-2004-

“Oppa, saranghae..”

“Huh? Hahaha.. Jangan bercanda..” jawabku menanggapi pernyataan cinta nya

“Aku tidak bercanda Oppa.. Aku serius..”

“Candaan mu ini tidak lucu tau.” aku mulai memasang tampang serius

“….”

“Sudah ah main-main nya.. Aku pulang dulu ya.. Sudah malam.. Annyeong!”

“Oppa~.. hik hik hik..”

‘Mianhae jeongmal mianhae.. Nado saranghae..’ kataku dalam hati meninggalkannya yang mulai menangis
 

~ duk duk duk duk duk ~

Seseorang menuruni tangga, membuatku mempercepat langkahku keluar rumah

“Wae? Kau kenapa?”

“Joonie Oppa~.. hik hik hik.”

Aku mendengar suara mereka dari luar pintu, aku tak mau mendengar percakapan mereka lebih jauh jadi aku berlari keluar pagar rumah mereka dan menuju rumahku

-2014-

 
~Beep Beep~

Joonie Hyung, nawaa..
Aku ingin minum soju..
Ah maksudku wine..  Mana ada soju disini..
Ayo temani aku..

Kajja~

‘Tumben sekali dia yang mengajakku minum duluan’

 
Wae? Tumben sekali?
Apa kau serius?
Kita sedang di Brazil..
Kalau kita mabuk dan membuat onar, matilah kita..

KaTalk ku berbunyi lagi

 
Bagaimana kalau kita beli beer saja, lalu minum di kamarmu?

Aku segera mengetik jawabanku

Call

 

~Tok Tok Tok~

 
Aku membuka pintu kamar hotelku, orang yang kutunggu sudah datang.

Tanpa banyak omong, kami mulai membuka dan meminum beer yang ia bawa..

Entah ini sudah kaleng ke berapa yang ia minum, ia mulai meracau..

Entah karena sudah mabuk atau akan mabuk..

“Sudah berapa lama kita menjomblo Hyung?”

“Hahahaha, molla.. Wae?”

“Ani..”

“Bagaimana dengan Shinhye?”

“Kami cuma berteman baik Hyung, kau tau itu kaaann”

“Jangan bohong.. atau.. Jangan bilang kau belum bisa melupakan Seohyun?”

“Aiishh.. YAA~ Hyung! Bagaimana denganmu?”

“Aaahh.. Eobsooo..”

“Geotjimal! Kim HyunA? Oh Yeon Seo?”

“Yaaa~” seruku sambil melempar kaleng beer kosong disampingku padanya, ia tertawa

“Apaaa…”

“Kim Yuna?!” teriak kami berbarengan lalu tertawa bersamaan

Kim Yuna, idola kami. Setiap ditanya di berbagai interview tentang ideal type kami. Nama wanita ini yang keluar dari mulut kami.

 
“Huaaahh.. Eobso..” jawabku sambil menghela nafas panjang

 
Kulihat teman minumku ini sudah mulai tak kuasa mengangkat kepalanya. Kini kepalanya sudah tergeletak di meja. Tampaknya ia sudah benar-benar  mabuk. Ia kembali meracau.

 
“Aku tau kau belum bisa melupakan nya Hyung.. “

“Nugu?” aku memang pabo, orang mabuk diladeni saja. Tapi biarlah daripada hening.

“Siapa lagi..”

“Neo dongsaeng?”

“Eung”

“Kau tau?”

“Eung. Dia bercerita padaku setelah pernyataan cinta nya padamu 10 tahun lalu.”

“…………..”

“Mianhae Hyung”

“Wae?”

“Kalau bukan karena aku, kau pasti sudah bersamanya.”

“….”

“Aku memang pabo, padahal kalau kau bersamanya kau kan benar-benar akan menjadi Hyung ku”

 
‘Dasar bocah gila, bicara apa dia..’ pikirku

 
Pikiranku melayang ke belasan tahun lalu…

———————————–
 
Saat itu kami bertiga sedang bermain sepulang sekolah di halaman rumah mereka..

Kami selalu bertiga..

Aku, bocah tengik ini, dan dongsaengnya..

Aku begitu dekat dengan keduanya, begitu pula appa eomma dan haelmoni mereka..

Rumah dan keluarga keduaku..

Mungkin di kala itu, bocah ini merindukan sahabatnya dan teman bermainnya..
Hyung nya yang pergi ke Seoul untuk menggapai mimpinya..

Wajar pikirku, karena dongsaengnya seorang yeoja..

Tentu tak bisa bermain sebebas bermain dengan seorang Hyung.

Aku mengenal bocah ini dan dongsaeng nya di sekolah..

Entah bagaimana, aku lupa detailnya, kami jadi sangat sangat dekat..

“Kau pilih dia atau aku?” tanyaku pada yeoja itu saat kami sedang bercanda

“Yaa~ Hyung.. Pertanyaan apa itu?” protes si bocah

“Aku pilih Joon Oppa!”

