan kebersamaanku dan Lee KyuMin hari ini.

“Aaahh that was nothing. Dia hanya membantuku menyeberang jalan, dan kebetulan kami memiliki selera yang sama jadi kami belanja di toko yang sama. Bukankah kamu sudah mengetahui itu?” aku mencoba menjelaskan yang sebenarnya kurasakan.

“Tapi kamu tersenyum, tampak bahagia” SeungRi masih menyangsikan kata-kataku.

“Aku….” sebelum menyelesaikan kalimatku Lee Kyumin datang.

“Hey kalian berdua, aku ada berita. Kita pulang hari Sabtu pagi karena besok malam kita diundang makan malam oleh direksi perusahaan For Life. Apa kamu membawa dress MinAh?” Lee KyuMin membawa berita yang cukup menyenangkan bagiku. Bisa semalam lebih lama menikmati udara di pulau Jeju.

“Wanita harus membawa dress di setiap perjalanan KyuMin-ssi, entah urusan pekerjaan entah untuk liburan” kataku dengan nada sok yang membuat SeungRi dan Lee KyuMin saling bertatapan lalu tertawa. Aku tidak tahu apa yang membuat mereka tertawa, mungkin mereka tidak percaya bahwa setiap bepergian wanita pasti membawa dress tapi itulah yang selalu kulakukan.

***

Malam ini akan ada makan malam untuk mempererat hubungan 2 perusahaan, jadi aku berdandan secantik mungkin untuk memberi kesan yang positif.

Dress yang kubawa adalah salah satu dress favoritku, mini dress berwarna royal blue dengan tali spaghetti yang menunjukkan setiap lekuk tubuhku dengan sempurna.

Saat memoles make up ada pesan masuk, dengan antusias aku melihatnya berharap Eric yang mengirimkan pesan. Tapi ternyata eomma dan ShinAe yang mengirimkan pesan.

Aku cukup kecewa karena sudah 3 hari tidak mendapatkan pesan dari Eric. Kupandangi smartphoneku dan aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang nampak mustahil kulakukan.

Hai.. wassup?’ kukirimkan pesan pada Eric berharap setidaknya dia mau membacanya.

Tok tok.

Aku membuka pintu dan Lee KyuMin ada di depan pintu, nampak lebih tampan dari biasanya. Sebelumnya jika melihatnya seperti ini aku akan merasa berdebar dan sangat bahagia, tapi kali ini detak jantungku normal.

“Wow. You look so beautiful Park MinAh. Seriously..” Lee KyuMin menatapku dari atas ke bawah entah untuk berapa kali.

Dipuji cantik oleh pria tampan? Tentu saja sangat menyenangkan. Hohoho.

Aku hanya senyum-senyum “Gamsahamnida Lee KyuMin-ssi”.

Dia menawarkan lengannya padaku dan kuterima tawarannya, aku mengamit lengannya lalu kami berjalan menuju mobil untuk pergi ke restoran tujuan kami.

SeungRi hanya bisa melongo melihat kami “Tenang saja, ini hanya hubungan kerja. Trust me” bisikku.

Makan malam ini menyenangkan, orang-orang yang mengundang kami sangat baik, makanannya sungguh lezat. Tetapi aku tidak tenang.

Kucek smartphoneku setiap 5 menit tetapi tidak ada balasan dari Eric.

Sampai selesai makan malam belum juga ada balasan darinya. Aku merasa sedih dan kecewa.

“MinAh ada yang ingin kubicarakan, bisakah kita ke taman belakang sebentar?” kata Lee KyuMin saat kami sampai di hotel tempat kami menginap.

SeungRi menggeleng sambil menatapku dengan cemas, kuberi dia tatapan ‘Tidak usah khawatir, aku bisa mengatasinya’.

“Ne manager Lee” lalu mengikutinya ke taman belakang.

