By @gurlindah93

 

“Oppaaaaaa… Oppaaaaaaaaaaaaaaaa…. Ppali ppali ppali ppali” teriak MinAh dari luar kamar Jungsoo yang sedang menyiapkan laptop untuk dibawanya ke taman.

Setiap Sabtu sore MinAh selalu mengajak Jungsoo untuk ke taman yang berjarak 10 menit dari rumah mereka bila ditempuh dengan berjalan kaki. MinAh tidak pernah mengatakan alasannya tapi Jungsoo tahu, setiap Sabtu sore ada seorang pria berumur pertengahan 20 yang selalu mengajak anjingnya berjalan-jalan di taman itu. Menurut Jungsoo, MinAh mengagumi pria tersebut.

“Berisik!” kata Jungsoo begitu keluar kamar.

MinAh melihat jam dinding dengan cemas “Oppa sekarang sudah jam 4, biasanya jam setengah 5 dia sudah pulang. Ppali” MinAh segera turun tanpa menunggu Jungsoo.

“Aku akan membelikan gadis itu tali pengekang” gumam Jungsooo melihat kegesitan adiknya bila mengajaknya pergi.

Taman tujuan Park bersaudara, taman Ahreum adalah taman di sebelah sekolah SD mereka. Saat masih terlalu kecil untuk pulang sendiri, biasanya eomma mereka akan menjemput mereka di  sana. Saat Jungsoo sudah kelas 6 SD dan sudah berani pulang sendiri di sanalah MinAh yang masih kelas 2 SD menunggu Jungsoo untuk pulang bersama.

***

10 tahun yang lalu.

Hari ini hari pertama Jungsoo masuk SMP, dia sangat senang sampai tidak langsung pulang ke rumah. Bersama teman-temannya, Jungsoo bermain sepak bola di lapangan sekolah mereka.

“Ayo pulang chingudeul, sekarang sudah jam 4 sore dan sepertinya mau hujan” ajak Jungsoo yang hari ini baru saja dipilih sebagai ketua kelas pada teman-temannya.

Jungsoo pulang dengan hati gembira karena punya teman-teman baru yang sangat baik. Sebenarnya selama perjalanan pulang Jungsoo merasa tidak tenang tapi Jungsoo mengabaikannya.

Sampai di rumah hujan turun lumayan deras. Setelah ganti baju Jungsoo langsung ke kamar MinAh untuk mengajak adiknya bermain tapi MinAh tidak ada di kamarnya.

“Ahjumma, MinAh di mana ya?” tanya Jungsoo pada asisten rumah tangga yang sedang membersihkan ruang tamu.

“Loh bukannya seharusnya nona tadi pulang bersama tuan muda. Apa tidak ada di kamarnya?” jawab ahjumma itu dengan bingung.

Jungsoo terkejut dan langsung berlari menuju pintu “Tuan muda mau ke mana? Hujannya deras” ahjumma memperingatkan Jungsoo dengan cemas tapi  tidak mendapat jawaban dari Jungsoo yang sudah keluar dari rumah.

“Mianhae MinAh.. Mianhae…” gumam Jungsoo sambil berlari kencang menerobos hujan yang semakin lama semakin deras. Yang Jungsoo pikirkan hanya bagaimana cara agar dia cepat sampai di taman Ahreum.

Rasanya Jungsoo ingin memukul dirinya sendiri karena lupa menjemput adiknya.

Jungsoo sampai di taman saat hujan turun dengan sangat deras. Tidak ada orang di sana kecuali seorang gadis kecil yang berteduh di bawah pohon sambil menggigil kedinginan, dia tersenyum lebar saat melihat Jungsoo.

Gadis kecil itu berlari ke arahnya “Oppa… Oppa pasti sedang mengerjakan tugas di sekolah ya? Apa sudah selesai tugasnya? Tadi Saerom appa menawarkan untuk mengantarkanku pulang tapi aku menolaknya, aku takut kalau oppa ke sini dan tidak menemukanku oppa pasti cemas hehehe” ujar gadis kecil itu dengan nada lega.

