By @gurlindah93

 

“Aku akan menjauhimu”

Dia menatapku dengan lembut “Sudah kuduga. Oleh sebab itu aku tidak memberitahumu”.

“Oleh sebab itu pula kamu menyuruhku untuk tidak datang ke pernikahan mereka kan? Karena kamu takut ketahuan”

“Ani. Aku hanya tidak ingin kamu sedih melihat Lee KyuMin menjadi milik orang lain”

“Hah! Sayangnya sekarang aku sangat sedih dan marah, tapi bukan disebabkan oleh Lee KyuMin”

“Arra”

“Lalu apa terlintas di benakmu untuk memberitahuku?”

“Tadi malam. Tadi malam aku berniat memberitahumu tapi kuurungkan karena saat ini hubungan kita sudah berjalan baik dan aku tidak ingin merusaknya”

“Apa kamu selalu memikirkan diri sendiri seperti saat ini?” tanyaku dengan sinis.

“Biasanya tidak, tapi kali ini aku melakukannya karena aku tidak ingin kehilanganmu. Perlu kamu ketahui membohongimu adalah hal yang paling tidak ingin kulakukan”

Kutatap dia dengan penuh kekecewaan.

“Tapi kamu tetap melakukannya”

“Arra. Dan aku membenci diriku sendiri karena hal itu. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menjauh”

“Haha. Apa kamu yakin aku tidak akan menjauh darimu? Setelah semua yang kamu lakukan padaku?” nada suaraku bergetar.

“Kita berdua akan segera mengetahuinya”

Dengan cepat Eric merengkuh pinggangku lalu menciumku.

Sejujurnya aku menikmatinya, sangat menikmatinya. Bahkan aku ingin menciumnya lebih lama lagi dan tidak melepaskannya.

Tapi tindakanku bertolak belakang dengan kata hatiku “Apa yang kamu lakukan????” kataku melepaskan bibirku darinya.

Bayangan perbuatannya, bagaimana dia membohongiku terlintas.

Plak!!!!!!

Dia terkejut.

“Pergi!!!”

“Jinjja?”

“Pergi dan jangan kembali!” perintahku.

“Jinjja?”

“Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi” kataku lirih sambil menahan air mataku agar tidak tumpah.

“Jinjja?”

“Aku membencimu” dengan susah payah kukeluarkan kata-kata itu dengan nada paling kejam yang bisa kulakukan.

“Benarkah itu yang kamu rasakan?” dia menatapku mengharapkan kejujuranku.

“Ne” jawabku. Bisa kulihat dia sangat terluka.

Aku pergi ke kamarku dan menguncinya.

Di dalam kamar aku hanya bisa menangis.

Tok tok.

“MinAh aku melihat Eric oppa pergi dari sini. Apa yang terjadi?” ShinAe mengetuk pintu kamarku.

Kubuka pintu kamarku dan kupeluk ShinAe.

“Gwenchana… Gwenchana…” ShinAe mengelus-elus punggungku.

“Aku menyuruhnya pergi. Aku mengatakan tidak ingin bertemu dengannya lagi” kataku lalu kembali menangis.

“Gwenchana.. Eric oppa pasti tidak menghiraukannya”

“Aku bilang aku membencinya” kali ini aku menatap ShinAe dengan penyesalan yang mendalam.

ShinAe memelukku lagi “Gwenchana…”.

Setelah lelah menangis aku jatuh tertidur, berharap besok aku terbangun dan semua kejadian ini hanya mimpi.

***

Hari Senin pagi aku bangun dengan mata bengkak jadi kuputuskan untuk memakai kacamata yang sudah lama tidak kupakai menggantikan contact lens ke kantor.

ShinAe, aku berangkat ke kantor bersamamu ya’ kutulis pesan pada ShinAe, rasanya aku tidak sanggup jika harus menyetir sendiri. ‘Ini aku sedang menuju apartmentmu. Bukakan pintu’ balasnya.

Kulihat lewat interkom ShinAe sudah berdiri di depan pintu.

“Kajja” kataku.

Saat di dalam lift aku merasa mencium parfum yang sangat kukenal, tapi aku tidak yakin.

