By @gurlindah93

 

“Agasshi…”

“Jakkaman…” kataku pada pegawai yang mengantarku.

Aku menatap pria yang sedang berdiri di panggung, tidak menyangka akan bertemu dengannya di sini.

Pria itu kelihatan salah tingkah “Ehem.. Ne.. Annyeonghaseyo yorobeun.. Jeoneun Mun JungHyuk-imnida… Saya adalah kakak sepupu dari pengantin wanita Cho JungAh……..”

Sudah cukup bagiku. Tanpa mendengarkan kelanjutannya aku meninggalkan tempat resepsi.

Tidak pernah terlintas sedikitpun di pikiranku bahwa pria itu, pria yang saat ini paling kupercaya ternyata berbohong padaku.

Aku menyetir dengan ugal-ugalan.

“Hey!!!! Hati-hati menyetirnya!!!”

“Yaaaaaaa punya mata tidak???”

“Agasshi kamu mau mati?!”

“Aku akan menelepon polisi sekarang!!!”

Kupinggirkan mobilku dan menangis sejadi-jadinya.

“Mun JungHyuk!!! Ternyata selama ini kamu membohongiku!!! Apa diam-diam kamu menertawakanku???” teriakku entah pada siapa.

Kring kring..

Kumatikan smartphoneku.

Yang kulakukan hanya menangis dan menangis. Aku merasa dikhianati.

Tanpa terasa matahari sudah terbenam. Tidak kusangka sudah cukup lama aku menangis.

Aku tidak tahu harus ke mana, yang kutahu saat ini aku harus menghindari pria itu. Artinya aku tidak boleh berada di apartment, bahkan apartment ShinAe sekalipun.

Kuarahkan mobilku keluar dari Seoul.

“Eomma…. Eomma….” panggilku saat aku sampai di rumah orang tuaku.

Tidak ada yang menjawab.

“Aneh..” pikirku.

Lalu aku mengambil minum di kulkas dan menemukan pesan dari eomma ‘MinAh, eomma dan appa sedang ke rumah sakit karena teman appa ada yang terkena serangan jantung. Kamu baik-baiklah dan selesaikan dengan segera’

“Kenapa tidak dikunci oleh haelmoni?” gumamku, tapi tidak terlalu kupikirkan karena rumah ini memang jarang dikunci.

Setelah menghabiskan jus tomat aku segera ke kamarku “Ternyata capek juga menangis” pikirku.

Aku sudah membayangkan akan tidur sampai siang dan bermalas-malasan.

Kubuka pintu kamarku.

“MinAh….”

Bagaimana dia bisa sampai di sini?

Sebelum aku keluar kamar dia sudah menarik tanganku dan menutup pintu.

“YAAAAAAA!!!!” teriakku.

“Park MinAh” katanya.

Kupandangi wajah pembohong di depanku. Beraninya dia memanggil namaku setelah membohongiku dengan cukup keji.

“Dengarkan aku” pintanya.

“MinAh kamu sudah sampai?” appa masuk ke kamarku.

Eric melepaskan tangannya dariku.

“Appa…. Kenapa appa membiarkannya di sini?” tanyaku.

Eomma ikut masuk ke dalam kamarku dan memandang kami berdua.

“Kalian sudah bertemu? Sekarang sudah malam dan semua merasa lelah. Eric tidurlah di sofa, ini baju tidur dan selimut untukmu. Semoga muat hehee” eomma menyerahkan baju tidur appa dan selimut. Eric menerimanya “Gamsahamnida” katanya.

“Appa tidak mengusirnya?” kutatap appa meminta dukungan.

“Ani” jawab appa pendek.

“MinAh cepat cuci muka, wajahmu seperti pencuri yang dipukuli massa karena ketahuan mencuri. Kemudian tidurlah. Besok selesaikan masalah kalian. Baik-baik. Kami tidak tahu apa yang terjadi tapi eomma dan appa tidak ingin mendengar pertengkaran apalagi teriakan” eomma memberi pandangan penuh ancaman kepada kami berdua lalu keluar dari kamarku diikuti oleh appa.

“Eric…” panggil eomma.

“Keluar” kataku tanpa suara.

