Annyeong! Author kembali dengan cerita baru. Semoga suka dan jangan lupa komen😀

Aku memandangi pantulan diriku yang terengah-engah, berusaha memoleskan sedikit sunblock dan pelembap di wajahku. “Kurasa aku sedikit dari yeoja yang mau bertemu Big Bang namun tidak mandi,” erangku.

Aku berlari keluar kamar, menyambar sepatuku, yang mana saja, yang bisa kusambar. Aku memandang marah ke dua namja yang duduk di ruang makan.

“Kenapa oppa tidak membangunkanku sih?”

“Mian, Jihyo. Kukira kau hari ini tidak ada liputan pagi,” ujar oppaku, kakak kandungku, yang setiap hari adalah orang pertama yang bangun pagi, berolahraga, dan menyiapkan sarapan, Choi Siwon.

Aku meneguk cepat segelas susu yang disiapkan olehnya. “Ayo oppadeul! Aku buru-buru!” desakku menyuruh mereka berdua bergegas.

“Duh Jihyo, 10 menit lagi, aku masih mengantuk,” ujar oppaku satu lagi, yang membenamkan wajahnya mencium kaca meja makan. Pasti dia tidak tidur semalaman lagi gara-gara bermain game.

“Ya! Kyu oppa! Biar aku saja yang menyetir!” aku menarik Cho Kyuhyun berdiri dan menggeretnya keluar pintu apartemen kami.

Siwon oppa mengikuti dari belakang, membawa tas nya dan tas Kyuhyun oppa lalu mengunci pintu. Dia hanya bisa menghela napas, seperti biasanya, menghadapi kekacauan di pagi hari.

Aku, Siwon oppa, dan Kyuhyun oppa tinggal di satu apartemen. Sebenarnya Kyuhyun oppa bukan kakak kandungku. Dia saat kuliah kedokteran dulu satu tahun di bawah Siwon oppa. Mereka berdua bersahabat baik, lalu memutuskan untuk menyewa apartemen, yang tentunya semua biaya sewa dibayar oleh tuan muda Cho Kyuhyun kami. Siwon oppa dan aku, kami berdua sudah tidak mempunyai orangtua, hanya menumpang, namun keterusan hingga sekarang.

Aku berlari begitu melihat pintu lift hampir menutup, aku menahan pintu lift dengan kakiku, yang membuat semua orang hampir berteriak kaget. Sambil setengah berlari mencepol rambut panjangku, aku memasuki lift, mengangguk tersenyum saat melihat tetanggaku, Kang Hamun. Aku bergerak mundur memberi ruang agar Kyuhyun oppa dan Siwon oppa bisa masuk.

Saat pintu menutup, aku teringat dengan handphoneku. Sial, bagaimana bisa kerja nanti kalau tidak ada handphone? Aku merogoh-rogoh tas ranselku, saking paniknya, aku tak sadar terus bergerak mundur, terdorong semakin sempitnya ruangan lift ini. Tiba-tiba saja aku tersentak, aku menabrak orang di belakangku. Aku menengok ke belakang.

Mataku  berkedip tiga kali saat melihat sosok yang aku tabrak, namja. Sepertinya penghuni baru di apartemen, atau tamu yah? Dia tinggi menjulang, hingga aku harus sedikit mendongak. Matanya seperti rubah, hidungnya mancung, dan bibirnya merah walaupun aku tau ia tidak memakai pemerah. Dia memasang tampang ‘ada apa?’ kepadaku. Mataku terus berkedip. ‘Pemandangan bagus pagi ini. Lumayan.’

+++

“Eomma, appa, aku berangkat,” aku berteriak agar kedua orangtuaku mendengar jika aku akhirnya, memaksakan diri, untuk pergi ke kampus. Aku menghela napas berkali-kali hingga sampai ke depan pintu lift.

“Mengapa tugas saat kuliah itu susah sekali ya?” ujarku pada diriku sendiri.

Pintu lift terbuka, aku melangkahkan kaki memasuki lift yang sudah agak penuh. Pintu lift menutup, namun tiba-tiba berhenti bergerak saat dicegat sebuah kaki, iya sebuah kaki. Semua orang di dalam lift tercekat melihatnya, takut kaki itu terjepit. Akhirnya pintu terbuka dan melihat seorang yeoja, beberapa tahun lebih tua dariku, dengan tampang acak-acakan masuk ke dalam lift. Itu Jihyo unnie.

