Annyeoooong yeorobuuuuun!
ini ff baru lagi dgn cast Kyujin, my fave couple ever! Semoga suka yaaaa… jgn lupa komen… hihihi..
Hope you enjoy!

*****

Cuit. Cuit. Cuit. Cuit.

Kyuhyun memandang burung gereja yang sedang bertengger di pagar balkon kamarnya. Burung kecil itu terus bernyanyi meskipun sinar matahari dengan kuat menjemurnya menembus bulu-bulu hitam kecoklatannya. Kyuhyun memandang burung gereja itu sampai makhluk mungil itu terbang mencari tempat bertengger berikutnya.

Kyuhyun baru sebulan ini menempati apartemen yang dimiliki oleh Changmin, sahabatnya. Kyuhyun memilih apartemen Changmin karena apartemen itu sangat dekat dengan rumah sakit dan lebih dekat dengan apartemen kekasihnya serta kafe tempat kekasihnya itu biasa menghabiskan waktunya. Selain itu, sewa apartemen ini gratis.

“Aaaaah, aku masih ngantuk,” gumam Kyuhyun sambil menarik tinggi selimutnya sampai menutup dagunya. Ia lalu mengambil handphonenya untuk menghubungi kekasihnya, Song Hyejin.

“Kau dimana?” Tanya Kyuhyun tanpa basa-basi begitu Hyejin mengangkat teleponnya.

“Di kafe,” jawab Hyejin membuat Kyuhyun menegakkan tubuhnya, menjatuhkan selimutnya di tempat tidur.

“Mwooo?! Sepagi ini? Untuk apa?!” Seru Kyuhyun dengan panik seolah Hyejin akan melakukan sesuatu yang membahayakan dengan berada di kafe.

“Aku harus segera menyelesaikan novelku. Otakku tidak berjalan lancar kalau tidak di kafe ini,” sahut Hyejin sambil mengetikkan ide-idenya ke dalam laptopnya.

Uhuk. Uhuk. Uhuk! Uuuuhuuuuk!! Kyuhyun mengeluarkan suara batuk dari tenggorokannya. Ia kemudian menarik ingus dalam hidungnya. Srot! Srot! Srooooot! Srot!!

“Kau kenapa? Sakit?” Tanya Hyejin.

Kyuhyun menggosok-gosokkan hidungnya dengan telapak tangannya. “Ne… Aku demam karena kehujanan semalam. Kepalaku sakit. Hidungku mampet. Aku lemas sekali,” keluh Kyuhyun dan kembali batuk.

“Kau sudah minum obat?”

“Pagi ini belum. Aku tidak kuat untuk membuat sarapanku sendiri.”

Hyejin buru-buru menyimpan naskah novelnya sebelum mematikan laptopnya. “Aku akan ke apartemenmu sekarang membawakan sarapan. Obatmu masih ada kan? Istirahat saja dulu.”

“Neeee,” jawab Kyuhyun lalu mematikan handphonenya. Sambil tersenyum jahil, Kyuhyun menatap foto Hyejin yang menjadi wallpaper handphone-nya. “Got you!”

Kyuhyun memakai sweater dan celana long john paling tebal yang ia miliki. Ia juga tidak lupa memakai kaus kaki untuk membuat dramanya semakin sempurna. Ia kemudian membuka pintu kaca menuju balkon kamarnya. Dengan berdiri di sana, ia dapat melihat Hyejin sedang memasuki gedung apartemennya.

Kyuhyun buru-buru menutup pintu balkonnya, mengatur suhu AC kamarnya menjadi yang paling dingin dan kemudian meringkuk di atas tempat tidur dengan selimut menutupi sampai ke bawah hidungnya. Ia harus menutupi mulutnya yang ingin membuka lebar, tertawa terbahak-bahak.

Hyejin muncul tidak lama kemudian dengan sekantung makanan di kedua tangannya. Ia buru-buru duduk di samping Kyuhyun, menaruh bawaannya di lantai kemudian mengecek suhu tubuh Kyuhyun dengan tangannya.

“Demammu sudah turun?” Tanya Hyejin yang tidak merasakan panas tubuh Kyuhyun. Kyuhyun berada pada suhu normal.

Kyuhyun menganggukkan kepalanya. “Tapi aku belum sehat. Aku masih menggigil dan flu,” kata Kyuhyun kemudian mulai batuk-batuk dan menarik ingusnya yang tidak pernah ada.

