By @gurlindah93

 

Ting tong.

“Min, tolong bukakan pintu” teriak ShinAe, teman satu apartmentku dari dalam kamar mandi.

Aku yang sedang santai-santai menonton TV langsung membuka pintu. Bisa kutebak yang datang adalah orang yang mengantarkan makanan pesananku dan ShinAe dari restaurant langganan dekat apartment kami.

Kubuka pintu dan kulihat pria yang sudah 5 hari berturut-turut mengantarkan makanan pesanan kami berdiri di depan pintu.

Aku menerima tas berisi makanan lalu membayarnya dengan uang pas karena restaurant itu tidak memperbolehkan customernya memberi tip pada pegawainya.

“Gamsahamnida” kataku. Dia menatapku selama beberapa detik dan tersenyum padaku tanpa berkata apa-apa. Seperti yang selalu terjadi selama 5 hari kemarin.

Aku membalas senyumnya lalu dia pergi.

“Sudah datang?” tanya ShinAe masih dengan handuk membalut rambutnya.

“Eoh. Eh kamu tahu pria yang mengantarkan pesanan kita akhir-akhir ini? Apa dia pegawai baru ya?” tanyaku sambil mempersiapkan makan malam kami.

“Molla. Kan akhir-akhir ini kamu yang selalu membuka pintu” jawabnya.

“Iya sih” sahutku lalu mulai menyantap makanan kami.

“Wae? Apa dia tampan?” ShinAe menatapku dengan curiga. Aku balas menatapnya dengan tatapan ‘Jangan bercanda’ lalu meneruskan kegiatan makanku.

Aku, Park MinAh, mahasiswi semester 4 jurusan farmasi di salah satu Universitas terkemuka di Seoul adalah warga pendatang di ibukota Korea Selatan ini. Berasal dari Gwangju aku dan temanku sejak SMA Lee ShinAe, menyewa apartment kecil ini karena selain murah apartment ini juga dekat dengan kampus kami.

Dikarenakan kami berdua tidak ahli dalam memasak maka setiap malam kami selalu delivery makanan karena jika siang kami makan di kampus. Sudah 4 bulan ini kami memesan makanan di restaurant Shinhwa karena selain enak harganya juga cocok di kantong mahasiswa seperti kami, hanya saja kami belum pernah makan di sana padahal kata orang-orang tempatnya cukup cozy.

Ditambah dengan hari ini berarti sudah 6 hari pria tadi mengantarkan pesanan kami, kulihat dari nametag di dadanya pria ini bernama Mun Junghyuk. Dia pria yang sangat tinggi dengan bahu lebar, dada bidang, dan kulit cokelat eksotis, pria yang cukup menarik sebenarnya kalau saja dia tidak tersenyum dengan jahil seperti yang selalu dia lakukan. Itu membuatnya terlihat tidak serius.

“ShinAe-yaa apa kamu tidak ingin makan di restaurant Shinhwa? Aku dengar tempatnya cukup cozy” ajakku, tapi ShinAe menggeleng “Enak makan di sini saja” tolaknya.

Aku memanyunkan bibirku.

***

Ting tong.

Aku yang sedang berada di dalam kamar langsung melesat keluar untuk membuka pintu. Aku bisa merasakan ShinAe yang sedang menonton TV memandangku dengan heran.

Kubuka pintu dan kulihat pria yang sudah 14 hari berturut-turut mengantar pesananku berdiri di depan pintu.

Lalu kegiatan yang lama kelamaan menjadi rutinitas kamipun terjadi, aku menerima pesananku lalu membayarnya dan berkata “Gamsahamnida”. Biasanya dia menatapku selama beberapa detik, tersenyum, lalu pergi.

Tapi kali ini dia menatapku dengan lebih lama. Aku balas menatapnya dengan bingung “Ada apa?” tanyaku.

“Park MinAh-ssi?” ujarnya. Aku mengangguk tidak mengerti maksudnya, kemudian dia tersenyum dan pergi.

“Kenapa lama?” tanya ShinAe yang sudah duduk di meja makan.

“Menunggu uang kembalian, kamu tahu kan kita tidak boleh memberi tip” dustaku.

***

Ting tong.

Seolah tidak kapok dengan kejadian kemarin aku kembali membuka pintu sebelum ShinAe yang membukanya.

Pria itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya “Mun Junghyuk-imnida”.

Aku membalas uluran tangannya berpikir tidak ada salahnya berkenalan toh sebenarnya kami sudah mengetahui nama satu sama lain “Park MinAh-imnida”.

