By @gurlindah93

 

Eric menatapku dengan tatapan tidak percaya.

Aku balas menatapnya.

“Hahahahahahahahaaa” dia tertawa terbahak-bahak.

Dengan kesal aku duduk di sofa dan diikuti Eric yang masih tertawa. Apa yang lucu aku tidak tahu.

“Jadi kamu marah gara-gara SoYeon?” sekarang matanya berair karena tertawa.

Aku hanya mendengus kesal melihatnya.

Setelah bisa mengontrol dirinya Eric mulai bercerita “Jadi SoYeon dan aku teman sejak SD sampai SMA, ketika kuliah aku melanjutkan ke Inggris sedangkan SoYeon masih di Amerika”

“Pantas mereka bicara menggunakan bahasa Inggris seolah-olah masih di luar negeri” pikirku.

“Saat aku ke Amerika 3 tahun yang lalu SoYeon selalu menemaniku, dia memberiku semangat saat pekerjaan membuat kepalaku hampir meledak. Lalu di satu titik aku merasa mungkin SoYeon bisa menjadi seseorang yang akan melengkapi hidupku, akhirnya kami berpacaran” benar dugaanku, mereka mantan kekasih.

“1 tahun setelah kami pacaran dia memutuskan pulang ke Korea karena ingin menjadi pengacara di sini. Sayangnya sejak saat itulah hubungan kami menjadi renggang, sampai akhirnya sekitar 6 bulan yang lalu tiba-tiba dia datang ke Amerika menemuiku sambil menangis. Dia bilang dia sudah tidur dengan salah satu teman kuliahnya, James” aku terperanjat tidak percaya. Wanita seperti Jung SoYeon berselingkuh dari pria seperti Eric? Kukira mereka akan menikah dan memiliki beberapa perusahaan, beberapa kapal pesiar, dan beberapa pesawat pribadi.

Tetapi yang lebih mengejutkan lagi Eric bercerita seolah-olah itu bukan masalah besar.

“Tapi aku tidak menyalahkannya karena aku memang tidak memperlakukannya seperti kekasih sejak kami berpacaran. Hubungan kami sebagai sahabat ataupun kekasih tidak ada bedanya, tidak ada romansa dalam hubungan kami walaupun kami saling mencintai. Sejak saat itu kami memutuskan berpisah dan tetap berhubungan sebagai saudara, eommaku sedikit menyayangkan kegagalan ini tapi sekarang beliau sudah bisa menerimanya” tidak kusangka sang CEO memiliki kisah cinta yang tragis.

Kutatap dia dengan rasa iba.

“Ada apa dengan tatapanmu itu? Tidak perlu mengasihaniku” katanya sambil memelototiku.

“Lalu kemarin untuk pertama kalinya kalian bertemu?” aku penasaran juga dengan kisah mereka.

“Iya. Saat kucek ternyata nomer teleponnya tetap jadi kuajak dia makan malam di tempatku malam ini. Berhubung dia baru pulang kantor jadi sekalian saja kusuruh mandi di apartmentku. Karena kamu datang setelah makan dia jadi terburu-buru pulang, katanya takut kamu salah paham” ujarnya.

Aku berpura-pura menonton TV.

“Lalu……..” Eric tidak melanjutkan kata-katanya.

“Lalu apa?” tanyaku.

“Lalu kenapa kamu marah gara-gara SoYeon?” Eric masih saja penasaran rupanya.

“Sudah lupakan saja” aku sendiri tidak mengerti kenapa aku begitu kesal melihat Eric bersama Jung SoYeon.

“Yaaaa Park MinAh!”

“Yaaaa Mun JungHyuk!”

Lalu kami berdua terdiam sehingga hanya terdengar suara TV.

Tengah malam aku terbangun karena ternyata aku tertidur di sofa. Eric juga tertidur di sampingku sambil memegang remote tv.

Kuselimuti dia dan kuambil remote TV lalu mematikannya. Tidak sengaja kulihat wallpaper smartphonenya yang sedang menyala karena ada pesan masuk, ternyata dia memasang gambar sebuah planet berwarna orange. Venus? Rupanya dia tertarik astronomi sampai memasang gambar planet di smartphonenya. Dasar pria aneh.