Jihyo unnie, tetanggaku yang tinggal di lantai yang sama, tersenyum padaku, dia sepertinya kelelahan hingga tidak menyapaku seperti biasanya. Aku tau tak lama lagi kedua kakaknya pasti akan menyusul. Betul tebakanku, aku melihat Kyuhyun oppa memasuki lift, dia juga terlihat berantakan. Rambutnya acak-acakan sambil memegang jas dokternya.

Kontras dengan mereka berdua, kakak tertua mereka menjadi orang terakhir yang memasuki lift. Wajahnya terlihat sangat bercahaya. ‘Mengapa Siwon oppa tampan sekali ya?’ pikirku sambil memberikan senyum kepadanya. Ia berdiri di sampingku.

“Anyyeong, Hamun. Kau terlihat sedikit bersemangat. Kau sudah minum vitamin yang aku anjurkan kepadamu ya?” tanya Siwon oppa. Aku menggangguk, sebenarnya berbohong. Aku terlihat, sedikit, bersemangat karena hari ini adalah hari perpisahan dengan dosen killer yang akan meneruskan S3 nya di luar negeri. Paling tidak orang yang suka memberikan tugas susah hingga berlembar-lembar berkurang satu. Sebenarnya aku juga belum beli vitamin yang dianjurkan oleh Siwon oppa karena harganya mahal, huhu.

“Baguslah,” ujarnya kembali memamerkan senyumnya. ‘Demi Tuhan, sepertinya menyenangkan menjadi Jihyo unnie yang setiap hari melihat senyum manis Siwon oppa’. “Nih, aku kemarin membelikanmu sebotol vitamin. AKu takut jika harganya kemahalan untukmu, makanya aku belikan. Ambillah,” lanjutnya.

Aku memandang Siwon oppa dengan tatapan takjub, mengapa Siwon oppa baik sekali sih. Memang sih, ini semua gara-gara tugas kuliahku yang tidak manusiawi. Aku hampir setiap malam harus bergadang, tidak jarang aku tertidur sambil duduk. Nasibku sedih sekali.

“Kau harus minum ini ya Hamun, jangan seperti dua orang itu,” Siwon oppa mengunjuk kedua adiknya, aku terkekeh kecil.

“Baik Siwon oppa, akan aku minum,” jawabku.

Siwon oppa mengacak-acak rambutku. Dulu saat pertama kali ketiga orang itu pindah ke apartemen, aku masih SMP. Berhubung aku anak tunggal dan kedua orangtuaku tak bisa mengajariku karena bekerja hingga malam, aku sering meminta bantuan kepada Siwon oppa dan Kyuhyun oppa karena mereka berdua mahasiswa kedokteran. Setauku sih mahasiswa kedokteran pintar-pintar, setidaknya memang betul terjadi di mereka berdua.

+++

“Aaaaaaakh,” aku mengacak-acak rambutku kesal. Semua orang yang berada di café mengarahkan pandangannya kepadaku. Aku mengangguk meminta maaf. Pabbo Pabbo, Song Hyejin! Kau di lingkungan rumah sakit sekarang!

Eh, tapi apa karena aku di rumah sakit jadi otakku sakit juga ya? Sudah sebulan aku mengobservasi semua hal di rumah sakit ini, serta para pasien anak-anak untuk kebutuhan novel terbaruku. Namun tetap saja aku merasa ada yang kurang, bahkan sejujurnya aku tidak tau apa yang harus aku tulis.

Seorang penulis best seller sepertiku mengalami mandek otak. Ini menyebalkan, apalagi disaat editor mengejar-ngejar, menagih novelku segera diselesaikan. Mereka kira gampang apa menulis beratus-ratus halaman novel?

Aku menengguk kopi hitam di mejaku, lalu kembali termenung mengamati semua gerak-gerik. Aku lalu melirik ke jam tanganku. Ah, pukul 09.55. Sebentar lagi dia pasti akan datang.

Tak lama, aku melihat sesosok namja berjas dokter warna putih datang ke arahku, dia memasuki café dan memesan pesanan favoritnya, Arabica coffee. Aku tau dia dokter, yang aku tau semua orang memanggilnya dokter Cho. Aku sempat beberapa kali berpapasan dengannya saat aku ke ruangan pasien anak-anak. Sejak pertama kali aku datang ke sini, dia selalu akan menyempatkan diri ke café meminum segelas kopi. Apakah pekerjaan dokter memang sangat berat hingga ia seperti itu ya?

