“Woobin-ssi, kita break dulu. Tolong ganti baju untuk tema selanjutnya,” ujar fotografer-nim. Aku tersenyum mengangguk. Aku baru saja berjalan menuju ruang ganti, saat fotografer itu memanggil satu nama yang sejak aku datang ke gedung ini aku cari-cari.

“Jihyo-ah! Wajahmu kusut sekali!”

Aku melihat perempuan yang tadi pagi aku temui di lift datang mendekat ke arahku. Aku bisa melihat wajahnya yang bahkan tidak terlihat kusut. Dia lebih cantik dibandingkan pagi hari tadi. Mungkin karena rambutnya yang diikat berantakan kini sudah tertata rapi terurai. Kini ia juga telah memoleskan make up ke wajahnya sehingga tak terlihat baru bangun tidur lagi seperti tadi pagi.

“Oppa, Queen Jung sedang ada maunya,” ujar perempuan itu dengan cepat. Ia kini melihatku, sedikit terkejutan tergambar di wajahnya. Aku tersenyum kepadanya, membungkuk memberikan salam. Ia membalas salamku, dan tetap mematung.

“Choi Jihyo-ssi kan?” tanyaku. Ia mengangguk.

“Tunggu sebentar,” aku sedikit berlari menuju ruang ganti, mengambil id press dan juga id masuk ke gedung miliknya yang tadi jatuh di lift. Untungnya dia masih mau menungguku, dia tetap memasang tampang kebingungannya, yang menurutku sangat lucu, walaupun ekspresi tengilnya saat ia hampir saja menjepit kakinya sendiri di dalam lift juga lucu.

Aku menyerahkan id press dan id kantornya kepada perempuan yang bernama Jihyo itu. Ia masih memandangku dengan tatapan takjub. “Kau menemukannya?” Ia tertawa miris. “Gara-gara ini aku tadi hampir saja tidak bisa masuk ke kantorku sendiri, hahahah.”

“Oiya, terima kasih, uhm,” ucapan Jihyo menggantung, aku tau dia sedang berpikir siapa namaku. “Kim Woobin,” jawabku.

“Terima kasih, Woobin-ssi. Kurasa ini pasti jatuh saat tadi sedang mencari handphoneku. Huh hari ini benar-benar kacau,” cerocosnya. “Ehm, kurasa aku baru pertama kali bertemu denganmu di lift.”

“Aku baru saja pindah ke apartemen tiga hari yang lalu. Kurasa karena itu kau baru pertama kali bertemu denganku tadi pagi,” jawabku.

“Oh,” Jihyo menggigit bibirnya, oh Tuhan, dia lucu sekali seperti itu. Kenapa perempuan ini daritadi terlihat lucu dari segala tingkahnya sih, membuat aku ingin menyimpannya di kamarku, tapi nanti bisa dikira menculik anak orang. “Lalu mengapa kau ada di sini? Dan penampilanmu berbeda dengan tadi pagi. Kau terlihat amat dandy.”

Aku tertawa, dia banyak sekali mengajukan pertanyaan untukku, dasar jurnalis. “Aku sedang ada pemotretan di sini.”

“Serius? Kau model untuk majalahku?” tanyanya, kini bola matanya membulat, lebih besar seperti anak kecil melihat permen. Aku mengangguk. Memang aku hari ini ada pemotretan di majalah lifestyle terkenal di Korea, dan kebetulan, perempuan ini tak sengaja menjatuhkan id press dan id kantornya di dalam lift, yang ternyata dia adalah salah satu jurnalis di majalah ini.

“Jihyo! Kau dipanggil Princess Jung tuh!” ujar salah satu namja dari balik ruangan di ujung sisi lantai ini. Perempuan di hadapanku tiba-tiba saja menghela napas panjang dan mengerang. “Tidak bisa apa dua bersaudara itu berhenti memanggilku! Woobin-ssi, kurasa aku harus pamit. Sampai jumpa!” Jihyo setengah berlari menjauhiku.

Kurasakan handphoneku bergetar, ada pesan masuk. Aku tertawa saat mengetahui siapa si pengirim pesan. Segera aku ketikkan balasan di handphoneku.

Aku bisa diwawancara, namun aku punya satu syarat.

+++

“Jadi, bisa tolong ceritakan tentang diri anda, Tuan Mun?” tanya psikolog cantikku yang sejak tadi hanya memasang tampang datar. Ayolah, dia terlihat lebih menawan saat dia menunjukkan ekspresi kagetnya di pertemuan pertama sesi konseling minggu kemarin.

