Ini bagian kedua dari seri Lost. Bukan lanjutan sih sebenernya, tapi lebij cerita dari sudut pandang lain aja. Nantikan cerita terakhir dari seri ini *promosi* *mohon komennya :p*

Aku berusaha tersenyum saat melihat pantulan diriku di depan cermin. Aku akhirnya bisa memakai gaun putih ini di hari pernikahanku. Namun entah mengapa hatiku amat sakit, mungkin ini gara-gara dirinya.

Sekitar 1,5 tahun lalu, sore hari. Aku sedang berada di butik wedding di Seoul. Aku sedang memilih gaun untuk pernikahanku. Aku menunggunya datang, namun dia tidak datang-datang. Yang datang hanyalah telepon dari Jong Suk.

“Jihyo, Woobin kecelakaan.”

Dan hingga ia membuka matanya, terbangun dari koma selama seminggu, semuanya tak lagi sama. Dia memandangku dengan tatapan bingung, marah, kesal. Dia terus meracau mengapa dia tak ingat semuanya, tak ingat satu momen apapun selama hidupnya.

Aku berusaha untuk tegar, berusaha untuk tetap berada di sampingnya walaupun aku juga telah hancur berkeping-keping saat ia tak mengenaliku. Dia terus bertanya siapa dirinya dan siapa diriku, apa hubunganku dengannya.

Lidahku kelu saat mengatakan jawaban itu, “Kau Kim Woobin, seorang pengacara. Aku Choi Jihyo.” Aku berusaha tersenyum, namun rasanya aku ingin berlari keluar dari kamar pasien ini dan menangis sejadi-jadinya. Aku tidak mau Woobin oppa semakin terbebani jika mengetahui aku adalah kekasihnya yang bahkan sama sekali tak dia ingat.

Aku menarik napas dalam-dalam, melangkahkan kakiku menuju ruangannya, mungkin ini yang terakhir kali aku akan melihatnya. Mungkin aku yang terlalu berharap ada keajaiban dia mengingat semuanya dan mencegah pernikahan ini.

“Omo! Oppa, kau aneh dengan jas!” Aku melihat dirinya yang berdiri tegap di tengah ruangan. Dia selalu tampak tampan dengan baju apapun. Rasanya aku ingin memeluknya, namun aku tau aku tak bisa. Aku mengamati lengkung yang tergambar di wajahnya. Senyuman itu, senyuman yang tak lagi untuk diriku.

Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit bersama Jong Suk oppa, sahabat Woobin oppa. Dia terus menerus menanyakan apakah Woobin akan mengingatnya atau tidak, aku tersenyum dan berharap setidaknya Woobin oppa bisa mengingat Jong Suk oppa.

Namun, saat aku membuka pintu kamarnya dan masuk bersama Jong Suk oppa, aku melihat reaksi aneh dari dirinya. Tubuhnya menegang, tiba-tiba ia marah, membentakku agar jangan mendekatinya. Namun aku tidak peduli, kondisinya belum stabil dan akan lebih parah jika emosinya terus meledak. Aku berusaha mendekatinya, menenangkannya. Namun dia mendorongku hingga aku jatuh terjerembab.

Jong Suk oppa maju membelaku, dia hampir mau menonjok Woobin oppa. “Kau gila Woobin! Dia itu keka-”

Belum sempat Jong Suk oppa menyelesaikan ucapannya, aku menarik tangannya, aku menatapnya seolah ingin mengatakan jangan beritahu Woobin oppa. Jong Suk oppa menghempaskan tanganku dan keluar dari kamar meninggalkanku sendirian yang bahkan sudah tak tau lagi bagaimana caranya menangis.

“Kau cantik,” Woobin oppa menggenggam tangannya yang memakai sarung tangan. Aku memandangnya dengan tatapan kaget. Setelah 1,5 tahun sejak kecelakaan itu, ia tak pernah mengatakan aku cantik, bahkan dengan tatapan seperti itu. Dia buru-buru menambahkan “Tapi seperti babi.” Aku tertawa sambil memukul lengannya. Namun hatiku tersayat. Dia akhirnya memang tak menatapku dengan takut dan marah lagi. Namun kini ia hanya menatapku sebagai seorang teman, tak lebih.