“Ehem… Begini MinAh, kamu adalah orang pertama di divisi kita yang tahu hal ini. Project kali ini adalah project terakhirku” katanya. Kutatap dia dengan bingung.

“Minggu depan setelah menikah aku akan dipindahkan ke Jepang sebagai head office karena head office di sana akan segera pensiun, kebetulan JungAh juga berencana membuka kantor design grafis di sana” aku mengangguk-angguk karena tidak tahu harus komentar apa. Maksudku apa hubungannya denganku sampai Lee KyuMin harus memberitahuku 4 mata seperti ini, hanya saja tidak mungkin aku berkata seperti itu.

Lee KyuMin menghela nafas dengan berat seperti ada sesuatu yang menghimpit dadanya.

“Mungkin kamu bertanya kenapa aku mengatakan ini semua padamu” nampaknya ekspresi wajahku terlalu jelas dibaca.

“Aku merasa ini saat yang tepat untuk mengatakan semuanya, agar hidup kita berdua sama-sama tenang tanpa ada ganjalan” dia menatapku dengan… Entahlah. Kalau saja dia bukan atasanku dan akan menikah aku akan mengatakan dia menatapku dengan penuh kasih.

“Aku sudah tahu perasaanmu padaku. Sejak dulu” aku merasa pipiku memerah. Aku tidak pernah menyangkanya.

“Sayangnya, atau untungnya aku juga menyukaimu. Setidaknya pernah menyukaimu” lutuku lemas. Aku duduk di kursi yang paling dekat agar tidak jatuh. Kenapa dia harus mengatakan ini sekarang. Bukankah sudah terlambat?

Aku menatapnya menuntut penjelasan “Kita selalu menjadi rekan kerja dan teman yang cocok. Kita memiliki banyak sekali persamaan, obrolan kita selalu nyambung, dan aku yakin kita akan menjadi pasangan yang hebat. Lalu ketika aku mulai mengumpulkan keberanian untuk mengenalmu lebih jauh JungAh datang ke hidupku. Teman SMPku yang sangat baik dan perhatian. Hatiku mulai goyah apakah aku harus melanjutkan pendekatan denganmu yang begitu mirip denganku, atau aku harus bersama JungAh yang kurasa bisa melengkapi hidupku”

Perasaanku bercampur aduk, tidak tahu apakah aku harus marah atau bersedih atau malah bahagia. Sebenarnya aku tidak ingin mendengar omong kosongnya lagi tapi aku ingin mengetahui yang sebenarnya jadi kuputuskan untuk bertahan.

“Lalu ada satu titik di mana aku menyadari bahwa aku butuh seseorang yang bisa melengkapiku, Venusku jika berdasarkan buku yang sedang kamu baca. Oleh sebab itu aku mengubur rasa sukaku padamu sebelum berubah menjadi cinta dan ternyata berhasil. Kini aku benar-benar mencintai JungAh dan ingin menghabiskan waktuku di dunia bersamanya” aku menangis. Aku sudah berusaha keras menahan air mata sialan ini untuk tidak tumpah tetapi tidak bisa.

Dia menghapus air mataku “Aku merasa lega dan bisa menikah dengan tenang sekarang karena sudah jujur denganmu. Tolong jangan salahkan JungAh karena dia tidak tahu apa-apa. Dan tolong restui kami MinAh. Mianhae” lalu dia menciumku dengan lembut. Ciuman paling menyakitkan yang pernah kurasakan seumur hidupku, aku berdoa tidak pernah merasakannya lagi.

Setelah dia melepaskan ciumannya dia berkata “Temukan Marsmu MinAh. Buka hatimu”. Aku langsung pergi tanpa berkata apapun.

Semalaman aku hanya bisa menangis.

***

“Apa yang terjadi tadi malam?” tanya SeungRi saat kami tiba di airport keesokan harinya.

“Eobseo” jawabku pendek.

“Lalu ada apa dengan kacamatamu?” aku memang tidak melepas kacamata hitam sejak di hotel sampai di airport.

