Choi Siwon memandang tombol-tombol di treadmill dengan bersemangat. Dia baru saja berlari selama 30 menit di mesin itu, dia masih sanggup berlari 1 jam lagi.

Kulitnya yang coklat sudah terlapisi dengan peluh keringat yang bisa membuat yeoja berteriak kegirangan. Sesekali ia melirik jam tangannya, ia segera menghentikan rutinitas olahraganya begitu melihat jam tangannya sudah menunjuk ke angka 7.

Ia setengah berlari menuju kamarnya di lantai 2. Sudah lama ia tidak tinggal di dorm Super Junior, sama seperti dongsaeng satu-satunya, Choi Jihyo yang hanya sesekali menginap di dorm Super Girls.

Langkah Siwon terhenti begitu melihat pintu kamar magnae terbuka, ia tersenyum dan masuk ke kamar bercat dinding biru laut itu.

“Good morning my baby magnae,” seru Siwon menjatuhkan tubuhnya ke arah Jihyo yang tertidur lelap.

“Aaaaaak,” Jihyo refleks menendang Siwon yang untungnya bisa dihindari tuan muda Choi tersebut. “Iiiihhhh, oppa kau keringetaaan!”

Siwon semakin mempererat pelukannya, ia tau Jihyo betul-betul tidak suka ia berkeringat. Menurut Jihyo, Siwon seperti disiram minyak goreng kalau berkeringat dan ia selalu bingung kenapa banyak yeoja yang tergila-gila dengan kuda yang dipenuhi minyak.

“Oppaaaa! Aku ngantuk aaaaakkkhhhhh! Pergi pergi!” Teriak Jihyo tanpa membuka matanya.

“Kau pasti main game lagi semalaman ya, rakun?” Siwon mengacak-acak rambut Jihyo. Rakun, sebutan Siwon untuk magnaenya, karena mata Jihyo yang menghitam karena bermain game semalaman.

Jihyo tak bersuara, sudah kembali ke alam mimpinya. Siwon tak mengerti kenapa dongsaengnya sama sekali tidak mirip dengannya, malah semakin mirip dengan Cho Kyuhyun. Si evil magnae selalu muncul di pikiran Siwon setiap ia memikirkan Jihyo.

“Bangun Hyonnie! Kau harus lihat matahari pagi!”

“Besok masih ada, oppa,” gumam Jihyo.

“Oppa?”

Siwon menoleh mencari sumber suara yang memanggilnya. Sesosok malaikat cantik berdiri tersenyum di ambang pintu kamar Jihyo. Siwon tertarik mendekatinya, memeluknya.

“Jagi~,” Siwon mencium mesra Hamun yang baru saja datang. Hari ini ia dan Hamun akan berkencan seharian. Tentu saja mereka berdua akan membuat bekal untuk dibawa berkencan nanti.

“Kalian kalau mau bermesraan jangan dikamarku ya. Sana di kamarmu saja oppa. Jangan lupa tutup pintunya lagi,” Jihyo menarik selimutnya menutupi kepalanya.

“Unnie,” wajah Hamun bersemu merah, sebagian karena dicium kekasihnya, sebagian karena Jihyo menyuruh dirinya ke kamar Siwon. “Cepat bangun, aku akan siapkan sarapan untukmu,” ujar Hamun menarik Siwon keluar dari kamar Jihyo.

+++

“Kau selalu bisa tahan dengan tingkah Jihyo, aku bingung,” ujar Siwon memeluk Hamun yang sedang memasak sarapan dari belakang. Sesekali Siwon menciumi leher Hamun.

“Kau saja yang kurang mengerti Jihyo unnie, oppa, kau selalu sibuk,” ujar Hamun.

“Tapi aku kan selalu ada waktu untukmu, jagi~.”

“Tapi kan Jihyo unnie dongsaengmu, oppa. Kau juga harus selalu ada waktu untuknya, sebelum dia benar-benar mau berganti marga menjadi Cho,” Hamun hampir terkikik mengucapkan kalimat itu. Kalimat ancaman Jihyo setiap saat untuk Siwon.

“Andwae! Dia tidak boleh berganti marga!”

“Ne~,” Hamun melepaskan pelukan Siwon dan memutar badannya menghadap Siwon. “Makanya, perhatikan dongsaengmu.”

“Siap malaikat cantikku!” Siwon segera kembali memeluk Hamun, mengunci bibir yeoja tercantik di dalam hidupnya itu dan tak mau melepaskannya.

“Eheeem,” Jihyo memandang kesal pasangan lovey-dovey di depan kompor itu. “Jadiii, kalian membangunkanku pagi-pagi hanya untuk melihat kalian berdua berciuman?”

Hamun segera mendorong Siwon karena kaget. Ia semakin panik saat melihat sup yang dimasaknya sudah mendidih hingga airnya keluar dari panci.

“Magnae, kau mengganggu saja sih!” Siwon segera mengejar Jihyo yang berlari menuju ruang makan meninggalkan Hamun yang sebal masakannya dirusak gara-gara Tuan muda Choi yang pagi-pagi sudah bernafsu bermesraan dengannya.

“Huh, kalau begini, bisa tidak selesai-selesai masakanku,” keluh Hamun.

