Aku berjalan dengan lelah di lorong apartemen. Iya, aku sangat lelah menjalani hidup sebagai mahasiswa kedokteran. Kurasa seharusnya dulu aku tidak terpengaruh omongan manis Kyuhyun oppa yang mengatakan jika jadi dokter itu keren dan banyak uang. Aku lelah setiap hari mendengarkan ceramah dari dosen killer yang bertebaran dimana-mana. Aku lelah, tapi tidak mungkin jika appa dan eomma mengizinkan aku berganti jurusan. ‘Ya! Kang Hamun! Eomma dan appa bekerja keras siang malam agar kau bisa berkuliah bla bla bla bla,’ Ne appa, eomma, aku sudah mengubur niatku dalam-dalam untuk berganti jurusan.

“HAMUN!” Aku bisa mendengar teriakan seorang pria yang sangat aku kenal mendekatiku, aku menoleh ke belakang. Siwon oppa berlari sekencang mungkin, dan segera menarik tanganku. “Cepat cepat sembunyikan aku cepat cepat!”

Aku hanya bisa memandang pria tampan di depanku yang masih menggunakan jas dokternya – tentu saja membuat ketampanannya meningkat 1000% – terengah-engah. Dia terus menerus berteriak kepadaku untuk segera menyembunyikan dirinya. Aku tersadar dan segera membuka pintu rumahku.

Ia terus menerus mendesakku untuk mengunci pintu, aku tidak tau apa yang terjadi, sumpah. Aku menggerakkan tanganku mengunci pintu apartemenku.

“Oppa, sudah aku lakukan. Eh, oppa?” aku mencari Siwon oppa, tiba-tiba saja dia menghilang dari pandanganku. “Oppa, kau dimana?”

Aku mengintip ke belakang sofa, aku menemukan tubuh Siwon oppa meringkuk tidak berdaya di belakang sana. Aku terkikik geli. “Oppa, kau aman di sini. Eh, ada apa sih sebenarnya?”

“Oiya?”

“Iya, kau kan sudah di apartemenku. Tidak ada orang yang mengejar-ngejarmu,” seruku.

Siwon oppa langsung bangkit dan hampir saja membenturkan kepalanya dengan kepalaku, untung aku sigap langsung bergerak mundur. Dia merapihkan jas dokternya dan kacamata yang ia pakai seolah tadi dia tidak ketakutan.

“Kyuhyun memang benar-benar kelewatan! Masa dia menyuruhku untuk berkencan dengan perempuan yang sudah punya kekasih?” gerutu Siwon oppa. Jadi Siwon oppa berkencan?

“Kau dikejar-kejar oleh kekasihnya?” tanyaku, entah mengapa aku merasa seperti di sengat semut saat mendengar kalimat tadi. Huh, sepertinya tidak ada gula yang tumpah kok!

“Dikejar-kejar bodyguardnya! Dia ternyata mafia! Aku bahkan belum sempat menjelaskan kalau ini hanya salah paham!” Siwon oppa terlihat sangat ketakutan.

“Bukannya kau bisa taekwondo, oppa?”

Siwon oppa terdiam menatapku, lalu memberikan tatapan aneh, seperti sudah dipukul sesuatu. “Ya ampun Hamun! Aku lupa kalau aku bisa taekwondo!”

Buk! Kurasa Siwon oppa baru terlalu bersemangat saat ia ingat kalau dia bisa taekwondo hingga mempraktekkan jurusnya langsung di depanku, yang sayangnya kena kepalaku. Duh, semuanya jadi gelap.

+++

“Jadi apa yang harus aku lakukan?” aku melipat kedua tanganku di depan sambil memperhatikan Chef Henry yang baru saja aku lihat dengan tampilan beda, maksudku bukan tampilan outfitnya yah, dia masih aneh kok, dia memakai celana jeans denim dengan kaos bergambar robot-robotan berwarna hijau terang dan leather jacket. Namun, dia terlihat sangat serius hari ini, daritadi jari jemarinya seperti sedang meyulap bahan masakan menjadi sebuah makanan, yang kuharap enak.

“Done!” teriaknya yang langsung mengaburkan bayanganku yang mulai menganggap Henry cool. “Sekretaris Jung, aku meminta CEO Mun untuk mencicipi desert terbaruku. Namun sepertinya dia mengirimmu ke sini. Tolong dicoba,” ujarnya sambil memberikan senyum mengembang hingga pipinya terlihat tembam seperti kue mochi.

“Sini, mana mana desert yang kau buat? Aku masih banyak pekerjaan,” aku mengambil piring yang sudah diisi desert oleh Henry tanpa meminta izin darinya. Aku mulai memikirkan untuk resign. Aku kan sekretaris, kenapa juga disuruh jadi food tester sih?