Aku melihat Woobin oppa menatap Jin Ah sama seperti caranya menatapku sebelum ia amnesia, penuh cinta. Aku mengamati dari lantai 2 rumah sakit saat Woobin oppa duduk di taman bersama Jin Ah, tertawa lepas. Pada saat itu aku tau aku sudah kehilangan hatiku. Namun rupanya bukan hanya aku saja yang merasakan kesedihan. Aku menengok ke ujung lantai ini, seseorang dengan jas putih memandang sendu ke arah Woobin oppa dan Jin Ah. Dokter Lee Sungmin, dokter yang menangani Woobin oppa, mencintai Jin Ah, setidaknya itu yang aku lihat dari tatapannya, tatapan yang sama denganku saat melihat kedua orang itu.

Aku memandangi wajah Woobin oppa lekat-lekat, rasanya aku ingin berteriak, mengapa kau tidak ingat semuanya! Mengapa kau tidak ingat jika kau akan menikah denganku! Mengapa kau membiarkanku menikah dengan orang lain! Namun percuma, dia sudah memiliki Han Jin Ah, gadis baik yang bahkan aku pun tak rela menyakitinya. Jin Ah tidak salah apa-apa.

Jin Ah terlalu polos untuk disakiti, bahkan aku tak bisa mengatakan yang sebenarnya saat ia bertanya apa hubunganku dengan Woobin oppa.

“Jin Ah, Woobin oppa temanku sejak kecil, dia sudah seperti kakak kandungku,” jawabku. Aku menahan airmataku agar tidak jatuh.

Jin Ah mengatakan jika ia mencintai Woobin oppa dan bertanya apakah Woobin oppa juga menyukainya. Aku sudah tak bisa mendengar apapun. Aku hanya menatap mereka berdua dengan tatapan kosong, aku sudah tidak sanggup lagi. Perlahan aku melangkahkan kaki keluar dari kamar pasien. Namun langkahku terhenti saat melihat Dokter Lee Sungmin terpaku di depan kamar Woobin oppa. Kurasa dia juga mendengar semuanya.

Aku berusaha melewatinya, namun ia menahanku, menarikku ke dalam pelukannya. Aku tak tau mengapa aku menangis di pelukannya, mungkin dia juga tidak tau mengapa dia meneteskan airmata di bahuku.

Aku menggelengkan kepalaku, berusaha membuyarkan lamunanku. Tak kusangka, dia juga sepertinya melamun. Apa dia ingat semuanya.

“Kau kenapa sih oppa?” Aku menggembungkan pipiku, memasang tampang sebal. Dia tersenyum dan mencubit di pipiku, aku berteriak dia merusak make up ku. Namun sebenarnya aku bahagia jika dia merusak make upku, bahkan aku lebih bahagia jika dia merusak hari pernikahan ini.

Tapi aku tidak bisa. Bodohnya aku melupakan Sungmin oppa. Aku tidak akan bisa meninggalkan dokter itu begitu saja. Aku dan dirinya adalah dua orang yang telah kehilangan hatinya. Dan kami hanya bisa saling menjaga agar kami tidak mati rasa.

Aku tidak tau bagaimana aku bisa dekat dengan Sungmin oppa. Kurasa karena kami berdua sama-sama patah hati. Namun dari hari ke hari, yang aku tau kami tidak bisa berpisah. Aku membutuhkannya untuk tetap sadar bahwa Woobin oppa tak akan pernah mencintaiku lagi. Dia membutuhkanku agar dia bisa menghapus memori tentang Jin Ah.

Hingga hari ini, hari pernikahan kami. Mungkin memang sudah seharusnya dua orang yang kalah ini pergi dari kehidupan Woobin oppa dan Jin Ah. Kurasa seperti inilah caranya. Namun masih ada sedikit bagian di hatiku yang memberontak, berusaha berharap Woobin oppa mengingatku kembali.

“Sudah sudah sana oppa! Kau temani Sungmin oppa sana!” Aku mendorong Woobin oppa menuju ruangan Sungmin oppa, ia tertawa mengangguk. Aku hanya bisa memandangi punggungnya yang menjauh dan menghilang dari pandanganku.

Mataku memanas, aku tau aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku tak peduli dengan make up yang akan luntur, atau gaunku yang akan kusut. Aku terduduk, memeluk lututku, menangis sejadi-jadinya.