Aku terbangun akibat bunyi alarm yang sangat kencang yang terletak tepat di sebelah telingaku. Sambil mengeluh kesal, aku menepuk-nepuk pemilik alarm sialan itu. “Matikan alarmmu itu… Berisik…” Kataku. Si pemilik alarm hanya melenguh pelan. Aku kembali menepuknya, kali ini agak lebih keras, tapi ia malah menarik selimutnya lebih tinggi tanpa membuka matanya sedikitpun.

Dengan terpaksa, aku mematikan alarm itu lalu melemparkannya ke dalam laci buffet di samping tempat tidurku. Aku melihat si pemilik alarm masih tidur nyenyak. Ia tidur membelakangiku sambil memeluk gulingnya dengan erat, aku memperhatikan rambut pendeknya yang mencuat kemana-mana tidak beraturan.

Tanpa sadar, aku tersenyum. Aku mendekatinya, memanjangkan kepalaku di atas kepalanya. Aku melihat wajahnya. Ia tidur sangat nyenyak. Aku menciumnya. “Kau mengganggu tidurku tapi aku memaafkanmu karena kau sangat cantik,” bisikku kepadanya. Aku tahu ia tidak akan mungkin mendengarnya. Ia berubah tuli kalau sudah tidur.

Aku keluar kamar untuk nonton tivi agar tidak mengganggunya. Tiba-tiba pintu apartemenku terbuka. Aku melihat seseorang masuk. Ia melihatku dengan terkejut. “Kau sudah bangun?” Tanyanya kaget tapi ia tertawa.

“Ne. Alarm itu menggangguku. Kau sudah selesai?” Sahutku setengah nyawa.

“Ne,” jawabnya. Ia duduk di sebelahku, mengusap wajahku kemudian membelai rambutku sambil tersenyum. “Kau jelek sekali kalau baru bangun tidur.”

Aku tersenyum tipis. Sesungguhnya, aku tidak peduli dengan perkataannya. Ejekan itu tidak berpengaruh apapun padaku. “Kau sebaiknya segera menghapus make-up di wajahmu,” balasku.

Ia tersenyum lebih lebar. “Aku tahu kau masih ngantuk. Sini,” ujarnya sambil menepuk pahanya.

Tanpa berpikir, aku menerima tawarannya. Aku meluruskan badanku di sofa dengan kepalaku di pahanya sebagai bantal. Tangan kanannya membelai rambutku sedangkan tangan kirinya berada dalam genggaman di atas dadaku.

“Kau mengajarkannya memasang alarm?” Tanyaku.

“Dia pintar kan? Aku menyuruhnya memasang alarm agar aku bisa melihatmu saat aku pulang,” jawabnya.

Aku tersenyum. “Kau begitu merindukanku?”

Ia menganggukkan kepalanya. “Aku sangat merindukanmu. Kau tahu betapa tersiksanya aku tanpa kalian? Selesai syuting, aku pulang ke dorm bukan ke rumah. Aku kesepian.”

Aku melihat wajah sedihnya yang menggemaskan. Aku tidak tahan untuk tidak menciumnya. Aku menegakkan tubuhku sebentar untuk menciumnya kemudian berbaring lagi di pangkuannya.

Ia tertawa geli. “Aku harap mereka mengeditnya,” ujarnya sambil mengelus pipiku dengan lembut.

“Aku tidak keberatan kalau mereka menayangkannya,” sahutku.

Ia tertawa sangat lepas. Aku tidak melihat lagi kesedihan yang tadi kulihat. Aku juga tidak melihat gurat kesepian seperti yang tadi ia katakan.

“Aku mencintaimu,” ucapku yang entah kenapa bisa membuatnya tertawa. “Wae?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya sudah lama tidak mendengarnya. Aku juga mencintaimu,” jawabnya.

Aku kembali ingin menciumnya tapi tidak jadi. Kuurungkan niatku karena ada sesuatu yang lebih penting.

“Appa, pipis,” ujar makhluk kecil pemilik alarm dengan rambut pendek mencuat berantakan kesana kemari. Matanya yang setengah terbuka membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Dengan sigap, aku bangkit dari sofa dan menemani si kecil ke kamar mandi.

Aku bisa mendengar suara tawa seorang wanita di belakangku. “Aku bisa mengurusnya,” protesku padanya seolah aku tidak bisa mengurus seorang anak kecil yang ingin pipis.

Ia tertawa lagi. Ia mengelus punggungku dengan lembut. “Aku bukan mau mengikutimu. Aku mau melihat kembaran minimu,” katanya lalu masuk ke kamar di sebelah kamar mandi.

Ia tidak menutup pintunya sehingga aku bisa melihat ia sedang mencium makhluk kecil lainnya yang sedang tidur nyenyak dengan posisi terlentang memenuhi kasurnya.

“Appa, sudah,” kata cantik kecilku.

Aku membersihkannya kemudian menggendongnya. Dia mengucek matanya kemudian mengulaikan kepalanya di bahuku. Aku mengecupnya dan tak lama kemudian ia kembali tertidur.

Aku masuk ke dalam kamar kembaran miniku. Aku mencium keningnya dengan gemas dan ia tidak merasa terganggu sedikitpun. Ia masih tidur dengan lelap.

“Kalian bertiga sangat mirip,” ujar wanita yang belum membersihkan make-up-nya meski syutingnya sudah selesai dari berjam-jam lalu itu dengan geli.

Aku bergantian melihat ketiga manusia yang menguasai hidupku dan aku bersyukur memiliki mereka. Aku mencintai mereka melebihi diriku sendiri.

—-

Kkeut!