“Ya Tuhan MinAh aku lupa bawa kunci mobil. Jakkaman, kamu tunggu saja di mobil” ShinAe meninggalkanku di tempat parkir.

“Aiiiissshhh gadis itu selalu saja” omelku.

Setelah menemukan mobilnya aku berdiri di samping mobil menunggu ShinAe. Kuambil smartphoneku mengecek pesan yang masuk, tidak ada satupun pesan baru.

Aku menghela nafas. Kubaca satu persatu pesan yang tersimpan dan hampir semua dari lift guy.

Seperti biasa aku selalu tersenyum setiap membaca pesan darinya.

Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang memperhatikanku, kuedarkan pandanganku ke sekitar tapi tidak ada siapapun. “Ah hanya perasaanku” pikirku.

“MinAh kajja.. Kamu bertemu seseorang?” tanya ShinAe sambil ikut-ikutan memperhatikan sekeliling.

“Ani. Kajja” ajakku.

“Mmmmmm.. Eric oppa sudah menghubungimu?” tanya ShinAe hati-hati sama hati-hatinya seperti saat ini, dia menyetir dengan kecepatan 40 km/jam.

“Ani. Buat apa. Aku kan sudah mengatakan kalau tidak ingin bertemu dengannya” jawabku sambil memperbaiki riasan mataku.

“Mmmmmmmm… Lalu apa kamu sudah menghubunginya?”

“Hahahaa apa kamu bercanda? Aku yang mengatakan tidak ingin bertemu dengannya” kataku sambil tertawa.

ShinAe menatapku dengan simpati. Hanya dia yang mengetahui kalau tawaku sangat pahit dan tidak ada kesungguhan di dalamnya.

Aku sudah memutuskan bahwa aku tidak boleh tenggelam dalam kesedihan “Hei bagaimana kalau Sabtu besok kita clubbing? Sudah lama kita tidak clubbing” ajakku.

ShinAe menatapku dengan bingung “Apa… Kamu yakin?”

“Memangnya ada apa denganku? I’m the party girl remember?” kataku lalu menari mengikuti lagu yang diputar di radio.

***

Hari ini hari Sabtu yang berarti aku dan ShinAe akan berpesta sampai pagi. Kupakai dress yang belum pernah kupakai, mini dress berbahan sequin yang menempel ketat di tubuhku. Untung saja akhir-akhir ini aku sedang tidak berselera makan jadi aku memakainya tanpa rasa khawatir. Kulihat diriku di depan kaca dan tersenyum puas melihatnya.

Suasana di club sangat ramai, mungkin karena hari Sabtu ini ada guest DJ yang akan perform.

Kucek smartphoneku, sudah 6 hari Eric tidak menghubungiku. Bagaimana aku bisa tahu? Tentu saja karena aku menghitungnya. Aku menghitung setiap detik waktu aku tidak bertemu dengannya.

“MinAh kajja” ajak ShinAe untuk masuk ke dalam club setelah mengantri masuk.

Kami berdua masuk dan benar saja club sudah dipenuhi pengunjung. Untungnya ada meja yang kosong, letaknya agak menjorok tapi kami masih bisa melihat panggung dengan jelas.

“Sekarang saat yang kita tunggu-tunggu, DJ berikut ini hanya menjadikan turntable sebagai hobbynya. Oleh sebab itu sudah sangat lama dia tidak menghentak lantai dansa. Put your hands up for DJ Moon!!!!” kata pembawa acara memperkenalkan guest DJ malam ini.

“Woooohoooooooo!!!!” aku dan ShinAe sangat bersemangat dan penasaran dengan guest DJ yang akan perform.

Saat DJ itu keluar aku membeku. ShinAe menatapku “MinAh….”

“Arra…” aku termangu melihat DJ yang ada di depanku.

DJ itu mulai memainkan lagu-lagunya dengan penuh semangat.

Aku baru menyadari betapa rindunya aku pada pria itu.

“ShinAe aku ke restroom dulu ya” kataku. Aku perlu sedikit menyegarkan diri.

“Perlu kutemani?” ShinAe nampak sedikit cemas. “Ani…” jawabku.

