Annyeong!
Ini FF sebenarnya iseng2 aja saking udah boringnya karena gak muncul ide2 spektakular di otak ini. Silahkan dibaca. Semoga pada suka…

Do not forget to comment. Thank youuu…

—-

“Se…hun…aaah… My Baby Sehun…. Se…hun…aaah…” Aku mendengar suaranya memanggil anak buahku yang sedang serius mengerjakan tugasnya. Wanita itu terus memanggilnya tapi pria muda bernama Sehun tidak menyahutnya. Ia tetap serius dengan pekerjaannya. “YAA OH SEHUN!!” Aku mendengar suaranya memanggil lebih keras. Kali ini lebih galak sehingga Sehun dengan terpaksa menanggapi panggilannya.

“Nunaaaaa… Waee?? Aku sedang sibuk nih. Kau tidak lihat?” Sahut Sehun dengan kesal namun tetap fokus pada layar komputer dan kertas-kertas yang berserakan di mejanya.

Wanita itu menatap Sehun dan pekerjaannya dengan tidak nafsu. “Yaaa Oh Sehun, ini kan jam makan siang. Lanjutkan saja nanti. Ayo kita makan siang,” ujarnya sambil menggandeng tangan Sehun, memaksa pria muda itu bangkit dari tempat duduknya.

Sehun menahan tubuhnya agar tetap duduk sampai wanita itu menyerah dan menatap Sehun dengan kesal. “Aku harus menyelesaikannya sekarang. Kalau tidak, aku bisa dimarahi bos-ku. Nuna mau aku dimarahi? Tidak kan?,” ujar Sehun.

Wanita itu menengok ke arahku, menatapku dengan tajam, mencemoohku dengan senyumnya. “Kalau dia berani memarahimu, aku yang akan tanggung jawab. Kau harus makan, Oh Sehun!” Serunya lalu menarik paksa Sehun dari tempatnya tanpa bisa dilawan.

Wanita itu menarik tatapannya dariku dan menarik Sehun keluar ruangan. “Kau boleh bekerja keras tapi kau tidak boleh mengabaikan kesehatanmu! Kau dengar itu, Oh Sehun?!” Aku mendengarnya mengomel kepada Sehun. Tanpa sadar aku tertawa geli.

“Tertawa sendiri. Dasar orang gila!” Tegur temanku, Changmin, yang entah sejak kapan dan darimana tiba-tiba muncul di hadapanku. “Kau sudah makan siang?”

Aku menunjuk bertumpuk-tumpuk folder di atas mejaku. “Tidak ada waktu untuk makan siang. Sorry,” kataku penuh dengan penyesalan.

“Tapi tadi aku lihat Sehun pergi makan siang. Masa anak buah bisa makan siang, bos-nya tidak?” Changmin menatapku dengan heran.

“Kau tidak lihat ia pergi dengan siapa?” Tanyaku.

Changmin membuka mulutnya, tampak mengerti apa maksudku. “Aaah… Wanita itu… Sampai kapan kau akan terus mengalah padanya?”

Aku menggelengkan kepalaku. “Aku tidak pernah mengalah, Shim Changmin-ku tersayang. Dia memang selalu mengalahkanku,” kataku.

“Kau yang membiarkannya selalu mengalahkanmu.” Changmin bersikeras dengan pendapatnya.

Aku tersenyum santai, tidak menghiraukannya. “Terserah apa katamu deh. Yang merasakannya kan aku,” kataku dan kembali mengerjakan pekerjaanku yang tertunda sejak kedatangan wanita itu ke ruangan kekuasaanku.

Changmin menatapku dengan sebal. Dari wajahnya, aku yakin ia ingin sekali mengadu kepalaku dengan tembok di belakangku dan mungkin sambil berteriak, “Sadarlah, Cho Kyuhyun!” tapi tidak dia lakukan demi suatu hubungan bernama ‘persahabatan’.