“Yaa~! Kau harusnya memilihku.. Aku kan oppa mu..”

“Tapi aku lebih suka Joonie Oppa!”

“Yoosshhh” seruku gembira lalu menari-nari

“Aahh kalian menyebalkan! Kalo Hyung bersamanya lalu aku sama siapa?”

“Hahahahahahahaha, kau/oppa sendiri saja sana” aku dan yeoja itu tertawa terbahak-bahak

“Shireo! Kau pergi masuk sana bantu eomma dan haelmoni masak!” seru bocah itu ngambek

“Oppaa~ ” yeoja itu merajuk padaku

“Sudah kau masuk sana, bantu eomma haelmoni.. Kau harus nurut pada oppamu..” jawabku bijak

“Oppa gitu sudah tidak mau main lagi dengan ku”

“Aniii~ nanti kita main bertiga lagi” jawabku menenangkan nya sambil mengelus-elus kepalanya

 
Yeoja itupun masuk kedalam rumah menuju dapur, dimana eomma dan haelmoni nya sedang sibuk memasak makanan untuk kami semua.

 
“Hyung!” panggil bocah tengik itu

“Wae?! Masih ngambek?” tanyaku agak sebal

“Hyung tidak boleh meninggalkanku..”

“Memang aku mau kemana?”

“Hyung juga tidak boleh merebut dongsaengku..”

“….”

“Walau kau lebih tua setahun dariku.. Tapi daya pikirmu itu sebaya denganku Hyung..”

‘Mwo? Dasar bocah tengik berani tidak sopan padaku! Daya pikirku sama dengan mereka? Aisshh coba kalau sedang tidak ngambek sudah kuhajar dia. Aku ini lebih tua dari mereka’ pikirku

 
“Kau kuanggap hyung ku, aku oppanya, berarti kau juga oppanya. Aku dan dia kembar. Daya pikirmu sebaya denganku dan kau hyung ku. Kesimpulannya kita bertiga kembar.. Triplet! Arra?”

“Hahahahahahahahaha” tawa ku menggelegar

“Hyuunngg~! Aku seriuuusss. Karena kita triplet. Kita akan selalu bersama bertiga. Arra?”

“Ne~ Ne~” jawabku sambil menepuk-nepuk kepalanya

“Yaksok?”

“Kau benar-benar serius?” tanyaku tidak percaya

“Tentu saja! Yaksok?”

“Yaksok” jawabku singkat

———————————–

“Hyung~” panggil si bocah membuyarkan lamunanku

“Eo?” jawabku, kukira ia sudah terlelap karena terlalu mabuk, sekarang malah tiba-tiba terduduk tegak

“Kau mencintai nya?”

“Nugu?”

“HyunAh..”

“Kim HyunA?”

“Anii~.. Jung HyunAaahh.. Nae dongsaengii~..”

“……….”

~Dduukk~

 
Belum sempat kujawab pertanyaan nya.. Tiba-tiba dia sudah ambruk ke meja. Bagaimana tidak mabuk, aku baru saja meminum 1 kaleng dan belum habis, sedangkan dia.. ah entahlah sudah habis berapa kaleng.

 
‘Dasar bocah tengik’ pikirku sambil tanpa sengaja memasang smirk ku

 
Aku mulai merapikan kaleng-kaleng kosong beer agar tidak dimarahi manager kami dan kalau-kalau ada paparazzi atau sasaeng fans. Mungkin saja ada yang sedang usil mencari berita-berita aneh, apalagi cukup banyak artis KPop yang mendatangi Music Bank Brazil ini.

Kemudian, aku mulai mendekati bocah ini untuk mengangkatnya menuju tempat tidurku

“Hyuunngg~ kau belum jawab pertanyaankuu~” racau nya saat baru saja kubaringkan badannya

“Jaljaa Yonghwa ya~” jawabku menanggapi racauannya sambil menarik selimut menutupi tubuhnya

Aku menuju balkon kamarku untuk menghirup udara segar.

Begitu aku sampai di balkon dan menghirup udara segar, permbicaraanku dan Yonghwa terlintas kembali di pikiranku..

“Kau mencintainya?”

“Hmmmmmm” aku menghela nafas panjang

“Ne~ Yong” jawabku walaupun aku tau Yonghwa sudah terlelap ke alam mimpi

 
Aku mencintainya.

Dulu, sekarang, selamanya.

Dulu aku mencintainya sebagai seorang yeoja..

Sekarang aku mencintainya sebagai dongsaeng..

Yaaa walaupun terkadang aku masih mencintainya sebagai seorang yeoja dan berharap dia mencintaiku seperti dulu..

Aku tak tau pasti bagaimana besok dan seterusnya..

Mungkin saja aku akan benar-benar bisa mencintainya sebagai dongsaeng..

Tapi yang aku tau pasti, aku mencintai Jung HyunAh selamanya..

Karena Joon, Yong dan Hyun adalah triplet…

 

^^ kkeutt! *ikut bahasa gyumontic*