By @gurlindah93

 

“Morning”

“Morning” balasku.

Aku mengerjapkan mata lalu bangkit dari tempat tidurku. Kuhirup dalam-dalam udara segar di dalam kamarku.

Sekarang hari Minggu pagi yang cerah, dan yang terpenting aku sudah tidak sedih lagi. Aku siap menyongsong hari baru dengan lebih bahagia.

“Whoaaaaa oppa. Apa yang oppa lakukan di sini?” aku terperanjat melihat Eric duduk di sofa di dalam kamarku, sedang minum kopi dan membaca koran.

Dia mengintipku lalu kembali membaca koran “Kamu tidak lihat aku sedang membaca koran? Ohya aku tidak bisa menemukan kopi di sini jadi ShinAe membawakanku kopi dari kafe di bawah”

Kulihat sekarang jam 10 pagi tetapi pakaian yang dikenakan Eric masih sama seperti yang dia kenakan tadi malam.

“ShinAe… Di mana dia?” aku tidak melihat atau mendengar ShinAe sejak tadi malam.

“Tentu saja di apartmentnya. Katanya sih sedang memasak makanan untuk kita”

“Oppa belum mandi?” tanyaku.

“Apa aku harus mandi di sini tanpa ganti baju?” tanyanya balik.

Aku melongo “Ya mandi di apartment oppa. Kan bisa sekalian ganti”

“Masalahnya sejak semalam aku belum pulang. Tidak tahu bagaimana nasib gomdori di sana” dia berkata dengan nada penasaran dan agak sedih.

“Mwo? Jadi sejak semalam oppa tidak pulang?”

Dia menurunkan korannya dan memandangku seolah-olah ini semua kesalahanku “Bagaimana aku bisa pulang kalau kamu mencengkeram kaosku dengan erat”.

“Jadi semalam oppa tidur di sini??????” tanyaku dengan histeris

“Ne.. Kamu baru melepaskanku ketika matahari terbit jadi aku bisa pindah dan tidur di sini” ujarnya lalu melanjutkan membaca koran.

“Mwooooooooo????? Jadi oppa tidur di tempat tidurku???????” kali ini aku berteriak.

“Yaaaaaa kamu mau aku melepaskan kaosku lalu pulang dalam keadaan tidak memakai kaos?” dia menatapku dengan tajam.

Aku merasa pipiku memerah jadi segera mengalihkan pandangan ke TV yang tidak menyala.

“Mmmmmmm…. Mianhae oppa. Semalam aku bermimpi Lee KyuMin lalu menangis. Untung ada appa yang memeluk dan mencium keningku, jadi aku merasa tenang. Mungkin aku mengira sedang menarik appa agar tidak meninggalkanku. Mianhae….” kataku tanpa memandangnya.

Dia diam saja jadi aku meliriknya, dia masih membaca koran.

“Hmmmmm” akhirnya dia bersuara.

Kami berdua terdiam dengan pikiran masing-masing.

“Heeeeyyy MinAh-yaaaa apa kamu sudah bangun?” ShinAe menyelamatkanku dari situasi yang awkward.

Langsung saja aku keluar kamar dan memeluk ShinAe.

“Ada apa?” dia nampak bingung dengan tingkahku.

Aku tetap memeluknya, tidak ingin dia melihatku dengan wajah memerah seperti ini “Gomawo ShinAe-yaaa” bisikku.

“Hmmmm.. Aku tidak menyangka Lee KyuMin bisa sebrengsek itu” katanya lalu balas memelukku.

Aku mengangguk-angguk.

“Untung dia segera pindah minggu depan”ujarku dengan nada lega dan bahagia.

“Iya.. Untung saja. Lalu apa kamu akan menghadiri pernikahannya?” tanyanya.

“Tidak usah datang” sebelum aku menjawab Eric sajangnim sudah memberi perintah.

ShinAe dan aku melepaskan pelukan “Tentu aku tidak akan datang” jawabku sambil melirik Eric dengan tatapan sebal.

Dia tertawa menunjukkan gigi putihnya yang rapi.

“Jota.. Karena semua sudah bangun ayo kita sarapan, aku sudah memasak untuk kita” ShinAe menyiapkan makanan yang dia bawa.

“It called brunch” komentarku.

Dia hanya memelototiku “Salah siapa kita tidak bisa sarapan?”

“Heeeyyy kalau kalian mau sarapan silahkan, toh aku memang tidak terbiasa sarapan” balasku tidak mau disalahkan.