—-

Aku melihat wanita itu duduk di balik laptop, di sebelah bos-nya sekaligus bos kami semua, President Director Mun Jung Hyuk. Ia duduk dengan santai tanpa beban seolah tidak akan ada yang terjadi di Rapat Besar ini yang diketahui semua orang pasti tidak mungkin terjadi. Rapat Besar disebut Rapat Besar karena CEO Mun akan melakukan sesuatu yang Besar.

“Hyejin-ssi.” CEO Mun membuka suaranya memanggil wanita itu yang merupakan asisten andalannya dan ruangan seketika sunyi senyap. Hyejin membuka bahan presentasi dari laptopnya dan mulai mempresentasikannya. CEO Mun memperhatikan dengan diam begitu juga dengan yang lainnya.

“Cho Kyuhyun-ssi.” CEO Mun memanggil namaku dan Hyejin langsung membuka presentasi bagianku. Aku berdiri, setengah siap setengah ingin melarikan diri dari ruangan ini, memandang CEO Mun yang sedang memandangku dengan tajam. Ia membaca raport bulananku. “Merah. Merah. Merah. Kau mau proyekmu dibubarkan?”

Inilah yang buat aku ingin melarikan diri. Tatapan CEO Mun yang mengerikan seolah menelanjangi kami meskipun ia tidak berkata-kata. “KJ Group menolak tawaran kita. Mereka butuh 50 milyar tapi kita hanya bisa kasih 30 milyar,” ujarku.

“Shim Changmin.” Tanpa menunggu penjelasan lebih panjang dariku, CEO Mun memanggil partnerku dalam urusan risk management bisnis. Reaksi Changmin tidak jauh berbeda denganku saat berdiri tadi. Sedikit gemetaran, ia berdiri menghadapi CEO Mun. “Kenapa kau menolak KJ Group?” Tanya CEO Mun dengan dingin.

“Bukan menolak, sajangnim. Tapi berdasarkan laporan keuangan dan analisis tidak memenuhi perhitungan jadi kami tidak bisa…”

“Aku tahu kalian sangat konvensional,” potong CEO Mun lalu menugaskan Hyejin, asistennya, sebuah tugas khusus, “Besok pagi-pagi sekali kau harus sudah ada di kantor KJ Group. Aku tidak peduli apapun yang kau lakukan pokoknya aku mau mereka kembali ke Bank ini.”

“Ne, sajangnim,” sahutnya lalu menatapku dan Changmin dengan tatapan paling mematikan yang dimilikinya dan kurasa tidak akan pernah hilang seumur hidupnya.

Aku dan Changmin kembali duduk. CEO Mun memanggil manajer lain dan membuka raport bulanan mereka. “Sudah aku bilang, aku tidak pernah mengalah, dia yang selalu mengalahkanku. Ah tidak, kali ini mengalahkan KITA.” Aku menekankan kata ‘kita’ untuk menyadarkan apa yang akan terjadi pada ‘kita’.

—-

Hyejin mendatangi mejaku dengan langkahnya yang paling angkuh, tampangnya yang paling menyebalkan dan satu hal yang paling tidak aku suka, tatapan sebalnya yang mematikan. “Kalian benar-benar merepotkan!” Omelnya tanpa basa-basi kepadaku. Sehun yang berada di dekatku juga kebagian. “Sudah aku bilang padamu agar kau pindah bagian, Oh Sehun. Bos-mu ini tidak berguna. Keberuntungan saja dia belum dipecat.”

Sehun memandang Hyejin dengan ngeri kemudian menatapku dengan memelas. Dari tatapannya aku bisa menangkap apa maksudnya. “Hyung, keluarkan aku.” Kira-kira begitu maksudnya.

Aku mengabulkan permohonan tak terucap Sehun dengan menyuruhnya mencari data di gudang yang padahal aku tidak tahu data apa yang kusuruh cari. Sehun secepat kilat meninggalkan aku berdua dengan Hyejin.

“Jadi, jam berapa kita ke KJ Group?” Tanyaku sesopan mungkin kepada pemegang kunci keberadaanku di Bank ini.

Ia menatapku penuh penghinaan. Aku tidak tahu sejak kapan ia memiliki tatapan itu yang pasti aku membencinya walaupun aku tidak kuasa melarangnya melemparkan tatapan itu kepadaku.

