A Little Too Not Over You
A Little 2 Not Over You

Ini adalah lanjutan dari kedua cerita di atas. Happy reading. Semoga suka. Jangan lupa comment ya….

—-

Sudah lebih dari satu jam aku memperhatikan Hyejin tapi tidak satu detik pun disadari gadis itu. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang sudah ia tinggal lebih dari 3 hari. Aku melihat kakinya sudah jauh lebih baik meskipun ia masih tidak bisa berdiri dengan baik. Aku sudah bilang padanya untuk istirahat lagi di rumah tapi dia keras kepala untuk tetap masuk kantor. Kalau boleh, sebenarnya aku ingin sekali menguncinya di kamarku dan merawat kakinya sampai sembuh. Pasti akan terasa sangat menyenangkan bisa melihat wajahnya setiap detik dan mendengarkan semua ceritanya. Aku rela menukarnya dengan beberapa masalah di kantor.

Hyejin berdiri dari kursinya dan ia nyaris terjatuh. Untung saja, Kris sempat menangkapnya. Untung. Meskipun dalam hati sebenarnya aku kesal. Aku kesal melihat Kris merangkul Hyejin dan mengomel penuh kasih sayang. “Sudah kubilang kalau mau sesuatu, kau bisa bilang padaku. Jangan coba-coba untuk melakukannya sendiri. Aku tidak bisa tidur semalaman memikirkanmu kalau sampai terjadi apa-apa denganmu.”

Hyejin menyengir lucu. Aku mendengarnya mengucapkan maaf lalu meminta tolong kepada Kris untuk melakukan sejumlah hal. “Gomawooo,” ucapnya ceria sambil tersenyum kepada Kris yang telah selesai menyelesaikan permohonan Hyejin.

“Yaaaa.. Haish! Gadis ini. Kau tidak boleh mengobral senyummu kepada semua lelaki. Hei!” omelku pelan dari mejaku.

“Yaa! Sampai kapan kau mau melihatnya saja, pabo!” Tegur Heechul hyung tiba-tiba dari belakang dan tidak lupa menambahkan sebuah jitakan di kepalaku.

Aku meringis nyeri sambil memijit-mijit kepala, letak bekas jitakan Heechul hyung mendarat. “Hyung, sakit,” keluhku kepadanya.

Heechul hyung mencibirkan bibirnya kepadaku. “Pabo. Kalau kau menyukainya kenapa tidak mendekatinya?” Tanya Heechul hyung yang sekarang ikut-ikutan memperhatikan Hyejin. “Dia cukup cantik, menurutku. Kalau kau tidak cepat bergerak, aku yakin laki-laki lain mendapatkannya. Terutama Kris. Aku rasa Kris sedang mendekati Hyejin.”

Untuk pertama kalinya setelah satu jam, mataku bisa berpaling dari gadis pujaanku itu. “Yaaa Hyuuuung!” Erangku kesal mendengar ucapan Heechul hyung.

“Yaah itu sih menurut penglihatanku. Hyejin itu cukup menarik, tidak heran kalau ada laki-laki yang mendekatinya. Daaan kau, kalau hanya melihat, kau tidak akan pernah memilikinya,” ujar Heechul hyung lalu meninggalkanku. Ia berpindah ke meja Hyejin, mengajak gadis itu berbicara sebentar dan mengelus kepala Hyejin sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan itu.

Tiba-tiba smartphone-ku berdering nyaring membuat aku buru-buru mengangkatnya. “Ne, hyung?” Jawabku dengan malas saat mengetahui bahwa yang meneleponnya adalah Heechul hyung.

“Kau melihatnya?” Tanya Heechul hyung.

Aku menjawab dengan malas. “Melihat apa?” Tanyaku balik, pura-pura tidak mengerti. Aku tahu ia pasti mau pamer padaku kalau ia bisa menyentuh Hyejin sesuka hatinya. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana Hyejin tertawa di bawah elusan tangan Heechul hyung dan itu cukup membuatku kesal setengah mati meskipun aku tahu tidak ada apa-apa antara mereka. Aku hanya tidak suka melihat Hyejin disentuh pria lain.

Heechul hyung mendecak kesal, tidak sabaran. “Pabo kuadrat! Bagaimana rasanya melihat gadis yang kau sukai tertawa dengan pria lain? Menyenangkan? Tidak kan? Terus kau hanya ingin terus melihatnya? Tidak mau tertawa bersamanya? Eoh?”

“Iya, aku tahu. Sudah ya, hyung. Bye,” kataku lalu memutus teleponnya.

Aku kembali mengarahkan pandangannya ke meja Hyejin namun betapa kagetnya aku sampai nyaris melompat dari kursiku, bahwa Hyejin sudah berada tepat di hadapanku. Tepat di depan mataku dan ia mampu membuat organ-organ tubuhku bergerak abnormal, 2 kali lebih cepat dari biasanya. Aku gugup.

“Oppa,” sapa Hyejin dengan sopan, hangat tapi terkesan menjaga jarak.

