Adalah hal yang sangat sangat sangat langka bisa melihat Kim Woobin, Choi Siwon, Eric Mun dan Henry Lau duduk bersama di sebuah kafe, saling memandang dengan wajah muram dan tidak bersemangat.

Adalah hal yang lebih langka ketika melihat seorang Cho Kyuhyun ikut duduk bergabung dengan keempat pria di atas.

“Ini minuman kalian,” kata Kyuhyun sambil meletakkan masing-masing satu gelas kopi ke hadapan Woobin, Siwon, Eric dan Henry. “Apa yang terjadi?”

Woobin, Siwon, Eric dan Henry menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya bersamaan. “Molla,” jawab mereka juga bersamaan tanpa semangatt di nada suaranya.

“Mwo? Lalu yang buat kalian datang ke kafeku apa?” Tanya Kyuhyun lagi. Keempat pria itu hanya menggeleng. “Kalau tidak ada yang ingin kalian bicarakan, aku mau melayani yang lain.”

“Aakh. Aku tidak percaya ini akan terjadi,” gumam Eric lebih kepada dirinya sendiri kemudian menatap Kyuhyun. “Untuk pertama kalinya, Cho Kyuhyun, untuk pertama kalinya aku ulangi.”

“Ne. Mwo?” Tanya Kyuhyun.

“MinAh menendangku keluar dari kamarnya! Padahal aku hanya menyelinap ke dalam selimutnya lalu memeluknya. Biasanya dia tidak masalah. Tapi tadi dia benar-benar marah padaku lalu mengusirku keluar,” ujar Eric yang jelas penuh kebingungan. Dia masih tidak mengerti kenapa dia disuruh pergi oleh MinAh.

Kyuhyun lalu berpaling pada Woobin yang bolak balik menghela nafas dan memainkan sedotan pada gelas kopinya dengan kerutan di keningnya yang semakin lama semakin banyak. “Lalu kau kenapa?” Tanya Kyuhyun pada Woobin.

“Jihyo mendiamkanku habis-habisan, tidak menggubrisku sama sekali dan parahnya aku tidak tahu kenapa. Aku janji menemuinya sehabis syuting makanya aku datang ke rumahnya. Aku bahkan membawa makanan dan game baru yang dia incar tapi dia tidak menghiraukanku. Ia menyuruhku duduk, meletakkan barang-barang itu kemudian mendiamkanku. Setiap aku ajak bicara, dia hanya bilang ‘ne’ atau ‘eo’ atau ‘humm’. Aku tanya aku salah apa, dia diam saja,” ujar Woobin panjang lebar.

Kyuhyun tersenyum tipis. “Aku turut berduka cita. Jihyo tidak mudah dikendalikan. Kau harus banyak belajar,” kata Kyuhyun kepada Woobin dan kemudian bergerak maju kepada Siwon.

“Apa yang Hamun lakukan padamu, hyung?” Tanya Kyuhyun pada Siwon yang jauh lebih murung daripada pria yang lainnya.

“Hamun memarahiku. Aku sengaja datang ke dorm tanpa memberitahunya karena aku ingin memberikannya kejutan. Saat aku datang, ia sedang serius mengerjakan tugas kuliahnya. Dia terlalu menggemaskan jadi aku memeluknya dari belakang dan menciumnya. Dia kaget lalu memarahiku. ‘Oppa!!! Kau mengganggu konsentrasiku!! Pulang sana!!!’ Begitu katanya. 6 tahun bersamanya, baru kali ini dia memarahiku seperti itu. Aku sedih,” kata Siwon dengan ekspresi sedihnya namun menurut Kyuhyun itu kurang menyedihkan sehingga ia segera meninggalkan hyung-nya untuk mendapatkan cerita Henry.

“Neo wae?” Tanya Kyuhyun.

