By @gurlindah93

 

‘My love, tunggu aku ya.. Gomdori minta ditemani makan.. Love you.. Muah muah..’ aku menerima pesan dari pria yang 2 tahun belakangan menghantuiku. Seharusnya dia datang ke Hurricane cafe ini sejak 15 menit yang lalu sesuai kesepakatan kami.

Rumahnya berjarak 20 menit dari sini, itu berarti setidaknya aku harus menunggunya kurang lebih 30 menit lagi. Apa dia gila?!

‘YAAA MUN JUNGHYUK!!! APA KAMU TAHU BERAPA PASIEN YANG HARUS KUTINGGALKAN UNTUK BERTEMU DENGANMU??????’ balasku.

‘Nado saranghae.. A lot of kiss’ pria ini benar-benar mengesalkan.

***

2 tahun yang lalu.

Hari ini hari pertamaku bekerja di Seoul International Hospital setelah lulus dari pendidikan dokter spesialis jantung. Sebagai pegawai baru tentu saja aku harus menunjukkan potensi dan kepintaranku pada rekan-rekan kerjaku.

“Panggilan 27AA. Kepada bagian jantung, ada emergency call dari pengadilan Seoul, Hakim yang bertugas mengalami serangan jantung. Mohon respon secepatnya” suara dari interkom memenuhi ruangan jantung tempatku bertugas.

“Pasti hakim Bae lagi. Beliau sudah beberapa kali mengalami serangan jantung ringan tapi tetap saja bertugas. Aku sudah mewanti-wantinya agar pensiun saja, umurnya sudah 73 tahun!” omel Kim Haerim seniorku entah pada siapa karena kulihat rekanku yang lain tidak bereaksi. Entah pura-pura tidak dengar atau memang sedang fokus pada pekerjaan mereka.

“Aku saja yang menanganinya” suaraku menggema di ruangan, semua rekanku melihatku dengan pandangan tidak percaya.

“Apa kamu yakin?” Haerim berusaha mempertanyakan keseriusanku. Aku mengangguk dengan yakin.

“Park MinAh merespon panggilan 27AA, akan berangkat dalam 2 menit” kataku pada operator yang langsung dijawab “Ne, Park MinAh-ssi. Selamat bertugas”.

“Selamat bertugas MinAh” Haerim mengatakannya sambil senyum-senyum penuh makna.

Setelah menyiapkan peralatanku aku langsung ke bawah menuju ambulans yang akan membawaku ke pengadilan.

Sampai di pengadilan aku dan Lee Yuri perawat yang menemaniku bergegas ke ruang sidang B yang ternyata tidak sesuai dengan bayanganku. Di sana tidak ada keramaian ataupun kepanikan yang biasanya terjadi bila ada orang yang mengalami serangan jantung.

“Ddo? Sudah berapa kali hakim Bae mengalaminya?” kudengar seorang wanita yang dilihat dari pakaiannya merupakan terdakwa kasus yang saat ini ditangani hakim Bae sedang bertanya dengan nada genit.

“5 atau 6 kali ya? Aku tidak tahu, yang jelas ini ketiga kali aku melihatnya mengalami serangan seperti ini” jawab seorang pria yang duduk di sebelah wanita itu dengan santai.

Kulirik pria itu karena tidak percaya bagaimana santainya dia menghadapi situasi ini padahal sudah 3 kali mengalaminya. Dia balas melirikku dengan seringai yang membuatku menabrak Yuri yang tiba-tiba berhenti berjalan.

“Wae geurae?” tanyaku kesal. Aku tahu pria itu memandangku dengan geli tapi aku pura-pura tidak mengetahuinya.

“Ini hakim Bae” jawab Yuri menunjuk pria senja yang sedang duduk dengan senyum lirih di depannya. Aku langsung memeriksa denyut nadinya.

“Nan gwenchana.. Waaahhh bukan Haerim yang datang ke sini. Apa kamu dokter baru? Manis juga, tapi aku tidak akan mau disuruh ke rumah sakit walau oleh dokter manis sepertimu. Siapa namamu?” hakim Bae melihatku dengan puppy eyes yang sangat menggemaskan.

Sekarang aku tahu kenapa Haerim menghindari pasien ini.

“Park MinAh” balas Yuri, langsung kupelototi dia. “Mian” Yuri tidak berani menatapku.

“Nama dan orangnya cocok sekali. Jota.. Namaku Bae Jinyoung” ujar hakim Bae.