Di dalam restroom aku mendengar 2 gadis sedang mengobrol “Omo kamu lihat DJ itu? Dia seksiiiiiiii sekali Apa dia sudah punya kekasih? Yang jelas dia belum menikah, tidak ada cincin di jarinya”.

“Hmmmmmm molla… Sepertinya pria seperti dia sulit untuk didekati, tapi jika dia sudah menyukai seorang gadis dia tidak akan melepaskannya. Dia akan melakukan apapun untuk berada di dekat gadis itu” komentar gadis satunya.

“Yaaaaaa kamu seperti peramal” kata gadis pertama.

“Ne. Kamu sok tahu agasshi” kataku dalam hati sambil mencuci tangan di sebelah mereka.

“Aku pernah berkencan dengan pria seperti dia, pria seperti dia sanggup memberimu planet jika kamu memintanya”

“Mwooooo?? Lalu mengapa kamu putus?” tanya gadis pertama terbelalak tidak percaya.

“Karena aku mencium temannya saat aku mabuk” jawab gadis sok tahu yang membuatku tertawa.

Kedua gadis itu menatapku dengan bingung, aku memasang tampang bodoh.

“Tentu saja Eric tidak akan memaafkanmu jika kamu berselingkuh” pikirku. Aku membayangkan bagaimana Eric akan mengamuk jika mengetahui kekasihnya mencium temannya.

Hanya membayangkan pria itu saja sudah membuatku merasa bahagia.

Saat kembali ke mejaku DJ itu masih bermain “Gwenchana?” tanya ShinAe mengecekku dari atas sampai bawah.

“Gwenchana…” jawabku dan memberi sahabatku ini sebuah senyuman yang kuharap bisa menenangkannya.

“Mau pulang sekarang?” tanyanya. Aku hanya menggelengkan kepala, mataku terpaku pada DJ yang sedang perform.

Untuk pertama kalinya aku merasa hidupku lengkap hanya dengan menatapnya.

Saat DJ itu, pria yang akhirnya kusadari selalu membuatku merasa bahagia turun dari panggung aku mengajak ShinAe pulang.

Di dalam lift apartment “MinAh kamu mau tidur di tempatku?” ShinAe menawarkan diri untuk menemaniku.

“Ani, nan gwenchana ShinAe-aahh” ujarku.

“Kalau butuh apa-apa telepon saja aku” katanya lalu kami berpisah di lantai 29.

Aku menunggu beberapa menit di depan apartmentku sampai yakin ShinAe sudah masuk ke dalam apartmentnya lalu langsung kembali ke lift.

Mungkin aku akan melakukan hal yang bodoh, tapi aku merasa yakin untuk melakukannya.

“MinAh…” panggil seseorang saat aku memijat kakiku yang pegal karena sudah 30 menit berdiri di depan apartment 3002.

Akhirnya aku bisa memandangnya dari dekat.

“Ada perlu apa?” pria di depanku melihatku dari atas sampai bawah.

“Boleh aku masuk…. Oppa?” tanyaku.

Tanpa menjawab dia membuka pintu apartmentnya dan membiarkanku masuk.

“Jadi ada apa?” tanyanya.

Aku menatapnya dengan pandangan penuh rasa rindu “Aku tadi melihat oppa di club” jawabku.

“Arra. Ada perlu apa?” tanyanya lagi.

“Bagaimana oppa tahu?” aku terkejut dia mengetahuinya.

“Aku melihatmu” ujarnya.

“Ternyata oppa juga seorang DJ” kataku.

“Ne. Lalu?” dia nampak bingung.

“Ternyata oppa keren juga ya” jantungku berdebar sangat kencang.

“MinAh…..” Eric maju mendekatiku tetapi aku malah mundur menjauhinya.

“Aku tidak tahu oppa punya banyak keahlian. Ha ha” aku benar-benar tidak bisa berpikir, aku tidak tahu apa yang sedang kukatakan. Aku hanya ingin bertemu pria ini tapi sekarang malah meracau setelah berhadapan dengannya.

Eric nampak tidak sabar “Park MinAh kalau tidak ada kepentingan…….”.

“Damn you Mun JungHyuk!!!!! I love you!!!!” teriakku.

Ups.

Pria di depanku tidak bereaksi, hanya menatapku dengan sedikit terkejut.