Harus aku akui dia dokter tertampan yang pernah aku lihat di rumah sakit ini, ya karena kebanyakan dokter lainnya seumuran appaku. Atau jikalau memang muda dan menarik ternyata ia koas. Ada satu dokter lagi selain dokter Cho yang menarik juga, setauku dia bagian bedah, Dokter Choi. Tapi dia bukan tipeku.

Dokter Cho mengambil tempat duduk yang sama setiap hari, di pojok dekat jendela. Dia menjatuhkan kepalanya ke meja. Sepertinya ia mengantuk sekali. Aku akhirnya memaksakan mataku tak memandangi dokter tampan itu lagi, aku memakukan penghilatanku keluar café, tempat orang-orang berlalu lalang. Aku melihat seorang ayah dan ibu tergesa-gesa membawa anaknya berdarah-darah. Sudah sebulan aku melihat pemandangan seperti ini.

Tak lama aku melihat seorang dokter muda, yah lumayan cantiklah, dengan rambut coklat diikat ekor kuda datang ke arah café. Aku sudah tau adegan selanjutnya, dokter-lumayan-cantik itu menghampiri dokter Cho dan memasang tampang cemas.

“Gwenchana?” tanya si dokter yeoja itu.

“Hmm, gwenchana,” jawab dokter Cho mengangkat kepalanya. Aku tidak mengerti dengan mereka berdua. Masa iya sepasang kekasih? Jika iya, mengapa dokter Cho selalu bersikap dingin padanya?

“Aku sedang tidak ingin diganggu Seohyun. Urus saja pasien-pasienmu. Aku bukan pasienmu,” jawab dokter Cho, yang kini malah memandang ke arahku, aku langsung pura-pura menatap laptopku, takut ketahuan aku menguping pembicaraan mereka. Namun aku tau pasti bagaimana reaksi dokter Seohyun itu. Kulihat ia sudah berjalan keluar café tanpa dokter Cho.

“Huh, apa seharusnya aku mengganti cerita saja yah untuk novelku menjadi kisah percintaan antara dokter?”

+++

Aku memijit kepalaku yang pusing. Ini semua gara-gara ShinAe, kalau dia tidak mengajakku minum soju kemarin malam, aku pasti tidak akan pusing seperti ini.

Aku melihat pintu ruanganku dibuka, aku membetulkan posisi dudukku. Aku harus segera bisa mengatasi pusingku saat ini. Masuklah seorang yeoja, kuprediksi usianya 60 tahun masuk bersama seorang namja yang jauh lebih muda darinya, sepertinya usianya 30an awal.

Mereka semakin mendekatiku, dan aku bisa melihat dengan jelas wajah namja itu. Dia terlihat amat dewasa, dan lucunya menarik. Aku bisa membayangkan jika aku berdiri disampingnya, aku pasti seperti anak kecil, dia tinggi sekali.

Eh tunggu, apa jangan-jangan mereka ini sepasang suami istri? Mungkin saja sih, zaman sekarang sudah biasa jika ada namja lebih muda yang menikahi yeoja lebih tua, apalagi sepertinya nyonya itu terlihat kaya sekali. Atau ini selingkuhannya?

“Silahkan duduk,” ujarku kepada mereka. Asistenku masuk memberikan berkas kepadaku. “Mmh, Tuan dan Nyonya Mun.”

“Nona Park, tolong bantu anakku ini. Usianya sudah kepala 3, tapi dia belum menikah. Haduh dia membuatku pusing! Pacar saja tidak punya! Dia bilang dia tertarik dengan pria!” nyonya Mun terus berbicara kepadaku tanpa henti. Ah, jadi ini anak lelakinya ya. Haha, kurasa otakku masih dipenuhi efek soju hingga berpikir mereka suami istri.

Aku memandang lekat tuan Mun, mengobservasinya. Dia memakai jas yang mahal, sepertinya dia seorang yang kaya. Wajahnya menunjukkan ekspresi malas dan kekesalan. Ini pasti karena dia kesal dibawa eommanya pergi ke psikolog sepertiku. Kini dia berbalik menatapku, sepertinya tau juga aku sedang mengamati gerak-geriknya.