“Aah, Hyejin-ssi. W…wae?” Tanyaku tergagap saking kagetnya melihat kemunculan Hyejin yang tiba-tiba.

“Kami mau makan siang. Ikut?” Ujar Hyejin masih dengan nada yang sama. Aku agak sedikit terganggu dengan nada agak formal seperti itu.

“Oooh… Ahhh… Heum… Aku ikut,” jawabku seperti orang linglung.

“Kajja. Teman-teman sudah menunggu,” kata Hyejin yang kemudian bergabung dengan rekan-rekan satu tim-nya yang sudah menunggu.

Hyejin berjalan beriringan sambil bergurau dan tertawa-tawa dengan Kris, yang tidak segan-segan merangkulnya. Mungkin maksud Kris membantu Hyejin berjalan karena kakinya yang belum sembuh total tapi aku tidak suka melihatnya. Sedangkan aku hanya bisa melihatnya dari belakang, menikmati tawa gadis itu dari jauh. Berharap suatu hari tawa itu hanya akan menjadi milikku.

“Kau masih menyukainya?” Tegur Ryeowook yang berjalan di sebelahku, dengan pelan agar orang lain tidak bisa mendengar suaranya.

Aku menganggukkan kepalaku. “Setelah 6 tahun berlalu? Jinjja?” Bisik Ryeowook.

Aku menganggukkan kepala kemudian menggidikkan bahu dan kemudian menghela nafas. “Setelah 6 tahun berlalu ternyata aku masih mencintainya.”

“Lalu bagaimana dengan Victoria?”

“Hyung, kau kan tahu apa yang terjadi. Aku dan Victoria sudah berakhir bertahun-tahun lalu. Aku hanya tidak bisa lepas darinya karena keluargaku berhutang jasa pada ayahnya.”

“Terus kau mau bagaimana? Mencintai Hyejin tapi bersama Victoria? Atau kau akan meninggalkan Victoria?”

Aku menggeleng tidak tahu. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku bisa saja meninggalkan Victoria tapi aku takut sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Kalau aku tetap bersama Victoria, artinya aku tidak akan mungkin bersama Hyejin. Aku akan patah hati. Aku membunuh diriku sendiri dan mungkin aku menyakiti Hyejin. Kalau ia masih mencintaiku. Kalau.

“Ryeo hyung, kau kan tahu apa yang terjadi antara aku dan dia 6 tahun lalu. Menurutmu, Hyejin masih mencintaiku?”

“Kalau ia masih mencintaimu?”

Aku tertawa sinis. “Tidak mungkin, hyung. Aku sudah terlalu banyak menyakitinya. 6 tahun tanpaku mungkin hari-hari yang paling menyenangkan untuknya. Tidak ada yang menyakitinya, tidak ada yang membuatnya menangis, tidak ada yang membuat semua pengorbanannya sia-sia.”

“Meskipun kemungkinannya kecil, bagaimana kalau ia masih mencintaimu? Apa yang akan kau lakukan? Meninggalkannya lagi?” Tanya Ryeowook sekali lagi.

“Aku pasti laki-laki paling beruntung di dunia ini. Tuhan pasti sudah gila kalau begitu,” jawabku setengah hati meskipun ia sangat berharap Tuhan benar-benar jadi gila. “Aku berharap ia masih cinta padaku tapi lebih baik dia tidak memiliki perasaan apapun padaku kalau itu menyakitinya. Dia pantas bahagia, hyung.”

Ryeowook hyung menepuk punggungku pelan. Aku tersenyum lemah. Aku berjalan di belakang, memperhatikan setiap gerak Hyejin, tidak membiarkan mataku melewati satu pun gerakan Hyejin. Aku melihat Hyejin menengok ke belakang, matanya bertemu dengan mataku. Dia memberikan senyum kemudian berpaling lagi ke depan. Hal itu hanya berlangsung 3 detik dan itu merupakan salah satu waktu yang paling berharga untukku.

—-

Makananku baru datang ketika Victoria tiba-tiba meneleponku. “Kau dimana?” Tanyanya.

“Makan siang dengan anggota tim-ku. Waeyo?” Jawabku.

Victoria terdengar sangat galak. Ia seperti sedang marah. “Apa ada Hyejin di sana?”

Bagaimana dia bisa tahu? “Tidak ada,” jawabku dengan tenang.

“Jangan bohong. Aku tahu ia ada di sana. Kalian satu tim. Iya kan? Aku minta kau pulang sekarang, Cho Kyuhyun.”

“Aku tidak bisa, Victoria. Aku bahkan belum memakan makananku.”

“Pulang sekarang! Atau aku akan menemuimu sekarang juga!” Serunya sampai menyakitkan telingaku kemudian menutup teleponnya.

Dahiku berkerut bingung. “Bagaimana dia bisa tahu?” Gumamku dalam hati. Aku mulai menyantap makan siangku sambil memperhatikan Hyejin dengan sudut mataku.

Hyejin menerima sesumpit kimchi dari Jinki sebagai pelengkap makan siangnya. “Kau harus banyak makan biar cepat sembuh,” ujar Jinki.