Aku mengambil bunga yang tadi dibawanya dan kubawa ke kamarku lalu kulanjutkan tidurku dengan nyenyak.

***

Alarm di smartphoneku berbunyi yang langsung kusnooze. Aku masih sangat mengantuk.

Kring kring..

Dengan malas kulihat smartphoneku “Jam 7????????????” aku langsung terperanjat bangun tidak menghiraukan sang penelepon.

Setelah mandi dengan sangat cepat tanpa keramas aku mengambil dress dengan asal, ternyata dressnya memiliki resleting di belakang yang akhirnya bisa kututup dengan susah payah walaupun tidak seluruhnya. Aku akan meminta tolong pegawai wanita gedung ini atau siapapun yang kutemui nanti.

Untuk menghemat waktu aku mengambil sepatu yang kemarin kupakai, sialnya stiletto dengan hak 15 cm. Kulihat Eric sudah tidak ada di sofa jadi langsung kutinggalkan apartmentku sambil setengah berlari.

“MinAh…” panggil seseorang di dalam lift. Entah kenapa aku sering sekali bertemu dengan orang ini di lift.

“Oppa tolong bantu aku” tanpa basa-basi aku memperlihatkan resletingku yang belum tertutup sempurna sambil membuat cepol rambut untuk menyiasati bad hair day. Untung saja tidak ada orang lain di lift.

“Mwo?” tanyanya.

“Tolong dinaikkan” pintaku sekali lagi.

Setelah mengerti maksudku dia langsung membetulkan resletingku tepat saat lift terbuka di lantai 20 dan orang-orang berhamburan masuk.

“Ohya ini. Mau kupakaikan?” kuserahkan dasinya yang ditipkan padaku.

“Ya..” jawabnya. Langsung saja kupakaikan pada Eric yang kebetulan tidak memakai dasi.

“Nampaknya mereka pengantin baru” bisik seorang wanita berumur 40an pada wanita seumurnya sambil melirikku dan Eric.

Aku diam saja pura-pura tidak mendengarsambil terus memasangkan dasi.

“Iya, sepertinya tadi malam sibuk sekali sampai terlambat bangun. Pakai baju saja di lift, saling memakaikan pula hihihihii” balas wanita yang diajak bergosip. Kemudian 2 wanita itu terkikik.

Kulirik Eric sedang memandang langit-langit lift, wajahnya memerah. Aku menahan tawaku.

Setelah pintu lift terbuka di basement aku langsung menghambur keluar “Bye oppa” kataku berlari sambil menenteng tas dan sepatu yang kuyakin tidak bisa kugunakan untuk berlari.

“Yooo..” ujarnya santai.

Sebagai CEO dia tidak memikirkan jam masuk kantor. Aku iri padanya.

Sampai kantor aku terlambat 5 menit karena tidak dapat parkir, tapi kulihat ruanganku sudah ramai sekali.

“SeungRi.. Ada apa?” tanyaku tidak mengetahui yang terjadi di sini.

“MinAh.. Pasti kamu baru sampai. Kamu lupa hari ini ada perpisahan Lee KyuMin-ssi? Besok kan dia menikah dan langsung pindah ke Jepang. Sepertinya aku sudah memberitahumu” dia berusaha mengingat apakah sudah memberitahuku atau belum.

“Mmmmm.. Sepertinya sudah, aku saja yang lupa. Memang acaranya apa?” kulihat sudah dipersiapkan meja di tengah ruangan dengan gelas-gelas yang ditata sedemikian rupa.

“Aku dengar akan ada makan siang bersama saat istirahat nanti” SeungRi nampak tidak terlalu yakin dengan jawabannya.

“Oooohh” komentarku lalu kembali ke mejaku untuk mulai bekerja.

Sebelum istirahat aku melihat JungAh datang dan langsung masuk ke ruang manager. Kuputuskan untuk tidak ikut acara nanti.