“Sekretaris Jung! Aku belum menghias desertku!”

O, o, terlambat Henry! Aku sudah menyendokkan sesendok penuh makanan ke mulutku. Aku memandang Henry dengan tatapan yang aku sendiri tidak bisa mengerti ini tatapan apa. Bahkan aku pasti terlihat bodoh dengan sendok masih di dalam mulutku.

Sekarang aku tau kenapa bos tengikku ini memilih Henry menjadi chefnya. “Mmmhhh, ini enak!” pekikku saat ia menyajikan dessert yang baru saja dia buat.

“Serius?” mata bulatnya semakin bulat saat bertanya kepadaku. Aku tidak tau mengapa dia terlihat seperti anak kecil sekali. Namun, makanan yang ia masak benar-benar enak. Kalau boleh jujur lebih enak dari Chef Song.

Aku terus menyendokkan makanan ke mulutku. “Ini apa namanya?”

“Jeruk,” jawabnya sedikit tidak yakin. Aku juga tidak yakin begitu mendengar jawabannya. Aku mengamatinya dessert di hadapanku. Ah, memang toppingnya jeruk sih.

“Maksudku nama masakannya,” aku memperjelas pertanyaanku. Dia mengangguk mengerti.

“Nah, masalahnya sekretaris Jung, aku belum menemukan nama yang tepat untuk makanan ini. Kemarin sih aku menamakannya chocolate cream with orange cherry blossom, tapi menurut CEO Mun nama itu kurang menjual,” aku bisa mendengar Henry mendengus dengan keras. Aku rasanya ingin tertawa, akhirnya ada juga orang yang sependeritaan denganku karena ulah CEO Eric Mun itu.

“Mmmhhh, bagaimana kalau namanya My Lucky Star With You?” aku memandangi topping jeruk yang baru saja aku makan. Tadi bentuk awalnya seperti sebuah bintang. Berhubung aku sudah 3 tahun bekerja untuk ahjussi itu, aku tau bagaimana kesukaannya. Dia suka menamakan produknya dengan nama yang cheesy.

“Itu dia, itu dia, sekretaris Jung! AAAAAAAHHHHH, GOMAWO KAU MEMANG HEBAT!” Henry tiba-tiba saja memelukku dengan cepat. Aku hanya bisa melongo saat ia melepaskan pelukannya dan berlari berteriak-teriak keliling kitchen. Ya ampun, aku benar-benar harus resign dari hotel aneh ini!

+++

Hal yang paling mengerikan adalah menerima tugas langsung dari Queen dan Princess Jung. Seminggu yang lalu, kedua Jung bersaudara itu memanggilku. Queen Jung, pemimpin redaksiku, memekik kesenangan karena akhirnya, si arsitek yang banyak merancang rumah para mega idol dan A-lister akhirnya mau diwawancarai. ‘Ini akan jadi berita eksklusif pertamanya dengan media manapun! Biasanya dia tidak pernah mau diwawancarai media,’ begitu kata Queen Jung.

“Unnie, tolong yaaah. Kau pasti bisa melakukannya, Lagipula hanya tinggal wawancara dan mengambil foto dirinya,” ujar Princess Jung, adik Queen Jung, yang menjabat sebagai redaktur pelaksana.

Hingga kini aku hanya bisa memijit kepalaku jika ingat permintaan konyol mereka. Gara-gara wawancara eksklusif ini, hari ini aku tidak jadi mewawancarai Lee Min Ho. Lee Min Ho saudara-saudara!

Aku memandangi pantulan diriku di pintu lift. Ini benar-benar bukan aku. Jika saja Queen Jung tidak mengultimatumku untuk berpakaian lebih layak, menurut Queen Jung –maksud dia tidak hanya memakai jeans, kaos belel, dan sneakers- aku tidak akan berpakaian konyol seperti ini. Ini satu-satunya floral mini dress yang aku punya, ewh, aku tidak suka pakai ini jika tidak Queen Jung suruh. Untungnya knit sweater dan boots ini membantu sekali untuk mengkamuflase motif bunga-bunga bermekaran ini.

Aku melihat panel lift masih menunjukkan angka 28, masih ada 8 lantai lagi untuk mencapai lantai apartemenku, lantai 20. Aku segera merapihkan rambutku dan memakai bowler hat yang dipinjamkan oleh Princess Jung ku tersayang. “Unnie, pakai ini yah supaya kau tidak diamuk Jessica unnie lagi,” begitu katanya.

