Annyeong yeorobun!
Ya ampuuuun kayaknya aku baya bgt post ff ya.. gpp ya? Mumpung ada waktu. Hihihi.

Semoga pada suka ya.
Silahkan dibaca
Jangan lupa dikomen yaa..
Gomawooo

****

Bel itu berdenting ketika seseorang membuka pintu dan masuk ke dalam kafe. Kibasan jas putihnya menyadarkan Hyejin yang sedang duduk menghadap laptopnya dengan serius sambil mengetuk-ngetukkan pena di tangannya ke gelas kosong bekas coklat panas yang sudah habis ia minum.

Hyejin menatap pria yang baru duduk di hadapannya, wajahnya pucat tampak kelelahan, rambutnya berantakan dan jas putih panjangnya kusut nyaris tak layak dipakai. “Hari yang melelahkan?” Tanya Hyejin.

Pria berjas putih itu duduk, meletakkan kepalanya di atas meja kemudian memejamkan mata. “Biarkan aku tidur sebentar. Aku hampir mati. Pasien datang silih berganti. Aku bahkan tidak sempat makan. Bangunkan aku kalau Hamun datang,” ujarnya dan Hyejin membiarkan pria di hadapannya tidur sesuai keinginannya.

Bel pintu kembali berdenting, seorang gadis datang sambil membawa setumpuk buku dalam pelukannya. Hyejin melihat kedatangannya dan segera melambaikan tangan agar gadis itu segera menghampirinya. “Aku menyerah,” ucap gadis itu dengan kesal secara tiba-tiba membuat kening Hyejin berkerut bingung.

“Kau kenapa?” Tanya Hyejin kepada gadis yang sudah menjatuhkan buku-bukunya ke lantai dan kemudian menarik sebuah kursi untuk menopang kakinya.

Gadis itu duduk bersandar pada sebuah sofa dengan kaki yang diselonjorkan ke kursi lain. “Kakiku hampir patah menunggu wawancara dengan Woobin. Aku menunggunya hampir 5 jam! 5 jam, eonni! 5 jam! Bayangkan! Tapi yang ada ternyata dia langsung pergi entah kemana. Aku membencinya! Aku benci! Aku mau tidur saja. Kalau ada telpon dari manajernya, matikan saja. Aku tidak mau berurusan lagi dengannya. Arrachi, eonni?”

“Ne. Arraseo,” sahut Hyejin.

Gadis itu lalu melipat tangan di depan dadanya dan langsung memejamkan matanya. Hyejin memandang kedua orang yang sedang terlelap di dekatnya. “Aku juga ingin tidur,” gumam Hyejin kemudian menggaruk-garuk kepalanya dengan frustasi begitu melihat laptopnya.

“Aaaargh!!! Kapan kau akan selesai? Ide! Ide! Datanglaaaaaah!!!” Seru Hyejin frustasi sambil mengangkat tangannya, menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali dengan tangan terkepal. “Hwaiting!”

Hyejin sudah siap mengetik namun kemudian yang dilakukannya adalah menjatuhkan kepalanya di atas keyboard laptopnya. “Aku menyerah. Tidak ada ide,” gumam Hyejin sedih. Ia menatap nanar kepada kue-kue yang berada di etalase dekat kasir. “Aku mau cheesecake…”

Seorang pria dengan pakaian yang sangat kasual, kaus putih tipis dan celana pendek biru muda, mendatanginya dengan membawa sebuah cheesecake. Pria itu itu di sebelah Hyejin, sejauh mungkin dari kedua orang yang sedang tidur nyenyak. “Aku sedang mencoba resep baru. Kau mau coba?” Tanya pria itu kepada Hyejin.

Hyejin segera menegakkan kepalanya dan dengan mata berbinar-binar memandang cheesecake di depannya. “Aku mau!! Mau sekali!!!” Hyejin mengambil sesendok kecil cheesecake itu lalu menyuapkannya ke mulutnya. “Enaaaaaaak!!! Cheesecake apa ini?”

“Sarang Cheesecake. Cheesecake cinta,” jawab pria itu.

“Mwo? Namanya agak menjijikkan tapi rasanya enak,” sahut Hyejin kemudian menyuapkan lagi sesendok cheesecake cinta itu.

Pria itu tersenyum puas. “Habiskan saja. Aku mau membuat yang lebih besar untuk HyunAh,” ujarnya sambil memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. “Aku mau kembali ke dapur. Jangan lupa bilang pada kedua temanmu yang sedang tidur ini, mereka harus segera memesan makanan begitu bangun. Kafeku bukan tempat menumpang tidur.”

