Annyeong, esterong is back with new drabble ff yang dibuat hanya dalam sekian menit dan ditengah hiruk pikuk uts (ceritanya ini pelarian). Hope you enjoy it🙂

*****

“Hamun, saranghae. Apa kau mau jadi pacarku?” tanya pria yang kini sedang duduk di sebelahku. Aku terdiam sesaat memandangnya –meski ia hanya melihat ujung kakinya sejak tadi– berusaha meyakini kalau aku tak salah dengar.

“Apa yang tadi kau bilang?” tanyaku sekali lagi.

“Aku sayang kamu, Hamun,” jawabnya, masih tetap menghindari tatapanku. Wajahnya yang memerah membuatku percaya kalau ia tidak sedang main-main. Aku tersenyum sekilas agar ia tidak melihatnya. Maafkan aku, aku hanya ingin menggodamu sedikit lagi.

“Aku pasti salah dengar atau kau hanya sedang bercanda?” tanyaku, kini suaraku terkesan sinis.

“Yaa, Kang Hamun!” serunya. Berhasil. Ia menatapku sekarang dengan wajah malu campur emosi. Ia menggenggam tanganku dan meletakan tanganku di dadanya. “Apa kau tak bisa lihat kalau aku sudah sangat malu sedari tadi, ha?! Apa kau tak merasakan jantungku berdetak sangat cepat seperti ini?! Kau masih berpikir aku main-main?! Kalau kau tak suka aku, langsung saja bilang tak perlu basa-basi seperti ini!” omelnya. Kini ia menghempaskan tanganku dan kembali mengacuhkanku.

“Mianhe, aku salah,” ujarku, walau sepertinya ia masih sangat kesal. “Aku hanya ingin memastikan. Aku takut merasa senang sendiri karena sudah sejak lama aku menunggumu mengucapkan kata itu, Siwonie,” ujarku.

Siwon kembali menantapku sekarang, kini tersirat ketidak-percayaan di wajahnya. “Sungguh. Aku tidak bohong. Kau kurang peka, sih. Johee saja tahu,” kataku padanya. “Kau masih tidak percaya?” tanyaku dan ia hanya terdiam.

Aku tersenyum padanya, mendekati wajahnya, dan mengecup pipinya kilat. “Kini, kau percaya?” tanyaku.

Siwon kini tersenyum merekah hingga lesung pipinya tergurat jelas. Ia menarikku dalam pelukannya dan mengelus kepalaku lembut. “Gomawo,” katanya. Aku hanya terdiam menikmati kehangatannya. Aku bisa merasakan jantungnya yang berdetak sangat kencang, sama seperti jantungku.

“Hei, pasangan bodoh disana. Apa kalian lupa sama sahabat kalian ini?” tanya perempuan yang berdiri tak jauh dari tempat kami. Aku melepaskan pelukan Siwon dan memanggil sahabatku itu. “Sini aku peluk biar kau tidak kesepian, Johee,” kataku lalu memeluknya.

“Yaa, aku tak perlu pelukan darimu!” keluh Johee walaupun mereka semua tahu kalau Johee hanya bercanda. “Aku tunggu traktiran kalian saja,”

Siwon tertawa terbahak-bahak. Kini ia memandang jam tangannya. “Sekarang jam 10 malam tanggal 15 Juli 2011. Ayo kita foto di hari bersejarah ini,” ajak Siwon sambil mengeluarkan iPhone-nya. “Kau juga harus ikut, Johee!” ujar Siwon.

***

Aku sedang liburan dengan Siwon dan Johee. Pagi ini, aku memutuskan untuk membuatkan sarapan mereka terlebih lagi karena hari ini Johee ulang tahun.

Tiba-tiba, seseorang memeluk dari belakang. Meski aku tak melihatnya, aku tahu siapa dia. Pasti Siwon, siapa lagi. “Kenapa pagi-pagi sudah bangun?” tanyanya.

“Hari ini Johee ulang tahun, kau tak lupa, kan?” ujarku sambil terus mengaduk sayur rumput laut yang sudah setengah matang itu.