Walaupun sekujur tubuhnya basah kuyup oleh air hujan, tapi Jungsoo tahu ada air mata yang bercampur dengan air hujan di wajah gadis kecil itu. Dia tahu sebenarnya adiknya sangat ketakutan karena sudah menunggunya sendirian selama 3 jam di taman Ahreum.

Jungsoo langsung memeluk MinAh dengan erat, meminta maaf karena telah membuat adiknya menunggu “Mianhae MinAh.. Mianhae..”. MinAh membalas pelukan Jungsoo “Gwenchana oppa.. Tugas sekolah kan memang penting, aku tidak apa-apa kok menunggu di sini sampai oppa datang. Aku akan terus menunggu” MinAh menepuk-nepuk punggung oppanya.

Seumur hidupnya Jungsoo jarang menangis, tapi kali ini dia menangis sampai terisak-isak.

MinAh melepaskan pelukannya lalu menatap oppanya “Yaaaaa oppa kenapa menangis? Apa tugasnya sulit sekali? Apa perlu aku yang mengerjakannya? Oppa kan laki-laki yang paling spesial untukku, aku tidak suka kalau oppa sedih gara-gara tidak bisa mengerjakan tugas” MinAh mengkhawatirkan oppanya.

Jungsoo tertawa mendengar perkataan adiknya “Yaaaa apa kamu kira anak kelas 3 SD bisa mengerjakan tugas kelas 1 SMP?” MinAh memanyunkan bibirnya lalu ikut tertawa bersama oppanya di bawah guyuran hujan.

Jungsoo tidak sanggup mengatakan kalau sebenarnya dia lupa menjemput MinAh.

Setelah kehujanan MinAh mengalami demam sampai tidak masuk sekolah selama 3 hari, sejak saat itu Jungsoo berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah melupakan ataupun meninggalkan adiknya. MinAh akan menjadi prioritas utama dalam hidup Jungsoo.

***

9 tahun yang lalu.

“MinAh… MinAh…” panggil Jungsoo saat tidak menemukan adiknya di taman Ahreum. Dia memutari taman dengan cemas dan hampir saja ke sekolah MinAh untuk mencari adiknya saat ada yang memanggilnya.

“Oppa.. Jungsoo oppa… Jungsoo oppa.. Kemari.. Sini sini.. ” Jungsoo melihat adiknya berjongkok di balik bangku taman memanggilnya sambil berbisik-bisik.

Segera saja Jungsoo menghampiri adiknya. MinAh menarik tangan Jungsoo hingga oppanya ikut berjongkok “Ini….” kata MinAh masih dengan berbisik sambil menyerahkan ice cream kesukaan Jungsoo yang hanya dijual di sekolah SD mereka.

“Gomawo.. Tapi ngapain kamu di sini?” tanya Jungsoo ikut berbisik.

MinAh tertawa memperlihatkan kawat giginya “Aku tadi membelikan oppa ice cream sebelum Joowon oppa meminta uang jajanku” jawab MinAh.

“Ooohh.. Mwoooooooooooo???” Jungsoo berteriak sampai MinAh terkejut.

“Oppa jangan keras-keras. Joowon oppa kira aku sudah pulang makanya dia tidak meminta uang jajanku seperti biasanya” ucap MinAh sambil tengok kanan kiri.

“Apa maksudmu Joowon meminta uangmu? Joowon yang sekarang kelas 6 itu kan?” Jungsoo ingat pada adik kelasnya yang selalu bertingkah seperti bos yakuza.

“Ne… Aku kan selalu membawa bekal, jadi uang jajanku tidak pernah terpakai. Kalau Joowon oppa meminta ya kuberikan saja. Tapi hari ini panas sekali, jadi aku ingin membelikan Jungsoo oppa ice cream makanya aku sembunyi-sembunyi agar tidak bertemu Joowon oppa” ujar MinAh dengan polos. Pantas saja setiap hari MinAh bilang kalau uang jajannya habis, orang tuanya selalu mengira MinAh menjajakan uangnya walaupun sudah dibawakan bekal.