Hyejin tertawa. Ia tahu pria itu hanya bercanda. Pria itu sudah kembali ke habitatnya sedangkan Hyejin menikmati setiap sendok cheesecakenya dengan seksama. “Kenapa semua masakannya enak? Humm…”

Hyejin tidak mendapatkan klimaks kepuasannya atas cheesecake kesukaannya. Hyejin terpaksa kehilangan suapan terakhir cheesecake itu saat seorang gadis yang merupakan teman Hyejin datang dan langsung melahap cheesecake-nya.

“Enaaaaak!” Komentar gadis itu tanpa peduli Hyejin yang siap menerkamnya. Gadis itu hanya tersenyum setelah menelan habis potongan terakhir cheesecake Hyejin. “Aku akan membelikannya untukmu lagi. Nanti.”

Hyejin mencibirkan bibirnya tahu bahwa ‘nanti’ untuk gadis itu bisa berarti satu tahun lagi. “Apa yang tiba-tiba membuatmu datang ke sini? Kau tidak punya pasien?” Tanya Hyejin.

Gadis itu mendesah putus asa. “Justru itu. Kurasa aku yang akan segera jadi pasien,” jawabnya.

“Wae? Kau kan psikolog paling hebat di daerah Gangnam ini.”

“Sejak tuan Mun yang super aneh itu datang, aku membutuhkan psikolog-ku sendiri. Coba saja kau bayangkan ya. Setiap dia datang ke kantorku yang dia katakan hanyalah ‘kau menikah saja denganku’. Kurasa dia sudah gila,” keluhnya lalu meminum kopi hitamnya yang super pahit itu dengan sekali teguk.

Hyejin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan temannya itu. “Kau benar-benar harus segera pergi ke psikolog sebelum terlambat,” komentar Hyejin.

—-

Orang berlalu lalang mulai dari bayi, anak kecil, orang tua, sampai lansia. Mulai dari yang digendong, berjalan, tertatih-tatih sampai yang berkursi roda. Kyuhyun menebar senyum kepada setiap orang yang dilewatinya. Tidak jarang, ia menyapa orang-orang itu dengan ramah sejak ia turun dari mobil sampai masuk ke dalam ruang prakteknya.

“Dokter Cho, sudah boleh panggil pasien?” Tanya suster yang sudah selesai mengadministrasi pasien-pasien Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum ramah. “Silahkan,” jawab Kyuhyun.

Suster pun memanggil pasien pertama Kyuhyun. “Mun Jung Hyuk-ssi. Silahkan,” ujar suster kepada seorang pria diikuti oleh seorang wanita yang lebih muda.

Mereka berdua duduk di hadapan Kyuhyun yang sedang menganga menatap pasiennya. “Maaf tuan dan nyonya Mun, aku ini dokter spesialis anak. Aku rasa kalian salah ruangan,” ujar Kyuhyun kepada kedua pasiennya yang tidak merasa salah sedikit pun. Mereka malah duduk tenang di hadapan Kyuhyun.

Wanita yang berbicara lebih dulu, “Pertama-tama, aku bukan nyonya Mun. Aku nona Jung. Kedua, pria ini bukan suamiku. Dia bosku. Ketiga, aku di sini hanya menemaninya. Aku juga tidak tahu kenapa ia memilih dokter spesialis anak.”

Kyuhyun mengerutkan dahinya tanda ia tidak mengerti. Ia menatap pria yang balas menatapnya dengan santai. “Eomma menyuruhku pergi ke dokter karena flu. Aku tidak suka dengan dokter umum karena biasanya mereka tidak lemah lembut kalau menghadapi pasien dewasa sepertiku jadi aku memilih ke dokter anak karena mereka lebih ramah seharusnya,” kata pria bermarga Mun itu.

Nona Jung hanya menghela nafas putus asa melihat kelakuan bosnya. Ia memandang Kyuhyun dengan memelas. “Sudah, periksa saja. Dia memang aneh tapi tidak gila. Aku mohon,” pinta Nona Jung.

Kyuhyun tersenyum. Ia meminta tuan Mun untuk duduk saja karena tempat tidur anak-anak itu tidak cukup untuk badannya. “Buka kancing kemeja atas Anda, tuan,” kata Kyuhyun dan tuan Mun membukanya.

“Tolong dipercepat. Aku mau menemui calon istriku,” kata tuan Mun yang lagi-lagi mendapat sambutan tidak hangat dari sekretarisnya.

“Park MinAh bukan calon istrimu, tuan Mun. Jelas-jelas dia sudah malas bertemu denganmu.”

“Tenang saja. Aku pasti akan mendapatkannya. Kau sendiri, tidak pergi dengan Henry?”

“Bagaimana aku bisa pergi kalau aku harus menemanimu kesana kemari. Sewa supir baru kenapa sih? Kau menyabotaseku tahu!”

“Aku tidak bisa kemana-mana dengan wanita yang tidak cantik. Kau harusnya bersyukur karena masuk kategori cantik.”