“Yaa, tentu saja aku ingat. Aku tak mungkin lupa ulang tahun sahabatku dari kecil,” kata Siwon. Aku tersenyum mendengar jawabannya dan tetap membiarkannya memelukku.

“Sudah hampir jadi, panggilkan Johee sana,” ujarku pada pria ini. “Aku masih mau memelukmu. Tapi, ya, baiklah,” jawabnya tidak ikhlas. Ia menciumku sebelum pergi dari dapur.

Aku membereskan meja makan di villa ini dengan makanan yang sudah aku buat dan kue tart ulang tahun yang sudah aku dan Siwon persiapkan. Johee tersenyum ceria saat melihat kejutan ini.

“Saengil chukae,” kataku sambil memeluk dan mencium pipi sahabatku ini. “Aku harap kau segera mendapatkan pria yang sebaik Siwon sebagai calon pendamping hidupmu,” ujarku.

“Saengil chukae, teman sedari kecil!” kata Siwon sambil mengacak rambut Johee gemas. Aku bisa melihat raut wajah Johee yang tampak kesal, tapi kemudian ia membalas mengacak rambut Siwon. Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua.

Siwon duduk di sebelahku dan Johee diseberang kami. “Ayo tiup lilinnya. Kau harus make a wish dulu,” kata Siwon. Johee menutup matanya dan berdoa untuk beberapa saat, setelah itu ia meniup lilinya.

“Semoga kau lebih bahagia tahun ini, Johee sayang!” doa Siwon untuk sahabatnya.

“Gomawo, Hamun, Siwon! Kalian the best! Aku kira kalian lupa hari ini aku ulang tahun,” balasnya.

“Untuk menambah kebahagiaanmu, aku ada berita yang sangat baik,” kata Siwon. Aku dan Johee hanya saling pandang karena kami tidak mengerti apa maksud Siwon.

Siwon tampak mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya. “Karena Johee sudah menjadi saksi di hari jadian kita, aku ingin Johee juga jadi saksi di hari aku melamarmu ini,” kata Siwon. Ia membuka kotak itu dan terdapat sebuah cinin yang sangat indah di dalamnya.

“Will you marry me?” tanya Siwon padaku. Aku tak bisa menahan air mata bahagia yang sudah menggenang di pelupuk mataku. Aku terlalu senang sampai suaraku tak bisa keluar. Aku hanya mengangguk dan membiarkan Siwon memakaikan cincin itu di jari manisku.

“Bagaimana Johee cincin yang kupilih untuk Hamun?” tanya Siwon sambil menunjukan cincin yang sudah ada dijari manisku.

“Duh, kalian ini pasangan yang tidak tahu malu. Tidak kasihan sama sahabatnya yang belum punya pacar ini?” ujar Johee dengan segurat tawa di wajahnya. “Selamat ya, Siwon Hamun,” ujarnya.

“Ppali kita foto. Sekarang jam 9 pagi tanggal 20 November 2014,” ujar Siwon padaku dan Johee.

***

“Hamun, ppali ireona,” ujar sebuah suara yang samar-samar kudengar. Makin lama, suara itu makin jelas dan membuat kesadaranku kembali. Perlahan-lahan aku membuka mataku dan mendapati pria itu sedang menatapku.

“Choi Siwon, waeyo?” tanyaku malas. Aku sungguh masih ingin tidur sekarang. “Sudah kubilang berulang kali, jangan masuk kamarku tanpa izin,” ujarku sambil menarik selimutku.

Siwon menarik kembali selimutku dan melemparnya menjauh dariku. “Hei, ini sudah nyaris jam 11 siang tapi kau masih malas-malas di tempat tidur. Semalam kau melakukan apa saja dengan Johee, ha?” tanyanya yang tak kupedulikan.

“Hamun, ppali. Kau ingat ini hari apa, kan?” tanya Siwon.

Aku terdiam sesaat. “Tanggal berapa sekarang?” tanyaku.

“29 Februari 2015. Kau minum berapa soju semalam?” tanya Siwon lagi yang benar-benar tak kuabaikan.

