Annyeong readers!
Apa kabar?

Author @gyumontic datang lagi loooh. Kali ini dengan FF yang niatnya dibuat untuk menguras air mata tapi entah bagaimana hasilnya setelah kalian membacanya. Semoga kalian menyukainya. Janga lupa dikomen ya…

Gomawooo…

****

Song Hyejin’s POV

“Kalian berdua akan segera menikah! Tidak ada bantahan, usulan atau apapun yang ingin kalian utarakan untuk menghindar dari pernikahan ini. Pernikahan ini akan tetap berlangsung apapun yang terjadi!!”

Kata-kata itu selalu menghantuiku setiap detik yang aku lalui dan menjadi beban di setiap aku melangkah untuk menghadapi hari-hariku. “Aku akan menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal apalagi aku cintai,” gumamku pada wanita cantik di hadapanku. Polesan di wajahnya begitu sempurna, tatanan rambutnya membuat wanita itu terlihat anggun dan gaun putih yang membalut tubuhnya menyadarkannya bahwa ia akan menjadi milik seorang pria sebentar lagi. Pria yang tidak ia cintai. Aku menatap cerminan diriku yang sangat menyedihkan.

Seorang laki-laki masuk ke dalam ruanganku. Ia tersenyum lembut. Senyuman yang biasanya membuatku tertawa namun kali ini senyuman itu justru menambah sakit di hatiku. “Donghae Oppa,” ucapku pelan. Aku tidak bisa berkata lebih dari itu. Aku hanya mampu menyebutkan namanya karena hal itu saja sudah begitu menyakitkan.

Ia berjalan semakin mendekatiku dan aku tidak kuasa menahan keinginan tubuhku untuk memeluknya. “Donghae Oppa,” ucapku sekali lagi dengan perasaan jauh lebih getir dari sebelumnya. Aku merasakan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk mataku.

“Uljima. Make-up mu bisa luntur. Aku tidak bisa melihat calon pengantin wanita maju ke altar dengan eyeliner luntur dan mata bengkak. Tidak. Tidak boleh,” kata Donghae Oppa kepadaku. Ia menepukkan dengan lembut tisu di mataku untuk meresap air mata yang hampir jatuh. Dia tidak mengusapnya, takut merusak make up di wajahku.

Aku tersenyum pahit. Aku akan menikah dengan pria lain, pria yang tidak aku cintai, dan pria yang aku cintai, Donghae Oppa, masih berada di sisiku berniat melihat prosesi pernikahanku yang seharusnya aku jalani bersamanya. Seharusnya.

“Aku mencintaimu,” ucapku pelan lalu mencium bibirnya selembut yang aku bisa. Aku tidak bisa menahannya.

Aku merasakan tubuhku bergetar. Air mataku sudah tidak tertahankan lagi. Cairan itu sudah membasahi pipiku. Aku bisa merasakan asinnya saat ia jatuh sampai mulutku.

Donghae Oppa melepaskan dirinya. Ia menatapku dengan lembut. Ia juga dengan hati-hati mengusap air mataku. “Sudah aku bilang, jangan menangis. Kau jadi jelek kan,” omelnya. Ia membersihkan air mataku dan mungkin make-up ku yang luntur. Aku hanya tertawa kecil.

“Aku mencintaimu, Oppa,” ucapku sekali lagi namun Donghae Oppa tidak berkata apapun. Ia hanya menatapku dan tersenyum dengan lembut kepadaku. Matanya memerah. Air mata yang ia tahan agar tidak terjatuh membuat mata indahnya yang paling aku sukai, berkaca-kaca.

“Lee Donghae, aku mencintaimu,” ucapku untuk ketiga kalinya. Aku berharap ia membalasnya agar aku punya alasan tetap hidup di dalam kesalahan yang terjadi pada hidupku. Namun lagi-lagi, pria ini hanya tersenyum lembut tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku harap dia mengerti betapa sakitnya hatiku saat ini.

“Aku berdoa untuk kebahagiaanmu,” katanya pelan. Ia mengusap lenganku. Aku bisa mendengar isakan di sela-sela tarikan nafasnya. “Sebaiknya kau siap-siap. Aku akan melihatmu berjalan ke altar. Kau harus terlihat cantik,” lanjutnya kemudian meninggalkanku sendirian. Aku menatap punggungnya. Lidahku terasa kelu padahal aku ingin sekali berteriak padanya.

Aku mencintaimu, Lee Donghae! Aku ingin menikah denganmu! Bawa aku lari! Keluarkan aku dari tempat ini, bodoh! Aku ingin hidup bersamamu! AKU MENCINTAIMU!

—-

Donghae’s POV

Aku berdiri di tempatku, berjarak kurang lebih 3 meter dari altar dan sangat dekat dengan lorong tempat gadis itu sedang berjalan dengan ayahnya menuju tempat calon suaminya dan pendeta yang sedang menunggunya. Aku melihatnya, ia melihatku. Aku hanya mampu tersenyum, memberikan hal terakhir yang bisa aku berikan padanya. Semangatt.

Aku melihat gadis itu menjelma menjadi sangat cantik dengan balutan gaun pengantinnya. Meskipun air matanya tadi sempat merusak sedikit dandanannya tapi ia tetap terlihat cantik. Gadis itu yang paling cantik, menurutku. Saat ia sudah sampai di depan altar, aku duduk, mengikuti prosesi pernikahannya dengan tenang. Setidaknya, aku berusaha untuk tenang.

Gadis itu mengucap janji setianya di depan pendeta. Janji setia yang selalu aku impikan akan dia ucapkan dengan aku yang akan berdiri di sebelahnya, tersenyum kepadanya dan mengucapkan janji yang sama.