Tanpa membantah Eric ikut pergi meninggalkanku sendirian di kamar.

Di kaca aku melihat wajahku yang bengkak seperti kata eomma. Tapi saat ini aku tidak peduli, saat ini aku hanya ingin tidur karena ada hal yang harus kulakukan besok pagi-pagi sekali.

Tanpa cuci muka seperti perintah eomma aku langsung tidur.

Bukan hal yang mudah untuk tidur dalam keadaan marah dan sakit hati seperti saat ini. Tapi aku adalah Park MinAh, sang putri tidur. Jadi tidak butuh waktu terlalu lama bagiku untuk terlelap.

***

Jam 5 pagi setelah alarmku berbunyi aku bangun dan langsung mengganti bajuku dengan t-shirt dan celana training. Sepatuku kutenteng karena aku memakai sandal agar lebih mudah bergerak.

Kuletakkan guling ke dalam selimut agar nampak seperti aku yang masih tidur. Trik ini memang trik lama gadis 17 tahun yang kabur dari kamar untuk menemui kekasihnya tapi aku sudah tidak bisa memikirkan cara lain. Yang penting aku bisa mengulur waktu.

Kubuka jendela kamar perlahan-lahan lalu menutupnya kembali dan berjingkat-jingkat menuju pagar. Pintu kamar sengaja tidak kukunci agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Sekarang aku berdoa agar rencanaku berjalan sesuai harapanku sehingga aku tidak perlu bertemu pria bernama Mun JungHyuk.

“MinAh…” panggil seseorang yang sedang membuka pagar. Aku kaget melihatnya.

“Haelmoni…” aku lupa kalau setiap jam 5 pagi haelmoni selalu berjalan-jalan keliling kompleks.

“Bagus, aku tidak perlu memanjat pagar” kataku dalam hati.

Kupeluk haelmoni “Haelmoni, aku pulang dulu ya…” bisikku.

“Kenapa cepat-cepat? Tidak sarapan dulu?” tanya haelmoni.

“Ssssstttt… Aniyo, aku harus cepat-cepat pulang karena ada pekerjaan” aku merasa bersalah karena sudah berbohong, tapi aku harus meninggalkan rumah sekarang juga saat semua orang masih tidur. Kecuali haelmoni tentunya.

“Oooohhh oke.. Hati-hati menyetirnya” haelmoni ikut berbisik.

Seperti kebiasaan selama ini jika aku berkunjung ke Busan beliau menyerahkan sejumlah uang dari kantongnya.

“Gomawoyo haelmoni” ujarku lalu memeluknya lagi. “Annyeong” pamitku.

“Jangan mengantuk” pesan beliau, kubalas dengan senyuman.

Haelmoni masih saja menganggapku gadis kecil sehingga beliau sering sekali memberiku uang sampai saat ini. Ketika aku bertanya kapan kebiasaan haelmoni akan dihentikan, dijawab “Cari suami dulu”.

Kalau saja saat ini aku sedang tidak terburu-buru aku akan memijat beliau setelah selesai berolahraga.

Kali ini aku menyetir dengan hati-hati, karena sejujurnya mataku masih berat. Impian untuk bangun pagi dan bermalas-malasan hancur gara-gara Eric.

Aku berhenti sebentar di coffee shop untuk membeli kopi “Satu hot americano. Take away” pesanku.

Walaupun sudah kusembunyikan wajah bengkakku dengan kacamata hitam tapi tetap saja waitress yang melayaniku memperhatikan dari atas sampai bawah. Mungkin dia mengira aku korban KDRT yang melarikan diri dari suaminya.

Setelah menerima kopi pesananku aku langsung ke mobil untuk melanjutkan perjalanan.

“Huek.. Kopi apa ini” kataku setelah meminum kopiku. Bagiku yang tidak terlalu menyukai kopi, kopi semacam ini benar-benar tidak enak.

“Bagaimana bisa dia meminumnya setiap hari” pikirku heran dengan kebiasaannya minum kopi. Tapi untuk apa juga aku memikirkan pria itu.

“Dia bisa meraih daesang sebagai aktor terbaik tahun ini” gumamku dengan emosi.

Kunyalakan radio untuk menemaniku.