“Ne.. Sekarang hakim Bae harus ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan menyeluruh” kataku setelah memeriksa denyut nadi dan denyut jantungnya. Aku harus melakukan pemeriksaan ECG dan MRI karena berdasarkan kondisinya saat ini dan rekam medis yang kubaca sepertinya hakim Bae mengalami kebocoran jantung.

“Shireo! Aku harus melanjutkan sidang, kamu tidak lihat wanita seksi di sana? Aku harus segera membacakan vonis untuknya agar dia tidak menjalankan prostitusi ilegal lagi. Berikan saja aku obat, besok aku janji ke rumah sakit” hakim Bae berbisik padaku sambil melambaikan tangan pada terdakwanya. Wanita itu membalas lambaian tangan hakim Bae lalu mengobrol lagi dengan pria di sebelahnya.

Tangan wanita itu kini berada di pundak pria di sebelahnya lalu berusah mengajak pria itu mengobrol. Pria itu merespon sekenanya tapi matanya menatap ke arahku.

Kutatap hakim Bae dengan tatapan yang selalu kuberikan pada harabojiku bila sedang membujuk beliau. “Hakim Bae, kondisi anda saat ini memerlukan perawatan intensif dan observasi 24 jam dari dokter di rumah sakit. Sebaiknya anda ikut saya sekarang. Oke?” bujukku.

Dia menatapku dengan tajam lalu menggeleng “Shireo! Aku tidak akan meninggalkan kursi ini” dan membuang muka.

Jika tidak sedang dalam keadaan emergency mungkin aku sudah mengajak pria senja yang menggemaskan di depanku ini ke taman untuk piknik.

Aku menghela nafas “Hakim Bae ikutlah dengan saya. Juseyo?” jika hakim Bae bisa memberiku puppy eyes, akupun bisa memberinya puppy eyes.

“Omo! Kiyeowo.. Johahae MinAh-ssi” hakim Bae mencubit pipiku yang membuat orang-orang di dalam ruangan tertawa kecuali pria di sebelah terdakwa yang sejak aku datang memperhatikanku dengan sikap aneh.

Baiklah, sepertinya aku harus sedikit keras menghadapi hakim Bae “Yuri, tolong panggil 2 orang security. Ppali juseyo” perintahku yang langsung dilaksanakan Yuri tanpa bertanya.

Beberapa menit kemudian Yuri datang membawa 2 security.

“Hakim Bae tidak ingin meninggalkan kursi ini? Baiklah, hakim Bae tidak perlu meninggalkan kursi ini” kataku pada hakim Bae yang membuatnya kebingungan.

“Tolong angkat kursi ini beserta hakim Bae ke ambulans” kataku sambil tersenyum pada 2 security yang menatapku dengan kaget.

“Mwo?? Mworago???” hakim Bae sama kagetnya dengan security yang kumintai tolong.

“Juseyo?” kataku pada security sekali lagi dengan nada sungguh-sungguh.

2 security itu melaksanakan perintahku yang menyebabkan hakim Bae meronta-ronta. “Park MinAh, apa yang kamu lakukan? Yaaaaaa turunkan aku” hakim Bae memukul-mukul tangan security yang mengangkat kursinya tapi tidak berpengaruh.

“Anda boleh tetap berada di kursi ini, tapi saya juga akan tetap membawa anda ke rumah sakit. Kalau perlu dengan kursi ini” ucapku dengan serius. “Kajja” aku berjalan lebih dulu diikuti hakim Bae yang diangkat security.

“Yaaaaaa ini namanya pelanggaran hak asasi manusia. Yaaaaaaa Park MinAh kamu bisa kutuntut. Aku akan menuntutmu! Andwaaeeee..” omel hakim Bae, tentu saja aku mengabaikan ancamannya yang tidak masuk akal itu.

Kulirik pria di sebelah terdakwa yang melihatku dengan melongo. Kusunggingkan senyum tipis berbau kesombongan padanya.

Sepanjang perjalanan sampai ambulans yang diparkir di halaman depan pengadilan hakim Bae terus meronta-ronta minta diturunkan, aku tidak menghiraukannya karena sebagai dokter aku ingin pasienku mendapat penanganan secepatnya.

“Anda mau turun dan tidur di tempat tidur sampai di rumah sakit atau tetap duduk di kursi kebesaran anda yang saya yakin tidak nyaman itu?” tawarku pada hakim Bae sebelum naik ambulans. Kali ini beliau sudah mulai tenang, mungkin terlalu lelah setelah meronta-ronta tadi.

Tanpa bicara hakim Bae turun dari kursinya dan meletakkan badannya di tempat tidur dengan cemberut. Aku tersenyum puas.