Tepat jam 12 siang aku langsung kabur ke kafetaria dan memesan sandwich untuk makan siang.

“Park MinAh, apa yang kamu lakukan di sini?” ShinAe baru datang dan langsung duduk di sebelahku bersama teman-teman 1 divisinya.

“Annyeong YuRi-ssi, YuBin-ssi” sapaku pada teman-teman ShinAe. Mereka berdua tersenyum padaku.

“Aku pesan makanan dulu ya. Kamu mau apa ShinAe?” tanya YuRi wanita yang digilai SeungRi pada ShinAe.

“Sandwich dan milkshake coklat. Gomawo YuRi-aahh” jawab ShinAe.

“Eh jadi kenapa kamu tidak ikut perpisahan di atas? Kudengar semua dewan direksi datang” bisik ShinAe.

“Malas. Aku sedang tidak ingin beramah tamah, kamu tidak lihat aku sedang kucel begini” ujarku menunjukkan penampilanku yang acak-acakan.

ShinAe mengamatiku dari atas sampai bawah “Hmmmmm.. Ya.. Benar-benar acak-acakan. Ckckckck” komentarnya sambil geleng-geleng kepala dengan tatapan prihatin.

“Aku bangun setelah kamu telepon” kataku menyadari bahwa yang menyelamatkanku tadi pagi adalah ShinAe.

“I’m your savior, like usually…” katanya bangga.

Aku melengos mendengarnya.

“Jadi besok kamu datang?” tanya ShinAe dengan nada penasaran.

“Molla. Sepertinya tidak” jawabku asal. Aku memang belum memutuskan apakah akan datang atau tidak.

“Terserah, yang penting kamu pikirkan baik-baik. Jangan sampai menyesal. Ohya tadi pagi aku telepon soalnya semalam aku ke apartment Eric oppa untuk pinjam buku resep, tapi sudah kubunyikan bel berkali-kali tidak ada yang membuka pintu. Apa kamu tahu dia ke mana? Keluar kota mungkin?” tanyanya yang membuatku gelagapan.

“Hah? Eung.. Molla..” jawabku sambil memakan sandwichku agar dia tidak bertanya lebih jauh.

“Kamu sakit? Mukamu merah..” ShinAe memegang keningku.

“Ani…” ujarku tidak mau menatap matanya.

Untunglah teman-teman ShinAe datang membawa pesanan ShinAe sehingga dia teralihkan. Aku merasa lega dan menatap teman-teman ShinAe dengan tatapan penuh terima kasih.

“Jadi apa kalian besok diundang ke pernikahan managerku?” tanyaku pada mereka bertiga.

“Ani. Kudengar yang diundang hanya rekan HRD saja… Katanya sih intimate wedding party” jawab YuBin.

“Oooohhh” aku dan ShinAe saling berpandangan.

SeungRi-aah, sudah selesai acaranya?’ kukirim pesan pada SeungRi agar aku bisa segera kembali bekerja.

Sudah. Tadi Lee KyuMin menanyakanmu, kujawab kamu agak tidak enak badan dan istirahat di mobilmu’ balasnya. ‘Gomawo.. Aku akan menyampaikan salammu untuk YuRi yang kebetulan ada di sini’ aku mengetik sambil senyum-senyum.

Jinjja????? Gomawo MinAh-yaaaa’ SeungRi sungguh menyukai gadis di depanku ini.

“YuRi-ssi, SeungRi titip salam untukmu. Katanya model rambutmu bagus sekali” kataku pada YuRi yang membuat ShinAe dan YuBin cekikikan.

“Gomawo” ujar YuRi malu-malu.

Nampaknya mereka saling menyukai. Enak juga jadi mak comblang hohoho.

Ada pesan lain masuk ‘Mulgogi-yaaaa.. Kapan hutangmu kamu lunasi? Ingat, hutang tidak boleh dibawa mati’ pria ini sungguh menyebalkan. ‘Oppa mendoakanku cepat mati???’ balasku.

Sudah 10 menit tapi pesanku belum dibalas.

“Ada apa Min? Setiap menit kamu mengecek smartphonemu. Ada hal penting?” ShinAe menyadari kalau aku sedang gelisah.

