Klakson mobil di halaman sudah berbunyi nyaring berkali-kali. Jihyun membuka jendela dan kemudian berteriak pada Jinhyuk yang sudah menunggunya di bawah, “Tunggu sebentar!!! Appa-mu masih sibuk berdandan!!!”

“Suruh cepat!! Aku tidak mau terlambat ke sekolah!!!” Balas Jinhyuk dengan teriakan yang tidak kalah keras.

Jihyun berbalik pada pria yang sedang menata rambutnya dengan teliti di depan cermin. Ini sudah menit ke dua puluh dua sejak pria itu menyentuh rambutnya pertama kali. Jihyun terpaksa berteriak kepadanya, “APPA! Mau sampai kapan di depan cermin?! Aku dan Jinhyuk sudah terlambat tahu!!”

Pria itu memberikan sentuhan terakhir pada rambutnya kemudian tersenyum kepada anak gadisnya yang sedang berdiri dengan kedua tangannya yang melipat di depan dada dan menatapnya kesal. “Kajja,” ujar pria itu dengan lembut. Ia menggandeng tangan Jihyun untuk bersama-sama keluar menuju mobil, tempat Jinhyuk sudah menunggu.

Jihyun masuk lebih dulu diikuti oleh appanya. Baru terdengar bunyi pintu mobil ditutup, Jihyun sudah mengomel, “Appa!!! Buat apa sih berdandan? Ini kan cuman pertemuan orang tua murid! Eomma saja tidak pernah berdandan setiap datang ke sekolah.”

“Eomma-mu itu tidak usah berdandan juga sudah cantik, sayang,” sahut Kyuhyun dengan santai sambil membelai rambut anak gadisnya itu.

Jihyun mencibirkan mulutnya. “Cih! Kalau tidak ada orangnya memuji-muji. Kalau ada orangnya, ribut terus.”

Kyuhyun tertawa kecil. “Tapi kau tidak tahu kan apa yang kami lakukan setelah ribut-ribut?” Ujar Kyuhyun diiringi senyuman jahilnya membuat Jihyun menggelengkan kepalanya tidak percaya. Ia tidak percaya bagaimana pria aneh ini bisa menjadi ayahnya dan yang lebih parah, menjadi idola para orang tua teman-temannya. Tidak sedikit teman-temannya yang juga mengidolakan ayahnya.

“Aku tidak mau tahu! Pokoknya nanti kalau Appa kegenitan, akan aku laporkan kepada Eomma! Awas kalau Oppa kecentilan sama teman-temanku di sekolah! Apalagi ibu-ibunya!”

“Mwo? Hey! Appa tidak kegenitan. Appa hanya punya pesona yang terlalu kuat sehingga wanita-wanita itu selalu datang kepada Appa. Apa itu salah Appa?”

Jihyun menyipitkan matanya, memandang Kyuhyun dengan kesal. “Jinhyuk-ah, sms eomma sekarang. Bilang kalau Appa sangat menyebalkan. Appa mau menggoda para wanita dengan berdandan berlebihan. Awas kalau ada yang kau edit!” Perintah Jihyun yang tentu saja langsung dilaksanakan oleh Jinhyuk yang notabene paling nurut pada kakak perempuannya itu.

Kyuhyun menghela nafas lalu menghembuskannya kembali dengan kasar. “Baiklah. Baiklah. Appa tidak akan kegenitan. Appa akan bersikap cool di sekolah, tidak tersenyum, tidak menyapa, berjalan lurus ke depan, tidak tengok kanan, tidak tengok kiri. Tapi kalau para wanita itu tetap menggoda Appa, bukan salah Appa ya?” Kyuhyun bernegosiasi dengan kedua anaknya sebelum mereka benar-benar memberitahukan eomma mereka. Berurusan dengan eomma kedua anak itu jauh lebih merepotkan dibandingkan dengan anak-anaknya.

Jihyun tersenyum puas. Jinhyuk menyimpan kembali handphone-nya. “Jadi aku tidak perlu mengirimkan sms untuk eomma kan, nuna?” Tanya Jinhyuk kepada Jihyun.