Hyejin menyisir rambut Kyuhyun ke belakang membuat kening pria itu terekspos jelas. “Aku akan menyiapkan sarapan dan obatmu. Kau istirahat saja di sini ya,” ujar Hyejin kemudian pergi ke dapur dengan makanan-makanan yang dibawanya.

Kyuhyun menurunkan selimutnya dan tersenyum jahil begitu Hyejin keluar dari kamarnya. Ia kemudian mengambil handphonenya untuk menghubungi Siwon.

“Hyuuung, aku tidak masuk hari ini. Aku tiba-tiba kena flu gara-gara kehujanan kemarin. Tolong beritahu Changmin dan susterku ya. Gomawo, hyung…” Ucap Kyuhyun dan langsung mematikan sambungan dengan Siwon meskipun pria itu belum mengucapkan satu patah kata pun.

Tidak sampai 10 detik kemudian, handphone Kyuhyun berbunyi. Changmin yang meneleponnya. Siwon pasti sudah menyampaikan pesannya. “Changmin-aaaaah!!” Seru Kyuhyun dengan girang kepada sahabatnya itu.

“Kata Siwon hyung kau sedang sakit tapi aku ragu. Kau terdengar sangat sehat,” ujar Changmin.

Kyuhyun kembali batuk-batuk dan bermain dengan hidungnya yang seolah mampet. “Aku sedang demam, Changmin-ah tapi aku punya perawat pribadi sekarang. Gomawooo sudah meminjamkan apartemenmu padaku. Dia jadi lebih dekat mengunjungiku. Sampai jumpa!!” Seru Kyuhyun dan langsung memutuskan sambungan dengan Changmin. Kyuhyun tersenyum puas.

Hyejin masuk dengan membawa nampan berisi semangkuk samgyetang panas dan sebotol air mineral hangat. Kyuhyun segera menegakkan tubuhnya sehingga ia duduk bersandar pada kepala tempat tidurnya dengan kaki menyelonjor santai. “Kau harus makan dulu sebelum minum obat,” kata Hyejin sambil meletakkan nampan itu di buffet di samping tempat tidur Kyuhyun.

Hyejin lebih dulu meniup samgyetang yang dibawanya sebelum disuapkan ke mulut Kyuhyun. “Bagaimana bisa sih kau kehujanan semalam? Kau tidak bawa payung? Tidak pakai jas hujan? Aku kan sudah mengingatkanmu semalam,” omel Hyejin sambil menyuapi Kyuhyun.

Kyuhyun hanya menyengir lebar. “Aku tidak kepikiran. Semalam ada anak kecil kecelakaan. Rumah sakit meneleponku. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke rumah sakit.”

“Iya tapi kau jadinya sakit kan? Kalau kau sakit bagaimana dengan nasib-nasib pasienmu? Kau jadi tidak bisa memeriksa mereka kan? Apa sih susahnya menarik payung dari guci di samping pintu depan?”

Kyuhyun kembali menyengir lebar mendengar omelan Hyejin yang tidak berhenti sampai ia menelan suapan samgyetang terakhirnya. “Kau harus minum obat,” kata Hyejin menyodorkan sebuah obat flu dan antibotik ke hadapan Kyuhyun.

Kyuhyun mengambil obat itu dan menelannya dengan bantuan air. “Sebutir obat flu dan antibiotik tidak akan membunuhku,” pikir Kyuhyun dengan santai meminum obat yang seharusnya tidak perlu ia minum.

“Jangan tidur dulu. Makananmu belum turun,” ujar Hyejin sambil menyelimuti Kyuhyun kemudian membereskan peralatan makan Kyuhyun.

“Kau mau kemana?” Tanya Kyuhyun melihat Hyejin pergi meninggalkannya.

“Ke dapur. Kau mau mencuci piring ini sendiri?” Sahut Hyejin disambut gelengan kepala oleh Kyuhyun. “Kalau begitu, istirahat saja dulu ya. Jangan cerewet. Aku juga mau membereskan apartemen ini. Berantakan sekali.”

Hyejin melangkahkan kaki ke luar dari kamar Kyuhyun dan mulai membereskan apartemen Kyuhyun, menyulapnya dari kotor dan berantakan menjadi bersih mengkilap dan rapi. Ia kembali ke kamar Kyuhyun setelah selesai.

“Kau tidak tidur lagi?” Tanya Hyejin melihat Kyuhyun yang masih duduk tegak berselonjor dengan selimut menutupi sampai ke pinggangnya, posisi yang tidak berbeda jauh pada saat Hyejin meninggalkannya tadi.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Ia menepuk-nepuk sisi kosong tempat tidurnya, menyuruh Hyejin untuk mengisinya. “Sebentar. Aku mau mengambil laptopku dulu,” kata Hyejin.