“Gomawo, Oppa,” ucap Hyejin diiringi senyuman manis yang mampu membuat laki-laki bertekuk lutut.

“Aaaah, sudah lama aku tidak melihat senyuman seorang gadis. Aaah, menyenangkan sekali,” ujar Jinki sambil tersipu-sipu malu membuat yang lain tertawa.

“Hyung, kau jadi laki-laki tidak ada keren-kerennya. Menggoda seorang gadis tidak seperti itu caranya,” ujar Kris.

Aku memperhatikan Hyejin dengan orang-orang di sekitarnya. Tampak sangat menyenangkan. Aku ingin bergabung tapi aku menahan diri. Pasti ada yang memberitahu keberadaan Hyejin di sini.

“Yaa, hoobae. Aku tidak menggodanya. Aku hanya merasa senang ada seorang gadis di tim kita. Kau tahu betapa hambarnya tim ini tanpa seorang wanita?”

“Yaa!!! Jadi kau anggap aku apa? Aku kan wanita juga!” Protes Hyemi yang duduk di sebelah Jinki.

“Yaa… Kau kan sudah menikah, punya anak, sedang hamil lagi. Kau sudah kami coret dari daftar sejak bertahun-tahun lalu, Hyemi-ssi. Terimalah kenyataan,” sahut Jinki.

Hyemi mencibirkan bibirnya dengan kesal kepada Jinki, membuat semua tertawa. Termasuk aku. Aku kembali fokus pada Hyejin.

“Oh ya Hyejin-ssi, kau dulu kuliah dimana?” Tanya Jinki mungkin ingin tahu hal-hal dasar tentang Hyejin sebagai anggota baru tim.

“China,” jawab Hyejin yang langsung disambar Kris. “Kami ini teman satu angkatan, hyung. Cuman aku lulus lebih dulu karena dia terlalu detil mengurus tugas akhirnya jadi selesai lebih lama. Tapi memang nilai dia lebih bagus sih.”

“Jinjja? Jadi kau sudah lama kenal bocah satu ini? Apa dia selalu absurd seperti ini?” Tanya Jinki sambil menunjuk Kris dengan sumpitnya.

Hyejin menganggukkan kepalanya. “Kami sudah terlalu lama berteman dan Kris memang selalu absurd seperti ini. Dia punya style-nya sendiri,” jawab Hyejin sambil tertawa.

“Aku tidak habis pikir bagaimana kau bisa tahan dengan makhluk absurd ini. Kau pasti sering sakit kepala dibuatnya kan?”

Hyejin tertawa lagi. “Buatku, Kris sangat menyenangkan. Dengan segala keanehannya, dia bisa membuatku nyaman berteman dengannya.”

Kris berdeham penuh wibawa. “See, hyung? Aku itu menyenangkan,” ujar Kris dengan bangga, tentu dengan style-nya sendiri.

“Terserah apa katamu deh,” sahut Jinki tidak mempedulikan Kris. Ia lebih ingin mengetahui hal-hal lain tentang Hyejin dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. “Lalu waktu SMA di China juga?”

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Aku dari lahir tinggal di Korea baru kuliah saja ke China,” jawab Hyejin.

Ryeowook yang sudah menyelesaikan makan siangnya tiba-tiba menyahut, “Hyejin itu adik kelasku waktu SMA.”

“Jinjja? Berarti kau adik kelas si Kyuhyun juga?” Sahut Jinki.

Hyejin tertawa lagi sambil menganggukkan kepalanya. “Ryeowook sunbae dan Kyuhyun sunbae 2 tahun di atasku. Mereka idola gadis-gadis di sekolah kami,” kata Hyejin pada Jinki.

Jinki tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Hyejin. “Aku tidak percaya. Selama aku bekerja dengan mereka, aku tidak pernah melihat gadis-gadis mengerubungi mereka. Yang ada malah menghindari mereka,” kata Jinki dengan terbuka.

“Tapi aku tidak bohong, Jinki Oppa. Waktu SMA, Ryeowook Oppa banyak dikelilingi gadis-gadis yang meminta bantuannya sebagai mak comblang. Sedangkan Kyuhyun Oppa….” Hyejin melihatku sejenak namun aku segera memalingkan kepalaku. Aku tidak berani melihatnya. Kisah kami waktu SMA sangat tidak menyenangkan untuk diingat.

“Kalau Kyuhyun bagaimana? Apa ia benar-benar idola para gadis?” Tanya Jinki.

Aku melihat Hyejin mengangguk dengan mantap diiringi tawa manisnya. Seketika hatiku mencelos. Segerombolan rasa penyesalan seketika menyergapku, membuatku sesak.

“Kyuhyun Oppa tipe pria yang sangat setia pada wanitanya. Karena itu banyak gadis mengejarnya,” jawab Hyejin. Rasa sesak itu semakin rapat menyergapku. Aku tidak bisa lagi merasakan paru-paruku bekerja normal. Aku ingin menangis.