Lalu dia menyerahkan pesananku dengan menggunakan tangan kiri, karena dia tidak melepaskan tangan kananku terpaksa kuterima dengan tangan kiri juga. Aku memelototinya tapi tidak melepaskan tanganku entah untuk berapa lama.

“MinAh, lama sekali” kudengar ShinAe berjalan ke luar jadi cepat-cepat kutarik tanganku agar dia tidak salah paham.

“Sana, pergilah” usirku sambil menyerahkan uang. Pria itu nyengir lalu pergi

“Apa sebenarnya kamu kenal delivery man itu?” tanya ShinAe. Aku hanya mengangkat bahuku, tidak ingin membahasnya.

***

Ting tong.

3 hari belakangan aku menghabiskan waktu yang lebih lama untuk mengambil pesananku karena pria itu tidak pernah langsung menyerahkan pesananku, terpaksa aku menunggunya sampai dia menyerahkannya.

Jadi hari ini aku membulatkan tekad untuk langsung mengambil pesananku kalau dia tidak segera menyerahkannya.

“Boleh aku mengajakmu makan malam?” tanyanya tiba-tiba begitu aku keluar.

Kupelototi dia lalu bertanya “Mana pesananku?” dengan nada jutek. Tanpa bicara dia menyerahkan pesananku.

Aku rasa wajahku memerah karena senyumnya menjadi semakin jahil. Cepat-ccepat kuserahkan uangku lalu segera masuk.

Sebelum menutup pintu aku mendengarnya berkata “Aku serius. Pikirkanlah”

“Kenapa wajahmu Min?” ShinAe mengecek wajahku dengan seksama. Aku hanya mengggeleng lalu menyiapkan makanan kami.

***

Ting tong.

Kenapa aku masih mau membuka pintu setelah kejadian kemarin? Karena kuanggap perkataannya hanyalah gurauan.

“Bagaimana? Mau makan malam denganku?” tanyanya begitu melihatku. Ternyata dia serius.

Kupelototi dia dan kupasang tampang jutek lalu kutengadahkan tanganku padanya, meminta pesananku.

Tidak kusangka dia memegang tanganku, aku terkejut tapi anehnya tidak berbuat apa-apa.

“Min!!! Aku lapar” teriak ShinAe dari dalam, segera kutarik tanganku darinya “Mana?” pintaku.

Dia menyerahkan pesananku dengan senyuman jahil yang selalu dilakukannya.

Kali ini jantungku berdetak kencang.

Cepat-cepat kuserahkan uangku lalu segera masuk. Seperti kemarin sebelum aku menutup pintu dia mengatakan “Aku serius. Pikirkanlah”

***

Ting tong.

“Jadi? Apa kamu mau makan malam denganku?” ini adalah hari ke-7 dia memberi pertanyaan seperti itu. Aku cemberut memanyunkan bibirku, lalu kuambil pesananku dari tangannya dan kuserahkan uangku.

“Aku serius. Pikirkanlah” ujarnya sebelum aku menutup pintu.

“Park MinAh, kamu kenapa sih? Setiap mengambil makanan wajahmu selalu seperti itu?” tanya ShinAe heran sambil melihat wajahku.

Aku yakin kekesalan tergambar jelas di wajahku dan kuharap pria itu juga menyadarinya “Nae eolgul? Wae geurae?”.

“Wajahmu selalu terlihat berseri-seri” jawabnya jauh dari perkiraanku yang membuatku menjatuhkan sumpit “Mwo???” kataku setengah berteriak.

ShinAe hanya mengangkat bahunya lalu kembali makan.

***

Ting tong.

Aku merasa tidak sanggup menghadapi pria itu jadi kusuruh ShinAe yang membuka pintu. “Tumben” komentar ShinAe. Aku diam saja.

Tapi aku berusaha menguping pembicaraan mereka “Di mana Park MinAh-ssi?” tanya pria itu.

Kuberi tanda pada ShinAe untuk mencari alasan “MinAh sedang mandi, sepertinya agak lama. Mau menunggunya?” jawab ShinAe.

“Apa kamu sudah gila Lee ShinAe????” gumamku kaget mendengar tawaran ShinAe.

“Tidak usah, aku harus mengantar pesanan ke tempat lain. Bilang saja padanya aku menunggu” ujarnya lalu pergi.

“Dia menunggumu untuk apa Min?” tanya ShinAe penasaran. “Molla. Tapi kenapa kamu menyuruhnya menungguku sih? Kamu gila apa? Bagaimana kalau dia pencuri?” aku memarahinya karena sudah melakukan tindakan bodoh.

