Annyeong yeorobun!
Author @gyumontic is back!
Author bawa couple yang gak akan pernah mati (kecuali tiba2 ada announcement dia aka mengikuti jejak hyung-nya untuk menikah). Hahaahhaa.

Hope you enjoy!

—–

Ini sudah lewat tengah malam dan Kyuhyun baru saja akan menginjakkan kakinya keluar dari ruangannya. Kyuhyun baru saja menyelesaikan sebuah rapat penting padahal ia baru mendarat dari London 2 jam yang lalu. Saat ini yang diinginkannya hanya tidur, memejamkan mata sambil memeluk guling kesayangannya, tapi sayang keinginannya belum bisa terkabul. Seseorang mengganggu rencananya.

Disinari lampu-lampu yang menyala terang benderang, seorang wanita muncul dari pintu masuk ruangannya. “Hari yang melelahkan?” Sapa wanita itu. Sebuah suara yang sangat dikenal Kyuhyun namun untuk saat-saat dimana Kyuhyun agak kehilangan kesadarannya, suara itu cukup mengagetkannya. Wanita pemilik suara itu berdiri di depan pintu, menghadap Kyuhyun sambil tersenyum. “Apa kesibukanmu sampai membuatmu melupakanku?” Tanya wanita itu lalu mengunci pintu ruangan Kyuhyun dan berjalan mendekati Kyuhyun dengan gaya berjalannya yang sangat menggoda.

Kyuhyun tertawa kecil. Ia kembali menaruh tasnya dan duduk di kursi kebesarannya yang menunjukkan siapa sebenarnya Cho Kyuhyun. Kyuhyun menumpuk kaki kanannya di atas kaki kirinya dan melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya menghadap langsung wanita yang kini sudah berdiri di depannya yang meskipun hanya memakai piyama dan sandal tetap terlihat mempesona bagi Kyuhyun. “Apa kau begitu merindukanku sampai mendatangiku tengah malam bagini?” Tanya Kyuhyun dengan angkuh namun tidak bisa menyembunyikan senyuman tipis menggemaskan yang bolak-balik terukir dari bibirnya.

“Menurutmu? Aku bahkan sampai tidak berniat mengganti pakaianku saking tidak sabarnya menunggumu pulang,” sahut wanita itu seolah memakai piyama dan sandal serta rambut yang diikat asal ke sebuah perusahaan fashion terbesar di Korea Selatan bukanlah tindak kejahatan, kecuali perusahaan itu milikmu sendiri.

Kyuhyun menganggukkan kepalanya dengan pelan, penuh kewibawaan yang selalu melekat pada dirinya selama berada di gedung kekuasaannya ini. Ia tetap menjaga kaki dan tangannya tetap pada posisi yang sama. “Kalau Hyemi melihatmu seperti ini, ia pasti membunuhmu,” kata Kyuhyun disusul sebuah seringaian jenaka yang membuat orang ingin tertawa melihatnya. “Tapi aku tidak. Aku menyukainya. Piyama itu membuatmu tampak jauh lebih seksi.”

Wanita itu tersenyum angkuh. “Aku memang seksi. Biar aku pakai karung, aku tetap yang paling seksi. Iya kan?” Puji wanita itu pada dirinya sendiri membuat Kyuhyun hanya tersenyum geli.

“Kau dengan siapa kesini?” Tanya Kyuhyun kemudian.

Wanita itu memamerkan kunci mobil di tangannya dengan senyum penuh kemenangan. Sebuah kunci mobil dengan lambang kuda jingkrak yang masih mulus, belom ada tanda-tanda sering tersentuh kulit manusia. “Aku memintanya dari supirmu. Dia lebih takut padaku daripada dirimu rasanya,” jawabnya lalu meletakkan kunci mobil itu di atas meja kerja Kyuhyun.

Kyuhyun menatap kunci mobil itu lalu menatap wanita di depannya dan mengangkat alisnya menunjukkan keheranan. “Mobil baruku. Aku bahkan belum mencobanya dan kau sudah mencurinya. Yaaak!! Aku akan bicara dengan Jungmin nanti.”

Wanita itu membelalakkan matanya dan buru-buru melanjutkan, “Dia tidak salah apa-apa. Lagipula mobilmu tidak kenapa-kenapa kok. Aku menyetirnya dengan benar. Awas kalau kau sampai memecat Jungmin!”

Kyuhyun tertawa keras. Ia sudah membuka kedua tangan dan kakinya. Wajahnya tampak sangat ceria seperti anak-anak yang mendapatkan hadiah yang sudah lama diidam-idamkannya. “Aku tidak akan memecatnya, Nyonya Cho Kyuhyun yang cantik. Sini. Aku merindukanmu,” kata Kyuhyun lalu menarik istrinya itu ke atas pangkuannya.