“Eobeso” jawabku lagi.

Sambil menunggu Lee KyuMin aku mengecek smartphone. Tidak ada satupun pesan dari Eric. Rasanya aku ingin menangis lagi kalau tidak ingat sedang berada di tempat umum.

“MinAh ayo kita check in” ajak SeungRi.

“Lalu Lee KyuMin-ssi…” aku mencarinya tapi tidak menemukannya.

“Katanya sudah berangkat duluan naik pesawat pertama. Ayo nanti kita ketinggalan pesawat”

Aku merasa lega, saat ini aku sedang tidak ingin bertemu dengannya.

Sampai di apartment aku langsung berbaring di tempat tidur dan meringkuk di dalam selimut, tidak melakukan apa-apa.

Park MinAh kamu sudah pulang?’ ShinAe mengirimkan pesan dan kubalas ‘Sudah’.

Sudah di apartment?’ tanya ShinAe lagi. Aku tidak menjawabnya.

Kring kring..

“Yoboseyo” kataku.

“Yaaa MinAh. Kamu di mana? Kenapa tidak menjawab pesanku? Apa sudah di apartment? Aku ke sana ya” aku tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan ShinAe.

“Yoboseyo.. Yoboseyo..” ShinAe terdengar panik.

“Aku ingin istirahat” jawabku agar dia tidak panik.

“Yoboseyo.. MinAh apa kamu sakit? Suaramu kenapa?….” kututup teleponnya sebelum dia bertanya lebih banyak hal lagi.

Untuk menenangkan hati aku menyetel CD band favoritku lalu meringkuk kembali di dalam selimut.

“MinAh.. kamu membuatku khawatir..” tiba-tiba ShinAe datang. Aku sedikit menyesal sudah memberitahunya password apartmentku.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyaku tanpa gairah.

“Yaaaaa aku mengkhawatirkanmu.. Apa kamu sakit?” ShinAe menyentuh keningku.

“Gwenchanaaa.. ShinAe-yaaa nan gwenchana…” aku menepis tangannya.

“Tapi suaramu.. Matamu…” kata ShinAe dengan horor setelah melihat keadaanku.

Aku menyembunyikan wajahku ke dalam selimut “Gwenchanaaaa”.

Sejujurnya aku sedang ingin sendirian tetapi aku memilih untuk membiarkan ShinAe di sini tanpa memberitahunya yang sebenarnya. Setidaknya saat ini.

“Oke.. Akan kutinggalkan kamu sendirian di kamar. Aku ada di ruang tamu, kalau butuh sesuatu teriak saja” nampaknya ShinAe menyadari kalau aku ingin sendirian, dia memang orang yang paling mengerti aku.

Sebelum dia keluar “ShinAe, kenapa kamu tiba-tiba nyelonong masuk tanpa membunyikan bel?”

“Aku tahu passwordmu Park MinAh-ssi”

“Arra.. Maksudku, aku kan memberitahu passwordku agar kamu bisa masuk kalau ada keadaan emergency saja” kataku agak sebal. Aku merasa private areaku diinvasi olehnya.

ShinAe memandangku dengan gemas “Ini termasuk emergency MinAh” katanya lalu meninggalkanku sendirian.

Aku menghela nafas lalu kembali meratapi nasibku.

Kejadian di pulau Jeju kembali tergambar dengan jelas, ciuman Lee KyuMin masih bisa kurasakan.

“Apa yang akan terjadi kalau dia memilihku? Apakah kami akan bahagia?” tanyaku pada diri sendiri. Aku merasa rapuh dan hancur bukan karena aku mengharapkan Lee KyuMin akan memilihku tetapi mengapa dia menceritakan semua ini padaku sekarang, saat aku sudah melupakannya.

Aku kembali menenggelamkan diri di dalam selimut.