Jinki menepuk-nepuk punggungku dengan pelan, menatapku dengan kagum. “Tidak aku sangka kau ternyata begitu setia pada satu wanita. Karena itu kau tidak pernah mau aku ajak kencan buta atau kumpul-kumpul dengan gadis-gadis kenalanku. Luar biasa!”

Aku hanya tersenyum. Aku tidak bisa lebih lama lagi berada di sini. Sedetik saja aku lalui di sini, semua orang bisa melihat air mataku dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Aku buru-buru bangkit berdiri dan berpamitan. “Jam istirahat sudah habis. Aku harus kembali ke kantor sekarang karena Heechul hyung sebentar lagi mencariku. Selamat melanjutkan makan siang. Permisi,” kataku.

Aku membelakangi Hyejin, tidak berani melihat wajahnya. Aku takut melihatnya tersenyum saat menceritakan diriku. Aku takut melihat ia ternyata sudah merelakanku.

—-

Hanya aku yang tahu bahwa alasan aku kembali ke kantor lebih dulu bukan karena Heechul hyung akan mencariku tapi untuk lari dari perasaan menyesalku pada Hyejin. Mendengar ucapan Hyejin, semua perbuatannya terhadapku seakan muncul dan ramai-ramai menghantamku sampai terasa sangat sakit. Kesalahanku padanya terlalu banyak.

Ucapan Hyejin tidak salah. Aku memang setia pada satu gadis sampai tidak menyadari ada gadis yang lebih mencintaiku dan  menyia-nyiakannya. Setia buta.

“Kau tidak ikut makan siang dengan anak-anak?” Sapa Heechul hyung yang baru memasuki ruangan dengan setumpuk map di tangannya.

“Aku pulang duluan. Ada yang mau kukerjakan,” jawabku  asal dengan alasan yang pertama kali muncul di kepalaku.

Heechul hyung mengerutkan keningnya. “Seingatku proyekmu sudah selesai. Apa kau ada proyek lain yang belum kau beritahukan padaku?” Tanya Heechul hyung. “Kyuhyun-ssi, sebagai manager, aku harus tahu apa yang sedang dikerjakan oleh team leader-ku biar aku bisa memperhitungkan kinerja tim kita setiap bulannya dan…”

“Hyung, kau istirahat saja dulu. Aku akan mempelajari proyekmu. Sini,” potongku sambil mengambil alih map yang ada di tangan Heechul hyung. “Aku akan mempresentasikannya padamu jam 5 sore nanti. Sekarang hyung lebih baik istirahat.”

Heechul hyung memandangku dengan bingung. “Kyuhyun-ssi, kau memang team leader-ku yang dapat diandalkan tapi kau bukan tipe orang yang mau mengambil alih pekerjaan orang lain tanpa diperintah. Kau akan melakukannya kalau ada disposisi tertulis dariku, bukan sukarela seperti ini. I know you.”

Kau baik-baik saja, Kyu?” Tanya Heechul hyung kemudian karena melihatku diam saja.

Aku menatapnya tanpa ekspresi. “Aku baik-baik saja, hyung. Kau istirahat saja, tidak usah khawatir. Aku lihat jadwalmu sangat padat. Jam 2 nanti kau ada rapat dengan CEO kan? Aku akan mempelajari proyek ini. Okay?” sahutku dan menenggelamkan diri dalam pekerjaan.

Heechul hyung menepuk-nepuk kepalaku dengan penuh kasih sayang. “Kalau ada apa-apa, aku siap membantumu. Tidak usah segan-segan,” ucap Heechul hyung.

“Ne, hyung,” sahutku tanpa mengangkat kepalanya dari atas map-map ini. Aku tahu tidak ada yang bisa yang menyelesaikan masalahku. Hanya Tuhan yang bisa melakukannya.

—–

“Hyejin-ah! Kau tidak pulang?” Seru Kris tepat ketika jam pulang kantor menunjukkan pukul 5 sore. Aku bisa mendengarnya dengan jelas dari mejaku. Sejak Hyejin datang ke tempat ini, sedikitnya 2 dari 5 panca indera ku tertuju padanya. Mata dan Telinga.

Hyejin yang berada beberapa langkah dari Kris menggelengkan kepalanya. “Aku ada tugas dari Heechul Oppa. Kau duluan saja,” sahut Hyejin.

“Ok. Kalau begitu, aku duluan ya. Aku mau treadmill dulu di gym. Nanti kalau sudah mau pulang, telepon aku. Aku akan menjemputmu nanti,” ujar Kris lalu meninggalkan kantor lebih dulu.

Hubungan mereka mungkin sekedar sahabat karena mereka sudah lama saling mengenal tapi hal itu tidak mengurangi keingintahuanku apa yang pernah terjadi antara mereka. Apa Hyejin pernah menangis di depan Kris? Apa Hyejin pernah memeluknya? Apa Kris selalu ada untuk Hyejin setiap saat? Aku tidak pernah memiliki rasa ingin tahu sebesar rasa ingin tahuku sekarang.

Hyejin baru saja selesai merapikan dokumen-dokumen yang baru ia fotokopi tapi Heechul hyung sudah berteriak memanggil namanya. “Hyejin-aaaah! Ppali!!!”