“Dan aku minta maaf karena sudah mencintaimu” lanjutku dengan suara pelan tidak berani menatapnya.

“Eric-yaaa kamu sudah pulang? Ada apa ribut-ribut?” seorang wanita keluar dari kamar dan memandang kami berdua dengan bingung.

Wanita itu sudah sangat sering kulihat walaupun belum pernah bertemu secara langsung. Dilihat dari dekat wanita ini lebih cantik dan anggun walaupun memakai baju tidur. Tidak heran karena dia adalah seorang fashion designer.

“Noona…”

Bisa kupastikan pipiku memerah. Tidak kusangkan ada orang lain di sini.

Aku mengutuk diriku sendiri karena bertindak tanpa berpikir panjang.

“Aku pulang dulu oppa” pamitku lalu pergi meninggalkan apartment Eric.

“Ya Tuhan apa yang sudah kulakukan?? Memalukan sekali. Berteriak-teriak seperti itu saat ada noonanya. Aaaaaarrrgghhhh. Park MinAh kamu harus melemparkan dirimu ke samudera Atlantik” omelku menyadari tindakan impulsif yang membuatku tidak ingin bertemu keluarga Mun lagi.

Sampai di apartment aku langsung masuk kamar. Kusetel CD keras-keras agar hatiku tenang.

“Aaaaaarrrrgggghhh” kataku setiap mengingat kejadian tadi sambil mondar-mandir di kamar.

“Apa perlu aku pindah apartment?” gumamku.

“Aaaaaaarrrrrggghhh. Park MinAh bodoh!” kali ini aku memukul boneka yang ada di tempat tidurku.

“Lebih baik aku pindah ke Busan dan membantu appa” semakin jauh dari Eric dan keluarganya akan semakin bagus bagiku.

“Aaaaaaarrrgggghhhh” aku benar-benar tidak habis pikir dengan perbuatanku tadi.

“Aku kan hanya ingin bertemu dengannya” kataku dengan sedih.

“Ehem…..” karena CD yang kusetel aku tidak mendengar ada yang masuk kamarku.

“Whoaaaaa” kataku setelah melihat siapa yang datang. Pria yang hobby masuk ke apartmentku secara diam-diam itu bersandar di pintu sambil menyeringai. Langsung saja aku loncat ke tempat tidur dan bersembunyi di dalam selimut.

Jantungku berdebar sangat kencang.

“Eomma tolong aku” gumamku. Aku bisa merasakan pria itu berjalan mendekat.

Tidak kusangka pria itu masuk ke dalam selimutku kemudian memelukku dari belakang.

“Annyeong” bisiknya di telingaku. Aku tidak sanggup membalasnya.

“Kenapa sekarang diam saja? Bukankah tadi kamu berteriak-teriak di apartmentku sampai noonaku terbangun?” dia berbisik lagi. “Kenapa dia harus berbisik di telingaku??????” teriakku dalam hati.

“Mi.. Mianhae…” kataku lirih.

“Mwo?” tanyanya.

“Mianhae” ulangku.

“What? I can’t hear you. Can you say it in English just like what you did 10 minutes ago?” pintanya.

Kalau saja aku tidak terlalu malu aku sudah menendang pria ini.

“I’m sorry…” aku mengulang kata-kataku lagi. Kuharap dia cepat pergi dari sini.

“For… What?”

“For being noisy and annoying”

“And….”

“For your sister”

“And…..”

“And what else??” aku merasa kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Eric memelukku semakin erat “Just like what you said earlier” katanya lalu mencium tengkukku.

Aku tidak bisa bernafas.

“So do you really hate me?” tanyanya.

Aku menggeleng pelan dengan penuh penyesalan.

“Menghadaplah kemari atau aku yang akan memaksamu” perintahnya sambil berbisik.

Dengan sangat terpaksa aku memutar tubuhku sambil memejamkan mata tidak berani menatapnya, tangannya masih melingkar di pinggangku. Dia tertawa melihatku “Hahahahaa Wae? Buka saja matamu, aku tidak akan memakanmu. Tapi mungkin akan menggigitmu” godanya.

“Yaaaa” kataku hampir tidak terdengar.

