By @gurlindah93

 

“Yaaaaaaa hati-hati ShinAe” teriakku pada sahabatku entah untuk keberapa kalinya saat kulihat dia sedang mengangkat kardus berisi sepatu.

“Gwenchana. Ini ringan kok” kata ShinAe lalu keluar dari apartmentku.

“Aku kan tidak mau kalau dia melahirkan sekarang” omelku.

Saat ini ShinAe memang sedang hamil 5 bulan setelah menikah 8 bulan yang lalu dengan JiYoung.

“Venus, nanti setelah menikah kita juga harus secepatnya punya anak. Kalau perlu setiap hari kita membuatnya” kata Eric sambil mengedipkan mata jahil. Pipiku memerah.

“Yaaaaaaa oppa sejak kapan di sini? Lalu ShinAe masuk ke apartment oppa bagaimana?” aku terkejut melihat kekasihku di dalam apartmentku sudah mengangkat kardus entah berisi apa.

“Sejak tadi, kamu saja yang tidak memperhatikan karena terus mengomeli ShinAe. Aku sudah memberitahu ShinAe password apartmentku” Eric menambah kardus lagi untuk dibawa ke apartmentnya.

Hari ini aku mulai mencicil memindahkan barang-barangku ke apartment Eric karena walaupun hidup sendiri ternyata barangku cukup banyak. Sedangkan apartmentku akan kusewakan.

“Nanti setelah menikah kita harus mengganti password apartment” gerutuku. Aku tidak ingin nantinya orang-orang bisa keluar masuk apartment kami tanpa permisi.

“Sudah jangan marah-marah terus. Aku tidak mau pengantinku punya kerutan di wajahnya saat menikah” ujar Eric lalu mencium keningku dan pergi.

Aku dan Eric sudah berpacaran selama 2,5 tahun. 2,5 tahun yang sangat indah dan penuh kenangan. 2,5 tahun yang cukup membuatku yakin berkata ‘I Do’ saat dia melamarku di pulau Lombok, Indonesia saat kami liburan beberapa bulan yang lalu.

10 hari lagi aku akan menjadi Mrs. Mun, menjadi istri yang akan selalu berada di sisinya dalam suka dan duka, dan menjadi ibu bagi anak-anaknya.

“Oppa kira MinAh santai? Dia hanya tidak menunjukkannya. Kadang-kadang ketika kami mengobrol dia tidak mengerti apa yang sedang kukatakan, pandangannya kosong. Aku yakin itu karena stress” kata ShinAe pada Eric saat aku masuk ke apartment Eric.

“Kalau itu sih aku tidak kaget, aku yakin dia sedang mengantuk saat itu” kekasihku ini memang selalu menyebalkan.

“Yaaaaaa apa yang kalian bicarakan? Oppa jangan sembarangan bicara” kataku sambil cemberut.

“Jadi benar kamu stress selama ini?” tanya Eric menatapku dengan penasaran.

“Siapa yang tidak stress kalau mau menikah?? Oppa saja yang tidak pernah memperhatikanku” ujarku.

“Waaaaahhh Park MinAh bisa stress juga ternyata” komentar kekasih yang paling kucintai ini sambil senyum-senyum jahil.

“Lalu apakah oppa stress?” tanyaku balik.

“Ani. Buat apa? Yang kupedulikan hanya sebentar lagi kamu akan menjadi milikku seutuhnya. Aku tidak peduli siapa yang datang, makanannya seperti apa. Selama yang berdiri di altar bersamaku adalah Park MinAh, aku bahagia” jawab Eric lalu merengkuh pinggangku. Kata-katanya membuatku tersenyum bahagia. Pria sekonyol ini bisa romantis juga ternyata.

“Yaaaa jaga sikap kalian. Aku tidak ingin anakku melihat perbuatan kalian” keluh ShinAe sambil mengelus-elus perutnya yang mulai besar.

“Untung saja badanmu tidak terlalu berubah sehingga gaunmu masih cukup” kataku melepaskan diri dari Eric dan mulai menata barang-barangku.

Sebagai sahabat tentu saja aku memilih ShinAe sebagai bridesmaid.

”Ne.. Aku tidak menyangka bahwa kamu tidak akan pindah dari gedung ini seumur hidupmu Min” ShinAe menata kembali barang-barangku yang masih berantakan. Tidak salah kalau aku meminta tolong ShinAe membantuku memindahkan barang, dia orang yang sangat rapi.

“Apalagi aku. Tidak pernah terbersit dalam pikiranku bahwa aku akan menikahi tetanggaku” kataku. Eric hanya tertawa mendengarnya “I love you too, Venus” bisiknya.