Dengan terburu-buru, Hyejin membawa dokumen-dokumennya beserta laptop ke ruangan Heechul hyung. Hyejin juga langsung menyiapkan semuanya untuk rapat proyek baru. “Semua sudah siap, Oppa,” kata Hyejin.

Heechul hyung mengucapkan terima kasih dan langsung memulai rapatnya. “Kyu, silahkan dimulai. Hye, tulis semuanya dengan detil ya. Kau notulen rapat ini,” perintah Heechul hyung.

“Ne, Oppa,” sahut Hyejin dengan patuh. Dia sudah siap dengan notebook-nya.

Aku melihat kaki Hyejin sejenak sebelum memulai presentasiku. “Kakimu sudah sembuh?” Tanyaku.

Hyejin tersenyum ceria. “Aku bahkan sudah bisa jogging,” jawabnya membuatku lega. Menyenangkan sekali rasanya mendengar ia sudah sembuh. Paling tidak, rasa sakit yang ia alami berkurang satu.

“Kalau begitu kau sudah bisa mencatat detil proyekku dengan cepat. Betul?”

Hyejin tertawa. “Oppa, aku mencatat dengan tangan bukan dengan kaki. Meskipun kakiku belum sembuh, aku tetap bisa mencatat dengan cepat. Ppali.”

Aku memulai presentasiku atas proyek baru yang didapat dari Heechul hyung tadi. Heechul hyung mengkoreksi sedikit-sedikit dan Hyejin mencatat semuanya dengan rapi dan detil di notebook-nya. Aku melihatnya sesekali dan menyadari betapa cantiknya ia dengan rambut terurai.

“Okay, segera dirapikan. Besok pagi akan kita rapatkan dengan CEO. Sekarang aku mau menghadap dia lagi untuk kesekian kalinya hari ini. Aku curiga, jangan-jangan dia jatuh cinta padaku,” ujar Heechul hyung dengan gaya metroseksualnya yang menurutku lucu.

“Tidak mungkin. CEO kita cukup waras untuk menemukan wanita pujaannya, bukan laki-laki,” sahutku.

“Ya ya ya. Selesaikan dulu proyek ini baru bicara. Aku tunggu revisi-nya selesai besok pagi,” kata Heechul hyung tanpa bisa dibantah. “Hyejin, kau bantu Kyuhyun menyelesaikan proyek ini ya. Aku pergi dulu. Sampai jumpa besok pagi.”

Heechul hyung meninggalkan ruang rapat dengan aku dan Hyejin yang harus menyelesaikan sebuah proyek dalam waktu semalam. “Kau jadi harus lembur malam ini,” kataku memecah suasana kaku antara aku dan Hyejin yang tinggal berdua di ruangan ini.

“Gwencana. Lagipula Oppa sudah memberiku cuti seminggu lebih. Aku harus melakukannya dengan baik,” katanya penuh dengan semangatt. Ia membuka presentasiku dan memasukkan revisi-revisi Heechul hyung ke dalamnya. Aku memperhatikannya dari samping.

“Oppa,” panggil Hyejin membuatku sedikit terperanjat karena gadis itu sudah berpindah duduk tepat di sampingku. Aku sangat menginginkan berada di dekat Hyejin tapi tampaknya diriku belum terbiasa terlalu dekat dengan Hyejin apalagi hanya berdua. Aku merasa panas dingin dan jantungku berdebar tidak karuan.

“Waeyo, Hyejin-ssi?” Tanyaku sambil berusaha menenangkan jantungku.

“Ini revisian yang diberikan Heechul Oppa sudah aku masukkan semua. Apa ada tambahan lagi?” Tanya Hyejin sambil tersenyum lembut, memberi kehangatan yang sudah tidak lama aku rasakan.

Aku menggeser notebook-nya ke hadapanku dan melihat presentasiku yang sudah direvisi olehnya sesuai arahan Heechul hyung. “Aku rasa sudah cukup. Aku akan menambahkan sendiri beberapa poin lagi nanti. Pindahkan ke notebook-ku ya,” ujarku.

“Ne, akan segera aku pindahkan,” sahut Hyejin yang segera mengcopy presentasiku ke notebook-ku sedangkan aku berkutat dengan kertas coret-coretanku.

“Oppa, apa Amerika menyenangkan?” Tanya Hyejin membuatku mengalihkan konsentrasiku. “Aku penasaran bagaimana rasanya tinggal di negara lain.”

“Kau kan pernah tinggal di China. Aku rasa sama saja,” jawabku.

“Iiih mana sama. Aku kan tinggal di negara yang serumpun dengan negara kita. Kalau Amerika kan beda jauh. Aku mohon berceritalah. Please,” ujar Hyejin memohon dengan ceria, membuatku tidak bisa mengelak.

Aku tersenyum. Hatiku merasakan Hyejin yang baik hati, hangat, ceria dan terasa sangat dekat. “Aku hidup selayaknya mahasiswa. Belajar, main, belajar, main. Tapi aku lebih banyak belajarnya kok. Aku salah satu lulusan terbaik loh,” ujarku.