Hyejin duduk di sebelah Kyuhyun dengan laptop yang baru mulai menyala di atas pangkuannya. Dengan manja, Kyuhyun mendekati Hyejin, menautkan lengannya dengan lengan Hyejin dan merebahkan kepalanya di bahu Hyejin. “Kau sedang buat novel apa? Aku mau baca,” ujar Kyuhyun yang tidak digubris Hyejin.

Hyejin membuka naskah novelnya dan menggesernya sampai halaman terakhir ia meninggalkannya. “Hyejin-aaaah. Kau sedang buat novel apa? Aku mau baca,” rengek Kyuhyun mengulang permintaannya.

“Ini belum selesai, sayang. Baru kerangka dasarnya,” jawab Hyejin dengan sabar.

“Lalu tentang apa? Tentang aku lagi? Atau apa? Mahasiswa? Artis? Kisah cinta romantis lagi kan?”

Hyejin menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Kyuhyun. “Tapi kali ini tentang Chef jadi aku mengulas banyak makanan di dalamnya. Untung, ada yang mengenalkan seorang Chef yang sangat baik padaku.”

“Nugu? Apa aku kenal? Apa dia tampan? Dia Chef dimana? Kalian sudah pernah bertemu? Dia tidak menggodamu kan?” Tanya Kyuhyun bertubi-tubi.

“Wae? Kau cemburu?”

“Tidak. Tapi awas kalau kau jatuh cinta padanya!”

Hyejin tertawa kecil mendengar ancaman Kyuhyun. “Jangan tertawa. Aku serius. Aku tidak akan tinggal diam kalau kau jatuh cinta padanya,” kata Kyuhyun dengan wajah seriusnya membuat Hyejin tertawa lebih keras.

“Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya, Cho Kyuhyun-ssi. Aku sudah memilikimu jadi buat apa aku jatuh cinta padanya?”

“Siapa tahu dia menggodamu? Kau jangan mau! Kau harus ingat bahwa aku sangat mencintaimu dan tidak ada yang bisa membahagiakanmu kecuali aku! Ingat ya!”

Hyejin mengangguk-anggukkan kepalanya mendengarkan semua peringatan Kyuhyun kepadanya. “Hyejin-ah…”

“Iya, aku ingat. Aku tidak akan lupa,” sahut Hyejin memuaskan Kyuhyun yang pantang tidak mendapat jawaban atas semua permintaannya.

“Mana mungkin aku lupa kalau ia menghubungiku sejam sekali dan mengatakan ‘aku mencintaimu’ setiap sebelum menutup teleponnya,” pikir Hyejin dalam hati.

Kyuhyun mengeratkan tautan lengannya di lengan Hyejin dan semakin mendekatkan hidungnya dengan leher Hyejin. “Aku suka parfummu,” bisik Kyuhyun sambil menghirup wangi Hyejin dari balik telinga gadis itu.

“Aku tidak pakai parfum,” sahut Hyejin cuek. Ia sudah tenggelam bersama laptop dan ide-ide dalam otaknya.

“Lalu? Hanya sabun?” Tanya Kyuhyun dengan hidung yang belum terlepas dari balik telinga Hyejin.

“Kurasa begitu,” jawab Hyejin. “Kau mau mencobanya?”

“Sabunnya? Atau dirimu?” Goda Kyuhyun yang sudah mulai bergerilya menciumi tengkuk Hyejin.

Hyejin tertawa. “Sabunnya lah, sayang.”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya membuat kumis dan jenggot tipis yang belum sempat dicukur menggelitik tengkuk Hyejin. “Aku lebih tertarik dengan dirimu,” bisik Kyuhyun.

Kyuhyun mengenyampingkan rambut Hyejin sehingga membuat sisi tubuh Hyejin yang menghadapnya terekspos jelas. “Kau tahu kenapa aku bisa jatuh cinta padamu?” Tanya Kyuhyun sambil membelai pipi Hyejin dengan lembut, menikmati setiap inci kulit gadis itu.

Hyejin menggelengkan kepalanya. Ia tetap fokus pada pekerjaannya sambil mendengarkan setiap ocehan Kyuhyun dengan telinganya. “Karena kau berbeda dengan wanita lainnya. Kau tidak pernah tergoda denganku jika sudah berurusan dengan novelmu. Aku selalu kalah untuk memenangkan fokusmu. Aku jadi selalu penasaran.”