Ting. Pintu lift terbuka, dan aku hanya melihat seorang penghuni saja yang ada di dalam lift. Aku bergegas masuk dan memakai earphoneku. Aku sedang malas beramahtamah pagi-pagi ini. Arsitek itu, Kim Hyun Joong, meminta untuk bertemu di café jam 7 pagi. Da tidak bisa apa mencari jam yang lebih manusiawi! Namun, otakku sepertinya memaksa untuk bekerja lebih cepat karena dengan tanpa kendaliku dia berhenti memikirkan si arsitek itu, dan menyuruhku berputar ke arah satu-satunya orang yang berada di lift bersama denganku.

Dia memberikan senyum menggoda kepadaku, iya aku tau itu menggoda, tapi dia tetap setampan saat aku menabraknya di lift waktu itu, Bagaimana dong?

“Annyeong, Jihyo-ssi,” ujarnya sambil mengangkat satu tangannya. Aku hanya bisa mengedipkan mataku cepat saat melihat Kim Woobin berdua denganku di lift. “Annyeong haseyo, Kim Woobin-ssi,” balasku.

Keheningan merambat di seluruh dinding lift ini, ia kembali mengeluarkan senyum mautnya, sesekali menggulung kemeja putihnya. Duh, mengapa dia tampan sekali ya Tuhan.

“Kau mau kemana pagi-pagi seperti ini, Woobin-ssi?” aku tidak tahan terus-terus terdiam, mana lantai LG masih lama sampainya.

“Umh, aku ada perlu dengan seseorang.” ujarnya sambil menatapku dengan pandangan aneh. Ia maju ke arahku, membuat aku mundur selangkah. Ini dia mau apa?

“Kau ini jurnalis majalah lifestyle padahal,” bisiknya sambil menyentuh bibirku dengan tangannya. “Lihat! Kau memakai lipstick saja berantakan,” dia memberikan senyuman ter-menyebalkan yang pernah aku lihat.

Ting! Pintu lift terbuka dan dia dengan sangat entengnya seolah tak terjadi apa-apa berjalan keluar dan melambaikan tangannya ke arahku.

Ya! Aku tarik lagi ucapanku kalau dia tampan! Dia pria paling menyebalkan yang pernah aku kenal!

+++

“Jadi aku harus dekat dengan anak-anak?” aku berusaha menyusul langkah Dokter Cho hingga akhirnya aku sedikit berlari mengejar dokter anak tersebut.

“Ne, kalau kau mau mendapatkan informasi dari anak-anak, kau harus bisa dekat dengan mereka,” Dokter Cho berhenti di depan salah satu pintu di lantai khusus pasien anak-anak.

Aku bukannya tidak bisa dekat dengan anak-anak, namun aku hanya bingung bagaimana cara mendekati seorang anak yang sakit. Mereka pasti berbeda, dan cara pendekatannya pun berbeda. Aku tidak mau menyakiti perasaan anak-anak yang sedang sakit, apalagi jika mereka sakit parah sekali.

“Mmh, aku sebenarnya tidak tau caranya,” jawabku jujur kepada Dokter Cho. Dia memberikan senyuman yang baru pertama kali aku lihat selama aku terus menerus memandanginya dari jauh selama sebulan ini.

“Kau harus belajar banyak dariku,” Dokter Cho menggeser pintu kamar pasien itu, membukanya. “Yo, Suho!” ujar Dokter Cho menyapa seorang pasien yang terduduk di ranjangnya sambil memegang stik playstation. Kurasa umurnya sekitar 5-6 tahun, badannya terlihat kurus, kurasa itu karena dia sakit.

“Kyuhyun hyung! Bantu aku dong, level ini susah sekali!” keluh pasien anak yang bernama Suho itu sambil memanyunkan bibirnya. Aaaaakh, dia lucu sekali. Aku mengikuti Dokter Cho dari belakang, semakin aku mendekati Suho, aku bisa melihat kakinya di gips.

“Kau ini bermain terus sih,” Dokter Cho memukul kepala Suho. Anak itu menjerit, begitu juga aku yang kaget.

“Hyung! Aku kan pasienmu! Kau seenaknya saja memukul anak kecil yang sedang sakit!”

“Yang sakit kan kakimu, kepalamu tidak!” Dokter Cho Kyuhyun, sepertinya itu nama lengkapnya, menurut Suho, menjulurkan lidahnya, mengejek anak kecil itu. Mmh, kurasa pelajaran hari ini untuk dekat dengan ank kecil harus bertingkah seperti mereka, sama seperti yang Dokter Cho lakukan, hihi.

“Eeeeh, itu siapa hyung? Noona cantik di belakangmu,” aku mengintip dari balik bahu Dokter Cho.

“Annyeong, Suho-ssi,” ujarku menghampiri Suho. “Aku Song Hyejin noona.”