“Sejak kapan Joowon oppa meminta uangmu? Kamu tidak pernah melaporkan pada gurumu? Ini untukmu, habiskan” Jungsoo memberikan ice creamnya yang tinggal separuh pada MinAh.

“Jeongmal? Gomawo… Joowon oppa memintanya sejak oppa tidak sekolah di sini lagi, mungkin dia butuh tambahan uang jajan karena Joowon oppa suka sekali beli mainan. Aku sih tidak masalah toh aku bawa bekal dari eomma, jadi tidak perlu melaporkannya pada guru. Oppa juga jangan melaporkan pada guru ya. Kasihan Joowon oppa” kata MinAh yang memakan ice creamnya dengan lahap.

Jungsoo menatap adiknya dengan nanar dan merasa harus bertindak untuk melindungi adiknya.

Beberapa hari kemudian setelah melakukan penelusuran Jungsoo mulai bertindak.

“Park Jungsoo? Ada apa kemari? Ayo masuk” kata nyonya Kim, ibu Joowon saat melihat Jungsoo berdiri di depan pintu rumahnya.

Sebagai siswa yang selalu menjadi ketua kelas dan aktif di kegiatan sepak bola Jungsoo cukup dikenal di kalangan orang tua murid.

“Saya ingin bertemu Joowonnie eommoni” kata Jungsoo dengan sangat sopan dan menggemaskan sehingga membuat siapa saja yang melihatnya pasti luluh.

“Waaaahhhh Joowon beruntung sekali kakak kelasnya mau menemuinya. Langsung saja ke kamarnya, ayo ikuti eommoni” nyonya Kim segera menuntun Jungsoo ke kamar anaknya.

“Joowon, ini Jungsoo hyung ingin menemuimu. Silahkan mengobrol, eommoni akan membuat minuman untuk kalian” pamit nyonya Kim meninggalkan kamar Joowon.

Joowon yang melihat Jungsoo berdiri di dalam kamarnya langsung pucat.

“Annyeong Joowonnie.. Apa kabar?” Jungsoo tersenyum dengan dingin.

“Ba.. Baik hyung.. Mworago?” Joowon gemetar tapi berusaha menyembunyikannya.

“Aku akan langsung ke tujuanku datang kemari. Kudengar kamu selalu meminta uang jajan adikku. Apa itu benar?” tanya Jungsoo.

Joowon mengangguk pelan “Tapi.. MinAh tidak apa-apa hyung. Katanya dia tidak memerlukannya karena sudah bawa bekal” jawab Joowon, kali ini wajahnya semakin pucat.

“MinAh itu terlalu polos, dia merasa kasihan padamu oleh sebab itu dia memberikan uangnya. Tapi bagiku itu adalah masalah, tidak seharusnya kamu meminta sesuatu yang bukan milikmu” Jungsoo menatap Joowon dengan tajam.

“MinAh mau memberikannya hyung, aku tidak pernah memaksa. Aku hanya bertanya apa dia tidak memakai uang itu untuk jajan, lalu dia memberikannya padaku” ujar Joowon tidak berani menatap mata Jungsoo.

“Lalu itu membuat perbuatanmu diperbolehkan? Kalau kudengar kamu masih meminta uang jajan MinAh, aku akan melaporkan pada orang tuamu. Kamu tadi lihat kan bagaimana eommamu sangat menyukaiku?” kata Jungsoo sambil menyeringai penuh ancaman.

“Mian hyung.. Mianhaeyo.. Aku tidak akan mengulanginya. Kumohon jangan beritahu eomma” pinta Joowon dengan memelas. Jungsoo mengangguk-angguk “Aku tidak akan memberitahu pembicaraan ini pada siapapun, termasuk MinAh. Kuharap kamu juga melakukan hal yang sama”.

“Ne hyung…” balas Joowon lirih.