“Kalau wanita lain pasti langsung jatuh dalam godaanmu ya?” Sahut Hyejin yang tidak dipungkiri Kyuhyun. “Dasar pria penggoda. Sudah berapa banyak korbanmu?” Lanjut Hyejin santai.

Kyuhyun menatap intens wajah Hyejin meskipun gadis itu tidak balas menatapnya. “Yaaa!!! Seumur hidup aku hanya tiga kali pacaran. Kau yang terakhir dan paling menyebalkan.”

“Waee?” Tanya Hyejin sambil tertawa. “Aku pikir aku sangat menyenangkan.”

“Tidak. Kau sangat menyebalkan,” kata Kyuhyun lalu mencium pipi Hyejin. “Lihat! Bagaimana bisa kau tidak bereaksi sedikitpun padahal aku baru saja menciummu?”

“Hahahahahhaa. Aku menikmatinya kok. Sungguh. Tapi ide-ide di kepalaku ini tidak bisa dipotong hanya untuk meladeni ciumanmu.”

Kyuhyun mendengus kasar. “Lihat! Sejak kapan kau punya begitu banyak ide meskipun sedang tidak berada di kafe tercinta itu? Pasti sejak kau memutuskan memperbolehkan aku masuk ke dalam hidupmu kan? Aku banyak membantumu dalam menciptakan suasana-suasana romantis di dalam novelmu. Berterima kasihlah sedikit paling tidak dengan menegokku dan memberikan sedikit senyuman.”

Hyejin menghentikan ketikan di laptopnya, menyimpan naskahnya sebelum ia menengok menatap Kyuhyun dan memberikan senyuman lebar. “Gomawo, kekasihku tersayang,” ucap Hyejin kemudian mengecup kedua pipi Kyuhyun dan kembali sibuk dengan laptopnya.

Kyuhyun tersenyum lebar. Ia mencium bibir Hyejin meskipun sedetik kemudian Hyejin mendorongnya. “Aku tidak mau ketularan flu. Aku tidak boleh sakit tahu. Penerbit itu terus menerus mengejarku,” omel Hyejin dan disambut tawa renyah Kyuhyun.

“Aku akan langsung menyembuhkanmu kalau kau sakit,” kata Kyuhyun.

Kyuhyun mengubah posisinya. Kini ia memeluk Hyejin sepenuhnya dari samping. Kedua tangannya melingkar di pinggang Hyejin dengan kepala menghadap Hyejin dalam jarak sangat dekat. Hidung dan bibir Kyuhyun sudah menyentuh perbatasan antara pipi dan telinga Hyejin.

“Apa kabar Minho? Pasien kecilmu yang suka lari-lari itu. Apa dia sudah sehat?” Tanya Hyejin tiba-tiba teringat salah satu pasien Kyuhyun yang jadi favoritnya setiap datang ke rumah sakit.

“Dia sudah sehat. Aku sudah memperbolehkannya pulang 2 hari lalu tapi dia harus rutin kontrol ke rumah sakit seminggu sekali,” jawab Kyuhyun yang belum mengubah posisinya sama sekali. Tampaknya ia terlalu menikmati wangi Hyejin yang menguar tajam ke hidungnya.

“Aku suka anak itu. Lucu sekali dan pintar,” ujar Hyejin tanpa mengganggu tulisannya yang sedang membahas karakter Chef yang menjadi karakter utama dalam novel terbarunya.

“Aku juga suka anak itu tapi aku lebih suka anakku nanti. Pasti lebih lucu dan lebih pintar. Iya kan?” kata Kyuhyun begitu percaya diri.

“Kalau pintar aku yakin karena otakmu yang cemerlang mungkin akan menurun tapi kalau lucu aku tidak yakin. Kau tidak ada lucu-lucunya menurutku,” sahut Hyejin membuat Kyuhyun gemas.

Dengan pelan, Kyuhyun menggigit daun telinga Hyejin. “Yaa!! Sudah kubilang kau boleh melakukan apapun kecuali menggigit. Aku tidak suka,” protes Hyejin.

Kyuhyun segera meminta maaf sekaligus membela diri. “Kau sangat menggemaskan. Aku tidak tahan,” ujar Kyuhyun lalu mencium Hyejin entah untuk keberapa kalinya.

“Oh ya, apa Changmin baik-baik saja di Incheon? Kapan dia akan kembali?” Tanya Hyejin membiarkan Kyuhyun bermain-main dengan rambutnya.