“Dasar. Lalu Eric oppa tidur di mana tadi malam?” tanya ShinAe sambil menata nasi goreng kimchi buatannya.

“ShinAe-yaaa tolong ambilkan kimchi di kulkas dong” pintaku dengan nada memohon pada ShinAe sebelum Eric menjawab pertanyaannya.

Eric melirikku sambil tersenyum tapi aku pura-pura bodoh dan memasang tampang innocent.

“Ini kan nasi goreng kimchi Min… Kenapa kamu suka sekali kimchi sih?” ujar ShinAe kesal tetapi tetap mengambilkan kimchi untukku.

Aku tersenyum dengan penuh kemenangan.

“Kata eomma sih sejak dalam kandungan aku sudah suka kimchi”

Eric mencondongkan tubuhnya ke arahku “Kenapa kamu tidak mau dia tahu kalau semalam kita tidur di kasur yang sama?” bisiknya dengan nada jahil.

“Sssssstttt aku tidak mau dia salah paham” bisikku sambil membekap mulutnya.

“Hey ada apa kalian bisik-bisik?” ShinAe kembali ke meja makan sambil membawa kimchi.

Kulepaskan tanganku dari mulutnya lalu kami berdua menjauh “Ani…” jawabku dan Eric bersamaan.

ShinAe memandang kami berdua dengan heran “Sejak kemarin tingkah kalian berdua sungguh aneh”.

Aku berpura-pura tidak mendengar komentarnya “Gomawo ShinAe” kataku dengan senyuman paling lebar yang bisa kulakukan lalu mengambil makanan dengan porsi yang banyak. Maklum perutku tidak terisi sejak kemarin.

Eric hanya menatapku sedangkan ShinAe geleng-geleng kepala melihat porsi makanku.

***

Hari pertama bekerja setelah kejadian di pulau Jeju berjalan biasa saja. Aku tidak bertemu dengan Lee KyuMin karena entah kebetulan atau disengaja dia sedang ada tugas di luar kantor.

Saat jam istirahat aku memilih membeli hot dog di kafetaria lalu memakannya di mejaku. Aku ingin menghabiskan buku Men are from Mars, Women are from Venus.

“MinAh….” bisik sesorang mengagetkanku.

“Yaaaaa Lee ShinAe apa yang kamu lakukan di sini?” ShinAe hanya tertawa-tawa.

“Eobseo. Hanya ingin melihat keadaanmu. Gwenchana?” tanyanya. Matanya menyisir ruangan HRD, aku tahu dia mencari siapa.

“Dia tidak ada. Kudengar sedang ada tugas di luar kantor” bisikku.

“Ooohh pantas tadi aku bertemu dengannya di lobby. Baguslah kalau begitu” katanya senang.

Aku melanjutkan membaca.

“Yaaaaa ada orang di sini kenapa tidak kamu pedulikan?” kata ShinAe kesal.

“Kamu bilang tidak ada keperluan di sini” mataku tidak lepas dari buku yang semakin lama semakin seru. Sejujurnya aku tidak terlalu suka dengan buku seperti ini atau chicken soup for the soul, tapi buku ini cukup menarik. Jangan kira semua orang yang mempelajari psikologi suka dengan buku semacam ini, aku termasuk golongan minoritas itu.

“Buku apa sih?” tanyanya sambil mengambil buku yang sedang kubaca dan membaca covernya.

“Yaaaaaaa!!” kuambil lagi bukuku dari tangannya.

“Waaahh sudah dapat rupanya. Beli di mana?”

Aku menggeleng.

“Tidak apa? Tidak beli? Pinjam?” ShinAe memberondongku dengan pertanyaan.

Aku menggeleng lagi.

“Lalu?” dia benar-benar gadis yang pantang menyerah.

“Diberi” jawabku agar dia puas.

“Nugu?” aku ingin melempar gadis ini dengan hotdog di depanku yang belum kumakan tapi aku terlalu lapar untuk melakukannya.

“Eric oppa” bisikku.

“Oooooohh sudah kuduga, aku sudah menebaknya. Ya sudah aku mau kembali. Annyeong” katanya seolah-olah sudah tahu jawabannya lalu meninggalkanku tanpa perasaan bersalah.

“Aiiiiiisssshhhh” umpatku.

“Manager Lee sedang ada tugas di luar kantor Cho JungAh-ssi” kata sekretaris Park.