“Ohya bagaimana perasaanmu, sebentar lagi akan segera tidur dan tinggal di sini untuk pertama kalinya setelah kalian menikah?” tanya ShinAe sambil berjalan menuju dapur.

“Hah? Kata siapa dia tidur di sini untuk pertama kalinya? Brp brp brp…” sebelum Eric menyelesaikan kalimatnya aku langsung membekap mulutnya.

“Yaaaaa… Tutup mulutmu oppa” ancamku.

“Hei kenapa kalian? Oppa tadi bilang apa?” ShinAe kembali sambil membawa susu untuk Ibu hamil yang tadi dia masukkan ke kulkas Eric.

Kulepaskan tanganku dari mulut kekasihku yang tidak bisa menjaga mulutnya ini. 2,5 tahun aku berusaha memahami kekonyolannya tapi masih saja merasa kesal kalau dia berbuat seperti ini. Eric hanya tersenyum penuh arti.

“Ani… Ayo kita lanjutkan” ajakku kemudian menunduk untuk mengambil kardus yang akan kumasukkan ke kamar Eric.

Plak!

Tiba-tiba Eric memukul pantatku lalu melarikan diri “Yaaaaaaa Mun JungHyuuuuuuuuuuuukkk!!!!” teriakku lalu mengejarnya.

***

“Oppa ppali ppali. Kita janji jam 4 sudah ke butik ChaeRim eonni dan sekarang sudah jam 4 lebih” kataku tidak tenang.

Hari ini aku akan fitting gaun pengantin di butik Mun ChaeRim, calon kakak iparku. Tapi Eric yang kuminta untuk menemaniku tidak mau berhenti main game sehingga sekarang kami terlambat.

Aku ingat ketika 4 bulan yang lalu saat kami mengumumkan rencana pernikahan, ChaeRim eonni langsung menawarkan diri untuk mendesain gaun pengantin untukku. Siapa yang tidak senang dibuatkan gaun pengantin oleh desainer yang sudah mengisi London, Milan, dan Paris fashion week?

“Hahahaa tenang saja. Noona tidak akan marah kalau hanya terlambat sebentar, lagipula dia juga sering terlambat” katanya sambil menyetir dengan santai.

“Aiiiiissshhh lebih baik aku berangkat sendiri tadi” omelku.

“Yaaaaa tapi aku kan ingin melihat gaun pengantinmu. Please” pinta Eric.

“Shireo!!! Aku tidak akan membiarkanmu melihatnya sebelum kita bertemu di altar” kataku tetap dengan pendirianku.

Sampai di butik aku langsung menemui ChaeRim eonni yang nampaknya sedang melayani pelanggan.

“Jakkaman” katanya. Aku mengangguk.

“Tuh dia masih ada klien. Untuk apa kita terburu-buru?” Eric duduk di sampingku lalu mengeluarkan smartphonenya. Untuk apa lagi kalau tidak untuk bermain game.

Setelah 15 menit menunggu akhirnya ChaeRim eonni menemui kami.

“Aaaaahh my future sister in law. I can’t wait any longer” katanya sambil memelukku. “Heheee” balasku malu-malu.

“I’m always wondering who’ll be his future wife, who can live with this childish guy?” katanya dengan nada sedih.

“Hey noona, i’m not childish. I’m 100% man. Namja. Ask her” Eric tidak terima dikatakan childish. Tapi kami berdua pura-pura tidak mendengarnya.

“Kajja” ajak ChaeRim eonni ke ruang fitting.

“Aku tidak diajak?” rajuk Eric.

“No! Aku meminta MinAh untuk merahasiakannya, jadi ketika kamu melihatnya berjalan ke altar kamu akan terkejut” kata ChaeRim eonni dan menggandengku ke ruang fitting. Aku hanya bisa tersenyum penuh kemenangan pada Eric yang nampak kecewa.

“Oh my God. MinAh you look so beautiful” puji ChaeRim eonni padaku saat aku mengenakan gaun pengantin yang dibuat khusus untukku.

Aku juga tidak percaya bahwa wanita yang ada di kaca adalah aku. Gaunnya sangat indah sesuai harapanku. Gaun berwarna putih gading dengan bahan sutra berhiaskan kristal swarovski dan mutiara.

Kupeluk ChaeRim eonni “Thank you eonni. This is beyond my expectation” kataku dengan mata berkaca-kaca.

“Don’t cry my dear, i know that you’ll be very beautiful in your wedding day. Thank you for taking care of my little brother” suara ChaeRim eonni bergetar dan membuatku semakin terharu. Sebagai anak bungsu dan pria satu-satunya, semua kakak Eric memang sangat melindungi Eric dengan cara mereka masing-masing. Tidak heran kalau mereka bersedih ketika Eric akhirnya menikah.