“Noona kekasih Kyuhyun hyung?” dia melipat kedua tangan kecilnya di depan perutnya, “Noona, kau lebih baik jadi kekasihku daripada Kyuhyun hyung iblis ini.” Aku tertawa geli mendengarnya, darimana anak sekecil ini bisa berbicara kacau seperti ini sih?

“Ya! Suho-ah! Kau bilang apa tadi? Siapa yang mengajarimu?” Dokter Cho menjewer telinga Suho.

“Hyejiin noona, tolong aku tolong aku!” Aku merasa kasian dengan Suho yang wajahnya mulai memerah, walau aku masih tak dapat menghentikan tawaku. “Dokter Cho, sudah sudah hentikan, kasihan Suho.”

“Noona, toloooong!” Dokter Cho masih tidak mau melepaskan jewerannya dari telinga Suho. “Kyuhyun oppa, sudah sudah hentikan, haha, hentikan,” aku memegang tangan Dokter Cho untuk melepaskan tangannya dari telinga Suho.

“Tunggu, kau bilang apa tadi?” Dokter Cho menatapku dengan tatapan kaget.

“Noona, tadi apa yang noona katakan?” Suho menghentikan teriakannya dan kini memandangku dengan tatapan sama seperti Dokter Cho.

Memangnya aku mengatakan apa?

+++

“MinAh, aku mencintaimu. Hanya kau yang bisa menyembuhkan luka di hatiku. Kumohon hiduplah bersamaku,” aku melihat klienku, Park Sungjin berlutut di hadapanku. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman.

“Kau masih mencintainya, Sungjin. Jangan berbohong. Dan kau klienku, kau tidak bisa berbicara seperti itu,” aku mencoba menenangkan Sungjin yang mulai memberikan puppy eyes padaku. Semakin hari klienku makin aneh-aneh saja.

Sungjin, ditinggal mati oleh kekasihnya setahun yang lalu. Dia selalu merasa dibayang-bayangi oleh arwah kekasihnya. Dan menurutnya, tadi malam Sungjin didatangi arwah kekasihnya yang menyuruh Sungjin menikah denganku.

“Sungjin, bagaimana kalau kita bertemu lagi minggu depan ya?” Aku meraih tangan Sungjin dan menuntunnya keluar dari ruanganku.

“Tapi-tapi- aku benar-benar ingin menikahimu. Kumohon, kalau tidak Nari akan menghantuiku selamanya!” Sungjin menatapku dengan nanar. Aku mengelus punggungnya.

“Selasa depan, oke?” Aku sedikit mendorong Sungjin agar dia pergi. Akhirnya dia benar-benar berjalan menjauhi ruanganku. Aku menarik napas lelah, kenapa akhir-akhir ini semua klienku mengajak menikah sih?

“Dia mengajakmu menikah?” Aku kenal suara itu. Orang pertama yang dengan seenak jidat mengajakku menikah.

“Tuan Mun, bukankah sesi berikutnya masih lusa?” Aku mencoba bersikap seprofesional mungkin, tapi dalam hatiku rasanya aku ingin menjambaknya karena dia tiba-tiba saja muncul di depan ruanganku.

“Kau tidak boleh menikah dengannya! Kau milikku!” Tuan Mun terdengar seperti anak kecil, dia menghentak-hentakkan kakinya. Oh Tuhan, mimpi apa aku semalam. Baru saja Sungjin, sekarang Tuan Mun.

“Kau masih ada perlu denganku? Kalau tidak aku harus kembali ke ruangan. Masih ada yang harus aku kerjakan.”

“Kau harusnya makan siang denganku waktu itu,” sepertinya aku tidak pernah berjanji untuk makan siang dengannya.

“Tuan Mun, kalau kau mau, kau bisa mengganti jadwal mu lusa ke hari ini, bagaimana?” Aku berusaha menenangkannya. Aku tidak mengerti mengapa pria tampan sepertinya selalu bersikap aneh yang bahkan aku seorang psikolog pun kadang tak mengerti jalan pikirannya.

“Tidak. Aku kan sudah bilang aku tidak mau kau menjadi psikologku lagi,” kini Tuan Mun bergelayutan di lenganku. Ia menyenderkan kepalanya ke pundakku dan memberikan puppy eyesnya. Maaf, aku tidak akan tergoda!

“Baiklah kalau begitu,” aku melepaskan gelayutannya dari tanganku. “Sampai jumpa lusa, Tuan Mun,” aku harus bersikap tegas kali ini, kalau tidak semua pasien-pasienku lama-lama semakin kurang ajar.

Tapi, ngomong-ngomong soal kurang ajar, sepertinya pria di depanku yang paling memiliki sifat itu. Dia menarik lenganku hingga aku berteriak kesakitan dan berkata

“Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan,” lalu dia menempelkan bibirnya ke bibirku.

Bisa tamat karirku kalau begini.

+++