“Kalau bukan karena perintah CEO Mun, aku tidak akan melakukannya!” Jawabnya dengan galak.

Aku tersenyum tipis. “Yaa Song Hyejin, tidak bisakah kita berdamai? Ini sudah 6 bulan berlalu dan kau masih marah padaku?”

“Aku tidak marah. Aku jijik padamu!”

Aku menatap mata Hyejin dan menemukan perasaan yang sama dengan yang aku temukan 6 bulan lalu saat ia pertama kali menemukanku selingkuh dengan wanita lain. Perbuatan paling terkutuk dan aku sesali seumur hidupku.

Flashback on.
Aku mencintai Hyejin sampai dengan level aku akan berusaha membeli bumi jika itu yang dia inginkan tapi aku tidak cukup mencintai diriku sendiri sehingga alkohol begitu mudah mengalahkanku dan membuatku jatuh ke satu-satunya hal yang paling tidak aku inginkan di dunia ini.

Aku mabuk, tidak sadarkan diri, tidak tahu apa yang aku perbuat, aku bangun tanpa apapun melindungi tubuhku, Hyejin datang, melemparkan handphone-nya kepadaku, memaksaku melihat apa yang ia lihat. Sebuah video aku bercinta dengan wanita yang bahkan tidak aku kenal. Aku memandangnya, ia membuang mukanya tapi ia tidak menangis mungkin karena ia tidak ingin menghabiskan air matanya untuk bajingan seperti aku.

Aku melihat video itu lagi dan rasanya aku ingin memutar waktu agar hal itu tidak terjadi. Aku menatap Hyejin lagi penuh penyesalan. Aku ingin menjelaskan semuanya tapi Hyejin sudah menatapku dengan jijik. Ia benar-benar marah padaku yang memang pantas aku dapatkan. “Lupakan apa yang pernah terjadi di antara kita. Aku mencintaimu, sampai 30 menit yang lalu, sebelum video itu datang. Terima kasih. Sekarang, aku membencimu. Aku membencimu sampai dengan level jika hanya kita berdua sisa manusia di muka bumi ini aku akan lebih memilih memusnahkan spesies manusia daripada meneruskan keturunan denganmu!” Apapun yang akan aku katakan pasti akan mental begitu saja. Ia sudah membentengi dirinya dariku.
Flashback off.

Hyejin memandangku, tentu saja dengan pandangan jijiknya yang menyebalkan itu. “Berhenti memandangku seperti itu, Song Hyejin-ssi. Aku risih.”

Hyejin tersenyum sinis. “Kau tidak berhak mengatur ekspresi wajahku, Cho Kyuhyun-ssi,” sahutnya dingin. “Kenapa kau tidak resign saja sih?”

“Jangan harap,” ucapku. Alasanku tidak resign dari Bank ini sangat sederhana : aku hanya ingin melihat Hyejin selama yang aku bisa. Aku tidak peduli betapa ia membenciku, betapa ia ingin mengenyahkanku kapanpun ia mampu atau betapa jijiknya ia ketika menatapku. Aku bisa menerima semuanya asal aku masih bisa melihatnya. “Aku tidak memaksamu untuk kembali padaku tapi jangan paksa aku untuk pergi. Aku akan menjaga jarak tapi aku tidak akan pergi.”

Hyejin masih menatapku dengan tatapan menyebalkannya itu tapi aku bisa mendapatkan tatapan tidak peduli di matanya. “Terserah kau saja lah.” Jawaban terbaik yang aku dengar dari mulutnya.

Aku tersenyum sumringah padanya. “Kita berangkat sekarang. Driverku sudah siap. Kajja,” ujarku lalu berjalan di depannya, menyuruh Hyejin mengikutiku.

Aku selalu memilih Hyejin untuk berada di belakangku atau berhadapan denganku atau berada di sampingku, jangan biarkan aku melihat punggungnya, untuk menekan keinginanku untuk memeluknya dan membisikkan betapa aku masih mencintainya. Aku tidak sanggup menghadapi yang lebih buruk dari ‘terserah kau sajalah’.

—-

Kkeut !!😀