Kyuhyun memeluk erat wanita itu pada pinggangnya, mengecup pipinya dan kembali tertawa. “Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu denganku?” Tanya wanita itu antara bingung dan kesal. Kyuhyun menggelengkan kepalanya, mencium pipi istrinya untuk kedua kali lalu kembali tertawa.

“Hey… Kenapa kau terus tertawa? Apa ada yang lucu denganku?” Tanya wanita itu lagi.

Kyuhyun dengan mantap menggelengkan kepalanya. “Kau tahu tidak? Melihat ujung rambutmu saja aku sudah bisa tertawa. Aneh kan?”

“Iya, kau aneh.”

Kyuhyun tersenyum. “Cinta memang aneh. Sama anehnya seperti dirimu yang bagaimana mungkin, aku ulangi, bagaimana mungkin seorang sosialita sepertimu datang tengah malam menjemput suaminya hanya dengan sepasang piyama dan sandal doraemon? Kalau ada yang melihatmu, kau pasti akan jadi berita utama di website konyol-sok-maha-tahu itu,” kata Kyuhyun dengan penuh penekanan pada kata sosialita, status yang disandang istrinya karena merupakan generasi penerus tunggal Song Corporation dan istri Cho Corporation yang telah merger akibat pernikahan mereka.

Wanita itu tertawa santai bahkan tidak terlalu peduli. “Aku pasti tetap terlihat cantik meskipun hanya memakai piyama dan sandal ini. Percayalah. Selama kau pergi, aku bolak-balik ke salon untuk perawatan hanya untuk membunuh waktu. Kau bayangkan saja betapa membosankannya hidupku. Pagi, sehabis mengantar Kihyun dan Jihyun ke sekolah aku mati kutu. Jadi aku mengajak Hamun dan Hyemi ke salon untuk lulur sekalian mandi susu. Siang, lebih parah aku habis gaya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Jadi aku ajak eomma dan eommoni creambath dan massage serta spa. Malam, yang paling parah setelah kedua kurcaci itu tidur aku benar-benar habis. Aku susah tidur karena tidur sendirian. Kau sih tidak pulang-pulang. Sudah gitu jarang menghubungiku lagi.”

Kyuhyun tidak tahan untuk tidak meledakkan tawanya habis mendengar keluhan istrinya yang sangat panjang itu dan sangat menggelitik perutnya. “Kau pasti sangat merindukanku ya? Maaf ya cantik, suamimu ini sangat sibuk sampai tidak bisa menghubungimu. Kenapa kau tidak menyusulku saja?” Tanya Kyuhyun sambil membelai rambut istrinya yang diikat asal.

“Kau mau Appa membunuhku? Dua hari setelah kau pergi, kami makan bersama di Imperial. Appa mungkin melihat wajahku tidak gembira. Dia tanya padaku, ‘Hyejin-ah, kau kenapa? Sakit? Sedih?’. Aku jawab saja, aku mau Kyuhyun pulang. Kau tahu ekspresinya saat itu? Seperti mau menelanku. Lalu dia memulai ceramahnya, ‘Hyejin-ah, dengarkan Appa baik-baik, Kyuhyun itu pergi kesana kemari bukan untuk main-main bla bla bla bla bla. Aku malas mendengarkannya sampai habis. Sialnya, eomma diam-diam menertawakanku,” jelas Hyejin lengkap dengan menirukan suara, mimik dan gerak Appanya saat menasihatinya.

“Hahahahahaha. Tuh kan, kau itu diam saja sudah buat orang tertawa. Sekarang kau sudah bertemu denganku, kau mau apa?” Tanya Kyuhyun. Ia membetulkan posisi duduknya agar lebih nyaman dengan memindahkan Hyejin ke sofa panjang yang berada di ruang tamu ruang kerjanya dengan dirinya duduk di samping Hyejin, merangkul wanita itu dengan erat. “Maaf, kau agak berat.”

Hyejin memanyunkan bibirnya. “Aku tahuuu tapi kau kan bisa menyembunyikannya,” kata Hyejin.

“Tenang saja, kau tetap yang paling cantik,” sahut Kyuhyun lalu menyengir lebar. Gigi putihnya yang seputih kulitnya terpapar sempurna di depan mata Hyejin. “Kau belum menjawab pertanyaanku. Aku kan sudah kembali. Kau mau apa?”

“Oh ya! Mana tas titipanku? Aku sudah bolak-balik mengirimkan pesan kepadamu untuk membelikanku tas itu. Aku bahkan mengirimkan fotonya. Mana?” Tanya Hyejin menagih oleh-olehnya. Kyuhyun kembali menyengir lebar. “Kau tidak membelikannya. Dasar pelit. Tas itu kan tidak ada sepersejutanya uangmu, tuan Cho.”

Kyuhyun mengubah cengirannya menjadi senyuman paling mematikan yang ia miliki dan memasang puppy eyes andalannya. Ia merangkul istrinya dengan lebih erat lalu mencium keningnya dengan mesra. “Aku tidak pelit. Aku bahkan memberikan seluruh saham milikku menjadi atas namamu. Masa hanya sebuah tas saja aku tidak mau membelikan? Aku tidak sempat. Nanti aku minta tolong temanku untuk kirim ke sini ya. Okay?”