“Entah. Yang pasti saat dia kembali, dia tidak bisa menempati apartemen ini,” jawab Kyuhyun membuat Hyejin tertawa.

“Kau jahat sekali. Bagaimanapun ini kan tetap apartemennya,” sahut Hyejin sambil tertawa.

“Aku akan membelinya. Aku tidak sejahat itu ya… Enak saja.”

“Aku pikir.”

Kyuhyun menghentikan tangan Hyejin dan memaksa gadis itu untuk menoleh kepadanya. “Aku tidak bisa jauh darimu,” ujar Kyuhyun lalu mencium kening Hyejin dengan lembut.

“Aku tahu. Aku juga merasakan hal yang sama,” sahut Hyejin kemudian kembali memalingkan wajahnya kepada novelnya.

Kyuhyun menutup laptop Hyejin dan membuat gadis itu berteriak histeris kepadanya, “AKU BELUM MENYIMPANNYA!!!”

“Ada auto-recovery. Tenang saja,” kata Kyuhyun dengan santai lalu menyingkirkan laptop itu dari hadapan Hyejin dan menggantikannya dengan dirinya.

Kyuhyun berpindah duduk di hadapan Hyejin, melipat kakinya dan menatap Hyejin dengan serius. “Aku benar-benar tidak bisa jauh darimu,” ucap Kyuhyun dengan serius membuat Hyejin bingung.

“Aku tahu. Karena itu kau pindah ke apartemen ini kan?” Tanya Hyejin.

Kyuhyun meletakkan kedua tangannya di bahu Hyejin, menghela panjang nafasnya sebelum bicara serius dengan Hyejin. “Aku ingin kita menikah. Dasar telmi. Aku mencintaimu dan ingin selalu bersamamu. Kau merasakan hal yang sama kan? Kalau kau menolak, kau berarti ingin membunuhku.”

Hyejin menatap langsung ke dalam mata Kyuhyun dan seketika tertawa. “Jangan bercanda, Cho Kyuhyun! Kau sedang melamar seorang wanita untuk menjadi istrimu. Di tempat tidur? Agar kau bisa langsung menidurinya begitu kau mendapatkan jawaban ‘YA’?”

Kyuhyun mencubit pipi Hyejin dengan gemas. “Aku harus meralat ucapanmu tadi. Aku sedang melamarmu bukan seorang wanita sembarangan. Yang kedua, iya, aku ingin meniduri-MU. MU! Bukan NYA! Aku ingin dirimu, bukan yang lain. Tapi kalau kau tidak mau, aku bisa menunggu tapi aku mohon jangan tolak aku.”

Hyejin menarik wajahnya dari genggaman Kyuhyun, memasang wajah cemberut paling jelek yang dimilikinya. “Meskipun aku juga sangat menginginkannya, aku tidak mau! Apa-apaan melamarku di atas tempat tidur dengan selimut berantakan, sweater dan lengkap dengan bantal-guling. Otakmu pasti sedang tidak normal.”

“Memangnya kenapa?” Tanya Kyuhyun dengan polos.

“Yaaaak!!! Melamar itu harusnya dilakukan dengan romantis! Gaun dan jas yang bagus, makan malam enak, atau apa kek yang romantis. Bukan begini. Tidak! Tidak! Aku tidak mau!” Hyejin berkali-kali menggelengkan kepalanya untuk menolak lamaran Kyuhyun yang menurutnya sama sekali tidak romantis.

“Jadi kau tidak mau menikah denganku?” Tanya Kyuhyun. Hyejin menggelengkan lagi kepalanya. “Baiklah,” lanjut Kyuhyun kemudian menyingkir dari hadapan Hyejin. Ia kembali berlindung di bawah selimutnya dengan tubuh yang terbaring memunggungi Hyejin.

“Yaa!! Kyuhyun-aah! Oppa!” Seru Hyejin sambil menggoyang-goyangkan tubuh Kyuhyun agar berbalik menghadapnya. Namun, Kyuhyun tidak bergeming sama sekali. Hyejin menggoyang-goyangkan tubuh Kyuhyun sekali lagi, memohon ia membalik tubuhnya.

“Ayolaaaaaah, jangan merajuk seperti itu. Aku tidak menolak menikah denganmu. Aku hanya ingin kau meralat lamaranmu. Aku ini wanita. Aku ingin lamaran itu juga jadi memori yang menyenangkan. Apa aku salah? Kyuhyun-ah… Oppa…”

Kyuhyun baru membalik tubuhnya ketika Hyejin hampir menangis di belakangnya. Kyuhyun mengusap mata Hyejin sambil tersenyum. “Baiklah. Aku akan mengulang lamaranku nanti, gadis cengeng. Tapi kau mau menikah denganku kan?”