“Dia nampak baik dan berpendidikan kok. Eh tapi aku tahu kenapa kamu selalu ingin menemuinya, dia keren juga ternyata. Benar-benar manly. Tadi dia memakai T-shirt putih yang memperlihatkan dada bidangnya, so hot! Sayang sekali kamu tidak melihatnya hohoho” ShinAe menggodaku sambil nyengir lalu ke kamar mandi.

Aku menarik nafas panjang. Entah mengapa aku merasa menyesal.

***

Ting tong.

Dengan kecepatan cahaya aku membuka pintu.

“Annyeonghaseyo. Park MinAh-ssi? Ini pesanannya” kata seorang pria yang nampak seperti anak SMA sambil menyerahkan pesananku.

Aku terkejut melihat pria di depanku. Kutengok kanan kiri tapi pria jahil itu tidak ada dimanapun.

“Ada apa?” tanya pria di depanku ikut menoleh ke kanan kiri kebingungan.

Aku bimbang.

Tapi akhirnya kulontarkan juga pertanyaan yang kurasa akan kusesali selama 1.000 tahun “Di mana pria yang biasanya mengantar?”.

Pria itu tersenyum geli. Aku memandangnya dengan heran.

“Joesonghamnida, sebelum berangkat Junghyuk hyung sudah memperingatkanku bahwa Park MinAh-ssi akan mencarinya. Tidak kusangka Junghyuk hyung benar. Hehehee” ucapnya dengan geli.

“Dia bilang seperti itu? Bilang padanya aku tidak menerima ajakannya” ujarku dengan nada sedikit tinggi karena kesal. Tapi pria ini malah tertawa. Sepertinya semua delivery man dari restaurant itu tidak ada yang waras.

“Hahahaa joesonghamnida, Junghyuk hyung itu memang konyol, tapi dia benar-benar baik dan tulus. Di saat dia sedang mengerjakan tugas akhir kuliahnya seperti ini dia masih mau membantu mengurus restaurant milik orang tuanya. Sebelum menjadi delivery man Junghyuk hyung adalah kasir, tapi entah kenapa sekitar 1 bulan ini dia memaksa untuk membantu mengantar makanan, terutama ke sini. Sekarang aku rasa aku tahu alasannya” pria di depanku nyengir lalu melihatku dari atas sampai bawah.

Tanpa berkomentar aku mengambil pesananku dari tangannya lalu menyerahkan uangku.

“Ohya Junghyuk hyung saat ini sedang sakit jadi saya yang menggantikannya. Gamsahamnida noona” katanya lalu pergi.

Aku menutup pintu dengan kesal “Siapa yang mencarinya? Aiiiiisssshhh”.

***

Ting tong.

“Hi… Rindu padaku?” senyuman jahil itu akhirnya muncul lagi di depanku setelah 5 hari menghilang.

Aku tersenyum tipis.

Hari ini dia memakai kemeja berwarna hitam lengan panjang yang ditekuk sampai siku dengan celana jeans dan sneakers.

Selama ini aku selalu bertanya-tanya kenapa dia tidak pernah memakai seragam restaurant, ternyata dia putra pemilik restaurant.

Mengingat kejahilan pria ini senyumku langsung hilang dari bibirku. Kupasang tampang jutek yang biasa kuperlihatkan padanya.

Kutengadahkan tanganku meminta pesananku, lalu seperti yang sudah kuduga dia malah memegang tanganku. Dan seperti biasanya kupelototi dia tapi kubiarkan dia menggenggam tanganku. Aku berharap bola mataku tidak keluar dari rongganya karena terlalu sering memelototi pria di depanku ini.

“Nampaknya kamu benar-benar merindukanku ya…” dia menatapku dengan tatapan yang nyatanya kurindukan selama beberapa hari terakhir ini.

Aku melengos tapi dia malah tersenyum nakal. Jantungku berdetak kencang, wajahku memerah. Aku harus mengecek di buku kuliahku obat apa yang bisa menghilangkan gejala-gejala ini.

“Mianhae.. Aku terkena flu karena beberapa minggu terakhir mengerjakan tugas akhir sampai pagi. Tapi tenang saja, tugas akhirku sudah selesai jadi kita bisa berkencan dengan leluasa. Park MinAh, tawaranku masih berlaku. Apa kamu mau makan malam denganku?” tanyanya dengan senyum jahilnya entah untuk keberapa kalinya.

Biasanya aku akan melotot, melengos, cemberut, lalu cepat-cepat menghilang dari hadapannya.

Tapi kali ini sepertinya bukan otakku yang mengontrol bibirku “Ne.. Aku mau” jawabku yang membuatnya tersenyum lebar dan mempererat genggamannya.

***

Setelah baca FF ini jangan lupa baca ‘Delivery Promise’🙂

Enjoy ^^