“Kajja” kataku.

“Tunggu!!!!!!” tiba-tiba ada orang yang menggedor-gedor pintu ambulans.

Yuri membuka pintu ambulans dan kulihat pria yang tadi duduk di sebelah terdakwa berdiri di depan pintu.

Dia tersenyum padaku lalu masuk ke dalam ambulans dan duduk di sebelahku. “Kajja” katanya.

Aku melongo “Nuguseyo?” tanyaku kebingungan.

“Tadi aku dengar hakim Bae akan menuntutmu karena sudah memaksanya naik ambulans sehingga melanggar hak asasi beliau. Aku akan mewakilinya kalau dia benar-benar menuntutmu” dia menyerahkan kartu namanya.

Eric Mun, lawyer from Eric Mun and associates.

“Mwo???? Kamu pasti bercanda” sahutku, dia mengangkat bahunya “Tanyakan saja pada hakim Bae” pria dengan nama Eric Mun yang mengaku-ngaku sebagai pengacara hakim Bae ini menunjuk hakim Bae.

Aku memandang hakim Bae berusaha menuntut penjelasan darinya. Dia tertawa “Hahahaa.. Benar sekali MinAh-ssi, aku akan menyewa Eric sebagai pengacaraku. Siap-siap mendapat tuntutan dariku ya nona manis. Gomawo Eric-yaa, tidak sia-sia aku bersahabat dengan ayahmu” ujar hakim Bae pada Eric yang kini tersenyum dengan penuh kemenangan.

“See? Aku adalah pengacaranya jadi aku berhak tahu keadaannya. Kajja” perintahnya.

Supir melihatku meminta persetujuan, aku menggeleng padanya. “Hakim Bae, aku harus memaksa anda karena anda butuh pemeriksaan menyeluruh di rumah sakit. Dan kamu pengacara, kamu tidak diperbolehkan naik ambulans ini, ini bukan kereta subway. Naik mobilmu sendiri sana. Ka!” tolakku.

Eric langsung memasang tampang sedih seperti anak kecil kehilangan permennya “Mobilku dibawa rekanku yang harus secepatnya kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk”.

“Nah berarti pekerjaanmu banyak. Sana kembali ke kantor, aku bisa mengurus hakim Bae” aku tidak tahu mimpi apa aku semalam sampai harus bertemu 2 pria aneh di hari pertamaku bekerja.

“Aku tidak menyangka kamu begitu mencemaskanku. Tapi aku di sini untuk bekerja nona, klienku ada di sini dan membutuhkanku. Sepertinya kita harus cepat-cepat berangkat, bukankah tadi kamu bilang hakim Bae harus secepatnya diperiksa? Kajja” dia menunjuk hakim Bae yang hanya senyum-senyum memperhatikan kami.

Mengingat kondisi hakim Bae, aku hanya mengangguk lemah pada supir menyuruhnya berangkat.

Di jalan 2 pria itu mengobrol tidak jelas.

“Eric-yaa. Sadarkah kamu, dokter ini manis sekali. Apalagi saat dia menatapku dengan tatapan menggemaskan seperti tadi untuk membujukku. Lalu saat dia menyuruh security mengangkat kursiku juga keren sekali” ujar hakim Bae dengan penuh semangat seperti lupa bahwa dia baru saja mengalami serangan jantung.

“Oleh sebab itu aku di sini hakim Bae, dia sungguh menggemaskan. Sejak tadi aku sudah memperhatikannya. Dan aku ingin membawanya pulang hehehe” sahut Eric sambil menatapku dan senyum-senyum tidak jelas.

Aku berdoa semoga cepat sampai di rumah sakit agar tidak mendengarkan ocehan 2 pria ini.

Selama di rumah sakit Eric mengikutiku ke manapun aku pergi “Yaaaa apa yang kamu lakukan? Kamu menggangguku, duduklah di ruang tunggu ini ruangan khusus dokter. Ka!” usirku saat dia mengikutiku sampai ruang MRI.

“Aku perlu tahu keadaan hakim Bae as soon as possible, aku kan pengacaranya. Dan ingat, aku bisa menuntutmu nona yang semakin lama kulihat semakin manis. Be nice” ucapnya sambil menyunggingkan senyum nakal penuh ancaman.

Aku memelototinya “Atas dasar pelanggaran hak asasi pada hakim Bae? Tapi dia….” dia cepat-cepat menggeleng memotong kalimatku “Ani.. Atas dasar penerobosan ke area pribadi, yaitu masuk ke dalam hatiku tanpa ijin. Perlu kamu tahu, hukumannya cukup berat” Eric tersenyum menunjukkan gigi putihnya yang rapi.