Aku melirik sumber suara.

“Aaaaaahhh pantas aku tidak bisa menghubunginya. Baiklah aku pamit dulu” katanya.

Langsung kubaca lagi bukuku saat dia berjalan melewatiku.

Tidak lama kemudian aku bertemu Lee KyuMin ketika keluar dari restroom “Annyeonghaseyo” sapaku seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami.

Dia menatapku “Annyeonghaseyo MinAh” balasnya sambil tersenyum lalu meninggalkanku.

“Hey..” seseorang menepuk pundakku.

Hari ini banyak sekali orang yang mengejutkanku.

“Wae SeungRi-yaaa??” kataku kesal.

“Hey kenapa kamu marah-marah. Apa gara-gara Lee KyuMin?” dia melihat ke arah Lee KyuMin yang sedang berjalan menjauh dari restroom.

“Ani. Aku kesal padamu karena sudah mengagetkanku. Dia? Sudah masa lalu. Ayo kembali bekerja” kutinggalkan SeungRi menuju mejaku.

***

Eodi?’ ketikku.

Sebentar lagi sampai’ balas Eric.

Malam ini aku membayar janjiku untuk mentraktirnya kopi dan ini kopi pertama dari 3 gelas yang sudah kujanjikan. Aku sudah sampai duluan di coffee shop yang baru dibuka, masih menggunakan baju kerjaku karena tidak sempat pulang dulu.

“Mianhae sudah lama menunggu?” Eric bertanya begitu sampai dan langsung duduk di depanku.

Nampaknya dia juga tidak sempat pulang karena masih memakai baju kerjanya. Bahkan dasinya masih terpasang.

Dia sadar aku memperhatikan dasinya “Ah ya.. Aku ada rapat sampai sore jadi tidak sempat pulang” katanya lalu melepas dasinya dan menyerahkan padaku “Boleh aku menitipkannya padamu sebentar? Aku mau ke restroom”.

Kuambil dasinya dan kumasukkan ke dalam tasku agar tidak hilang.

Setelah beberapa saat dia datang dengan muka dan rambut yang sedikit basah, mungkin dia mencuci mukanya.

Dia terlihat benar-benar menakujubkan “Ya Tuhan Park MinAh! Berpikirlah dengan jernih” kutukku pada diriku sendiri. Aku mengalihkan pandangan dari pria di depanku ini.

Dia menatapku dengan bingung.

“Ayo pesan oppa, aku menunggumu” aku beranjak dari kursi menuju kasir untuk pesan kopi. Dia mengikutiku.

Setelah memesan kopi dan cheese cake kami kembali duduk dan mulai mengobrol.

“Oppa sejak kapan memelihara gomdori?” aku bertanya mengenai anjingnya yang sudah dianggap seperti anaknya. Mengingat usianya memang sudah cukup untuk memiliki anak.

“Sebelum aku ke Amerika untuk bekerja. Kutitipkan pada eomma selama aku di Amerika, waktu aku pulang dia hampir tidak mengenaliku” ujarnya dengan nada sedih.

“Hahahahaa.. Eh mianhae oppa. Jelas saja dia lupa, sudah 3 tahun tidak bertemu” komentarku sambil membayangkan gomdori menolak digendong oleh Eric yang pasti menyebabkannya sedih.

Dia nampak memikirkan sesuatu “Tapi aku sempat pulang beberapa kali dan dia masih mengenaliku. Mungkin saat aku pulang potongan rambutku berubah jadi dia lupa denganku” katanya sambil merapikan rambutnya.

Aku tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa pria berumur 35 tahun sekonyol ini.

“Eric???” sapa seorang wanita yang tidak kukenal.

“SoYeon??? Hi…” balas Eric lalu bangkit dari kursinya dan memeluk wanita itu. Dia nampak anggun dan sepertinya seumur dengan Eric.

“How are you?” tanyanya.

“I’m fine.. How’s James?” Eric memandang sekeliling seperti mencari sesorang.

Wanita itu menatap Eric dengan sedih.

“We’re done… 3 months ago” ujarnya lirih.

Eric hanya menepuk bahu wanita itu, berusaha menenangkannya.

“Hey who’s she?? Introduce me to your girlfriend” katanya sambil menatapku.

“Aaaahhh yes sorry.. She’s my neighbor, we live in the same building” Eric memperkenalkanku pada wanita itu.