Hyejin tertawa. “Arra. Arra. Tanpa belajar pun Oppa pasti lulus dengan nilai memuaskan. Otak Oppa itu terlalu encer. You know?” kata Hyejin.

Aku ikut-ikutan tertawa. “Itu waktu SMA. Meskipun kerjaku hanya main-main, aku tetap bisa dapat nilai bagus. Kuliah ternyata jauh lebih berat. Aku pernah tidak tidur 3 hari karena mengerjakan tugas.”

Hyejin menatap penuh curiga, tidak yakin dengan perkataanku. “Tidak tidur mengerjakan tugas? Bukan karena main game?”

“Aku serius. Aku mengerjakan tugas,” kataku mencoba meyakinkan Hyejin.

“Aku percaya. Aku percaya,” kata Hyejin sambil tertawa. “Lalu apa kabar dengan Victoria eonni? Apa Oppa masih bersamanya?”

Seketika atmosfer sekeliling kami terasa beku dan dingin, meskipun Hyejin bertanya dengan ceria. “Aku sudah putus dengannya. Sudah lama sekali,” jawabku.

“Tapi Oppa masih tidak bisa lepas darinya kan?” Pertanyaan paling mematikan yang tidak bisa aku jawab. Aku terdiam.

Hyejin menatapku, terlihat merasa sangat bersalah. “Mianhe,” ucap Hyejin penuh penyesalan.

Aku tersenyum. “Seharusnya aku yang minta maaf padamu.”

“Minta maaf untuk apa?”

“Semuanya. Semua yang telah aku lakukan padamu. Maaf sudah terlalu sering menyakitimu.”

Hyejin tersenyum padaku, senyuman yang seharusnya menenangkanku tapi justru semakin menjerumuskanku ke dalam perasaan bersalah. “Aku sudah melupakannya. Tidak usah dipikirkan. Lagipula itu masa lalu.”

“Sungguh?”

“Sungguh.”

Hyejin benar-benar sudah melupakannya. Seharusnya aku lega tapi yang aku inginkan justru sebaliknya. Aku ingin Hyejin mengingatnya, menuntut permintaan maaf dariku bahkan aku akan bersujud di kakinya untuk mendapatkan maafnya. Aku ingin mendapatkan ganjaran yang sepadan dengan perbuatanku, tidak semudah ini.

“Kau sendiri bagaimana? Bagaimana hidupmu selama 6 tahun ini?” Aku bertanya kepada Hyejin.

“Aku baik-baik saja. Semua berjalan dengan aman dan lancar. Aku punya banyak teman di China, termasuk Kris. Kris banyak membantuku selama aku di sana. Aku melakukan banyak hal. Pokoknya, menyenangkan,” jawab Hyejin. Ekspresinya terlihat sangat bersemangat.

Hatiku lega mendengarnya tapi ada sedikit perasaan ingin tahu apa dia memikirkanku selama itu. Aku tidak bisa menanyakannya.

“Kau pasti tidak rajin belajar ya?”

“Aku lebih banyak bekerja sambilan. Apalagi kalau jadi model. Enak. Lumayan bisa untuk tambahan belanjaku.”

Aku tertawa. “Dasar perempuan. Ngomong-ngomong, siapa pacarmu sekarang? Tidak mungkin gadis secantik dirimu tidak ada yang mau?” Godaku dengan nada bercanda meskipun sesungguhnya ia ingin tahu.

Hyejin tertawa. “Tidak ada.” Aku menatapnya penuh curiga tapi ia hanya tertawa. “Sungguh, Oppa. Aku tidak punya pacar. ”

“Baiklah. Aku percaya,” kataku.

Obrolan kami terasa lebih ringan. Hyejin banyak tertawa dan menanggapi pertanyaan-pertanyaanku dengan santai tapi ada satu saat dimana Hyejin berbicara denganku dengan sangat serius.

“Oppa, boleh aku jujur padamu?” Tanya Hyejin yang kusahut dengan anggukkan kepala. Aku tidak berani menjawabnya.

“Waktu pertama kali aku masuk kantor ini dan bertemu denganmu, aku kaget sekali. Apalagi waktu kau bilang merindukanku lalu memelukku, aku menangis.”

Aku tersenyum lesu. “Aku tahu.”

“Begitu melihatmu, semua kenanganku 6 tahun lalu mengalir begitu saja dan terasa menusuk-nusukku lagi. Aku ingat betapa aku mencintaimu, melakukan segalanya untukmu tapi kau tetap memilih Victoria dan meninggalkanku. Saat itu juga aku ingin resign tapi Kris melarangku.”

“Selama enam tahun aku berjuang melupakanmu dan hanya dalam semenit kau berhasil mengacaukan semuanya. Kau tahu betapa kuatnya cintaku padamu sampai aku harus pergi ke China untuk lari dari bayang-bayangmu?” Lanjut Hyejin lagi.

Aku diam seribu bahasa.