“Cepat bangun ya, Hamun. Kau harus ke salon, kan? Kau pasti sangat cantik malam ini,” ujar Siwon sambil mengelus kepalaku lembut.

“Arraseo, aku mandi dulu, keluar sana,” ujarku yang langsung ia turuti.

Begitu Siwon pergi, aku bangkit dari tempat tidurku. Aku terdiam sesaat dan memegang kepalaku yang terasa sangat sakit. “Kurasa, aku terlalu banyak mimpi,”

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. “Kau tidak apa-apa, sayang?” tanya ibuku. Aku tersenyum padanya tapi tampaknya senyumku tidak membuatnya lebih tenang. “Hari ini, kau harus kuat ya, sayang,” ujarnya yang hanya bisa kubalas dengan senyum.

“Omma, aku bermimpi sangat indah semalam,” ujarku sebelum omma pergi. “Aku mempimpikannya dan diriku. Kami sangat bahagia, omma,”

Ibuku masuk kedalam kamarku dan mengelus kepalaku. Ia tampak ingin menangis namun dengan sekuat tenaga ia tahan. “Anakku, kau sendiri tahu, kan, kalau mimpi itu menggambarkan apa yang sebenarnya kau inginkan tapi tak bisa kau milliki di dunia ini, hm?” tanyanya lembut.

Aku mengangguk untuk merespon perkataannya. “Omma jangan menangis, aku akan bertahan hari ini,” ujar Hamun sambil mengusap air mata ibunya.

“Aku tak bisa membayangkan apa yang hatimu rasakan sekarang anakku. Kau pasti sangat menderita,”

*****

Acara malam ini sangat indah. Mulai dari prosesi, iringan musik, dan acaranya berjalan dengan sangat lancar. Orang-orang terdekat dan teman-teman semuanya datang.

Aku memutuskan untuk memisahkan diri dari keramaian. Dadaku terasa sangat sesak sejak tadi. Saat aku yakin di tempat ini hanya ada aku seorang, aku mengeluarkan dua foto yang sudah sejak lama ada di dompetku.

Aku melihat foto itu dengan seksama dan tanpa kusadari, air mataku mulai mengalir membasahi kedua foto yang kupegang. “Wae?” tanyaku entah pada siapa. Suaraku bergetar berusaha mengendalikan emosiku, tapi aku tak mampu. Aku tak kuat melihat seseorang yang sejak lama aku cintai menikah dengan gadis lain, meskipun gadis itu adalah sahabatku.

Aku tak menyembunyikan lagi tangisanku. Aku terduduk di tempatku berdiri tadi, tak peduli meski gaunku akan kotor. Kakiku tak cukup kuat untuk bertahan sama seperti hatiku yang terasa sangat sakit. Aku tak bisa menggambarkan bagaimana rasanya karena terlalu menyakitkan buatku.

Aku melihat kembali foto itu. Aku membaliknya dan menemukan sebuah tulisan yang kuyakin itu adalah tulisanku. Foto yang diambil tanggal 15 Juli 2011, hari bersejarah bagi Siwon dan Johee. Hari itulah untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa aku tak pernah ada di dalam hati Siwon dan tak akan pernah bisa mengganti posisi Johee di hatinya.

Hari itu sangat menyakitkan untukku. Saat dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat pria yang kucintai menyatakan cinta yang kuharap, pada gadis lain. Detik itu aku tersadar, bahwa segala usaha yang telah kulakukan sia-sia. Aku berusaha untuk menjadi pintar, aku berusaha diet dan menjadi cantik, aku berusaha untuk menjadi gadis yang bisa ia banggakan kelak jika aku menjadi kekasihnya. Aku baru tersadar kalau semua pengorbanan yang aku lakukan tak akan membuatnya melihatku. Apa aku tak punya kesempatan untuk merasakan kebahagiaan denganmu walau hanya sejenak?