Right from the start
You were a thief
You stole my heart
And I your willing victim
I let you see the parts of me
That weren’t all that pretty
And with every touch you fixed them

Ternyata radio sedang memutar lagu ini, langsung saja kusetel CD dengan volume kencang.

Sampai apartment aku tidak langsung pulang tetapi ke apartment ShinAe. Eric tahu rumahku di Busan pasti darinya. Aku butuh penjelasan.

Ting tong.

Tidak butuh waktu lama ShinAe membuka pintu, ada JiYoung di meja makan.

Tanpa kata-kata ShinAe memelukku “Mianhae MinAh.. Mianhae.. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian, tapi ketika Eric oppa bertanya alamat rumahmu di Busan aku membertitahunya karena aku cemas, aku tidak bisa menghubungimu” aku balas memeluknya dengan erat.

“Gwenchana ShinAe.. Gwenchana..” aku tidak bisa marah pada sahabatku ini.

“Mmmmm.. Aku pulang dulu jagi.. MinAh aku pulang dulu” pamit JiYoung lalu mencium ShinAe.

“Annyeong” balasku.

“Aku memintanya tidur di sini tadi malam, aku benar-benar mengkhawatirkanmu sampai tidak bisa tidur” kata ShinAe sambil memberiku green tea hangat.

Aku duduk di depan TV meminum green tea dalam diam.

ShinAe tidak mengajukan pertanyaan apapun, dia hanya memperhatikanku.

“Apa dia sudah cerita apa yang terjadi?” tanyaku.

“Nugu? Oh… Eobseo, dia tidak menceritakan apa-apa dia hanya bilang kalau sedang mencarimu dan ketika kulihat apartmentmu kosong aku juga ikut khawatir. Dia lalu bertanya alamat rumahmu di Busan langsung saja kuberitahu tanpa berpikir panjang” jawab ShinAe. Aku bisa merasakan bahwa dia berkata jujur.

“Tahukah kamu, Mun JungHyuk ternyata sepupu dari Cho JungAh” kataku lirih.

“Jakkaman… Cho JungAh….. Cho JungAh….. Istri Lee KyuMin???” ShinAe terbelalak.

Kuanggukkan kepala.

“Tapi dia tidak bercerita apapun padamu?” tanyanya.

“Kamu juga tidak tahu hal ini?” tanyaku balik. Aku tidak ingin dibohongi oleh ShinAe juga.

“Ani. Sumpah aku tidak tahu apa-apa. Dia tidak pernah menyinggung Cho JungAh atau Lee KyuMin” jawab ShinAe sungguh-sungguh.

“Tadi pagi aku memutuskan untuk datang ke pernikahan Lee KyuMin dengan tujuan memberinya selamat. Lagipula aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi dan datang ke pernikahannya adalah langkah yang kuanggap tepat untuk melupakan semuanya” ceritaku pada ShinAe. Seperti biasa ShinAe hanya diam saja.

“Tapi tidak kusangka aku bertemu dengannya di sana” lalu kuceritakan bagaimana Eric memberi sambutan sebagai saudara sepupu Cho JungAh.

“Jadi selama ini dia membohongiku. Jangan-jangan setiap aku bercerita tentang Lee KyuMin dalam hati dia menertawakanku karena Lee KyuMin lebih memilih saudaranya daripada aku” aku tidak habis pikir mengapa Eric melakukan hal itu.

“Atau ternyata dia sudah menceritakan tentang aku ke saudaranya” ujarku. Aku sungguh ngeri membayangkan hal itu.

ShinAe menatapku dengan ngeri juga.

Aku sudah tidak sanggup menangis lagi, kali ini yang tersisa adalah kemarahan.

“Kenapa dia tidak bercerita saja kalau dia saudara Cho JungAh” gumamku dengan suara hampir tidak terdengar.

“Kalau misalnya dia bercerita bahwa dia saudara Cho JungAh, apa yang kamu lakukan?” akhirnya ShinAe membuka mulutnya.

Aku hanya diam.

Ting tong.

“Lee ShinAe, demi persahabatan kita kalau itu Mun JungHyuk jangan beritahu dia aku ada di sini” kataku dengan nada penuh ancaman dan bersembunyi di balkon. Aku mendapat firasat bahwa tamu itu adalah Eric.