Besoknya saat Jungsoo menjemput adiknya di taman Ahreum, MinAh sedang memakan ice cream. Jungsoo tersenyum melihat adiknya akhirnya bisa membeli ice cream untuk dirinya sendiri.

“Oppa… Oppa.. Tadi Joowon oppa aneh sekali. Aku kan memberinya uang seperti biasanya tapi dia menolaknya. Kenapa ya?” MinAh merasa bingung dengan perubahan sikap Joowon yang drastis dalam waktu singkat.

Jungsoo mengangkat bahunya pura-pura tidak tahu “Molla.. Mungkin dia sudah tidak memerlukan uangmu Min, jadi sekarang kamu bisa menggunakan uangmu sesuka hatimu. Ayo kita pulang, tidak usah memikirkan Joowon. Oppa sudah lapar” ajak Jungsoo pada adiknya.

MinAh menghela nafas ”Ne.. Kajja..” lalu menggandeng tangan oppanya dan berjalan pulang ke rumah bersama-sama.

***

“Oppa, aku mau beli ice cream. Oppa mau?” tanya MinAh saat Park bersaudara sudah sampai di taman Ahreum. Jungsoo mengangguk “Uang” MinAh menengadahkan tangannya meminta uang pada oppanya.

“Kamu yang ingin kenapa harus aku yang bayar?” gerutu Jungsoo sambil memberikan sejumlah uang pada MinAh. MinAh hanya menyeringai lalu menyerahkan laptopnya pada Jungsoo “Aku titip laptop, oppa cari tempat dulu sana”.

Dengan terpaksa Jungsoo membawa 2 laptop dan mencari tempat duduk untuk mereka.

“Aaaaaaaaaaacccckkkkk!!!!” baru beberapa menit berjalan Jungsoo mendengar ada suara teriakan, dia sangat hafal dengan suara itu.

Dengan secepat kilat Jungsoo berlari ke sumber suara, dilihat adiknya terjatuh begitu pula ice cream yang baru dibelinya.

Melihat Jungsoo menghampirinya, MinAh tersenyum malu “Aku jatuh hehee”. Guk guk! Ada anjing kecil yang menggonggong ke arah MinAh sepertinya mengajak bermain.

MinAh memiliki trauma dengan anjing karena saat masih kecil MinAh pernah dikejar anjing di taman ini sampai menangis.

Wajah MinAh terlihat agak pucat melihat anjing kecil itu terus mengonggong di kakinya “Gara-gara itu?” tanya Jungsoo menunjuk anjing entah milik siapa yang terus menggonggongi MinAh.

“Eoh, saat dia menggonggong aku lari menjauhinya tapi sayangnya aku menginjak tali sepatuku sendiri” MinAh menunjuk tali sepatunya yang terlepas.

“Hahahahahahaaaa” Jungsoo tertawa melihat kecerobohan adiknya “Yaaaa oppaaaa.. Kenapa tertawa?” MinAh memanyunkan bibirnya yang membuat Jungsoo ingin mencubit pipi adiknya.

“Jeogiyo. Sepertinya anjingku sudah mengganggumu” tiba-tiba seorang pria datang dan berjongkok di depan MinAh.

Seketika itu  wajah MinAh menjadi semakin pucat. Pria yang Jungsoo tahu selalu diperhatikan MinAh dan menjadi alasan utama ke taman ini berada di depan MinAh. Pantas saja Jungsoo merasa tidak asing dengan anjing itu.

Anjing kecil yang sejak tadi menggonggongi MinAh langsung menghampiri pria itu.

Pria itu membantu MinAh berdiri dan memperhatikan MinAh dari atas sampai bawah, lalu tanpa disangka dia berjongkok dan membetulkan tali sepatu MinAh. Kali ini wajah MinAh memerah.

“Jeosonghamnida, anjingku sudah mengganggumu ya? Aku tadi membiarkanya berjalan-jalan sebentar tapi dia malah mengejarmu. Aiiiissshhh sepertinya dia ingin kawin… Yaaaaaa gomdori! Nona yang manis ini manusia bukan anjing, jadi dia bukan pasanganmu tapi pasanganku. Pasanganku. Arraseo?” pria itu menunjuk-nunjuk anjingnya seperti sedang memarahi anaknya. Jungsoo melongo melihat kelakuan ajaib pria itu.