Setelah menghapus air mata aku segera menemui calon suamiku.

Kupeluk dia “Ya ya yaaaa ada apa ini?” aku tidak menjawabnya. Aku merasa sungguh beruntung memiliki pria ini, pria yang kuyakini bisa membuat hidupku semakin berarti.

“Saranghae” bisikku setelah melepas pelukanku dan menatapnya dengan penuh cinta.

“Nado saranghae” balasnya lalu menciumku.

***

3 Juni 2017.

Hari yang bersejarah bagiku. Hidupku akan berubah setelah ini.

Aku mematut diriku di kaca. Kalung dan anting-anting berlian hadiah dari calon mertuaku dilengkapi dengan sepatu berwarna silver hadiah dari eomma yang dibelinya dari desainer impianku, membuatku merasa sempurna hari ini. Kuambil sebuket bunga yang sudah disiapkan untukku.

“MinAh kamu sudah siap? Waaaahhh putri appa cantik sekali” appa masuk ke kamar hotel tempatku berdandan. Bahkan kedua orang tuaku tidak kuijinkan melihat gaun pengantinku.

Appa memelukku dengan mata berkaca-kaca, aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.

“Kajja” kata appa mengulurkan lengannya untukku. Kugandeng appa dan kami berjalan menuju altar.

Sebagai konsekuensi dari tidak diperbolehkannya Eric melihat gaun pengantinku, maka dia juga tidak memperbolehkanku melihat altar yang dia desain sendiri.

“Siap?” tanya appa sebelum kami berjalan ke taman hotel tempat di mana peristiwa sakralku akan berlangsung.

Aku menghela nafas dan mengangguk.

Eric berdiri di altar, tersenyum padaku. Aku terkejut saat melihat altar kami. Kusadari bahwa altar yang didesain Eric menyerupai lift tempat pertama kali kami bertemu, berwarna gradasi merah dan orange.

Mars dan Venus.

Aku tersenyum melihatnya.

“Thank you” kataku padanya saat berjalan menuju altar.

“You’re welcome” jawabnya.

Appa menyerahkanku pada Eric. Kupeluk appa dengan erat sebelum beliau pergi “Gomawo appa” lalu appa mencium pipiku “Kamu akan selalu menjadi gadis kecilku, Park MinAh” bisik appa padaku. Jika saja aku tidak ingat bahwa aku harus cantik di semua foto dan video pernikahanku, aku pasti sudah menangis meraung-raung.

Eric dan aku berpegangan tangan. Dia memakai jas dan celana berwarna abu-abu gelap yang membuat kulit cokelatnya semakin seksi.

“You look perfect” bisiknya.

“You look amazing” bisikku.

Kata-kata pendeta tidak kudengarkan, yang kulakukan hanya memandang pria di depanku ini. Sebentar lagi dia akan memilikiku seutuhnya.

“Park MinAh, bersediakah dirimu menemaniku sampai akhir hayatku?” Eric bertanya.

“I do” jawabku.

“Mun JungHyuk, bersediakah dirimu kutemani sampai akhir hayatku?” tanyaku.

“I do” jawab pria yang kini menjadi suamiku.

Tanpa diminta kami berciuman.

Setelah itu resepsi berlangsung dengan meriah. Lee KyuMin dan Cho JungAh datang membawa anak mereka yang berumur 5 bulan. JiYoung bernyanyi sambil bermain gitar.

Setelah acara formal berlangsung di sore hari, jam 11 malam kami mengadakan after party di club baru milik Eric.

“Sekarang kita dengarkan permainan dari pengantin baru kita. DJ Moon!!!!” kata Park ChungJae, sahabat Eric yang menjadi pembawa acara.

Suamiku naik ke panggung lalu mulai memainkan lagu-lagunya.

“Venus kemarilah” kata Eric saat aku sedang berdansa.

Dengan terpaksa aku naik ke atas panggung “Yaaaa kenapa kamu menyuruhku ke sini? Memalukan” kataku.

“Aku tidak sanggup melihatmu berdansa dengan pria lain. Kamu tahu kan betapa posesifnya aku” ujar Eric sambil menyeringai. Aku tidak tahan melihatnya menyeringai seperti itu, jadi kukalungkan tanganku ke lehernya dan kucium suamiku.

‘I need your love

I need your time

When everything’s wrong

You make it right

I feel so high

I come alive

I need to be free with you tonight

I need your love


I need your love’

 

***

Bonus.. Hehee ^^