“Ani… Ani…. Gwenchana.. Aku kembali ke ruangan dulu ya.. Annyeong…” pamitku. Lebih baik aku kembali bekerja karena banyak sekali pekerjaan yang belum selesai.

Saat bersiap untuk pulang ternyata Eric baru membalas pesanku ‘Hahahaa dasar mulgogi… Bagaimana kalau malam ini? Aku punya coffee shop langganan di pinggir kota yang sudah lama tidak kukunjungi. Ottae?

Kubiarkan saja pesannya biar tahu rasa.

Yaaaaaa…

Heeeeeeeeyyyyy….

Hello……..

Aku tertawa membaca pesannya.

“Kamu kenapa belum pulang? Kulihat sudah dari tadi pekerjaanmu selesai dan sudah bersiap-siap pulang. Menunggu dijemput?” SeungRi melewati mejaku sebelum pulang.

“Ani… Masih belum ingin pulang saja. Eh manager sudah pulang kan?” tanyaku yang seharian ini tidak melihat Lee KyuMin.

“Sudah dari tadi setelah acara selesai. Dia kan harus menyiapkan pesta untuk besok. Ohya dia titip salam, katanya semoga sukses. Ya sudah aku pulang duluan ya” pamit SeungRi meninggalkanku sendirian.

Holaaaaaa…

Park…..

Min……

Ah……

Pesan bertubi-tubi yang dikirimkan Eric membuatku tertawa lagi. Dia sungguh konyol.

Eoh?’ jawabku.

Dia mengirim ‘Bagaimana rencana kita?’. Kubiarkan saja pesannya.

Yaaaaa mulgogi. Bagaimana rencana kita malam ini?

Apa kamu sibuk?’ tanyanya. Kupikir sudah cukup mengerjainya jadi kubalas ‘Ani… Kenapa tidak besok?’.

Besok? Tidak bisa. Ada acara’ aku mendengus kesal ‘Oke malam ini. Beritahu alamatnya’ aku bisa menebak sekarang dia tertawa dengan penuh kemenangan.

Setelah mendapat alamat tujuan aku langsung mengambil mobil dan ke sana.

“Aiiiisssshhh kenapa macet begini” tidak kusangka jalanan sedang macet ‘Aku sudah sampai’ kata Eric.

Jakkamal’ ketikku dengan terburu-buru. ‘Hahahahaa apa kamu anak TK? Tidak bisa mengeja ya?’ membaca pesan darinya membuatku ingin memutar mobilku dan pulang. Tapi mengingat perjuanganku untuk bisa sampai sini, kubatalkan niatku.

Sampai di coffee shop aku melihat Eric duduk di pojok tertawa-tawa memainkan smartphonenya. Aku yakin 1000% dia sedang main game.

“Yaaaaaaa lama sekali” katanya begitu melihatku duduk di depannya.

“Macet. Sekarang kakiku pegal. Semua ini salah oppa” aku menyalahkannya karena meminta dibelikan kopi di tempat yang sangat jauh ini.

“Untung aku tidak diusir, waitressnya sudah menatapaku beratus-ratus kali, dikira aku hanya numpang wi-fi. Ayo pesan, aku sudah lapar” katanya berjalan ke kasir duluan.

“Apa dia tidak tahu kakiku pegal??? Seenaknya sendiri” omelku mengikutinya.

Setelah memesan kami kembali duduk dan menikmati pesanan kami “Tempat ini milik temanku, sebenarnya aku ke sini sekalian menemuinya tapi ternyata dia sedang keluar kota” ujar Eric.

Kuamati coffe shop yang baru kudatangi ini, tempatnya nyaman dan intim “Chocolate devilnya enak” komentarku memakan cake pesananku.

“Apa sih yang tidak enak di lidahmu?” tanya Eric heran sambil mengamatiku makan.

Aku diam saja menikmati cake dan lagu yang diputar.