Dilirik adiknya yang kini mematung, mata adiknya tidak bisa lepas dari pria aneh itu. Nampaknya MinAh menyukai pria dengan tingkah laku ajaib yang bahkan belum dikenalnya ini.

“Gwenchana?” setelah selesai memarahi anjingnya pria itu beralih pada MinAh, sekali lagi memperhatikan MinAh dari atas sampai bawah.

MinAh hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Sepertinya 2 orang di depan Jungsoo ini lupa kalau ada Jungsoo di sana. “Ehem..” kata Jungsoo dengan suara  keras tapi tidak mendapat respon dari 2 orang yang kini sedang saling menatap.

“Jeongmal? Jeoneun Eric Mun-imnida, aku dokter yang sedang co-ass di rumah sakit ini. Kalau kamu merasakan sakit atau ada luka gara-gara jatuh tadi kamu bisa langsung menemuiku nona…” pria yang mengaku dokter itu memberi kartu namanya pada MinAh. Sayangnya MinAh masih tidak bergeming.

Jungsoo mengambil kartu nama pria itu “MinAh. Nama adikku Park MinAh, namaku Park Jungsoo” jawab Jungsoo mewakili adiknya yang sepertinya tiba-tiba mengalami catatonic lalu mengulurkan tangannya.

Pria itu menatap Jungsoo dengan terkejut dan membalas uluran tangan Jungsoo “Adik? Aku kira kalian berpacaran karena setiap Sabtu sore aku melihat kalian berdua di sini. Kalian tahu? Kalian terlihat romantis loh, aku sampai iri. Ternyata kalian kakak-adik hahahahaa bodohnya aku” ujar pria itu menertawakan dirinya sendiri.

MinAh langsung bereaksi mendengar kata-kata pria itu “Kamu… Memperhatikan… Kami…?”

Pria itu mengangguk sambil tersenyum “Tentu saja. kalian ke sini setiap Sabtu sore kan? Aku juga selalu ke sini setiap Sabtu sore untuk mengajak gomdori jalan-jalan. Sepertinya kita berjodoh ya MinAh-ssi hahahaaa”.

“Dia ke sini memang untuk melihatmu” kata Jungsoo dalam hati.

Pria itu melihat ice cream yang terjatuh dan mengeluarkan smartphonenya “Untuk mengganti ice cream yang jatuh tolong ketikan nomer teleponmu di sini. Akan kuhubungi MinAh-ssi secepatnya” diserahkannya smartphonenya pada MinAh sambil tersenyum nakal yang membuat Jungsoo mendengus kesal.

“Tidak perlu Eric-ssi, nanti aku yang akan membelikannya ice cream lagi” sela Jungsoo dengan nada tidak bersahabat tapi sia-sia saja Jungsoo bicara karena MinAh menerima smartphone pria itu dan mengetikan nomer teleponnya.

Pria itu tersenyum puas “Baiklah aku harus pulang, MinAh-ssi kalau merasa ada yang tidak beres dengan tubuhmu tidak usah sungkan menghubungiku, aku yang akan memeriksamu. Kalau aku sih tidak akan sungkan untuk menghubungimu, tunggu telepon dariku ya. Annyeong Park siblings” pria itu menggendong anjing kecilnya lalu membawanya pergi.

“Yaaaaaa kamu jangan seperti itu lagi gomdori, MinAh-ssi sampai terkejut dan jatuh gara-gara kamu menggodanya. Harusnya yang menggodanya itu aku sebagai sesama manusia, bukan kamu. Nanti akan kucarikan anjing betina yang bisa kamu goda” kata pria itu kepada anjingnya sambil berjalan mejauh.

Jungsoo merasa syok melihat pria itu. Tapi lebih syok lagi karena adiknya memberikan nomer telepon pada pria tidak dikenal dengan kelakuan aneh.