Kyuhyun telah selesai memeriksa pasien anehnya itu. Dia segera menulis resep dan kedua manusia di depannya ini belum berhenti berdebat juga. “Ini resepnya. Silahkan,” ujar Kyuhyun sambil menyerahkan resepnya kepada tuan Mun.

“Ambilkan di apotik. Aku tunggu di mobil,” perintah tuan Mun kepada nona Jung lalu pergi begitu saja dari ruangan praktek Kyuhyun. Nona Jung mengambil resep dari tangan Kyuhyun lalu mengikuti bosnya sambil mengomel panjang lebar yang anehnya hanya ditanggapi dengan tawa oleh tuan Mun.

Kyuhyun menggeleng-geleng heran melihat pasien ajaibnya hari ini. Ia sudah siap dengan pasien selanjutnya namun yang datang bukan anak kecil lucu, manis atau imut-imut tapi gadis berkacamata dengan rambut terikat rapi dan jas putih yang agak kebesaran di tubuhnya.

“Hamun-aaaaah!!!” Sapa Kyuhyun dengan ceria namun gadis itu memasang tampang kesal setengah mati. “Kau kenapa?”

“Oppa, lihat Siwon Oppa?” Tanya Hamun yang dijawab Kyuhyun dengan gelengan kepala. Kyuhyun sudah dua hari tidak bertemu dengan Siwon karena kesibukan masing-masing.

“Memangnya kenapa?” Tanya Kyuhyun.

Hamun mengambil tempat duduk di sofa ruang praktek Kyuhyun. Ia agak membanting tubuhnya dan menghembuskan nafasnya. “Siwon Oppa tidak bisa ditemukan. Dia kabur sehabis operasi. Padahal masih banyak pasien lain yang harus ditanganinya. Aku sampai kewalahan. Aku kan hanya dokter internship!!! Siwon Oppa benar-benar menyebalkan!”

“Kau sudah menghubungi handphonenya?” Tanya Kyuhyun.

“Tidak aktif,” jawab Hamun singkat.

“Kau sudah mencarinya ke kafe? Mungkin dia berada di sana. Aku sudah dua hari tidak melihatnya. Apa dia menginap di rumah sakit?” Hamun menganggukkan kepalanya. “Dia mungkin sedang super kelelahan. Santai saja. Nanti dia juga kembali sendiri.”

Hamun menghela nafas panjang. “Ya sudahlah kalau begitu. Aku kembali ke tempatku dulu. Annyeong Oppa!” Ujar Hamun lalu keluar dari ruangan Kyuhyun.

Kyuhyun menunggu di kursinya namun tidak ada pasien lagi yang masuk. Kyuhyun memanggil susternya, “Tidak ada pasien lagi, suster?” Tanya Kyuhyun bingung. Tidak biasanya dia sepi pasien.

Suster menggelengkan kepalanya. “Tuan Mun tadi pasien satu-satunya, dokter Cho,” jawab suster tersebut.

Kyuhyun memasang wajah terkejutnya tapi segera berganti dengan wajah ceria. “Kalau begitu aku akan pulang. Aku mau segera bertemu pacarku,” kata Kyuhyun dengan mata berbinar-binar dan gerak tubuh lincah yang membuatnya keluar dari ruangan prakteknya.

Buk!!!

Kyuhyun menabrak seseorang karena ia terlalu sibuk dengan handphonenya sehingga tidak melihat jalan di depannya. “Ah mian. Mian. Maafkan aku,” ucap Kyuhyun berkali-kali sambil membantu orang yang ditabraknya bangkit berdiri.

Pria itu tersenyum tipis. Kyuhyun menatapnya dan langsung mengenalinya. “Ahhh tetangga!!! Kim Woobin-ssi!! Kau sedang sakit?” Tanya Kyuhyun dengan ceria. Kyuhyun terpaksa sedikit mendongak karena Woobin lebih tinggi darinya.

Woobin menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tidak. Aku hanya menemui dokter spesialis giziku. Kau sudah selesai praktek, hyung?”

“Ne. Sepi pasien hari ini. Aku mau ke tempat pacarku. Kau mau kemana? Pulang?”

Woobin tersenyum penuh arti. “Aku mau kencan,” bisik Woobin membuat Kyuhyun membelalakan mata.

“Mwoo? Kencan? Memang kau sudah punya pacar?”

Woobin tertawa. “Kau mau tahu saja deh, hyung. Kau tenang saja. Begitu kencannya selesai, aku akan memulangkan Jihyo dengan selamat ke apartemen kalian,” kata Woobin sambil tertawa riang. Ia berlalu meninggalkan Kyuhyun yang sedang berusaha mencerna ucapan Woobin kepadanya. “Mwo? Kencan? Jihyo?”

“YAA!!! TETANGGA!!!” Kyuhyun berteriak namun terlambat. Woobin sudah tidak terlihat lagi.

—-

Kkeut
Xoxo