‘Cause you’re a sky, ’cause you’re a sky full of stars

I wanna die in your arms

‘Cause you get lighter the more it gets dark

I’m gonna give you my heart

 

I don’t care, go on and tear me apart

I don’t care if you do, ooh

‘Cause in a sky, ’cause in a sky full of stars

I think I see you

I think I see you’

“Ohya oppa bangun jam berapa tadi pagi? Kenapa tidak membangunkanku” tanyaku.

“Aku pindah jam 4 pagi karena ingat belum memberi makan gomdori” pria ini yang dipikirkan selalu anjingnya.

“Kenapa ya kita bisa ketiduran di sofa?” aku bingung mengingat kejadian tadi malam.

“Tebakanku sih karena kamu terlalu lelah setelah ngambek seharian ditambah perutmu sudah terisi jadi langsung ketiduran deh” pria ini memang suka asal.

“Siapa yang ngambek?” kupelototi Eric.

Dia menunjukku dengan garpu yang dipakainya makan.

Aku mendengus dan membuang muka.

“Sebenarnya alasan kenapa kamu kesal masih menjadi misteri bagiku. Tapi dikarenakan aku suka misteri jadi kubiarkan saja hal ini tetap menjadi misteri” ujarnya sambil terus memakan cakenya

“Tingkah lakumu juga menjadi misteri bagiku oppa” gumamku. Jangan-jangan jiwa pria ini tertukar dengan anak berumur 7 tahun.

“Mwo?” dia menatapku dengan penasaran.

Tidak ada kata-kata keluar dari mulutku.

“Kamu bilang apa tadi?” ternyata dia sungguh penasaran. Hahaha.

“Oppa kan suka misteri, biarkan saja menjadi misteri” jawabku dengan senyum penuh kemenangan.

“Aiiiiisssshhh bocah ini” katanya. Aku hanya tertawa.

“Yoboseyo? HyunJae?” Eric menelepon seseorang dan pergi menjauhiku.

Aku dilanda kebosanan jadi mengeluarkan buku yang diberi Eric dan membacanya.

“Belum selesai bacanya?” tiba-tiba Eric sudah duduk kembali.

“Belum, tinggal sedikit. Oppa sudah membacanya?” aku penasaran apa orang seperti dia membaca buku seperti ini.

“Sudah. Dulu sekali, sudah agak lupa isinya. Tapi seingatku sih lumayan” katanya lalu menyeruput kopinya.

Aku menatapnya.

“Wae?” tanyanya.

“Oppa tau dari mana kalau aku sedang mencari buku ini? Apa oppa mendengar ketika aku mencarinya di toko buku?”

“Kamu kira aku tidak ada kerjaan mendengarkan pembicaraan orang? ShinAe yang bilang waktu kita bertemu di toko buku. Katanya dia mengantarkanmu ke toko buku untuk mencari buku ini” katanya.

“Sajangnim….” tiba-tiba seorang pria menghampiri kami.

“Oh HyunJae. Ini kunciku. Mianhae sudah merepotkanmu malam-malam” Eric menyerahkan kunci mobilnya pada pria itu.

Kutebak pria itu adalah salah satu pegawai Eric.

“Gwenchanayo sajangnim. Kebetulan saya ada janji untuk minum dengan teman saya di dekat apartment sajangnim” katanya sopan.

“Oke.. Kalau begitu aku bisa tenang. Kamu sudah selesai makannya? Makanmu sudah banyak” tanya Eric padaku, kupelototi dia.

“Aiiissshh kamu ini kalau tidak cemberut, ngambek, ya melotot. Sudah ayo pulang” Eric berdiri dari tempat duduknya. Bisa kulihat pegawai Eric menahan tawanya.

“Mwo??” tanyaku tidak mengerti apa yang dia maksud.

“Mana kuncimu mobilmu?” Eric menengadahkan tangannya padaku. Dengan bingung kuserahkan kunci mobilku.

“Kajja” ajaknya lalu menggandeng tanganku.

“Yaaaaaa oppa… Untuk apa memaksaku pulang. Aku mau di sini sebentar, kakiku pegal. Kamu pulanglah duluan” rajukku.