“Yaaaaaa apa kamu gila? Memberikan nomer telepon pada orang asing? Bagaimana kalau dia psychopath?” teriak Jungsoo pada adiknya sambil melotot.

“Oppa terlalu paranoid. Apa dokter seperti dia terlihat psychopath? Di mataku dia terlihat sangat menarik” balas MinAh sambil berbinar-binar lalu mengambil kartu nama dari tangan Jungsoo dan berlari ke bangku taman terdekat dengan senyum lebar tersungging di bibirnya.

“Bagiku dia seperti psychopath. Dia mengajak bicara anjingnya Min! Ya Tuhan apa kamu tidak melihatnya? Dia bisa saja sangat berbahaya” gerutu Jungsoo sambil menyerahkan laptop MinAh pada adiknya lalu membuka laptopnya sendiri.

“Tidak usah khawatir oppa.. Kujamin dia pria yang baik, aku kan sudah lama memperhatikan dia. Atau jangan-jangan oppa jealous ya?” gumam MinAh sambil senyum-senyum dengan mata terpaku pada laptopnya. Jungsoo pura-pura tidak mendengarnya, dia berencana akan membuntuti MinAh saat adiknya pergi dengan dokter aneh itu.

“Yaaaaaaaaaa kenapa hang sekarang sih?? Aku harus mulai mengerjakan tugasku” senyum MinAh berganti dengan teriakan pada laptopnya. MinAh memukul-mukul laptopnya dengan ganas. Jungsoo penasaran dan mengintip laptop adiknya.

Layar laptop adiknya berwarna biru selama beberapa menit lalu kembali normal “Apa sering seperti itu? Sudah berapa lama?” tanya Jungsoo.

“Kadang-kadang oppa.. Sudah 3 bulan ini, kalau saja aku tidak membutuhkannya sudah kubuang laptop ini.. Eeeeeerrrggghhhhh” omel MinAh lalu jari-jarinya mulai mengetik dengan cepat.

Jungsoo hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku adiknya.

***

Beberapa hari kemudian Jungsoo masuk ke kamar MinAh yang sedang membaca buku.

“Oppa wae geurae?” tanya MinAh.

“Ini” Jungsoo menyerahkan kardus cukup besar pada MinAh.

“Untukku?” bola mata MinAh membesar melihat kardus itu. Jungsoo mengangguk “Dari appa”.

MinAh membuka dan menjerit saat melihat isinya “Aaaaaaaacckkkkk oppaaaaaa ini laptop.. Laptop…. Appa baik sekali… Eh tapi appa kan sedang tugas di luar kota, kapan memberikannya pada oppa?”.

Jungsoo terdiam sebentar lalu menjawab “Sebelum berangkat.. Ah ngapain kamu mikirin itu, yang penting sekarang kamu punya laptop baru kan?”.

MinAh mengangguk senang “Dari mana ya appa tahu kalau laptopku rusak? Oppa yang memberitahu appa?” tanya MinAh penuh selidik.

Jungsoo menatap MinAh dengan bingung “Mwo? Eh.. Mmmmmmm yaaaaaa begitulah. Buat apa sih kamu tanya-tanya terus? Yang penting kamu bisa mengerjakan tugas tanpa terganggu. Sudah ah aku mau tidur” Jungsoo langsung keluar kamar MinAh.

Besoknya saat appanya datang MinAh langsung menghampirinya “Appaaaaaaa.. Gomawo…” kata MinAh sambil memeluk appanya lalu menyeringai gembira.

“Mwo? Untuk apa?” appanya menatap MinAh dengan bingung. “Laptop, kemarin appa membelikanku laptop dan dititipkan pada oppa kan?” MinAh menunjuk Jungsoo yang sedang duduk di ruang TV. Jungsoo menatap appanya lalu menyeringai. “Kenapa 2 anakku suka sekali menyeringai seperti itu sih?” gumam appanya.

“Oh.. Hmmm.. Ya…” balas appanya pendek.