“Mwo?” pria ini benar-benar gila pikirku. Dia menyeringai seperti saat di pengadilan yang membuatku membuang muka, takut kalau dia menyadari perubahan warna wajahku .

“MinAh, bagaimana kamu bisa membawa hakim Bae kemari? Aku sudah menyerah setelah 4 kali gagal membawanya. Harus kuakui kamu sungguh hebat bisa membuatnya menyerah” Haerim mendatangiku dengan wajah kagum. Aku tersenyum bangga.

“Dia mengangkat kursi hakim Bae” tiba-tiba Eric menjawab. Haerim menatapku dengan bingung “Ya.. begitulah sunbae” aku tidak sanggup menjelaskan tindakanku tadi.

“Nugu?” tanya Haerim padaku sambil menunjuk Eric. “Eric Mun, pengacara hakim Bae. Aku berencana menuntut gadis ini hehee” jawab Eric.

Aku menatapnya dengan sebal. “Mworago? Benarkah itu?” Haerim terkejut dan nampak kebingungan sekaligus panik.

“Aniyo sunbae, dia hanya bercanda” jelasku. Haerim menatapku dan Eric secara bergantian.

“Geurae, aku harus mengurus pasien lain. Semoga berhasil dengan hakim Bae. Once again, good job on your first day MinAh. Annyeong” akhirnya Haerim meninggalkanku. “Annyeong” balasku lega dan mengecek hasil pemeriksaan hakim Bae.

“Ini hari pertamamu kerja?” tanya Eric penasaran. “Bukan urusanmu, urusanmu hanya hakim Bae” jawabku berkonsentrasi membaca hasil MRI dan ECG dokter Bae.

Benar dugaanku, ada katup jantung hakim Bae yang bocor dan harus segera dioperasi.

“Pengacara, hasilnya sudah keluar. Bisa tolong hubungi keluarganya?” pintaku.

“Apa hasilnya?” Eric mengintip kertas-kertas hasil ECG dan MRI yang kuyakin tidak dia mengerti. Aku tidak menjawab pertanyaannya.

“Sepertinya ada kebocoran di jantungnya, akan kutelepon istrinya” ujarnya. Tidak kusangka dia mengerti arti kertas-kertas itu.

“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanyaku saat dia selesai menelepon istri hakim Bae.

“2 orang kakakku dokter. Bisa dibilang aku lebih dulu mengenal dunia kedokteran dibanding dunia hukum. And fyi I graduated from Stanford so yes, I can read those papers” jawabnya. Kutatap dia dengan takjub. Stanford? Wow pria di depanku ini bukan pengacara sembarangan.

Eric memasang tampang congkak “Wae? Tidak usah terkesima seperti itu, aku memang cerdas. Dan tampan” aku menyesal karena tidak pernah bisa mengontrol ekspresi wajahku.

Beberapa saat kemudian aku bertemu dengan istri hakim Bae untuk menjelaskan kondisi suaminya, tentu saja ditemani pria yang menyebut dirinya pengacara hakim Bae walau istrinya terkejut dengan berita itu. Bahkan lebih terkejut daripada saat mendengar kondisi suaminya.

Jam 7 malam akhirnya pekerjaanku selesai semua, aku bersiap-siap pulang karena merasa hari ini sangat panjang dan melelahkan. Kusiapkan kunci mobil agar aku tidak perlu mencarinya lagi.

“MinAh, sepertinya pria yang sejak tadi siang mengikutimu sedang menunggumu di luar” kata Shin Minhee rekanku sesama dokter jantung.

“Dan dilihat dari dekat ternyata dia keren sekali” tambah Park Ahra yang baru masuk ke ruangan kami.

“Mwo? Ah mungkin dia sedang menemani hakim Bae. Annyeong yorobeun.. Sampai besok” pamitku.

Aku melihat Eric duduk di depan ruanganku. Dia tersenyum saat melihatku “Finally.. Tahukah kamu betapa capeknya aku duduk di sini?”.

“Apa yang kamu lakukan di sini? Seharusnya kamu menemani hakim Bae di kamar beliau” kataku.

“Ada istri hakim Bae yang sedang menemaninya di kamar” sahutnya.

“Lalu kenapa masih di sini? Tidak pulang dari tadi” lalu apa yang dia lakukan di sini kalau bukan untuk hakim Bae.

“Aku menunggumu karena kamu akan mengantarku pulang” Eric bangkit dari kursinya lalu membuka jasnya dan menyampirkan di bahuku “Di luar dingin” ujarnya lalu mengambil kunci mobil dari tanganku dan berjalan menuju tempat parkir.