“Mmmh, namaku Eric Mun. Lahir Amerika Serikat. Ayahku seorang pengusaha, ibuku sosialita, kakak-kakak perempuanku sudah menikah, tinggal aku saja, si magnae tampan yang belum menikah. Aku rasa aku menarik, rupawan, dan menggoda,” aku memasang tampang semanis mungkin. Psikologku menghela napas panjang.

“Ibumu memaksa kau untuk segera menikah ya, Tuan Mun,” ucap psikolog itu dari bibirnya yang dipoleskan lipstick warna vintage red itu. Mmh, apa ya mereknya? Bobbi Brown? Seleranya menarik.

“Aku sih sebenarnya ingin menikah, tapi aku belum menemukan pujaan hatiku, nona Park. Sudah sih, hanya saja dia masih jual mahal padaku,” aku mengamati papan nama di mejanya, Park MinAh, begitu isi tulisannya. Kenapa di meja psikolog ada papan nama seperti di mejaku sih? Bahannya sama pula, dari kayu. Aku harus mengganti papan namaku agar lebih terlihat ekslusif, tidak pasaran.

“Nona Park, sepertinya aku harus berhenti bermain-main. Kau kan dibayar eommaku untuk menyelesaikan masalahku. Dan kau sebenarnya tau caranya kan?” aku memancingnya. Dia akhirnya bereaksi, wajahnya terlihat agak bingung.

“Tuan Mun, aku percaya bahwa ibumu sebenarnya menginginkan yang terbaik untuk anaknya,” jawabnya berdiplomasi. Aku sudah sering menghadapi diplomasi seperti ini di dunia bisnis. Masa aku harus mendengarkannya juga psikologku?

“Nona Park, aku tau eommaku menyayangi putra satu-satunya ini. Tapi dia menuduhku gay! Itu menyakiti hatiku. Oiya, ngomong-ngomong dimana toiletnya nona Park?” tanyaku. Ia tersenyum kecil dan memberitahukan letak toilet yang tak jauh dari ruangannya. Aku bangkit dan meminta izin untuk ke toilet. “Kau tidak ingin ikut bersamaku nona Park?” Entah mengapa aku biasa menggoda perempuan. Bukan maksudku untuk melecehkan mereka ataupun tidak menghormati mereka, namun aku suka ekspresi perempuan saat digoda, menurutku sangat menarik.

Aku segera pergi ke toilet dan kembali ke ruangan nona Park, aku masih melihatnya dengan posisi duduk yang sama saat aku meninggalkannya tadi.

“Kau tidak pegal apa duduk seperti itu?” tanyaku. Ia menggeleng. Aku benar-benar tidak suka ke psikolog, seolah-olah mereka berusaha membuka diriku satu per satu hingga aku telanjang. Tapi aku tidak apa-apa sih kalau telanjang di depan psikolog secantik ini, hahaha.

“Jadi nona Park, kau betul-betul mau membantuku tidak?” Aku melihatnya menggangguk. “Tuan Mun, kuharap kau bisa koperatif denganku sehingga aku bisa membantumu,” jawabnya. Aku menggeleng, kurasa dia yang seharusnya kooperatif denganku.

“Oke, kalau begitu mulai saat ini berhentilah menjadi psikologku, sudah aku bilang kan aku tidak butuh psikolog, aku butuh kekasih yang bisa aku jadikan menantu kesayangan eommaku. Besok kau ada acara? Bagaimana kalau makan siang bersamaku? Aku traktir!”

+++

Aku menengguk Arabica coffee ku sekali lagi. Sampai kapan sih aku bisa berhenti bermain game hingga menyita waktu tidurku? Tidak, game adalah penghubungku dengan dunia anak-anak, aku adalah dokter anak, jadi aku tidak boleh berhenti main game titik. Aku menegakkan dudukku, memperhatikan jika sewaktu-waktu Seohyun datang menghampiriku, tentu saja aku kali ini akan langsung pergi.

Seohyun adalah mantan pacarku dulu saat kami masih kuliah. Hubungan kami memang sedikit agak lama berjalan, hampir dua tahun. Namun aku tidak ingat mengapa aku memutuskannya. Kenapa ya? Kurasa waktu itu karena dia melarangku bermain game dari malam hingga bertemu pagi. Dia bilang game bisa mengganggu fungsi otakku dan membuatku tak bisa belajar. Aku ini Cho Kyuhyun, aku ini genius, jadi tidak perlu lagi belajar, huh.

“Aaaaaaaakh!”