“Eomma, aku bilang kan jika jodohku nanti pria, ya aku akan menyukainya. Bukan berarti aku suka pria,” ia memutar bola matanya seperti anak kecil.

Oiya, aku Park MinAh. Aku seorang psikolog yang saat ini masih berusaha mengatasi pusing karena kemarin malam aku minum berbotol-botol soju menemani sahabatku, ShinAe, yang sedang patah hati karena tiba-tiba saja tunangannya memutuskan pertunangan. Tidak di pekerjaan, tidak di kehidupan sosial, aku selalu berurusan dengan masalah percintaan.

Aku mengembalikan fokusku, aku bisa melihat Nyonya Mun tak memperdulikan anak lelakinya. “Kumohon nona Park. Tolong sembuhkan anakku ini. Aku sudah tidak bisa menanganinya”

Aku memberikan senyum terbaikku, “Tuan Mun, apa kabar?” Akhirnya aku memutuskan untuk berbicara dengannya.

“Kabarku tidak baik. Ibuku aneh menyeretku menemui psikolog hanya gara-gara aku belum menikah padahal dia sendiri yang menyuruhku mengurus jaringan hotel keluarga kami. Huh sungguh pelik,” dia memijit dahinya, aku tau dia berpura-pura lelah.

“Sebenarnya aku tidak tertarik melanjutkan sesi konseling ini. Biar cepat, bagaimana kalau kau menjadi istriku, nona Park?” Kini aku memandangnya dengan aneh. Aku tau ekspresi ini.

Dia tidak berbohong, malah sangat serius mengatakan kalimat itu.

+++

“Kau mengajak psikologmu menikah?” Aku tak bisa mengontrol suaraku lagi. Aku memandang bos ku dengan tatapan ngeri. Dia memberikan tawa yang menyebalkan kepadaku.

“Serius! Habis dia cantik sih,” jawab CEO Mun kepadaku. Jika saja dia bukan bos ku, aku pasti sudah memukul kepalanya yang tidak waras.

“Lalu reaksinya bagaimana?” Mau tidak mau aku akhirnya penasaran dengan ceritanya. Aku sambil menyiapkan beberapa berkas untuk rapat selanjutnya.

“Dia bilang sampai bertemu di sesi selanjutnya, hahaha,” CEO Mun merapihkan jas nya dan melangkah keluar, aku mengikutinya.

Aku tidak mengerti lagi dengan bos ku ini, 3 tahun bekerja menjadi sekretaris untuknya dan aku semakin yakin sebenarnya ada anak kecil berusia 5 tahun terperangkap di tubuhnya yang berusia 35 tahun ini.

“Jadwal selanjutnya apa, HyunAh?” Tanyanya. Aku mengecek iPadku. “10 menit lagi pertemuan dengan seluruh karyawan hotel,” jawabku singkat. Aku mengecek kembali emailku saat aku melihat ada email masuk.

“Ya! Eric Mun! Kau memecat Chef Song?” Aku menghentikan langkahku, meminta penjelasan darinya. Mengapa dia baru men-cc-kan email ini kepadaku hari ini padahal dia sudah memberhentikan Chef Song seminggu yang lalu.

“Makanannya tidak enak,” jawabnya cepat.

“Kau memecat Chef yang sudah berpengalaman selama 20 tahun. Biar kutebak, ini karena Chef Song pilihan nyonya Mun, iya kan?”

Dia memberikan senyum jahilnya. “Aigoo, kau paling mengertiku, sekretarisku yang cantik. Mengapa bukan kau saja yang menjadi istriku?”

Aku memberikan tampang malas, “Aku bisa lekas mati jika menikahimu.” Aku tau CEO Mun bercanda. Dia senang sekali menggoda yeoja. Dulu sebelum aku menjadi sekretarisnya, tak ada satu pun sekretaris yang tahan digodanya dan akhirnya semuanya mengundurkan diri hanya dalam waktu 3 bulan.

“Aku sudah merekrut chef baru, dia masih muda, tapi prestasi internasionalnya panjang sekali. Makanannya enak. Kalau tidak salah dia semuruan denganmu. Haduh, kenapa sih anak muda zaman sekarang sangat hebat?” CEO Mun berbicara seolah umurnya sudah sangat tua renta.

Aku melihat file Chef baru itu, namanya Henry Lau. Nama itu tak terdengar asing untukku. Dimana aku pernah mendengarnya ya?

+++