Hyejin menganggukkan kepalanya. Kyuhyun tertawa gemas lalu kembali duduk untuk menarik Hyejin ke atas pangkuannya lalu memeluk erat wanita yang paling dicintainya itu. “Kau mau aku melamarmu seperti apa? Humm? Katakan saja… Akan aku kabulkan.”

“Mana aku tahu. Aku ingin sebuah kejutan. Kau pikir saja sendiri lamaran seperti apa yang kira-kira mengejutkanku. Aku ingin sebuah kejutan. Ingat!”

“Kau memang benar-benar lain daripada yang lain. Aku harus memeras otak kalau begitu,” ujar Kyuhyun menghela nafasnya membuat Hyejin tertawa.

“Kau kan melamarku hanya sekali. Momen-momen sekali seumur hidup itu harus dibuat seindah mungkin tahu… Jangan pasrah begitu dooong…”

“Iya, iya. Aku akan memikirkannya. Sekarang lebih baik kau diam. Aku mau menciummu,” perintah Kyuhyun lalu menjaga kepala Hyejin dengan kedua tangannya. Sekali. Dua kali. Kyuhyun mengecup bibir Hyejin dan kemudian menciumnya, melumatnya tanpa melepaskannya meskipun hanya satu detik. Ciumannya pun semakin dalam dan tidak mau terlepas ketika tangan Hyejin memeluknya lebih erat seolah melarangnya untuk beranjak pergi.

—-

5 months later…

Kyuhyun sudah hampir 20 kali berputar-putar di ruangannya sambil memijit-mijit kepalanya sambil bergumam kebingungan, “Ottoke? Ottoke? Apa yang harus aku lakukan? Haissssh!!! Apa susahnya sih dia bilang maunya apa , bagaimana? Haissssh!!!” Kyuhyun mencoba duduk untuk menenangkan pikirannya namun tidak berhasil. Ia kembali berputar-putar mengelilingi ruangannya.

“OPPA!” Teriak Hamun kesal yang sudah pusing melihat kelakuan dokter yang merupakan mentornya yang hanya berputar-putar dan berputar-putar bukannya membagi ilmunya dengan Hamun.

“Aduuuh Hamun. Aku lagi pusing. Kenapa tidak belajar dengan Siwon hyung saja sih? Aku benar-benar tidak bisa membantumu saat ini,” kata Kyuhyun.

“Memangnya kenapa sih? Masalah Hyejin eonni lagi? Kenapa dia sekarang?” Tanya Hamun yang sudah hafal masalah pelik hidup Kyuhyun tidak pernah jauh dari Hyejin.

Kyuhyun duduk di sofa di hadapan Hamun. Dia menyampirkan jas putih kebanggaannya sebagai seorang dokter. “Aku benar-benar di ujung tanduk sekarang. 5 bulan lalu aku melamar Hyejin di apartemenku. Dia bilang tidak romantis jadi dia ingin aku mengulangnya tapi sampai sekarang aku belum mendapatkan ide akan melakukan apa. Ottoke, Hamun-ah? Aku bingung.”

Hamun mendesah putus asa melihat Kyuhyun yang tiba-tiba menjadi bodoh jika sudah berurusan dengan hal-hal romantis. “Oppa sudah nonton film? Baca novel romantis? Baca internet atau apapun yang bisa jadi referensi cara melamar yang romantis?” Tanya Hamun.

“Sudah. Tapi aku belum menemukan yang pas. Aku tidak mau melamar dengan cara biasa atau yang sudah pernah dilakukan orang-orang. Apa kau ada ide, Hamun-ah?”

“Hummm… Kapan peluncuran novel baru Hyejin eonni?” Tanya Hamun.

“2 minggu lagi. Kenapa?”

Hamun membisikkan idenya kepada Kyuhyun, menjelaskannya setiap detilnya dengan jelas, membuat Kyuhyun tersenyum lebar. “Kau memang benar-benar pintar, Hamun-aaaah!! Tidak sia-sia Siwon memacarimu! Aku mencintaimu!!!” Seru Kyuhyun girang lalu memeluk Hamun penuh terima kasih.

“Ingat, kau tidak boleh menghubunginya selama 2 minggu ini. Ingat!” Ujar Hamun memperingatkan.

Kyuhyun mengacungkan jempolnya dan tersenyum dengan penuh keyakinan. “Aku akan menjalankannya dengan baik. Gomawo, Kang Hamuuun!!!”