Hyejin menundukkan kepalanya lalu mengusap matanya. Aku tahu ia ingin menangis tapi ia tidak ingin aku melihat air matanya. “Mian. Bukan aku ingin mengenang masa lalu tapi aku hanya ingin Oppa tahu rasa sakit yang kutanggung selama ini. Mianhe, Oppa.” Suaranya makin lama makin mengecil dan bergetar. Ia sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi.

Aku menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. “Mianhe, Hye. Mian. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku akan melakukan apapun yang kau minta agar kau memaafkanku,” ucapku dengan seluruh penyesalan yang membuncah dalam diriku. Aku ingin sekali bisa membuat Hyejin mengerti bahwa aku mengerti rasa sakit yang pernah aku buat dan aku sanggup melakukan apa saja untuk menebusnya.

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Dengan bicara seperti ini aku sedikit lebih lega. Gomawo, Oppa,” katanya.

Aku menatap Hyejin dengan serius. Mataku tidak berkedip sedetikpun menatap matanya. “Aku mohon mintalah sesuatu dariku.”

“Hiduplah bahagia, Oppa,” ujarnya.

Aku menghela nafasku dan kemudian mencium kening Hyejin. “Bagaimana aku bisa hidup bahagia jika kau tidak di sampingku?”

“Maksudnya?” Tanya Hyejin tidak mengerti.

“Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Song Hyejin. Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Percayalah. Aku mohon”

Hyejin menatapku dengan tatapan tidak percaya. “Terakhir kali aku mempercayakan hatiku, Oppa mencabik-cabiknya sampai tidak berbentuk, sampai aku tidak percaya bahwa cinta itu ada,” ujar Hyejin membuatku seperti tertinju tepat di jantungnya. Sakit sekali. Dia menyerangku tepat sasaran.

“Aku telah pernah sekali melakukan kesalahan dan aku tidak mau dibilang bodoh karena melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Permisi.” Tanpa ragu, ia melepaskan pelukanku dan pergi meninggalkanku.

Hyejin berhasil memberikan pukulan telak. Hatiku rasanya sudah remuk redam, tidak bisa merasakan apapun kecuali sakit. Sangat sakit. Otakku tidak dapat berpikir. Aku seperti ingin mati saja saat ini.

—-

Author’s POV

Kyuhyun naik ke lantai paling atas, atap terbuka, tidak untuk menemui siapa-siapa. Dia hanya ingin menyendiri, menumpahkan kesesakkannya, membiarkan air matanya mengalir.

Kyuhyun berdiri menyender pada tower air. Matanya menatap kosong ke arah taman yang berada di bawah gedung kantornya ini. Pikirannya tidak sanggup memikirkan apapun. Ia hanya mampu menangis dan menangis.

Heechul yang melihat Kyuhyun dan mengikutinya sampai ke atap, mendekati Kyuhyun dan merangkulnya dengan erat. “Sudah kubilang kalau ada apa-apa, kau bisa cerita padaku. Tidak usah sungkan,” ucap Heechul penuh empati.

Kyuhyun seperti orang putus asa yang tidak bisa menanggung semuanya sendirian. Ia memeluk Heechul dan menumpahkan kesedihannya di pelukan laki-laki yang sudah ia anggap sebagai saudara kandungnya sendiri. “Tuhan ternyata maha adil. Aku bukan laki-laki paling beruntung di dunia ini. Hyejin tidak mencintaiku. Ottoke, hyung? Ottoke?” Raung Kyuhyun disertai isak tangis yang sangat menyakitkan.

Seumur hidupnya, belum pernah Kyuhyun merasa terpuruk seperti ini. Ini pertama kalinya ia menangis histeris tanpa peduli bahwa ia sedang menangis di pelukan seseorang, meskipun itu sahabatnya sendiri.

Heechul memeluk Kyuhyun dengan erat, mengelus punggung dongsaeng-nya itu untuk memberikan sedikit ketenangan. “Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku tahu rasa sakitmu tapi aku tidak bisa menghiburmu karena kata-kataku nanti akan terdengar klise. Lebih baik kau menangis saja sepuasmu, Kyu. Menangislah untuk ketenanganmu.” Heechul membiarkan Kyuhyun menangis sampai ia merasa jauh lebih baik dan tenang.

“Sudah merasa lebih baik?” Tanya Heechul ketika Kyuhyun sudah berhenti menangis.

“Ne. Gomawo, hyung,” jawab Kyuhyun malu-malu karena ia menangis dengan begitu kencangnya di depan Heechul.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Heechul sambil menawarkan sebotol the dingin kepada Kyuhyun.

Kyuhyun terpaku di tempatnya. Matanya dengan mudah menangkap sosok Hyejin yang sedang masuk ke dalam pelukan Kris. Kyuhyun bahkan dapat menangkap bahwa Hyejin sedang menangis di pelukan Kris. Melihat itu, tidak ada lagi kata-kata yang dapat menggambarkan perasaan Kyuhyun saat ini. Dia merasa begitu terpuruk.

“Kau tidak mau cerita padaku? Siapa tahu kau bisa lebih tenang,” ujar Heechul lagi.