“Apa kamu malu?” tanyanya. Aku mengangguk dengan lemah.

“Tidak tahukah kamu betapa rindunya aku? Aku sampai harus bangun pagi-pagi sekali agar bisa melihatmu di tempat parkir walaupun hanya sebentar” ujarnya. “Mwo?” aku menatapnya lalu memejamkan mata lagi. Jadi ternyata orang yang selama ini memperhatikanku di tempat parkir adalah Eric, kukira hanya khayalanku saja.

“Hahahaha iya, setiap pagi kamu nampak sangat cantik. Rasanya aku ingin berlari menghampirimu lalu memelukmu” Eric kembali mempererat pelukannya.

Sepertinya paru-paruku kehabisan udara.

“I love you too, Venus” katanya kemudian mencium keningku.

Aku membuka mata menatapnya “Venus?”.

Eric mengambil smartphone dari saku celananya “Aku sudah menganggapmu sebagai Venusku sejak dulu” dia menunjukkan smartphonenya. Kulihat dia menyimpan nomerku dengan nama Venus.

“Wallpaper itu berarti…” aku ingat wallpaper smartphonenya yang bergambar planet, ternyata planet itu menggambarkan diriku.“Yes” jawabnya.

Aku tersenyum bahagia

“Aku menamai oppa dengan lift guy hehee ujarku. Dia melotot padaku kemudian mencium hidungku “Sekali lagi kamu membuatku kesal kamu tahu bagian mana yang akan kucium” ancamnya.

Kupejamkan mataku lagi tidak tahu apa yang harus kulakukan.

“Jadi apa yang membuatmu berubah pikiran? Menemuiku di apartmentku pagi buta lalu berteriak-teriak saat noonaku tidur. Terakhir kita bertemu kamu memintaku tidak muncul di hadapanmu karena kamu membenciku” kubuka mataku dan kutatap matanya.

“Aku baru menyadari kalau hanya oppa yang bisa melengkapi hidupku, yang selalu membuatku bahagia. Eh tidak selalu sih, tapi cukup sering membuatku bahagia hehehe” ujarku.

“Baru menyadari? Sayang sekali.. Tapi tidak apa-apa daripada tidak sama sekali” katanya dengan wajah sedih. Aku tertawa melihatnya.

“Inilah yang membuatku tidak bisa jauh darimu. Kamu gadis yang mudah tertawa dan selalu membuat orang lain tertawa” katanya.

“Tidak pernah menyadarinya” gumamku. Dia tertawa lagi, tanpa peringatan kucium bibirnya.

“Hehehe.. Mianhae” bisikku.

“Jadi…..” Eric tidak melanjutkan kata-katanya.

“Jadi apa?” tanyaku penasaran.

“Jadi Park MinAh, bolehkah aku menjadi Marsmu?” tanyanya. Aku hanya bisa mengangguk “Ne oppa.. Dan jadikan aku sebagai Venus yang bisa melengkapi hidupmu”.

Eric menempelkan tubuhnya hingga tidak ada lagi udara di antara kami lalu menciumku “Omong-omong aku sangat suka dengan dressmu ini. Membuatku sangat ingin menyentuh setiap inchi tubuhmu sekarang. Bahkan sejak pertama kali aku melihatmu memakainya di dalam club” bisiknya dan mempererat pelukannya.

Kali ini aku membalas ciumannya dengan lembut yang dalam hitungan detik berubah menjadi panas dan liar. Dia menindihku dan kucengkeram punggungnya, aku tidak ingin ini berakhir.

You push me

I don’t have the strength to

Resist or control you

Take me down, take me down

 

You hurt me

But do I deserve this?

You make me so nervous

Calm me down, calm me down

 

Wake you up

In the middle of the night to say

I will never walk away again

I’m never gonna leave this bed, oh

***

FIN

Gomawo sudah baca Venus mulai prolog sampai part 7 chingudeul… Semoga suka dan jangan lupa baca FF lain di blog ini yaaa.. xoxo

PS: Eric Mun alias Mun JungHyuk adalah leader+rapper Shinhwa, one of the 1st generation idol group in Kpop. Mungkin bisa googling kalo ga tau orangnya heheee ^^