“Tidak perlu. Eomma pasti sedang sibuk mengurus Kihyun Oppa yang mau kuliah S2. Aku bingung kenapa sih harus jauh-jauh ke Jerman hanya untuk kuliah spesialis kebidanan?! Errrgh! Kihyun Oppa!!! Lihat saja nanti kalau dia kembali ke Korea, akan kuhajar dia! Berani sekali meninggalkan kita berdua. Kau setuju kan, Jinhyuk-ah?”

“Ne, nuna,” jawab Jinhyuk singkat. Dia tidak terlalu peduli sebenarnya. Jinhyuk dan hyung-nya berbeda 10 tahun, bisa dibilang hubungannya tidak terlalu dekat. Saat Jinhyuk lahir, Kihyun sudah sibuk sekolah meskipun masih sekolah dasar. Saat Jinhyuk sudah remaja dan masa-masa bermain, Kihyun sudah sibuk kuliah kedokteran sehingga jarang ada waktu menemani Jinhyuk.

“Gomawo anak-anakku yang baik,” ucap Kyuhyun berterima kasih karena mereka tidak jadi melapor yang aneh-aneh kepada eomma mereka.

Kyuhyun lalu mengecek semua gadget yang dimilikinya, belum ada pesan berarti sehingga dia bisa menghadiri pertemuan orang tua di sekolah Jihyun dengan tenang. “Jadi pertemuan nanti akan membahas apa?” Tanya Kyuhyun.

“Masa depan anakmu yang cantik ini, Appa. Mereka akan menanyakan apa kau mengetahui anakmu mau kuliah apa, dimana, bagaimana, apa kau mendukungnya, apa eomma mendukungnya,” jawab Jihyun dengan rinci.

“Memang kau mau kuliah apa?” Tanya Kyuhyun lagi membuat Jihyun benar-benar putus asa melihat appanya.

“Mwooo?! Appa tidak tahu?! Yaak!!! Appa macam apa Appa ini?! Haisssh! Seharusnya aku menunggu sampai eomma pulang saja!!! Heiiisssh!”

“Appa hanya tahu kau tidak terlalu suka sekolah. Kau lebih suka melenggak lenggok di atas catwalk atau di depan kamera atau jadi pajangan di toko-toko. Memangnya kau butuh sekolah model lagi? Kau kan sudah yang paling jago!” Kyuhyun mengacungkan kedua jempolnya kepada Jihyun sambil menyengir bangga kepada anaknya itu.

“Hisssh! Appa ini memang tidak tahu apa-apa. Aku sudah ngobrol panjang lebar dengan eomma. Aku mau kuliah bisnis saja. Kalau ditanya guruku, bilang Appa setuju ya. Awas kalau tidak!”

Kyuhyun tertawa dan mencubit pipi Jihyun dengan gemas. “Jangan marah-marah terus. Nanti cepat tua loh. Masa baru umur 15 tahun sudah keriput-keriput. Gimana mau punya pacar?” Goda Kyuhyun.

Jihyun melepaskan pipinya dari tangan Kyuhyun. “Aku sudah punya pacar tahu!” Seru Jihyun kesal.

“Oh ya? Nugu?” Kyuhyun memasang wajah terkejut yang sangat menyebalkan membuat Jihyun terpaksa ganti mencubit kedua pipi Appanya.

“Kau lupa laki-laki super manis yang pernah mengantarkanku pulang ke rumah sehabis peresmian hotel baru keluarga Kang di Gwangju, Appa?”

“Nugu? Lee Dongjoo?” Tanya Kyuhyun tetap dengan wajahnya yang menyebalkan. Jihyun menganggukkan kepalanya dengan mantap, senyumnya terbentang lebar di wajahnya. Namun dengan cepat Kyuhyun berhasil menggantikan senyuman itu jadi cibiran kesal. “Aku kira dia korban penyiksaanmu. Ternyata dia pacarmu ya?”