Setelah seharian berjalan menggunakan stiletto lalu menyetir dalam keadaan macet aku benar-benar ingin mengistirahatkan kakiku.

Eric tidak menjawab malah membuka pintu mobilku dan mendudukkanku di bangku penumpang.

“Oppa.. Kamu kira mobilku bisa menyetir sendiri?” aku sungguh tidak mengerti dengan tindakannya.

Lalu Eric duduk di bangku pengemudi dan mulai menyetir.

“Yaaaaa.. Yaaaaaa.. Oppa… Mobilmu yang itu” aku melihat mobilnya yang masih terpakir di depan coffee shop.

“Kamu ini sungguh berisik. Sudah diam saja, atau tidurlah. Bukankah itu keahlianmu yang lain?” tanyanya sambil melirikku yang sedang menguap.

Aku terlalu lelah, kakiku terlalu pegal, dan mulai mengantuk.

Eric memilih CD dan memutarnya.

‘I miss the taste of a sweeter life

I miss the conversation

I’m searching for a song tonight

I’m changing all of the stations

 

I like to think that we had it all

We drew a map to a better place

But on that road I took a fall

Oh baby why did you run away?’

Benar kata Eric, tidak perlu waktu lama bagiku untuk tertidur.

Ketika terbangun aku diselimuti jas milik Eric yang tidak kukatahui dia dapatkan dari mana karena seingatku sejak bertemu di coffee shop dia hanya memakai kemeja, bahkan dasi yang kuberikan padanya tidak dipakainya.

Kulihat Eric sedang bersandar di depan mobilku sambi meminum kopi. Ya ampun sudah berapa gelas kopi yang dia habiskan hari ini.

“Oppa..” panggilku.

Dia menoleh “Ini cokelat panas. Aku tahu kamu tidak perlu kopi banyak-banyak” katanya menyerahkan segelas cokelat yang sudah mulai dingin, kutebak dia sudah membelinya beberapa waktu lalu.

“Gomawo…” kuminum cokelat setengah panas yang diberinya. Ternyata kami berhenti di pinggir sungai Han.

Kami berdua terdiam menikmati minuman kami masing-masing. Kulihat jam di tanganku sudah menunjukkan jam 10 lebih 50 menit. Sepertinya aku sudah cukup lama tertidur di mobil.

“Gomawo…” kataku pendek.

“Hmmmm??” Eric memandangku dengan tidak mengerti.

“Gomawo sudah membiarkanku tidur. Heheee” aku tersenyum semanis mungkin, bersiap-siap jika dia memarahiku karena dia merasa lelah setelah menyetir jauh.

Tapi dia hanya menatapku dengan… Entahlah… Aku selalu dibuat bingung dengan tatapan pria ini.

Kualihkan pandanganku ke sungai tidak tahu apa yang harus kukatakan.

“Sudah siap untuk pulang?” tanyanya. Kujawab dengan anggukan dan kami langsung pulang menuju apartment kami.

“Jadi tadi oppa meneleponnya untuk menyuruhnya membawa mobil oppa pulang?” tanyaku untuk memecah keheningan yang terjadi sampai setengah perjalanan pulang. Aku merasa situasi ini sangat awkward dan harus diakhiri.

“Ne…” jawabnya pendek lalu terdiam.

Aku ikut diam. Kulirik Eric dan sepertinya dia memikirkan sesuatu.

“Mmmmmm… Besok kamu datang?” aku sedikit bingung kenapa dia tiba-tiba menanyakan itu tapi tetap kujawab “Tidak datang”.

Dia menghela nafas lega.

“Ini” Eric menyerahkan kunci mobilku saat kami sampai di tempat parkir.

“Gomawo” jawabku.

Saat di dalam lift kulihat dia memencet lantai 1 “Oppa mau ke mana?”

“Mau mengambil kunci mobil yang dititipkan ke SoHee-ssi” jawabnya.

Saat lift berhenti di lantai 1 aku ikut keluar “Ada apa? Kenapa ikut keluar?” tanyanya.

“Aku mau menemani oppa. Oppa jadi repot gara-gara aku. Gwenchana, anggap saja aku berolahraga setelah tadi tidur hehehee” ujarku.