“Min… Kamu tidak mau makan? Ini sudah jam 7 malam dan kamu belum makan apapun sejak aku ke sini tadi siang..” ShinAe duduk di sebelahku lalu mengelus rambutku. Aku masih belum ingin makan atau bicara dengan siapapun jadi aku berganti posisi membelakanginya.

ShinAe menghela nafas lalu meninggalkanku tanpa bicara.

Memiliki sahabat seperti ShinAe adalah hal kedua yang paling aku syukuri di dunia ini. Hal pertama adalah aku bersyukur memiliki appa dan eommaku, di kehidupan selanjutnya aku tidak ingin menukar appa dan eommaku.

Mengingat appa dan eomma aku berharap ShinAe tidak menguhubungi mereka karena hal ini.

Anehnya seharian ini aku tidak menangis. Mungkin karena aku sudah cukup menangisinya tadi malam.

Ting tong.

Bel apartmentku berbunyi tetapi aku tidak menghiraukannya, pasti JiYoung yang datang untuk menemui ShinAe. Kasihan mereka harus menghabiskan malam Minggu di sini.

“Min.. Sekarang sudah jam 9.. Ayo dong makan..” ShinAe datang lagi ke kamarku. Kuakui gadis ini pantang menyerah.

“ShinAe-yaaa” panggilku masih membelakanginya.

“Hmmmm??”

“Apa kamu tidak ingin tahu kenapa aku bertingkah seperti ini?” tanyaku penasaran karena yang dia tanyakan hanya apa aku ingin makan atau tidak.

ShinAe terdiam.

“Seharusnya aku menuruti kata-kata Eric oppa untuk tidak ikut perjalanan dinas kemarin” Entah kekuatan dari mana yang kudapat sampai aku memanggilnya oppa. Jika tidak sedang sedih aku pasti sudah menertawakan diriku sendiri.

ShinAe masih diam.

Aku ikut terdiam.

“Min…….”

“Seharusnya aku tahu kalau perasaanku akan tersakiti” lalu aku menceritakan kejadian di pulau Jeju lengkap dengan ciuman yang diberikan Lee KyuMin padaku.

“Mungkin benar kata Eric oppa.. Aku seperti wanita gampangan yang melemparkan dirinya pada pria yang disukai” hatiku terasa sakit ketika mengatakannya.

ShinAe tetap diam.

Aku berbalik untuk melihat reaksi ShinAe tapi malah tekejut melihat seseorang berdiri di pintu kamarku.

“Eric-ssi…” tidak tahu kenapa tetapi aku langsung menangis begitu melihat pria itu.

ShinAe meninggalkan kamarku dan bisa kulihat dia menghapus air matanya.

Aku semakin histeris.

“Gwenchana MinAh.. Gwenchana…” Eric duduk di sampingku.

Tangannya menepuk-nepuk kepalaku dan membuatku sedikit tenang.

“Jangan menyalahkan dirimu. Jangan menyalahkannya juga. Mungkin memang ini yang terbaik bagi kalian semua. Mungkin dia bukan orang tepat untukmu”

Kata-katanya terdengar menyejukkan hati.

“Gomawo Eric-ssi..”

Aku membuang ingusku “Hehehee mian”.

Dia hanya tersenyum lalu senyumnya berubah menjadi senyuman jahil “Eric-ssi? Sepertinya tadi aku mendengar ada yang memanggilku Eric oppa…”.

“Mwo? Nugu? Waaaahhh sungguh tidak sopan dia memanggilmu seperti itu Eric-ssi” kataku berlagak bodoh.

Dia menatapku dengan tatapan ‘don’t you dare lie to me’.

“Hehehee mian.. Aku hanya merasa tidak nyaman memanggilmu Eric-ssi karena sudah merasa cukup dekat denganmu” kuberikan senyum termanisku agar dia tidak marah.

Dia malah membalas dengan senyuman paling manis dan jenaka yang pernah kulihat seumur hidupku.

Jantungku berdebar.

Mungkin karena aku kelaparan dan terlalu lelah pikirku.