Aku langsung menengok ke arah sumber suara teriakan itu, yang setiap hari aku dengar saat aku minum kopi di sini. Seorang perempuan dengan rambut acak-acakan. Aku kira awalnya dia adalah salah satu keluarga pasien di sini. Namun, setelah kuperhatikan sudah satu bulan ia selalu duduk di tempat yang sama dan selalu berteriak seperti itu. Dia bukan pasien rumah sakit jiwa yang lepas kan?

Aku bisa melihat dari kejauhan Seohyun mengarah ke sini. Sial, aku harus segera pergi sebelum Seohyun menghampiriku. Namun sepertinya tidak ada kesempatan lagi untuk kabur karena dia sudah melihatku.

“Annyeonghaseyo, dokter Cho?” tanya perempuan yang hobi berteriak itu tiba-tiba sudah berdiri di sampingku. Aku melihat langkah Seohyun berhenti, ia berbalik menjauhiku.

“Ne,” jawabku. Terima kasih nona aneh yang suka berteriak, kau hari ini menyelamatkanku. “Maaf, anda mengenalku?”

Perempuan itu menggaruk rambutnya, membuat semakin acak-acakan. Untung kau cantik, atau tidak kau mungkin sudah ditangkap oleh para perawat dan dimasukkan ke ruangan kejiwaan. “Mmh, aku Song Hyejin, aku sedang menulis novel tentang pasien anak-anak di sini.”

“Oh,” aku meneguk kopiku. Tiba-tiba saja otakku jadi encer kembali, aku menyemburkan kopiku, membuatnya kaget. “Kau Song Hyejin? Penulis novel terkenal itu? The Truth About Heart itu?”

Aku ingat. Jihyo pulang malam sekali waktu itu. Aku hingga harus menjemputnya karena maagnya kambuh. Sepanjang perjalanan dia terus menceritakan hasil liputannya, wawancara ekslusif dengan si penulis novel dan bagaimana peluncuran novel itu. Aku ingat Jihyo terus mengerang kesakitan namun ia juga terus memaksaku membaca buku itu. Hasilnya, semalaman aku membaca buku karya perempuan di hadapanku ini dan keesokan harinya aku memborong semua novelnya.

“Ne. Kau tau novelku?” tanyanya. Dia memandang mejaku yang basah akibat kopi yang aku semprotkan. Aku segera mengelapnya dengan tissue lalu mempersilahkannya duduk.

“Aku penggemar tulisanmu, dongsaengku juga. Ada yang bisa aku bantu?”

+++

Hari pertamaku di hotel ini, CEO Mun pernah bilang kepadaku aku boleh melakukan apapun di kitchen. ‘Kitchen daerah kekuasaanmu, kau CEO nya’ begitu CEO Mun pernah mengatakan kepadaku, yasudah.

Dan di sinilah aku, memasang music kesukaanku melalui earphoneku, tersenyum pada semua peralatan masakku “Annyeong, yorobeun. Aku senang melihat kalian semua!”

Aku melihat seluruh orang di kitchen memandang aneh kepadaku. Memangnya mereka belum pernah berbicara dengan peralatan dapur apa. Bagiku, peralatan dapur itu seperti bola untuk Kapten Tsubasa, mereka adalah teman, titik.

Aku mulai memasak makanan, hari ini CEO Mun khusus memintaku untuk memasak menu makan siangnya. Hari ini ia meminta western food. Itu keahlianku, sebagian besar hidupku aku habiskan di Canada, jadi masalah taste bukan masalah, yang terpenting adalah mood, dan moodku sedang baik hari ini.

“Omo!” Aku bisa mendengar suara kekagetan itu, aku mencopot earphoneku, menoleh ke arah perempuan yang baru saja datang, dan berteriak kaget melihatku.

“Sekretaris Jung!” pekikku senang. Sejak hari pertama aku bertemu dengannya, sejak CEO Mun memperkenalkanku dengannya, aku selalu merasa senang, karena akhirnya ada orang seumuran denganku. Aku bosan selalu dikelilingi orang tua, ya! Aku ini masih muda, aku perlu bersosialisasi.

Sekretaris Jung melihatku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ada yang salah ya? Aku memakai topi chefku kok, ya hanya saja hari ini aku sedang memakai kaos kuning bunga-bunga dengan celana pendek abu-abu dan sneakers putih. Iya, iya, aku juga memakai kaos kaki sepakbola sebetis. Tapi ini kan supaya aku tidak kedinginan di dalam kitchen.