Selama 2 minggu, Kyuhyun benar-benar tidak menghubungi Hyejin. Setiap Hyejin menghubunginya pun, Kyuhyun hanya menjawab seadanya. Sampai-sampai Hyejin marah besar kepadanya dan tidak mau menghubungi Kyuhyun lagi. Kyuhyun hanya tertawa-tawa setiap Hyejin memarahinya. Ia terlalu sibuk mengatur setiap detil rencana lamarannya sampai hari H dilaksanakannya.

Kyuhyun berhadapan dengan 3 orang fans Hyejin yang sedang mengantri untuk mendapatkan novel baru Hyejin sekaligus tanda tangan penulisnya. “Aku mau minta tolong kepada kalian,” ujar Kyuhyun sambil memberikan masing-masing satu pena kepada ketiga orang itu. “Jangan sampai tertukar. Aku mohon kalian jangan lupa menyampaikan pesanku padanya. Ya?”

Kedelapan orang itu mengangguk paham dan menjalankan permintaan Kyuhyun. Fans pertama yang dimintai tolong oleh Kyuhyun, maju menyodorkan novelnya kepada Hyejin.

“Kepada siapa harus aku tulis?” Tanya Kyuhyun dengan ramah.

“Kepada I,” jawab fans itu singkat. Tangannya agak gemetaran.

“Kepada I?” Tanya Hyejin lagi dengan heran.

Fans itu menganggukkan kepalanya. Hyejin pun menuliskan ‘Dear I’ di halaman depan novel terbarunya kemudian membubuhkan tanda tangannya. “Ini untukmu,” kata fans itu sambil memberikan sebuah pena dari Kyuhyun lalu terburu-buru pergi saking gugupnya.

Hyejin melihat fans-nya dengan heran kemudian ia melihat pena yang baru diberikan kepadanya. Ia membaca tulisan kecil-kecil yang terukir di sana.

‘I. I promise to be there when you need me. I promise to hug you tight when you’re lonely. I promise tou wipe your tears when they fall and I promise to keep you, not for the rest of my life but the rest of yours.’

“Sweet,” gumam Hyejin lalu menaruh pena tersebut di sampingnya.

Fans kedua Hyejin maju dengan novel yang sudah terbuka lebar di tangannya. “Untuk siapa?” Tanya Hyejin ramah seperti biasa, pertanyaan standar sebelum membubuhkan tanda tangannya.

“Love. Tulis saja dear Love,” kata gadis itu dan Hyejin menurutinya. Hyejin menuliskan ‘Dear Love’ untuk gadis itu dan kemudian memberikan tanda tangannya.

“Gomawo. Ini untukmu, eonni.” Gadis itu memberikan sebuah pena berikutnya kepada Hyejin. “Gomawo,” ucap Hyejin sebelum gadis itu pergi.

‘Love. I may not get to see you as often as I like. I may not get to hold you in my arms all through the night. But deep in my heart, I truly know you’re the one I love and I can’t let you go.’

Hyejin tersenyum membaca tulisan di pena itu. “Double sweet,” gumam Hyejin.

Fans selanjutnya sudah berada di depan Hyejin dengan 5 buah buku di tangannya. “Eonni, aku tahu ini akan merepotkanmu. Jadi aku sudah memberikan nama-nama di buku ini sehingga kau tidak perlu repot-repot menuliskan namanya. Boleh kan kau menandatangani 5 bukuku?” Pinta gadis itu dengan memelas.

“Tentu saja boleh. Sini aku tandatangani semua,” kata Hyejin lalu membubuhkan tanda tangannya ke lima buku yang dimiliki gadis itu.

“Dear You?” Tanya Hyejin melihat buku terakhir yang ia tandatangani.

Gadis penggemar Hyejin hanya tersenyum. Ia menyerahkan pena terakhir yang diberikan Kyuhyun kepada Hyejin. Refleks, Hyejin segera mencari tulisan kecil-kecil yang terukir di pena itu.

‘You. I wish you always and forever with me so I can tell you, always, how much you mean to me. I’ll hold you tight dan hug you near my heart so that you can hear what it’s trying to whisper : you’re the reason why I’m beating.’

Hyejin tersenyum membaca tulisan di pena itu. Dia menatap ketiga pena yang baru diterimanya dan menyimpannya ke dalam tasnya karena baru kali ini ada penggemar yang memberikan hadiah yang begitu manis.

Hyejin sudah siap dengan fans selanjutnya. Fans itu sudah maju dengan buku terbuka. Ia menyodorkan bukunya ke hadapan Hyejin.