“ShinAe apa MinAh ada di sini?” sudah kuduga bahwa pria itu yang datang.

“Eobseo oppa. Bukankah oppa bilang kalau dia ada di Busan?” ShinAe memang pintar berakting.

“Ne, lalu tadi pagi dia sudah tidak ada di kamarnya. Keluar dari jendela. Apa dia pikir dia anak berumur 10 tahun?” Eric terdengar kesal.

Aku tersenyum dengan sinis “Apa pedulimu kalau aku anak kecil berumur 10 tahun? Bukankah akan lebih mudah untuk kamu bohongi?” kataku dalam hati.

“Nanti kalau aku bertemu MinAh aku akan bilang kalau oppa mencarinya” aku yakin ShinAe tidak akan mengkhianatiku.

“Andwae. Kamu langsung menghubungiku saja kalau bertemu dengannya. Jangan sampai dia tahu kamu menghubungiku. 10 menit lagi aku ke sini lagi siapa tahu dia menemuimu. Aku harus ganti baju dulu” kuintip Eric masih menggunakan pakaian yang dia kenakan di acara pernikahan kemarin.

Setelah kulihat Eric meninggalkan apartment ShinAe aku memutuskan untuk cepat-cepat kembali ke apartmentku.

“ShinAe aku pulang ya, sebelum dia kembali. Annyeong” pamitku dan memeluk sahabatku.

Sampai di apartment aku langsung duduk dan menyalakan TV agar mengalihkan pikiran dan kemarahanku.

Tapi tidak berhasil, aku masih terus saja memikirkan kebohongan yang selama ini dilakukan Eric.

Kudengar ada yang membuka pintu apartmentku “ShinAe-yaaa nan gwenchana, kamu tidak perlu menemaniku” kataku. ShinAe nampaknya terlalu mengkhawatirkanku.

Tidak ada jawaban dari ShinAe.

Ternyata tidak ada ShinAe, yang ada seorang pria sedang berdiri menatapku. Pria yang tidak ingin kutemui.

“Bagaimana Mun JungHyuk-ssi bisa masuk?” tanyaku dengan tajam.

Dia tidak menjawab malah mendekat dan berdiri di depanku. Aku mendengus.

“Bagaimana kamu tahu aku di sini?” aku tidak perlu berbicara dengan sopan padanya.

“Aku mengikutimu dari apartment ShinAe, aku tahu kamu bersembunyi di sana”

“Siapa yang memberitahumu password apartmentku? ShinAe?”

“Ani. Kemarin aku mengintip ketika ShinAe membuka pintu apartmentmu”

“Hah! Benar-benar licik”

“Well, aku lebih suka mengatakan cerdas”

Aku melotot padanya.

“Lalu untuk apa kamu di sini?”

“Untuk bertemu denganmu”

“Tapi aku tidak ingin bertemu denganmu”

“Aku akan memaksa”

“Untuk apa bertemu denganku? Untuk menertawakanku karena sudah berhasil dibohongi?”

“Ani”

“Untuk mengasihaniku?”

“Ani”

“Untuk mengatakan kalau kamu sudah menceritakan semuanya pada Cho JungAh?”

“Aku sudah berjanji akan mengunci mulutku. Dan aku menepatinya. Aku ingin minta maaf”

Aku terkejut, dia ingat janjinya untuk tidak mengatakan apa-apa pada siapapun.

“Apakah kamu tidak merasa bersalah karena sudah membohongiku selama ini?”

“Ne.. Untuk itu aku ingin meminta maaf”

“Lalu mengapa kamu tidak memberitahuku sejak awal kalau Cho JungAh adalah saudaramu”

“Untuk apa?”

“Mwo?”

“Untuk apa aku mengatakannya?”

Aku kehilangan kata-kata.

“Apa yang akan kamu lakukan kalau aku memberitahumu sejak awal bahwa aku adalah saudara Cho JungAh?”

Pertanyaan yang sama yang diajukan oleh ShinAe.

Aku menghela nafas dalam-dalam dan menatapnya.

***

Enjoy ^^