Ya, saya bersedia.

Aku mengucapkan kata itu dalam hatiku ketika pendeta bertanya kepada mempelai pria. Aku tahu, ucapanku tidak akan berarti apa-apa. Gadis itu telah menjadi milik pria lain meskipun berkali-kali ia mengatakan ia mencintaiku. Gadis itu bukan milikku seperti yang selama ini aku impikan. Ia akan terdaftar sebagai nyonya Cho bukan nyonya Lee seperti yang selama ini aku dambakan. Aku mencintainya namun aku tidak akan pernah bisa memilikinya.

Gadisku dan suaminya telah berdiri berhadapan. Mereka siap menutup prosesi ini dengan sebuah ciuman. Gadis itu berdiri menghadapku. Matanya menatap, menusuk sampai ke jantungku. Aku merasakan mataku mulai memanas dan jantungku yang berdetak tidak karuan namun aku memberikan senyuman terbaikku kepadanya. Aku tersenyum seolah aku merestui pernikahan mereka.

Kami terus bertatapan sampai akhirnya gadis itu memalingkan wajahnya lebih dulu. Ia menatap calon suaminya dan kemudian berciuman. Aku tidak memalingkan wajahku sedetik pun darinya. Meskipun melihatnya saat ini adalah hal yang paling menyakitkan, aku tidak melepaskan mataku darinya. Aku ingin menikmati hal yang paling indah dalam hidupku untuk yang terakhir kalinya.

Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Maafkan aku. Aku mencintaimu.

Aku meneriakkannya berkali-kali dalam hatiku. Aku tahu meskipun ia tidak akan mendengarnya, aku tetap meneriakkannya tanpa peduli betapa hancurnya hatiku sekarang. Aku sudah tidak tahu lagi apa hatiku masih bisa diperbaiki atau tidak. Ia sudah hancur berkeping-keping.

—-

Cho Kyuhyun’s POV

Aku memandang mempelai wanitaku yang baru saja mengucapkan janji setianya dengan nada datar dan tatapan kosong. Ia berdiri di sebelahku tapi aku tahu jiwanya tidak berada di sebelahku. Mempelai wanitaku sebenarnya berada beberapa meter di belakangku, di sebelah pria yang dari pertama aku melihatnya, tidak bisa melepaskan tatapannya dari gadis ini.

Aku mengucapkan janji setiaku dan gadis ini tidak ada reaksi sama sekali. Ia hanya berdiri kaku, menatap kosong dan tidak menunjukkan ekspresi apapun.

“Mempelai pria silahkan mencium mempelai wanita,” kata pendeta. Aku segera memutar tubuhku untuk berhadapan dengannya namun butuh 3 kali perintah dari pendeta untuk membuat ia berputar menghadapku.

Aku tersenyum kepadanya. Ia membalas senyumku, getir. Aku menatapnya. Ia balas menatapku namun tatapannya tertuju tajam melewatiku, kepada pria yang aku tahu sedari tadi tidak bisa ia lepaskan dari pikirannya. Tatapan gadis ini begitu menyayat hatiku. Ia menikah denganku tapi ia tidak memberikan hatinya untukku.

Aku tahu gadis ini mencintai pria itu. Aku melihatnya bagaimana ia menangis di depan pria itu. Aku mendengar bagaimana ia mencintai pria itu. Aku merasakan tatapannya kepada pria itu yang seolah berseru ‘aku menginginkanmu!’. Aku tidak berani menoleh, mengikuti arah tatapan mata gadis ini. Aku mengerti bahwa cintaku bertepuk sebelah tangan.

“Hyejin-ah.” Aku memanggil namanya berulang kali sampai ia berpaling menatapku. Aku tersenyum selembut mungkin yang mungkin tidak ada arti baginya dibandingkan senyuman pria itu. “Boleh aku menciummu?” Tanyaku dengan sopan. Aku begitu mencintainya sampai aku begitu takut untuk menambah kesakitannya.

Ia hanya tersenyum datar. Aku tidak punya pilihan. Aku mendekatkan wajahku dengan wajahnya. Aku memajukan bibirku dan kemudian mencium keningnya. “Aku mencintaimu,” bisikku dengan sungguh-sungguh. Aku menatapnya dengan penuh harapan ia akan mengucapkan hal yang sama walau aku tahu itu sia-sia. Ia hanya menatapku kosong dan tubuh kaku seolah tidak bernyawa lagi.

Aku merasakan sakit yang menyayat hatiku yang mungkin juga dirasakan gadis ini. Aku merasa diriku menjadi pihak yang paling egois. Seharusnya, karena aku mencintainya, aku akan melepaskannya demi kebahagiannya. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kami berdua sama-sama tidak bisa berbuat apa-apa.

Aku memeluknya, mengelus punggungnya. Aku merasakan tubuhnya bergetar di pelukanku dan sayatan di hatiku rasanya melebar, menimbulkan sakit yang lebih perih. Aku memeluknya lebih erat dan sakit itu terasa lebih perih. Aku tahu tubuhnya menolakku tapi aku tidak bisa melepaskannya. Aku ingin memeluknya karena aku tahu entah sampai kapan aku tidak akan pernah bisa menyentuhnya lagi.

Aku mencintaimu. Aku akan membuatmu bahagia. Aku tahu hatimu tidak bersamaku tapi aku akan tetap mencintaimu. Aku mohon, jangan menderita.

Aku ingin membisikkan kata-kata itu tapi tidak ada satu pun yang keluar dari mulutku. Aku hanya memeluknya sambil diam-diam mengusap air mata yang menitik dari mataku.

Kkeut!
XOXO @gyumontic