Aku berdiri dan menyalaminya “Hi.. I’m Park MinAh. Nice to meet you”.

“Jung SoYeon-imnida. Nice to meet you too Park MinAh-ssi” balasnya. Dia sungguh cantik jika tersenyum.

“So you guys are living together now? Already?” tanyanya.

“No!” jawabku dan Eric bersamaan.

SoYeon tertawa.

“No SoYeon. We’re just living in the same building, not same apartment” Eric menjelaskan sekali lagi agar tidak ada kesalahpahaman.

Aku mengerti kalau Eric tidak ingin SoYeon salah paham karena aku merasakan ada getaran di antara mereka yang tidak bisa kujelaskan.

“Aaaahhh aku baru saja mau menghubungi eommoni untuk memberitahunya bahwa kamu sudah tinggal bersama kekasihmu” godanya.

Eric tertawa. Aku belum pernah melihatnya tertawa seperti itu.

Kualihkan pandanganku ke luar.

“Well okay aku pergi dulu, sudah ditunggu temanku di mobil. Bye Eric. Bye MinAh-ssi” setelah memeluk Eric dia pergi.

Eric nampak senang setelah menemuinya dan aku tidak ingin mengganggu kesenangannya, jadi aku memilih diam.

Setelah beberapa saat menikmati kopinya sambil tersenyum-senyum Eric menatapku seolah-olah lupa bahwa ada aku.

“Oh.. Dia Jung SoYeon, temanku sejak SD. Lalu kami sama-sama pindah ke Amerika untuk bersekolah di sana” hubungan yang sudah sangat lama ternyata.

Aku menghela nafas dalam-dalam.

Eric menatapku.

“Wae?” tanyaku.

“Kamu tidak lapar?” pertanyaan basa-basi pikirku.

“Tidak” jawabku dengan nada kesal.

Dia nampak heran dengan jawabanku. Aku mengaduk-aduk kopiku menghindari tatapannya.

Lalu kami terdiam untuk beberapa saat.

“Aku pulang duluan. Oppa masih mau di sini?” kataku memecah keheningan.

Eric tidak menjawabku, rupanya sibuk dengan smartphonenya.

“Oppa…” panggilku.

Dia masih tidak menjawabku, sekarang malah sibuk berkirim pesan dengan seseorang yang kutebak Jung SoYeon.

Aku memutuskan meninggalkannya begitu saja.

Sampai pintu keluarpun dia tidak menyadari kepergianku, aku keluar dan tidak menoleh sama sekali.

Dalam perjalanan pulang aku memacu mobilku dengan kencang.

Kring kring..

Smartphoneku berbunyi tapi aku tidak menghiraukannya.

Beberapa pesan masuk aku juga tidak menghiraukannya.

“Aku sangat kesal denganmu Mun JungHyuk!!!!” kataku entah pada siapa.

Di perjalanan pulang aku sempat membeli makanan melalui drive thru karena ingin segera sampai rumah dan tidur.

Sampai di apartment tanpa ganti baju aku langsung makan lalu gosok gigi dan membersihkan muka kemudian tidur.

Smartphoneku berbunyi puluhan kali tetapi tidak kuhiraukan.

***

Pagi ini aku bangun lebih awal jadi kucek smartphoneku yang tidak berhenti berbunyi.

12 missed call semua dari lift guy, 9 pesan dari lift guy, 1 pesan dari appa, 1 pesan dari ShinAe, dan 1 pesan dari SeungRi.

Aku baru sadar belum mengganti namanya “Ah biar saja, dia memang lift guy”

Kubuka pesan dari SeungRi terlebih dahulu.

MinAh, jangan lupa Sabtu ini ada pernikahan Lee KyuMin. Eh tapi apa kamu akan datang? Kalau tidak datang juga tidak apa-apa. Sampai bertemu di kantor deh. Bye…

Aku teringat kalau Sabtu ini Lee KyuMin akan menikah. Lalu aku ingat Eric melarangku untuk datang. Tapi peduli apa dia padaku. Aku kesal lagi kalau mengingat Eric, jadi aku ke kamar mandi untuk mandi agar segar.

Sampai kantor belum ada pegawai yang datang, aku melanjutkan membaca pesan yang tadi belum sempat kubaca.