“APPA!!!” Seru Jihyun dengan geram membuat Kyuhyun tertawa-tawa puas. “Bagaimana bisa kau mengatakan itu kepada putrimu sendiri?! Kami itu saling mencintai tahu!”

“Ah, masa? Appa rasa dia hanya takut padamu. Kau itu kan sangat menakutkan!”

“APPA!!!!” Teriak Jihyun sebal tidak lupa memberikan cubitan kecil menyakitkan pada perut Kyuhyun yang rata tapi tidak six packs tersebut.

“Awwwww!!! Sakit, Cho Jihyun-ssi. Tega sekali sih!”

“Lagian Appa juga ngomongnya sembarangan. Aku mencintai Dongjoo Oppa, dia juga mencintaiku. Tidak ada yang bisa memisahkan kami. Kalau Appa tidak setuju, aku mau kawin lari saja.”

Kyuhyun kembali tertawa keras. “Appa sih tidak melarang. Keturunan Lee Donghae itu selalu baik kok. Appa hanya meragukan benar-benar ada pria yang jatuh hati pada anak perempuan Appa ini,” goda Kyuhyun. Jihyun memandang Appa-nya dengan tatapan paling mematikan yang tentu saja dia dapatkan dari Kyuhyun sendiri.

“Nuna kalau sudah di depan Dongjoo hyung tidak segarang ini, Appa. Dia langsung melunak seperti ikan presto. Dia akan bertingkah seperti gadis-gadis pada umumnya, tidak pernah berteriak dan jalannya sangat anggun. Appa pasti ingin muntah kalau melihatnya. Kapan-kapan aku mau bilang pada Dongjoo hyung kalau ia sedang pacaran dengan wanita berkepribadian ganda,” ujar Jinhyuk tiba-tiba berakibat sebuah jitakan keras di kepalanya.

“YAAK CHO JINHYUK! Aku tidak berkepribadian ganda! Aku hanya bertingkah sebagai gadis. Kalau di depan Appa, kau dan Oppa aku bermanja-manja seperti itu, aku yakin kalian akan menindasku habis-habisan. Aku tidak mau! Enak saja.”

Kyuhyun tertawa mendengar alasan Jihyun kemudian menghentikannya ketika handphonenya berbunyi tanda istri tercintanya menelepon. “Yeoboooooo!!!” Seru Kyuhyun begitu melihat wajah istrinya di layar handphonenya.

Jihyun mengambil bedak di tas sekolahnya. Ia memilih untuk merapikan rambut dan dandanannya dibandingkan melihat kedua orang tuanya yang sebentar lagi pasti akan ribut tapi tak lama kemudian bermesraan tidak karuan yang membuat orang-orang di sekitarnya hanya punya dua pilihan : muntah atau pingsan. Jinhyuk memilih memasang earphone dalam-dalam ke telinganya dan kembali bermain game.

Sebuah mata muncul dalam kaca spion yang bertengger di kap mobil bagian dalam. Mata itu menatap Kyuhyun, Jihyun dan Jinhyuk dengan bingung secara bergantian. “Maaf. Permisi tuan dan nona. Kita mau kemana?” Tanya si pemilik mata yang merupakan supir keluarga Cho.

Mata Kyuhyun, Jihyun dan Jinhyuk seketika membelalak. “Jadi dari tadi kita belum jalan?” Tanya Kyuhyun dijawab sebuah anggukan serba salah dari supirnya.

“YAAAA AHN JAE HYUN-SSI!!!! AKU SUDAH TERLAMBAT KE SEKOLAH!!!!! TANCAP GAS MU SEKARANG!!!!” Teriak Jihyun yang saking kesalnya sampai mengguncang-guncangkan tubuh Jae Hyun berulang kali. Kyuhyun menarik Jihyun agar duduk kembali ke tempatnya sedangkan Jinhyuk berusaha melindungi Jae Hyun agar tidak tersentuh nunanya.

“Mm..mi..mian,” ucap Jae Hyun yang buru-buru menginjak gas dan membawa tiga anggota keluarga Cho itu ke sekolah Jihyun dan Jinhyuk.

Kkeut!