“Yaaaaaa.. Kamu bisa pulang naik taksi sejak tadi siang, kenapa harus menungguku? Yaaaa kembalikan kunciku” aku mengejar Eric yang sudah jauh meninggalkanku dengan kakinya yang panjang.

“Aku ke sini karena kamu yang membawaku, jadi kamu juga yang harus mengantarku pulang” sahutnya.

Aku sudah tidak tahan dengan pria ini, kuhentikan langkahku di halaman depan rumah sakit. “Yaaaaaaaaaaaa. Stop!!!! Kalau kamu tidak mau pulang naik taksi, aku yang akan naik taksi. Besok akan kulaporkan kalau mobilku dicuri biar polisi yang menanganinya. Bukankah itu akan mencoreng reputasimu kalau kamu dituduh sebagai pencuri mobil, pengacara?” ancamku. Aku tidak peduli pada beberapa pasang mata yang kini memperhatikanku berteriak-teriak.

Sepertinya ancamanku berhasil karena dia berbalik dan menghampiriku, aku tersenyum penuh kemenangan. Ternyata pria lulusan Stanford menyerah pada ancaman kosong seperti itu.

“Seharusnya kamu melaporkanku malam ini sebelum aku membuang semua bukti. Dan sadarkah kamu, kamu itu terlalu berisik nona Park MinAh” katanya kemudian melakukan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Dia mencium bibirku lalu menggendongku. Aku tercekat seolah-olah waktu berhenti berputar.

“Mobilmu apa?” tanyanya membuat kesadaranku kembali terkumpul. “Yaaaaaa turunkan aku!!!” aku memukul-mukul dadanya yang sangat bidang, tapi sepertinya tidak memberi efek apapun karena dia tetap berjalan memutari tempat parkir.

“Diamlah. Apa perlu kucium sekali lagi?” ancamnya membuatku menutup bibirku dengan tanganku. Dia menyeringai melihat kelakuanku.

“Jadi, yang mana mobilmu?” tanyanya sekali lagi. Tanpa bicara aku menunjuk sedan merah yang diparkir dekat pintu keluar.

Eric menurunkanku tapi tangannya merangkul pinggangku saat membuka pintu mobil untukku seakan mencegahku kabur. “Masuk” perintahnya sambil mendorongku masuk mobil.

Aku masuk mobil dalam diam. Sesuai dengan perintahnya, aku akan diam.

Dia menyetir mobilku entah ke mana, aku tidak bertanya ataupun berkomentar selama perjalanan.

“Wae?” tanyanya. Tidak kujawab pertanyaannya. Aku berharap bisa membuatnya marah lalu keluar dari mobilku.

“Kenapa diam saja?” kali ini dia menatapku dengan cemas. Aku tidak bergeming, pandanganku lurus tanpa ekspresi.

Eric meminggirkan mobilnya “Tolong jangan diam saja, kamu membuatku khawatir” suaranya terdengar frustasi. Aku masih tidak bergeming.

Lalu dengan cepat Eric mendekatkan wajahnya ke wajahku, aku langsung menahan nafas dan menutup mataku. Tapi hal yang kukira akan dilakukan lagi oleh Eric tidak terjadi jadi kubuka mataku perlahan-lahan.

Wajah Eric berjarak 2 cm dari wajahku. Dia hanya menatapku tanpa melakukan apa-apa.

Jantungku berdetak dengan sangat kencang. “Mworago?” tanyaku dengan suara gemetar.

“Aku hanya ingin menatap wajahmu. Tolong jangan  diam seperti ini, aku lebih suka saat kamu memakiku” jawabnya dengan berbisik. Kubalas tatapannya. Kami saling menatap dalam diam untuk beberapa saat.

Kring kring.

Smartphoneku berbunyi. “Aku harus mengangkatnya” ujarku nyaris tanpa suara. Dia menjauhkan diri dariku lalu kuangkat telepon dari eommaku.

“Yoboseyo eomma?” sapaku.

“Ne, aku sudah di jalan sebentar lagi akan pulang. Ne…” lalu kututup teleponku.

Aku melirik Eric yang sedang memandang jalan di depannya.

“Ehem.. Cepatlah menyetirnya, aku ditunggu eommaku karena ada sepupuku yang datang. Di mana rumahmu?” tanyaku.

Dia diam saja.

“Eric-ssi?” panggilku.