“HyunAh tidak mau memasak untukku. Kau tahu aku sangat suka makan kimchi buatan HyunAh kan? Jadi tadi aku minta dia buat kimchi untuk aku bawa ke Hongkong tapi dia tidak mau. Dia bilang dia sedang tidak mood. Aku menawarkan untuk membantunya, aku bahkan bilang aku yang akan belanja bahan-bahannya tapi dia malah menatapku dengan kesal lalu meninggalkanku sendirian. Ia masuk ke kamarnya dan tidak mengizinkan aku ikut masuk. Aneh! Ada apa sih sebenarnya dengan mereka itu?” Henry meneguk kopinya sampai sisa setengah gelas.

Kyuhyun menatap Woobin, Siwon, Eric dan Henry bergantian. “Kalian harus belajar lebih banyak,” ujar Kyuhyun dengan gaya sok yang maha mengetahui segalanya.

“Apa yang harus aku pelajari lagi? Aku sudah 6 tahun bersama Hamun, aku sudah mengerti luar dalamnya. Aku hanya bingung kenapa dia tiba-tiba memarahiku,” kata Siwon.

“Ya apalagi kau, hyung. 6 tahun, dibentak sedikit oleh Hamun sudah kebingungan,” ujar Kyuhyun sambil tertawa terbahak-bahak. “Kalian harus belajar seluk-beluk wanita padaku.”

“Yaaaa!!! Kau saja bolak-balik bertengkar dengan Hyejin. Apa yang harus kami pelajari dari kau?” Ujar Eric kesal lalu menghabiskan kopinya sampai titik penghabisan. “Cih!”

Kyuhyun kembali tertawa terbahak-bahak. “Itu karena sudah saking lamanya kami bersama. Mau bertengkar seperti apapun kami akan baikan. Itu namanya cinta, hyung,” ujar Kyuhyun sambil memamerkan deretan giginya yang rapi, menyengir sombong.

Henry meneguk kopinya sampai sisa seperempat gelas. “Terserah apa katamu, hyung!” Omel Henry kepada Kyuhyun.

“Haaah! Akan kuberitahu kalian satu hal apa yang terjadi pada gadis-gadis itu,” kata Kyuhyun. Kyuhyun menggerakan tangannya untuk menyuruh keempat pria itu memusatkan kepalanya ke tengah meja.

“Apa yang ingin kau beritahu? Aku akan menghajarmu kalau sama sekali tidak membantu, hyung,” bisik Woobin tidak sabaran.

Kyuhyun melemparkan senyuman mengejeknya kepada keempat pria yang mau tidak mau menjadi temannya karena mereka memiliki satu kesamaan.

“Mereka itu sedang PMS. Kalian tahu PMS kan? Kalian harus mulai mempelajari siklusnya kalau mau selamat,” ujar Kyuhyun dengan suara yang sangat pelan lalu menjadi yang pertama menarik diri dari lingkaran itu.

“Mwo? PMS? Haid maksudmu?” Tanya Woobin pelan. Dengan mantap, Kyuhyun menganggukkan kepalanya.

Eric melempar Kyuhyun dengan tisu yang sudah dia remas-remas menjadi sebuah bulatan. “Darimana kau bisa tahu jadwal haid MinAh?! Yaaaa!!”

Kyuhyun hanya menyengir penuh kemenangan. “Sudah aku bilang kalian harus banyak belajar.” Kyuhyun tertawa gembira melihat keempat temannya yang sedang menatapnya dengan kesal namun kemudian tidak bisa berbuat apa-apa karena semua mata pengunjung sudah menatap mereka penuh keingintahuan.

“YAAA CHO KYUHYUNN!!” Teriak Woobin, Siwon, Eric dan Henry bersamaan kepada pria yang sudah berjalan masuk ke meja kasir sambil tertawa terbahak-bahak.

Adalah suatu hubungan yang sederhana yang menghubungkan Kyuhyun, Woobin, Siwon, Eric dan Henry. Hubungan sederhana yang terjadi begitu saja karena mereka memiliki kekasih dari satu grup yang selalu bersama.

—-

Kkeut!