“Kau baik-baik saja sekretaris Jung?” tanyaku bingung. Dia juga melihatku bingung. Ia mengambil napas panjang lalu mengerutkan dahinya.

“Kau biasa masak seperti ini?” tanyanya. Aku mengangguk.

“Kau diperbolehkan memasak seperti ini?” ia bertanya kembali, aku mengangguk kembali “CEO Mun memperbolehkanku, kok.”

“Mengapa aku punya bos seaneh itu sih,” Sekretaris Jung tiba-tiba saja berjongkok, ia mengepalkan tangannya.

“Kau kenapa, Sekretaris Jung?”

“Aku tidak tau berapa lama lagi aku bisa tahan di perusahaan ini,” keluhnya.

Aku menggembungkan pipiku, kalau Sekretaris Jung mengundurkan diri, berarti aku akan berteman dengan orang-orang tua dong. “Kau tidak boleh berhenti pokoknya, Sekretaris Jung! Aku akan memastikan kau terkurung bersamaku di tempat ini!”

+++

“Kau ini jangan terlalu dengan dekatnya sih, oppa,” Jihyo menyendokkan semangkuk nasi untukku. Tumben dia jam segini sudah pulang, biasanya dia pulang selalu larut malam.

“Memangnya kenapa? Dia kan sudah seperti dongsaengku sendiri, seperti kau,” Aku mengambil fried chicken masakanku sendiri. Lalu menyendok sup buatan Jihyo.

“Kau yakin kau menganggapnya sebagai dongsaeng sendiri? Aku tidak percaya,” Jihyo mengamatiku dengan seksama. Aku memasang tampang tidak tau.

“Baiklah, memangnya kenapa kalau aku suka dengan Hamun, ada masalah?” tanyaku.

“Tentu ada,” Jihyo menggebrak meja makan. “Dia itu masih anak kuliahan, oppaku tersayang. Kalau kau hanya ingin main-main dengannya, aku sarankan kau urungkan saja niatmu. Dia itu tetangga kita. Aku tidak mau kalau nanti ada masalah apa-apa orangtua menggedor-gedor pintu apartemen kita, titik.”

Aku tersenyum. Sebenarnya dongsaengku ini terlalu berlebihan. Aku memang benar-benar menganggap Hamun seperti adikku sendiri, sama seperti Jihyo. Sejak pertama kali aku pindah ke apartemen ini, Hamun selalu minta diajari oleh aku dan Kyuhyun. Hanya saja semenjak ia masuk SMA, ia jarang menemuiku dan Kyuhyun. Ia bersekolah di sekolah khusus putri yang memiliki asrama. Dia tinggal di asrama, dan sejak saat itu aku jarang melihatnya. Baru saat ia lulus SMA dan masuk ke universitas aku sering melihatnya kembali, dan harus aku akui bahwa dia jauh berbeda dari Hamun kecil yang dulu sering merengek memintaku mengerjakan tugas rumahnya.

“Dia mulai gila,” Jihyo mengaduk-aduk supnya sebelum memakannya. Ia memasang tampang ingin membunuhku saat melihat aku senyum-senyum sendiri.

“Kemarin aku membelikannya vitamin,” ujarku jujur yang langsung dihadiahi lemparan sendok dari adikku tercinta ini.

“Kau tidakk mencampurnya dengan racun kan? Atau obat pemikat kan? Atau ramuan apapun kan?” aku bisa melihat jelas horror tergambar jelas di wajah Jihyo, aku tertawa, dia terlalu sering menonton film bertema sci-fi.

“Tidak, nona Choi. Berhentilah bersikap paranoid! Kau ini, memangnya tidak suka jika akhirnya kakakmu yang tampan ini akhirnya tertarik dengan perempuan?”

“Suka sih, tapi Hamun kan masih kecil oppa, dia sudah seperti adikku sendiri. Aku sih sebenarnya tidak apa-apa, ,tapi beneran deh jangan jika kau hanya bercanda saja-“

Ting tong!

Aku dan Jihyo sama-sama menengok ke arah pintu. Aku memandang Jihyo dengan tatapan ‘Siapa yang datang malam-malam begini?’ dan adikku membalas dengan tatapan ‘Tidak tau’.

Aku meletakkan sumpitku dan berjalan menuju pintu, membukakan pintu untuk orang yang malam-malam begini berkunjung ke apartemen kami.

“Annyeong, Siwon oppa. Ini ada sedikit masakan eomma untuk Siwon oppa, Kyuhyun oppa, dan Jihyo unnie!”

Jihyo benar, kurasa aku beneran suka dengan anak kecil.

+++