Eric tersenyum simpul “Ini untuk pertama kalinya kamu menyebut namaku. Aku akan mengantarkanmu pulang lalu aku akan pulang naik taksi, kamu yang harus pulang cepat bukan aku” katanya.

“Tidak perlu, pulanglah ke rumahmu dulu. Aku bisa menyetir dengan cepat” tolakku.

“Apa kamu benar-benar ingin tahu rumahku? Waaahhhh sepertinya kamu tidak sabar ya. Aku tinggal sendirian di apartment, jadi kamu bisa mampir kapanpun. Bahkan aku akan memberitahumu password apartmentku” Eric berkata dengan jahil sambil mengedipkan matanya.

“Aku serius Eric-ssi, keluarga adik eommaku sedang menungguku untuk makan malam bersama. Tolong kemudikan mobilku ke apartmentmu” aku memasang tampang serius karena eommaku bisa marah besar jika aku pulang saat keluarga pamanku sudah pulang.

Dengan cepat Eric mengambil tasku dan mengeluarkan dompetku “Yaaaaaa kembalikan” aku berusaha mengambil dompetku tapi tanganku kalah panjang dengannya.

“Aaaaahh aku tahu rumahmu. Kajja” dia mengantongi KTPku lalu mulai menyetir.

“Kembalikan KTPku!!!” perintahku. Dia menggeleng.

Dalam waktu 10 menit kami sudah sampai di rumahku. “Gomawo” kataku.

“Noona.. Akhirnya datang juga…” Shin Kyumin sepupuku tiba-tiba saja sudah di samping mobilku dan menggedor-gedor kaca mobilku dengan gembira. Sepertinya dia sudah kelaparan sampai menungguku di luar seperti ini.

“See you very soon” kata Eric. “You wish” balasku berharap tidak akan bertemu pria ini lagi.

“Unfortunately I’ll do anything to see you again” ujarnya dengan yakin, dia menyerahkan KTPku lalu keluar dari mobilku. Akupun keluar dari mobilku.

“Minyoung noona, MinAh noona sudah datang” teriak Kyumin memanggil kakaknya.

Minyoung langsung keluar “Eonni annyeong” sapanya. “Annyeong Minyoungie. Sudah lama?” tanyaku.

“Nuguseyo?” Minyoung balik bertanya menunjuk Eric yang berjalan menjauhi rumahku anehnya dengan langkah pendek-pendek.

Aku diam saja tidak tahu harus menjawab apa karena jelas-jelas dia bukan temanku.

“Jeogiyo… Jeogiyo…” Minyoung mengejar Eric “Apa kamu temannya MinAh eonni?” tanya Minyoung.

Eric menatapku “Apa dia bilang seperti itu?”.

“Dia tidak menjawab makanya aku bertanya padamu. Apa kamu temannya MinAh eonni?” tanya Minyoung sekali lagi. Sepupuku yang satu ini benar-benar pantang menyerah.

“Mungkin” jawab Eric kemudian tersenyum dengan tengil.

“Aaaaahhh jota!! Akhirnya eonni bawa teman pria ke rumah. Dia terlalu fokus belajar jadi tidak pernah mengajak teman pria ke rumah. Ayo masuk” Minyoung menggandeng Eric lalu masuk ke rumahku.

Aku pasrah dan mengikuti mereka masuk ke dalam rumah.

“Ini teman MinAh eonni” Minyoung berteriak sampai semua orang di rumah berkumpul  mengelilingi Minyoung dan Eric.

“Jinjja?” tanya bibiku.

Eric mengangguk. “Annyeonghaseyo yorobeun, jeoneun Eric Mun-imnida. Bangapseumnida” Eric memperkenalkan  diri dengan sopan.

“Annyeonghaseyo Eric-ssi. Ayo kita makan, sudah malam. Kita mengobrol di meja makan saja” ajak eommaku lalu berjalan ke ruang makan diikuti anggota keluarga lainnya.

Eric melirikku lalu tersenyum “See, I’ve told you.. I’m gonna see you again” dan berjalan ke ruang makan.

***

Ini sudah 45 menit dan dia belum datang juga. Habis sudah kesabaranku.

‘AKU KEMBALI KE RUMAH SAKIT’ kukirim pesan padanya.

‘Andwae… Tunggu sebentar’ balasnya.

5 menit kemudian. Guk guk! Seekor anjing kecil menghampiriku.

“Gomdori? Sedang apa di sini? Mana Eric oppa?” aku mencari Eric di sekeliling cafe tapi tidak menemukannya.

‘Aku titip gomdori sebentar ya. Thank you my love’ Eric mengirim pesan dan kubalas ‘Eodi????’ tapi tidak ada jawaban darinya.