Sampai di meja resepsionis SoHee tidak nampak “Jeogiyo. SoHee-ssi di mana?” tanya Eric pada resepsionis yang tidak kuketahui namanya.

“Oh dia sedang menemui manager kami. Tunggu saja sebentar” kami berdua menunggu sambil duduk di lobby.

Tidak lama kemudian SoHee menghampiri kami “Omo, jeosonghamnida Eric-ssi, MinAh-ssi. Tadi manager memanggilku. Ini kuncinya” SoHee menyerahkan kunci mobil pada Eric. Bisa kulihat SoHee penasaran dengan kami yang datang bersama-sama tapi dia tidak bertanya apapun.

“Gamsahamnida SoHee-ssi. Maaf merepotkan” kata Eric.

“Gamsahamnida” sambungku. Aku ikut tidak enak padanya.

SoHee memandang kami berdua “Ah gwenchanayo, toh hanya kunci. Annyeong” pamitnya kembali bekerja.

Aku dan Eric segera ke lift untuk kembali ke apartment masing-masing.

Tidak kusangka kami satu lift lagi dengan salah satu wanita yang tadi pagi bertemu. Dia bersama suami dan 2 anaknya tersenyum padaku dan Eric. Kami membalas senyumnya dengan kaku mengingat apa yang dia pikir tentang kami.

Di lantai 20 wanita itu keluar tetapi kami sempat mendengarnya berbicara pada suaminya “Yeobo, 2 orang itu pengantin baru dan mesra sekali. Aku jadi ingat saat kita seperti mereka”.

Setelah pintu lift tertutup aku dan Eric tertawa terbahak-bahak.

“Aku tidak heran kalau akhirnya seluruh penghuni gedung ini menganggap kita pengantin baru” komentar Eric mengenai bagaimana gossip bisa beredar dengan cepat. Aku mengangguk mengiyakan.

Tring!

Lift berhenti di lantai 29.

“Annyeong oppa. Gomawo untuk hari ini” kataku dan keluar dari lift.

Entah kenapa aku sungguh bahagia. Merasa nyaman, dan hidupku terasa lengkap.

***

Jam 7 pagi aku sudah bangun.

Aku berpikir haruskah aku datang ke pernikahan Lee KyuMin karena aku sudah benar-benar melupakannya. Dan yang terpenting Lee KyuMin sudah sangat baik padaku selama ini. Sudah sepantasnya aku pergi menghadiri pernikahannya dan memberinya selamat.

Kupilih dress berwarna cokelat muda yang sudah lama tidak kupakai, modelnya sangat vintage dan anggun.

“Eeeeerrrggghhh kenapa aku harus berurusan dengan macet sih dari kemarin” omelku di belakang kemudi. Sekarang sudah jam 11.48 padahal acaranya mulai jam 11.00. Semoga aku masih sempat memberinya selamat.

Jam 12.20 aku baru sampai dan cepat-cepat menuju tempat resepsi. Setelah menandatangani buku tamu aku segera memasuki ruangan yang ditata sangat indah, yang hadir tidak terlalu banyak sehingga pesta ini memang terasa intim.

“Silahkan ikuti saya agasshi” kata pegawai yang akan menunjukkan tempat dudukku.

Kulihat SeungRi melambaikan tangan padaku, di sebelahnya ada YuRi. Kubalas lambaian tangannya dan berjalan ke arahnya mengikuti pegawai itu.

“Baiklah setelah sambutan dari saudara KyuMin-ssi silahkan saudara dari JungAh-ssi untuk memberikan sambutan. Karena JungAh-ssi tidak memiliki saudara kandung jadi yang akan memberi sambutan adalah sepupu yang sudah dianggap kakak kandung oleh JungAh-ssi. Mun JungHyuk-ssi” kata pembawa acara.

Aku menghentikan langkahku. Kulihat seorang pria yang sedang naik ke atas panggung, aku sangat mengenali punggungnya.

Pria itu menatapku dengan kaget.

***

Enjoy ^^