MinAh mencium pipi appanya lalu kembali ke kamarnya kembali mengutak-atik laptop barunya.

“MinAh ayo makan” panggil eommanya dari bawah, MinAh yang sedang bermain games dengan laptopnya langsung menghentikannya “Ne eomma” balas MinAh lalu beranjak ke bawah.

“Kenapa kamu bilang kalau appa yang membelikannya laptop?” tanya appanya pada Jungsoo di ruang TV keluarga Park.

“Agar dia tidak banyak bertanya. Appa tahu sendiri bagaimana dia suka penasaran dan akhirnya mengajukan banyak sekali pertanyaan. Aku sampai bingung jawabnya” jawab Jungsoo.

“Kamu juga seperti itu” komentar appanya. “Hehehee iya ya?” Jungsoo nyengir tidak menyadari betapa miripnya dia dengan adiknya.

“Uang dari mana yang kamu pakai untuk beli laptop itu?” appanya menatap Jungsoo menuntut kejujuran. Mungkin beliau takut jika anak lelakinya melakukan kejahatan untuk mendapatkan laptop itu.

“Aku mana berani mencuri appa.. Pakai uangku sendiri. Sebenarnya selama setahun aku mengumpulkan uang untuk membeli smartphone baru, tapi sepertinya MinAh lebih butuh uang itu. Lagipula smartphoneku masih layak pakai” ujar Jungsoo.

MinAh yang sejak tadi mendengar pembicaraan oppa dan appanya di tangga terkejut. Walaupun MinAh sudah tahu sejak awal kalau yang sebenarnya membelikan laptop adalah oppanya tapi dia tidak menyangka kalau oppanya berkorban begitu besar demi dirinya.

Tanpa sadar MinAh menangis.

“Yaaaaaa Park MinAh cepat turun aku sudah lapar” teriak Jungsoo. MinAh cepat-cepat menghapus air matanya dan menyahut “Ne Leeteuk oppa” lalu segera turun.

“Kamu memanggilku apa tadi?” tanya Jungsoo pada adiknya yang duduk di sebelahnya sambil senyum-senyum.

“Leeteuk oppa… Because you’re my special guy, forever” jawab MinAh lalu mencium pipi oppanya.

“Yaaa yaaaaaaa.. Ada apa denganmu?” Jungsoo berjengit mendapat ciuman tiba-tiba dari adiknya yang tidak pernah dilakukan MinAh seumur hidupnya.

“Sudah ah ayo makan katanya lapar” MinAh bangkit dari kursi menuju meja makan.

Jungsoo menatap appanya dengan bingung yang dibalas appanya dengan mengangkat bahunya tanda tidak mengerti apa yang terjadi pada anak gadisnya.

“Lalu bagaimana dengan dokter itu? Apa dia sudah menghubungimu?” tanya Jungsoo setelah duduk di kursi sebelah MinAh.

“Ra-ha-sia” jawab MinAh yang membuat Jungsoo melotot pada adiknya “Awas ya kalau macam-macam” ancam Jungsoo.

MinAh hanya senyum-senyum penuh makna.

“Yaaaaaa gadis ini benar-benar kegenitan. Hati-hati dengan dokter aneh itu, kalau ada apa-apa jangan meminta bantuanku“ omel Jungsoo.

“Ah tanpa kuminta pasti oppa diam-diam akan membantuku kan? Iya kaaaaann??” kata MinAh dengan puppy eyes. “Memangnya aku pernah membantumu? Apa? Sebutkan?” tanya Jungsoo.

“Eobseo. Hahahahaaa” ujar MinAh dengan puas setelah menggoda oppanya.

Jungsoo lega adiknya tidak tahu apa yang sudah dia lakukan untuk membantu dan melindungi adiknya.

Tapi sebenarnya MinAh hanya berpura-pura tidak tahu bahwa oppanya selalu membantu dan melindunginya selama ini.

“Leeteuk oppa saranghae” kata MinAh dalam hati pada pria paling spesial di hidupnya.

***

Enjoy ^^