MinAh, kemarin appa mendapat bonus. Appa kirim sebagian untukmu, jangan boros-boros’ aku tersenyum bahagia membacanya. Appa memang tidak pernah melupakan anak satu-satunya. Kubalas ‘Gomawo appa.. hehehee

Min… Tidak datang ke pernikahan manager Lee kan? Jangan deh…’ aku membaca pesan ShinAe sambil geleng-geleng kepala ‘Molla….’ kukirimkan pada ShinAe yang langsung dibalas ‘Jota… Kuanggap itu tidak’ aku malas membalasnya lagi.

MinAh.. Di mana kamu?’

‘Kamu sudah pulang?’

‘Apa kamu terburu-buru?’

‘MinAh.. Apa kamu benar-benar sudah pulang?’

‘Park MinAh.. Kamu sudah pulang kan?’

‘Park MinAh.. Kamu sudah pulang kan?’

‘Park MinAh.. Kamu sudah pulang kan?’

‘Yaaaa mulgogi-aaahh… segera balas pesanku.. Beri tahu di mana kamu’

‘Mulgogi, aku anggap kamu sudah sampai di apartment. Selamat istirahat’

Mulgogi????? Ikan???? Aku cemberut membacanya “Yaaa Mun JungHyuk.. Apa aku nampak seperti ikan?”.

“MinAh… Kamu tidak datang kan?” tiba-tiba SeungRi sudah di sampingku.

“Omo.. SeungRi-aaahh jangan mengagetkanku seperti itu lagi. Aku masih tidak tahu” jawabku.

“Oooohh oke.. Kalau tidak bisa datang akan kucarikan alasan untukmu” ujarnya sambil mengedipkan mata padaku dan meninggalkanku.

Aku meletakkan smartphoneku dan mulai bekerja.

***

Dalam perjalanan pulang aku mampir sebentar ke coffee shop di dekat kantor.

Walaupun aku sedang kesal padanya tapi aku masih punya hutang pada pria itu.

“Hot americano satu. Take away” pesanku pada kasir.

Setelah membayar aku langsung pulang karena hari ini banyak pekerjaan yang kulakukan.

Tidak langsung ke apartmentku aku mampir ke lantai 30 lebih dulu.

Ting tong.

Agak lama menunggu akhirnya pintu dibuka.

“MinAh.. Ada apa? Kenapa kemarin pulang duluan?”

“Eriiiiccc where’s your towel?” teriak seseorang yang suaranya pernah kudengar tadi malam.

“Jakkaman..” katanya padaku lalu masuk kembali.

Kuletakkan kopi yang sudah agak dingin di lantai.

Guk guk!

“Gomdori annyeong” sapaku pada gomdori yang berputar-putar di kakiku.

Kubelai dia “Aku pulang dulu ya.. Maaf tidak bisa mengajakmu bermain, sedang malas bertemu dia. Annyeong”.

Tanpa pamit pada pemilik apartment aku pulang.

Dengan perasaan kesal aku segera mandi untuk menyegarkan diri. “Eeeeerrrrrggghhh Mun JungHyuk aku kesal padamu” omelku saat memakai baju.

Masih dengan perasaan kesal aku menghangatkan makanan di kulkas, kunyalakan TV dengan harapan menghilangkan kekesalanku.

Ting tong.

Kulihat lewat interkom Eric berdiri di depan pintu apartmentku.

“Ada apa dia ke sini” kubiarkan saja Eric berdiri di sana.

Aku melanjutkan kegiatan makanku.

Ting tong.

Ting tong.

Ting tong.

Ting tong.

Ting tong.

“Aiiiiissssshhh berisik sekali dia” kulihat lewat interkom lagi Eric masih berdiri di sana.

“MinAh.. Aku tahu kamu di dalam. Ada apa denganmu?” dia menatap interkom seolah-olah mengajakku berbicara.

Aku diam saja, mengamatinya melalui interkom.

“Park MinAh buka pintumu” kali ini dia menggedor-gedor pintuku.

“Apa istrimu tidak mengijinkanmu masuk? Kamu membuatnya marah ya?” tanya seorang pria paruh baya yang kebetulan lewat pada Eric.

“Ne? Ah aniyo…” jawab Eric.

Aku mengamati pembicaraan 2 pria itu.

“Kamu tahu, hari kedua setelah menikah istriku tidak mengijinkanku masuk gara-gara aku pulang dalam keadaan sangat mabuk. Lalu aku mengambil setangkai bunga di depan rumah dan menyerahkannya pada istriku. Tidak kusangka dia luluh dan membukakanku pintu. Sejak saat itu sampai 40 tahun pernikahan aku selalu memberinya bunga jika dia marah. Ini” pria paruh baya itu menyerahkan setangkai bunga yang dia bawa pada Eric.