“Eumm… Tidak usah. Aku mau beli yang lain saja nanti di sini tapi limit kartu kreditmu sudah habis.”

“Mwo?! 100 juta won?! Habis?!”

Hyejin gantian yang menyengir lebar, memohon belas kasihan dari suaminya. “Aku punya kebiasaan buruk untuk membayari semua orang yang menemaniku kalau kau tidak ada. Salon dengan Hamun dan Hyemi, spa dengan eomma dan eommoni, makan di Imperial dengan Kihyun dan Jihyun. ”

“Setiap hari?!” Kyuhyun nyaris tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh istrinya. Hyejin baru saja menghabiskan 100 juta won dalam waktu 1 minggu.

“Iya, setiap hari. Belum lagi hadiah ulang tahun untuk Henry, Jihyo dan Donghae Oppa. Mereka ulang tahun minggu ini. Oh ya, jangan lupa perayaannya hari Sabtu dan Minggu nanti. Jangan sampai kau tidak datang. Aku tidak mau datang sendirian.”

“Heisssh… Lalu kau belanja apalagi?”

“Humm…sebenarnya yang paling banyak sih aku booking tiket dan hotel ke New York untuk kau, aku, Kihyun, Jihyun, eomma dan eommoni. Sebentar lagi kan Natal dan Tahun Baru, aku mau menghabiskannya di sana. Ide bagus kan?”

“AS.TA.GA!! LU.AR.BI.A.SA!!”

“Hehehehehehe.”

Kyuhyun tidak ingin membahas mengenai tagihan kartu kredit yang harus dia bayar, lebih baik dia memikirkan hal lain. Hal yang seharusnya menjadi prioritas utamanya namun entah kenapa selalu gagal jika sudah dibandingkan dengan wanita di sampingnya itu. “Bagaimana kabar anak-anakku? Sehat? Apa Jihyun makin lucu? Aku merindukan si cantik itu.”

Hyejin mendengus. “Apa aku tidak pernah menjaga anak-anakmu dengan baik, heoh? Kau lupa aku dinobatkan sebagai ibu terbaik versi Top Class Socialite selama 8 tahun berturut-turut?” Hyejin kemudian terdiam sebentar. “7 atau 8 ya? Pokoknya sekitar segitu. Jadi anak-anakmu pasti baik-baik saja. Kihyun makin pintar, otaknya semakin mendekati otakmu. Jihyun makin lincah, dia sudah semakin pintar bicara. Sudah aku bilang sekolah sejak usia dini itu bagus.”

Kyuhyun menggigit pipi Hyejin dengan kedua belah bibirnya saking gemasnya dengan istrinya yang entah sejak kapan, mungkin sejak dilahirkan, begitu cerewet. “Iya, ibu terbaik 7 atau 8 tahun berturut-turut versi Top Class Socialite. Memang aku pernah tidak setuju dengan idemu?”

“Tidak pernah sih.”

Kyuhyun lalu mengecup puncak kepala Hyejin. “Ngomong-ngomong, kau tidak ingin punya anak ketiga? Jihyun sudah umur 3 tahun. Aku rasa sudah tepat waktu jika dia punya adik satu,” kata Kyuhyun mengemukakan rencananya.

Dengan santai, Hyejin menggelengkan kepalanya. “Aku tidak ingin punya anak lagi,” ujarnya.

“Aku akan memaksamu. Lihat saja,” kata Kyuhyun melepaskan Hyejin lalu berjalan ke mejanya untuk mengambil tas dan kunci mobilnya. Ia kembali kepada Hyejin dengan berjongkok mengajukan punggungnya di depan Hyejin. “Ayo naik ke punggungku. Aku akan menggendongmu sampai ke mobil. Aku merindukan dua bocah itu. Aku mau pulang dan mencium mereka.”

“Mereka masih tidur. Ini kan masih jam setengah 2 pagi.”

“Lalu memangnya kau mau terus di sini?”

Hyejin nyaris menjerit menolak. Dia tidak mau tidur di kamar tidur di ruang kerja Kyuhyun yang didesain seadanya itu dan tempat tidur kecil yang benar-benar pas jika diisi dua orang. “Tidak! Tidak! Tidak! Ayo kita pulang,” kata Hyejin sambil melompat ke punggung Kyuhyun.

“Ayo kita pulang, nyonya Cho. Aku merindukan rumah,” kata Kyuhyun dengan menggendong Hyejin di punggungnya sampai ke mobil baru Kyuhyun yang seenaknya diparkir di depan lobby Song-Cho Corporation.

—-

Kkeut!

PS : ini hadiah buat Henry samchon, Jihyo imo dan Donghae samchon.

image