“OH MY GOD!” Seru Hyejin kaget begitu melihat tulisan di halaman depan novelnya itu.

‘Dear Song Hyejin. I Love You. Would you marry me?’

Hyejin mendongak menatap pria yang berada di hadapannya. Pria itu melepas topi dan kumis palsunya. Ia merendahkan diri, berlutut sehingga sejajar dengan Hyejin. Perlahan, ia mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya.

“Dear…. Song Hyejin, I Love You,” ucap Kyuhyun perlahan-lahan sambil membuka kotak yang membawa cincin lamarannya kemana-mana selama beberapa hari ini. “Would you marry me?”

Hyejin menatap Kyuhyun dengan mata yang berkaca-kaca. Ia melihat kedua orang tuanya yang duduk di kursi peserta fansigning sambil tersenyum kepada dirinya. “Oh my God!” Bisik Hyejin sambil menutup mulutnya. Kyuhyun tersenyum manis.

Hyejin menatap Kyuhyun, hanya kepada Kyuhyun. Ia tidak lagi melihat orang-orang yang sudah berkerumun melihat lamarannya. Kali ini air mata mulai mengalir di pipinya. Kyuhyun tersenyum lalu mengusap air mata gadis itu dengan lembut. “Yaaa… Kenapa kau menangis? Aku sedang melamarmu nih. Apa kau terkejut?” Hyejin menganggukkan kepalanya.

“Kalau begitu aku sukses. Jangan menangis lagi. Aku sudah susah payah mengajak kedua orang tuamu terbang dari Kanada hanya untuk merestui lamaranku. Jangan sampai buat mereka menolakku hanya karena kau menangis terus. Ya?” Ujar Kyuhyun. Dia masih berlutut memohon Hyejin untuk menjadi istrinya. “So Song Hyejin-ssi. Once again. Would you marry me?”

Sambil tertawa, sambil menangis, sambil mengusap air matanya, Hyejin mengulurkan tangan kanannya kepada Kyuhyun. “Yess! Of course yess!” Kata Hyejin dengan yakin. Kyuhyun menyematkan cincinnya ke jari manis Hyejin dan langsung disambut meriah oleh seluruh orang yang menonton mereka.

Kyuhyun membalik tubuhnya kepada orang tua Hyejin kemudian berlutut memberi hormat. “Aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada tuan dan nyonya Song yang mempercayakan anak perempuan mereka satu-satunya kepadaku. Kamsahamnida, aboenim dan eommonim. Aku juga ingin berterima kasih kepada kalian para penggemar yang sudah membantuku untuk melamar penulis novel yang paling cantik ini. Terima kasih juga kepada para penyusun acara yang sudah banyak membantuku, memberikan waktu untukku. Terima kasih semuanya.” Kyuhyun kembali memberi hormat sebelum beranjak pergi ke tempatnya, kursi di sebelah tuan dan nyonya Song.

“Jangan menangis lagi. Masih banyak fans yang mengantri untuk mendapatkan tanda tanganmu,” kata Kyuhyun sambil menghapus air mata Hyejin dengan tisu. “Aku akan menunggumu bersama calon mertuaku yang pasti akan memujiku habis-habisan karena berhasil membuat anak perempuan mereka menangis terharu dengan lamarannya.”

Hyejin tidak mampu berdebat dengan Kyuhyun karena ia masih terharu dan syok dengan kejutan yang dibuat Kyuhyun. Ia hanya tertawa kecil. Ia kembali menerima para fans yang ingin mendapatkan tanda tangannya sambil sesekali mencuri pandang kepada calon suaminya yang sedang mengobrol serius dengan appa-nya.

Puluhan ucapan selamat dan pujian juga datang dari para penggemar.

“Chukkae!”
“Cincinmu bagus sekali.”
“Aku juga ingin dilamar seperti ini. Romantis sekali. Sesuai dengan genre novel-novelmu.”
“Selamat ya! Kalian pasangan serasi. Aku iri.”
“Aku menunggu novelmu selanjutnya yang lebih romantis karena kau sudah menikah nanti kan?”

Hyejin tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia terus tersenyum lebar, mengucapkan terima kasih kepada fansnya dan merasakan senyumannya melebar ketika melihat cincin di jari manis kanannya.

The best of my life was not when I was born or when I took my first step. It’s not even when I met you. I belive that the best day of my life is each day I will live know I’m yours. I love you, Cho Kyuhyun. I love you.

Kkeut!!!