Kyuhyun meneguk langsung sebotol the dingin di tangannya. “Tidak ada yang bisa menyelesaikan masalahku dengan Hyejin.”

“Tapi mungkin dengan berbagi denganku bisa meringankan sedikit bebanmu.”

“Aku bilang pada Hyejin bahwa aku mencintainya dan kau tahu apa yang dia katakan, hyung? Dia tidak bisa mempercayakan lagi hatinya padaku. Itu artinya, dia tidak akan mungkin mencintaiku lagi. Tidak akan mungkin.”

Kyuhyun mengumpulkan seluruh tenaga dari setiap sel-sel tubuhnya untuk mengatakan hal sependek itu. Setelah itu, ia seperti tidak memiliki tenaga sama sekali. Kyuhyun bahkan tidak kuat untuk berdiri. Ia menjatuhkan dirinya ke lantai dan membiarkan kepalanya terkulai di antara kedua kakinya.

Heechul berjongkok di samping Kyuhyun dan kembali memeluk Kyuhyun. “Kyu, kau mau kuberitahu satu hal? Menurutku, jodoh itu sebenarnya ada di tangan kita sendiri. Kalau kita memutuskan ingin bersama seseorang maka kita akan bersama dia. Asal kita berusaha. Begitu juga dengan cinta. Banyak wanita yang berlabuh pada pria yang awalnya tidak mereka cintai. Tapi karena si pria begitu gigih berjuang mendapatkan si wanita maka wanita itu luluh juga. Sudah sifat wanita senang diperjuangkan, senang dicintai. Jadi, tidak ada salahnya kalau kau mencoba membuat Hyejin jatuh cinta lagi padamu kan? Kalau ia bisa melihat betapa kau mencintainya.”

“Masalahnya tidak semudah itu, hyung. Selama ada Victoria di sampingku, Hyejin tidak akan percaya padaku mau sekeras apapun aku berusaha. Dia tidak akan mau memberikan hatinya lagi untukku.”

—-

Hyejin’s POV

Aku langsung menghambur ke dalam pelukan Kris begitu ia datang menjemputku. Air mata yang menggenang sedikit mengaburkan penglihatanku. “Kau kenapa?” Tanya Kris kepadaku. Aku menangkap nada kecemasan di suaranya tapi aku belum bisa bercerita padanya. Aku hanya mampu menangis. Hatiku begitu kacau begitu juga pikiranku. Aku kehilangan kontrol atas diriku. Aku seperti zombie.

“Kau kenapa?” Tanya Kris sekali lagi tapi aku tetap tidak menjawabnya. Aku memeluk Kris dan membiarkan diriku menangis sepuasnya di sana.

“Antarkan aku pulang,” kataku selesai menangis.

Tubuhku terasa sangat lemah. Kris membantuku masuk ke dalam mobilnya. Begitu juga begitu sampai di rumahku, ia memapahku masuk ke dalam kamar, membaringkanku di tempat tidurku dan kemudian menyelimutiku. “Selamat malam,” ucapnya sebelum meninggalkanku.

Aku menarik tangannya agar ia tetap tinggal di sampingku. “Jangan pergi. Aku takut, Kris. Aku takut.”

Kris mengusap keningku. Dengan tenang ia bertanya, “Apa yang kau takutkan? Tenang saja. Ada aku di sini.”

Aku menghela nafas panjang kemudian menceritakan apa yang terjadi antara aku dan Kyuhyun yang memberikan efek sampai separah ini untukku. “Kyuhyun bilang dia mencintaiku. Selama enam tahun ini dia mencintaiku. Dia. Mencintaiku. Aku takut, Kris. Aku takut.”

“Apa yang kau takutkan? Aku sudah berjanji padamu untuk selalu menolongmu kan? Tidak usah takut. Tenanglah.”

“Aku takut jatuh cinta pada Kyuhyun. Aku takut…aku takut masih mencintainya, Kris. Aku takut.”

Aku menatap kosong ke arah jendela kamarku. Aku membayangkan Kyuhyun berdiri memelukku, mengatakan betapa ia mencintaiku dan aku tersenyum bahagia mendengarnya. Sedetik kemudian, aku membayangkan Victoria datang menarik Kyuhyun dan Kyuhyun meninggalkanku tersungkur sendirian berteriak-teriak padanya, memohon kepadanya untuk kembali. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Aku tidak mau.

“Kris, aku mohon jangan biarkan aku sakit hati lagi. Aku mohon. Berjanjilah padaku. Kau tahu aku tidak bisa melewati masa-masa itu dua kali. Aku sudah kehabisan tenaga untuk itu. Aku tidak boleh jatuh lagi, Kris. Iya kan?”

“Tentu saja. Aku tidak akan membiarkanmu. Aku akan menjagamu.” Aku merasa pelukan hangat Kris ke sekujur tubuhku. Pelukan yang selalu dapat menenangkanku. Air mataku seperti mendesak ingin keluar tapi tidak ada lagi air mata lagi yang bisa keluar. Kyuhyun sudah menghabiskannya hanya dalam waktu sejam.

—–

Hope you enjoy! :*