Eric menerimanya dengan bingung.

“Tenang saja, istriku sedang tidak marah jadi saat ini aku tidak memerlukannya. Kulihat kamu yang lebih memerlukannya” katanya sambil beranjak pergi.

“Hahahahahhahahaaaa” aku tertawa sampai perutku sakit. Eric terlihat bengong menatap punggung pria paruh baya itu.

“Yaaaaa mulgogi. Bukakan pintu sebelum pria itu kembali membawakan pot bunga” teriak Eric menggedor-gedor pintuku. Aku masih menertawakannya.

Eric semakin keras menggedor-gedor pintuku, lalu tiba-tiba berhenti.

“Apa perlu aku meminta passwordmu pada ShinAe?” ancamnya.

Aku berhenti tertawa dan membukakan pintu.

“Yaaaaa mulgogi. Ada apa denganmu?” Eric buru-buru masuk sebelum bertemu pria paruh baya yang tadi lagi.

Aku diam saja lalu memandangnya sambil memanyunkan bibirku “Mulgogi? Kenapa kamu memanggilku mulgogi?” tanyaku.

“Karena kalau cemberut kamu seperti ikan. Seperti saat ini” dia berjalan ke kulkas dan mengambil sekaleng bir.

“Yaaaa Mun JungHyuk… Tidak sopan mengambil bir tanpa ijin” kataku sambil memelototinya.

Dia memandangku “Kamu kenapa sih sebenarnya? Kemarin pulang tidak bilang, tadi datang ke apartmentku tapi tiba-tiba pulang setelah meletakkan kopi”

Aku melihat tangannya, tangan kirinya membawa bunga pemberian pria paruh baya tadi dan tangan kanannya membawa kaleng bir. Tidak nampak kopi pemberianku.

“Lalu di mana kopinya?”

“Ya sudah habis dari tadi. Kamu tahu sendiri aku tidak bisa melihat kopi menganggur. Eh kopi itu benar untukku kan?” dia menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya.

Eeeerrrggghhh bagaimana orang seperti ini bisa menjadi CEO sih??? Aku menatapnya dengan bingung.

Dia balas menatapku dengan bingung juga “Mwo? Itu untukku kan?” tanyanya lagi.

“Aku tidak suka americano dan aku masih berhutang 2 gelas kopi” jawabku singkat.

“Ooooohhh berarti benar untukku. Untung saja… Hehehe” dia tersenyum puas.

Aku ingin memukul kepalanya.

“Tapi apa tidak apa-apa setelah minum kopi langsung minum bir?” aku menyadari bahwa dia sedang minum bir padahal baru saja minum kopi.

“Aku sudah minum 1 jam yang lalu lagipula perutku ini tahan banting. Apa kamu mengkhawatirkanku?” tanyanya dengan senyum jahil.

Tidak menjawab pertanyaannya aku kembali memanyunkan bibirku dan melengos, kembali duduk di sofa.

“Ohya jadi kamu kenapa, sejak kemarin kok bertingkah aneh sekali?” Eric bertanya seperti ingat kembali tujuan utamanya ke sini.

“Tidak ada apa-apa” jawabku sambil meneruskan memakan spaghettiku dan menonton TV.

Eric duduk di sebelahku tapi aku tetap diam.

Selesai makan aku mencuci piring, tanpa sengaja melihat setangkai bunga yang diberi pria tadi

“Ini bunga mau kamu apakan?” tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari piring yang sedang kucuci.

“Masa kubawa pulang… Untukmu saja” sekarang Eric mengganti-ganti channel TV.

“Sayangnya aku masih kesal” gumamku.

“Iya kesal kenapa?” tanpa kusadari Eric sudah di sampingku.

“Omo! Yaaaaa Mun JungHyuk!!! Jangan muncul seperti itu” untung saja aku sudah selesai mencuci piring kalau tidak sudah kulempar piring yang sedang kucuci ke wajahnya.

“Yaaaaaaa Park MinAh!!! Katakan padaku kenapa kamu seperti ini???” tanyanya dengan nada sedikit tinggi yang membuatku terkejut.

Kutatap dia dengan kesal “Jung SoYeon” jawabku lirih.

***

Enjoy ^^