Kubelai anjing malang ini “Eric oppa mengabaikanmu ya? Dia memang selalu seenaknya sendiri.. Aku juga korban, sama sepertimu” keluhku. Berhubungan dengan pria itu membuat bicara dengan anjing menjadi sesuatu yang normal.

“Ohya kalungmu besar sekali. Pasti berat..” aku melihat gomdori masih memakai kalung anjing dengan bandul berbentuk kotak yang cukup besar bagi dia. Seingatku sudah cukup lama gomdori memakai kalung itu.

Kring kring.

My love tertera di layar smartphoneku. Eric sendiri yang mengetiknya. Dasar pria aneh.

“Yoboseyo” kataku.

Sudah bertemu gomdori?” tanya Eric. Aku menoleh ke kanan kiri tapi tidak menemukannya.

“Ne.. Eodi? Bagaimana gomdori bisa ke sini?”

Hahahahaaa… Bogoshippo” katanya.

Walaupun sudah mengenalnya selama 2 tahun tapi setiap dia mengatakan hal-hal seperti ‘saranghae’ atau ‘bogoshippo’ wajahku selalu memerah.

“Hmmmm” balasku.

Don’t you miss me?” aku yakin wajahku sudah seperti kepiting rebus.

“Hmmmm” sahutku.

Hahahahaaa wajahmu sudah mengatakan semuanya” katanya.

Kucari dia di dalam cafe tapi aku tidak menemukannya di manapun. Bagaimana dia tahu ekspresi wajahku ya? Apa gomdori membawa semacam kamera? Tapi kuperiksa gomdori dan tidak ada yang aneh padanya kecuali kalungnya yang besar itu.

“Yaaaaaa eodi??? Cepat kemari atau aku kembali ke rumah sakit” ancamku.

I love you” tumben Eric terdengar serius ketika mengatakannya.

“Mwo? Ara… Oppa sudah mengatakannya berjuta-juta kali sejak kita bertemu pertama kali” aku berusaha mengontrol detak jantungku yang mulai meningkat. Mungkin ada baiknya aku minum obat untuk mencegah serangan jantung karena setiap kali Eric mengatakannya jantungku selalu berdetak di atas normal.

Bagaimana denganmu?” kali ini Eric terdengar semakin serius.

“Hmmmmm.. Ah… Ne… Oppa sedang apa sekarang? Cepatlah kemari, kasihan gomdori” kataku seperti yang biasa kulakukan untuk menghindar.

Aku sedang tidak ingin basa-basi Park MinAh. Bagaimana denganmu? Bagaimana perasaanmu terhadapku?” tidak biasanya dia seperti ini.

Aku hanya diam. Memang aku belum pernah mengatakan hal-hal semacam itu pada Eric karena pada dasarnya aku adalah orang yang sulit menyampaikan perasaanku.

“Oppa kenapa sih??? Oppa akan kemari atau tidak? Aku harus kembali ke rumah sakit secepatnya” ini adalah alasan terbaik yang bisa kubuat.

“Tolong jangan tanyakan itu lagi” kataku memohon dalam hati.

Aku harus mengetahuinya sekarang Park MinAh. Selama 2 tahun kamu tidak pernah mengatakan perasaanmu padaku. Tidak bisakah kamu mengatakannya sekali saja? Agar aku percaya padamu” ada kekecewaan dalam nada suaranya.

Kugigit bibirku menahan tangis. “Aku benar-benar tidak bisa mengatakannya, tolong mengerti aku” kataku dalam hati berharap dia mendengarnya.

“Oppa meragukanku? Oppa tidak percaya padaku?” tanyaku dengan suara lirih.

Eoh. Apa kamu berharap aku bisa mempercayai sesuatu yang bahkan tidak ada buktinya?” jawabnya lalu menutup telepon.

Aku sudah tidak bisa membendung air mataku lagi.

“Mianhae.. Aku benar-benar tidak bisa mengatakannya. Tolong percayalah padaku” gumamku dalam tangis.

Orang-orang di dalam cafe mulai memperhatikanku tapi aku tidak peduli. Aku berharap Eric akan meneleponku lagi lalu mengatakan kalau dia hanya bercanda. Tapi selama 30 menit sejak dia menutup teleponnya dia tidak menghubungiku sama sekali.

Dadaku sakit sekali, sepertinya oksigen di paru-paruku sudah habis.

“Agasshi gwenchana?” tanya seorang waitress padaku. Aku hanya mengangguk. Setelah dia memastikan aku baik-baik saja dia pergi.