+++

Jihyo memandang Hamun dan Siwon dengan tatapan mau muntah. Bisa-bisanya mereka berdua suap-suapan di depan Jihyo. Sebenernya nona muda Choi ini tak bisa menyalahkan Hamun, yang patut disalahkan adalah oppanya sendiri yang meracuni Hamun.

“Kalian kan bisa suap-suapan nanti saat berkencan,” keluh Jihyo mengaduk-aduk supnya.

“Ini namanya pemanasan sebelum berkencan, iya kan Hamun?” Ujar Siwon sambil menyuapi Hamun. Hamun hanya mengangguk cepat. Ia tak berani menatap Jihyo yang pagi ini penuh dengan aura kelam.

“Unnie, kau tidak pergi bersama Woobin oppa?” Tanya Hamun. Ia bingung dengan unnienya ini. Diantara seluruh member Super Girls, baru Jihyo yang go public mengenai urusan percintaannya. Namun hanya Jihyo yang sepertinya jarang diketahui oleh para member yang lain pergi berkencan.

“Bagaimana aku bisa berkencan kalau si tengik itu tidak bisa menemuiku!” Jihyo refleks memukul meja. Bersamaan dengan itu, handphonenya berdering.

“Siwon oppa dan Hamun mau pergi berkencan meninggalkanku sendirian kesepian karena kekasihku sibuk syuting!” Cerocos Jihyo begitu menekan tombol answer di layar handphonenya.

“Mian my darling. Kau ini kenapa marah-marah sih pagi-pagi?” Ujar suara di ujung telepon sana. Suara berat dan berhasil membuat rasa suka Jihyo selalu meningkat persenannya setiap hari.

Jihyo mematikan sambungan teleponnya. Lalu segera mengaktifkan Skypenya dan menghubungi Woobin. Segera ia hadapkan handphonenya begitu mendengar suara Woobin yang menggerutu kesal sambungan teleponnya ditutup seenaknya oleh nona evil ini.

“Eeerrr, yoboseyo hyung!” Seru Woobin menahan tawanya saat melihat Siwon menyenderkan kepalanya ke pundak Hamun sambil minta disuapi seperti anak kecil.

“Ya! Jihyo-ah! Kau kenapa memperlihatkan ke Woobin sih?” Seru Siwon merebut handphone Jihyo. “Woobin-ah! Cepat pulang dan ajak Hyonnie berkencan, dia lama-lama selalu mengangguku dengan Hamun!”

“Oppa!” Hamun merapat ke Siwon agar Woobin bisa melihatnya. “Jangan lupa oleh-oleh yaaa!”

Woobin tertawa saat Siwon heboh berteriak ke Hamun bertanya kekasihnya minta oleh-oleh apa ke Woobin. Jihyo hanya bisa menggelengkan kepalanya dan kembali merebut handphonenya.

“Jagi, cepat pulaaaaang,” ujar Jihyo manja. Entah sejak kapan ia bisa bersikap manja ke namja yang sering ia panggil tuan devil ini.

Woobin memasang tampang berpikir, “Baiklah. Tapi kurasa aku harus menyelesaikan adegan terakhirku dulu.”

Jihyo mengeembungkan pipinya. “Aku tidak peduli, pokoknya cepat-”

“Adegan terakhirku itu bed scene loh,” Woobin memasang senyum evilnya. Jihyo langsung melempar handphonennya ke arah Hamun.

“Hamun, bilang ke oppamu aku minta putus!” Jihyo berteriak hingga bisa didengar Woobin.

“Yaaa! Hyonnie! Aku bercanda! Mian, jagi. Duh, Jihyo! Hamun, kembalikan handphonenya ke Jihyo!” Woobin terlihat panik.

Hamun hanya tertawa sambil melirik ke arah Jihyo meminta persetujuan, Jihyo memberi kode ke Hamun untuk mengerjai Woobin.

“Oppa, Jihyo unnie sudah kembali ke kamarnya. Dia meraung-raung, sepertinya unnie mengamuk deh,” ujar Hamun datar. Jihyo memberikan jempolnya ke arah Hamun.

“Hamun! Beritahu padanya aku bercanda. Duh bagaimana ini? Mana aku tidak bisa pulang saat ini juga. Dia tidak berbuat hal aneh-aneh kan?”

“Mmmh, tidak sih oppa. Hanya saja aku baru saja mendengar suara kaca pecah dan kurasa aku baru melihat boneka koala besar darimu dibuang Jihyo unnie dari lantai 2.”

“Ya! Kim Woobin! Kau urus sendiri yeojachingu mu! Sudah ah Hamun jangan urusi mereka berdua!” Siwon mematikan sambungan Skype di handphone Jihyo yang langsung diikuti dengan koor suara Jihyo dan Hamun yang menolak keseruan mereka dihentikan.

“Oppa, kenapa dimatikan sih?” Seru Jihyo kesal.

“Oppa, tadi kan sedang seru,” timpal Hamun.

“Kau ini sudah meracuni kekasihku dengan ke-evil-an mu yaaa!” Siwon melempar serbet ke arah Jihyo. “Dan kau nona Kang Hamun, kau dihukum harus berkencan denganku selama dua hari berturut-turut!”

Jihyo menutup mukanya, bersiap adegan peluk-cium Simun couple akan dimulai kembali. Pagi ini akan jadi pagi yang panjang.