Aku masih bisa merasakan hantaman keras di kepalaku dan bau rumah sakit yang hampir selama 6 bulan aku tinggali. Semuanya terasa begitu jelas di ingatanku, bahkan hingga setahun aku meninggalkan tempat itu.

Aku membetulkan jas hitamku, ini hari pernikahan, ujarku dalam hati. Tak seharusnya aku sesedih ini.

Aku masih ingat bagaimana hari disaat aku bangun dari koma, aku bisa melihat ia menangis namun memberikan senyum bahagia kepadaku, dia terus mengatakan kau akhirnya sadar. Aku memandangnya dengan takut. Aku tidak bisa ingat apa-apa, bahkan tentang dirinya. Aku berteriak tak karuan, sayup-sayup aku mendengar dokter mengatakan aku amnesia.

Aku merasa ketakutan, aku bahkan tidak ingat dengan diriku sendiri. Menurutnya namaku Kim Woobin dan aku seorang pengacara. Dia bahkan tak mengatakan siapa dirinya dan apa hubungannya denganku. Aku hanya tau namanya, Choi Jihyo.

Dia selalu datang menemuiku, membantuku untuk melakukan terapi agar aku bisa berjalan kembali. Dia menyupaiku saat aku tak kuat mengangkat sendok dengan tanganku sendiri. Bahkan dia selalu mengenggam tanganku agar aku bisa tertidur lelap.

Suatu hari ia datang terlambat, aku ingat dia datang dengan seorang pria. Entah mengapa aku merasa marah, membentaknya agar jangan mendekat denganku, aku mendorongnya hingga ia jatuh. Aku ingat pria itu berteriak, “Kau gila Woobin! Dia itu keka-”

Aku tak bisa mendengar kelanjutan ucapan pria yang akhirnya memperkenalkan dirinya sebagai sahabatku, Lee Jong Suk. Ucapan Jong Suk tertahan saat tangan Jihyo menarik tangan Jongsuk, menahannya untuk tak mengatakan apa-apa lagi.

Semenjak hari itu aku semakin takut, aku takut dengan perasaan aneh yang menjalar karena terus memikirkan dirinya. Aku memutuskan untuk lari dari Choi Jihyo. Aku memakinya, aku memarahinya, aku melarangnya berada disampingku, namun dia tampak peduli, dan terus menghadapiku dengan senyumnya.

Hingga suatu hari aku bertemu dengan Han Jin Ah, salah satu pasien di rumah sakit. Entah mengapa sikapnya mengingatkanku dengan seseorang. Dia dirawat di rumah sakit karena patah tulang kaki akibat dia meloncat dari lantai 2 rumahnya untuk menyelamatkan anak kucing. Aku tak bisa menghentikan tawaku saat tau alasan itu. Jin Ah suka sekali meledekku, dia bahkan tak jarang untuk memukulku atau mengerjaiku. Aku selalu merasa sangat mengenal kepribadian seperti ini.

Aku memutuskan untuk terus bersama Jin Ah agar Jihyo menjauhiku. Namun ia tetap berada di sampingku, merawatku hingga aku pulih dan keluar dari rumah sakit. Jin Ah selalu bertanya apa hubungannya dengan diriku, dan akhirnya aku tau alasannya.

“Jin Ah, Woobin oppa temanku sejak kecil, dia sudah seperti kakak kandungku,” jawabnya. Jin Ah tersenyum lega mendengarnya dan berteman akrab dengan Jihyo, namun aku merasa sakit yang tak bisa kujelaskan saat mendengarnya.

“Omo! Oppa, kau aneh dengan jas!” Aku menoleh ke arah pintu, melihat dirinya yang sangat cantik dibalut dengan gaun pernikahan warna putih. Dia sedikit mengangkat gaunnya saat berjalan ke arahku. Aku tersenyum.

“Kau cantik,” aku menggenggam tangannya yang memakai sarung tangan. Dia memandangku dengan tatapan kaget, aku buru-buru menambahkan “Tapi seperti babi.”

Jihyo memukul lenganku dengan keras. “Ya! Kim Woobin! Kalau saja Sungmin oppa tidak memintamu jadi man of honor, aku akan menendangmu saat ini juga!”

Aku terdiam, Lee Sungmin, dokter yang merawatku selama 6 bulan, dan pria yang akan menikahi gadis di depanku.

Aku tidak tau pasti mengapa Sungmin hyung dan Jihyo bisa menjadi dekat. Namun aku merasa Jihyo sedikit berubah saat Jin Ah datang ke kamarku dan mengatakan jika ia menyukaiku.

Aku bisa melihat dari ujung mataku jika Jihyo yang duduk di sofa ruang kamar rumah sakit ini memandangku dengan tatapan kosong, matanya memerah. Namun otakku menyuruhku untuk bersama Jin Ah jika ingin menghilangkan semua rasa takut dan khawatir yang aku rasakan jika Jihyo berada di sampingku. Dan aku mengatakan pada Jin Ah jika aku juga menyukainya.

“Kami berdua akan menikah,” ujar Sungmin hyung 3 bulan lalu saat kami berempat sedang makan malam bersama di daerah Gangnam. Jin Ah bersorak dan memeluk Jihyo. Aku menepuk bahu Sungmin hyung, yang sudah kuanggap sebagai penyelamatku dan kakakku sendiri. Namun aku tidak tau kenapa kepalaku saat itu sakit sekali, dan aku pingsan.

Aku terbangun di kamarku, sendirian. Aku menangis, berteriak, menghantam semua benda yang ada didekatku. Kenapa aku tiba-tiba teringat momen itu. Aku mengendarai mobilku dengan kencang, menelpon sahabatku, Jong Suk. “Ya! Jong Suk-ah! Kami berdua akan menikah!” Dan tiba-tiba aku menghantam pembatas jalan di depanku dan semuanya menjadi hitam.

“Kau kenapa sih oppa?” Jihyo menggembungkan pipinya, memasang tampang sebal. Aku tersenyum dan mencubit di pipinya, dia berteriak aku merusak make up nya.

“Sudah sudah sana oppa! Kau temani Sungmin oppa sana!” Jihyo mendorongku, aku tertawa mengangguk. Namun seluruh badanku terasa ngilu, hati dan pikiranku terasa sakit hingga mau mati.