“Saranghae oppa…. Aku benar-benar mencintaimu.. Aku tidak bisa mengatakannya tapi aku sungguh-sungguh mencintaimu.. Gomdori ottokkae??? Aku tidak bisa mengatakan padanya” aku terus menangis terisak-isak merasa menyesal kenapa aku tidak seperti gadis lain yang dengan mudahnya mengungkapkan perasaannya pada pria yang mereka cintai.

Tiba-tiba ada yang memelukku.

“Mianhae MinAh… Aku tidak menyangka kamu akan seperti ini” bisiknya.

Aku mengenal suara ini.

Kulingkarkan tanganku ke pinggangnya. Seperti biasa aku selalu merasa tenang setiap berada dalam pelukannya.

“Sejak kapan oppa di sini?” tanyaku setelah bisa mengontrol tangisku. Aku mempererat pelukanku tidak ingin dia meninggalkanku.

Eric mengelus-elus punggungku lalu mencium puncak kepalaku “Sejak meneleponmu”.

“Mwo???? Tapi aku tidak melihat oppa di manapun” ujarku.

“Aku di depanmu persis. Duduk di luar memperhatikanmu hehee” pria ini memang iseng sekali. “Oppaaaa.. Pantas saja oppa tahu ekspresi wajahku” rajukku.

“Mianhae” ucapnya dengan sunggguh-sungguh. “Gwenchana” sahutku. Mengingat kemarahannya tadi aku bersyukur masih bisa memeluk pria ini.

“Oppa benar-benar marah padaku?” tanyaku.

“No way.. Sebenarnya aku hanya ingin mendengarmu mengatakan kamu mencintaiku. Aku tahu sih kamu sangat mencintaiku, tapi aku ingin dengar dari mulutmu sekali saja” jawabannya membuatku memukul punggungnya.

“Aaaaww.. Sakit…. Tapi aku rasa aku pantas mendapatkannya, aku sudah bercanda terlalu jauh.” Eric terdengar menyesali perbuatannya.

“Hehehee wajahku pasti jelek sekali ya waktu menangis tadi” kalau ingat Eric melihatku menangis seperti tadi, rasanya aku menceburkan diri ke sungai Han.

“Ani… Sejak melihatmu menangis seperti itu aku malah merasa bersalah, tapi terpaksa menahan diri untuk memelukmu. Lalu saat kamu tidak bisa menghentikan tangismu aku langsung saja menghampirimu tidak peduli dengan rencana awalku” katanya.

“Rencana? Rencana apa?” tanyaku bingung.

Eric melepaskan pelukannya.

“Will you marry me?” tanyanya. Dia berlutut lalu mengambil bandul kalung gomdori dan membukanya. Ternyata isinya cincin yang sangat indah.

Aku kehabisan kata-kata.

“Gomdori selalu membawa cincin ini sejak 3 bulan yang lalu saat aku memutuskan akan menikahimu. Aku menunggumu mengatakan perasaanmu tapi seperti biasa kamu selalu menghindar padahal aku kan sudah sering memancingmu. Jadi aku membuat sebuah rencana yang ternyata tidak berjalan lancar” katanya sambil menghela nafas. Aku tersenyum malu.

“So, will you marry me?” tanyanya sekali lagi.

“I do” jawabku tanpa pikir panjang.

Eric memasang cincinnya padaku lalu menciumku.

“Jadi apa rencana oppa sebenarnya?” tanyaku setelah menyelesaikan ciuman panjang kami.

“Rencananya aku akan memancingmu, pura-pura marah lalu menutup teleponku. Waaahh kalau diiingat-ingat aktingku keren sekali ya tadi” kata Eric dengan nada narsis yang selalu dimilikinya. Kupukul perutnya dengan kesal memintanya kembali serius.

Dia meringis “Aduh.. Ya awalnya aku yakin kamu akan meneleponku kembali dan bilang ‘I love you’ atau ‘saranghae’ atau semacam itu, tapi sampai setengah jam kamu masih saja menangis. Terpaksa aku mendatangimu karena tidak tega, ternyata aku mendatangimu tepat saat kamu mengatakan kata sakti itu. Hebat sekali kan aku ini” lanjutnya kali ini dengan nada sombong.

“Hahahaa.. Jadi oppa sudah mendengarnya kan? Aku tidak bisa mengatakan perasaanku, tapi kuharap oppa selalu percaya padaku” pintaku dengan serius.

“Just to be with you I will trust you until my last breath” balasnya.

“Thank you” ujarku lega lalu kucium pria yang akan menjadi suamiku.

***

Enjoy ^^