“Mau memanggil Eric oppa? Bayar dulu…” dia menengadahkan tangannya ke arahku.

“Sajangnim… Aku tidak punya uang sebanyak itu…” kataku memelas.

Dia menatapku seolah-olah tidak percaya.

“Ya Tuhan berhentilah menatapku” kataku dalam hati.

Aku membuang muka berpura-pura memikirkan sesuatu.

“Mmmmmm baiklah.. Kubayar dengan 3 gelas kopi.. Ottae?” tawarku. Eric tidak mungkin menolak kopi.

“Oke deal” ujarnya dan mengulurkan tangan.

Tanpa pikir panjang kubalas uluran tangannya “Deal”.

Lalu kami berdua tertawa.

“Tidak lapar? Ayo kamu harus makan. Setelah makan langsung tidur, matamu sudah seperti mata panda” suruhnya dengan nada memberi perintah.

“Lapar… Tetapi sepertinya aku lebih butuh tidur daripada makan. Hitung-hitung sekalian diet” jawabku. Aku memang sedang malas makan, mataku lebih ingin kupuaskan daripada perutku.

“Oke… Tidurlah” dia mengambil smartphone dari sakunya lalu mulai bermain game. Dasar gamer.

“Mmmmm apa tidak sebaiknya Eric………….. Oppa keluar?” dia tidak memperlihatkan sinyal akan keluar dari kamarku.

Tanpa mengalihkan mata dari smartphonenya dia menjawab “Ani. Aku harus memastikan kamu melakukan paling tidak salah satu dari perintahku tadi. Jadi aku akan di sini memastikan kamu tidur”

Sebagai CEO dia memang cukup bossy.

Aku cemberut “Lalu bagaimana kalau aku tidak bisa tidur gara-gara oppa?”.

“Aku tahu bagaimana dengan mudahnya kamu tertidur Park MinAh. Sudah pejamkan saja matamu. Anggap aku tidak ada” matanya masih menatap smartphonenya. Kini tangannya malah sibuk menggeser-geser dan menekan-nekan layar lalu tersenyum puas.

Mataku mulai terasa berat.

“Mmmmm.. Apakah oppa mendengar semuanya tadi?” tanyaku sebelum jatuh tertidur. Aku penasaran bagian mana saja yang dia dengarkan dari ceritaku.

“Semua. The whole thing” ujarnya.

“Mianhae karena sudah berteriak dan marah-marah pada oppa” kukatakan dengan nada penuh penyesalan.

Sebenarnya aku juga ingin tahu apakah dia menerima pesanku saat di pulau Jeju tetapi aku malu bertanya.

“Kumaafkan. Ohya pesanmu, sebenarnya aku ingin membalas i’m fine tapi saat itu aku sedang ada rapat penting jadi kubiarkan begitu saja” ujarnya dengan cuek seolah-olah hal itu tidak penting.

Aku memandangnya dengan sebal, kukira dia tidak membalas karena masih marah padaku tapi ternyata dibiarkan begitu saja “Ooohh oke”.

Mataku terasa semakin berat. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk tidur.

Sayangnya aku bermimpi kejadian di pulau Jeju, aku terisak-isak menangis sampai dadaku terasa sesak. Dalam mimpi aku merasa seorang pria yang kutebak appaku datang, dia menghapus air mataku dan mencium keningku lalu memelukku dengan erat. Aku merasa sangat nyaman dan membalas pelukannya.

Sayup-sayup kudengar sebuah lagu.

Hey you, come over and let me embrace you

I know that I’m causing you pain too

But remember if you need to cry

I’m here to wipe your eyes

 

Tonight before you fall asleep

I run my thumb across your cheek (across your cheek)

Cry ’cause I’m here to wipe your eyes

I know I made you feel this way

You gotta breathe, we’ll be okay (be okay)

Cry ’cause I’m here to wipe your eyes

***

Here we go part 3… Enjoy.. ^^