Kini aku melihat foto yang lain. Foto itu diambil tanggal 20 November 2014. Aku sangat ingat bagaimana aku masih sangat mencintai pria itu meski aku tahu kalau rasa itu hanya menyakitiku. Ia menyakitiku saat dirinya memeluk dan mencium Johee di depanku. Ia menyakitiku saat ia mengelus kepalaku dengan lembut. Dengan mudah ia menyakitiku, tapi lebih mudah baginya untuk membuatku makin mencintainya.

Aku ingat apa yang kuminta saat itu dalam make a wishku. Aku hanya berharap aku masih memiliki kesempatan, aku tak masalah jika harus menunggu lebih lama. Tapi, hanya selang beberapa detik setelah pria itu mendoakan kebahagiaan untukku, ia sendiri yang menghancurkannya.

Aku sangat tak mengerti dengan jalan pikiran pria ini. Ia melamar Johee di depanku saat itu. Aku harus apa? Aku hanya tersenyum untuk mereka namun aku tak berhenti menangis begitu aku pulang dari liburan itu. Kau sangat jahat. Apa kau tak bisa melihat kalau aku sangat mencintaimu, Choi Siwon? Apa tidak ada kesempatan sama sekali untukku? Kau adalah pria paling menyebalkan dan aku adalah gadis terbodoh yang tak bisa membencimu setelah semua yang kau lakukan padaku.

Hari ini pasti hari yang membahagiakan untukmu, ya kan, Siwonie? Aku kira hari ini aku bisa kuat seperti sebelum-sebelumnya. Akan tetapi, saat melihatmu memandang Johee penuh cinta di altar, aku menangis. Tak bisa kutahan. Aku menangis karena rasa pedih yang kurasakan tapi aku berkata itu adalah tangis bahagia untukmu dan Johee. Sampai kapan aku harus terus bersandiwara di hadapanmu? Tolong aku untuk melupakanmu.

Air mataku tak henti-hentinya mengalir malam itu. Rasa sakit itu terus menusuk di relungku. Malam itu aku kembali bermimpi, mimpi yang nyaris sama seperti malam sebelumnya. Mimpi yang kuharapkan terjadi di kehidupan nyata. Dalam mimpi, seakan aku menukar tubuhku dengan Johee. Aku tak merasakan sakit namun bahagia yang amat sangat. Benar kata omma, mimpi adalah saat dimana aku bisa mewujudkan apa yang kuinginkan tapi tak bisa kudapat.

*****

Malam ini keluarga Siwon sengaja mengundangku makan malam di rumah mereka. Aku sangat tahu, hari ini hatiku akan kembali merasakan sakit yang sama. “Bagaimana honeymoon kalian?” tanya ayah Siwon pada anaknya dan menantunya.

Tanganku seketika lemas mendengar pertanyaan itu dan tak sengaja menjatuhkan garpu yang tadi kupegang. Siwon yang duduk di seberangku hanya tertawa dan memberikan garpu yang baru untukku. “Kau ini tetap saja ceroboh,” katanya. “Cih, aku dibilang ceroboh sama orang yang lebih clumsy,” kataku yang membuat semua orang di meja itu tertawa.

“Omma, Hamun mulai lagi,” ujar Siwon merajuk.

“Kalian ini sudah besar tapi tetap saja ya. Kau sudah punya istri harus lebih dewasa, Siwon,” ujar ibunya Siwon.

“Hamunie, kau juga sudah waktunya mencari calon pendampingmu,” ujar ayah Siwon.

Siwon tersenyum bahagia. “Betul kata appa. Biar kau tak selalu mengangguku dan Johee,” katanya. Hatiku sangat sakit mendengar itu. Apa kini kau ingin aku menjauh darimu?

Aku hanya tersenyum sebagai jawaban. “Tenang saja, ajjusi-ajjuma. Aku sudah punya orang yang kusukai,” lanjutku.

“Kau harus kenalkan kami ya, Hamun sayang,” balas ajjuma.

Aku kembali terdiam sambil menghabiskan makananku. Sesekali aku mencuri pandang pada pria yang duduk diseberangku ini.

Now, i choose to love you in silence, because in silence i find no rejection, and in silence no one owns you but me. Saranghae, Choi Siwon.

 

END.